Tuesday, June 29, 2010

RI-Turki Siap Tanda Tangani 8 Kesepakatan


29 Juni 2010, Ankara -- Pemerintah Indonesia dan Turki siap meningkatkan hubungan kedua negara antara lain dengan akan ditandatanganinya delapan nota kesepahaman .

Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara briefing delegasi di Hotel Sheraton, Ankara, Turki, Senin malam waktu setempat atau Selasa dinihari waktu Indonesia.

Sejumlah kesepakatan kerja sama itu antara lain di bidang penyiaran televisi, bidang kerja sama industri pertahanan dan sejumlah bidang lainnya.

"Kedelapan dokumen terdiri atas lima mou, dua kesepakatan dan satu program," kata Menlu.

Marty menjelaskan kepada Presiden bahwa saat ini peran Turki di kawasan maupun secara internasional semakin menonjol. Selain itu , Turki memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Indonesia dalam memandang sejumlah permasalahan internasional.

Konjen

Sementara itu ,Duta Besar RI untuk Turki Awang Bahrin mengatakan sejak awal Turki dan Indonesia sudah mempunyai sejarah yang panjang. Dibandingkan negara di kawasan Asia lainnya, maka Turki merasa memiliki kedekatan dengan Indonesia.

"Indonesia dan Turki sama-sama merupakan negara yang dipandang dalam Oganisasi Negara-Negara Islam(OKI, red) ," katanya.

Karena itu, Awang meminta Presiden agar mempertimbangkan berdirinya konsulat jenderal di Istambul mengingat saat ini belum ada, sementara perwakilan RI di Turki hanya di Ankara.

"Di Istambul cukup banyak kegiatan termasuk kunjungan, sehingga perlu kiranya saat ini dipertimbangkan adanya konsulat jenderal di sana," katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono beserta rombongan tiba di Bandara Udara Esenboga Turki Senin sekitar pukul 15.30 waktu setempat atau pukul 19.30 WIB.

Turut serta dalam rombongan Presiden antara lain Menlu Marty Natalegawa, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mendag Mari Elka Pangestu,Menperin MS Hidayat, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Mensesneg Sudi Silalahi dan Seskab Dipo Alam. Tampak juga Kepala BKPM Gita Wirjayawan.

Sementara itu di Ankara, turut bergabung Menhan Poernomo Yusgiantoro dan Menpora Andi Mallarangeng.

Pada Selasa (29/6) Presiden direncanakan bertemu dengan Presiden Turki Abdullah Gul dan PM Turki Recep Tayyip Erdogan. Usai pertemuan tersebut, Kepala Negara dijadwalkan menyampaikan pidato di Parlemen Turki.

PTDI bantu modifikasi pesawat patroli maritim milik Turki

Pemerintah Indonesia dan Turki sepakat melakukan kerjasama bilateral di bidang industri pertahanan. Di antaranya, Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (DI) akan membantu memodifikasi pesawat terbang Turki untuk keperluan patroli maritim.

Selain itu, Indonesia juga menjajaki untuk bisa mendapatkan perangkat komponen pesawat tempur jenis F16, Hercules dan keperluan pertahanan lainnya. Nota kerjasama ini dilakukan sebagai rangkaian kerja dalam kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Turki pada 27-28 Juni.

"Indonesia akan membantu memodifikasi pesawat sejenis CN235 milik Turki untuk dijadikan pesawat patroli maritim. Ini patut kita banggakan karena industri pesawat terbang kita mendapat pengakuan dari negara seperti Turki," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Ankara, Turki, Senin malam waktu setempat (28/6).

Bagi Indonesia, tambah Purnomo, kerjasama ini tergolong penting mengingat Turki merupakan negara anggota pakta pertahanan atlantik utara (NATO) yang memiliki persenjataan yang cukup maju. Teknologi industri pertahanan negara yang juga anggota G20 ini termasuk yang terbaik di dunia, mengingat persenjataan yang dimiliki Turki masuh dalam nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Selain membantu memodifikasi pesawat patroli maritim, Indonesia juga menjajaki bisa mendapatkan komponen atau suku cadang untuk pesawat tempur F16 yang selama ini masih tergantung dari produsen asal pesawat tersebut, yaitu Amerika Serikat. "Turki sudah bisa membuat F16, bahkan pesawat tempur terbaru F35. Ini harus kita manfaatkan agar kita bisa mendapat kemudahan untuk mendapat komponen pesawat. Selama ini, komponen pesawat F16 kita tergantung AS, dan kalau diboikot pasti kita akan kesulitan merawat dan memperbaiki pesawat F16 milik kita," kata Purnomo yang juga baru mengunjungi pasukan perdamaian Indonesia yang berada di Libanon.

Menurutnya, bukan tanpa alasan jika Turki memiliki industri pertahanan yang sangat maju mengingat letak Turki yang strategis berbatasan dengan negara-negara Asia dan Eropa. "Karena posisi yang diapit banyak negara dan berpotensi konflik di perbatasan, maka Turki mengembangkan industri pertahanannya dengan sangat maju," kata mantan menteri enetrgi dan sumber daya mineral ini.

ANTARA News/MI.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment