Friday, May 11, 2012

Patkor Indosin ke-20 Gelar Anti-Perompakan di Selat Singapura

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (kiri) didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno (tengah) berbincang dengan Chief Republic of Singapore Navy RADM Ng Chee Peng (kanan) usai demo laut anti perompakan di Selat Singapura dalam rangkaian patroli koordinasi Indonesia-Singapura (Patkor Indosin) ke-20, di Batam, Kepri, Jumat (11/5). Patkor Indosin merupakan operasi rutin TNI AL dengan Republic of Singapore Navy yang telah berlangsung selama 20 tahun untuk pengamanan jalur pelayaran internasional di Selat Singapura dari para perompak. (Foto: ANTARA/Henky Mohari/ss/pd/12)

11 Mei 2011, Batam: Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Chief of Defence Force Singapura LG Neo Kian Hong, Chief of Navy Singapura RADM Ng Chee Peng, para pejabat tinggi TNI, serta para pejabat tinggi militer Singapura secara langsung menyaksikan demo simulasi penyergapan anti perompakan di kapal tangker MT Promise dari geladak kapal perang Singapura RSS Resolution-208 yang berlangsung di Selat Singapura, Jumat (11/5). Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Patroli Terkoordinasi Indonesia Singapura ( Patkor Indosin) ke 20 dengan dihadiri delegasi dari Indonesia dan Singapura.

Unsur TNI AL yang dilibatkan dalam kegiatan demo laut tersebut, meliputi KRI Clurit-641, KRI Viper-820, KRI Welang-808 serta KRI Siribua-859, dua Kapal Polair yaitu, KP 011 Zaitu dan KP 012 Kedidi, pesawat cassa dan heli NBO 105 serta dua tim anti perompak dari pasukan Katak TNI AL. Selain itu TNI AL menghadirkan unsur KRI Ahmad Yani-351 di perairan perbatasan selama kegiatan berlangsung. Sedangkan Angkatan Laut Singapura (RSN) melibatkan sedikitnya 3 kapal perang diantaranya RSS Resolution-208. RSS Fearless-94 dan RSS Resilience-82 dan dua kapal Coast Guard Singapura PH 55 dan PH 57.

Selama kegiatan Demo laut RSS Resolution jenis Landing Ship Tank (LST) digunakan sebagai kapal markas pada saat para pejabat TNI dan pejabat militer Singapura melihat secara langsung pelaksanaan demo laut di Selat Singapura.

Kegiatan demo laut tersebut disimulasikan terjadi perompakan di kapal kargo MT Promise yang dijadikan target dengan menggunakan perahu jenis pancung berhasil naik kapal yang sedang berlayar di Selat Singapura. Kegiatan perompakan tersebut dapat dideteksi oleh patroli unsur kapal perang TNI AL yang sedang melaksanakan patroli keamanan laut di kawasan tersebut .

Selanjutnya Gugus keamanan laut Komando Armada RI Kawasan Barat yang sedang melaksanakan patroli keamanan laut dengan melibatkan sejumlah unsur. Selanjutnya menerjunkan dua tim anti perompakan pasukan Katak TNI AL.

Dua Tim Pasukan katak Komando Armada RI Kawasan Barat tersebut bertugas sebagai tim pemukul dan penyerang dengan dua Sea Rider bertugas mengamankan para perompak di kapal kargo di Selat Singapura. Dalam kegiatan demo laut tersebut pasukan anti perompakan dengan menggunakan Sea Rider dengan kekuatan dua tim pasukan anti perompakan berhasil melaksanakan operasi dan mengamankan serta melumpuhkan para perompak di kapal tanker MT Promise.

Usai demo kegiatan selanjutnya dilaksanakan sailing pass sejumlah kapal perang dengan melintas melakukan penghormatan kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, Chief of Defence Force Singapura LG Neo Kian Hong, Chief of Navy Singapura RADM Ng Chee Peng, para pejabat tinggi TNI, serta para pejabat tinggi militer Singapura dari geladak kapal perang Singapura RSS Resolution.

Kegiatan sailing pass diawali pada saat kapal menempati sektor masing-masing dengan pertama melintas pada jarak sekitar 300 yard dari RSS Resolution, mulai KRI Viper, KRI Siribua, RSS Resilience, kapal PH 57 dan kapal KP 011 Zaitu. Selanjutnya KRI Clurit, RSS Fearless, kapal PH 55 dan kapal KP 012 Kedidi. Satu pesawat Cassa TNI AL dan satu heli NBO 105 membawa banner perayaan Patkor Indosin ke-20 dan Foker 50 dari Singapura ikut serta melaksanakan kegiatan flying pass di atas kapal perang.


Usai kegiatan demo laut selanjutnya kapal perang Singapura RSS Resolution merapat di dermaga Batu Ampar Batam untuk menurunkan para pejabat TNI dan TNI AL serta para pejabat militer Singapura Usai kegiatan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., didampingi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, mengatakan bahwa Indonesia dan Singapura sepakat untuk meningkatkan kerjasama patroli terkoordinasi di Selat Singapura dan Selat Philips akan menjadi lebih aman.

Dengan dilaksanakan Patkor Indosin bisa lebih terjamin keamananya bagi pengguna laut. Selama kegiatan patkor Indosin yang dimulai sejak tahun 1992 lalu dan sekarang menginjak yang ke 20 tahun, banyak hal yang telah dilakukan dalam patroli terkoordinasi ini, sehingga kerawanan-kerawanan yang terjadi di Selat Singapura dan Selat Philips banyak menurun.

Turut hadir mendapingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dalam kegiatan tersebut, diantaranya Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Among Margono,SE., Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara,SE., Asops Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah, Kapuspen TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, SE., Pangarmabar Laksda TNI Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A., Komadan Guskamlabar Laksma TNI Pranyoto S.Pi.

Sumber: Dispenarmabar

Kopaska TNI AL dan AL Singapura Sergap “Kapal Muat 2000 Kg Handak”


11 Mei 2012, Surabaya: Sebuah kapal yang diduga keras milik teroris berhasil disergap pasukan khsusus gabungan ke dua negara, yaitu oleh Komando Pasukan Katak TNI AL dan Naval Diving Unit Republic of Singapore Navy (NDU RSN), Kamis (10/5) kemarin, disekitar Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

Kapal Motor (KM) Jatipura yang muat kontainer milik teroris itu, di dalamnya terdapat bahan peledak (handak) sangat berbahaya sebanyak 2000 Kg jenis C4. Kapal teroris tersebut berhasil disergap dan dilumpuhkan oleh pasukan khusus gabungan TNI AL dan NDU RSN yang terdiri dari 4 tim. Pasukan khusus terdiri dari 2 tim sebagai penyerang dan 2 tim sebagai pengamanan itu, berhasil melumpuhkan dan menangkap 8 teroris pengangkut bahan peledak tersebut.


Demikian skenario latihan bersama yang digelar antara Pasukan Katak TNI AL dengan NDU RSN, yang gelar hingga 13 Mei mendatang. Dalam penyergapan yang penuh dengan tembakan dan adu keberanian itu, dimulai sejak pukul 13.00 wib dan berakhir 3 jam kemudian.

Bahan peledak yang disinyalir awal akan dipergunakan untuk melakukan aksi terorisme itu, akhirnya dapat diamankan dan tersangka kini ditahan untuk proses hukum lebih lanjut.

Sumber: Dispenarmatim

Dermaga AL Batam Bersebelahan dengan Galangan Kapal

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (dua kiri) didampingi Chief Republic of Singapore Navy RADM Ng Chee Peng (kiri) menyalami para prajurit TNI usai menyaksikan demo laut anti perompakan oleh pasukan khusus TNI AL Kopaska di Selat Singapura usai merapat di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepri, Jumat (11/5). Patkor Indosin merupakan operasi rutin TNI AL dengan Republic of Singapore Navy yang telah berlangsung selama 20 tahun untuk pengamanan jalur pelayaran internasional di Selat Singapura dari para perompak. (Foto: kepri.antaranews.com/Henky Mohari)

11 Mei 2012, Batam: Dermaga Pangkalan TNI AL Batam Provinsi Kepulauan Riau, bersebelahan langsung dengan lahan galangan kapal. Antara dermaga TNI AL dengan lahan galangan kapal hanya dipisahkan tembok tinggi, kata Kasal Laksamana TNI Soeparno, Jumat.

Dia mengatakan, lokasi dermaga TNI yang bersebelahan dengan usaha galangan kapal tidak mengganggu daerah wajib steril TNI AL. Menurut dia, lokasi Markas Komando Lanal Batam yang berada di atas bukit sebelah dermaga justru memberikan nilai lebih. "Malah bagus sekarang, Mako berada di ketinggian," kata Kasal. Ia mengatakan keberadaan perusahaan galangan kapal tepat di sebelah dermaga dan Mako Lanal Batam merupakan hubungan timbal balik yang baik. "Ini simbiosis mutualisme," kata Kasal. Kasal menyatakan sebagian dana pembangunan dermaga dibantu perusahaan galangan kapal. "Dana terbatas, dibantu buat dermaga, 50 persen-50 persen," kata dia.

Pembangunan dermaga beton beserta jalan dari Mako Lanal ke dermaga memakan dana Rp23 miliar. Kasal mengatakan pembangunan dermaga di Mako Lanal memiliki nilai strategis tersendiri, mengingat Kota Batam berdekatan dengan negara tetangga. Apalagi Batam merupakan daerah kepulauan di perbatasan yang rawan konflik.

Di tempat yang sama Komandan Pangkalan Lanal Batam Kolonel (P) Nur Hidayat mengatakan pembangunan dermaga beserta jalan penghubung dari Mako Lanal Batam dimulai 12 Oktober 2010.

Dermaga sepanjang 50 meter bisa memuat beberapa Kapal Perang Indonesia jenis cepat rudal bisa KRI cepat rudal milik Indonesia yang diproduksi di Batam. Dermaga dan jalan panjang juga memiliki fasilitas aliran listrik darat dan air darat yang dapat mendukung ketahanan kapal beroperasi.

Diharapkan, pembangunan dermaga dapat membantu kinerja Lanal Batam dalam mengamankan wilayah kesatuan negara RI.

Sumber: ANTARA Kepri

Jalan Terus, Rencana TNI AU Beli Pesawat Tempur Sukhoi

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menjawab pertanyaan wartawan di Batam, Kepri, Jumat (11/5). Panglima TNI menyebutkan akan mendatangkan lagi enam pesawat tempur jenis Sukhoi dari sepuluh yang sudah ada untuk menambah kekuatan skuadron pertahanan udara. (Foto: ANTARA/Henky Mohari/ed/pd/12)

11 Mei 2012, Senayan: Musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di lereng gunung Salak, Bogor, dipastikan tidak akan mempengaruhi rencana pembelian pesawat Sukhoi versi militer untuk TNI AU. "Saya kira musibah itu tidak berpengaruh pada rencana TNI AU untuk beli Sukhoi versi militer," ujar Wakil Ketua Komisi I Hayono Isman, Jumat (11/5).

TNI AU berencana membeli lagi enam unit pesawat tempur Sukhoi sebagai armada tambahan. Pembelian ini untuk menggenapi pesawat yang sudah ada agar jadi satu skuadron. Menurut dia, rencana berikut anggaran pembelian pesawat ini sudah disetujui DPR. Bahkan sebagian pesawat yang dipesan mungkin sudah dibayar dan tinggal ditunggu kedatangannya di Jakarta.

Meski demikian, Hayono mengingatkan, jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 versi sipil tetap patut dicermati. Bagaimanapun, pesawat itu diproduksi oleh pabrik yang sama. Jadi, "TNI harus antisipasi terhadap pesawat tempur yang dibeli. Sebab, pabriknya sama, betul kan?" katanya.

TNI AU akan Terima Enam Sukhoi Tempur Baru

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan pada 2012, TNI Angkataan Udara akan mendapat enam pesawat jet tempur Sukhoi baru untuk membangun satu skuadron setelah sekarang memiliki 10 unit. "Sesuai dengan rencana pembangunan kekuatan udara, akan dibeli enam pesawat tempur Sukhoi untuk TNI AU," katanya di Pelabuhan Batuampar, Batam, Jumat (11/5) seusai pelaksanaan latihan militer antara Indonesia-Singapura (Indosin) ke-20.

Panglima mengatakan pembelian enam pesawat baru tersebut, untuk melengkapi 10 jet tempur Sukhoi yang sudah dimiliki Indonesia. "Penambahan dilakukan agar kita memiliki satu skuadron jet tempur Sukhoi TNI AU," kata dia.

Ia mengatakan, terkait insiden yang terjadi dengan Sukhoi Superjet 100 di wilayah Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, tidak akan ada peninjauan kembali karena pesawat yang dibeli berbeda. "Tidak akan ada peninjuan kembali, karena pesawat yang kita beli adalah pesawat tempur," kata dia.

 Dalam kasus kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Bogor, kata Suhartono, itu kemungkinan karena pilot tidak memahami medan. "Kalau melihat lokasinya di tebing, saya menilai itu akibat cuaca atau kurang memahami medan. Sampai saat ini saya tidak menerima laporan tentang pembajakan," kata dia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini sedang kuat sekali. ''Kita punya anggaran Rp150 triliun untuk pertahanan," kata Purnomo.

TNI AU sudah memiliki 10 pesawat Sukhoi yang pengadaannya dimulai sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat itu pemerintah hanya menargetkan memiliki satu skuadron mini atau berkekuatan 12 pesawat Sukhoi SU-27 dan Sukhoi SU-30.

Sumber: Jurnal Parlemen/Republika

Indonesia Beli 37 Unit Tank BMP-3F Buatan Rusia

Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo berjabat tangan dengan Kepala Perwakilan JSC Rosoboronexport Indonesia Vadim Varaksin setelah menandatangi pembelian 37 Tank BMP 3F seri ke 2 di gedung Kementrian Pertahanan Republik Indonesia, Jakarta, 11-05, 2012. (Foto: TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo)

11 Mei 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan RI menandatangani kontrak pembelian 37 unit tank BMP-3F seri kedua buatan Rusia. Tank-tank tersebut nantinya akan digunakan oleh TNI Angkatan Laut untuk memenuhi kebutuhan pertahanan.

"Pembelian ini menggunakan fasilitas pendanaan APBN tahun 2011 dan dengan mekanisme state credit," kata Kepala Badan Sarana Pertahan, Mayjen TNI Ediwan Prabowo, dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2011.

Menurut Ediwan, pemerintah membeli seluruh tank itu dengan harga US$ 114 juta. "(Harga itu) Sudah termasuk amunisi, spare part, dan biaya pengiriman," ujarnya. "Kami sangat bangga dengan kontrak ini. Pembelian kedua ini mencerminkan TNI AL puas dengan pembelian tersebut," ujar Vadim Veraksim, perwakilan JSC Rosoboronexport.

Vadim menjelaskan, dalam penjualannya pihak Rusia juga akan melakukan transfer alih teknologi. "Akan diadakan semacam workshop pemeliharaan tank," kata dia.

Dari segi teknologi, kendaraan tempur ini diklaim hampir sempurna. BMP-3F dipersenjatai meriam 100 mm, senapan mesin 7.62 mm, serta peluru kendali anti-tank sehingga bisa digunakan untuk pertarungan langsung. BMP-3F memiliki bobot kurang lebih 18,7 ton, panjang sekitar 7,2 meter, lebar 3,3 meter dan tinggi 2,45 meter. Kapasitas awak tiga orang serta tujuh personel pasukan bersenjata lengkap.

Tank ini memiliki lapisan pelindung lebih tebal dari pengangkut personel lapis baja. Kendaraan ini juga sudah dipakai untuk menggantikan peran tank ringan. Dari segi bobot, BMP-3F merupakan kendaraan tempur kavaleri terberat yang yang dimiliki Korps Marinir saat ini. Bila dibanding tank-tank ringan milik TNI-AD, BMP-3F dinilai jauh lebih unggul dengan adopsi kanon 100 mm.

Selain Indonesia dan Rusia, BMP-3F ini juga telah digunakan angkatan bersenjata Ukraina, Sri Lanka, Siprus, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Korea Selatan. Pengadaan tank produksi Rosoboronext ini bukanlah pertama kalinya dilakukan. Pada tahun 2008 Indonesia telah membeli 17 unit BMP.

Sekilas Tentang Tank BMP-3F

Dari segi teknologi, kendaraan tempur lapis baja ini bisa dikatakan sempurna karena sesuai dengan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris). Keunggulan-keunggulan lainnya yang dimiliki dari Tank BMP 3F ini antara lain, computer balistik telah di up grade dengan sistem digital yang lebih akurat, lubang penembakkan untuk pasukan yang semula diperuntukkan senapan serbu tipe AK-47 telah disesuaikan dengan senapan serbu tipe SS-1 Pindad, kemudian dilengkapi pula dengan rantai (track) yang dapat digunakan di aspal sehingga tidak merusak aspal, adanya penyempurnaan pada perlindungan terhadap peperangan nuklir biologi kimia (Nubika) serta perbedaan lainnya yang bersifat minor change pada tameng tombak (anti surge vane) yang semula tebal 5 mm menjadi 10 mm dan system pemanas ruangan yang disesuaikan dengan iklim di Indonesia.

Selain itu, keunggulan-keunggulan lainnya yang dimiliki Tank BMP 3F diantaranya, mampu beroperasi di laut selama 7 jam dan untuk menunjang kemampuan amfibinya, tank ini dapat dilengkapi snorkel. Dalam hal meriam, Tank BMP 3F dilengkapi kanon kaliber 100 mm, dimana kanon ini dirancang untuk menembakkan peluru/ roket non-kendali (shell). Kanon jenis ini masuk dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar 250m/detik.

Konstruksi persenjataan Tank BMP 3F merupakan penggabungan dalam satu komponen antara meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Dengan penggabungan ini, memungkinkan awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara. Tank BMP 3F memiliki berbobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas awak 3 orang serta 7 personel pasukan bersenjata lengkap.

Sumber: TEMPO/Kemhan

USS Blue Ridge Sandar di Tanjung Priok

11 Mei 2012, Jakarta: Komandan kapal USS. Blue Ridge (LCC 19) Captain Daniel C. Grieco memberikan keterangan pers setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/5). Kapal Pusat Komunikasi dan Komando Armada ke-7 Angkatan Laut Amerika yang mengkoordinir wilayah seluas 52 juta meter persegi di kawasan pacifik itu melakukan kunjungan ke Indonesia selama beberapa hari. (Foto: ANTARA/Zabur Karuru/Spt/12)

Blue Ridge (LCC 19) bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/5).(Foto: ANTARA/Zabur Karuru/Spt/12)

Simulasi Penanganan Darurat - ‘Teroris’ Bajak Pesawat di Bandara A Yani

Beberapa anggota Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI AU menangkap teroris yang menyandera pesawat komersial dalam simulasi penanggulangan teror di Bandara Ngurah Rai, Bali, Senin (30/4). Simulasi tersebut untuk peningkatan kemampuan anggota pasukan anti teror sekaligus pengamanan Bandara Ngurah Rai menjelang digelarnya berbagai kegiatan internasional di Bali terutama penyelenggaraan KTT APEC pada tahun 2013 . (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/Koz/Spt/12)

10 Mei 2012, Semarang: PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang kemarin menggelar simulasi penanggulangan keadaan darurat penerbangan. Dalam simulasi tersebut digambarkan, pesawat dibajak oleh lima ‘teroris’ yang membawa senjata api.

Simulasi yang diikuti berbagai instansi terkait ini berjalan seperti benar-benar terjadi pembajakan pesawat yang mendarat darurat di Bandara Ahmad Yani Semarang. Dalam skenario yang dijalankan, ada sebuah pesawat Miko International Airlines dengan 75 penumpang sedang dibajak oleh kawanan teroris.

Karena pesawat mengalami kerusakan mesin bagian kanan,dilakukan pendaratan darurat di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Begitu pesawat mendarat, sejumlah prajurit TNI dari unit penanggulangan teror langsung beraksi melumpuhkan para teroris dan berusaha menyelamatkan penumpang yang berada dalam sebuah replika pesawat dengan ukuran sesungguhnya diletakkan di tepi landasan pacu.

Setelah para teroris berhasil dilumpuhkan, puluhan petugas medis dari beberapa rumah sakit kemudian mengevakuasi puluhan penumpang.Sebuah helikopter juga difungsikan untuk membawa penumpang yang terluka untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar bagian sayap sebelah kanan pesawat. Api pun berhasil dipadamkan dan penumpang dievakuasi semua. Dari keseluruhan penumpang, tercatat lima orang meninggal, 13 luka berat, 12 luka ringan, dan 45 penumpang lainnya selamat.

“Ini menunjukkan bahwa Bandara Ahmad Yani siap menghadapi setiap saat terjadi keadaan darurat,” kata General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Semarang, Priyo Jatmiko,kemarin.

Latihan penanggulangan keadaan darurat penerbangan ini bertujuan menguji standar operasi prosedur tiap bandara dalam menangani kondisi darurat penerbangan.

Menurut Priyo, setiap bandara mempunyai pedoman penanganan dalam menanggulangi kondisi darurat penerbangan seperti ancaman terorisme dan kebakaran di pesawat. “Ini merupakan agenda kegiatan yang kita lakukan dalam 2 tahun sekali,”ucapnya.  

Lumpuhkan Teroris, Pertamina Gelar Latihan ISPS Code

Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Kamis, menggelar latihan "The International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code" di Area 70 Pantai Teluk Penyu, Cilacap.

Dalam latihan ISPS Code ini digambarkan tentang penanggulangan aksi terorisme yang berencana melumpuhkan aktivitas Tersus Migas Pertamina RU IV Cilacap. Kelompok teroris yang menyatroni Tersus Migas ini dapat dilumpuhkan oleh pasukan Brimob Polda Jateng meskipun dua di antaranya tewas terkena tembakan.

Di bagian akhir simulasi penanggulangan teroris ini digambarkan upaya tim Penjinak Bom (Jibom) Brimob Jateng untuk menjinakkan dua benda diduga bom, salah satunya berdaya ledak kuat yang ditempatkan oleh teroris di perkampungan warga. Akan tetapi di saat tim Jibom berhasil menjinakkan bom berdaya ledak kuat, bom lainnya yang berdaya ledak rendah dan diletakkan teroris di Pantai Grown Nol meledak, namun tidak menyebabkan korban jiwa.

Selain penanggulangan terorisme, dalam latihan ISPS Code ini juga diperagakan penanganan kebakaran pada sebuah kapal tanker dan penanganan tumpahan minyak di perairan Cilacap. General Manager Pertamina RU IV Cilacap, Suhaimi mengatakan, latihan ini digelar dengan tujuan pemenuhan implementasi ISPS Code Terminal Khusus Minyak dan Gas (Tersus Migas) Pertamina Cilacap dan pemenuhan persyaratan izin operasi Tersus Migas Pertamina Cilacap.

"Juga dalam rangka pemenuhan persyaratan perlindungan lingkungan maritim, uji coba rancangan keamanan fasilitas pelabuhan Tersus Migas Pertamina Cilacap, serta uji coba prosedur tetap penanggulangan kebakaran di perairan Tersus Migas Pertamina Cilacap," katanya.

Sumber: SINDO/ANTARA Jateng

Marinir Indonesia-AS Gelar Latihan Bersama


10 Mei 2012, Surabaya: Korps Marinir RI dan Marinir Amerika atau USMC menggelar latihan bersama di Markas Batalyon Infanteri-5 Marinir, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, 10-16 Mei 2012. Latihan bersama bersandi "Marine Air Ground Task Force - Tactical Warfare Simulation" (MTWS) itu dibuka Asisten Operasi Komandan Korps Marinir Kolonel Marinir Kasirun Situmorang di Markas Batalyon Infanteri-5 Marinir, Ujung, Surabaya, Kamis.

Dalam amanat tertulis yang dibacakan Asops Dankormar itu, Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin mengatakan latihan bersama itu dilaksanakan untuk menangani akibat bencana alam.

"Latihan untuk meningkatkan kerja sama militer kedua negara itu dilaksanakan dengan menyelenggarakan operasi militer selain perang dalam bentuk gladi posko," kata orang nomer satu di jajaran baret ungu itu. Menurut Dankormar, wilayah Indonesia terletak di antara lempeng Asia dan Australia serta dilalui oleh "cincin api" (ring of fire) sehingga rawan terkena bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, bahkan kondisi itu diperparah dengan kerusakan ekosistem akibat ulah manusia yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor.

"Kondisi tersebut memerlukan manajemen dan koordinasi secara terintegrasi dalam pengerahan militer antarnegara yang tentunya berbeda dalam sistem dan metode, sehingga pemberian bantuan dapat dilaksanakan secara cepat, tepat guna dan tepat sasaran," katanya. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan latihan bersama untuk menyamakan persepsi dan pertukaran kemampuan, pengalaman serta pemikiran bagi kedua belah pihak dengan mempraktikkan prosedur komando dan staf dalam perencanaan penanggulangan akibat bencana alam.

Dalam pembukaan yang dihadiri Paban 3 Lat Sopsal Kolonel Laut (P) Aan Kurnia dan Atase Marinir Amerika untuk Indonesia Ltk Marine Avila itu, Komandan Korps Marinir menyampaikan penghargaan kepada penyelenggara dan seluruh peserta latihan yang dipimpin Komandan Satgas Letkol Marinir Amir Kasman.

 Ia juga mengharapkan peserta latihan dapat membangun rasa hormat antarsesama peserta latihan dan menjaga hubungan baik berdasar persaudaraan prajurit Marinir (marines brotherhood), sehingga latihan ini bisa meningkatkan hubungan baik antarkedua negara, khususnya Korps Marinir TNI AL dan Marinir Amerika (USMC).

Acara itu juga dihadiri Danbrigif-1 Mar Kolonel Marinir Wurjanto, Danmenart-1 Mar Kolonel Marinir Markos, Danmenkav-1 Mar Kolonel Marinir Sarjito, Asops Pasmar-1 Kolonel Marinir Y. Rudi Sulistiyanto, Asintel Pasmar-1 Letkol Marinir Widodo, dan para Komandan Satlak di jajaran Pasmar-1.

Sumber: ANTARA News

Thursday, May 10, 2012

Lanal Natuna Tingkatkan Patroli di Laut Natuna dan Laut Cina Selatan


9 Mei 2012, Natuna: Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Ranai, Kolonel Laut (P) Suhartono, Rabu, mengatakan akan meningkatkan patroli kapal perang di Laut Natuna dan Laut Cina Selatan dari 19 kali pertahun 40 kali pertahun.

Hal tersebut diungkapkan Suhartono pada audiensi Kepala Kantor Berita Antara Biro Kepulauan Riau (Kepri), Evi R Syamsir ke Markas Komando (Mako) Lanal Ranai, di Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri. "Berdasarkan data tahun lalu, patroli kapal perang di Natuna hanya dilakukan sebanyak 19 kali pertahun, namun saat ini kami akan meningkatkan patroli hingga maksimal 40 kali dala setahun," ungkapnya. Dia mengatakan dimasa kepemimpinannya yang baru berjalan delapan bulan, pihaknya berupaya melakukan peningkatan patroli antara 30 hingga 40 kali pertahun. "Sampai saat ini kami sudah melakukan patroli sebanyak 30 kali," sebutnya.

Wilayah operasional Lanal Ranai yang berada di ALKI-I tingkat kerawanannya cukup tinggi, khususnya perairan Natuna, karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Vietnam,. "Sehingga Lanal Ranai selaku pelaksana operasi Keamanan Laut (Kamla) diwilayahnya harus mampu melaksanakan pengendalian laut dan menciptakan terwujudnya keamanan laut di wilayah tersebut," ucapnya.

Menurutnya, hal ini menjadi agenda penting bagi Kabupaten Natuna yang secara nasional menjadi wilayah strategis nasional yang patut dijaga dari gangguan pihak asing. "Tidak bisa dipungkiri, kehadiran kapal perang yang selalu rutin melakukan patroli menjadi tolak ukur bagi pihak asing.

"Natuna selalu menjadi incaran pihak asing dan kita konsen terhadap keamanan laut Natuna, khususnya," jelasnya. Ia mengakui, Natuna yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Vietnam memiliki nilai strategis bagi NKRI dan bagi negara asingpun selalu memantau. "Jangan salah, informasi keamanan laut kita selalu disortir oleh negara asing dan mereka sangat meremehkan negara kita," sebutnya.

Karena itu, Suhartono akan melakukan berbagaiupaya sesuai porsinya. "Kita akan memperbanyak kapal dan membangun radar di pulau-pulau," ujarnya. Selama ini, menurutnya AL Ranai belum memiliki radar. "Untuk itu, pihaknya akan berupaya mewujudkan radar yang diletakkan di pulau-pulau seperti pulau Midai, Subi dan Serasan. Radar adalah indera bagi AL," tegasnya.

Hal senada dikatakan Kabiro Antara Biro Batam, Evy bahwa pihaknya menganggap Kabupaten Natuna sangat penting dari segi penyiaran informasi. "Merah putih tetap kita pegang teguh, apalagi di kawasan perbatasan yang merupakan laman NKRI," tegasnya.

Dia mengatakan, keberadaan Antara di Kabupaten Natuna sebagai penyampai informasi tentang Kabupaten Natuna ke pihak luar. "Apa yang menjadi permasalahan dan kebutuhan masyarakat Natuna dapat digesa melalui informasi-informasi yang terus kita siarkan, kitapun komit dengan upaya pihak-pihak terkait dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui informasi," paparnya. "Hal yang paling penting adalah merah putih dulu," tandasnya.

Sumber: ANTARA Kepri

Wednesday, May 9, 2012

Cina Berniat Hibahkan Alutsista kepada Indonesia

Kapal patroli tipe 62C Shanghai-II.

9 Mei 2012, Jakarta: Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin mengatakan saat ini belum ada bantuan atau hibah alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari negeri Cina kepada Indonesia.

"Tetapi Cina sudah merencanakan (untuk) memberi bantuan (alustsista)," kata Hartind di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 8 Mei 2012, malam. Namun, ia belum mengetahui persis bentuk hibah alutsista yang akan diberikan Cina.

Menurut Hartind, saat ini petinggi-petinggi negeri tirai bambu masih melakukan berbagai kunjungan ke Indonesia untuk mengetahui kebutuhan alutsista di Indonesia. "Kira-kira apa yang diawasi dan apa yang perlu dibantu," ujar dia.

Jika Cina setuju menghibahkan alutsista, Hartind mengatakan bantuan dalam bentuk kapal patroli akan sangat berguna bagi Indonesia. "Kapal patroli kita masih kurang. (Padahal) dua per tiga wilayah kan laut," ucapnya. "Tetapi belum diputuskan pemerintah." Atas niat Cina menghibahkan alutsistanya, Hartind menguraikan pemerintah menyambut dengan positif."(Pemerintah) menerima. Prinsipnya kan politik bebas aktif," kata dia.

Bagi Indonesia, hibah alutsista dari negara lain bukan hal asing. Saat ini Indonesia tengah menunggu kedatangan 24 unit pesawat tempur jenis F-16 hasil hibah dari Amerika Serikat. Kedatangan 24 pesawat tempur itu akan dilakukan secara bertahap mulai pertengahan 2014 mendatang.

Sumber: Tempo

Kasarmatim Berangkatkan KRI Sultan Hasanuddin-366 ke Lebanon


9 Mei 2012, Surabaya: Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Djoko Teguh Wahojo melepas keberangkatan KRI Sultan Hasanuddin (SHN)-366 menuju perairan Lebanon yang ikut andil dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII.D UNIFIL (United Nation Interm Force In Lebanon) 2011 di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya, Rabu (9/5) sore.

Pelepasan KRI SHN-366 tersebut dihadiri Komandan Guspurlatim Laksamana Pertama TNI Ari Soedewo, Komandan Lantamal V Laksamana Pertama TNI Atok Urachman, Ketua Daerah Jalasenastri Armatim Ny. Yus Agung Pramono, para Kasatker Koarmatim, ibu-ibu Pengurus Daerah Jalasenastri Armatim dan para keluarga Anak Buah Kapal (ABK) KRI SHN-366.

KRI Sultan Hasanuddin-366 dari jenis korvet kelas Sigma buatan Belanda yang masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Timur (Satkor Koarmatim) ini adalah yang ke empat kali ikut andil mengemban misi perdamaian dunia dalam Satuan Tugas (satgas) Maritime Task Force (MTF) Konga XXVIII.D Unifil.

Sebelumnya tugas kemanusiaan ini dilakukan oleh KRI Sultan Iskandar Muda-367.

Kapal perang Indonesia ini nantinya akan bergabung dengan kapal perang angkatan laut negara lainnya yang tergabung dalam Gugus Tugas MTF. Kapal perang yang di Komandani Letkol Laut (P) Dato Rusman ini, rencananya akan bertugas selama 8 bulan, dengan rincian 2 bulan pelayaran berangkat dan pulang serta 6 bulan berada di tempat lokasi.

Rute yang dilewati selama pelayaran menuju Lebanon, yaitu Surabaya-Jakarta-Belawan-Colombo-Salalah-Port Said-Beirut.

KRI Sultan Hasanuddin-366 dalam tugasnya nanti akan membawa 1 buah helikopter BO-105 dengan jumlah personel total 105 orang, dengan rincian ABK 94 orang, pilot dan Crew Heli 7 orang, dokter 1 orang, Kopaska 1 orang, perwira penerangan 1 orang, dan perwira intelijen 1 orang.

Dikirimnya kembali kapal perang TNI AL untuk bergabung dengan Satgas MTF kali ini tidak lain merupakan bentuk pengakuan dunia kepada TNI. Bahwa TNI, telah dianggap mampu untuk melaksanakan tugas-tugas PBB, khususnya dalam aspek maritim.

Sumber: Dispenarmatim

RI Lanjutkan Pembelian Kapal Perang dari Brunei


9 Mei 2012, Surabaya: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pemerintah akan tetap melanjutkan rencana pembelian tiga buah kapal perang jenis light fregat dari Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam.

Menurut dia, kapal-kapal itu dibeli untuk memenuhi permintaan TNI Angkatan Laut dalam memperkuat pertahanan. Purnomo mengatakan light fregat buatan Inggris ini memiliki teknologi super canggih. Meskipun kapal-kapal itu relatif kecil, tapi mampu melakukan serangan udara, serangan atas permukaan, serta serangan bawah air.

 "Angkatan Laut meminta itu untuk bisa dibeli karena itu adalah light fregat yang sangat modern sekali," kata Purnomo seusai menghadiri sebuah acara di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya, Rabu, 9 Mei 2012.

Proses pembelian kini tengah dibahas. Pemerintah telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari Komisi Pertahanan DPR, TNI Angkatan Laut, serta dari Kementerian Pertahanan. Mereka saat ini sedang melakukan proses negosiasi mengenai harga serta melihat langsung spesifikasi khusus yang dimiliki kapal-kapal tersebut.

Sekedar diketahui, rencana pembelian tiga buah light fregat dari Angkatan Laut Brunei ini menuai banyak kritikan. Kapal Brunei ini sebenarnya dipesan oleh Brunai dari Inggris sejak tujuh tahun silam.

Namun, setelah diserahterimakan ke Brunei, langsung dijual lagi dengan alasan tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Angkatan Laut Brunei.

Menjawab hal tersebut, Purnomo mengatakan belum tentu kapal yang tidak diperlukan oleh Brunei tidak bisa digunakan oleh Indonesia. "Kan, ada alasan kenapa Brunei waktu itu tidak jadi beli. Jadi suatu negara tidak jadi beli belum tentu negara lain juga tidak membeli, mesti ada alasan-alasan yang mendasari dan mungkin itu berbeda alasannya begitu. Makanya sekarang sedang ditinjau sedang di-apraisial, sedang dievaluasi oleh tim ke sana," kata Purnomo.

Sumber: Tempo

Kemhan: Bantuan Radar AS tidak Mematai Indonesia


8 Mei 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan bantuan 12 radar dari Amerika Serikat tidak untuk memata-matai Indonesia, tetapi digunakan untuk sistem pengamanan laut di Selat Malaka. "Tidak ada untuk mematai Indonesia. Bantuan yang diberikan Amerika hanya berupa radar bukan orangnya atau operator. Kita tidak mau, bila operatornya dari pihak asing," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin saat melakukan pertemuan dengan wartawan di Kantor Kemhan, Jakarta, Selasa malam.

Pada prinsipnya, kata dia, bila Amerika hanya memberikan alat atau radar itu tidak ada masalah, asalkan operatornya bukan orang Amerika yang melakukan pengawasan radar tersebut. "Itu tidak boleh terjadi karena bisa di-'copy' dan direkam oleh operator asing tersebut. Termasuk, bila ada orang yang membantu memberikan kapal patroli di Selat Malaka itu tidak apa-apa, tetapi jangan orangnya.

TNI Angkatan Laut yang akan menjaga, bukan dari Amerika," kata Hartind. Yang penting, kata dia, pihaknya tahu kemampuan radarnya. Radar ini hanya untuk mengawasi kapal-kapal yang melintasi laut Indonesia. Tidak ada koneksi ke satelit, katanya menjelaskan.

Menurut dia, radar yang diberikan Amerika itu ditempatkan di Selat Malaka atau pos Sumatera untuk pengawasan kapal maritim karena wilayah Selatan Malaka ini banyak dilewati oleh kapal-kapal asing.

"Namun, radar ini hanya mampu memantau kapal yang berada daerah permukaan saja. Sementara untuk memantau kapal selam tidak bisa. Untuk memantau keberadaan kapal selam, yang paling efektif adalah helikopter antikapal selam atau menggunakan kapal selam," tuturnya.

Ia pun menambahkan, radar tersebut tidak akan bisa mendeteksi pelanggaran yang dilakukan oleh negara yang telah memberikan bantuan radar tersebut. "Tidak bisa. Radar ini mengawasi Selat Malaka yang paling padat pergerakannya di dunia. Piracy (pembajakan) bisa dilihat dalam radar tersebut," kata Kapuskom Publik.

Dephan AS Danai Sistem Pengawasan Maritim Terpadu (IMSS)

Dari tahun anggaran 2006 ke 2008, Pemerintah Amerika Serikat telah memberikan bantuan dana sebesar 57 juta dolar AS melalui the National Defense Authorization Act Section 1206 untuk mendukung Indonesia dalam membuat sebuah sistem pengawasan maritim terpadu atau IMSS yang akan ditempatkan di beberapa lokasi strategis seperti Selat Malaka, Laut Sulawesi, dan Selat Maluku.

Pengoperasian IMSS secara penuh akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk mendeteksi, melacak, serta memantau kapal-kapal yang melewati perairan Indonesian dan internasional. Kemampuan seperti ini sangat penting untuk memerangi pembajakan, penangkapan ikan secara illegal, penyelundupan, dan terorisme baik di dalam perairan wilayah Indonesia maupun di perbatasan.

IMSS juga membantu untuk mencapai tujuan AS dan Indonesia di bidang maritim seperti yang telah dicanangkan dalam Kemitraan Komprehensif, serta menjadikannya sebuah contoh untuk kerjasama multilateral dengan Malaysia dan Filipina.

IMSS adalah jaringan terintegrasi antara kapal dengan pantai berbasiskan sensor, perangkat komunikasi, dan komputasi dengan mengumpulkan, mengirimkan, menganalisis dan menampilkan larik yang luas mengenai data kelautan.

Dalam sistem ini juga termasuk sistem identifikasi otomatis (AIS), radar permukaan, kamera pengintai, sistem pemosisi global (GPS), monitor peralatan, dan transmisi radio lalu lintas maritim di daerah operasional yang luas. Kemampuan melakukan sensor berulang-ulang dan banyakanya jalur komunikasi yang tersedia membuat IMSS menjadi sebuah sistem yang kuat dan handal.

IMSS secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Indonesia setalah dilakukan uji coba di Surabaya tanggal 25 Oktober 2011. IMSS dioperasikan oleh Angkatan Laut Indonesia, yang terdiri dari 18 Stasiun Pengawasan Pesisir (CSS), 11 Kapal berbasis radar, dua Pusat Komando Daerah, dan dua Pusat Komando Armada (Jakarta dan Surabaya).

Pemerintah AS tetap berkomitmen untuk meningkatkan kewaspadaan di wilayah perairan ini, dan telah mengalokasikan dana tambahan sebesar 4,6 juta dolar AS untuk pemeliharaan hingga 2014.

Sumber: Republika/Embassy of the USA

KRI Kakap dan KRI Tongkol Ikuti Cassoex 2012


8 Mei 2012, Surabaya: Dua kapal perang jajaran Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim, yaitu KRI Kakap-811 dan KRI Tongkol-813, akan mengikuti Latihan Bersama (Latma) Cassowary Exercie (Cassoex) tahun 2012 di Darwin Australia.

Kedua kapal perang tersebut tolak dari Dermaga Tenau Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (08/05). Keduanya akan melaksanakan perjalanan lintas laut (linla) dari Kupang NTT menyeberangi Laut Timor, Samudera Hindia kemudian menuju pangkalan Angkatan Laut (AL) Australia, Royal Australian Navy (RAN) HMAS Coonawarra, Darwin Naval Base.

KRI Kakap-811 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Himawan yang juga bertindak selaku Komandan Satuan Tugas Latihan Bersama (Latma) Cassowary 2012, sedangkan KRI Tongkol-813 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Bimo Aji.

Cassoex, merupakan program kerjasama latihan antara TNI Angkatan Laut dengan Royal Australian Navy, yang diselenggarakan rutin setiap dua tahun sekali dengan melibatkan unsur kapal patroli kedua negara. Kerjasama tersebut untuk menciptakan kawasan perairan yang terkendali serta membina kerjasama yang positif antara Indonesia dan Australia, kususnya TNI AL dan RAN.

Angkatan Laut kedua negara sama-sama memliki tugas untuk memelihara stabilitas keamanan perairan wilayah teritorial masing-masing. Sebagai tindak lanjut kerjasama dalam memelihara kawasan laut yang terkendali di perairan Indonesia dan Australia tersebut, unsur-unsur TNI AL dan RAN melaksanakan kegiatan latihan bersama dengan sandi “CASS 12”.


Bertindak sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) atau Commander Task Group (CTG) Perwira dari RAN yaitu, Commander Alex Hawes yang menjabat sebagai (Commander Sea Training Group, Minor War Vessels). Sedangkan komandan kontingen dari Indonesia Deputy Commander Task Group (DCTG) dijabat oleh Komandan KRI Kakap Mayor Laut (P) Himawan. Rencananya Latma Cassowary akan dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 11 Mei sampai dengan 16 Mei 2012.

Daerah tempat latihan meliputi Darwin Naval Base, Headquarters Northern Command serta perairan North Australia Exercise Area (NAXA). Kegiatan Latma Cassoex 12 dibagi menjadi dua tahap, yaitu latihan kering di pangkalan (Harbour Phase) dan manuver lapangan (manlap) di laut (Sea Phase). Tahap Harbour Phase, meliputi kunjungan kehormatan (Courtesy Call), upacara pembukaan (Opening Ceremony), Table Top Brief (briefing manuver), olahraga bersama serta gladi peran pemeriksaan kapal Boarding Exercise (Boardex).

Sedangkan tahap Sea Phase meliputi serial-serial latihan diantaranya latihan penyelamatan massal (Mass Solas), manuvra taktis (Tacman), demo pemeriksaan kapal (Boarding Demo), formasi kapal-kapal tabir Night Steaming In Company (NSIC), Gunnery Exercise (Gunnex) penembakan senjata artileri meriam Kaliber 40mm, 25mm, 20mm,12,7mm, penembakan Senjata Ringan, pembekalan di laut Replenishment At Sea Approach(Rasap) serta latihan penyelamatan kapal dengan aksi penanggulangan kebakaran dan kebocoran Damage Control Exercise (DCEX).

Sumber: Dispenarmatim

Tuesday, May 8, 2012

Patkor Philindo-12 Ditutup di Davao City


8 Mei 2012, Surabaya: KRI Sura-802 yang dikomandani Mayor Laut (P) Fafan Yudho Brahmono merupakan unsur BKO Guskamlatim dalam Operasi Patkor/ Patroli Terkoordinasi Philindo-12 yang ke- 26. KRI Sura-802 bersama kapal perang Philipina BRP Magat Salamat (PS20) telah selesai melaksanakan operasi tersebut yang ditandai dengan upacara penutupan Operasi Patkor Philindo-12, (2/5) di Davao City oleh Komandan Eastmincom Letnan Jenderal Jorge V Segovia.

Selama di Davao City, Komandan beserta ABK KRI Sura-802 melaksanakan Courtesy Call ke Komandan Eastern Mindanao Command, Komandan NFEM, Walikota Davao dan Konjen RI di Davao serta melaksaksanakan pertandingan persahabatan.

Sedangkan latihan ini secara resmi dibuka oleh Komandan Guskamlatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji, (25/4) bertempat di Gedung Serba Guna Mako Lantamal VIII Menado, yang juga dihadiri oleh Komandan Gugus Tempur Laut Mindanao Timur Commodore Philip L Cacayan, Komandan Pangkalan Utama TNI AL VIII Menado Laksamana Pertama TNI Guguk Handayani beserta seluruh Asisten dan pejabat di jajaran Lantamal VIII Menado.


Patkor Philindo-12 merupakan program latihan rutin yang dilaksanakan antara pihak TNI AL dengan Republic of Philipines Navy. KRI Sura-802 sebagai Unsur Tugas Patkor Philindo-12, memiliki tugas pokok melaksanakan Operasi Patroli Terkoordinasi dalam waktu yang telah ditentukan yang meliputi pencegahan/penangkalan dan penindakan terhadap setiap pelanggaran wilayah dan tindak kejahatan di wilayah Perairan Laut Sulawesi Perbatasan wilayah laut Indonesia – Philipina.

Selain itu, patroli ini sekaligus sebagai bentuk pengamanan pulau-pulau terluar NKRI, yaitu Pulau Miangas dan Pulau Marore, yang amat berdekatan dengan Philipina.

Selain mengamankan wilayah perbatasan, kedua kapal perang kedua negara itu juga melaksanakan latihan bersama, dengan tujuan untuk meningkatkan interoperability yang meliputi latihan komunikasi (radio, bendera, semaphore dan lampu sorot), manuver taktis, latihan tabir, Replenishment at Sea dan latihan pemeriksaan kapal (VBSS).

Sumber: Dispenarmatim

Transaksi Jual Beli Leopard Nyaris Tuntas


8 Mei 2012, Amsterdam: Dua media Belanda, Mediawatch dan harian De Volkskrant menyorot keputusan kabinet demisioner untuk menjual tank bekas jenis Leopard ke Indonesia. Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah Belanda pada harian De Volkskrant, yang juga menjadi rujukan Mediawatch.

Menurut Mediawatch, kabinet Belanda pada awalnya tidak mendukung transaksi ini. Tapi atas desakan Menteri Pertahanan Hans Hillen, akhirnya setuju juga. Menteri ini harus melakukan operasi penghematan anggaran dan sangat membutuhkan dana hasil penjualan senilai 200 juta euro nyaris tuntas.

Selanjutnya De Volkskrant menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal mendukung transaksi ini. Argumennya, tidak ingin menyinggung perasaan kalangan pemerintahan di Jakarta.

Dengan demikian, transaksi jual beli ini, dari sudut pandang kalangan pemerintahan, bisa dikatakan nyaris tuntas. Namun, lain di kabinet, lain pula di parlemen. Kabinet Belanda harus melaporkan rencana jual beli ini pada parlemen.

HAM

Beberapa waktu lalu, melalui dukungan pada mosi Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini.

Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak azasi manusia Belanda. "Militer Indonesia melanggar hak azasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," demikian Arjan al Fassed pada saat pengajuan mosi.

Kondisi geografi Alhasil, masih ada kemungkinan, parlemen Belanda akan melarang transaksi jual beli ini. Di Indonesia sendiri, demikian lanjut De Volkskrant, berbagai kalangan di DPR telah menyatakan tidak menyetujui pembelian senjata berat ini. Mereka menilai tank Leopard tidak cocok dengan kondisi geografi Indonesia.

Singkat kata, meskipun kabinet Belanda telah memutuskan bersedia menjual senjata berat ini pada Indonesia, masih belum pasti, apakah transaksi ini memang akan terjadi.

Yang jelas, jika rencana ini batal, Jerman dan Rusia sudah siap untuk memasok tank buatan mereka pada Indonesia. Demikian Mediawatch dan De Volkskrant.

Sumber: RNW

Wamenhan Tinjau Pembuatan Kapal Perang di PT. Dok Kodja


8 Mei 2012, Jakarta: Sehari setelah melakukan kunjungan kerja ke PT Anugrah Buana Marine untuk mengetahui sejauh mana proses pembuatan kapal Bantu Cair Minyak (BCM) Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Pejabat Mabes TNI dan Angkatan, Selasa (8/5), Mengunjungi PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, yang juga sedang mengerjakan pembuatan kapal Bantu Cair Minyak kedua untuk TNI AL.

Setibanya di PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Wamenhan beserta rombongan disambut oleh Wakasal Laksdya TNI Marsetio dan Dirut PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Riri Syeried Jetta beserta staf langsung menyaksikan proses pengerjaan pemotongan baja sebagai material kapal BCM.

Usai melakukan kunjungan ke Galangan kapal II, Wamenhan menuju Aula PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari menerima penjelasan seputar proses penyelesaian pembuatan satu kapal BCM yang menggunakan material 100% local content dan direncanakan di bangun selama 24 bulan.

Selain mendapat penjelasan tentang pembuatan kapal BCM, Wamenhan juga mendapat penjelasan tentang rencana pembuatan dua kapal jenis Landing Ship Tank (LST) yang sudah ditandatangani kontraknya, namun masih dalam tahap rancang bangun, karena design awal kapal Landing Ship Tank dengan 354 ABK hanya dapat mengangkut kendaraan Tempur (Ranpur) jenis Tank BMP 3F, yang dimodifikasi menjadi kapal Landing Ship Tank yang juga dapat mengangkut tank jenis Leopard.

Sementara itu untuk jenis kapal BCM itu sendiri, memiliki spesifikasi panjang 122,40 m , lebar 13,90 m, memiliki kecepatan maksimal 18 knots dan dapat memuat bahan minyak cair sebanyak 5500 m3.

Adapun modifikasi ataupun perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pembuatan kapal, Wamenhan mengharapkan proses pembangunannya sesuai dengan target yang telah ditetapkan atau tidak melewati batas waktu tahun 2014.

Sumber: Kemhan

Pangkosekhanudnas III Pimpin Rakor Rencana Pemindahan Bandara Polonia

Bandara Polonia. (Foto: medanmagazine.com)

8 Mei 2012, Medan: Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosekhanudnas) III, Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna menggelar rapat tentang Rencana Pemindahan Bandara Polonia, Sumatera Utara, Selasa (8/5).

Rapat yang digelar di ruang Rapat Makosekhanudnas III Medang dimulai pukul 10.00 WIB dan diikuti oleh para Asisten Kosekhanudnas III, para Perwira yang ditunjuk dan perwakilan dari pihak PT. Angkasa Pura II Polonia, PT. Info Global, PT. Thales dan PT. Telkom.

Dalam siaran pers Dispenau yang diterima Jurnal Nasional, Pangkosekhanudnas III, Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, menyatakan perlu rapat koordinasi tentang rencana perpindahan Bandara Polonia ke Kualanamu antara Kosekhanudnas III dengan pihak PT. Angkasa Pura II Polonia, PT. Info Global, PT. Thales dan PT. Telkom karena terkait dengan pergeseran alat peralatan alutsista Kosekhanudnas III.

Dalam pertemuan tersebut dibahas hal-hal teknis khususnya transfer data radar dan Flight Plan dari Bandara Kualanamu ke SOC Kosekhanudnas III. Pangkosekhanudnas III menginginkan pada proses perpindahan Bandara ke Kualanamu tidak terjadi adanya kevacuman (Lag Operation) yang dapat mengganggu operasional Kosekhanudnas III.

Untuk itu, semua pihak mengantisipasi dini dalam proses kepindahan Bandara Polonia ke Kualanamu.

Rapat tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap kerjasama yang telah terjalin baik selama ini antara Kosekhanudnas dengan instansi terkait.

Sumber: Jurnas

Belanda Butuh Uang Akhirnya Jual Leopard ke Indonesia

Leopard 2A5 AD Belanda. (Foto: battle14)

8 Mei 2012, Amsterdam: Kabinet demisioner Belanda akan menjual tank bekas ke Indonesia. Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah pada harian De Volkskrant.

Kabinet Belanda sebenarnya tidak mendukung transaksi ini, tapi Menteri Pertahanan Hans Hillen, yang harus melakukan operasi penghematan anggaran di departemennya, sangat membutuhkan dana hasil penjualan senilai 200 juta euro.

Melalui dukungan pada mosi Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini. Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak azasi manusia Belanda.

"Militer Indonesia melanggar hak azasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," demikian Arjan al Fassed.

Sumber: RNW

Wamenhan Meninjau Perusahaan Pembuat Helm dan Rompi Anti Peluru


8 Mei 2012, Jakarta, DMC - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin selaku Ketua High Level Committee (HLC), Selasa (8/5) meninjau perusahaan swasta nasional dalam negeri pembuat Helm dan Rompi Anti Peluru, PT. Saba Wijaya Persada di Jelambar, Jakarta Barat. Turut mendampingi Wamenhan dalam peninjauan tersebut Irjen Kemhan, Kabaranahan Kemhan dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan.

Dalam peninjauan ini, Wamenhan dan rombongan diterima oleh Komisaris Utama PT. Saba Wijaya Persada Johny. Sebelum meninjau secara langsung fasilitas dan proses produksi pembuat Helm dan Rompi Anti Peluru, Wamenhan terlebih dahulu menerima paparan tentang profile PT. Saba Wijaya Persada. Komisaris Utama PT. Saba Wijaya Persada menyampaikan terima kasih kepada Wamenhan atas kesempatannya dapat berkunjung ke perusahaannya.

Pihaknya juga menyampaikan rasa senangnya dapat turut berperan serta mendukung program pemerintah dalam rangka meningkatkan industri pertahanan dalam negeri. Dalam rangka meningkatkan potensi dan partisipasi serta untuk pengembangan perusahaannya, pihaknya terus berharap mendapatkan dukungan, bimbingan dan arahan dalam rangka pengembangan dan perbaikan untuk menuju yang lebih baik.

Lebih lanjut Komisaris Utama PT. Saba Wijaya Persada juga menyampaikan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Kemhan dan TNI mulai tahun 2009 hingga saat ini. Pada awalnya PT. Saba Wijaya Persada mendapatkan kesempatan kontrak pengadaan Helm Anti Peluru level II dan Rompi Anti Peluru level IV dari Babek TNI pada tahun 2009.

Selanjutnya, pengadaan produksi dalam negeri di tahun 2010 akhir, perusahaannya mendapatkan kesempatan kontrak pengadaan Helm Anti Peluru yang diproduksi dalam negeri dengan kontrak sejumlah 1724 buah. Dan pada tahun 2011 pengadaan Helm Anti Peluru oleh Kemhan 1724 buah dan kontrak pengadaan Helm Anti Peluru kedua untuk TNI AD sebanyak 1149 buah.

Atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan tersebut, Komisaris Utama PT. Saba Wijaya Persada menjelaskan perusahaannya banyak mendapatkan pembelajaran mulai dari awal yang sampai pada akhirnya dalam beberapa tahun ini pihaknya telah yakin produknya dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut Komisaris Utama PT. Saba Wijaya Persada menjelaskan, saat ini kapasitas produksi PT. Saba Wijaya Persada untuk pembuatan helm anti peluru telah mencapai 5000 pcs per bulan dan pembuatan rompi anti peluru kurang lebih 500 buah. Secara kualitas, produk Helm Anti Peluru dan Rompi Anti Peluru dari PT. Saba Wijaya Persada juga sudah melalui Uji Litbang TNI AD di Batujajar dan Uji kelaikan di Pusat Kelaikan Kemhan.

Sedangkan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produk, perusahaannya juga belajar terus dari negara - negara luar yang sudah maju seperti Australia, Jerman, Perancis dan Itali. Hasilnya setelah satu dua tahun terakhir ini, perusahaanya sudah menemukan suatu pola yang lebih baik dan yakin dapat berkompetisi dengan produk – produk dari luar.

Sebagai bagian dari promosi produknya ke luar negeri, beberapa waktu yang lalu untuk pertama kalinya PT. Saba Wijaya Persada juga ikut dalam ajang pameran industri pertahanan. Beberapa militer dari negara – negara tetangga seperti Malaysia dan Timor Leste telah meminta sample helm untuk diuji, ini ada satu kesempatan pertama dalam memperkenalkan produknya ke luar negeri.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Wamenhan menyampaikan bahwa dalam kaitan kebijakan industri pertahanan dalam negeri, Kemhan dan TNI berkepentingan untuk mempromosikan produk – produk industri pertahanan dalam negeri ke pasar luar negeri.

Terkait hal tersebut, Wamenhan meminta kepada industri pertahanan dalam negeri untuk memperhatikan tiga hal antara lain dari segi kualitas, harga dan pengiriman sehingga diharapkan mampu bersaing dengan produk – produk lain.

Sumber: Kemhan

Indonesia kaji sistem Industri Pertahanan Elektronika dengan China

(Foto: CETC)

8 Mei 2012, Beijing: Indonesia hingga kini masih mengkaji kerja sama sistem industri pertahanan elektronika yang ditawarkan China yakni Defence Electonics Complex of Indonesia (DECI).

"Hingga kini masih terus dikaji dan dibahas di Kementerian Pertahanan dan industri pertahanan nasional terkait," kata Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI untuk China dan Mongolia, Suryamargono ketika dikonfirmasi di Beijing, Selasa.

Ia mengatakan tawaran kerja sama itu meliputi berbagai kegiatan antara lain perancangan dan pengembangan fabrikasi sistem unit, modul serta perakitan peralatan elektronika seperti radar, peperangan elekronika dan lainnya. "Kerja sama itu akan dilakukan dalam tiga tahapan, namun semua ini masih dikaji dalam berbagai aspek," kata Suryamargono menegaskan.

Berdasar laporan yang diterima ANTARA industri elektronika tidak saja berperan besar bagi industri pertahanan secara keseluruhan, namun juga pertumbuhan ekonomi secara umum. Produksi elektronika global mencapai Rp13 ribu triliun, dari jumlah itu Asia Pasifik merupakan kontributor terbesar yakni sekitar 37 persen. Namun, dari 37 persen tersebut Indonesia baru memberikan kontribusi sekitar satu persen.

Kerja sama industri pertahanan elektronika itu ditawarkan salah satu grup industri pertahanan China yakni China Electronics technology Group Corporation (CETC). Kerja sama serupa telah dilakukan China melalui CETC dengan Pakistan dalam program National Electronic Complex of Paksitan (NECOP).

Terkait Indonesia, CETC sebelumnya telah memiliki kerja sama dengan kementerian Pertahanan dan TNI terutama TNI Angkatan Laut dalam program Kapal Cepat Rudal (KCR).

Sumber: ANTARA News

Monday, May 7, 2012

Hayono: Tank Leopard Miliki Efek Deterrence

Leopard 2A6 AD Belanda. (Foto: Battle14)

7 Mei 2012, Jakarta: Wakil Ketua Komisi I DPR (membidangi pertahanan dan politik luar negeri), Hayono Isman menilai Indonesia perlu melakukan modernisasi dan membangun kekuatan pertahanan. Alat utama sistem persenjataan (Alutsista) Indonesia harus terus ditingkatkan, termasuk dengan membeli Tank Leopard dari Jerman atau Belanda.

“Dengan membeli tank Leopard akan memiliki effect deterrence di kawasan,” kata Hayono Isman di Press Room DPR, Jakarta, Senin (7/5), saat melaporkan hasil kunjungan kerjanya ke Jerman pada tanggal 22-25 April 2012.

Karena itu, Hayono mendukung pemerintah untuk pengadaan Alutsista jenis MBT jenis Leopard. Menjawab pertanyaan mengenai apa urgensi untuk memiliki tank Leopard, Hayono mengatakan bahwa secara teknis TNI khususnya TNI AD yang lebih mengetahui. Namun yang pasti, keberadaan tank Leopard pasti memberikan effect deterrence dengan negara tetangga.

Politisi Partai Demokrat ini, menyebutkan membangun kekuatan pertahanan sangat penting untuk menjaga kedaulatan NKRI. Bahkan Hayono menyebut Malaysia masih mengintip peluang untuk mengambil blok Ambalat dari Indonesia.

“Kalau Malaysia berusaha merebut Ambalat, ya kalau saya mendukung Indonesia berperang dengan Malaysia,” katanya. Malaysia, kata Hayono, cukup dengan lepasnya Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.

Indonesia harus siap menghadapi Malaysia kalau Malaysia berusaha merebut Ambalat.

Komisi I Minta Tank Leopard Dipermurah 

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat meminta kepada pemerintah Jerman agar harga tank Leopard dipermurah atau sama seperti harga yang ditawarkan pemerintah Belanda. Permintaan itu disampaikan oleh rombongan Komisi I DPR ketika melakukan kunjungan kerja ke Jerman beberapa waktu lalu.

"Dalam pertemuan dengan Kementerian Ekonomi (Jerman), disampaikan sekiranya dengan alokasi dana yang sama dengan rencana pembelian tank Leopard dari Belanda, Indonesia mendapatkan jumlah tank Leopard yang sama dari Jerman sekitar 80-100 tank," kata Wakil Ketua Komisi I Hayono Isman di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (7/5/2012).

Hayono mengatakan, pihak Jerman belum dapat memberi jawaban dan akan mempertimbangkan permintaan itu.

Selain bertemu dengan Kementerian Ekonomi, kata ketua tim rombongan itu, Komisi I juga mendatangi pabrik MBT Leopard di Munich. Dalam kunjungan itu, pihaknya meminta penjelasan berbagai kritikan mengenai tank Leopard.

"Dan sudah diberi jawaban. Saya puas dengan jawaban mereka. Tapi mungkin saja ada anggota yang belum puas," kata politisi Partai Demokrat itu. Seperti diketahui, Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin menentang rencana pemerintah membeli tank Leopard. Menurut dia, spesifikasi tank itu tidak cocok dengan kondisi geografis Indonesia.

Menurut Hayono, hasil pertemuan dengan pihak Jerman itu akan dibicarakan di internal Komisi I setelah masa reses nanti untuk diambil keputusan.

Sumber: Jurnas/Kompas

Rektor Unhan: Profesionalisme TNI Cenderung Menurun

Sejumlah prajurit TNI AU menggiring seorang pilot pesawat asing yang berhasil disergap dan dipaksa mendarat (Force Down), saat simulasi Latihan Alap Gesit 'Mandau Terbang' 2012 di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Selasa (1/5). Simulasi penyergapan pesawat asing yang terdeteksi telah memasuki wilayah udara Kalbar tersebut, melibatkan unsur prajurit TNI AU Lanud Supadio, Skadron 1 Elang Khatulistiwa dan Batalyon 465 Paskhas. (Foto: ANTARA/Jessica Helena Wuysang/ss/NZ/12)

7 Mei 2012, Jakarta: Penelitian Universitas Pertahanan (Unhan) menunjukkan adanya penurunan profesionalisme TNI. Penelitian 1999-2009 menemukan kualitas sumber daya manusia TNI mengalami merosot. Menurunnya mutu profesionalisme TNI disebabkan rendahnya kualitas personel dan kapabilitas alutsista TNI.

"Muaranya adalah kecilnya dukungan anggaran TNI,” kata Rektor Unhan Syarifudin Tippe dalam usai peluncuran bukunya di Kementerian Pertahanan Jakarta, Senin (7/5). Penelitian Syarifudin dituangkan dalam buku berjudul “Human Capital Management: Model Pengembangan Organisasi Militer Indonesia”.

Rendahnya profesionalisme TNI Ini, jelas Syarifudin, bisa dilihat dari munculnya ancaman di perbatasan dan pulau terluar, meningkatnya ancaman terorisme, serta minimnya mobilitas udara, laut, dan darat.

Di tataran aturan, Syarifudin juga melihat UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara tak membahas soal sumber daya prajurit, baik dari sisi pengetahuan, keahlian, maupun sikapnya.

“Ini artinya, peraturan belum menyentuh profesionalisme prajurit,” ujar Syarifudin. Kebijakan pertahanan pun, masih secara parsial memaknai profesionalisme TNI dengan persepsi masing-masing.

Kemhan menetapkan kriteria SDM TNI sebagai personel yang berkualitas tinggi. Sedangkan Mabes TNI menetapkan kebijakan Panca Tunggal dengan menyisipkan peningkatan profesionalitas prajurit pada kebijakan reformasi internal TNI.

Adapun TNI AD menetapkan kebijakan tentara profesional sebagai salah satu visinya. TNI AL menetapkan kebijakan perwira unggulan sebagai bagian dari TNI AL yang profesional. TNI AU memaknai profesional dalam jangka panjang sebagai the first class.

“Artinya, kebijakan tentang strategi pengembangan SDM TNI yang eksis sekarang ini belum menjamin ke arah peningkatan mutu profesionalisme TNI,” katanya.

Menurutnya, pembenahan profesionalisme prajurit harus menggunakan konsep human capital management yang berarti kebijakan pengembangan SDM harus berbasis pada pencarian manusia terpilih yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sekaligus spiritual.

 Sumber: Jurnas

Delegasi Public Affairs Kemhan dan TNI Kunjungi US Marine Corps di Darwin


7 Mei 2012, Darwin, Australia: Kepala Pusat Komunikasi Publik, Brigjen TNI Hartind Asrin bersama Delegasi Perwira Senior Public Affairs Kemhan dan TNI Rabu (2/5) tiba di Barak Robertson Darwin, Australia.

Para Delegasi diterima, Head of ImplementationTeam US Posture Review, Australian Defence Force (ADF), Mayjen Michael Krause dan Komandan Marinir AS di Darwin, Kolonel James Dillon. Ikut dalam rombongan Delegasi Perwira Senior Public Affairs Kemhan dan TNI, antara lain Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksda TNI Iskandar Sitompul, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut, Laksma TNI Untung Suropati, serta Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Marsma TNI Azman Yunus. Maksud kunjungan Kapuskom Publik dan Perwira Senior Public Affairs tersebut dalam rangka meninjau secara langsung kehadiran Personel Marinir Amerika Serikat yang berada di Australia.

Pada kesempatan tersebut Mayjen Michael Krause mengungkap kepada delegasi Public Affair Kemhan dan TNI bahwa sepanjang tahun ini hanya akan ada 200 personel Marinir Amerika Serikat di Australia dan akan dirotasi setiap 6 bulan.

Namun kehadiran tentara Marinir Amerika di Australia ini rencananya akan bertambah hingga berjumlah 2500 personel untuk lima tahun kedepan. Mayjen Michael Krause, juga menjelaskan pihaknya sangat berhati-hari dalam menerima kehadiran pasukan AS di Darwin. Meski itu adalah kebijakan yang di buat Presiden AS dan PM Australia untuk meningkatkan kerjasama pertahanan kedua Negara.

Selain itu kehadiran pasukan Marinir AS juga penting bagi kerjasama militer kedua negara karena memungkinkan dilakukannya latihan yang rutin dengan tentara Australia. Krause menambahkan, tidak menutup kemungkinan nantinya Personel TNI dapat diikutsertakan dalam latihan bersama. Menurutnya dengan adanya kerjasama yang dilakukan tiga Negara, manfaatnya akan baik bagi peningkatan profesionalisme prajurit di antara ketiga negara.

Salah satu yang menjadi perhatian Australia dengan kedatangan Pasukan AS saat ini, menurut Krause, adalah penyediaan fasilitas seperti perumahan untuk pasukan AS. Sementara ini pasukan AS menggunakan fasilitas yang tersedia di Barak Robertson di Darwin.

Sementara itu Kapuskom Publik Brigjen TNI Hartind Asrin sangat menghargai keterbukaan yang dilakukan tentara Australia dan Marinir AS. Setidaknya Indonesia bisa melihat langsung apa yang ada di Darwin yang sempat digambarkan akan menjadi Pangkalan Militer AS.

Terkait dengan penawaran bagi keikutsertaan TNI dalam latihan bersama Marinir AS dan Tentara Australia, menurut Kapuskom Publik, tawaran ini tentunya akan dikaji lebih lanjut oleh Menhan dan Pimpinan TNI. Kapuskom Publik Kemhan juga berpendapat, Indonesia tentunya menyambut baik setiap upaya bagi ditingkatkannya kerjasama pertahanan dengan negara manapun.

Usai mengunjungi Barak Robertson di Darwin, para delegasi Delegasi Perwira Senior Public Affairs Kemhan dan TNI melanjutkan kunjungan kerjanya ke Departemen Pertahanan Australia di Canberra, Australia tanggal 3 dan 4 Mei 2012, diterima oleh Assistant Secretary Major Powers and Global Interests, Chris Birrer.

Pada kunjungan di Departemen Pertahanan Australia, delegasi mendapatkan penjelasan tentang Posture Review yang mengkaji kemampuan Australian Defence Force (ADF) untuk menghadapi tantangan pertahanan dan keamanan regional serta global di masa datang.

Selain itu, briefing dari Elenore Eriksson, Assistant Secretary Communication and Media, tentang peran dan tugasnya di lingkungan Dephan Australia.

Sumber: Kemhan

Awak Kapal KRI Kakap Lakukan Perawatan Saat Sandar di Lantamal VII


7 Mei 2012, Surabaya: Sandar di Dermaga Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), prajurit Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Kakap-811 melaksanakan perawatan kapal, Minggu (06/05).

Perawatan meliputi beberapa bagian kapal, mulai dari bagian dalam dan luar kapal. Perawatan dalam kapal dilaksanakan dengan membersihkan koridor (lorong dalam kapal), ruangan-ruangan dan tempat tidur prajurit serta kamar mandi. Sedangkan perawatan bagian luar dilaksanakan dengan pengecatan geladak serta lambung kapal yang sudah mulai berkarat akibat air laut.

Dilandasi dengan semangat kerja yang tinggi, prajurit KRI Kakap melaksanakan perawatan kapal meskipun saat itu adalah hari libur Sabtu dan Minggu. Awak kapal perang di jajaran Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim itu, mulai dari Perwira, Bintara dan Tamtama seluruhnya ambil bagian dalam menjaga kapal agar selalu siap melaksanakan operasi.

Kekompakan kerja sebagai tim dan saling mendukung satu sama lain membuat pekerjaan yang mereka laksanakan terasa ringan dan mudah. Hasil kerja prajurit tersebut akan berpengaruh terhadap operasional kapal ketika sedang melaut. Sehingga ditutut kesungguhan dan keseriusan kerja untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal dan efektif.


Prajurit KRI Kakap mulai dari Departemen Operasi (Depos), Departemen Mesin (Depsin) dan Departemen Logistik (Deplog) bersama-sama melaksanakan perawatan dan pembersihan kapal sesuai tanggug jawab di sektor masing-masing.

Perwira Pelaksana (Palaksa) KRI Kakap Kapten Laut (P) Andi Kristanto sebagai kordinator kerja, menugaskan kepada Bintara Utama (Bama) sebagai penanggung jawab kerja perawatan bagian luar dan Pengurus Dalam (PD) bertanggung jawab di sektor dalam kapal.

Selain melakukan perawatan dan pembersihan, prajurit KRI Kakap juga melakukan perbaikan ringan terhadap pesawat-pesawat elektronika, mesin dan senjata. Sensor kapal berupa radar dan peralatan elektronika lainnya diperiksa secara periodik serta dilakukan perbaikan dan penggantian terhadap komponen-komponen yang rusak.

Demikian juga departemen mesin, bagian ini melaksanakan perbaikan sistim pipa pembuagan dan saluran air, Mesin Pendorong Pokok (MPK), dan listrik kapal.

Sedangkan bagian senjata melakukan perawatan serta membersihkan laras dan komponen senjata meriam 40 mm, meriam 20 mm dan senapan mesin metraliur 12,7 mm. Untuk senjata kaliber 12,7 mm dilaksanakan bongkar pasang oleh anggota KRI bagian senjata. Hal ini bertujuan untuk memastikan kesiapan senjata tersebut untuk digunakan pada setiap saat.

Sementara itu bagian logistik memberikan dukungan terhadap rekan-rekan mereka yang sedang bekerja dengan memberikan konsumsi berupa makanan dan minuman segar.

“Sekecil apapun peran serta yang disumbangkan oleh prajurit dapat menentukan keberhasilan dalam tugas”, kata Komandan KRI Kakap Mayor Laut (P) Himawan.

Sumber: Dispenarmatim

Wamenhan Meninjau Produksi Kapal BCM


7 Mei 2012, Cilegon: Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin selaku ketua High level committee (HLC) untuk modernisasi Alutsista, Senin (7/5) didampingi Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Aslog Kasal Laksda TNI Sru Handoyo serta sejumlah pejabat Kemhan lainnya, melakukan kunjungan kerja ke PT Anugrah Buana Marine di Cilegon Jawa Barat.

Setibanya di PT Buana Anugrah Marine, Wamenhan beserta rombongan diterima oleh Direktur Utama PT Anugrah Buana Marine H. Ir Nazruddin Umar beserta staf yang kemudian memberikan penjelasan tentang pembangunan 1 unit Kapal Bantu Cair Minyak (BCM) untuk TNI Angkatan Laut.

Usai menerima penjelasan dari Dirut PT Anugrah Buana Marine, Wamenhan memberikan penjelasan kepada sejumah media massa bahwa ini adalah pertama kali pemerintah memberikan kepercayaan kepada pihak swasta, untuk melakukan pembuatan alutsista khususnya kapal yang diperuntukkan bagi TNI AL, guna mendukung program modernisasi alutsista.

“Pemerintah memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan alutsista. Kalau kualitasnya bagus dan dapat bersaing, bukan tidak mungkin akan ada permintaan-permintaan berikutnya”, kata Wamenhan.

Selain menerima penjelasan seputar pembuatan satu unit Kapal Bantu Cair Minyak untuk TNI AL tersebut, Wamenhan berserta rombongan juga berkesempatan meninjau dan melihat secara langsung proses pembuatan kapal BCM.

Kapal BCM yang dirancang bangun oleh putera puteri Indonesia itu, memiliki spesifikasi panjang 95,55 m, lebar 17,50 m, daya muat minyak cair 5000 m3 dan memiliki kecepatan maksimal 14 knots dengan 58 Anak Buah Kapal.  

KRI Kujang Diresmikan November 2012

PT Palindo Marine Shipyard membuat Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jenis rudal cepat Kujang untuk TNI Angkatan Laut senilai Rp73 miliar. KRI Kujang yang akan resmi diluncurkan November 2012 itu rencananya bakal digunakan untuk patroli TNI AL di wilayah Armada Barat, mengingat kapal yang kecil sehingga bisa menembus perairan dangkal dengan banyak pulau.

KCR Kujang memiliki spesifikasi relatif sama dengan KCR Celurit yang juga dirakit Palindo dan telah diluncurkan oleh Menteri Pertahanan awal tahun 2012.

Kapal buatan PT Palindo itu memiliki panjang 44 meter dan mampu melaju hingga kecepatan 30 knot. Kapal sepenuhnya dikerjakan oleh putra-putri Indonesia.

Kapal itu dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), di antaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai sistem pertempuran jarak dekat (CIWS) dan peluru kendali dua set Rudal C-705.

Bagian lambung terbuat dari baja khusus yang bernama High Tensile Steel. Baja ini diperoleh dari PT Krakatau Steel. Kapal dengan sistem pendorong fixed propeller lima daun itu juga dilengkapi dua unit senapan mesin kaliber 20 mm di anjungan kapal.

Kapal itu merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang berfungsi menghancurkan target dalam sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dengan cepat.

Sumber: Kemhan/ANTARA News

TNI Siap Jadi 10 Besar Pengirim Pasukan Perdamaian

Prajurit UNIFIL dari kontingen Indonesia melakukan patroli menggunakan kendaraan tempur di dekat Taybe, Sektor Timur Area Operasi. (Foto: Pasqual Gorriz/Unifil)

 4 Mei 2012, Jakarta: TNI berupaya membentuk satu batalyon mekanis yang memiliki kekuatan 800-1.000 personel untuk misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa. Hal ini merupakan bagian dari target Indonesia untuk masuk dalam peringkat 10 besar negara yang mengirimkan pasukan perdamaian.

"Kami harap tahun 2012 satu batalyon mekanis yang disiapkan dan satu kompi zeni bisa dikirim ke negara-negara yang tengah berkonflik. Kita punya kemampuan untuk melakukan tugas-tugas tersebut," kata Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Brigadir Jenderal TNI Imam Edy Mulyono di kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC) Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Dengan membentuk batalyon mekanis ini, dia berharap TNI memiliki batalyon gerak cepat (standby forces) dan masuk dalam puncak United Nation Standby Aransement System (UNSAS). Penyiapan pasukan ini, menurut Imam, merupakan bagian dari target TNI untuk masuk ke dalam 10 besar negara yang mengirimkan pasukan perdamaian.

Dua tahun ke depan, TNI menargetkan dapat mengirimkan 4.000 personel di sejumlah negara yang berkonflik. "Dengan jumlah 4.000 personel, diharapkan Indonesia masuk 10 besar negara di dunia yang mengirimkan pasukan perdamaian.

Kita akan cari peluang-peluang yang ada dan melakukan kerja sama dengan lembaga lain yang berkaitan dengan peacekeeping di lingkup ASEAN,” tutur Imam.

PMPP juga tengah mencoba untuk mencari gambaran karena beberapa misi juga menyatakan akan memberikan seruan, khususnya untuk rumah sakit militer dimana PMPP akan menyiapkan tim medisnya, termasuk dokter spesialis.  

Komandan PMPP TNI Tutup Kursus UNSOG dan UNLOG

Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Brigjen TNI Imam Edi Mulyono menutup pelatihan Special Operations Group of the United Nation (UNSOG) dan United Nation Logistics Officers (UNLOG) yang diikuti oleh 80 orang perwira dari TNI dan perwakilan dari delapan negara.

"Dengan berakhirnya pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menjalankan tugas dalam misi penjaga perdamaian (peacekeeping)," kata Komandan PMPP Brigadir Jenderal TNI Imam Edi Mulyono di kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC) Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Ke-80 orang peserta yang mengikuti program ini terdiri dari 45 orang perwira TNI dan 25 perwira dari negara lain, yakni Bangladesh, Kamboja, Malaysia, Mongolia, Nepal, Filipina, Sri Lanka dan Thailand itu.

Mereka dipersiapkan untuk mengikuti misi-misi pemeliharaan perdamaian PBB. Kegiatan pelatihan ini dilakukan atas kerja sama dengan Global Peace Operations Initiative (GPIO)-US Pacific Command (USPACOM) yang bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan wawasan sebagai perwira staf dan perwira logistik pada misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu, dalam rangka memperingati "Peacekeepers Day" yang jatuh pada 29 Mei 2012 nanti, PMPP akan mengadakan berbagai kegiatan, antara lain, lomba menulis artikel tentang peacekeepers bagi wartawan, lomba dan pameran fotografi tentang peacekeepers serta pembuatan film peacekeepers berjudul "Garuda untuk Perdamaian".

Sumber: Jurnas