Saturday, August 8, 2009

Penangkapan Teroris Asal Malaysia

7 Agustus 2009, Temanggung -- Sejumlah anggota Densus 88 bersenjata lengkap berjalan menuju lokasi penggrebekan sarang teroris di dusun Beji, Kedu, Temanggung, Jateng Jumat (7/8). Densus 88 berhasil menangkap tiga tersangka teroris dan masih melakukan kontak senjata dengan teroris yang diduga Noordin M Top. (Foto: ANTARA/ANis Efizudin/hm/hp/09)




Sejumlah anggota polisi mengamankan jalan menuju lokasi penggrebekan sarang teroris yang dipadati warga yang ingin menyaksikan operasi tersebut di dusun Beji, Kedu, Temanggung, Jateng Jumat (7/8). (Foto: ANTARA/ANis Efizudin/hm/hp/09)

Warga di Perbatasan RI-Papua Nugini Pilih Lepas Kalau Tidak Ada Pembangunan

Gerbang perbatasan RI-PNG. (Foto: matanews.com)

7 Agustus 2009, Jayapura -- Jika pemerintah kurang memperhatikan pembangunan di kawasan perbatasan RI-Papua Nugini di Provinsi Papua, maka masyarakat yang berada di lokasi itu cenderung ingin lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini dikatakan salah satu tokoh masyarakat dari Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Arso-Keerom, Kasim Girbes saat dirinya menyampaikan aspirasi di acara kunjungan kerja Tim Pansus Ambalat dan Kawasan Perbatasan DPD RI, di Aula Kantor Bupati Keerom, Jumat (7/8).

Menurut Kasim, mimpi lepas dari NKRI itu akan benar-benar terwujud jika pemerintah pusat masih saja melakukan pembangunan dan penganggaran secara sentralistik atau hanya berpusat di Jakarta atau pulau Jawa. “Sebab dari sejarahnya, daerah Keerom sebelum jadi kabupaten adalah daerah merah atau basis salah satu kelonpok bersenjata tentara pembebasan nasional organisasi Papua merdeka (TPN-OPM). Kami sarankan, pemerintah harus membangun masyarakat di wilayah perbatasan di Provinsi Papua. Ini harus disampaikan ke presiden,” terangnya.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Adat Keerom, Pubertus Wamre, mengusulkan agar pemerintah pusat memberikan pos dana khusus ke pemerintah daerah membangun wilayah perbatasan, terlepas dari dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). “Kami harap usulan ini dapat diperhatikan pemerintah pusat, sehingga hak kami untuk mendapatkan pembangunan bisa terpenuhi,” terangnya.

Sementara dari sisi keamanan, Kapolres Keerom, AKBP Alosius Kowenip mengusulkan ke para anggota DPD RI yang datang ke daerah perbatasan RI-Papua Nugini di Keerom, agar Satgas Pengamanan Perbatasan yang bertugas di perbatasan di Papua, tak boleh didatangkan dari luar daerah Papua. Alasannya, nanti bisa stress dan menimbulkan masalah. “Aparat keamanan disini tentu lebih paham masalah disini. Bagi mereka yang tugas difasilitasi dan diberikan rumah, agar menjalankan tugasnya dengan baik. Jika sejahtera, mereka tak cari uang di luar,” paparnya.

Ketua Tim Pansus Ambalat dan Kawasan Perbatasan DPD RI, Idris mengatakan, pihaknya memiliki pandangan yang sama jika pemerintah pusat sementara ini masih membangun secara sentralistik. “Ketidakadilan itu yang menyebabkan keinginan lepas dari NKRI. Padahal jika ada pemerataan, tentu saja suara-suara seperti itu pasti tak akan pernah ada. Jika saja Jakarta lebih adil, sebenarnya keinginan memberontak tidak ada. Hanya saja, harus ada keadilan. Kami akan sampaikan aspirasi ini ke presiden, agar ada perhatian. Sehingga kawasan perbatasan bisa benar-benar dibangun,” teragnya.

Sekadar diketahui, kedatangan Tim Pansus Ambalat dan Kawasan Perbatasan DPD RI ke Keerom diterima secara resmi Bupati Keerom Celcius Watae yang didampingi wakilnya bersama jajaran pemarintah daerah Kabupaten Keerom. Acara kunjungan ini berakhir, setelah tim pansus didampingi bersama jajaran pemerintah di kabupaten yang berbatasan dengan Negara Papua Nugini melakukan kunjungan ke wilayah perbatasan di Skouw.

TEMPO Interaktif

Friday, August 7, 2009

NTT-Timor Leste Bahas Perbatasan

Rumah Lopo masih sangat banyak di jalan-jalan menuju perbatasan RI-Tim-tim di Kabupaten Timur Tengah Utara, NTT. Meski tertinggal bendera Merah Putih masih terpancang. (Foto: detikFoto/Muhammad Nur Hayid)

7 Agustus 2009, -- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya dan Menteri Sekretaris Negara Timor Leste Bidang Keamanan Fransisco da Costa Guterres membahas masalah perbatasan antara kedua negara (RI-Timor Leste) yang hingga kini belum terselesaikan.

"Ada beberapa agenda yang akan dibahas antara Gubernur NTT dan Menteri Sekretaris Negara Timor Leste Bidang Keamanan. Salah satu agenda di antaranya menyangkut masalah perbatasan antara kedua negara," kata Konsul Timor Leste di Kupang, Caitano Guterres, sebelum menggelar pertemuan dengan Gubernur NTT di Kupang, Jumat.

Selain Menteri Sekretaris Negara Timor Leste Bidang Keamanan, tampak pula Menteri Sekretaris Negara khusus Distrik Oecusse—wilayah kantung Timor Leste dalam wilayah Indonesia—George Tene.

Caitano Guterres mengatakan, selain masalah perbatasan, pemerintahan kedua negara juga membahas masalah tentang Pas Lintas Batas (PLB) serta masalah penyerobotan lahan dalam wilayah Indonesia oleh warga Oecusse di Desa Natuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, NTT.

Sampai sejauh ini, tercatat ada sekitar lima titik batas negara antara Indonesia dan Timor Leste yang belum terselesaikan, yakni Imbate, Sumkaen, Haumeniana, Nilulat, dan Tubana antara Oecusse dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Bahas Batas NTT-Timor Leste Jangan Abaikan Budaya

Sekretaris Negara Timor Leste bidang Keamanan, Fransisco Guterres berharap, penyelesaian perbatasan Indonesia dan Timor Leste, tidak mengabaikan budaya yang telah lama ada dan berkembang di antara masyarakat kedua negara.

"Rujukan tentunya pada aturan normatif dan bukti-bukti yang dianggap sah dari kedua negara. Namun masalah budaya juga penting diperhatikan, karena akan sangat membantu dalam proses penyelesaian batas antarkedua negara," kata Fransisco Guterres, usai bertemu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya, di Kupang, Jumat.

Menurut Guterres, perbatasan yang harus segera diselesaikan, antara lain, Distric Oecusse di Timor Leste dengan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di Indonesia, Distric Bobonara dan Distrik Kobalima di Timor Leste dengan kabupaten Belu di Indonesia.

Guterres mengatakan, upaya menyelesaiakn titik perbatasan tersebut, sampai saat ini baru sebatas membangun dialog bersama antara kedua negara tetangga. "Kedatangan kami ke Nusa Tenggara Timur sejak kemarin, salah satu agendanya adalah membicarakan bersama pemerintah dan DPRD NTT, bagaimana seharusnya menyelesaiakan titik perbatasan tersebut," katanya.

Dia mengatakan, untuk kepentingan menyelesaikan titik perbatasan tersebut, perlu dibentuk sebuah badan yang akan bertugas sebagai komite penghubung perbatasan antarkedua negara.

"Badan ini yang akan melihat dan mengidentifikasi titik perbatasan antarkedua negara, untuk selanjutnya duduk bersama guna membicarakan berdasarkan fakta hukum, budaya yang ada dalam suasana yang diharapkan penuh dengan kekeluargaan," katanya.

Ia juga berharap, sebelum semua ini berjalan, perlu ada satu sistem manajemen yang baik antara Timor Leste dan Indonesia sehigga dapat mengikat kedua belah pihak, jika telah menyepakati titik perbatasan kedua negara.

"Kita akan buatkan konsep lalu ditawarkan untuk dibahas bersama, pada pertemuan-pertemuan kedua negara di waktu selanjutnya," kata Geterres. Usai bertemu Gubernur Frans Lebu Raya, Guterres memimpin rombongan melanjutkan dialog dengan pimpinan DPRD NTT untuk membahas agenda yang masih terkait dengan perbatasan.

TRIBUN KALTIM

Yon Bekang 5/Perbekud Terjun Penyegaran di Lanud Suryadarma


7 Agustus 2009, Subang -- Sekitar dua ratus orang Prajurit TNI AD dari Batalyon Perbekalan Angkutan 5/ Perbekalan Udara (Yon Bekang 5/Perbekud) Direktorat Perbelakan Angkutan TNI AD (Ditbekangad) yang bermarkas di Kramat Jati, Jakarta Timur mengadakan terjun payung penyegaran di Landasan Lanud Suryadarma, Subang, Kamis (6/8). Terjun penyegaran merupakan program latihan bagi prajurit Yon Bekang 5 Perbekud sebagai satuan pendukung perbekalan udara yang harus mampu pula melaksanakan tugas terjun menggunakan payung udara.

Menurut Danyonbekang 5/Perbekud Letkol CBA Zulkarnaen terdapat 5 sortei menggunakan satu pesawat Herkules dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta yang take off sekitar pukul 05.30 WIB. Oleh karena yang melaksanakan terjun payung merupakan satuan pendukung perbekalan udara maka selain personel, juga dilaksanakan pula penerjunan material yang dinamakan Container Delivery System (CDS). Terdapat sekitar empat payung udara yang mengangkut material turut diterjunkan pula di landasan Lanud Suryadarma.

Dalam kegiatan yang berlangsung dengan lancar hingga menjelang tengah hari itu turut hadir menyaksikan jalannya latihan Danlanud Suryadarma Kol Pnb D. Widiantoro, MBA, Wakil Direktur Ditbekangkad (Wadirditbekangad) Kol CBA Sunandar beberapa asisten Dirbekangad, Kadisops Lanud Suryadarma Letkol Pnb M. Syafii, pejabat dan anggota Ditbekangkad serta Ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana Yon Bekang 5/Perbekud.

Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) Marsekal Muda TNI Imam Sufaat, S.IP menutup Latihan Antar Satuan Jalak Sakti tahun 2009 yang berlangsung sejak tanggal 3 Agustus 2009 yang melibatkan pelaku berjumlah 130 peserta di Lapangan Upacara Makoopsau I, Kamis (6/8).

Pangkoopsau I Tutup Latihan Jalak Sakti

Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat S.IP, saat meninjau dan memberikan arahan kepada peserta Latihan Antar Satuan Jalak Sakti 2009 di Ruang Serba Guna Makoopsau I. Kamis (6/8).

Latihan yang melibatkan perwakilan dari Lanud-Lanud di bawah jajaran Koopsau I yakni Lanud Halim Perdanakusuma, Lanud Pekanbaru, Lanud Atang Sendjaja Bogor, Lanud Supadio Pontianak, Lanud Tanjung Pinang dan unsur Paskhas ini, mempunyai Metode Latihan yaitu Geladi Posko dan macam Latihan yaitu Latihan Taktis Tanpa Pasukan.

Sasaran Latihan yaitu terwujudnya kemampuan satuan dalam melaksanakan setiap operasi sesuai tugas pokoknya dalam menjamin keberhasilan tugas pokok Koopsau I.Tercapainya kemampuan menerapkan doktrin dan prosedur baik yang bersifat strategis, operatif maupun taktis dalam konsep operasi yang dapat dipertanggung­jawabkan serta keberhasilan dalam menghadapi kontinjensi yang paling mungkin terjadi di wilayah Koopsau I. Tercapainya kemampuan berkoordinasi dan atau kerja sama antar satuan dalam melaksanakan konsolidasi, rencana gelar kekuatan dan dukungannya serta K-4 l untuk mendukung kegiatan operasi secara optimal. Tercapainya kesiapan dan kesiagaan operasional satuan serta terujinya organisasi dari aspek piranti lunak maupun piranti keras.

Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat disela-sela Upacara Penutupan mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan dalam latihan telah dilaksanakan, untuk itu perlu mengevaluasi semua kegiatan mulai dari tahap perencanaan, persiapan dan pelaksanaan serta tahap pengakhiran. Apabila ditemukan adanya kendala atau hambatan yang menganggu lancarnya pelaksanaan latihan, agar disampaikan pada saat pelaksanaan evaluasi. Koreksi dan Unsur Wasdal, Penilai dan pendukung, serta saran dari pelaku agar dijadikan masukan guna penyempurnaan latihan di waktu mendatang.

Sebagai prajurit yang profesional, kita semua jangan cepat berpuas diri, lakukan upaya untuk selalu mengasah diri, dengan belajar dan berlatih secara kontinyu, guna memperbaiki kesalahan-kesalahan sekecil apapun, yang ditemukan saat melaksanakan latihan, sehingga pada latihan yang akan datang, agar lebih baik. Selain itu Pangkoopsau I mengharapkan kepada semua yang terlibat dalam latihan, agar menjadikan latihan ini sebagai bekal pengalaman yang berharga, serta dapat menjadi motivasi dalam pelaksanaan tugas secara profesional.

Sedangkan tema Latihan Antar Satuan Jalak Sakti yaitu ”Koopsau I Melaksanakan Latihan Antar Satuan Jalak Sakti 2009 Tahun 2009”, di Wilayah Tanggung Jawabnya Dalam Rangka Meningkatkan Kesiapan Operasional dan Profesionalistas Yang Tinggi Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI.

Hadir dalam acara tersebut Komandan Lanud Atang Sendjaja Marsekal Pertama TNI Bambang Margono serta Para Pejabat Jajaran Koopsau I.

PENTAK LANUD SURYADARMA/PEN KOOPSAU

CN 235 - 220 MPA Perkuat Skadron Udara 5


6 Agustus 2009, Makassar -- Pesawat CN 235-220 MPA (Maritim Patrol Aircraft) telah resmi dioperasikan oleh Skadron Udara 5 dan menjadi salah satu kekuatan alutsista (alat utama sistim senjata) Skadron Udara 5 wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin yang ditandai dalam acara penerimaan oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia, pada hari Rabu (5/8) di Skadron Udara 5 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin.

Acara penerimaan dihadiri Komandan Wing 5 Kolonel Pnb Arif Mustofa , Kadis Ops Letkol Pnb Andi Heru Wahyudi, Kadislog Kolonel Tek Anwar Kasim, para komandan Satuan, perwira staf dan undangan lainnya..

Pesawat CN 235-220 MPA merupakan pesawat buatan pabrik Cassa Nortanio, PT Dirgantara Indonesia yang telah menjalani kegiatan flight training Mishion system Pesawat di PT DI Bandung.

Dengan tambahnya satu buah pesawat CN 235-220 MPA yang dilengkapi dengan peralatan Mission Console buatan pabrik Thaless Prancis yaitu Tactical Commander (Tacco) radar console yang berfungsi untuk searhing atau pencarian target weather radar dan mapping menambah kemampuan dan kesiapan operasional Skadron Udara 5 sebagai satuan intai yang menjaga dan menegakkan kedaulatan Negara di udara dalam wilayah udara yuridiksi Nasional Republik Indonesia

CN 235-220 MPA. (Foto: Dispenau)

Selain itu CN 235-220 MPA juga dilengkapi dengan Equipment Support Mission (ESM) Console yang memiliki kemampuan untuk mengindentifikasi sinyal frequensi dari obyek lain dengan kemampuan pasif. Juga dilengkapi dengan kamera Agile-4 yang dapat merekam dan mencetak hasil target.

Pada acara penerimaan pesawat tersebut, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia menyampaikan bahwa pesawat CN 235-220 MPA dengan kelengkapannya adalah pesawat mahal dan canggih, yang dibutuhkan Lanud Sultan Hasanuddin dalam mendukung pelaksanaan tugas, untuk itu dituntut personel yang mampu mengawaki, mengopersikan dan memeliharanya.

Komandan selanjutnya mengatakan bahwa dalam hal pengawakan, telah menyusun personel-personel yang terlatih, dan diharapkan dalam waktu 2 minggu sampai satu bulan crewnya sudah siap dan seterusnya perlu pembinaan, penggenerasian dari crew tersebut.

Silabi untuk pembinaan crew CN 235 -220 MPA telah disusun, dengan harapan tepat sasaran. “ Jadi harus bisa melaksanakan misi, baik misi untuk patroli udara, maritim maupun darat dan juga misi pengintaian “. tegas Komandan Lanud Sultan Hasanuddin.

PENTAK LANUD HASANUDDIN

Jelang Sail Bunaken, TNI-AL Galakkan Patroli Udara


7 Agustus 2009, Manado -- Jelang Sail Bunaken, semua pihak yang terlibat makin mematangkan persiapan. Salah satu di antaranya TNI-AL. Kemarin (6/8) dengan menggunakan pesawat jenis Nomad, Lanudal Manado berpatroli di seputaran perairan Sulut.

Rute yang dilalui pesawat yang dipiloti Leptu Laut (P) Sugiman dan kopilot Letnan Ahmad Ervan tersebut meliputi Selat Bitung, Pulau Bangka dan Lembeh, Manado Tua, Bunaken, dan Manado Bay.

Menurut Letnan Ahmad Ervan, sementara ini perairan Sulut berada dalam kondisi aman. ''Yang kami temui tadi saat patroli, beberapa kapal ikan, kapal kargo, dan juga kapal layar,'' bebernya.

Komandan Lanudal Manado Mayor (Laut) Eko Syam H. mengatakan, TNI-AL memang punya jadwal rutin patroli udara. Karena even Sail Bunaken semakin dekat, patroli lebih diperketat.

JAWA POST

Marinir Indonesia-AS Tingkatkan Kerja Sama

Taifib beraksi dalam suatu latihan. (Foto: marinir.mil.id)

7 Agustus 2009, Jakarta -- Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat sepakat untuk meningkatkan kerja sama, terutama dalam peningkatan kemampuan antiteror.

"Kita semua menyadari ancaman terorisme akan tetap ada dan bahkan mengalami peningkatan. Karenanya kami akan terus bekerja sama," kata Komandan Korps Marinir AS Jenderal James T Conway kepada seusai menerima penghargaan "Baret Korps Marinir" TNI AL di Jakarta, Jumat (7/8).

James Conway mengatakan, peningkatan kemampuan personel marinir kedua negara telah lama dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pendidikan dan latihan bersama. "Terkait dengan kontra terorisme, kita akan bekerja sama untuk saling meningkatkan kemampuan antiteror. Yang selama ini sudah berjalan baik, namun ke depan akan kita sempurnakan lagi," ujar Conway.

Conway menambahkan, kerja sama korps marinir kedua negara telah banyak mengalami peningkatan positif dan banyak hal yang masih dapat dikerjasamakan kedua pihak di waktu mendatang. "Korps Marinir Indonesia adalah terbaik ketiga di dunia, dan telah banyak yang kami lakukan bersama dan akan dilakukan di masa datang dengan lebih baik bagi peningkatan profesionalisme kami sebagai marinir," katanya.

Sementara itu, Komandan Korps Marinir TNI AL Mayjen (Mar) Djunaidi Djahri mengatakan, pihaknya akan terus membina kerja sama dengan korps marinir negara lain. "Selain untuk membina hubungan baik, latihan bersama ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel marinir," ujarnya.

Beberapa latihan bersama telah dilakukan antara marinir RI dan AS dan akan terus ditingkatkan dengan cakupan kerja sama yang lebih luas tak hanya kemampuan di bidang perencanaan, kegiatan staf, prosedur operasi pemeliharaan, komando pengendalian, pengambilan keputusan dan pengawasan. Akan tetapi juga pertukaran keilmuan antara marinir kedua negara seperti sistem kerja simulator counter insurgency line of operation, militery decision making process dan marine corps planning process.

"Kami juga telah mengadakan latihan bersama untuk operasi pemelihara perdamaian PBB .Operasi bertujuan meningkatkan stabilitas keamanan untuk mengembalikan dan memelihara kebebasan bergerak serta memberikan bantuan kemanusiaan di sejumlah wilayah konflik di dunia," kata Djunaidi.

MEDIA INDONESIA

Thursday, August 6, 2009

Jet Tempur Kembali Ke Sarang

Pesawat F-16/Fighting Falcon, sedang Taxi akan masuk sarangnya (Shelter) setelah melaksanakan latihan “Sikatan Daya” di Lanud Balikpapan Kalimantan Timur, Rabu, (5/8). (Foto: Pentak Lanud Iswahjudi).


5 Agustus 2009, Madiun -- Setelah sepekan tak terdengar gemuruh suara jet-jet tempur di langit Iswahjudi, karena sedang melaksanakan tugas operasi di perbatasan dan latihan “Sikatan Daya 2009” di Kalimantan Timur, tepat pukul 09 45 wib Rabu, (5/8), suara jet-jet tempur Lanud Iswahjudi kembali membahana di langit Iswahjudi, begitu pesawat tempur tersebut menginjakkan rodanya di Runway 17, setelah operasi perbatasan dan latihan Sikatan Daya usai.

Mesin tempur jajaran Wing 3 Lanud Iswahjudi tersebut baru saja melaksanakan latihan operasi Sikatan Daya di Lanud Balikpapan Kalimantan Timur serta melaksanakan operasi didaerah perbatasan Ambalat, bersama unsur lainnya, diantaranya Satuan Radar (Satrad), Batalyon Paskhasau serta Skadron-Skadron Udara dibawah jajaran Koopsau II.

Latihan Sikatan Daya yang dilaksanakan Koopsau II tersebut, merupakan akumulasi dari pembinaan latihan yang dilaksanakan skadron-skadron udara jajaran Koopasau II, yang sekaligus merupakan perwujudan upaya peningkatan ketrampilan dan profesionalisme, serta sebagai tolok ukur pembinaan latihan.

Seperti harapan Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI Bambang Samoedro, S.Sos., melalaui Kadisops Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Nanang Santoso saat pemberangkatan ke daerah penugasan agar seluruh personel maupun pesawat harus kembali seperti saat pemberangkatan, semua dapat terwujud berkat kedisiplinan dan keseriusan para crew maupun ground crew yang selalu memperhatikan keselamatan terbang dan kerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Burung-burung besi di bawah Wing 3 Lanud Iswahjudi pun segera masuk kandang untuk mendapatkan perawatan sebagaimana biasanya usai latihan dilaksanakan.


AS Tawari Brazil Transfer Teknologi Militer Tercanggih


5 Agustus 2009, Brasilia -- Amerika Serikat bersiap mengajukan penawaran tak diduga-duga dalam soal transfer teknologi jet tempur F/A-18 Hornet, kepada Brazil guna mendapatkan kontrak bernilai multi miliaran dolar AS, demikian keterangan resmi pemerintah AS, Kamis WIB.

Wakil Menteri Luar Negeri (Direktur Jenderal) Departemen Luar Negeri AS urusan pengawasan senjata Ellen Tauscher dan Kepala Penguasaan dan Teknologi Pentagon Ashton Carter mengungkkapkan, mereka telah mengajukan proposal kepada pemerintah Brazil Selasa dan Rabu waktu AS.

Didampingi di Brasilia oleh Penasihat Kemanan Nasional Presiden Barack Obama, Jim Jones, kedua orang itu mengatakan bahwa transfer teknologi itu adalah bagian dari langkah pengantar akhir dalam mencoba membujuk angkatan udara Brazil untuk membeli 36 pesawat tempur baru.

Kontrak ini diperkirakan bernilai lebih dari empat miliar dolar AS dan termasuk pengiriman pesawat tempur dari 2014 untuk menggantikan armada tua Brazil yang terdiri dari 12 jet Mirage-2000 buatan Prancis.

"Transfer (teknologi) ini akan menjadi sesuatu yang tak pernah kita lakukan sebelum ini, dan karena secara khusus hubungan dengan Brazil begitu berharga, begitu penting bagi kami," kata Tauscher kepada wartawan.

Dia menekankan bahwa proposal itu akan menjadi akhir dari sikap umum AS manakala negara ini mengekspor persenjataan canggihnya dan menambahkan bahwa sebuah keputusan akan dibuat dalam 45-60 hari ke depan.

Carter berkata, "Kami ingin memiliki hubungan teknologis dengan Brazil yang dari waktu ke waktu semakin dalam dan dalam saja. Ini hanya satu langkah awal."

Penawaran ini muncul sebagai upaya menumpulkan tawaran pesaing dari Dassault Prancis yang sedang menawarkan pesawat tempur canggihnya Rafale dan Saab Swedia yang menawarkan pembuatan pesawat tempur Gripen NG.

Rafale, yang memiliki teknologi siluman dan alat penghubung kokpit yang terpisah serta pendeteksi ancaman, dipandang sebagai pilihan menguntungkan bagi Brazil, sebagian besar karena Prancis menawarkannya dengan transfer teknologi secara penuh yang adalah kunci tender yang diminta Brazil.

Pun demikian dengan Saab, yang telah menjanjikan berbagi pengetahuan dengan Brazil --meskipun mesin Gripen itu buatan AS sehingga seharusnya menjadi kewenangan jual dari militer AS.

Belum jelas teknologi apa yang dipersiapkan AS untuk dibagi dari F/A-18 kepada Brazil, yang merupakan pesawat tempur bermodel paling tua yang ditawarkan yang telah terbang sejak 1980.

Satu pertimbangannya, baik bagi Brazil maupun AS, adalah mungkin bagaimana F/A-18 bisa membuat AU Brazil sebanding dengan angkatan udara Venezuela dalam setiap konfrontasi yang muncul di masa depan.

Baru-baru ini Venezuela membeli 24 Su-30MK2 buatan Rusia yang dikembangkan oleh China, satu jenis pesawat tempur modern yang dianggap mengungguli pesawat tempur buatan AS.

ANTARA News/AFP

Tuesday, August 4, 2009

Rusia Tertarik Membeli Kapal Amphibi Mistral Dari Perancis

Kapal amphibi buatan Perancis kelas Mistral. (Foto: naval-technology)

4 Agustus 2009 -- Harian Bisnis Perancis La Tribune memberitakan Rusia merencanakan membeli kapal amphibi kelas Mistral dari Perancis senilai 300 - 400 juta euro (430 - 580 juta dolar), saat ini dalam pembicaraan diharapkan diperoleh kesepakatan akhir di awal September.

Dalam perundingan ini Rusia diwakili AL, United Shipbuilding Corporation dan wakil-wakil perusahaan.

Berdasarkan sejumlah sumber, kemungkinan pembelian Mistral didiskusikan saat berlangsung pameran maritim di St. Petersburg pada Juni tahun ini.

Bila pembelian ini terwujud akan menjadikan kesepakatan pembelian senjata terbesar pertama kalinya sejak runtuhnya Uni Sovyet.

Rusia pertama kali tertarik bekerjasama bilateral dengan Perancis dalam peralatan dan teknologi angkatan laut saat KASAL Rusia Laksamana Vladimir Vysotsky menghadiri pameran senjata Euronaval 2008 di Perancis. Vysotsky mengatakan AL Rusia tertarik melakukan riset bersama dan juga langsung membeli peralatan angkatan laut buatan Perancis.

Harian Bisnis Rusia Kommersant memberitakan kemungkinan kesepakatan pembelian Mistral tetapi para ahli militer Rusia ragu terwujud.

(Foto: netmarine.net)

Program penggadaan senjata Rusia hingga 2014 tidak mencantumkan konstruksi atau pembelian kapal perang berukuran besar, kemungkinan besar akuisisi Mistral terjadi dibawah program baru pada tahun 2020, yang saat ini dalam pengembangan.

Menurut direktur Center for Analysis of Strategies and Technologies Ruslan Pukhov, meskipun praktek impor senjata akan menjadi hal lebih umum di Rusia di masa datang, kesepakatan Mistral menimbulkan pertanyaan dari sudut pandang militer, walaupun Rusia mengharapkan alih teknologi tingkat lanjut dari Perancis.

Kapal amphibi kelas Mistral mampu membawa 16 helikopter, 4 kapal pendarat, 70 kendaraan termasuk 13 MBT, dan 450 prajurit. Kapal dilengkapi rumah sakit dengan 64 tempat tidur.

Kronshtadt Membuat UAV Dozor-3


Perusahaan pertahanan Rusia Kronshtadt mengembangkan pesawat nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV) generasi baru Dozor-3 untuk tujuan militer.

UAV Dozor-3 berbobot 600 kg, mampu membawa beban 100 kg dan dapat digunakan pesawat serang dengan dimuati berbagai tipe peralatan pengintaian dan senjata.
Dozor tinggal landas dan mendarat seperti pesawat pada umumnya, mampu terbang selama 6 jam.

Saat ini hanya Vega Radio Engineering Corp perusahaan Rusia yang membuat UAV untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Vega membuat UAV Tipchak, dirancang untuk tujuan pengintaian dan penentuan sasaran di medan pertempuran dalam berbagai kondisi cuaca. Tipcak pertama kali bertugas di AB Rusia diakhir 2008. Tipchak dibawa oleh kendaraan yang mampu membawa enam unit Tipchak, diluncurkan menggunakan katapel pneumatik. Setiap Tipchak mampu mencapai jarak 40 kilometer dengan lama terbang 3 jam.

Rusia membeli 12 UAV dari Israel dalam kesepakatan belum lama ini, nilai pembelian senilai 53 juta dolar.

Militer Rusia tertarik UAV Israel saat konflik di Georgia Agustus lalu, dimana UAV Israel yang digunakan oleh Georgia mampu mengalahkan kinerja UAV buatan Rusia.
Rusia memerlukan hingga 100 UAV dengan sedikitnya 10 sistem pandu untuk memastikan effektivitas pengintaian medan tempur.

RIA Novosti/@beritahankam

Militer Janji Cermat Gunakan Anggaran

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2 kiri), Wakil Presiden Jusuf Kalla (2 kanan) , Ketua DPR Agung Laksono (kiri), dan Wakil Ketua DPR, Muhaimin Iskandar (kanan), berbincang seusai menghadiri Rapat Paripurna Luar Biasa penyampaikan pengantar/keterangan pemerintah atas RAPBN 2010 beserta nota keuangannya, di gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/ED/mes/09)

4 Agustus 2009, Jakarta -- Departemen Pertahanan (Dephan) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkomitmen menjadi pelopor penggunaan anggaran secara cermat, tepat, dan hemat.

"Berapa pun angka nominal (kenaikannya) harus efektif dan efisien," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dalam pesan singkat yang diterima Jurnal Nasional, Senin (3/8).

Anggaran Dephan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2010 mencapai Rp40,7 triliun. Pertahanan menjadi peringkat dua terbesar setelah anggaran untuk Departemen Pendidikan Nasional yang direncanakan memperoleh Rp51,8 triliun. Jumlah ini, naik lebih dari Rp7 triliun ketimbang tahun sebelumnya yang mendapat porsi Rp33,6 triliun.

Juwono mengatakan, kenaikan harus benar-benar menjamin meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan aparat pertahanan negara. Salah satunya lewat pembelian sebagian suku cadang yang sebelumnya tidak dapat terbeli. "Termasuk mengurangi kebocoran yang ada."

Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsekal Muda Sagom Tamboen mengapresiasi rencana kenaikan anggaran. Dia menegaskan, dana akan diprioritaskan meningkatkan kesiapan TNI, terutama untuk tugas operasi militer selain perang.

"Pengamanan perbatasan, pulau terluar, dan rawan konflik juga jadi fokus," kata Lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1975.

Terkait perbaikan penggunaan anggaran, Dephan dan TNI telah dapat membuktikannya. Saat ini, kedua instansi tersebut tidak lagi diberi predikat Opini "Tanpa Pendapat" atau disclaimer oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Opini "Wajar dengan Pengecualian" berhasil diperoleh setelah militer serius membenahi laporan pengelolaan keuangannya tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, TNI Angkatan Udara menargetkan kenaikan anggaran pertahanan tahun 2010 akan mendongkrak kesiapan operasi pesawat sekitar sepuluh hingga 15 persen. "Kami ingin kesiapan lebih dari 50 persen," kata Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Subandrio.

Prioritasnya, kata dia, pemeliharaan dan pembelian suku cadang pesawat angkut. "Tentunya mengabaikan kenaikan kesiapan pesawat tempur dan helikopter," katanya.

JURNAL NASIONAL

Pangdam: Teroris Boleh Ditembak Mati

(Foto: hariyandi)

4 Agustus 2009, Cilacap -- Panglima Komando Daerah IV Diponegoro, Mayor Jenderal Hariyadi Soetanto, memerintahkan aparatnya menangkap pelaku terorisme dengan segala cara, termasuk menembak mati. Hal itu juga dilakukan terhadap Noor Din M Top yang saat ini sedang dicari.

"Kalau bisa tangkap dengan tangan, kalau tidak bisa ya dengan peluru," kata Hariyadi, saat memberikan pengarahan terhadap aparat TNI, Kepolisian, dan seluruh jajaran pemerintahan se-Karesidenan Banyumas di Gedung Patra Ria Pertamina Cilacap, Selasa (4/8).

Hariyadi memerintahkan agar Babinsa dan Babinkopkamtib di seluruh pedesaan untuk meningkatkan kewaspadaan. Fungsi-fungsi intelijen juga harus dibangun kembali.

Ia juga meminta agar seluruh Danramil untuk menghidupkan kembali Desk Antiteror di masing-masing Koramil. "Bagi musuh negara, hanya ada satu pilihan: mati," tegasnya.

Menurut Hariyadi, masuknya jaringan teroris di Jawa Tengah merupakan bentuk kelengahan, sementara kelengahan itu bentuk kelemahan yang selanjutnya membawa kehancuran.

Secara khusus, Pangdam juga meminta jaringan lurah dan camat untuk mengawasi toko-toko penjual pupuk, sebab bahan-bahan peledak juga banyak yang menggunakan bahan untuk pupuk.

"Di setiap desa harus ada jaring pengaman dan jaring koordinasi untuk mengawasi toko pupuk dan bahan kimia lainnya," imbuhnya.

TEMPO Interaktif

Brazil Melakukan Pengujian Kemampuan UAV Heron

UAV Heron milik militer Kanada. (Foto: DID)

3 Agustus 2009 -- Pesawat nir awak (unmanned aerial vehicle/UAV) buatan Israel Aerospace Industries (IAI) saat sedang diuji dan dievaluasi kemampuannya untuk menghadapi perdagangan obat bius, keamanan perbatasan dan pencurian sumber daya alam hayati oleh pemerintah Brazil.

Heron tiba di Brazil bulan lalu dan terbang dibawah tantangan dan ketidakpastian kondisi cuaca di salah satu wilayah yang tersulit di Brazil, di negara bagian Parana.

Heron telah digunakan oleh militer Kanada untuk mendukung misi di Afghanistan.
Sejumlah menteri dan pejabat senior militer Brazil menghadiri saat demonstrasi dilakukan. Baru-baru ini, IAI mendirikan perusahaan patungan dengan perusahaan Brazil Synergy Group, EAE, yang akan aktif memasarkan UAV di pasar Brazil dan pasar potensial lainnya di Amerika Latin.

Kerjasama IAI dan Brazil dimulai dua tahun lalu setelah Polisi Federal Brazil membuka tender untuk penggadaan UAV. Tim Kepolisian Brazil mengatakan sistem Heron dapat melakukan misi dengan sukses dibawah kondisi iklim tak bersahabat.

Heron mampu berada di udara selama dua hari tanpa mengisi bahan bakar. Heron dapat terbang hingga ketinggian 30,000 kaki hingga menyulitkan senjata anti pesawat standar untuk membidiknya, beban yang dibawa 250 kg. Bentang sayap 16,6 meter dan berat 1200 kg dengan jarak operasional ratusan kilometer dalam segala cuaca, siang maupun malam.

THE JERUSALEM POST
/@beritahankam

Heli TNI Mendarat Darurat Di Lapangan Bola

Helikopter milik TNI AU jenis Colibri buatan Prancis buatan tahun 1995, mendarat darurat di lapangan bola kaki Desa Japura, Rengat akibat kabut asap, Senin (3/8/2009).(Foto: riau pos/mfathra nazrul islam)

4 Agustus 2009, Rengat -- Sebuah helikopter milik TNI AU jenis Colibri buatan Perancis tahun 1995, terpaksa mendarat darurat di lapangan sepak bola Desa Japura, Senin (3/8) sekitar pukul 15.45 WIB.

Informasi yang berhasil dihimpun Riau Pos, heli yang dipiloti Lettu PNB Krisnayogi, copilot Lettu PNB Antoni dan dua orang kru pesawat yakni Sertu Purnama dan Pratu Adrian itu, mendarat akibat cuaca buruk dan kabut asap.

Pesawat heli yang melalukan penerbangan rutin itu berangkat dari lapangan Sultan Taha Jambi menuju Lanud Pekanbaru. Tapi melihat kondisi cuaca berkabut dan mengakibatkan terganggunya jarak pandang, semua awak heli memutuskan untuk mendarat darurat.

‘’Dari pada perjalanan berisiko, lebih baik heli didaratkan di lapangan bola ini,’’ kata Krisnayogi didampingi copilot Antoni.

Dia mengatakan penerbangan menuju Lanud Pekanbaru rencananya akan dilakukan pada Rabu besok, itu pun jika kondisi cuaca tidak mengganggu jarak pandang dan memungkinkan untuk penerbangan.

Komandan Kompi Senapan B Lirik Yonif 132 Bima Sakti Kapt Inf Sigit yang turut hadir ketika itu mengatakan, akan melakukan pengamanan terhadap heli yang mendarat darurat tersebut. Sebab heli yang merupakan alusista harus dilindungi. ‘’Meski lokasi pendaratan ini dikenal daerah yang aman, pengamanan tetap akan kita lakukan,’’ ujar Sigit.

Peristiwa pendaratan darurat yang dilakukan awak heli milik TNI AU itu cukup menarik perhatian warga sekitar. Namun di sekitar lokasi pendaratan, sejumlah personel TNI AD, Kompi Senapan B Lirik juga tampak berjaga-jaga. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa sebelum mendarat, cuaca di daerah itu memang dipenuhi kabut asap.

RIAU POS

Kadet AAL Akan Berlayar ke Seluruh Perairan Indonesia Dengan KRI Dewa Ruci dan KRI Teluk Ende

Kapal latih KRI Dewa Ruci. (Foto: koarmatim)

4 Agustus 2009, Surabaya -- Akademi Angkatan Laut (4/8). Sejumlah 179 kadet tingkat III Akademi Angkatan Laut Angkatan 56 akan melaksanakan Latihan dan Praktek (Lattek) pelayaran ke seluruh perairan Indonesia . Lattek yang diberi nama Kartika Jala Krida (KJK) ini dikomandani oleh Mayor Laut (P) Antonius Widyoutomo ini menggunakan kapal latih jenis Barquentine (layar tiang tinggi) yaitu KRI Dewaruci dan KRI Teluk Ende-517. Peresmian dan pelepasan satuan latih KJK ini dilaksanakan oleh Gubernur AAL Laksda TNI Moch. Jurianto, S.E, melalui suatu upacara militer di lapangan Banda AAL, Bumi Moro, Surabaya , Selasa (4/8).

Menurut rencana pelayaran ini akan berlangsung selama kurang lebih 65 hari yaitu dari tanggal 5 Agustus sampai dengan 9 Oktober dan akan melewati route Surabaya, Bitung, Makassar, Benoa, Cilacap, Sibolga, Sabang, Dumai, Bangka Belitung dan kembali ke Surabaya. Dan khusus di Bitung, Satgas KJK ini akan dilibatkan secara aktif dalam Sail Bunaken 2009 dan Indonesian Fleet Review 2009, sebuah Icon Internasional bergensi yang akan dihadiri oleh kurang lebih 32 negara, yang akan membangun image dunia bahwa TNI AL layak diperhitungkan dalam percaturan Internasional.

LST KRI Teluk Ende. (Foto: batamtoday)

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membentuk karakter prajurit matra laut dan mental kejuangan kadet AAL sebagai calon Perwira TNI AL yang bermoral, disiplin, profesional dan bertanggung jawab, mempraktekkan semua pelajaran yang telah didapatakan di kelas dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan, memberikan wawasan tentang wilayah perairan Indonesia, dan tercapainya pemahaman profesi dasar matra laut, serta para kadet akan mengenal lebih dekat kultur kehidupan berbagai suku bangsa di Indonesia, ujar Gubernur AAL Laksda TNI Moch. Jurianto, S.E.

“Sebagai prajurit TNI AL, kita harus bertekad bahwasanya laut harus kita taklukkan, kita kuasai, kita kontrol, dan kita awasi, agar tetap aman dan terkendali, dalam rangka melindungi kepentingan bangsa Indonesia di dan atau lewat laut. Laut adalah medan juang kita sebagai prajurit matra laut , di saat ini dan di masa mendatang”, tandas Laksda TNI Moch. Jurianto, S.E.

DISPENAL

Kodam Jaya Aktifkan Desk Antiteror

Latihan anti teror prajurit Kodam Jaya. (Foto: kodam-jaya.mil.id)

4 Agustus 2009, Jakarta -- Kasus bom di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton, mendorong Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya) mengaktifkan kembali desk antiteror. Satuan itu bertugas memberikan pencatatan, evaluasi, dan analisis cepat tentang segala informasi yang berkaitan dengan terorisme di Ibu Kota Jakarta.

"Sehingga ancaman bisa diprediksi secara lebih tajam," kata Asisten Pengamanan Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Hendardji Supandji seusai ceramah "Anatomi Terorisme Global dan Nasional" di Markas Kodam Jaya, Cililitan, Jakarta Timur, kemarin. Menurut dia, desk antiteror itu akan mengumpulkan informasi hingga tingkat terendah, bintara pembina desa atau babinsa, yang ada di tingkat kelurahan.

Untuk itu, Hendardji membeberkan segala informasi yang berkaitan dengan terorisme, dari sistem perekrutan hingga hubungannya terhadap masalah global, di depan 328 perwakilan babinsa se-Jakarta, pimpinan satuan di jajaran Kodam Jaya, dan jajaran intelijen yang bertugas di Ibu Kota. "Sistem lapor cepat, deteksi dini, dan cegah harus diterapkan," katanya.

Robot penjinak bom beraksi dalam latihan anti teror Kodam Jaya. (Foto: kodam-jaya.mil.id)

Desk yang berpusat di Markas Kodam Jaya ini juga bertujuan membantu kepolisian dalam memberantas terorisme. "Apabila Polri meminta bantuan informasi, kami siap," katanya.

Hendardji menekankan pendekatan satuan ini berupa soft power. "Kekerasan yang dihadapi dengan kekerasan akan memunculkan kekerasan baru," ujarnya. Dengan pendekatan kemanusiaan, dia melanjutkan, radikalisme dapat dipadamkan.

Menurut Hendardji, pengaktifan kembali desk antiteror sesuai dengan Undang-Undang TNI, yang menyatakan salah satu tugas pokok tentara adalah mengatasi terorisme. Namun, ia memastikan tidak akan terjadi tumpang-tindih wewenang dengan kepolisian. "Itu tetap menjadi tugas polisi, sudah ada kotak-kotak (pembagian)-nya," kata Hendardji.

Berkaitan dengan itu, Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya Mayor Jenderal TNI Darpito Pudyastungkoro juga meminta semua jajaran babinsa aktif mengawasi kegiatan warga di wilayah kelurahan mereka. "Untuk mempersempit ruang gerak terorisme dalam menjalankan aksinya," kata dia pada kesempatan yang sama.

Darpito mengatakan jaringan terorisme berbeda dengan musuh konvensional yang terlihat kasatmata. "Eksistensinya hanya dapat dibaca oleh kemampuan intelijen," ujarnya. Untuk itu para anggota babinsa diberikan pembekalan segala hal yang berkaitan dengan terorisme, dari karakteristik, sistem perekrutan, hingga hubungannya dengan permasalahan global.

Menurut Darpito, pengamanan Ibu Kota sangat vital mengingat perannya sebagai barometer bagi daerah lain di Indonesia. Pengeboman 17 Juli lalu, dia melanjutkan, telah merusak wibawa Indonesia di mata dunia.

Untuk mencegahnya, kata Darpito, mengutip pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam konferensi jarak jauh pada 30 Juli lalu, diperlukan peningkatan kinerja aparat kewilayahan. "Maka peran babinsa sebagai unit terdalam sangat penting," ujarnya.

TEMPO Interaktif

Perbatasan RI-Papua Nugini Masih Ditutup

Gerbang perbatasan RI-PNG. (Foto: matanews)

4 Agustus 2009, Jakarta, -- Mabes TNI menyatakan, perbatasan RI-Papua Nugini hingga kini masih ditutup menyusul berbagai aksi penembakan di area PT Freeport Indonesia, di Timika, Papua.

Juru bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan, hingga kini kedua negara sepakat untuk tetap menutup pintu perbatasan RI-Papua Nugini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait insiden di area PT Freeport Indonesia.

"Penutupan itu untuk mengantisipasi dampak insiden tersebut, termasuk kemungkinan adanya kepentingan asing terhadap insiden itu," katanya.

Penutupan perbatasan RI-Papua Nugini berlangsung sejak pelaksanaan Pilpres 2009, mengingat banyak insiden pula yang berlangsung menjelang dan setelah pemilu presiden.

Sementara rangkaian gangguan keamanan di Freeport dimulai saat pembakaran bus karyawan dan pos keamanan perusahaan di Mile 71 pada 8 Juli dini hari.

Tiga hari kemudian terjadi penembakan di Mile 53 yang menewaskan Drew Nicholas Grant (38), pekerja Freeport asal Australia.

Esok harinya, petugas satuan keamanan (sekuriti) Freeport, Markus Rante Allo, juga tewas ditembak di Mile 51. Peristiwa terakhir, 13 Juli, jenazah provos Polda Papua, Brigadir Dua Marson Fredy Pettipelohi, ditemukan dengan luka parah di bagian leher di Mile 64.

Sagom menegaskan, semua insiden tersebut kini tengah diselidiki dan ditangani oleh aparat keamanan gabungan TNI/Polri. "Bahkan kami TNI/Polri juga terus melakukan patroli siaga di daerah-daerah rawan seperti Timika, agar situasi keamanan di Papua tetap kondusif," ujarnya.

ANTARA News

Tujuh Kapal Perang Terus Pantau Ambalat

Kapal patroli cepat TNI AL KRI Badik 623. (Foto: dispenal)

4 Agustus 2009, Balikpapan -- Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut mengerahkan tujuh Kapal Republik Indonesia (KRI) untuk pengamanan serta patroli di blok Ambalat, Tarakan, Kalimantan Timur. Keberadaan kapal perang Indonesia untuk menjaga kedaulatan di kawasan perbatasan dengan negara Malaysia.
"Ada 7 KRI patroli tiap hari," kata Komandan Gugus Tempur Timur TNI AL, Laksamana Pertama RM Harahap, Senin (3/8).

Harahap mengatakan, armada TNI AL tersebut terdiri KRI Sultan Iskandar Muda, KRI Badik, KRI Kerapu, KRI Kakap, KRI Tulo Rimo, KRI Tedung Selar dan KRI Tedung Naga. Kapal perang ini bertugas mengawasi daerah perbatasan Malaysia serta patroli perairan Sulawesi.

Hasil patroli rutin tersebut, kata Harahap, berhasil meniadakan pelanggaran kapal-kapal perang Malaysia di kawasan blok Ambalat. Sekitar tiga bulan terakhir ini tidak ada lagi pelanggaran batas wilayah perairan Indonesia oleh kapal asing. "Sudah tidak ada pelanggaran perbatasan," ungkap Harapap.

Sejumlah KRI ini, kata Harahap, tergabung dalam Armada Laut Timur Indonesia yang berpusat di Makassar, Sulawesi Selatan. Pangkalan AL Balikpapan, menurutnya jadi pendukung pengadaan logistik serta bahan bakar.

TEMPO Interaktif

Kapal Selam Nuklir Yury Dolgoruky Uji Pelayaran 5 - 6 Kali Sebelum Bertugas di AL Rusia


3 Agustus 2009 -- Kapal selam strategis bertenaga nuklir terbaru kelas Borey Yury Dolgoruky akan melakukan uji pelayaran sekurang-kurangnya lima atau enam kali sebelum bertugas di Angkatan Laut Rusia.

Yury Dolgoruky sukses melakukan uji pelayaran pertama di Laut Putih, Jumat (10/7).

Dua kapal selam kelas Borey Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh sedang dibangun di galangan kapal Sevmash, diharapkan selesai 2009 dan 2011. Pemerintah Rusia merencanakan membangun 8 kapal selam kelas Borey hingga 2015. Menurut pejabat di AL Rusia, kapal selam bertenaga nuklir generasi ke-4 kelas Borey akan menjadi kekuatan utama kapal selam strategis armada Rusia, akan dioperasikan Armada Utara dan Pasifik Rusia.

Borey akan dipersenjatai rudal balistik Bulava, hal ini menimbulkan keraguan kapal selam kelas Borey segera bertugas di AL Rusia. Karena rudal Bulava mengalami kegagalan sebanyak 6 kali dari 11 kali uji coba penembakan. Mendorong ketua pengembangan rudal Bulava mengundurkan diri pada bulan kemarin.

Biaya konstruksi kapal selam senilai 23 milyar rubel (713 juta dolar), termasuk biaya riset dan pengembangan 9 milyar rubel (280 juta dolar).

Panjang kapal selam 170 meter, diameter 13 meter, jumlah awak 107 orang termasuk 55 perwira, maksimum menyelam 450 meter dengan kecepatan saat menyelam 29 knot, mampu membawa 16 rudal balistik dan torpedo.

RIA Novosti/@beritahankam

Monday, August 3, 2009

Dankobangdikal : Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Ancaman Teror Bom


3 Agustus 2009, Surabaya -- Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Dankobangdikal) Laksda TNI Sumartono mengucapkan terima kasih kepada seluruh Prajurit Kobangdikal baik antap maupun siswa karena mampu menjaga sikap netralitas TNI pada pemilihan presiden bulan lalu sehingga pemilu terlaksana dengan aman , tertib dan lancar.

Hal tersebut diungkapkan Dankobangdikal dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Wadan Kobangdikal Brigjen TNI Arif Suherman dihadapan seluruh anggota Kobangdikal, Surabaya, Senin (3/8).

Menyikapi perkembangan situasi pasca teror bom di ibukota Jakarta beberapa waktu lalu, Komandan Kobangdikal meminta seluruh anggotanya untuk meningktkan kewaspadaan agar terhindar dari ancaman bom. “Tingkatkan pengamanan obyek vital, alut sista, gudang amonisi dan fasilitas lainnya serta hidupkan sistem intelijen dengan melaksanakan deteksi dan cegah dini serta monitor setiap kegiatan yang berada di lingkungan ksatrian Kobangdikal,” ujar Dankobangdikal.

Pada kesempatan itu, Wadan Kobangdikal melepas Tim Musik Harmoni dan Tim Penyelam Kobangdikal untuk ikut menyukseskan perhelatan kelautan bertaraf internasional “Sail Bunaken 2009” yang akan dilaksanakan pada 11-19 Agustus 2009 di Manado, Sulut.

Dalam kegiatan tersebut, akan ditampilkan parade kapal perang dari berbagai negara (Internasional Fleet Riview) serta Selam Massal. Pelaksanaan selam massal yang diikuti 1.500 penyelam dikemas dalam suatu upacara bendera di dalam air dalam rangka memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI.

Selam massal ini juga sekaligus sebagai upaya memecahkan rekor dunia “Guinness Book of The World record”. Selama ini rekor dunia selam masih dipegang Maladewa dengan diikuti oleh 900 penyelam pada awal 2009 lalu.

Kegiatan yang digagas TNI AL ini, memiliki makna yang sangat strategis antara lain menggugah semangat dan kesadaran pentingnya membangun kekuatan maritim yang mampu menjaga kepentingan nasional dan internasional, memupuk jiwa dan semangat bahari bangsa Indonesia.

Sedangkan para peserta dari luar negeri, akan mengenal keindahan dan kekayaan laut Indonesia, sehingga akan meningkatkan pemahaman terhadap dunia pariwisata Indonesia, khususnya wisata bahari.

PENKOBANGDIKAL

HTMS Phutthaloetla Naphalai (F 462) Frigate AL Thailand Peserta Sail Bunaken

HTMS Phutthaloetla Naphalai (F 462). (Foto: navsource.org)

AL Thailand mengirimkan dua frigate untuk mengikuti SAIL BUNAKEN 2009 di Manado, salah satunya HTMS Phutthaloetla Naphalai (F 462).

HTMS Phutthaloetla Naphalai merupakan eks USS Ouellet (DE-1077) frigate kelas Knox AL Amerika Serikat. USS Ouellet dibangun di galangan kapal Avondale Marine, Avondale, Louisiana pada 15 Januari 1969, diluncurkan 17 Januari 1970 dan mulai bertugas di AL AS 20 Desember 1970. Setelah bertugas 23 tahun USS Ouellet dipensiunkan pada 6 Agustus 1993 dan dikeluarkan dari aset AL AS pada 11 Januari 1995.

USS Ouellet (DE-1077). (Foto: navsource.org)

HTMS Phutthaloetla Naphalai sedang melakukan latihan militer Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) 2008 di Teluk Thailand dengan AL AS. (Foto: navsource.org)

Helikopter mendarat di HTMS Phutthaloetla Naphalai.

Pemerintah Thailand membeli USS Ouetllet dan membaptisnya menjadi HTMS Phutthaloetla Naphalai pada 27 November 1996. Setelah diremajakan di galangan kapal Cascade General, Portland, Oregon menelan biaya 14 juta dolar, frigate tiba di Thailand November 1998.

Cascade General melakukan perbaikan pada boiler, pompa, sistem propulasi, stabalisator, ruder, peningkatan sistem elektronik dan peralatan.

Data Teknis

Meriam kaliber 5”/54 Mk 42 di HTMS Phutthaloetla Naphalai menyalak saat latihan perang.

Berat: 4250 (penuh)
Kecepatan: maksimal 27 knot, pelayaran 16 Knot
Jarak jelajah: 4500 nm
Persenjataan:
1 meriam kaliber 5”/54 Mk 42
1 CIWS Phalanx 20 mm
8 cell ASROC (16 ASROC atau 12 ASROC + 4 Harpoon)
4 tabung torpedo 324 mm Mk 32
4 torpedo Mk 46
Helikopter: 1

navsource.org/@beritahankam

Anggaran Dephan 2010 Rp 40,7 Triliun

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Ketua DPR Agung Laksono, bersiap memasuki ruangan saat menghadiri Rapat Paripurna Luar Biasa penyampaikan pengantar/keterangan pemerintah atas RAPBN 2010 beserta nota keuangannya, di gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/hp/09)

3 Agustus 2009, Jakarta -- Anggaran Departemen Pertahanan pada 2010 sebesar Rp 40,7 riliun. Anggaran itu ditujukan untuk menjaga kedaulatan negara dan memeprtahankan keutuhan wilayah NKRI.

Dalam Pidato Presiden mengenai Penyampaian Pengantar Pemerintah atas RUU tentang APBN 2010 dan nota keuangan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan anggaran pertahanan itu juga untuk pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Anggaran untuk Kepolisian Negara RI sebesar Rp 25,8 triliun pada 2010.

Sementara untuk anggaran Departemen Pekerjaan Umum sebesar Rp 34,3 triliun, dan anggaran Departemen Perhubungan sebesar Rp 16 triliun.

Anggaran tersebut diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur yang berkualitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Anggaran Departemen Kesehatan Rp 20,8 triliun pada 2010 ditujukan untuk peningkatan kualitas dan perluasan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat.

Menhan: Kenaikan Anggaran Harus Digunakan Secermat Mungkin


Suasana saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraan tentang RAPBN 2010 serta Nota Keuangan saat Rapat Paripurna DPR Luar Biasa di gedung DPR, Jakarta, Senin (3/8). (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/mes/09)

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menegaskan, kenaikan anggaran pertahanan pada APBN 2010 sebesar Rp40,7 triliun harus digunakan secermat, seefisien dan seefektif mungkin sehingga dapat benar-benar meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan aparat pertahanan negara.

"Departemen Pertahanan komit untuk cermat, hemat dan tepat dalam mengelola anggaran yang dialokasikan pemerintah sehingga dapat memberikan peningkatan layanan publik dalam bidang pertahanan negara," katanya, kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Dihubungi sesaat sebelum mengikuti Rapat Paripurna Luar Biasa DPR tentang Keterangan Pemerintah Tentang RAPBN 2010, ia mengatakan, kenaikan anggaran itu harus disikapi sebagai tantangan untuk dapat mengelola anggaran seefektif dan seefisien tidak saja untuk menyiapkan kesiapan alat utama sistem senjata tetapi juga personel aparat pertahanan.

Juwono mengatakan, kenaikan anggaran pertahanan pada 2010 masih akan difokuskan pada perawatan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata yang telah ada dan pembelian sebagian suku cadang alat utama sistem senjata yang telah lama tidak dapat terbeli pada anggaran sebelumnya.

Pada 2010 pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan dan keamanan masing-masing Departemen Pertahanan sebesar Rp40,7 triliun dan Kepolisian Republik Indonesia sebesar Rp25,8 triliun.

Selain itu, pada alokasi anggaran pada 2010 juga direncanakan untuk belanja pegawai, subsidi, pembayaran utang dan belanja barang. Pada pemerintah pada RAPBN 2010 alokasi anggaran belanja pegawai direncanakan mencapai Rp161,7 triliun atau naik sekitar 21 persen dari sebelumnya Rp28 triliun.

Kenaikan anggaran belanja pegawai bertujuan memperbaiki kinerja birokrasi dan peningkatan layanan publik seperti kenaikan gaji pokok dan pensiun pokok rata-rata lima persen, pemberian gaji dan pensiun bulan ke-13 serta kenaikan uang lauk/pauk TNI/Polri dari Rp35 ribu per hari menjadi Rp40 ribu per hari dan uang makan PNS dari Rp15 ribu menjadi Rp20 ribu per hari.

VIVANEWS/ANTARA News

Latihan Koopsau II “Sikatan Daya 2009” Berlangsung di Balikpapan, Kaltim


3 Agustus 2009, Balikpapan -- Latihan Sikatan Daya 2009 merupakan latihan gabungan di jajaran Koopsau II. Latihan ini melibatkan unsur tempur, unsur angkut, unsur hely, unsur intai, dan unsur. Latihan Sikatan Daya 2009 dilaksanakan di Kalimantan Timur dengan Lanud Balikpapan sebagai unsurelanud. Base Ops Lanud Balikpapan adalah pusat latihan ini dengan daerah sasaran adalah wilayah Sangatta Utara.

Latihan Sikatan Daya dikombinasikan dengan Latihan Trisula Perkasa Korps Paskhas 2009 dengan penerjunan awal oleh Tim Bravo Paskhas yang terjun pada 2 Agustus dini hari (04.00 wita) sebanyak 10 orang. Penerjunan Team Bravo merupakan penerjunan awal kemudian dilanjutkan dengan penerjunan team Dalpur berjumlah 12 orang yang terjun pada pukul 20.00 wita.

Team Dalpur akan mempersiapkan Koordinat pemboman untuk melumpuhkan musuh. Kordinat tersebut akan menjadi sasaran Sukhoi, F16, dan F5 yang akan dilaksanakan besok disusul penerjunann 210 team satuan tempur.

Hari ini (3/8) Pangkoopsau II, Marda TNI Yusan Sayuti beserta Danlanud Balikpapan dan rombongan bertolak ke Sangatta Utara untuk melihat langsung penerjunan.

Latihan Antar Satuan Jalak Sakti di Koopsau Dibuka


Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat, S.IP menyematkan tanda peserta Latihan kepada masing-masing perwakilan Komando Latihan dan Peserta padar Upacara Pembukaan Latihan Antar Satuan Jalak Sakti di Lapangan Apel Makoopsau I, Senin (3/8).

Latihan Antar Satuan Jalak Sakti tahun 2009 yang melibatkan pelaku berjumlah 130 peserta terdiri dari perwakilan masing-masing Lanud di bawah jajaran Koopsau I yakni Lanud Halim Perdanakusuma (29 personel), Lanud Pekanbaru (20), Lanud Atang Sendjaja Bogor (20), Lanud Supadio Pontianak (20), Lanud Tanjung Pinang (15) dan unsur Paskhas (35) di buka Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat, S.IP di Lapangan Apel Makoopsau I, Senin (3/8).

Bertindak Selaku Komandan Upacara Letnan Kolonel Penerbang I Putu Gede Suartika. Sedangkan Upacara pembukaan ditandai dengan penyematan tanda latihan dari Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat kepada masing-masing perwakilan peserta dan komando latihan.

Latihan ini bertujuan menguji/menyempurnakan Rencana Operasi dan kesiapan operasional Koopsau I beserta satuan jajarannya dalam sistem pencegahan, penangkalan dan penindakan terhadap segala bentuk ancaman yang mungkin terjadi di Wilayah Koopsau I, serta dilaksanakan hingga tanggal 6 Agustus 2009.

Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Imam Sufaat dalam sambutannya mengatakan latihan Antar Jalak Sakti ini sangatlah penting bagi kita karena untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman yang terjadi, di wilayah tanggung jawab Koopsau I, yang diperkirakan sebagai daerah antara untuk menjangkau wilayah lainnya. Begitu juga untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapan operasional satuan-satuan jajaran Koopsau I, serta untuk meningkatkan kemampuan Koopsau I dan Lanud-Lanud jajaran, serta unsur-unsurnya, dalam hubungan Komando dan Staf, terutama di dalam membuat perencanaan, dan pengendalian operasi.

Labih lanjut Pangkoopsau I berharap agar tahapan-tahapan dalam latihan, supaya dilaksanakan dengan teratur, bahkan skenario latihanpun diharapkan mirip seperti kondisi sesungguhnya. Untuk itu semua unsur yang terlibat di dalam latihan seperti Wasdal, Penilai, pelaku serta pendukung hendaklah bisa mengerti, memahami betul, hal apa yang harus dilaksanakan, pada saat latihan berlangsung, sehingga sasarannya bisa dicapai secara optimal.

Pelajaran yang akan dikembangkan dalam latihan ini yaitu mekanisme/prosedur hubungan Komando dan Staf serta unsur-unsur dalam proses perencanaan operasi yang disesuaikan dengan rencana kontinjensi. Sistem kerjasama taktis dan teknis antar Satuan/Komando serta sistem dukungan Komunikasi dan elektronika secara terpadu untuk kelancaran operasi.

Hadir dalam acara tersebut Komandan Lanud Atang Sendjaja Marsekal Pertama TNI Bambang Margono serta Para Pejabat Jajaran Koopsau I.

PENTAK LANUD BALIKPAPAN/PEN KOOPSAU I

Tim Dalpur Paskhas Mendarat Mulus


3 Agustus 2009, Sangatta Utara -- Dua tim penerjun dalam latihan Trisula Perkasa Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) telah mendarat di dropping zone Jalan Sokarno Hatta, Sangatta Utara. Tim pertama adalah 10 penerjun Bravo, dan disusul 13 penerjun Tim Pengendali Tempur (Dalpur).

Tim Bravo terjun Minggu (2/8) dinihari jam 04.00 Wita. Pesawat Cassa dari Bandara Sepinggan benar-benar tepat waktu mengudara di atas koordinat. Kondisi yang gelap membuat Cassa yang terbang 6.000 kaki terdengar samar dan hanya terlihat lampunya.

Tak lama kemudian, seluruh anggota tim terjun dengan pola terjun bebas atau teknik membuka parasut setelah beberapa saat melayang di udara. Sepuluh penerjun tersebut tersebar di beberapa titik pendaratan. Penerjun pertama mendarat setelah 5 menit terjun dari pesawat.

Kepala Penerangan Korpaskhas, Letkol Ahmad Nairiza, mengatakan idealnya memang seluruh anggota Dalpur mendarat di satu koordinat. Namun penyebaran di beberapa titik memang kerap terjadi karena faktor alam, terutama angin.

"Yang penting mereka bisa segera berkumpul di Titik Berkumpul (TB). Mereka harus mencari data tentang situasi daerah untuk membuat drooping zone untuk Dalpur," katanya.

Sementara itu, penerjunan Tim Dalpur berjalan lebih mulus. Tepat pukul 20.00 Wita, pesawat Cassa dari Bandara Sepinggan menerjunkan 13 anggota tim Dalpur. Berbeda dengan Bravo, Dalpur membentuk formasi ular-ularan. "Mereka membentuk formasi ular-ularan dengan membuka parasut pada ketinggian berbeda. Mereka juga langsung mengikuti komandan tim saat mendarat," kata Nairiza.

Tim Dalpur memang mendarat mulus. Hampir seluruh penerjun memasuki zona koordinat. Hanya ada satu penerjun yang mendarat di tengah pembatas jalan dan seorang lain di tepi jalan Soekarno Hatta, yang menjadi batas luar zona pendaratan. Selebihnya mendarat di tanah datar di sekitar titik koordinat.

Selepas mendarat, seluruh anggota tim langsung berkumpul di titik koordinat untuk menyusun rencana lanjutan. Mereka bertugas untuk memetakan medan, cuaca, dan kondisi. Utamanya, menentukan koordinat untuk pemboman, juga pendaratan satuan tempur.

Nairiza mengatakan, seluruh anggota tim Dalpur akan mempersiapkan koordinat pemboman untuk melumpuhkan musuh sesuai dengan pemetaan kekuatan musuh. "Koordinat tersebut akan menjadi sasaran Sukhoi, F16, dan F5 Tiger," katanya.

Untuk pemboman, Sukhoi akan melepaskan satu bom. Sedangkan F16 dan F5 Tiger masing-masing membawa 10 roket dengan 5 buah di side winder-nya. Proses pemboman akan dilaksanakan di Jalan Pendidikan, di sekitar Bukit Pelangi.

Serangan puncak, Selasa (4/8) besok, akan dilakukan oleh F5 Tiger, F16, dan Sukhoi. Untuk koordinat sasaran tembak, Sukhoi akan menembak 00 30 03.7 North dan 117 35 51.2 East. F5 Tiger menembak 00 30 17.4 North dan 117 35 48 East, serta F16 menembak 00 30 09.5 North dan 117 35 40.9 East.

"Selepas dilakukan peledakan akan diterjunkan 210 anggota Tim Satuan Tempur," kata Nairiza.

Rangkaian kegiatan puncak latihan terdiri dari penembakan pesawat, penerjunan satuan tempur Paskhas langsung dari Wing 2 Paskhas Malang, juga skenario penerbang yang bail out yang ditolong SAR Tempur. Acara ini dihadiri pula oleh Ass Ops KASAU TNI, Pangkoops AU 2, juga Komandan Korpspaskhas TNI AU.

TRIBUN KALTIM

Dua Kapal Perang AL Thailand Sandar di Pelabuhan Semayang

HTMS Phuttaloetla Naphalai eks USS Ouellet ditransfer oleh AL Amerika Serikat 27 November 1996. USS Ouellet merupakan frigate ke-26 dari kelas Knox, dipensiunkan oleh AL AS 6 Agustus 1993, dikeluarkan dari daftar AL AS 11 Januari 1995. AL Thailand mengakuisisi dua frigate kelas Knox dari AL AS, frigate kedua dibaptis dengan nama HTMS Phutthayotfa Chulaok eks USS Truett, merupakan frigate kelas Knox ke-44, dibeli 9 Desember 1999.

3 Agustus 2009, Balikpapan -- Dua armada kapal perang milik Royal Thai Navy (Angkatan Laut Thailand), pagi ini dijadwalkan merapat di Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Dua armada kapal yang mengangkut sekitar 500 personel itu, bakal ikut dalam kegiatan latihan pertempuran dan pertahanan laut dengan sandi operasi Sea Garuda 2008, yang digelar 4 Agustus hingga 8 Agustus mendatang di Balikpapan.

Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlanal) Balikpapan Letkol Laut (P) Retarto Setyo Warsongko menjelaskan, pagi ini rencananya digelar upacara penyambutan 2 kapal tersebut dengan upacara militer. “Senin pagi akan digelar upacara penyambutan secara militer. Sebagai inspektur upacaranya adalah Laksamana Pertama RM Harahap, selaku Komandan Guspurlatim,” terang Retarto kemarin sore.

Dalam latihan bersama tersebut, Royal Navy Thai akan membawa 2 armada kapal perang mereka, yakni HTMS Phuttaloetla Naphalai dan HTMS Ratanakosin. Sementara dari TNI Angkata Laut yang diperkuat 250 personel, akan menurunkan 2 kapal perang, masing-masing KRI Slamet Riyadi dan KRI Fatahillah.

CIWS di HTMS Phuttaloetla Naphalai sedang beraksi dalam suatu latihan militer.

HTMS Ratanakosin.

“Untuk jajaran TNI AL, yang bertindak sebagai komandan satgasnya Kolonel Dadi Hartanto. Dalam latihan ini materi latihannya terdiri dari sea warfare, SAR, dan penanganan terorisme di perairan. Untuk sea warfare ini akan digelar sampai tanggal 8 Agustus. Dilanjutkan dengan sea exercise pada tanggal 8 Agustus ke Manado,” jelas Retarto.

Disinggung tentang lokasi latihan yang ada di Perairan Balikpapan, Retarto menjelaskan lantaran Perairan Balikpapan dinilai memiliki lokasi yang cukup vital dalam jalur alur pelayaran internasional. “Jalur perairan Balikpapan ini lokasinya juga sangat strategis. Termasuk untuk jalur pelayaran internasional, seperti ke Thailand,” tegas mantan Komandan KRI Yos Sudarso itu.

KALTIM POST

Panser Itu Gagasan Jusuf Kalla...

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengunjungi PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/8/08). JK meninjau cara pembuatan panser di perusahaan pembuat alat-alat militer itu. (Foto: detikFoto/Gunawan Mashar)

3 Agustus 2009, Jakarta -- Panser buatan PT Pindad itu yang merancang, memiliki gagasan awal, dan pelaksanaan pembuatannya siapa lagi kalau bukan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Dua tahun silam pembuatan dimulai.

Sejak Kamis dua pekan lalu, panser yang pernah digagas dan dilaksanakan pembiayaannya dengan tanda tangannya sebagai penjamin kredit akhirnya berjalan. Dan, kini, sebagian kecil gagasannya itu ”kembali” juga ke tangannya.

Sabtu (1/8) siang, Wapres Kalla ditemani dua cucunya, Omar Rasheed dan Siti Fatiyah, resmi melihat ”kembali”-nya dua dari empat panser jenis angkut personel ringan (APR) yang diberi nama Anoa 6x6 buatan BUMN strategis. Panser tersebut disimpan di barak Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di ujung jalan dekat rumah dinas Wapres Kalla di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Empat panser itu merupakan pengganti dari empat panser yang dianggap sudah terlalu tua untuk digunakan oleh Grup B Paspampres untuk menjaga keamanan very very important person (VVIP) itu. Selain dikirim ke Grup B Paspampres, sejumlah panser yang sama juga dikirim untuk menjaga keamanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Bogor, dan Kompleks Istana Kepresidenan dan Sekretariat Negara, Jakarta.

Asal tahu saja, empat panser itu merupakan bagian dari 40 panser yang belum lama ini diserahterimakan dari PT Pindad kepada pemerintah, yang langsung dihadiri oleh Presiden Yudhoyono sendiri selaku kepala pemerintahan.

”Kembali” ke tangan Wapres Kalla? Ya. Setelah digagas pembuatannya dan direkomendasikan cara pembiayaannya dengan jaminannya di atas secarik kertas rancangan gambar panser pada Desember 2007, panser itu kemudian dikerjakan PT Pindad.

Dalam tempo tak lama, 25 panser diselesaikan dan langsung diikutsertakan di acara gelar pasukan pada Hari Ulang Tahun TNI. Saat acara peresmian dan serah terima 40 panser lainnya yang selesai dikerjakan, peresmiannya dilakukan oleh Presiden Yudhoyono.

”Tidak apa-apa, silakan saja diserahterimakan dari Pindad ke Presiden. Akan tetapi, Presiden harus menjelaskan proses dan sejarah panser tersebut,” ujar Wapres Kalla saat di perjalanan akhir kampanyenya sebagai calon presiden dalam penerbangan dari Surabaya ke Jakarta, Minggu, 5 Juli.

Dalam acara peresmian, Presiden Yudhoyono banyak bicara mengenai pengembangan produksi dalam negeri untuk alat utama sistem persenjataan. Setelah berpidato, Presiden Yudhoyono menyempatkan meninjau dan mencoba masuk ke panser dan berjalan.

Wapres Kalla saat melihat panser ”gagasan”-nya itu tampak santai. Menggunakan kaus dan sandal kulit, dengan antusias Wapres menyentuh panser dengan bangga sembari mengaguminya. Ia tak bisa menahan ketika sang cucu ikut-ikutan bersamanya naik ke atas panser dan masuk ikut duduk ke dalam panser.

Dengan senyum ceria karena akhirnya panser gagasannya itu bisa dinikmatinya.

KOMPAS

Sunday, August 2, 2009

Simulasi TNI Serbu Sarang Teroris


30 Juli 2009, Bogor -- Pasukan elite Unit Pengintaian Tempur Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) menggelar simulasi latihan penanggulangan terorisme. Dalam simulasi yang digelar Kamis (30/7) dinihari, tim menggerebek markas anggota teroris yang ada di Kota Bogor, Jawa Barat.

Puluhan personel pasukan yang bersenjata laras panjang, penutup kepala, dan pakaian serba hitam langsung mendobrak rumah di Tanah Sereal, Bogor, yang diduga ditempati anak buah Noordin Mohammad Top. Identitas penghuni rumah diketahui para teroris berdasarkan laporan intelijen.

Usai mendobrak pintu, baku tembak pun tak terhindarkan. Satu demi satu ruangan digeledah. Dalam waktu singkat, pasukan elite Kostrad ini berhasil melumpuhkan delapan anggota kelompok teroris dalam keadaan tewas. Pihak TNI mengaku selalu siap tempur untuk mengamankan negara dari aksi teror.

Liputan6.com

Panser Pindad Diminati Nepal dan Malaysia

Wapres Jusuf Kalla berdialog dengan anggota TNI yang mengoperasikan Panser Anoa. Kendaraan tempur ini diperlihatkan kepada Wapres, Jakarta, Sabtu (1/8) di kediaman dinasnya. (Foto: Jawa Pos/Raka Denny)

2 Agustus 2009, Jakarta -- Panser produksi Pindad ternyata diminati negara-negara tetangga. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, sejumlah negara telah mengirim proposal untuk membeli panser buatan Bandung tersebut, diantaranya Nepal dan Malaysia.“Jadi panser ini bukan hanya digunakan untuk TNI, tapi juga akan diekspor,” ujar Jusuf Kalla ketika mencoba dua panser 6x6 merek Anoa milik Paspampres yang kemarin mulai menjaga kediaman dinas wakil presiden.Kalla mengatakan, panser tersebut diminati karena harganya lebih murah, namun kemampuannya sama dengan panser buatan Prancis. Dibandingkan panser VAB bermesin Renault buatan Prancis yang harganya USD 1,3 juta (sekitar Rp 15 miliar) per unit, panser Anoa seseparuh lebih murah, hanya Rp 7 miliar per unit. Namun, kemampuan Anoa sama persis dengan VAB, karena juga menggunakan mesin Renault, meski badannya sepenuhnya menggunakan baja produksi dalam negeri.

Kalla mengatakan, panser 6x6 yang dipajang di kediaman dinasnya kemarin dipesan khusus untuk pasukan komando. Selain untuk pengamanan, panser tersebut juga bisa digunakan untuk penyelamatan VVIP seperti wapres dan keluarganya. “Biasanya Paspampres gunakan panser (produksi) 1950-an, tak heran sering mogok. Maka diganti dengan yang ini. Di kediaman RI 1 dan RI 2 ada dua unit panser komando ini,” terang JK.Dua unit panser yang dipajang di kediaman JK kemarin adalah bagian dari 150 unit panser komando dan empat panser intai yang dipesan Departemen Pertahanan ke Pindad. Kontraknya senilai Rp 1,127 triliun. Tahun 2008 sudah didistribusikan 20 panser diantaranya ke Bali, Sidoarjo, Bandung , dan Bekasi. Sisanya dibagi ke dalam empat distribusi yakni Juni, Oktober dan Desember 2009.Karena keterbatasan produksi, Pindad belum mampu memenuhi permintaan 20 panser dari Nepal dan Malaysia. Saat ini, Pindad baru bisa memproduksi 16 unit panser per bulan.

PONTIANAK POST

Nelayan Malaysia Sering Curi Ikan

Kapal Patroli Cepat PC-40 KRI Tarihu-829 buatan Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI Angkatan Laut Mentigi. (Foto: dispenal)

2 Agustus 2009, Paloh -- Kapal-kapal nelayan Malaysia hampir setiap hari melanggar batas wilayah perairan Indonesia di Laut Natuna, tepatnya di sebelah barat pantai Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Mereka menangkap ikan menggunakan alat pukat harimau.

”Sedikitnya ada empat kapal nelayan berbendera Malaysia masuk sejauh 4 mil ke selatan dari batas di Gosong Niger. Mereka menggunakan dua kapal berdampingan dan menyapu menggunakan trawl (pukat harimau),” kata Komandan Satuan Perintis Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan Desa Temajuk, Brigadir Satu Sari Wahyono, Sabtu (1/8).

Asep (36), nelayan setempat, mengatakan, kapal nelayan Malaysia yang masuk ke perairan Indonesia rata-rata berbobot 12 grosston. Kapal biasanya dilengkapi radar yang bisa mendeteksi keberadaan kapal lain, termasuk kapal patroli. ”Kalau ada kapal patroli dari Indonesia maupun Malaysia, mereka tidak berani masuk ke wilayah kita,” katanya.

Kapal nelayan Malaysia itu dilengkapi sonar untuk mengetahui kedalaman dan keberadaan ikan. Mereka juga memiliki radio komunikasi sehingga bisa saling memperingatkan jika ada kapal patroli. Hal ini diketahui Asep dari nelayan Indonesia yang pernah bekerja di kapal Malaysia.

Komandan Batalyon Lintas Batas di Pos Temajuk Letnan Dua Infanteri Jaja Jamaldin dan anggota Keamanan Laut dari TNI AL di Pos Temajuk menyatakan, patroli belum pernah memergoki kapal Malaysia yang memasuki perbatasan dan mencuri ikan.

”Memang ada kapal nelayan berbendera Malaysia terpantau radar masuk sekitar 1 kilometer, tetapi mereka kembali ke wilayah Malaysia dan tidak menangkap ikan,” katanya.

Kekayaan sumber daya kelautan Indonesia di lokasi itu potensial karena masih banyak terumbu karang dalam kondisi baik. Ikan, udang, dan ubur-ubur cukup berlimpah.

Di sisi lain, armada patroli pengamanan sangat terbatas. Menurut Jaja, pihaknya hanya memiliki satu kapal cepat (speedboat). ”Patroli menggunakan speedboat tidak terlalu sering dan tidak bisa menjangkau lebih dari 7 mil dari pantai. Untuk menyiasati, kami sering berpatroli dengan menumpang kapal nelayan,” katanya.

Keterbatasan petugas membuat frekuensi patroli di perairan menggunakan speedboat hanya 1-2 kali dalam sebulan.

KOMPAS