Saturday, March 19, 2011

Latihan Evakuasi di ARF DiREx

17 Maret 2011, Manado -- (ANTARA News): Sebuah helikopter mengangkut korban bencana untuk dirawat di kapal rumah sakit Dr. Soeharso milik TNI AL di Teluk Manado, Sulut dalam rangkaian Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise, Jumat (18/3). Latihan yang dilakukan meliputi operasi pencarian dan penyelamatan korban bencana dengan berbagai operasi baik darat laut maupun udara. (Foto: ANTARA/HO-Fouri Gesang/ss/pd/11)

Petugas medis dari KRI dr. Suharso 990 berusaha melakukan pertolongan perawatan medis bagi korban yang ditemukan oleh kapal Search And Rescue di Teluk Manado, Sulawesi Utara pada Rabu (16/03). Kegiatan ini merupakan Simulasi latihan penanggulangan bencana ARF DiREx 2011 yang diikuti oleh 26 negara. (Foto ANTARA Sulut/Sartono/Dispen Lantamal VIII/Roel/10)

Sejumlah petugas membawa korban yang terluka dan akan diterbangkan ke rumah sakit rujukan menggunakan Helly Chinook CH 47SD milik Singapura helikopter saat latihan bersama penanggulangan bencana alam, ARf Direx Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF- Direx) di Kecamatan Wori Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Rabu (16/3). Latihan penaggulangan bencana yang melibatkan sejumlah negara untuk meningkatkan koordinasi antar instansi dan antar negara dalam penaggulangan bencana. (Foto: ANTARA Sulut/ Basrul Haq/11)

Indonesia Akan Produksi 1.000 Roket

(Foto: Berita HanKam)

17 Maret 2011, Jakarta -- (ANTARA News): Pemerintah Indonesia berencana memproduksi seribu buah roket R122 untuk mendukung sistem pertahanan negara.

"Kerjasama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Balitbang. Kita sepakat membangun seribu roket," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Kamis.

Berbicara saat menjadi saksi penandatangan nota kesepahaman Kementerian Pertahanan dan BPPT, ia mengatakan, keputusan itu didasarkan hasil uji coba roket itu beberapa waktu lalu yang dinilai berhasil.

Roket R122, yang memiliki jarak jelajah sejauh 15 kilometer ini, menurut Purnomo, dapat digunakan sebagai amunisi arteleri, untuk "multiple louncher".

"Bisa kita pakai untuk multiple louncher. Cukup banyak. Bisa untuk senjata arteleri kita," katanya.

Purnomo menambahkan, proyek itu akan mulai dikerjakan pada 2012, dan selesai pada 2014. Selain pembangunan seribu roket, Pemerintah juga akan mengembangkan "remote pilot vehicle", dan "area vehicle", sebagai pendukung alusista pertahanan Indonesia.

Dengan kerja sama kajian dan pengembangan teknologi pertahanan antara Kementerian Pertahanan dan BPPT, dapat memacu pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri.

Sumber: ANTARA News

KRI Teluk Bayur-502 Dihapuskan dari Susunan Kekuatan TNI AL

Sejumlah prajurit TNI AL saat mengikuti upacara pelepasan KRI Teluk Bayur-502 di Dermaga Ujung Koarmatim, Surabaya, Jumat (18/3). Kapal perang jenis Landing Ship Tank (LST) buatan Amerika Serikat tahun 1942 dan memperkuat TNI Angkatan Laut sejak 17 Juni 1961 tersebut resmi mengakhiri pengabdian sebagai KRI sebagai unsur kekuatan TNI AL, ditandai dengan penurunan "ular-ular perang". (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/ss/pd/11)

19 Maret 2011, Jakarta -- (Harian Pelita): Berdasarkan efisiensi dan efektifitas, baik dari segi operasi maupun pemeliharaan dihadapkan dengan keterbatasan anggaran dan kondisi alutsista, Pimpinan TNI AL sudah mempertimbangkan secara matang mengakhiri masa bhakti KRI Teluk Bayur-502 dan dihapuskan dari susunan kekuatan TNI Angkatan Laut.

Demikian dikatakan Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan, MPA, MBA dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Komandan Satuan Lintas Laut Militer (Dansatlinlamil) Surabaya Kolonel Laut (P) Irwan Achmadi pada Upacara Penurunan Ular Ular Perang KRI Teluk Bayur-502 di Dermaga Ujung Surabaya, Jumat (18/3).

Berkaitan dengan selesai masa dinasnya di TNI AL, Pangkolinlamil menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan loyalitas personel dalam memelihara kesiapan KRI Teluk Bayur-502 sehingga mampu mencapai masa pengabdian sampai hari ini, dan menginstruksikan agar tetap memelihara disiplin, semangat, dan profesionalisme sebagai prajurit matra laut untuk melaksanakan tugas-tugas selanjutnya.

Menurut Kadispen Kolinlamil Letkol Laut (Kh) Drs Agus Cahyono, KRI Teluk Bayur-502 adalah kapal perang jenis Angkut Tank/Landing Ship Tank buatan Amerika Serikat pada tahun 1942. Memiliki spesifikasi panjang 99,89 meter dan lebar 15,25 meter. Saat masih aktif mampu menempuh kecepatan 8 knot memiliki dengan kemampuan angkut 17 tank di dek kapal dan pasukan sampai dengan 800 personel dengan perlengkapan lapangan.
Kapal perang ini memperkuat TNI AL pada tahun 1961 dan masuk jajaran Kolinlamil pada tahun 1975.

Sumber: Harian Pelita

KRI Frans Kaieisepo-368 Melaksanakan Firing Exercise

Menembak dengan senjata meriam adalah salah satu materi latihan yang dilaksanakan dalam Firing Exercise.

16 Maret 2011, Beirut --(Dispenarmatim): Selama melaksanakan tugas sebagai MIO (Maritime Interdiction Operation) Commander ke-10 dalam Satgas Maritime Task Force/UNIFIL berbagai latihan telah dilaksanakan baik dengan LAF-Navy (Lebanese Armed Force-Navy) maupun dengan unsur-unsur Maritime Task Force/UNIFIL lainya. Latihan tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan profesionalisme dan menjalin kerja sama unsur-unsur Maritime Task Force/UNIFIL serta melatih LAF-Navy dalam menjaga perairanya sendiri. Pada kesempatan kali ini dilaksanakan Serial latihan Towing Exercise dan Firing Exercise.

Pada serial pertama dilaksanakan Towing Eercise antara KRI Frans Kaisiepo-368 dengan BNS Madhumati P911. Towing Exercise merupakan latihan tunda-menunda kapal apabila salah satu unit MTF mengalami kerusakan dan mesin mati di tengah laut. Setiap kapal angkatan laut dituntut untuk mampu melaksanan towing terhadap kapal lain. Pada latihan Towing Exercise kali ini Frans Kaisiepo-368 disimulasikan sebagai kapal yang ditunda (Damaged Ship) sedangkan BNS Madhumati P911 sebagai kapal yang menunda (Towing Ship). Latihan ini tidak hanya bertujuan untuk melatih kecakapan personel kapal yang ditunda (Damaged Ship) tapi juga melatih personil kapal yang menunda (Towing Ship). Latihanini diperlukan kecakapan di bidang kebaharian (seamanship) yang meliputi tali temali, berita isyarat, dan prosedur tunda menunda.

Dalam pelaksanaan Towing Exercise memerlukan kecakapan personel dalam menyiapkan kapal yang ditunda (damaged ship) maupun kapal yang menunda (towing ship) dan mampu mengendalikan kapal (ship handling) serta manuver kapal yang baik ketika sedang melakukan approach (mendekat) ke kapal yang ditunda (damaged ship). Sarana komunikasi sangat membantu sekali dalam melaksanakan Towing Exercise ini.


Latihan yang dilaksanakan di Zone 1 center AMO (Area of Maritime Operation) pada tanggal 14 Maret 2011 pukul 15.00-16.00 LT tersebut semuanya secara teknis dilaksanakan dengan cepat aman dan berjalan lancar, dan mendapatkan apresiasi positif dari kedua komandan unsur Maritime Task Force/UNIFIL yaitu Letkol Laut (P) Wasis Priyono, ST dan CDR Afzalul Haque. Setelah selesai melaksanakan latihan unsur-unsur kapal tersebut kembali menempati sektor patroli masing-masing.

Selanjutnya pada tanggal 16 Maret 2011 pukul 08.00-10.00 LT KRI Frans Kaieisepo-368 melaksanakan Firing Exercise. Latihan mengambil lokasi penembakan di Zone latihan penembakan Barbara 2 laut Mediterraean. Sebelum latihan penembakan, dilakukan pengamanan sekitar area penembakan satu jam sebelumnya. Latihan yang diawali dengan “Peran Tempur Bahaya Permukaan”tersebut dikendalikan dengan Remote System dari CIC (Combat Information Center) dan menggunakan mode PAC (Pre-Action Caliberation) tersebut dipimpin oleh Kadiv PAA (Peperangan Atas Air) Kapten Laut (P) Fuad Hasan. Tujuan penggunaan PAC tersebut adalah untuk memberikan koreksi tembakan yang benar pada sistim senjata sebagai parameter untuk persiapan penembakan selanjutnya. Penembakan dilakukan dengan Meriam kaliber 76 jenis OSRG (Otomelara Super Rapid Gun) dengan 9 butir peluru dan Meriam kaliber 20 jenis Vector dengan 200 butir peluru tersebut berjalan lancar dan aman. Tujuan latihan penembakan Meriam kaliber 76 adalah untuk mengantisipasi peperangan permukaan (Anti Air Surface) dan peperangan udara (Anti Air Warfare) sedangkan tujuan penembakan Meriam kaliber 20 adalah untuk mengantisipasi bahaya udara dan ancaman Asymetric Warfare baik dari udara maupun permukaan.

Latihan ini untuk melengkapi serial latihan sebelumya yang telah dilaksananakan antara KRI Frans Kaisiepo-368 dengan unsur-unsur Maritime Task Force/UNIFIL lainya antara lain: RASEX, MANEX, PUBEX, TACEX, AASYWEX, CROSSDECK EXERCISE, FLASHEX, MEDEVAC.

Sumber: Dispenarmatim

TNI Berangkatkan Operasi Siaga Tempur Laut Arung Pari-11

Operasi Siaga Tempur Laut dengan sandi “Arung Pari-11” yang melibatkan kekuatan laut berupa 5 kapal perang, sebuah helikopter TNI AL jenis Bolkow, satu tim Komando Pasukan Katak, satu tim Intai Amfibi Marinir, satu tim Kesehatan, dan dua tim Repair diberangkatkan menuju medan tugas oleh Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah, Jumat (18/3) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Tampak Asisten Operasi Panglima TNI Mayor Jenderal TNI Hambali Hanafiah (tengah) diapit Pangarmabar Laksda TNI Hari Bowo (kiri) dan Asops Kasal Laksda TNI Slamet Yulistiono dengan latar belakang KRI Yos Sudarso-353 sesusai upacara pemberangkatan. (Foto : Dispenal)

18 Maret 2011, Jakarta -- (Dispenal): Operasi Siaga Tempur Laut dengan sandi “Arung Pari-11” yang melibatkan kekuatan laut berupa 5 kapal perang, sebuah helikopter TNI AL jenis Bolkow, satu tim Komando Pasukan Katak, satu tim Intai Amfibi Marinir, satu tim Kesehatan, dan dua tim Repair diberangkatkan menuju medan tugas oleh Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah, Jumat (18/3) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Operasi Siaga Tempur Laut dengan sandi “Arung Pari-11” adalah operasi siaga tempur laut, merupakan implementasi tugas operasi militer untuk perang (OMP) yang dilakukan oleh Komando Armada RI Kawasan Barat selaku Kotama Operasi TNI dengan tujuan menjaga kedaulatan Negara dan penegakkan hukum di laut.

Menurut Asops Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah kegiatan operasi ini akan berlangsung selama 180 hari (sekitar 6 bulan) dan terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia bagian Barat, terutama di daerah rawan strategis sebagai antisipasi dan dampak penangkalan dari berbagai kemungkinan ancaman yang timbul. Menurut Asops, dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di silang dua benua dan dua samudera memungkinkan memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap terjadinya pelanggaran kedaulatan negara dan hukum di laut. “Kerawanan dan pelanggaran tersebut seperti konflik perbatasan, pelanggaran wilayah, terorisme, sea robbery, illegal fishing, illegal trafficking dan kegiatan illegal lainnya,” kata Asops Panglima TNI.

Untuk itu, tambah Asops Panglima TNI, Operasi Siaga Tempur Laut dengan nama sandi “Arung Pari-11” yang dilaksanakan oleh unsur-unsur TNI AL merupakan tugas kehormatan yang memiliki makna strategis dalam rangka menjaga kepentingan dan kedaulatan Negara.

Pemberangkatan Operasi Siaga Tempur Laut yang dilaksanakan di Tanjung Priok Jakarta Utara digelar melalui upacara militer dengan inspektur upacara Asops Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah. Melatar belakangi pasukan upacara 5 kapal perang TNI AL yang akan berlayar dalam operasi tersebut. Kelima kapal perang TNI AL itu adalah KRI Yos Sudarso-353, KRI Teuku Umar-385, KRI Patiunus-384, KRI Lemadang-806, dan KRI Kalahitam-828.

Hadir pada upacara pemberangkatan Operasi Siaga Tempur Laut tersebut Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksda TNI Slamet Yulistiono, Panglima Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda TNI Hari Bowo, Kepala Staf (Kas) Armabar Laksma TNI Herry Setianegara, serta Kepala Staf Kolinlamil Laksma TNI INGN Aryatmaja.

Sumber: Dispenal

Thursday, March 17, 2011

Kolonel Marinir Suhartono Komandan Denjaka Baru


17 Maret 2011, Surabaya -- (Korps Marinir): Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M Alfan Baharudin melantik Kolonel Marinir Suhartono menggantikan Letkol Laut (E) Yudhi Bramantyo sebagai Komandan Detasemen Jalamangkara (Dandenjaka) di lapangan apel Kesatrian Arthur Solang, Mako Detasemen Jalamangkara, Cilandak Jakarta Selatan, Kamis (17/3)

Kolonel Marinir Suhartono sebelumnya menjabat sebagai Danlanal Biak Lantamal XI, sedangkan Letkol Laut (E) Yudhi Bramantyo akan menempati jabatan baru sebagai Danlanal Sanata Lantamal VI.

“Serah terima jabatan Komandan Detasemen Jalamangkara memiliki makna yang sangat penting dan strategis, karena disamping sebagai bagian dari kaderisasi kepemimpinan, pergantian jabatan Dandenjaka kali ini juga menjadi bagian dari sejarah dimana berdasarkan peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/77/X/2010 tentang persetujuan dan pengesahan peningkatan kepangkatan dalam jabatan di lingkungan Korps Marinir diputuskan Komandan Detasemen Jalamangkara berpangkat Kolonel”, ungkap Dankormar dalam sambutannya.

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI Mar. Alfan Baharuddin (tengah ) bersama Komandan Detasemen Jalamangkara (Denjaka) yang baru Kol (Mar) Suhartono (kanan) memeriksa senapan serbu HK416 usai serah terima jabatan di Bhumi marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (17/3). Denjaka merupakan kesatuan elit TNI AL khusus penindakan anti teror aspek laut. (Foto: ANTARA/SAPTONO/Spt/11)

Lebih lanjut Komandan Korps Marinir mengatakan serah terima jabatan juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas organisasi sehingga lebih efektif dalam pelaksanaan tugas pokoknya , disamping itu juga sebagai peluang dan tantangan untuk membangunreputasi dan prestasi, yaitu sejauh mana kepemimpinan dan kreativitas serta kemampuan konseptual yang dapat dikembangkan, dengan harapan dapat membawa manfaat bagi organisasi dalam rangka menyikapi fenomena perkembangan lingkungan strategis yang multi dimensional.

Pada kesempatan itu juga Dankormar menyampaikan ucapan selamat jalan dan terimakasih kepada Letkol Laut (E) Yudhi Bramantyo yang telah sanggup dan sukses dalam mengemban tugas, sedangkan bagi Kolonel Marinir Suhartono, Dankormar mengucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan yang diberikan oleh Korps Marinir dan TNI Angkatan Laut sebagai Komandan Detasemen Jalamangkara yang baru.

Hadir dalam kesempatan tersebut Danpasmar-2, Para Pejabat teras Korps Marinir, Dansat intel Bais TNI, Dansat-81/Gultor, Dandenbravo, Dandensus-88 Anti Teror Polri dan tamu undangan lainnya.

Sumber: Korps Marinir

PT DI Kembangkan Model Pesawat Mirip Twin Otter

Twin Otter Merpati. (Foto: matanews)

16 Maret 2011, Bandung -- (bisnis-jabar.com): PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengembangkan model pesawat berpenumpang 19 orang dengan nama N-219, mirip Twin Otter buatan Kanada atau Y-12 buatan China.

Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengemukakan pengembangan pesawat tersebut telah berjalan selama enam bulan terakhir dan diperkirakan rampung pengembangannya selama tiga tahun ke depan.

“Sama halnya dengan pengembangan CN-235 beberapa tahun lalu memakan waktu lima tahun,” katanya hari ini.

Model pesawat akan memakai dua unit mesin bertenaga 850 tenaga kuda yang kemungkinan diambil dari pabrikan Kanada.

Sebagian besar komponen pesawat, katanya, berasal dari dalam negeri yang mencapai 70% dari total komponen.

Andi belum merinci kebutuhan dana pengembangan dana tersebut. Tetapi, dia menyebutkan harga pesawat Y-12 seharga US$4,5 juta dan Twin Otter di atas US$5 juta.

“Kendala dalam pengembangan pesawat ini adalah pendanaan, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan dana untuk pengembangan itu,” katanya.

Sumber: Bisnis Jabar

17 Manuver Ekstrem Atraksi JAT

(Foto: ANTARA/ Wahyu Putro A/ed/ama/11)

17 Maret 2011, Sleman -- Enam unit pesawat jenis KT-1B Woong Bee buatan Korea Selatan menari-nari di langit Lanud Adisutjipto, Jogjakarta, kemarin (16/3). Pesawat latih milik TNI AU itu dioperasikan oleh enam pilot Jupiter Aerobatik Team (JAT). Aksi akrobatik itu ditunjukkan dalam rangka launching warna baru pesawat dari abu-abu diganti merah putih. Launching dilakukan oleh KSAU Marsekal Imam Sufaat. Sedikitnya 17 kali manuver ekstrem ditampilkan para pilot JAT yang dikomandoi Letkol Ramot Sinaga.

Manuver Jupiter Row cukup membangkitkan adrenalin saat enam pesawat berada pada ketinggian 200 meter di atas permukaan laut berputar 360 derajat. Selanjutnya membentuk manuver Aero Heat (segitiga) dengan pesawat leader berada di depan pesawat lain.

Pesawat lantas menanjak membentuk lintasan berupa lingkaran dengan bermanuver semivertikal membentuk gelombang longitudinal 90 derajat. Sepintas formasi membentuk seperti sehelai daun. Dilanjutkan manuver dengan pesawat leader berada di depan, diikuti 5 pesawat pendukung yang sejajar.

Pilot lantas menambah kecepatan untuk bersiap melakukan manuver speed loop dilanjutkan twin tango dengan salah satu pesawat melintas terbalik. Ada juga manuver heart yang ditunjukkan dengan dua pesawat membentuk lambang hati, dilanjutkan row flight, vertical row hingga formasi layang-layang dan rollback. Selama sekitar 30 menit melenggak-lenggok di angkasa, enam pilot plus 6 co-pilot JAT mendarat di Lanud Adi Sutjipto.

’’Wonderful,’’ ujar KSAU Marsekal Imam Sufaat usai melihat aksi pasukan JAT. Aerobatik, menurut KSAU, tak sekadar untuk aksi saat ulang tahun ABRI dan TNI AU saja.

Tapi lebih dari itu sebagai bentuk perofesionalisme sekaligus kebanggaan bagi anggota TNI AU. ’’Dibutuhkan kedisiplinan dan kepercayaan tinggi kepada orang lain uuntuk melakukan aerobatik,’’ kata Imam Sufaat.

Menurutnya, tak sembarang pilot bisa menjadi anggota tim JAT yang terbentuk sejak 1996 itu. Soal warna baru merah putih, Imam Sufaat mengatakan disesuaikan dengan bendera negara RI. ’’Warna harus menarik. Warna menimbulkan kebanggaan. Kalau bangga maka akan maju. Dulu saat pesawat hawk untuk aerobatik juga merah putih,’’ jelasnya.

JAT adalah tim aerobatik TNI AU yang tidak dibentuk dalam skuadron secara khusus. Kegiatan JT sempat terhenti pada tahun 2002 saat pesawat yang digunakan kala itu jenis MK-53 mengalami kecelakaan saat bermanuver. JAT muncul kembali pada tahun 2008 dengan pesawat KT-1B Woong Bee.

JAT juga menjadi satu-satunya tim aerobatik di Indonesia yang menggunakan pesawat jenis propeller dengan baling-baling di luar pesawat. ’’Luar biasa. Kami melaksanakan tugas yang terbaik,’’ ujar Letkol Ramot Sinaga ditemui usai landing.
Manuver yang dilakukan pilot JAT, kata Ramot, adalah proses latihan panjang sejak November 2010 hingga Maret 2011. ’’Kesehatan dan kecakapan paling utama dimiliki pilot JAT. Dibutuhkan kondisi badan prima dan skil. Terutama gerakan motorik serta kedisiplinan tinggi,’’ terang pilot dengan pengalaman 3.500 jam terbang itu.
Untuk bisa bergabung dengan JAT dibutuhkan pengalaman terbang paling tidak 250 jam. Romat sendiri untuk pesawat aerobatik hampir 1.500 jam.

Sumber: Radar Jogja

DPR Tuding Menkeu dan Menhan Langgar UU


17 Maret 2011, Jakarta -- (MI.com): Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi kembali menegaskan, Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan bersama-sama bisa dituduh melanggar undang-undang jika tetap memaksa membeli pesawat bekas untuk kepentingan militer, tanpa persetujuan DPR RI.

Ia menyatakan itu, usai Rapat Kerja (Raker) tertutup komisinya dengan Menteri Pertahanan (Menhan) dan jajaran Badan Intelijen Negara, sehubungan dengan pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Intelijen, di Jakarta, Rabu (16/3).

Bersama rekannya sesama anggota komisi itu dari Fraksi Partai Golkar (FPG), Paskalis Kossay, ia dengan lantang mengatakan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) serta Kementerian Pertahanan (Kemenhan) terkesan sengaja melangkahi kewenangan DPR RI sesuai ketentuan konstitusi.

"Pasalnya, mereka tetap 'ngotot membeli pesawat bekas untuk kepentingan militer. Padahal sejak awal kami sudah sepakat menolak rencana itu. Kalau untuk kepentingan jauh ke de depan, mengapa tak beli yang baru saja," katanya.

Sumber: MI.com

Radar Merauke Perkuat Wilayah Timur Indonesia

Radar TNI AU. (Foto: Kemhan)

17 Maret 2011, Merauke -- (Suara Karya): Satuan Radar 244 Merauke resmi memperkuat pengamanan wilayah udara nasional di timur Indonesia. Peresmian Satuan Radar 244 dilakukan dengan upacara militer dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat di Merauke, Rabu.

Radar yang digunakan Satuan Tadar 244 adalah radar "Master T" buatan Perancis yang memiliki jangkauan 240 mil laut. Selama ini keamanan wilayah udara Timur Indonesia dipantau oleh tiga satuan radar yakni Satuan Radar 241 di Buraen, Kupang (NTT), dan Satuan Radar 242 Tanjung Warari (Biak).

Dengan berdirinya Satuan Radar 244 Meurake, maka wilayah udara timur Indonesia telah diawasi dan diamankan dengan tiga Satuan Radar dari lima yang direncanakan. Satuan Radar 244 dikomandani Letkol Lek Budi Santoso dengan 30 personel yang mengoperasikan.

TNI Angkatan Udara berencana menambah dua satuan radar yakni Satuan Radar 243 di Timika (Papua) dan Satuan Radar 245 di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat). Satuan Radar 243 akan diresmikan pada Agustus 2011 sedangkan Satuan Radar 245 Saumlaki akan diresmikan pada awal 2012.

Kelima satuan radar wilayah Indonesia Timur berada di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudna) IV yang bermarkas di Biak. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, relatif tingginya tingkat pelanggaran wilayah udara nasional di wilayah Timur Indonesia maka penambahan satuan radar di wilayah itu sangat penting.

"Dengan satuan radar yang akan dikembangkan di wilayah Timur Indonesia akan mampu menjadi mata dan telinga baik sebagai sarana dan bagian sistem pertahanan udara nasional, maupun sebagai media untuk melakukan deteksi dini dan intersep setiap pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi," katanya seperti dikutip Antara.

Imam menyebutkan, pendirian satuan radar di wilayah Timur Indonesia sangat penting mengingat adanya beberapa obyek vital nasional dan sebagai bagian dari jalur penerbangan internasional.

Reposisi

Sementara itu, KSAU Marsekal Imam Sufaat, mengatakan, pihaknya akan mereposisi atau mengganti sejumlah radar lama dengan yang baru. "Kami berencana mengganti sejumlah radar lama dengan yang baru, antara lain radar di Congot, Ngliyep dan Ploso," katanya.

Imam mengatakan, saat ini Indonesia memiliki 18 satuan radar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, tutur KSAU, ada radar yang memiliki usia lebih dari 20 tahun dan harus segera diganti dengan yang baru.

"Saat ini sudah ada penawaran dari beberapa perusahaan baik dalam maupun luar negeri. Tentunya ini sangat baik, jika ada perusahaan dalam negeri yang akan membuatkan radar untuk kami," kata Imam.

Ia mengatakan, Indonesia dengan wilayah sangat luas tentu membutuhkan "mata dan telinga" yang maksimal untuk menjaga kedaulatan wilayahnya serta mendeteksi adanya ancaman pelanggaran wilayah udara RI.

Sumber: Suara Karya

Simulasi Penanggulangan Bencana dan Defile Darat, Laut, dan Udara Warnai Pembukaan ARF DiREx 2011

Sejumlah Helikopter dan kapal laut yang akan digunakan dalam latihan bersama penanggulangan bencana melakukan parade pada pembukaan ARf Direx Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF Direx) di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (15/3). Latihan penanggulangan bencana yang diikuti peserta dari berbagai negara meningkatkan koordiansi antara sipil dan militer dalam penyelamatan korban bencana alam di darat, laut dan udara. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/Koz/nz/11)

17 Maret 2011, Manado -- (DMC): Telah terjadi bancana gempa bumi dengan kekuatan 7,5 skala richter selama 56 detik dengan titik lokasi kejadian 25 km sebelah barat kota Manado pada kedalaman 20 km Dalam hitungan detik, berbagai sarana, prasarana, perumahan serta fasilitas pelayanan publik dan pemerintah runtuh diikuti oleh kebakaran.

Empat menit kemudian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan Tsunami kepada Pemerintah Pusat, Daerah, Media dan Masyarakat. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan situasi kerusakan dan peringatan BMKG kepada Gubernur Sulawesi Utara. Kemudian Gubernur sebagai penanggung jawab daerah memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah penanganan darurat.

Kurang lebih 8 menit setelah gempa terjadi, Tsunami menerjang pesisir Kota Manado dan menyebabkan wilayah di bibir pantai luluh lantak serta melumpuhkan jaringan komunikasi, listrik dan transportasi. Setelah BMKG mengumumkan tsunami berakhir maka Gubernur menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari. Selain itu Gubernur juga menunjuk Komandan Komando Tanggap Darurat serta memerintahkan antipasi rencana kontigensi yang telah disusun dan pengerahan sumberdaya dari pemerintah, Kabupaten Sekitar, TNI, POLRI, Lembaga Usaha dan masyarakat.

Peristiwa tersebut merupakan awal dari skenario simulasi penanggulangan bencana yang mewarnai acara pembukaan kegiatan latihan bersama penanggulangan bencana atau ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise ARF DIREX 2011 yang diselenggarakan, Selasa (15/3) di Kawasan Mega Mas, Manado, Sulawesi Utara. Kegiatan ARF DiREx yang diselenggarakan 14-20 Maret 2011 langsung dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Boediono.

Usai penyampaian cerita awal terjadinya tsunami, pengerahan sumber daya daerah berupa peralatan dan transportasi darat dari satuan gabungan yang berasal dari Dinas terkait seperti TNI, POLRI, Lembaga Usaha, relawan dan masyarakat mulai dipertontonkan. Pengarahan peralatan dan transportasi ini mencakup mobil SAR dan Rescue, Mobil Ambulance, dan Dam kar dari Pemkot Manado, TNI dan POLRI.

Tidak lama kemudian melintas di udara pesawat Cassa 212 yang melaksanakan Survey udara atau pengamatan dan pemotretan melalui udara terhadap daerah-daerah yang terjadi bencana. Selain itu Pesawat Hercules C-130 yang berasal dari Skuadron udara 31 di Lanud Halim Perdana Kusuma menerjunkan Helly Box serta bantuan bencana yang berasal dari dalam maupun luar negeri ketengah lautan.

Masih pada demonstrasi udara dalam acara pembukaan ARF DiREx melintas beberapa helikopter dengan formasi panah diantaranya dari Helly Bell TNI AL, 1 BO 105 Basarnas dan Helikopter Chinook dari Republic Singapura Air Force.

Untuk demonstrasi aksi pengamanan perairan, operasi pencarian dan penyelamatan serta evakuasi korban dilaut beberapa aset nasional bangsa juga diperlihatkan dan dilibatkan dalam kegiatan latihan bersama penanggulangan bencana 2011 ini. Dimulai dari pergerakan beberapa perahu karet tim SAR laut gabungan yang berasal dari Badan SAR Nasional, TNI AL, POL Air dan Taruna Siaga Bencana.

Defile laut lainnya yang diatraksikan yaitu Combat Boat dan kapal Searaider milik Komando Pasukan Katak Armada Kawasan Timur, Basarnas dan KPLP. Adapun formasi terakhir adalah beberapa kapal dari TNI, POLRI serta instansi terkait lainya seperti Kapal KN Ayudara milik Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Kapal Basarnas RB 208 dan beberapa Kapal Perang Milik TNI AL seperti, Hovercraft TNI AL, KRI Ciptadi 881 dan KRI dr. Suharso salah satu Kapal yang memiliki fasilitas rumah sakit dan pelayanan kesehatan.

Sumber: DMC

Tentara Laut Malaysia Aniaya 4 Nelayan Sumut

Seorang wartawan mengabadikan dua kapal Vietnam yang diamankan di dermaga Stasiun Pengawasan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP), Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Senin (14/3). Sebanyak dua kapal asal Vietnam berbendera Indonesia yaitu KM Tiara 37 dan KM Tiara 38, beserta 23 ABK berhasil diamankan oleh KP Hiu 009 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, saat sedang menangkap ikan menggunakan pukat harimau di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), di Laut Cina Selatan. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/ama/11)

17 Maret 2011, Medan -- (SINDO): Kasus penganiayaan terhadap nelayan Indonesia oleh Tentara Laut Diraja Malaysia kembali terjadi. Kali ini, empat nelayan asal Sumatera Utara (Sumut) diduga dipukuli Tentara Laut Negeri Jiransaat mereka sedang melaut di perairan Belawan, Rabu (16/3) dinihari.

Keempat nelayan itu,yakni Fahrul (nahkoda kapal),warga Tanjung Pura dan tiga anak buah kapal (ABK) masingmasing Fajar,21, warga Tanjung Pura; Muslim,28; dan Fadli,24 warga Jalan TM Pahlawan Lorong Melati,Kelurahan Belawan Lama,Kecamatan Medan Belawan.Akibat pemukulan itu, ABK bernama Muslim mengalami luka memar di bagian wajah dan perut. Tak hanya memukuli, Tentara Laut Diraja Malaysia itu juga merampas hasil tangkapan berupa ikan sebanyak 20 kilogram (kg), serta merusak perlengkapan dan pakaian mereka. Berdasar informasi yang diperoleh SINDO,kejadian itu berawal saat keempat nelayan berangkat melaut Selasa (15/3) pukul07.00 WIB dengan menggunakan kapal ikan Sri Muara GT3.

Memasukitengahmalamatautepatnya pukul 24.00 WIB, keempat nelayan beristirahat di sekitar 4-5 mil dari perairan Belawan. Tak lama kemudian, tiba-tiba kapal mereka didekati oleh sebuah kapal milik Tentara Laut Diraja Malaysia dengan nomor lambung 14.Selanjutnya, empat Tentara Laut Diraja Malaysia naik ke kapal nelayan dan menyuruh berpindah ke kapal mereka.Karena takut,keempat nelayan itupun menuruti.Ketika tiba di kapal itu, mereka langsung dipukuli dengan alasan telah memasuki perairan Malaysia.“ Kami menerima saja pukulan dari mereka (Tentara Laut Diraja Malaysia) itu,”ujar Muslim. Menurut Muslim, para Tentaran Laut Diraja Malaysia itu membawa senjata api laras panjang.

“Kami hanya pasrah melihat mereka mengambil hasil tangkapan, karena mereka terus mengancam dengan senjata api,”tandasnya. Setelah dipukuli dan hasil tangkapan mereka dirampas, keempat nelayan itupun dilepaskan. Tak terima dengan perlakuan Tentara Laut Diraja Malaysia tersebut, mereka kemudian mengadukan kasus ini ke Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Medan, kemarin. Mereka juga membuat laporan ke Polisi Perairan Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polair Sumut). Ketua HNSI Kota Medan Zulfahri Siagian mengecam tindakan yang dilakukan oleh Tentara Laut Malaysia tersebut. Dia meminta kepada pihak Polair untuk mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami anggotanya itu.

Kepala Unit (Kanit) I Tindak Polair Sumut AKP RG Sitinjak membenarkan adanya pengaduan keempat nelayan atas kasus pemukulan oleh Tentara Laut Diraja Malaysia. “Saat ini kami sedang memproses dan menyelidiki kasus pemukulan tersebut guna pengembangan lebih lanjut,” pungkasnya. Tindakan Tentara Laut Diraja Malaysia dituding melanggar hukum karena lokasi pemukulan atau tepatnya 4-5 mil dari perairan Belawan masih berada di wilayah NKRI. Kadispen Lantamal I Belawan Kapten Jeffry Riswandi ketika dikonfirmasi SINDO menyebutkan bahwa lokasi pemukulan masih berada di wilayah hukum Lantamal I Belawan.

”Perairan Belawan tempat pemukulan keempat nelayan termasuk wilayah hukum Lantamal I Belawan,”tegasnya. Dia sangat meyanyangkan sikap dan perlakuan Tentara Laut Diraja Malaysia itu. Namun, dia mengimbau kepada nelayan untuk tidak terlalu jauh melakukan tangkapan ikan. Karena belakangan ini rawan terjadi perompakan di perbatasan antara perairan Indonesia dan Malaysia.Apalagi saat ini Indonesia dan Malaysia masih mempersoalkan batas wilayah perairannya masing-masing.

Sumber: SINDO

Tim Terbang Aerobatik Dihidupkan Kembali

Penerbang dari Jupiter Aerobatik Team (JAT) TNI AU unjuk kebolehan menampilkan berbagai manuver menggunakan pesawat latih KT - 1B Woong Bee, di Lanud Adisucipto, DI Yogyakarta, Rabu (16/3). Atraksi aerobatik dengan menggunakan pesawat propeller tersebut dalam rangka pengenalan warna baru pesawat latih milik JAT dari warna abu-abu menjadi warna merah-putih. FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A/ed/ama/11)

17 Maret 2011, Yogyakarta -- (Suara Karya): TNI Angkatan Udara kembali memiliki tim terbang aerobatik, setelah sempat "mati suri" sejak 1996. Peluncuran tim terbang aerobatik TNI Angkatan Udara yang dinamai "Jupiter Aerobatic Team" dilakukan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Pangkalan Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta, kemarin.

Peluncuran tim terbang aerobatik tersebut ditandai pula dengan pemecahan kendi untuk menunjukkan perubahan warna pesawat KT-1 yang digunakan sebagai armada tim terbang aerobatik.

Semula delapan pesawat KT-1 yang digunakan tim terbang aerobatik TNI Angkatan Udara berwarna kuning dan abu-abu, namun kini diubah menjadi merah putih. Demikian pula dengan enam personel inti yang mengawakinya.

Sebelum meresmikan lahirnya kembali tim terbang aerobatik, Kasau didampingi pejabat TNI AU menyaksikan atraksi terbang aerobatik Jupiter Aerobatic Team yang menampilkan 17 manuver.

Atraksi aerobatik diawali dengan manuver "Jupiter Role", dilanjutkan dengan manuver anak panah atau "arrow head", dilanjutkan dengan manuver daun. Tim aerobatik TNI Angkatan Udara kemudian melakukan beberapa manuver antara lain "leader benefit", disusul manuver "leap loop" dan lainnya termasuk manuver membentuk hati yang menandai rasa cinta Tanah Air.

TNI Angkatan Udara sebelumnya telah memiliki tim terbang aerobatik dengan nama "Elang Biru" menggunakan pesawat F-16 Fighting Falcon. Namun, terbatasnya anggaran untuk meningkatkan kesiapan pesawat maka tim aerobatik TNI Angkatan Udara terpaksa "tidur" sejak 1996 dan baru pada September 2010 dirintis kembali dengan mengirimkan dua orang instruktur dari Skuadron Pendidikan 102 Pangkalan Udara Adi Sutjipto ke Australia untuk belajar pada tim aerobatik Angkatan Udara Australia "The Roulette".

Tim aerobatik Jupiter ini merupakan tim aerobatik pertama TNI Angkatan Udara yang menggunakan pesawat baling-baling. Tim aerobatik terdiri dari enam orang personel inti dan delapan cadangan atau yang sudah disiapkan untuk masa mendatang. "Kita tidak mau kalah dengan negara lain, termasuk Australia," kata Kasau Imam Sufaat usai menyaksikan atraksi selama sekitar 60 menit tersebut.

Ia menambahkan, lahirnya kembali tim terbang aerobatik tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi TNI Angkatan Udara khususnya dan Indonesia umumnya. "Ini juga menunjukkan profesionalisme penerbang-penerbang TNI AU, karena tidak semua penerbang bisa menjadi bagian dari tim aerobatik," kata Imam.

Sumber: Suara Karya

Pendaratan untuk Buka Jalan

Pasukan Denjaka Marinir menyusup ke dalam kapal pada simulasi penyerangan musuh di Bhumi Marinir, Cilandak, Jakarta, Rabu (16/3). Demonstrasi ini untuk menyambut kunjungan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Soehartono, yang diterima Komandan Korps Marinir Mayjen M Alfan Baharudin. (Foto: KOMPAS/Lucky Pransiska)

17 Maret, Jakarta -- (KOMPAS): Sebanyak 17 tank amfibi PT 76 M buatan Rusia, 25 panser amfibi BTR 50 P, dan 8 tank LVT 7 amfibi buatan Amerika Serikat yang dihibahkan Korea Selatan tahun lalu, Rabu (16/3) menderu, ”menyerbu” Lapangan Brigif 2 Marinir di Bhumi Marinir, Cilandak. Ceritanya, 1.745 personel Batalyon Tim Pendarat melakukan ”pendaratan” di sebuah pulau yang dikuasai musuh. Dalam situasi riil, ada tembakan dari kapal perang dahulu untuk membersihkan pantai yang akan didarati.

Beberapa hari sebelumnya, pasukan Intai Amfibi (Taifib) masuk diam-diam ke pulau untuk mempersiapkan pendaratan.

Di belakang deretan kendaraan tempur itu, tampak kendaraan amfibi roda rantai pengangkut artileri enam KAPA K 61 R yang mengangkut howitzer 105 mm buatan tahun 1996 dan peluncur roket RM 70 Grad yang terdiri dari 40 laras. Seorang perwira berkomentar, begitu mesin itu selesai bekerja, sebuah daerah pasti luluh lantak tak bersisa. Kalau penembakan sebelum mendarat untuk membombardir dan ”membersihkan” pantai, setelah mendarat, tembakan terarah untuk melumpuhkan lawan sebelum tim pendarat masuk lebih dalam di darat. Bersama mereka siap tim bantuan tempur, seperti perahu karet, komunikasi mobil, truk angkut, dan tim kesehatan.

”Pendaratan” ini membuka rangkaian kunjungan kerja Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, yang didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparno. Mereka dibawa berkeliling oleh Komandan Korps Marinir M Alfan Baharudin. Rombongan sempat mengunjungi Detasemen Jala Mengkara (Denjaka), yang merupakan detasemen pasukan khusus TNI AL.

Di Sarana Latih Kelautan 11, Denjaka memamerkan kemampuan naik ke kapal tanpa diketahui musuh. Tim terdiri dari komandan, wakil, pengompas, pembawa tali, pembawa tangga, dan dua pembawa galah. Mereka menyelam mendekati kapal dengan menggunakan peralatan selam close circuit yang membuat karbondioksida (CO) hasil pernapasan tak keluar, tetapi diolah lagi menjadi oksigen (O) untuk bernapas.

Seusai menyaksikan demonstrasi itu, Agus Suhartono menuturkan, kunjungannya untuk mengecek langsung apa yang sudah dilakukan dan apa yang perlu dipersiapkan. ”Dari segi jumlah, sudah cukup. Kualitas yang perlu kami tingkatkan lagi,” kata Panglima TNI.

Sumber: KOMPAS

Alutsista Marinir Perlu Perbaikan


16 Maret 2011, Jakarta -- (ANTARA News): Panglima TNI Laksamana TNI, Agus Suhartono, mengatakan bahwa alat utama sistem senjata (Alutsista) yang dimiliki Korps Marinir masih perlu perbaikan.

"Yang perlu diperbaiki adalah sepatu tank yang sudah rusak dan penambahan jumlah amunisi agar kemampuan prajurit dalam menembak dapat ditingkatkan," kata Panglima TNI disela kunjungan kerja di Kompleks Korps Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu.

Menurut dia, kunjungannya ke Korps Marinir untuk mengetahui hasil pembinaan satuan tersebut selama setahun ini.

"Dalam kunjungan ini, saya bisa melihat apa yang telah dilakukan prajurit, apa yang akan dipersiapkan dan mana saja yang membutuhkan perhatian," katanya.

Di sisi lain, dirinya juga ingin mengetahui kemampuan pasukan khusus TNI dalam penanggulangan terorisme.

"Secara jumlah, alutsistanya sudah cukup. Tapi, yang perlu ditingkatkan adalah kualitasnya," ujar Agus.

Ia tidak menampik bahwa tank-tank yang ada di Korps Marinir sudah tua, seperti tank amfibi PT-76. Namun, sudah mengalami "retrofit", sehingga seperti baru.

"Kemampuan tempurnya sudah seperti baru. Tetapi kita menyadari, jika dihadapkan dengan perkembangan teknologi sekarang, memang harus ditingkatkan. Ini yang perlahan secara bertahap akan kita ganti," katanya.

Dalam kunjungannya di Korps Marinir, Panglima TNI menyaksikan atraksi-atraksi dan gelar pasukan yang dilakukan oleh prajurit Marinir.

Gelar kekuatan pasukan itu, terdiri dari satu batalyon tim pendarat yang diperkuat oleh unsur-unsur kesenjataan, baik infanteri, kavaleri, artileri maupun satuan tempur Korps Marinir, Amfibi.

Panglima TNI juga menyaksikan atraksi tembakan sniper dengan jarak 300 meter, menyaksikan gelar material dan pasukan BTP dan menyaksikan gelar Rumah Sakit lapangan (rumkitlap).

Sumber: ANTARA News

Wednesday, March 16, 2011

Kemhan Adakan Pertemuan Ke-2 RI-Turki Dalam Bidang Kerjasama Industri Pertahanan

Panser Arma produksi industri pertahanan Turki Otokar. (Foto: Otokar)

16 Maret 2011, Jakarta -- (DMC): Kementerian Pertahanan dalam hal ini Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Ditjen Pothan Kemhan, Kamis (16/3), di Kantor Kemhan, Jakarta, menjadi tuan rumah dalam pertemuan ke-2 kerjasama industri pertahanan antara RI – Turki. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini akan membahas kelanjutan realisasi rencana kerjasama antar industri pertahanan kedua negara. Delegasi Turki yang dipimpin oleh Deputy under secretary of Defence, MG Mihak.

Dalam amanat pembukanya Direktur Teknologi dan Industri Pertahanan Brigjen TNI Agus Suyarso yang mewakili Dirjen Pothan Kemhan Dr Ir Pos M Hutabarat MA, dijelaskan bahwa untuk meningkatkan hubungan bilateral pertahanan kedua negara, pertemuan ini adalah pertemuan lanjutan dalam bidang peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan yang pertemuan pertamanya diadakan pada bulan 19 dan 20 Januari tahun 2011 ini.

Pada tahap pertama kedua negara telah menyetujui kerjasama industri pertahanan dan menuangkannya dalam MoU antara industri pertahanan kedua negara yaitu kerjasama dalam membangun beberapa alutsita bersama. Dalam pertemuan ini diharapkan dapat mencapai kesepakatan untuk membangun target-target alutsista yang diharapkan. Target-target tersebut dapat tercapai dengan keseriusan kedua belah pihak dalam membangun komunikasi yang efisien dan menghasilkan keuntungan di kedua belah pihak.

Dengan adanya kesepakatan antara kedua negara dalam bidang industri pertahanan yangtelah ditandatangani oleh menteri pertahanan kedua negara, kerjasama antara kedua negara akan meliputi antara lain ; peningkatan kemampuan fasilitas penting dalam hal kerjasama penelitian, pengembangan produksi dan modernisasi proyek, serta perbaikan dan perawatan alutsista. Dalam bidang kerjasama penelitian, produksi dan desain oleh industri pertahanan dan masing-masing angkatan.

Dirtekind Ditjen Pothan berharap, pertemuan dua hari ini dapat menghasilkan proyek-proyek konkret dalam hal kerjasama industri pertahanan kedua negara untuk jangka menengah dan jangka panjang. Diharapkan, pada kunjungan Menteri Pertahanan Turki pada bulan April mendatang, proyek-proyek bersama itu sudah terumuskan.

Sumber: DMC

Simulasi Penyelamatan Korban Bencana di ARF Direx

15 Maret 2011, Manado -- (ANTARA News): Tim Penyelamat TNI AU menggunakan helikopter jenis Super Puma melakukan simulasi penyelamatan korban bencana melalui udara pada pembukaan ARF Direx Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF Direx) di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (15/3). Latihan penanggulangan bencana yang diikuti peserta dari berbagai negara meningkatkan koordiansi antara sipil dan militer dalam penyelamatan korban bencana alam di darat, laut dan udara. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/Koz/nz/11)

Sejumlah anggota TNI menjemput bantuan logistik yang dikirim melalui udara menggunakan pesawat Hercules saat penyelamatan korban bencana. (Foto: ANTARA/Basrul Haq/Koz/nz/11)

PT DI Raih Sertifikat Organisasi Rancang Bangun


16 Maret 2011, Bandung -- (bisnis-jabar.com): PT Dirgantara Indonesia hari ini menerima sertifikat organisasi rancang bangun dari Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Sertifikat ini merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri pembuat pesawat udara.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Dita Ardonni Jafri mengatakan dengan diterima sertifikat ini berarti BUMN itu telah memenuhi semua persyaratan yang harus dimiliki industri pesawat udara.

Sebelumnya, perusahaan telah memiliki production certificate, approved maintenance organization, dan distrubutor certificate of approva, disamping berbagai personnel certification dan types certificates.

“Ini tentu menjadi kabar baik bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis,” katanya dalam sambutannya hari ini.

Penyerahan sertifikat organisasi rancang bangun atau design organization approval dilakukan oleh Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubud Kemenhub Yurlis Hasibuan.

Yurlis meminta perusahaan terus meningkatkan kinerja dengan penerapan proses dan pelatihan pekerja yang baik. “Ini diperlukan untuk meningkatkan daya asing industri pesawat dalam negeri,” katanya.

Sumber: Bisnis Jabar

Radar Merauke Perkuat Pengamanan Wilayah Timur Indonesia


16 Maret 2011, Merauke -- (ANTARA News): Satuan Radar 244 Merauke yang memperkuat pengamanan wilayah udara nasional di Timur Indonesia diresmikan lewat upacara militer yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Merauke, Rabu.

Radar yang digunakan Satuan Radar 244 adalah peralatan "Master T" buatan Prancis yang memiliki jangkauan 240 mil laut.

Selama ini keamanan wilayah udara Timur Indonesia dipantau oleh tiga satuan radar yakni Satuan Radar 241 di Buraen, Kupang (NTT), dan Satuan Radar 242 Tanjung Warari (Biak).

Satuan Radar 244 Meurauke menjadikan wilayah udara Timur Indonesia telah diawasi dan diamankan dengan tiga Satuan Radar dari lima yang direncanakan.

Satuan Radar 244 dikomandani Letkol Lek Budi Santoso dengan 30 personel.

TNI Angkatan Udara berencana menambah dua satuan radar yakni Satuan Radar 243 di Timika (Papua) dan Satuan Radar 245 di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat).

Satuan Radar 243 akan diresmikan pada Agustus 2011 sedangkan Satuan Radar 245 Saumlaki akan diresmikan pada awal 2012.

Lima satuan radar wilayah Indonesia Timur berada di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosek Hanudna) IV yang bermarkas di Biak.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, relatif tingginya tingkat pelanggaran wilayah udara nasional di wilayah Timur Indonesia maka penambahan satuan radar di wilayah itu sangat penting.

"Dengan satuan radar yang akan dikembangkan di wilayah Timur Indonesia akan mampu menjadi mata dan telinga baik sebagai sarana dan bagian sistem pertahanan udara nasional, maupun sebagai media untuk melakukan deteksi dini dan intersep setiap pelanggaran wilayah udara nasional yang terjadi," katanya.

Imam menambahkan, pendirian satuan radar di wilayah Timur Indonesia sangat penting mengingat adanya beberapa obyek vital nasional dan sebagai bagian dari jalur penerbangan internasional.

Satuan Radar 244 Merauke dibangun sejak 2008 dan berdiri diatas lahan seluas 17,5 hektare.

Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional Marsekal Pertama TNI M Syaugi mengatakan, penambahan radar di wilayah Timur Indonesia juga dilandasi pertimbangan sebagian wilayah berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini dan Australia.

"Jadi radar ini penting untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di wilayah di Timur," katanya.

Sumber: ANTARA News

Pangarmabar Bekali Cawak Kapal Waspada Class

KDB Waspada. (Foto: born1945)

15 Maret 2011, Jakarta -- (Pos Kota): Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Hari Bowo M.Sc., memberikan pembekalan kepada calon pengawak (cawak) Kapal Eks Waspada Class Brunai di Aula Gedung Yos Sudarso, Markas Komando (Mako) Koarmabar, Jl. Gunung Sahari No. 67, Jakarta Pusat, Selasa (15/3).

Dalam arahannya Pangarmabar mengatakan cawak yang akan diberangkatkan ke Brunai agar mempersiapkan mental dan fisik, serta menambah wawasan dan profesional pelaut yang diberikan di Komando Latihan (Kolat) Koarmabar. Keberadaan cawak di Brunai bukan hanya mewakili TNI AL tetapi juga Indonesia, sehingga diharapkan dapat menjaga nama baik Bangsa Indonesia.

Lebih lanjut Pangarmabar mengharapkan agar seluruh cawak mengikuti pelatihan di Brunai dengan baik, menjaga kekompakan / team work dan memanfaatkan waktu selama di Brunai untuk mempelajari segala pengetahuan terkait data teknis, pengoperasian kapal dan perencanaan navigasi penyebrangan, serta menjaga keselamatan personel dan material.

Cawak Kapal Eks Waspada Class Brunai yang berjumlah 94 orang terdiri dari 14 perwira dan 80 Bintara dan Tamtama rencananya akana di berangkatakan menuju Brunei pada tanggal 20 Maret 2011 yang akan datang.

Kepala Dispenarmabar

Drs Supriyono
Letkol Laut (KH)Nrp.10495/P

Sumber: POS KOTA

Kerja Sama Sipil-Militer

Simulasi Penanggulangan Bencana Asia-Pasifik yang dilaksanakan dalam Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF-Direx) digelar di Manado, Sulawesi Utara. Selain latihan evakuasi, kegiatan tersebut juga menyuguhkan defile kendaraan kendaraan Tim SAR. Kendaraan amfibi Hugglans milik PMI mengikuti simulasi ini. (Foto: Andi Saputra)

16 Maret 2011, Manado -- (KOMPAS): Bencana alam harus menjadi perhatian dan persoalan seluruh komunitas internasional. Kerja sama antara sipil dan militer serta multipihak perlu dipererat dalam manajemen penanggulangan bencana alam. Militer memiliki kemampuan respons cepat dan dapat dimobilisasi dalam jumlah besar dalam penanggulangan bencana.

Demikian benang merah pidato pembukaan ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiREx) oleh Wakil Presiden Boediono, Selasa (15/3) di Manado, Sulawesi Utara. Acara ini merupakan pelatihan penanggulangan bencana alam yang diikuti sekitar 5.000 peserta dari 20 negara dengan tuan rumah bersama antara Indonesia dan Jepang.

Hadir dalam acara pembukaan, antara lain, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Sosial Salim Segaf Al'jufrie, dan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta.

Menurut Boediono, untuk merespons bencana alam yang datang tiba-tiba, perlu kesiapan multipihak, baik sipil ataupun militer, maupun instansi pemerintah lain. Karena bencana alam memiliki dimensi internasional, pihak imigrasi, kepabeanan, dan hal-hal yang terkait dengan keamanan perlu dilibatkan. ”Melalui pelatihan inilah, kita dapat menguji dan menyiapkan prosedur operasional standar penanggulangan bencana,” kata Boediono.

Sebelum pidato pembukaan, Boediono mengajak mengheningkan cipta atas musibah tsunami yang terjadi di Jepang dan banjir di Aceh. Boediono juga menyampaikan ucapan dukacita untuk rakyat Jepang yang menjadi korban tsunami.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyampaikan, ARF DiREx merupakan kegiatan bersama antaranggota ARF yang meliputi kerja sama bidang politik dan keamanan. Ia berharap, ada sinergisme antara sipil dan militer dalam hal penanggulangan bencana. ”Kegiatan ini sekaligus untuk memupuk kerja sama sipil dan militer dalam menanggulangi bencana. Sipil dan militer harus bahu-membahu untuk menanggulangi bencana yang sedang terjadi,” kata Purnomo.

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menambahkan, militer memiliki prosedur operasional standar penanggulangan bencana. Selain itu, militer merupakan unsur yang paling mudah digerakkan dalam jumlah besar saat bencana terjadi. Pelibatan militer dalam penanggulangan bencana sangat penting. ”Masyarakat sipil perlu juga belajar kepada militer dalam hal penanggulangan bencana,” kata Tifatul.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta mengatakan, keputusannya berada di Indonesia merupakan keputusan yang sulit karena Jepang saat ini tengah dilanda bencana tsunami. Namun, komitmen Jepang sebagai salah satu tuan rumah kegiatan ini membuat dirinya tetap bertahan di Indonesia.

ARF adalah forum yang dibentuk ASEAN pada tahun 1994 dan kini beranggotakan 27 negara. Kegiatan pada ARF Direx 2011 di Manado berupa latihan penanggulangan bencana alam, seperti tsunami, banjir, dan gempa bumi. Kegiatan ini direncanakan berakhir pada 19 Maret nanti.

Sumber: KOMPAS

Pindad Siapkan Kendaraan Tempur

Tank Scorpion TNI AD. (Foto: Pussenkav)

16 Maret 2011, Jakarta -- (KOMPAS): PT Pindad mempersiapkan desain kendaraan tempur untuk memenuhi keterbatasan persenjataan yang dimiliki TNI. Rencananya purwarupa kendaraan itu rampung 2013 dan produksi sudah dimulai tahun berikutnya.

Demikian pernyataan Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Sudarsono dalam pertemuan di Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav), Bandung, Senin (14/3).

Pindad mulai menggarap pasar kendaraan tempur setelah perakitan tank jenis Scorpion pada 1997. Saat ini, Pindad juga belajar banyak dari perakitan 11 unit tank jenis Tarantula dari Korea Selatan dan diperkirakan rampung 2012.

”Pindad sebetulnya sudah memproduksi 154 kendaraan untuk TNI tapi untuk membawa personel,” ujar Adik. Produksi kendaraan tempur buatan sendiri ini diharapkan menjadi solusi sebagai pasar kendaraan tempur yang 90 persen dari luar negeri.

Komandan Pussenkav Brigadir Jenderal Burhanuddin Siagian melanjutkan, saat ini pihaknya memiliki 1.025 unit kendaraan tempur yang diproduksi berbagai negara, seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Rusia, dan Korsel. Hanya saja, kebanyakan kendaraan miliknya sudah berumur 50 tahunan. Contohnya kendaraan jenis AMX-13 buatan Perancis yang dibuat 1952. ”Kesiapan operasional kendaran tempur kami hanya 65 persen bila meliputi komponen otomotif, senjata, dan komunikasi,” ujar Siagian.

Anggota Komisi I DPR, Tri Tamtomo, menuturkan, Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan diharapkan mendorong industri dalam negeri. Kalaupun harus membeli dari luar negeri, diusahakan seminimal mungkin dan dengan syarat ketat seperti harus ada transfer teknologi dan ada imbal dagang.

Sumber: KOMPAS

Tuesday, March 15, 2011

Pangdam: Patok Batas Indonesia-Malaysia Tidak Hilang


15 Maret 2011, Pontianak -- (ANTARA News): Komando Daerah Militer XII Tanjungpura membantah hilangnya sejumlah patok tapal batas negara Indonesia dengan Malaysia yang ada di wilayah Kalimantan Barat.

"Tidak benar ada patok tapal batas Indonesia - Malaysia hilang, tetapi hanya tidak ditemukan," kata Panglima Kodam XII Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Geerhan Lantara usai memimpin penutupan rapat pimpinan di jajaran Kodam XII/TPR di Pontianak, Selasa.

Ia menjelaskan, mencari patok tapal batas negara ibarat mencari jarum di jerami sehingga cukup sulit dengan medan yang berat.

Menurut Pangdam XII/TPR, ada sekitar 600 lebih patok tapal batas di perbatasan Indonesia - Malaysia di wilayah Kalbar yang belum ditemukan.

Sebelumnya, Kepala Staf Kodam XII/TPR Brigadir Jenderal TNI Armyn Alianyang mengatakan, hingga kini berdasarkan laporan intelijen di lapangan kondisi patok tapal batas masih aman-aman saja.

"Meski pun aman, kami tetap akan meningkatkan patroli perbatasan karena sudah tugas TNI Angkatan Darat dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Armyn.

Armyn menjelaskan, patok tapal batas yang rawan bergeser yaitu untuk tipe C karena ditanam ditanam hanya sedalam 50 sentimeter dan ketinggian diatas tanah hanya 30 sentimeter, sehingga ketika disenggol alat berat saja patok tersebut sudah bergeser.

"Banyak anggapan telah terjadi pergeseran patok, sebenarnya tidak, karena dangkalnya tancapan patok sehingga mudah bergeser karena suatu hal atau karena ulah manusia," katanya.

Untuk antisipasi hal itu, setiap tahun TNI-AD memrogramkan patroli perbatasan dan pemeriksaan patok tapal batas.

Hingga kini pihak Malaysia terkesan diam dalam penyelesaian lima titik patok tapal batas negara sejak tahun 1980-an, yakni patok tapal batas negara di Camar Bulan Kabupaten Sambas, titik D 400 di Kabupaten Bengkayang, titik Gunung Raya di Bengkayang, garis batas Gunung Raya I dan II, dan di titik Batu Aum Kabupaten Bengkayang.

Kelima titik batas negara yang bermasalah itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an tetapi hingga kini tidak ada titik temu karena pihak Malaysia dengan argumennya selalu membantah ada pergeseran.

Sumber: ANTARA News

Pemerintah Usulkan Nama FAF untuk Jet Tempur Kolaborasi RI-Korsel


15 Maret 2011, TEMPO Interaktif, Jakarta - Setelah kerjasama pembuatan pesawat jet tempur KFX antara RI dan Korea Selatan dimulai, Pemerintah Indonesia akan mengajukan usulan perubahan nama pesawat jet tempur hasil kolaborasi dua negara itu.

"Soal nama masih akan dibahas, kita inginkan ada nama Indonesia di dalamnya," kata Direktur Teknik Industri Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso kepada Tempo, kemarin, Senin 14 Maret 2011.

Awalnya, pihak Indonesia mengajukan nama pesawat tempur KFX (Korea Fighter Xperiment) itu diubah menjadi KIFX atau Korea-Indonesia Fighter Xperiment. Namun pihak Korea Selatan kurang setuju. "Akhirnya kita sepakat nama akan diubah, dan Indonesia mengusulkan pesawat tempur FFA atau Future Fighter Aircraft."

Penggabungan nama dua pihak yang berkolaborasi ini, menurut Agus, pernah diterapkan saat Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Spanyol membuat pesawat angkut jenis CN 235 di era Presiden Soeharto.

Nama kode 'CN' dibelakang seri pesawat itu adalah inisial dua perusahaan yang berkolaborasi, yakni Casa, perusahaan pesawat terbang Spanyol dan Nurtanio atau Industri Pesawat terbang Nusantara (IPTN) yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. "Saat itu Casa menyumbang 50 persen dan Nurtanio 50 persennya," kata Agus, yang juga menjabat Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini. .

Kerjasama pembuatan pesawat tempur dengan Korsel kali ini juga akan melibatkan industri pesawat terbang masing-masing negara. Pemerintah Indonesia kembali akan melibatkan PT Dirgantara Indonesia.

RI-Korsel Tandatangani Perjanjian Kerjasama Jet Tempur KFX

Setelah dijajaki sejak tahun lalu, Pemerintah akhirnya menandatangani perjanjian proyek kerjasama atau Project Agreement dengan Pemerintah Korea Selatan untuk membuat pesawat tempur KFX. Proyek bersama pembuatan jet tempur KFX atau Korea Fighter Xperiment ini akan berlangsung selama 10 tahun.

Penandatanganan perjanjian proyek telah dilakukan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (11/3) pekan lalu. Setelah Project Agreement, pada pertengahan April mendatang Pemerintah RI dan Korsel kemudian akan menandatangani kontrak kerjasama atau Contract Agreement.

"Kalau sudah contract agreement April nanti, baru kita (RI dan Korsel) mulai berbagi rancang bangun, share pembuatan prototipenya," kata Direktur Teknik Industri Pertahanan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Agus Suyarso kepada Tempo, kemarin, Senin 14 Maret 2011.

Pembagian rancang bangun prototipe pesawat tempur ini adalah, 20 persen bagian Indonesia dan 80 persennya menjadi bagian Korea. Agus berharap Indonesia akan mendapat bagian membuat air frame atau struktur kerangka pesawat. "Minimal kita dapat 20 persen, syukur-syukur dapat 40 persen untuk air frame-nya nggak masalah," kata Agus, yang juga menjabat Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini.

Agus menambahkan, proyek jangka panjang ini terdiri dari beberapa fase. Setelah penandatanganan kontrak kerjasama pada April mendatang, dua negara akan memasuki fase Technical Development atau pengembangan teknis dalam kurun waktu setahun (2011-2012). Setelah itu, pada awal 2013 kerjasama akan masuk dalam fase Engineering Development. "Pengembangan teknologi ini akan berlangsung selama 8 tahun sampai tahun 2020," katanya.

Pasca 2020, dua negara baru akan melakukan persiapan produksi pesawat jet tempur tersebut. "Baru kemudian masing-masing negara mau beli berapa unit. Misalnya Indonesia 50 unit, Korsel berapa unit."

Meski tahap produksi masih jauh alias 10 tahun lagi, kedua negara sudah berbagi modal kerjasama. Anggaran awal yang dibutuhkan dalam kerjasama pengembangan pesawat jet tempur ini adalah US$ 50 juta untuk 2 tahun ke depan. "Saat ini sudah share 20 persen Indonesia atau US$ 10 juta dan 80 persen Korea atau US$ 40 juta," kata Agus. "Ini diluar (anggaran) untuk infrastruktur yang akan dibangun."

Sumber: TEMPO Interaktif

Menhan, Menko Kesra dan Menristek Kunjungi Pulau Marampit dan Morotai


15 Maret 2011, Manado -- (DMC): Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama dengan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono Dan Menteri Riset dan Teknologi melakukan kunjungan ke Pulau Marampit dan Pulau Morotai, Senin (14/3). Kunjungan ini dilaksanakan sehari sebelum acara pembukaan ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercice (ARF DiREx) 2011 yang akan dibuka oleh Wakil Presiden, Selasa (15/3) di Manado.

Di Pulau Marampit, Menhan dan rombongan meletakan prasasti pulau terluar, melakukan pertemuan atau berdialog dengan masyarakat Marampit dan Prajurit TNI serta menyerahkan bantuan berupa sembako. Sedangkan di Pulau Morotai, Menhan melakukan peninjauan ke Kotis Satgas Yonif 509, memberikan pembekalan bantuan kepada prajurit TNI berupa sembako.

Kunjungan tersebut merupakan bentuk dari perhatian pemerintah terhadap pulau – pulau kecil dan terluar terutama yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Pemerintah dalam hal ini melalui Kemhan sangat menaruh perhatian terhadap wilayah perbatasan dan pulau – pulau kecil terluar. Pembangunan di wilayah perbatasan menjadi prioritas pembangunan pemerintah pada Kabinet Indonesia Bersatu ke II, salah satu langkahnya adalah bagaimana menjadikan wilayah perbatasan baik yang ada di darat maupun di laut sebagai pagar terdepan NKRI.

Khusus untuk Pulau Morotai, sebagai pulau terluar yang menjadi pintu gerbang masuk Indonesia melalui Samudera Pasifik, bertetangga dengan Asia Timur, dan berada pada jalur utama menuju Australia dan Selandia Baru, Pemerintah menilai pembangunan ekonomi di Pulau Morotai dapat menjadi bagian dari pergerakan ekonomi di Asia Pasifik. Pembangunan sentra-sentra ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan juga sudah membuat rencana induk pembangunan Morotai menjadi sentra perikanan, wisata, perdagangan, dan jasa. Namun demikian, pembangunan sentra ekonomi Morotai tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa rencana dan akhirnya terbengkalai karena kurang perhitungan matang.

Pada tahun ini, Pulau Morotai ditetapkan menjadi kawasan percontohan megaminapolitan dengan pemberian konsesi pengelolaan lahan bagi investor asal Taiwan. Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah melalui pengembangan ekonomi perikanan terintegrasi, meliputi produksi, pengolahan, dan pemasaran.

Sedangkan Kemhan sendiri telah memberikan fasilitas dan dukungan lainnya agar terjadi sinkronisasi antara kepentingan ekonomi yang didukung oleh kepentingan pertahanan. Khusus untuk wilayah Pulau Marotai, dalam merealisasikan dukungan dan kontribusi tersebut, salah satunya yakni Kemhan menyiapkan fasilitas pendaratan malam hari di wilayah Lanud Pulau Morotai. Uji coba kelayakan pendaratan malam hari di landasan Lanud Pulau Morotai telah dilakukan dengan Pesawat Hercules C-130 milik TNI AU pada tahun 2010.

Uji coba dan Pengaktifan kembali lapangan terbang tersebut merupakan salah satu dari upaya Kemhan dalam mendukung pembangunan di sektor perekonomian. Artinya, Kemhan mengupayakan agar aset-aset yang ada di Kemhan dan TNI yang dapat digunakan untuk mendukung ekonomi masyarakat, untuk diberdayagunakan.

Geografis Pulau Marampit dan Pulau Morotai

Pulau Marampit adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Philipina. Pulau Marampit ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaut, Provinsi Sulawesi Utara. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari pulau Talaud dengan koordinat 4° 46′18″ LU, 127° 8′ 32″ BT.

Sedangkan Pulau Morotai terletak di ujung utara Kabupaten Halmahera Utara dan merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara. Secara geografis Pulau Morotai terletak di antara 200-240 derajat Lintang Utara dan 12.815-12848 derajat Bujur Timur. Pulau Morotai berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah Utara, Laut Halmahera di sebelah Timur, Selat Morotai di sebelah Selatan dan Laut Sulawesi di sebelah Barat.

Luas wilayah Pulau Morotai adalah 2.474,94 kilometer persegi atau 10 persen dari luas wilayah daratan Kabupaten Maluku Utara. Secara administratif, Pulau Morotai sejak tahun 2002 termasuk ke dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Halmahera Utara dengan ibukota kabupaten di Tobelo.

Sumber: DMC

Perlunya Forum Working Group Indonesia Rusia Untuk Evaluasi Pengadaan Alutsista

Tank amphibi BMF-3F Korps Marinir buatan Rusia. (Foto: Berita HanKam)

15 Maret 2011, Jakarta -- (DMC): Forum Kelompok Kerja (Working Group) antara Indonesia dan Russia perlu diwujudkan sebagai upaya mengevaluasi seluruh proses kerjasama pertahanan dan pengadaan peralatan utama sistem persenjataan (alut sista) kedua negara, demikian disampaikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI, Sjahfrie Sjamsoeddin, saat menerima kunjungan kerja General Director Rosoboronexport, Anatoly Isaikin, di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin (14/3).

Rosoboronexport merupakan perusahaan negara milik Russia yang selama tahun 2010 telah berhasil menjual persenjataan produksi negara beruang merah tersebut, ke seluruh dunia dengan nilai lebih dari 8,6 trilyun dollar AS (sumber : interfax.ru ).

Di Indonesia sendiri, Rosoboronexport telah memasok alut sista yang digunakan TNI diantaranya enam Sukhoi jenis Su-30MK2 untuk TNI Angkatan Udara, 17 kendaraan tempur tank amphibi BMP-3F untuk Pasukan Marinir serta helikopter serta enam unit helikopter MI-35P untuk TNI Angkatan Darat.

Okleh karenanya kerjasama tersebut diharapkan tidak sebatas pada pengadaan, namun juga perlu dikembangkan pada penyediaan suku cadang, alih tekhnologi, pemeliharaan dan penyediaan persenjataan, tambah Wamenhan. Wamenhan juga mengingatkan, bahwa dalam proses kerjasama ataupun pengadaan diharapkan tidak melanggar peraturan dan berpegang undang-undang yang berlaku, mengingat pengadaan yang dilaksanakan menggunakan fasilitas state credit atau menggunakan jalur Government to Government (G to G).

Pada kesempatan tersebut Wamenhan didampingi oleh Duta Besar RI untuk Russia, Hammid Awaluddin, Irjen Kemhan, Laksdya TNI Gunadi, Dirjen Kuathan Kemhan Laksda TNI Moch. Jurianto, SE, Kabadan Ranahan Laksda TNI Susilo, Dirjen Renhan Marsda TNI B.S Silaen dan Dirjen Pothan Dr Ir Pos Hutabarat MA. Sementara Anatoly Isaikin didampingi Duta Besar Russia untuk Indonesia Alexander A Ivanov beserta pejabat teras Rosoboronexport. Selesai kunjungan, dilaksanakan tukar menukar cinderamata antara Wamenhan dan Director General Rosoboronexport.

Sumber: DMC

Komitmen Bersama Dalam Pengembangan Kapal Perang


14 Maret 2011, Jakarta -- (Ristek): Kementerian Riset dan Teknologi memprakarsai lahirnya sebuah komitmen dalam bingkai konsorsium pengembangan Kapal Perang. Dengan dukungan dari Kementerian pertahanan dan TNI AL, telah diselenggarakan diskusi untuk membangun sinergi antara lembaga kebijakan, Lembaga penelitian dan akademisi, industri serta pihak user di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI Diponegoro).

Diskusi yang dihadiri oleh Asdep Produktivitas iptek Strategis (Kementerian Riset dan Teknologi), Kementerian Pertahanan, BPPT, Nasdec (National Ship Desain Center) – ITS, PENS, ITB, Ka Div Teknologi PT PAL, Dirut PT Dumas, Dirut PT Terafulk dan Komandan KRI Diponegoro serta Asisten Operasi Panglima Armada Timur –TNI AL menghasilkan sebuah pernyataan bahwa dengan seluruh kekuatan komponen bangsa, layak kalau Kapal Perang dibangun di Indonesia. Sebagai industri Utama PT PAL akan didukung oleh seluruh potensi dalam negeri, yaitu : BPPT, Nasdec ITS, PT Dumas dan PT Terafulk dalam pembangunan konstruksi kapal serta PT LEN, PENS-ITS dan ITB dalam pengembangan CMS.

Komitmen itu terbangun setelah tim melakukan diskusi dengan pihak Komandan angkatan laut dan Asisten operasi Panglima Armatim serta melakukan kunjungan ke dalam KRI Dipenegoro – Sigma Class buatan Damen Schalde Nabal Shipbuilding. Kunjungan dilakukan baik untuk mengamati konstruksi Kapal Perang maupun Sistem Manajemen Kombat.

Diharapkan konsorsium yang ada dapat berkontribusi baik dalam mendukung proyek pengembangan Kapal Perang Kementerian Pertahanan/ TNI AL maupun dalam proses updating dan maintenance Kapal Perang yang telah ada.

Sumber: Ristek

DPR Tolak TNI Beli Pesawat Bekas

(Foto: Boeing)

15 Maret 2011, Jakarta -- (MI.com): Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi menegaskan, pihaknya sejak awal telah menolak pembelian pesawat bekas untuk kepentingan militer oleh TNI dan Kemenhan, yakni dua unit Boeing 737 eks Garuda tanpa persetujuan DPR RI.

"Ketika itu Komisi I mempertanyakan, mana lebih tinggi, standar militer atau standar sipil? Dijawab bahwa standar militer lebih tinggi dan lebih sophisticated dari standar penerbangan sipil biasa," katanya kepada Antara, di Jakarta, Selasa (15/3).

Lanjut Fayakhun Andriadi, dari situlah Komisi I menolak pembelian dua pesawat bekas tersebut.

"Dengan pertimbangan, pesawat itu hendak digunakan untuk kepentingan VIP, VVIP TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan)," tandasnya.

Selain itu, ujarnya, pesawat tersebut akan menjadi cadangan bagi pesawat kepresidenan bila diperlukan mendesak.

"Masa TNI katakanlah akan tempur, pakai pesawat bekas? Di mana letak harga diri dan profesionalisme militer," tanya Legislator yang tengah menuntaskan studi doktor ilmu politiknya di Universitas Indonesia (UI).

Politisi muda Partai Golkar ini menambahkan, berdasar dua pertimbangan tadi, Komisi I DPR RI meminta agar TNI Angkatan Udara (AU) dan Kemenhan lebih baik membeli dua unit pesawat terbaru, daripada 'barang bekas' Garuda.

Jika yang dibeli pesawat baru, menurutnya, umur teknisnya akan lebih lama. "Juga teknologi akan dapat yang terbaru, dan siap operasional berat seperti untuk keperluan tempur, minimal 15 tahun ke depan," katanya.

Sumber: MI.com

Pindad Akan Kembangan Tank Ringan Kanon

Panser kanon produksi PT. PINDAD. (Foto: Berita HanKam)

14 Maret 2011, Bandung -- (bisnis-jabar.com): PT Pindad akan mengembangkan kendaraan tempur tank ringan kanon mulai 2014 untuk memenuhi kebutuhan pertahanan TNI Angkatan Darat.

Dirut Pindad Adik Avianto Soedarsono mengemukakan rencana tersebut merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan panser dan tank TNI AD yang saat ini 90% dipasok produk asing.

Dia mengemukakan model tank ringan kanon akan merujuk pada model tank ringan yang ada di dunia saat ini seperti produk K-21 buatan Doosan Infracore Korea Selatan maupun buatan Turki.

Tank ringan memiliki bobot antara 15 ton-25 ton dengan dua jenis penggerak kendaraan berupa ban atau rantai. Akan tetapi, ada pula tank ringan mancanegara lainnya dengan bobot melebihi 25 ton.

Adik mengatakan harga untuk tank ringan dengan roda penggerak ban sekitar Rp40 miliar. Sedangkan berpenggerak rantai mencapai Rp50 miliar.

“Kami sedang membahas rencana ini dengan pemerintah TNI AD, dan pihak-pihak lainnya. Mudah-mudahan rencana pengembangan ini bisa direalisasikan dalam waktu dekat,” katanya hari ini.

Adik belum merinci kebutuhan TNI AD akan tank ringan. Menurut dia, perusahaan baru melangkah para proses persiapan dan studi.

Sumber: Bisnis Jabar

Pasukan Marinir Alih Tugas di Pulau Terluar


15 Maret 2011, Jakarta -- (Suara Karya): Kapal Perang RI (KRI) Teluk Manado-537 dan KRI Teluk Hading-538 jenis angkut tank (AT) tipe frosch mengangkut dua kompi Marinir dari Pasmar 2 Jakarta, dalam rangka penugasan di pulau-pulau terluar wilayah Indonesia. Pemberangkatan dua KRI ini melalui Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), di Jakarta, Senin (14/3).

Komandan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Jakarta Kolonel Laut (P) Dri Suatmaji, usai apel gabungan di Mako Kolinlamil, mengatakan, KRI Teluk Hading-538 dikomandani Mayor Laut (P) Utjuk Heru S, saat ini bersandar di Tarakan dalam rangka pembekalan ulang logistik dan debarkasi/menurunkan pasukan. Kapal perang ini mengangkut pasukan Marinir setingkat satu kompi yang diberangkatkan dari Pasmar 2 dengan induk pasukan di Brigif 3 Lampung.

"Pasukan Marinir tersebut direncanakan untuk penugasan di wilayah perbatasan dalam rangka pergantian atau rolling pasukan di antaranya di Nunukan dan Tarakan dalam rangka pengamanan di Ambalat," ujarnya.

Sementara, KRI Teluk Manado-537 dikomandani Mayor Laut (P) Nouldy Jan Tangka sandar di Belawan, mengangkut pasukan Marinir dengan kekuatan setingkat satu kompi yang diberangkatkan dari Pasmar 2 dengan induk pasukan dari Brigif 2 Jakarta.

Pasukan dari Brigif 2 Marinir tersebut dtugaskan di wilayah Barat dalam rangka pergantian penugasan antara lain di Pulau Berhala, Dumai, Sabang.

Sumber: Suara Karya

Pembelian Pesawat Langgar Prosedur

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) Marsekal TNI Imam Sufaat (kiri) berbincang dengan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada acara serah terima dua pesawat Boeing 737-400 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (9/3). Pengadaan dua pesawat Boeing 737-400 tersebut merupakan realisasi dari rencana strategis pembangunan kekuatan TNI AU tahun 2010-2014, di mana kedua pesawat tersebut akan dioperasionalkan di Skadron 17 Halim Perdanakusuma. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/nz/11)

15 Maret 2011, Jakarta, Kompas - Pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia oleh TNI Angkatan Udara yang ditandai dengan serah terima pada pekan lalu dinilai melanggar prosedur.

”DPR belum menyetujuinya,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tb Hasanuddin, Senin (14/3). Menurutnya, Komisi I DPR belum mengirimkan kembali Rencana Kerja Anggaran Kementerian dan Lembaga (RAKL) yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan. Pengembalian yang disertai dengan pernyataan persetujuan ini menjadi syarat keluarnya anggaran. ”Nah, ini tahu-tahu sudah dikeluarkan dana dari Kemkeu,” ujar Hasanuddin.

Padahal, untuk dapat mengeluarkan dana, dibutuhkan prosedur keluarnya Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Sementara untuk keluarnya DIPA itu, dibutuhkan persetujuan komisi yang terkait di DPR, dalam hal ini Komisi I atas RAKL.

”Nah, DIPA-nya atas dasar apa? Percuma ada DPR,” kata Hasanuddin.

Pada Rabu (9/3), PT Garuda Indonesia yang diwakili Direktur Utama Emirsyah Satar menyerahkan dua buah pesawat Boeing 737-400 seharga Rp 90 miliar kepada TNI AU yang diwakili Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat.

Kedua pesawat itu akan dioperasikan menjadi pesawat angkut militer VVIP di Halim Perdanakusuma. Pesawat ini juga akan menjadi cadangan pesawat kepresidenan.

Saat itu Emirsyah mengatakan, walau bekas, kedua pesawat tersebut masih memiliki jam terbang dan operasional yang panjang.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Bambang Samoedro mengatakan, program pengadaan untuk pesawat VVIP ini telah diadakan sejak 2009. Saat itu memang sudah direncanakan untuk mengadakan dua pesawat angkut yang bisa digunakan untuk misi khusus serta pemindahan pasukan. Rupanya PT Garuda Indonesia lalu menawarkan dua pesawat Boeing 737-400 yang masih layak operasional untuk pengadaan ini.

”MOU sudah dibuat dari November lalu sehingga seharusnya tak ada masalah,” ujar Bambang.

Rangkaian pengadaan

Menurut Bambang, masih dalam satu rangkaian pengadaan untuk 2010-2014, akan diadakan tiga unit pesawat pengangkut untuk menggantikan Fokker 28.

”Jadi, Boeing 737-400 ini bukan untuk menggantikan Fokker walaupun masih satu rangkaian pengadaan,” katanya.

Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Moch Jurianto mengatakan, seharusnya sudah tidak ada masalah dalam persetujuan anggaran dalam pembelian pesawat dari Garuda Indonesia tersebut.

Pembelian Pesawat dari Garuda Seusai Aturan

Kementerian Pertahanan menyatakan, pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari Maskapai Garuda Indonesia oleh TNI Angkatan Udara sudah sesuai aturan yang berlaku.

"Tidak ada aturan yang dilanggar sama sekali dalam pembelian dua pesawat eks Garuda Indonesia," kata Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herriyanto di Jakarta, Senin (14/3).

Ia mengemukakan, pengadaan dua pesawat tersebut sesuai dengan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) yang dikeluarkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berdasar UU APBN 2011 yang disetujui pula oleh DPR.

"Dalam DIPA dan UU ABPN 2011 sudah tercantum Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) yang tentunya otomatis diketahui oleh DPR. Dan lagi, RKAKL itu diketok persetujuannya Oktober dan dijalankan pada awal tahun (Januari-red), jadi tidak ada aturan yang dilanggar," kata Eris menegaskan.

Maskapai Garuda Indonesia menjual dua pesawat Boeing 737-400 kepada TNI Angkatan Udara sesuai nota kesepahaman antara kedua pihak pada 8 November 2010, dengan harga Rp90 miliar.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin mengatakan, pembelian pesawat Garuda tipe B-737-400 oleh Kementerian Pertahanan RI menyalahi aturan. "Itu menyalahi aturan, sebab pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah melakukan pembelian sebelum diterbitkannya Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL)," kata politisi PDI Perjuangan itu.

Tubagus Hasanuddin yang purnawirawan jenderal berbintang dua itu juga mengungkapkan, pembelian pesawat itu hanya berdasarkan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) yang dikeluarkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Padahal DIPA itu baru akan diterbitkan bila RKAKL-nya telah disetujui dan ditandatangani oleh DPR RI," tandasnya.

Dalam kaitan ini, menurutnya, Menteri Keuangan (Menkeu) pun telah melampaui kewenangannya. "Sebab, mestinya DIPA diterbitkan oleh Menkeu setelah RKAKL disetujui Komisi di DPR RI," ujarnya.

Dalam hal membeli pesawat Garuda itu, demikian Tubagus Hasanuddin, RKAKL-nya saja belum final di DPR.

KSAU Terbang Perdana dengan Boeing 737-400

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat Boeing 737-400 milik TNI Angkatan Udara yang baru saja dibeli dari maskapai Garuda Indonesia.

Penerbangan perdana menggunakan pesawat Boeing 737-400 itu terkait kunjungan kerjanya ke Merauke, Papua, mulai Selasa (15/3) hingga Rabu (16/3).

Sebelum tinggal landas dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, KSAU menyempatkan diri untuk melihat keseluruhan interior kabin pesawat yang masih dalam bentuk aslinya. Bahkan di setiap kursinya masih terdapat flight magazine Garuda Indonesia, begitu pula dengan petunjuk keselamatan penerbangannya yang masih berlogo Garuda Indonesia.

"Masih bagus semua kondisinya, dan ini masih bisa dimodifikasi sebagai pesawat angkut VIP/VVIP TNI Angkatan Udara maupun pesawat angkut pasukan," kata KSAU.

Dalam kesempatan itu, ia sempat menyesalkan pernyataan DPR yang mengatakan pengadaan dua pesawat Boeing 737-400 TNI Angkatan Udara yang dibeli dari maskapai Garuda Indonesia menyalahi aturan. "Semua sudah sesuai aturan, kok, masih dipertanyakan. Ini kan sesuai DIPA dan APBN 2011 dan di sana sudah tercantum rancangan anggaran," katanya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Merauke, KSAU mengundang Ketua Komisi I dan beberapa anggota Komisi I DPR. Namun hingga mendekati batas akhir waktu tinggal landas Ketua Komisi I dan beberapa orang anggota Komisi I tidak tampak tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Pesawat Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7305 merupakan salah satu dari dua pesawat sejenis yang dibeli TNI AU dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia sesuai nota kesepahaman kedua pihak pada 8 November 2010.

Kedua pesawat Boeing 737-400 itu diserahkan secara resmi dari PT Garuda Indonesia (Persero) kepada TNI AU pada 9 Maret 2011 dan dioperasionalkan Skuadron Udara 17 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Dalam penerbangan perdananya sebagai pesawat VIP/VVIP TNI AU, Boeing 737-400 diterbangkan pilot Letkol Pnb Aditya Permana dengan co-pilot Letkol Pnb Ronald Siregar yang sehari-hari menjabat Komandan Skuadron 17 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pesawat menempuh rute Jakarta-Makassar-Timika.

Pada hari kedua pesawat akan terbang dengan rute Timika-Merauke-Kupang-Jakarta.

Sumber: KOMPAS/Media Indonesia