Saturday, August 14, 2010

MiG-31 AU Rusia Selesai Diupgrade

MiG-31 interceptor. (Foto: RIA Novosti/Skrynnikov)

14 Agustus 2010 –- Angkatan Udara menyelesaikan program modifikasi jet tempur MiG-31 interceptor menjadi MiG-31BM standar, ucap KASAU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin, Jumat (13/8).

MiG-31BM dilengkapi avionic yang diupgrade dan digital datalink, radar baru, tampilan layar kokpit berwarna, computer lebih canggih serta mampu membawa rudal udara-udara baru dan rudal udara-permukaan seperti AS-17 Krypton.

MiG-31BM dapat membawa rudal udara-udara Vympel R-73 (AA-11 Archer), R-77 (AA-12 Adder), R-33S (upgrade AA-9 Amos) dan the K-37M (AA-X-13 Arrow).

AU Rusia menerima juga pesawat tempur baru, termasuk Su-34, SU-35, jet latih Yak-130 dan helicopter Ka-52 dan Mi-38.

RIA Novosti/Berita HanKam

Ada Kesepakatan Antarprajurit Tunggu Keutuhan ULP

Pulau Nipah hasil reklamasi di foto dari udara oleh pesawat Casa TNI AL. Pulau Nipah nyaris tenggelam karena penambang pasir untuk proyek reklamasi pantai Singapura. Ekspor pasir laut dihentikan oleh pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri. (Foto: puspenerbal)

14 Agustus 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Djoko Santoso menyatakan, uang lauk pauk (ULP) Rp 23.000 yang diterima prajurit TNI penjaga pulau-pulau terdepan di Sumatera Utara, atas kesepakatan para prajurit itu sendiri sambil menunggu realisasi keutuhan ULP dari pemerintah.

Sebab itu, Purnomo maupun Djoko menepis tudingan adanya penyimpangan ULP prajurit TNI, seperti yang dipublikasi oleh Komisi I DPR.

Pernyataan itu disampaikan Purnomo dan Djoko dalam jumpa pers usai penyerahan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49/2010, dan Peratura Menteri Pertahanan (Permenhan) Nomor 10/2010 di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Jakarta, Jumat (13/8).

Penyerahan perpres dan permenhan diserahkan langsung oleh Purnomo kepada Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso sekaligus penyerahan Bendera Merah-Putih kepada perwakilan daerah perbatasan.

Turut menyaksikan, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Manoarfa, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono, KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat dan Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman.

Menhan menjelaskan, temuan Komisi I tentang dugaan pemotongan ULP yang diterima prajurit yang bertugas di Pulau Nipah Sumatera Utara, bukan pemotongan. Pengurangan ULP terjadi karena ada kesepakatan antarprajurit yang sedang bertugas di pulau itu.

Ia menjelaskan, data awal terkait jumlah prajurit yang bertugas di Pulau Nipah sebanyak 34 orang. Namun, kini jumlah prajurit yang bertugas di pulau itu sebayak 90 orang.

"Ada peningkatan jumlah prajurit. Karena itu, jatah yang seharusnya untuk 34 orang harus dibagi-bagikan menjadi 90 orang. Misalnya, rotinya untuk 35 orang kemudian dibagi menjadi 90 orang. Ya jelas berkurang," ujar Purnomo.

Menhan mengakui adanya keterlambatan proses pengajuan dari TNI tentang penambahan jumlah prajurit yang bertugas di Pulau Nipah.

"Karena apa, proses berjalan tapi pengajuan tambahan belum. Kalau dioperasi lapangan mendadak. Misalnya ada penambahan pasukan," ujarnya.

Paket operasi

Sementara itu, Panglima TNI menegaskan, pengurangan ULP prajurit Marinir TNI AL di Pulau Nipah berkurang bukan karena kebijakan pemotongan,

"Ini masalah paket operasi terkait penguatan pasukan, yang semula 34 orang jadi 90 orang. Jadi dana operasi yang biasanya untuk 34 orang dibagi ke 90 orang," katanya.

Keputusan penambahan jumlah pasukan dari 34 menjadi 90 orang, berlangsung pada Januari 2010. Namun cepatnya pengiriman pasukan Marinir tambahan ke Pulau Nipah, Sumut, itu tidak diiringi dengan penambahan paket dana operasional di mana ULP merupakan salah satu komponennya.

"Dana operasionalnya waktu itu belum ada. Jadi itu (pengurangan jatah UPL-Red) merupakan kesepakatan antar prajurit di lapangan," ujar Djoko.

Ihwal berkurangnya ULP, tutur Djoko, berawal dari kunjungan kerja Komisi I DPR ke Pulau Nipah pekan lalu. Berdasar hasil dialog mereka dengan prajurit, diketahui bahwa nilai UPL yang diterima hanya Rp 23 ribu dari yang semestinya Rp 35 ribu per prajurit per hari.

Sementara itu, Hayono Isman menyayangkan tidak adanya penjelasan lebih detail tentang penyebab keterlambatan penambahan dana operasi. Terlebih keterlambatan itu berlangsung sampi 8 bulan lamanya. "Kita harap TNI segera menyelesaikan masalah itu. Dana UPL yang belum dibayar harus segera diganti sekaligus," ujarnya.

Sementara itu, prajurit Marinir yang tak mau disebutkan namanya yang pernah bertugas di kawasan perbatasan Kalimantan Barat mengakui, pengurangan uang tunjangan prajurit bukan kejadian baru. Pemotongan tunjangan operasi bisa mencapai Rp 5.000-Rp 10.000 dari uang tunjangan perhari.

Suara Karya

Friday, August 13, 2010

KRI Surabaya Dukung Upacara Proklamasi di Pulau Terluar


13 Agustus 2010, Surabaya -- KRI Surabaya (SBY) dengan nomor lambung 591 merupakan Kapal Perang RI (KRI) jenis Landing Platform Dock (LPD) yang dilengkapi dengan pesawat helikopter.

Beberapa pekan yang lalu telah mendukung kegiatan Sail Banda 2010, saat ini kapal perang yang masuk jajaran unsur Satuan Kapal Amfibi Komando Armada RI Kawasan Timur (Satfib Koarmatim) tersebut dipersiapkan untuk mendukung lanjutan rangkaian kegiatan Sail Banda 2010, berupa peringatan detik-detik proklamasi HUT Kemerdekaan RI yang ke 65 di Pulau Kisar, merupakan wilayah Propinsi Maluku sebagai pulau terluar yang berbatasan dengan Negara Timor Leste. Sekitar 500 personel yang terdiri dari TNI, Polri dan PNS menjadi peserta upacara HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2010, akan diberangkatkan pada tanggal 14 Agustus 2010 menggunakan KRI Surabaya-591 dari Dermaga Irian Halong Lantamal IX Ambon.

Perjalanan ke Pulau Kisar sejauh 285 mil akan ditempuh selama 1 hari 1 malam. KRI Surabaya-591 dikomandani Letkol Laut (P) Ali Triswanto dengan jumlah ABK sebanyak 134 orang. Selama di Pulau Kisar, KRI Surabaya-591 sekaligus berfungsi sebagai penginapan terapung. KRI Surabaya-591 sebelumnya telah tercatat mengikuti beberapa kegiatan operasi antara lain Operasi penyeberangan Korsel – Indonesia pada tahun 2007, Latihan Operasi Laut Gabungan TNI tahun 2007, Uji Coba Penembakan Rudal C – 802, Armada Jaya XXVII-A/2008, Latihan Parsial VI tahun 2008, Latihan Gabungan TNI tahun 2008, Latihan GKK Satfibarmatim tahun 2009, Exercise New Horizon tahun 2009, International Fleet Review tahun 2009, Armada Jaya XXVIII/2009 dan Pengamanan Presiden RI di Kupang tahun 2010.

Dispenarmatim

TNI AL Tambah Kekuatan Pasukan Khususnya

Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Dankobangdikal), Laksamana Muda TNI Sumartono (2 kiri) memberikan ucapan selamat kepada mantan siswa dari Pendidikan Intai Amfibi (Diktaifib) usai upacara penutupan Diktaifib XXXVI dan Dikpaska XXXIII di Kobangdikal Surabaya, Jumat (13/8). Pendidikan dan latihan khusus yang berlangsung selama kurang lebih 10 bulan ini diikuti 20 siswa pasukan katak dan 33 siswa intai amfibi yang bertujuan untuk membentuk prajurit yang handal serta mempunyai kemampuan khusus dan naluri tempur dalam setiap operasi yang dilaksanakan oleh TNI AL dalam mengamankan keutuhan NKRI. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/hp/10)

13 Agustus 2010, Surabaya -- Pertengahan tahun 2010 ini, TNI AL kembali mendapat perkuatan jumlah pasukan Khususnya. Pasukan khusus kali ini berasal dari pasukan Intai Amfibi (Taifib) dan Pasukan Katak (Paska) yang berhasil menyelesaikan pendidikan selama 10 bulan di Sekolah Khusus Pusdik Infantri Marinir (Pusdikifmar) dan Sekolah Pasukan Katak (Sepaska) Kodikopsla, Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal).

Komandan Kobangdikal Laksda TNI Sumartono melantik dan meresmikan ke 53 orang Pasukan Khusus TNI AL tersebut, Jumat (13/8) pagi di Lapangan Laut Seram, Staf Mako Lama Kobangdikal. Hadir dalam kesempatan tersebut Wadan Kobangdikal Brigjen TNI Marinir P.Verry Kunto.G,SH, Komandan Kodikopsla Laksma TNI Totok Permanto, Dankodikmar Kolonel Marinir Purwadi serta pejabat teras Kobangdikal lainnya.

Dari 53 orang pasukan khusus tersebut, 33 orang diantaranya adalah mantan siswa Diktaifib angkatan ke-36, sementara itu 20 orang lainnya adalah mantan siswa Dikspaska angkatan ke-33. Pasukan Taifib baru itu lima orang diantaranya berpangkat perwira, 10 bintara dan 18 orang sisanya dari strata tamtama. Sementara itu Pasukan Katak, tujuh orang diantaranya perwira, empat orang bintara dan sembilan orang tamtama.

Menurut Dankobangdikal, menjadi seorang prajurit handan berkualifikasi khusus untuk diterjunkan di medan yang khusus, merupakan perjuangan yang sangat berat dan melelahkan, seperti halnya Taifib dan Paska ini,

”Selamat, kalian telah berhasil lalui pendidkan berat ini, Brevet Paska dan Trimedia yang membanggakan itu adalah sesuatu yang tidak semua prajurit bisa mendapatkannya, hanya prajurit pilihan seperti kalianlah yang bisa menyandang brevet tersebut, ” ucap orang nomor satu dijajaran Kobangdikal ini.

Sebagai seorang pasukan khusus TNI AL, lanjut laksamana bintang dua ini, harus menghayati tugas pokok dan fungsi pasukan khusus, karena tugas yang diberikan adalah amanah yang harus dilaksanakan secara professional. Hanya dengan sikap, perilaku disiplin, bermoral dan profesional TNI AL akan bergerak maju pada sosok jati diri sejati menuju TNI AL yang besar, kuat dan professional.

“Asahlah terus kemampuan yang telah dimiliki dengan latihah yang bertingkat dan berlanjut, jangan malas karena itu biang dari kehancuran organisasi,” tegasnya lagi.

Kobangdikal

Thursday, August 12, 2010

Asops Kasal Tutup Latpratugas Unsur KRI Satgas Kolinlamil

12 Agustus 2010, Jakarta -- Asisten Operasi Kepala Staf angkatan Laut (Asops Kasal), Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto menutup Latihan Pratugas Kolinlamil tahun anggaran 2010 di Gedung Laut Natuna, Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Upacara penutupan Latpratugas dengan Irup Asops Kasal Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto dihadiri Panglima Kolinlamil Laksda TNI Slamet Yulistiyono, Pangarmabar Laksda TNI Marsetio, MM, Wadan seskoal Laksma TNI Widhiarto dan Kaskolinlamil Laksma TNI Arie H. Sembiring serta para pejabat teras Kolinlamil.

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asops Kasal Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto antara lain mengatakan bahwa terwujudnya kemampuan dan keterampilan dalam tugas hanya dapat dicapai dengan pendidikan dan latihan yang terencana, berlanjut, berkesinambungan dan terukur.

Lebih lanjut penekanan yang disampaikan oleh Panglima TNI melalui amanatnya meliputi pengalaman selama latihan agar dijadikan sebagai bekal menjalani tugas selanjutnya, agar terus meningkatkan ilmu pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan supaya menjadi prajurit yang profesional serta menjalani tugas yang dihadapi dengan semangat profesionalisme yang tinggi dan pantang menyerah.

Libatkan 7 kapal perang

Pelaksanaan Latihan Pratugas Unsur KRI Satgas Kolinlamil TA 2010 dalam tahap manuvra lapangan yang berlangsung sampai dengan tanggal 10 Agustus 2010 di Perairan Laut Jawa melibatkan 7 unsur KRI dengan kekuatan personel sedikitnya 1862 orang dengan Komandan Satgas unsur laut Kolonel Laut (P) Dri Suatmaji yang sehari-hari menjabat Komandan Satuan Lintas Laut (Dansatlinlamil ) Jakarta.

Peserta latihan tersebut terdiri dari Tim Staf Perancang latihan (SPL), penilai, pelaku dan pendukung latihan dari Komando Lintas laut Militer dan pasukan dari beberapa satuan diantaranya 2 kompi Satuan Marinir dan satu Kompi Kavaleri.

Sedangkan unsur KRI jajaran Kolinlamil yang dilibatkan dalam kegiatan manuvra lapangan (manlap) meliputi 7 KRI diantaranya 1 KRI jenis Landing Ship Tank (LST), 2 KRI jenis LST tipe Frosch, 2 KRI tipe Bantuan Angkut Personel (BAP) dan 2 KRI jenis Bantuan Umum (BU).

Selama kegiatan manuvra lapangan di Perairan Laut Jawa dengan melibatkan tujuh unsur KRI jajaran Kolinlamil. Sedangkan untuk kegiatan latihan embarkasi /debarkasi pasukan dengan melibatkan dua kompi pasukan Marinir serta satu kompi Kavaleri direncanakan dilaksanakan di Tanjung Pasir Propinsi Banten.

Dalam kegiatan Manuvra lapangan (manlap) dilaksanakan kegiatan diantaranya manuvra taktis mulai dari keluar pangkalan saat melewati medan ranjau dan berbagai peran tempur dalam menghadapi berbagai kemungkinan serangan udara lawan maupun latihan penembakan selama lintas laut di Perairan Laut Jawa, latihan SAR di laut untuk menyelamatkan ABK yang jatuh ke laut sampai dengan embarkasi pasukan dan ranpur di Tanjung Pasir Propinsi Banten.

Sedangkan pelaksanaan manuvra lapangan, para perwira pelaku peserta latihan diberikan pembekalan materi latihan yang akan dikembangkan diantaranya Rule Of engagement (Roe) atau dikenal dengan aturan pelibatan,Hukum Humaniter dan HAM, pemahaman analisa daerah operasi.

Selain itu materi pemahaman dan pendalaman operasi pendaratan administrasi. Demikian pula dengan latihan tempur diantaranya prosedur melewati medan ranjau, AArofek. Latihan pertahanan pangkalan serta lawan sabotase bawah air (LSBA) dan latihan bantuan administrasi dan logistik.

Dispenkolinlamil/Pos Kota

Asops Panglima TNI Buka Latihan Penyiapan Satgas Maritim


12 Agustus 2010, Surabaya -- Asops Panglima TNI Mayjen TNI Soehartono Suratman membuka Latihan Penyiapan Satgas Maritim TNI Konga XXVIII.B UNIFIL (United Nation Interm Force In Lebanon) 2010 di Pusat Latihan Operasi Laut Kolatarmatim Ujung Surabaya, Kamis (12/8).

Kegiatan tersebut dihadiri Kapuskes TNI Marsda TNI Mariono, Asops Kasal Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto, Aspers Kasal Laksamana Muda TNI Bambang Budianto, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto, KA PMPP Brigjen TNI I Gede Sumertha, Wakapuspen TNI Brigjen TNI Setyo Sularso dan para ABK (Anak Buah Kapal) KRI Frans Kaisiepo-368 serta personel pendukung lainnya yang tergabung dalam Satgas Maritim TNI Konga XXVIII.B Unifil.

KRI Frans Kaisiepo-368 dari jenis Sigma Klas Korvet Belanda yang masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Timur (Satkorarmatim) ini adalah yang ke dua kali ikut andil mengemban misi perdamaian dunia dalam Satuan Tugas (satgas) Maritime Task Force (MTF) Konga XXVIII.B Unifil.

Sebelumnya tugas kemanusiaan ini dilakukan oleh KRI Diponegoro-365. Kapal perang Indonesia ini nantinya akan bergabung dengan kapal perang angkatan laut negara lainnya yang tergabung dalam Gugus Tugas MTF.

Kapal ini rencananya akan meninggalkan pangkalan Surabaya pada akhir bulan Agustus dan bertugas selama 8 bulan, dengan rincian 2 bulan pelayaran berangkat dan pulang serta 6 bulan berada di tempat lokasi. Rute yang dilewati selama pelayaran menuju Lebanon, yaitu Surabaya-Jakarta-Belawan-Cochin-Salalah-Port Said-Beirut. KRI Frans Kaisiepo-368 yang dikomandani Letkol Laut (P) Wasis Priyono ini dalam tugasnya nanti akan membawa 1 buah helikopter BO-105 dengan jumlah personel total 100 orang, dengan rincian ABK 88 orang, pilot dan Crew Heli 7 orang, dokter dan paramedis 2 orang, Kopaska 1 orang dan penyelam 2 orang.

Dalam amanat Asops Panglima TNI mengatakan, bahwa pengiriman MTF yang kedua kalinya ke Unifil Lebanon ini merupakan bukti meningkatnya kepercayaan PBB terhadap TNI dalam perannya menjaga perdamaian dunia.

“Kita semua harus merasa bangga bahwa Kontingen Garuda dimanapun mereka ditempatkan, telah memperoleh pengakuan positif dan dinilai baik oleh dunia internasional. Saya berharap dengan adanya latihan ini, kalian juga akan mampu melaksanakan penugasan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh rekan-rekan kalian dalam berbagai satgas sebelumnya. Harapan ini harus kalian pertanggungjawabkan karena menyangkut citra Negara Republik Indonesia di mata dunia internasional,” kata Asops Panglima TNI menegaskan.

Dispenarmatim

TNI AU Incar 16 T-50 Golden Eagle Buatan Korsel

T-50 Golden Eagle terbang dalam formasi. (Foto: KAI)

12 Agustus 2010 –- Indonesia memasukan jet tempur latih T-50 Golden Eagle dalam salah satu dari tiga kandidat dalam program pembelian jet tempur latih, diumumkan DAPA (Defense Acquisition Program Administration) kutip harian Korea Selatan Korean Times, Senin (9/8).

T-50 Golden Eagle akan bersaing dengan jet tempur latih buatan Rusia Yak-130 dan buatan Ceko L-159B ujar pejabat DAPA. TNI AU berencana membeli 16 jet tempur latih.
Jet tempur latih T-50 dikembangkan hasil kerjasama Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin dari Amerika Serikat.

T-50 dikalahkan M-346 Master buatan Alenia Aermacchi Italia dalam kontes di Uni Emirat Arab dan Singapura.

Pada Juli lalu, delegasi pemerintah Korsel berkunjung ke Indonesia guna membicarakan pembelian T-50. Kedatangan Menteri Pertahanan Korsel Kim Tae-Young ke Indonesia, Rabu (11/8), salah satu tujuannya menawarkan T-50 ke Indonesia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) didampingi Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae-Young (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan usai mengadakan pertemuan di Jakarta, Rabu (11/8). Pertemuan bilateral kedua pihak membahas mengenai peningkatan kerjasama dalam bidang industri pertahanan. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/hp/10)

Indonesai membeli jet latih KT-1 buatan KAI pada 2001 dan 2005, salah satu pesawat jatuh di bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali saat menggelar joy flight pada bulan lalu. Indonesia dan Korsel telah menandatangani kerjasama pengembangan jet tempur KF-X. Pembangunan pesawat akan dimulai 2012 dan diharapkan 2020 prototipe pertama sudah diuji coba. Indonesia direncanakan akan menerima 50 pesawat, sedangkan Korsel 100 pesawat.

T-50 Golden Eagle jet tempur bermesin tunggal dilengkapi sistem data penerbangan dan pelatihan darat modern, membantu para pilot baru transisi ke jet tempur generasi 5 dan 4.5 dengan mudah.

Pesawat mempunyai kecepatan maksimal 1,5 Mach dan dibanderol sekitar 25 juta dolar perunit.

T-50 Golden Eagle dalam grafis.(Grafis: KAI)

Pemerintah Korsel mendukung penuh penjualan T-50 ke luar negeri, guna menjadi eksportir senjata utama di dunia dan mengairahkan ekonomi Korsel.

Pemerintah Korsel menargetkan penjualan senjata mencapai 3 milyar dolar hingga 2012, pemerintah dan industri pertahanan sepakat keberhasilan penjualan T-50 salah satu bagian terpenting agar tercapai target tersebut.

T-50 sedang berkompetisi dengan M-346 di Israel, Polandia dan Iraq. Jika Pemerintah Indonesia memutuskan membeli T-50, menjadikan negara pertama diluar Korsel yang mengoperasikan T-50.

Korea Times/Berita HanKam

Jika Amerika mendikte


12 Agustus 2010, Jakarta - Ketua Komisi Pertahanan DPR, Kemal Azis Stamboel mengatakan jika memang ada persyaratan yang diajukan dalam kerjasama militer antara Amerika dan Indonesia, pemerintah disarankan untuk menolaknya. "Jika mendikte, bilang saja No," ujarnya kepada TEMPO, Kamis (12/8).

Menurut Kemal, saat Menteri Pertahanan Amerika, Robert Gates, berkunjung ke Indonesia, 22 Juli lalu, menyebutkan, bahwa tidak ada syarat apapun dalam kerjasama ini. Tapi, Robert menjelaskan, adanya perbedaan sikap antara pemerintahan Amerika dengan Kongres Amerika soal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Kopassus, kata dia, masih dipertanyakan soal pelanggaran Hak Asasi Manusia yang pernah didugakan kepada kesatuan itu. "Kongres masih menilai negatif pasukan elit kita," ujarnya. Namun, kata Kemal, menteri pertahanan AS akan menyelesaikan hal itu di internal Amerika.

Seperti diketahui, hubungan kerjasama militer antara dua pasukan elit Amerika Serikat dengan Indonesia kembali terjalin. Namun langkah itu akan mengalami hambatan karena unit Kopassus di masa lalu dinilai AS terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia, termasuk di Timor Timur. Beberapa orang di Kongres AS telah menentang untuk merangkul Kopassus terkait masa lalunya itu.

Amerika Serikat memutus hubungan kerjasama dengan Kopassus pada tahun 1998. Itu diputuskan berdasarkan hukum AS yang melarang kerja sama dengan tentara asing yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia. Kopassus oleh AS dituduh melakukan pelanggaran di Timor Timur dan Aceh pada masa Presiden Soeharto tahun 1990-an.

Kemal mengatakan kerjasama militer akan berbentuk banyak paket pelatihan yang akan diikuti oleh kedua pasukan elit. "Tinggal tunggu waktunya," ujarnya.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Samsoeddin menegaskan, pihaknya tidak mau didikte oleh pihak manapun yang ingin menjalin kerja sama militer dengan Indonesia. Dalam kerja sama itu tidak ada persyaratan apapun yang diminta pemerintah Amerika, "Termasuk soal kopassus," ujarnya.

TEMPO Interaktif

Kasau: T-50 Lebih Potensial Gantikan MK-53

T-50 Golden Eagle. (Foto: KAI)

12 Agustus 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI Imam Sufaat, mengatakan bahwa pesawat T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan, lebih potensial menggantikan pesawat Hawk MK-53 yang akan habis masa pakainya pada 2011.

"Saat ini memang ada tiga jenis pesawat yang lolos seleksi untuk menggantikan MK-53 yakni T-50 Golden Eagle (Korea Selatan), Yakovlev Yak 130 (Rusia) dan Aero L159 Alca (Ceko)," katanya, ketika dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Namun, lanjut Imam, ada beberapa pertimbangan untuk memastikan T-50 sebagai pengganti MK-53.

"T-50 adalah pesawat generasi keempat Korea Selatan dengan berbagai keunggulan muktahir, yang tidak lagi dimiliki L-159," ungkapnya.

Sedangkan, Yak 130 juga potensial menggantikan MK-53 namun prosedur dan mekanisme pembelian dari Rusia terkadang sangat ketat.

Tak hanya itu, lanjut Kasau, sudah ada kesepakatan antara RI dan Korea Selatan untuk bekerja sama dalam industri pertahanan seperti produksi bersama pesawat T-50.

"Jadi ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan T-50. Selain, merupakan pesawat generasi keempat dengan teknologi muktahir juga ada kesimbungan, melalui produksi bersama tersebut," tutur Imam.

Namun, lanjut dia, semua kemungkinan masih dibahas mendalam. "Kami tetap ajukan tiga jenis pesawat pengganti MK-53, agar dibahas mendalam untuk segera diputuskan Kementerian Pertahanan," katanya menambahkan.

ANTARA News

Tiga Sukhoi Tiba September 2010


12 Agustus 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengungkapkan, tiga unit pesawat jet tempur Sukhoi yang dipesan dari Rusia, tiba di tanah air pada awal September 2010.

"Jadwal tersebut lebih cepat dari semula 11 September 2010. Namun, datangnya bertahap tidak sekaligus," katanya, ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, tiga unit pesawat Sukhoi SU-27SKM itu dua diantaranya tiba pada awal September, dan satu unit lagi tiba pada minggu ketiga.

"Pesawat akan langsung mendarat di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, untuk dirakit dan diuji terbang," ungkap Imam.

Dengan begitu, lanjut dia, tujuh pesawat Sukhoi yang baru diharapkan siap untuk tampil pada peringatan HUT ke-65 TNI pada 5 Oktober mendatang, dalam formasi terbang lintas.

Pada sejak 2003 Indonesia telah memiliki tujuh pesawat tempur Sukhoi yang diadakan dari Rusia. Pada 2003 Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007 setelah perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur tersebut kepada Indonesia senilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009.

ANTARA News

Pertempuran di Banten

Sejumlah anggota Pas Khas TNI Angkatan Udara yang baru diterjunkan di areal pesawahan, bergerak untuk merebut Pangkalan Udara Gorda dalam latihan antar satuan dengan sandi "Jalak Sakti 2010", di Serang, Banten, Senin (9/8). Dalam latihan gabungan tersebut disimulasikan proses pembebasan Lanud Gorda Banten dari pendudukan militer musuh. (Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman/Koz/ama/10)

10 Agustus 2010, Serang -- Tujuh pesawat tempur dikerahkan TNI Angkatan Udara (AU) untuk mengamankan wilayah Provinsi Banten dari serangan musuh yang datang dari Selat Sunda.

Lalu, tujuh pesawat jenis Hawk 100/200 meluncurkan roket ke target sasaran musuh, dan seketika itu terdengarlah bunyi ledakan keras.

Kepulan asap dari tiga titik terlihat membumbung tinggi. Pesawat buatan Inggris yang mulai dipakai sejak 1996 itu langsung menuju pangkalan Halim Perdana Kusumah, Jakarta, usai menjatuhkan beberapa roket antitank jenis FFAR.

Beberapa menit kemudian muncul Hercules TNI AU C-130 dari arah Timur lokasi yang menerjunkan puluhan pasukan komando dari ketinggian 900-1.200 feet AGL atau 300-400 meter dari permukaan tanah. Pasukan yang ditugaskan untuk merebut pangkalan dari musuh ini bergerak ke lokasi musuh. Pertempuran sengit terjadi dan dimenangkan oleh TNI AU. Pangkalan udara Gorda, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, berhasil dikuasai kembali oleh TNI AU.

Meski sudah dikuasai tapi TNI AU masih waspada dengan melakukan SAR Tempur dengan mengirimkan dua helikopter jenis NAS-332 Superpuma H-3213 dengan Kapten Pilot Mayor PNB Kargono dan Kapten PNB Risdiyanto, sedangkan helikopter jenis SA-330 PUMA HT-3315 dengan Kapten Pilot Mayor PNB Hilman dan Lettu PNB Imanuel.

Opersi SAR Tempur adalah operasi pertolongan terhadap personel atau meteriil yang bernilai taktis dan strategis di daerah tempur. Tujuannya meningkatkan moril, semangat pasukan, dan menghindari jatuhnya informasi intelijen ke tangan musuh.

Demikian rangkaian aksi penembakan dan perebutan pangkalan melalui serangan udara langsung (SUL) dalam Latihan Antar-Satuan Jalak Sakti Tahun 2010 TNI AU untuk Wilayah Indonesia Barat di Pangkalan TNI AU, Kecamatan Cikande, Senin (9/8) sekira pukul 09.00 WIB. Latihan disaksikan Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda Eddy Suyanto. Selain itu hadir pula Kapolda Brigjen Pol Agus Kusnadi, Wakil Gubernur HM Masduki, Bupati Serang Taufik Nuriman, dan Ketua DPRD Kabupaten Serang Fahmi Hakim.

Menurut Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda Eddy Suyanto, latihan Jalak Sakti dilakukan rutin setiap tahun oleh TNI AU I untuk mengamankan wilayah Indonesia bagian Barat termasuk Banten. “Pangkalan Gorda ini menjadi pangkalan alternatif TNI AU I jika pangkalan Halim Perdana Kusumah dikuasai musuh,” kata Marsekal Muda Eddy Suyanto kepada wartawan usai menutup acara latihan.

Terkait kesiapan pesawat tempur yang dimiliki TNI AU, Eddy mengatakan bahwa kondisi pesawat tempur sebagian sudah tidak layak pakai karena usianya sudah tua. “Sebagian peralatan kita sudah termakan usia jadi butuh peremajaan dan itu sudah kita usulkan,” kata Eddy.

Ketika ditanya berapa jumlah ideal pesawat yang harus dimiliki TNI AU, Eddy tidak menyebutkan karena disesuaikan dengan kebutuhan. “Kalau jumlah ideal tergantung kebutuhan saja,” kata Eddy.

Pada bagian lain, warga di sekitar pusat latihan berbondong-bondong menonton aksi latihan pasukan TNI AU dari kejauhan. Warga bisa melihat dua helikopter yang berada di tengah sawah sebelum melakukan atraksi latihan.

Pangkalan Gorda TNI AU memiliki luas kurang lebih 700 hektare dan sebagian lahan digarap oleh warga sekitar untuk ditanami padi. “Kita kerja sama sama dengan warga,” ujarnya.

Radar Banten

Komisi I Temukan Pemotongan ULP Prajurit


12 Agustus 2010, Jakarta -- Komisi I DPR menemukan kasus dugaan pemotongan Uang Lauk Pauk bagi prajurit yang bertugas di beberapa lokasi, terutama di pulau terdepan wilayah Indonesia.

Temuan itu dikemukakan Wakil Ketua Wakil Ketua Komisi I Hayono Isman yang disampaikan di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis.

Temuan itu diperoleh Komisi I saat melakukan kunjungan ke daerah dalam rangka masa reses. Kunjungan kerja Komisi I juga dilakukan ke Kodam I/Bukit Barisan, Lantamal I Belawan, Lanud dan Pangkosek III Medan, Sumatera Utara.

Terkait temuan itu, Hayono mengemukakan, pihaknya akan memanggil Panglima TNI Djoko Santoso untuk mempertanyakan adanya indikasi penyimpangan terhadap Uang Lauk Pauk (ULP) diterima oleh prajurit penjaga pulau-pulau terdepan.

Hayono Isman mengatakan, berdasarkan temuan dan informasi dari Komandan Lantamal di Belawan bahwa ULP yang diterima prajurit marinir di pulau-pulau terdepan hanya Rp23 ribu, yang seharusnya mereka terima adalah Rp40 ribu.

"Ini akan mejadi masukan yang akan kita tanyakan kepada Panglima TNI," kata Hayono.

Politisi Partai Demokrat itu menambahkan, Komisi I DPR telah memperjuangkan peningkatan tunjangan prajurit di daerah perbatasan ini. Namun apa yang diperjuangkan oleh Komisi I belum sampai ke tangan prajurit

"Ini ada penyimpangan dan perlu ada klarifikasi dari Mabes TNI," kata Hayono.

Terkait dengan Konsep Minimum Essential Force Kementerian Pertahanan, Komisi I DPR RI berharap TNI lebih meningkatkan profesionalitas dalam menjalankan tugas dan fungsinya menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Menurut Hayono Isman, Konsep Minimum Essential Force Kementerian Pertahanan dikarenakan keterbatasan anggaran.

"Dalam 10 tahun belakangan, anggaran TNI sangat rendah, baik untuk alutsista maupun kesejahteraan prajurit. Prajuit TNI merupakan alat pertahanan dan menjaga kedaulatan dan bangsa," kata Hayono Isman.

ANTARA News

Tim Jihandak Konga XX-G Gelar Pelatihan Untuk Tentara Maroko

Pendeteksian ranjau/bahan pelekdak ini dilakukan sebagai antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Peleton Alat Berat (Alber) Kontingen Garuda (Konga) XX-G. Sabtu (7/8). (Foto: detikFoto)

11 Agustus 2010, Kongo -- Tim Jihandak Kontingen Garuda XX-G pimpinan Letkol Czi Arnold AP Ritiauw memiliki kemampuan dan keahlian di bidang penanganan dan Disposal Handak (bahan peledak) serta UXO (Unexploded Ordance) atau IED (Improvise Explosive Device) yang membutuhkan kecepatan dan ketelitian serta disiplin yang tinggi. Tim Jihandak yang tergabung dalam Zeni TNI, Kontingen Garuda XX-G berkekuatan enam orang personel dipimpin oleh seorang Dantim Lettu Czi Bambang Cahyo W, dan semua personel sudah mempunyai klasifikasi khusus di bidangnya.

Atas dasar tersebut Tim Jihandak selalu diminta untuk memberikan penataran dan pelatihan kepada tentara Maroko tentang Mine Awarness yang bertempat di Markas Batalyon Maroko Dungu Town, Senin (9/8). Dengan berbekal surat perintah dari Komandan Brigade Ituri (Ituri Brigade Commander) Brigadir Jenderal ATM Zia Ul Hasan, Tim Jihandak Zeni TNI di bawah pimpinan Letnan satu Czi Bambang Cahyo W dengan 5 (lima) orang anggotanya serta didampingi oleh Perwira Interpreter bahasa Perancis Kapten Laut Bagus Jatmiko SH berangkat ke Dungu Town untuk melaksanakan perintah tersebut. Tim Jihandak Indo Eng Coy dipilih untuk melaksanakan tugas tersebut atas pertimbangan karena hanya Tim Jihandak Kontingen Garuda XX-G yang mempunyai kemampuan dalam bidang tersebut.



Pendeteksian ranjau/bahan pelekdak ini sebagai antisipasi terhadap Peleton Alat Berat (Alber) Kontingen Garuda (Konga) XX-G yang sedang bekerja dalam membangun infrastruktur baik jalan, jembatan dan bangunan di Dungu Kongo. Pelaksanaan dimining dilakukan oleh enam orang personel Jihandak Konga XX-G yang sudah mempunyai kualifikasi khusus dibidangnya dan dibantu oleh tiga personel dari Tim Kesehatan. (Foto: detikFoto)

Kegiatan ini pada akhirnya menjadi rutin diberikan kepada tentara Maroko yang berkekuatan satu Batalyon pada setiap rotasi dan pergantian pasukan di Dungu Congo. Hal ini bertujuan agar tentara Maroko lebih mengetahui akan bahaya ranjau yang masih banyak berada di daerah konflik, khususnya di daerah dimana mereka bertugas. Sehingga diharapkan mereka dapat lebih dapat berhati - hati dan segera dapat mengambil tindakan yang benar jika menemukan ranjau yang masih atau tidak aktif lagi.

Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi Tim Jihandak dipercaya untuk melaksanakan tugas tersebut, sehingga hal tersebut dapat mengangkat nama baik Bangsa dan Negara di mata Dunia Internasional.

Puspen TNI

Prajurit Yonif 613 Antang Tiba di Pelabuhan Malundung Tarakan

11 Agustus 2010, Tarakan -- Komandan Korem (Danrem) 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) Kolonel Infantri Aries Martanto menyambut kedatangan 650 prajurit Yonif 613 Antang yang akan melakukan operasi pengamanan perbatasan (PAMTAS) RI-Malaysia, pukul 14.30, Rabu (11/8) di Pelabuhan Malundung.

PrajuritYonif 613 Antang akan bertugas di daerah perbatasan RI- Malayasia seperti di Tarakan, Nunukan dan Malinau. Prajurit ini akan ditempatkan di 27 pos di daerah perbatasan dan bertugas selama 365 hari atau satu tahun.

Aries mengatakan, prajurit harus mampu beradaptasi dalam menjalankan tugas di wilayah perbatasan. "Jangan pernah ragu bertindak, asalkan sesuai aturan, koridor dan prosedur yang telah dilakukan. Ini amanah, sehingga sesulit apapun dapat mempertahankan NKRI," ucapnya.

Prajurit Yonif 613 Antang datang ke Tarakan menggunakan KRI Teluk Bone. Mereka berangkat dari Kalimantan Selatan hari Jumat (5/8) menempuh perjalanan selama seminggu dengan kecepatan kapal 5-9 knot.

Tribun Kaltim

9 Ribu Prajurit TNI di Wilayah Perbatasan Akan Dapat Tunjangan Khusus


11 Agustus 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengemukakan, arah kebijakan Kementerian Pertahanan adalah menuju sistem pertahanan negara yang pro-kesejahteraan, termasuk untuk lingkup prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Salah satu perkembangan yang ada, telah diterbitkan peraturan presiden tentang tunjangan khusus bagi 9.000 prajurit TNI yang bertugas di pulau-pulau terluar dan wilayah perbatasan Indonesia. "Tugas mereka sangat berat," ujar Purnomo ketika ditemui di kantornya, Rabu (11/8) sore.

Purnomo menjelaskan, besarnya tunjangan adalah 150 persen dari gaji pokok bagi prajurit TNI yang bertugas di pulau terluar tidak berpenduduk, 100 persen bagi yang bertugas di pulau terluar berpenduduk, 75 persen bagi yang bertugas di wilayah perbatasan, dan 50 persen bagi yang berpatroli di wilayah-wilayah tersebut.

Tunjangan tersebut dihitung mulai 1 Januari tahun ini, dan penyerahannya akan dirapel. Namun, Purnomo belum bisa memastikan kapan tunjangan akan diserahkan. "Dalam waktu dekat ini," ujarnya singkat. Ia juga hanya tersenyum ketika ditanya apakah tunjangan akan diserahkan sebelum hari raya Lebaran.

Lebih lanjut, Purnomo mengemukakan, salah satu agenda prioritas Kementerian Pertahanan pada tahun anggaran 2010 ini adalah mendorong perekonomian nasional melalui industri pertahanan. "Kami harap industri alusista di dalam negeri saja, supaya bisa menyerap tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian," ujarnya.

Purnomo menambahkan, Kementerian Pertahanan beserta delapan institusi lainnya, termasuk Polri, tengah mengajukan usulan remunerasi bagi prajurit TNI. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit

TEMPO Interaktif

Penerbang Tempur Tidak Boleh Puasa


11 Agustus 2010, Madiun -- Berpuasa dapat menyebabkan berkurangnya kadar gula darah (Hipoglikemia) yang muncul degan gejala rasa lemas, lekas capai, daya pikir menurun, pening, mengantuk dan jantung berdebar serta penurunan tekanan darah pembuluh arteri otak yang dapat menimbulkan gejala menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai pengaruh “G” dan mudah timbulnya “Grey Out” dan “G Loc”.

Melihat pengaruh dari puasa tersebut, maka bagi penerbang TNI Angkatan Udara, tidak diperbolehkan puasa, sesuai dengan Skep Kasau/18/II/1986, yang menyebutkan para penerbang yang sedang melakukan tugas terbang tidak diperbolehkan puasa, kecuali bagi penerbang pada pesawat yang mempunyai penerbang ganda yang jadwal penerbangannya tidak lebih dari pukul 10.00 waktu setempat.

Sementara manfaat dari ibadah puasa itu sendiri adalah dapat menyembuhkan berbagai penyakit, menempa ketahanan jiwa yang tinggi, memelihara solidaritas sosial serta membentuk insan hamba Allah SWT yang sederhana, jujur dan bertanggung jawab.

Demikian disampaikan Lettu Kes dr. A. Ratno W, yang kesehariannya berdinas di Skadron Udara 14 pada pelaksanaan Briefing Pagi sebelum penerbangan di Rupat Teddy Kustari, Base Ops, Rabu (11/8).

Adapun bagi para penerbang pesawat tempur yang tugas terbangnya melebihi pukul 10.00 waktu setempat, dapat mengganti ibadah puasa Ramadhan pada hari-hari lain, di mana para penerbang tersebut tidak melaksanakan tugas penerbangan, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Kemudian melunasi utang puasa pada hari-hari lain, ketika tidak melaksanakan tugas penerbangan di luar bulan Ramadhan, seperti pada hari Sabtu/Minggu/hari libur/cuti.

Pentak Lanud Iswahyudi/Pos Kota

Latma Rajawali Ausindo Digelar di Darwin

11 Agustus 2010, Jakarta -- TNI Angkatan Udara bersama dengan Royal Australia Air Force (RAAF) kembali mengadakan Latihan Udara Bersama (Latma) dengan sandi “Rajawali Ausindo 2010” yang digelar di Darwin Airbase, Australia selama lima hari hingga 13 Agustus ini.

Rajawali Ausindo merupakan latihan bersama antara TNI AU dengan RAAF dalam bidang operasi udara bersama dengan menggunakan pesawat angkut jenis C-130 Hercules. Latihan ini merupakan uji ketangkasan awak pesawat mulai dari penerbang, navigator, loadmaster dan RTU dan flight engineer dalam taktik dan teknik penerjunan barang/Cargo Drop melalui Container Delivery System (CDS), Helly Box (HB) dan Low Level Free Corgo Drop (LLFCD). Sedangkan dropping zone yang digunakan adalah Delamere Area Weapon Range (AWR) yang terletak di selatan Tindall Airbase Australia.

Dalam latihan ini TNI AU melibatkan satu pesawat C-130 Hercules A-1305 dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang dengan 23 personel, terdiri dari enam belas awak pesawat dan tujuh Kolat yang dipimpin oleh Paban III/Lat Sopsau Kolonel Pnb. Emir Pandji Dermawan.

Latma Rajawali Ausindo 2010 dibuka di Truscott Building Darwin Airbase dengan Irup Group Captain (GPCAPT) Richard Lennon sebagai Exercise Director Latma Rajawali Ausindo 2010 didampingi oleh Danwing 2 Lanud Abdulrachman Saleh Kolonel Pnb. Eko Dono Indarto.

Hadir pada Latma tersebut Atase Pertahanan RI di Canberra Marsma TNI Modjo Basuki dan Atase Udara Australia di Indonesia GPCAPT Nick Bricknell.

Dispenau/Pos Kota

Lockheed Martin Hypersonic ATACMS Motor Boosts Experimental Scramjet in First Flight


10 August 2010, DALLAS, TX and SACRAMENTO, CA -- Lockheed Martin [NYSE: LMT] announced today that its Army Tactical Missile System (ATACMS) rocket motor successfully boosted the experimental X-51A WaveRider beyond Mach 4.5, the speed at which a scramjet will start and begin to provide thrust. The successful boost helped the X-51 hypersonic scramjet engine to accelerate to a historic Mach 5, a first for the vehicle.

The X-51 WaveRider is an unmanned aerial vehicle designed for extended hypersonic flight durations. The successful boost with the ATACMS rocket motor will allow for future advancements in hypersonic flight.

In this test, the modified ATACMS motor was air-launched from a B-52 aircraft at 50,000 feet, and data collected validates its performance well beyond the original design specifications. This was the first time an ATACMS rocket motor has been used as a booster for an air-launched vehicle. More tests using the ATACMS motor are planned.

The modified motor included a Boeing designed lightweight, high performance exit cone which was produced by Aerojet, a GenCorp [NYSE:GY] company, for Lockheed Martin. The program is managed by a Boeing and Pratt & Whitney Rocketdyne team for the U.S. Air Force and DARPA.

“The ATACMS rocket motor has proved its power in combat, and now we’re happy to see it performing a mission that advances hypervelocity flight technology,” said Scott Arnold, vice president of Precision Fires at Lockheed Martin Missiles and Fire Control.

“We are proud to have played a part in this new milestone in hypersonic flight and to have been given the opportunity to demonstrate our ability to modify existing motor designs for future applications,” said John Myers, vice president of Tactical Programs for Aerojet.

Aerojet is a world-recognized aerospace and defense leader principally serving the missile and space propulsion, defense and armaments markets. GenCorp is a leading technology-based manufacturer of aerospace and defense products and systems with a real estate segment that includes activities related to the entitlement, sale, and leasing of the company’s excess real estate assets.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s 2009 sales from continuing operations were $44.5 billion.

Lockheed Martin

Wednesday, August 11, 2010

RI-Korsel Mantapkan Kerja Sama Pertahanan

Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae-Young (kanan) memperhatikan senapan serbu buatan PT Pindad di dampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (tengah) dan Wakil Menteri pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) usai mengadakan pertemuan di Jakarta, Rabu (11/8). Pertemuan bilateral kedua pihak membahas mengenai peningkatan kerjasama dalam bidang industri pertahanan. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/hp/10)

11 Agustus 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) sepakat memantapkan kerja sama pertahanan kedua negara dalam kerangka kemitraan strategis.

"Kita mantapkan dengan memperbarui kerja sama yang telah ada selama ini," kata Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro usai bertemu mitranya Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae Young, di Jakarta, Rabu.

Sejak ditandatanganinya deklarasi Kemitraan Strategis antara Indonesia dan Korsel pada 2006, masing-masing pihak berkomitmen mengembangkan kerja sama di berbagai bidang termasuk pertahanan.

Kementerian Pertahanan kedua negara menggelar forum tahunan "Joint Committee and Logistic Meeting" untuk membahas berbagai bidang kerja sama yang telah dan akan dilakukan kedua pihak.

"Nah ini akan kita perbarui dengan ruang lingkup yang lebih luas dalam kerangka kemitraan strategis," ujar Purnomo.

Sebelumnya, Sekjen Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto mengatakan, melalui "Joint Committee" kedua kementerian pertahanan, telah berhasil melaksanakan beberapa kegiatan kerjasama pertahanan.

"Antara lain ditandai dengan semakin meningkatnya kerjasama produksi, pemeliharaan, hibah dan proses alih teknologi alutista," ujarnya.

Tak hanya itu, Indonesia juga mementingkan alih teknologi dari setiap kerja sama yang dilaksanakan.

"Proses alih teknologi tersebut akan dapat mendorong peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri untuk menghasilkan produk yang sesuai spesfikasi TNI sebagai pengguna," ujar Eris.

ANTARA News

Kunjungan Menhan Korsel Bahas Upaya Peningkatan Kerjasama Bilateral Pertahanan Kedua Negara

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) berbincang dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae-Young (kiri) usai mengadakan pertemuan di Jakarta, Rabu (11/8). Pertemuan bilateral kedua pihak membahas mengenai peningkatan kerjasama dalam bidang industri pertahanan. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/hp/10)

11 Agustus 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSc., MA., Ph.D, Rabu (11/8), menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Korea Selatan H.E. Kim Tae Young, di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Kedatangan Menhan Korsel yang didampingi sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan Korea guna melakukan pertemuan bilateral dalam upaya peningkatan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara.

Pada konferensi pers yang diadakan usai bilateral meeting antara kedua pihak, Menhan Purnomo menjelaskan bahwa khusus dalam hubungan bilateral pertahanan kedua negara, saat ini telah ada paying kerjasama berupa strategic partnership antara Pemerintah Korsel dan Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2006 lalu oleh Presiden kedua negara. Perjanjian kerjasama ini diharapkan dapat menjadi payung hukum bagi kerjasama-kerjasama di bidang pertahanan.

Menhan Purnomo melanjutkan, di masa lalu sudah ada MoU berupa Bilateral Defence Industry Logistic and Cooperation yang ditandatangani pada tahun 1999 oleh kedua negara, telah habis masa waktunya sehingga perlu diperbarui dengan ruang lingkup yang lebih luas dengan berdasarkan pada strategic partnership yang telah ada. Kerjasama pertahanan kedua negara ke depan diharapkan akan diarahkan pada peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan.

Karena itu, Menhan Purnomo mengundang Menhan Korsel untuk menghadiri Indo Defence Expo 2010 atau IDAM (Indonesia Defence Air Forces and Marine) Exposition 2010 yang akan dilaksanakan pada November 2010, di Kemayoran, Jakarta. Diharapkan dalam Indo Defence Expo itu akan berpartisipasi beberapa perusahaan dari industri pertahanan Korsel. Menhan juga mengundang Menhan Korsel untuk hadir dan berpartisipasi pada Jakarta Internasional Defence Dialogue dalam rangka peringatan anniversary UNHAN yang pertama pada Maret 2011.

Dalam pertemuan bilateral ini juga dibahas mengenai pertukaran cadet akademi militer kedua negara, dalam upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang pertahanan. Dikatakan oleh Menhan pula, yang juga harus didasari dan sangat diperlukan penguasaan dan pemahaman bahasa kedua negara. Karena itu sangat perlu untuk mempelajari bahasa masing-masing untuk dapat melaksanakan proses kerjasama ini. Karena itu Menhan berharap Pemerintah Korsel dapat membantu mengirimkan guru untuk bertugas di laboratorium bahasa Kemhan.

Diharapkan, selain kerjasama pertukaran cadet juga dapat dilakukan pertukaran siswa UNHAN serta pertukaran Siswa Sesko TNI dan Lemhannas. Dalam pertemuan ini dibahas pula kerjasama pertahanan di bidang militer yaitu latihan bersama dan kemungkinan pengembangan bentuk-betuk kerjasama military to military lainnya.

Dalam pertemuan menteri-menteri pertahanan Asean (Asean Defence Minister Meeting) dan juga pertemuan Menhan Asean plus delapan negara lain dimana Korsel termasuk di dalamnya. Pertemuan itu akan dilakukan pada Oktober 2010 di Hanoi, Vietnam dan Menhan Purnomo mengundang Menhan Korsel untuk menghadiri pertemuan ini. Dijelaskan pula dalam rangka Asean Regional Forum (ARF) pada Maret 2011 di Manado, akan diadakan pula Disaster Relief Exercise (DIREX) 2011, yang mencakup latihan gabungan 27 negara untuk melakukan humanitarian assistance sebagai dukungan untuk operasi kemanusiaan menghadapi bencana alam seperti gempa dan banjir.

Lebih lanjut Menhan Purnomo menjelaskan, tahun 2011 Indonesia akan menjadi Chairman dari Asean. Di bidang pertahanan, Menhan Purnomo akan menjadi chairman dari Asean Defence Minister Meeting (ADMM), Menhan Purnomo juga meminta kepada Menhan Korsel untuk dapat aktif berpartisipasi dalam mensukseskan kepemimpinan Indonesia pada tahun depan.

Dalam pertemuan tersebut Menhan Purnomo juga mengucapkan bela sungkawa atas tragedi tenggelamnya naval vessel Cheonan yang menelan korban jiwa 46 orang awak kapalnya.

DMC

TNI AL dan RSN Operasikan Radar Surpic 2


11 Agustus 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Angkatan Laut Republik Singapura Rear Admiral Chew Men Leong,di Mabes TNI AL Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (10/8). Kunjungan kehormatan tersebut untuk meningkatkan hubungan kerjasama Angkatan Laut kedua Negara sekaligus menyaksikan demo radar Surveillance Picture (Surpic) 2 Initial Launching.

Dalam demo yang mendapat sambutan meriah dari segenap undangan itu, diskenariokan dengan dua insiden yang terjadi di dua tempat yang berbeda. Insiden pertama, kapal kargo Singapura MV Sanuki kejadian pada 10 Agustus 2010 pukul 08.00 waktu setempat pada posisi 01 14.36N – 104 09.20E, bahwa sebuah perahu kecil mendekat dengan kecepatan tinggi.

Berdasarkan laporan tersebut, kemudian Information Fusion Centre (IFC) melaporkan melalui Surpic 2 dan diterima oleh Puskodal Batam yang juga dimonitor oleh Mabes TNI AL. Selanjutnya informasi tambahan tentang MV Sanuki melalui Acces 2 diteruskan ke unsur TNI AL yang tengah berpatroli, yakni KRI Boa-807 untuk melakukan penyelidikan. Beberapa waktu kemudian terjadi insiden kedua, dimana kapal tanker MV Laut Adriatik berbendera Liberia melaporkan telah mendeteksi sebuah perahu mencurigakan mendekati kapal pada tanggal 10 Agustus 2010 pukul 08.30 waktu setempat pada posisi 01 09.27N 103 42.38E. IFC kemudian juga melaporkan melalui Surpic 2 yang diterima oleh Puskodal Batam dan diteruskan ke Maritime Security Task Force (MSTF) sehingga dapat menggerakkan unsur Angkatan Laut Singapura RSS Dauntless.

Di sela-sela demo dan peluncuran radar tersebut, Kadispenal mengatakan bahwa Surpic 2 ini dapat difungsikan secara maksimal operasionalnya oleh TNI AL dan RSN pada medio Desember 2010. Surpic merupakan instrumen atau instalasi elektronika radar modern yang dapat memonitor perkembangan situasi di perairan Selat Malaka secara real time.

Acara yang ditandai dengan penekanan tombol Launching oleh Asops Kasal Laksda TNI Ignatius D.Surarto bersama Commander of Maritime Security Task Force Rear Admiral Jackson Chia, Irjenal Mayjen TNI Junaidi Jahri, Pangarmabar Laksda TNI Marsetio, M.M., serta sejumlah pejabat teras TNI Angkatan Laut lainnya.

Dispenal

Redam Insiden Lebanon-Israel TNI Dapat Penghargaan

Prajurit INDOBATT mengibarkan bendera PBB berusaha meredam sebelum terjadinya kontak senjata antara Israel dan Lebanon. (Foto: Getty Images)

11 Agustus 2010, Jakarta -- Komandan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (UNIFIL) memberikan perghargaan kepada prajurit TNI karena berhasil meredam perselisihan militer Lebanon dan Israel di perbatasan kedua negara pada 3 Agustus 2010.

Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigadir Jenderal Juan Gomez De Salazar Minguez mengatakan, perselisihan militer Lebanon dan Israel itu berpotensi menimbulkan konflik lebih besar.

"Namun, karena tindakan profesional Kontingen TNI maka potensi itu dapat diredam," katanya, dalam rilis Mabes TNI yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.

Minquez yang juga Komandan Kontingen Spanyol itu menambahkan, insiden antara militer Lebanon (LAF) dan militer Israel (IDF) terjadi tiba-tiba dan hanya pasukan yang terlatih dan profesional serta sikap antisipatif seorang komandan, peningkatan eskalasi dapat dicegah.

Surat Penghargaan dari Komandan UNIFIL Sektor Timur itu, diberikan kepada Satuan Tugas Batalyon Infanteri Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-D/UNIFIL pada misi UNIFIL.

Penghargaan diterima Komandan Satgas Letnan Kolonel Inf Andi Perdana Kahar dengan tembusan kepada Komandan Kontingen Indonesia di UNIFIL, Kolonel Inf Restu Widiyantoro.

Sebelumnya diberitakan dalam sebuah media cetak Al Mannar, dua prajurit TNI meninggalkan medan tempur dengan taksi saat terjadi insiden antara militer Lebanon dan Israel.

Hal itu dibantah Komandan Satgas Letnan Kolonel Inf Andi Perdana Kahar yang mengatakan, sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB, prajurit TNI memiliki tugas pokok memelihara perdamaian di wilayah Lebanon Selatan dan tidak berpihak.

"Dalam menjalankan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 (United Nations Security Council Resolution 1701), pasukan TNI harus mematuhi prosedur, hukum dan ketentuan yang berlaku yang ditetapkan oleh PBB, seperti SOP (Standard Operating Procedure), ROE (Role of Engagement) maupun STIR (Standardize Tactical Incident Reaction)," tuturnya.

Andi menegaskan, apa yang dilakukan dua prajurit TNI dalam insiden tersebut telah sesuai dengan seluruh ketentuan PBB yang berlaku.

ANTARA News

TNI Bentuk Komando Pembinaan Doktrin

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menandatangani Berita Acara Peresmian Kesatuan Kodiklat TNI. (Foto: Puspen TNI)

11 Agustus 2010, Jakarta -- Tentara Nasional Indonesia membentuk Komando Pembinaan Doktrin, yakni Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat). Tugas utama Kodiklat membina sumber daya manusia TNI yang profesional, militan, dan berwawasan trimatra.

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso pada peresmian Kodiklat, serta pelantikan Komandan Kodiklat Mayjen TNI Mochamad Sochib di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa (10/8), mengatakan, pembentukan Kodiklat TNI merupakan salah satu upaya TNI untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM sumber daya manusia TNI.

Tujuannya, agar SDM TNI mampu menghadapi berbagai bentuk tantangan dan perkembangan lingkungan strategis yang bersifat nasional, regional, maupun global. "Ke depan, tantangan yang semakin kompleks itu sulit diprediksi sehingga TNI perlu mempersiapkannya," ujar Djoko.

Pembentukan kesatuan baru ini sesuai Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI, yang menindaklanjuti Peraturan Presiden Nomor 10/2010 tentang Susunan Organisasi TNI yang diwujudkan dalam Peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/49/ VII/2010 tanggal 8 Juli 2010.

Sebagai badan pelaksana pusat TNI, tutur Djoko, Kodiklat TNI punya fungsi dan tugas menyelenggarakan pembinaan doktrin, pendidikan pertama integratif dan pendidikan pengembangan spesialisasi.

Selain itu, badan ini juga punya tugas pembinaan terhadap latihan gabungan, latihan bersama dan latihan kesiapsiagaan operasional yang diselenggarakan oleh Mabes TNI dan Kotama jajaran TNI.

"Pembentukan Kodiklat TNI ini dilatarbelakangi pentingnya pembinaan SDM TNI yang profesional, militan, dan berwawasan Trimatra yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menjawab tantangan masa depan," ujarnya.

Suara Karya

Tuesday, August 10, 2010

Dua Kapal Perang Singapura Berlabuh di Makassar

10 Agutus 2010, Makassar -- Sejumlah penari beraksi saat menyambut kapal perang milik Singapura yakni kapal RSS Tenacious dan RSS Vigour, saat berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Selasa (10/8). Kapal perang RSS Tenacious dan RSS Vigour yang membawa 116 awak tersebut telah melakukan latihan gabungan di Laut Jawa dan Selat Singapura dengan nama Ex-Eagle 21/10 dan rencananya kedua kapal perang tersebut berada di Makassar selama tiga hari. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/mes/10)

10 Agustus 2010, Makassar -- Kunjungan dua kapal perang Singapura ke Kota Angin Mamiri, hari ini, dimanfaatkan Pemerintah Kota Makassar untuk mempromosikan wisata di daerah ini. Dinas pariwisata memperkenalkan beberapa obyek wisata andalan Sulawesi Selatan seperti Tana Toraja, dan Tanjung Bira Kabupaten Bulukumba.

"Kami sudah membagikan brosur. Semoga setelah mereka pulang bisa mempromosikan ke keluarga mereka di Singapura," kata Rusmayani Madjid, Kepala Dinas Disbudpar Kota Makassar.

Ada dua kapal perang Singapura yang berlabuh di pelabuhan Peti Kemas Makassar sekitar pukul 09.00 Wita yaitu Republic Singapura Ship (RSS) Tenacious dengan komandan kapal LTC Chong Keng Shin, dan RSS Vigour dengan komandan kapal LTC Tung Kong Seng.

Sejumlah awak kapal perang milik Singapura, RSS Vigour, disambut TNI AL Lantamal VI Makassar saat berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Selasa (10/8). (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/mes/10)

Dua Marinir berjaga-jaga di dekat kapal perang milik Singapura, RSS Vigour, saat berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/mes/10)

RSS Tenacious memiliki panjang 114,8 meter, lebar 16 meter, dan berat kapal 3.200 meter, serta kecepatan 27 knot. Dan RSS Vigour sepanjang 62 meter, lebar 8,2 meter, berat kapal 600 ton, dan kecepatan 24 knot. RSS Tenacious membawa 70 orang, dan RSS Vigour 46 orang.

Menurut Kapten Laut Imam Danu Pranoto dari Lantamal Makassar, kedua kapal perang tersebut berlabuh di Makassar untuk kepentingan bekal ulang logistik setelah melakukan latihan bersama TNI Angkatan Laut di perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya, Laut Jawa dan Selat Singapura.

"Rencananya kapal ini akan berlabuh selama tiga hari," kata Imam Danu.

Dia mengatakan, pada hari ketiga komandan kapal perang Singapura tersebut akan bertemu dengan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. "Mungkin pada agenda itu, mereka bisa menjelaskan lebih jauh mengenai perjalanannya," katanya.

TEMPO Interaktif

DPR Dukung TNI AU Beli Pesawat Tanpa Awak

Harian Israel Haaretz memberitakan Indonesia berencana membeli pesawat tanpa awak Searcher Mark-II yang dibuat oleh Israel Aerospace Industries Ltd. Co. (Foto: IAI)

10 Agustus 2010, Jakarta -- Komisi I DPR mendukung pembentukan skuadron Pesawat Tanpa Awak (UAV) yang akan dibangun TNI AU di Landasan Udara (Lanud) Supadio, Provinsi Kalimantan Barat. Pesawat Tanpa Awak dianggap anggota Dewan sebagai salah satu solusi menjaga perbatasan mengingat adanya tantangan topografi wilayah perbatasan Kalimantan Barat.

"Kami mendukung adanya skuadron udara pesawat tanpa awak untuk lebih efisien menjaga wilayah perbatasan, khususnya di provinsi Kalimantan Barat," kata Ketua Komisi I DPR RI Kemal Azis Stamboel dalam siaran pers yang diterima Suara Karya di Jakarta, Senin (9/8). Kemal bersama beberapa anggota Komisi I DPR melakukan kunjungan kerja ke Lanud Supadio, Kalimantan Barat.

Komisi I DPR, menurut Kemal, mendukung adanya rencana mendatangkan Pesawat Tanpa Awak guna mendukung kekuatan udara Republik Indonesia di Provinsi Kalbar. Adapun kekuatan Pesawat Tanpa Awak adalah dapat terbang dengan daya jelajah 300 km dan kemampuan terbang selama 24 jam penuh. Melalui Pesawat Tanpa Awak akan memudahkan TNI untuk melakukan pengamatan dan pengawasan di tengah keterbatasan sarana prasarana dan topografi wilayah perbatasan. Guna mengimbangi pengawasan perbatasan, TNI berencana membeli Pesawat Tanpa Awakd alam waktu dekat.

"Dalam kondisi lapangan yang dimiliki Republik Indonesia itu adalah solusi terbaik untuk mengatasi keberadaan infrastruktur," ujar Kemal.

Radar pemantau

Secara terpisah, Panglima Komando Sektor (Kosek) IV Pertahanan Udara Nasional Biak, Marsma TNI Hadiyan Sumintaadmadja mengatakan, radar pemantau milik TNI Angkatan Udara (AU) yang akan dibangun di Kabupaten Merauke, Papua, dijadwalkan beroperasi tahun 2011 mendatang, guna memantau aktivitas di udara, termasuk penerbangan di perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea. "Sesuai rencana program kerja Kosek IV Hanudnas Biak diharapkan markas satuan Radar Merauke sudah difungsikan tahun 2011, hingga saat ini berbagai persiapan pembangunan fisik sudah dimulai," katanya.

Letak geografis Kabupaten Merauke yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua New Guunea dan Australia menjadi fokus perhatian pembangunan radar pemantau pesawat udara. Selain satuan radar Merauke, pihaknya juga pada tahun 2011-2012 akan membangun markas satuan radar di Timika, Kabupaten Mimika serta radar di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

Sementara dalam program jangka panjang Kosek IV Hanudnas Biak, dikatakan Hadiyan, pembangunan satuan radar juga akan dilakukan di Sorong, Ambon dan Jayapura. Menyinggung mengenai kasus pelanggaran udara di wilayah Satuan Radar Biak, menurut Marsekal Pertama Hadiyan, hingga tahun 2009 tidak ditemukan satupun kasus pelanggaran udara oleh penerbangan sipil.

Dibandingkan dengan tahun 2008, lanjut Hadiyan, kasus pelanggaran udara yang dimonitor satuan radar Biak kurang lebih 30 kali, semenara selama tahun 2009 tidak ada. "Dampak dari beroperasinya satuan radar di Biak sangat nyata karena bisa mengawasi penerbangan udara yang melintas di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Suara Karya

Saab awarded multi-year contract for U.S. Marine Corps Range Target Systems

09 August 2010 -- Saab Training USA has signed a contract with the U.S. Marine Corps to produce and field a large number of ranges and facilities under their Range Target Systems (RTS) program. The contract has a ceiling price of approximately MUSD 39, and Saab will receive orders during the next 3 years.

The ranges will provide live fire gunnery training for Marines in a train-as-you-fight environment using Saab’s well established target and range control product line and Improvised Explosive Device (IED) simulators. The scope of work includes constructing urban warfare buildings and shoot houses with realistic after action review capabilities and providing logistic support for large number of fielded systems.

Saab is currently delivering its Instrumented Tactical Engagement Simulation System (I-TESS) to the same Marine Corps installations across the continental United States and overseas in Hawaii and Japan.

“We are delighted to have received this important RTS order, which increases Saab’s product base with the US Army and Marine Corps to whom we have been supplying range equipment since 1980”, says Lars Borgwing, President, Saab Training USA.

Saab Training USA, a subsidiary of the international conglomerate Saab AB, is located in the Orlando Central Florida’s Research Park and has supported the U.S. Armed Forces and Homeland Defense with targets, laser simulators and instrumented training products for over thirty years.


Saab

Indonesia and Australia partner for Exercise RAJAWALI AUSINDO 2010

C-130H Hercules A97-007 from No. 37 Squadron (37SQN) prepares for take off at RAAF Base Richmond. (Foto: Australian DoD)

9 August 2010 -- C-130 Hercules transport aircraft crews from Indonesia will work alongside their Australian counterparts in Darwin from August 9-13 for Exercise RAJAWALI AUSINDO.

The exercise will involve a series of airdrop missions flown by both countries focusing on the use of the C-130 Hercules as an effective air mobility platform. RAJAWALI AUSINDO is one of several regular 'AUSINDO' exercises conducted between the two countries, with other iterations focusing on areas such as maritime patrol and air combat.

A contingent from the Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU, or Indonesian Air Force) No. 32 Squadron will bring a C-130 Hercules to participate in the exercise. The Royal Australian Air Force (RAAF) will bring a C-130H Hercules and crew from No. 37 Squadron, based at RAAF Base Richmond. A load recovery team from the Australian Army's No. 176 Air Dispatch Squadron will be located at Delamere Range.

Officer Commanding No. 86 Wing, Group Captain Richard Lennon, said Australia and Indonesia share a history of using the Hercules to assist one another.

"Indonesia sent their Hercules to provide relief to Australians following Cyclone Tracy, and Australia's Hercules provided support in Sumatra for the 2004 Boxing Day Tsunami relief effort," Group Captain Lennon said.

"Australian and Indonesian personnel share a history of achieving great feats with the Hercules, and this year's Exercise RAJAWALI AUSINDO will allow them to continue doing so."

As Indonesia is the world's largest archipelago and Australia is the world's largest island continent, effective air mobility plays an important role for both countries. In this role, the C-130 Hercules is able to transport loads of up to 20 tonnes as well as carry personnel, aero-medical evacuation patients, and operate from short, semi-prepared airstrips.

Through Exercise RAJAWALI AUSINDO, aircrew and groundcrew from both countries brief each other to gain a better understanding of how each other operates. "The experience gained through RAJAWALI AUSINDO by both countries is all the more relevant given the unpredictable nature of many humanitarian disasters in our region," Group Captain Lennon said.

"Australia remains committed to working with its neighbours through exercises such as RAJAWALI AUSINDO, sharing methods and practices which will deliver more effective air mobility in the real world."

Australia DoD

Pasukan Garuda (Konga) XXIII-D/UNIFIL Kembali Laksanakan Tugas Dengan Normal

Prajurit Konga XXIII-D/UNIFIL berada diatas panser Anoa ketika berpatroli di desa Adaisseh. (Foto: Reuters)

09 Agustus 2010, Lebanon -- Saat berita ini diturunkan, Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Infanteri Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-D/UNIFIL pada misi UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) di Lebanon Selatan kembali melaksanakan tugasnya dengan normal pasca insiden baku tembak antara Lebanese Armed Forces (LAF) dengan Israeli Defence Forces (IDF) yang menewaskan 3 orang personel LAF, 1 orang wartawan media local, dan 2 orang Perwira senior IDF, Selasa (3/8).

Sebagai peacekeeper (penjaga perdamaian), prajurit Konga di medan tugas Lebanon telah melaksanakan tugas pokok memelihara situasi perdamaian di wilayah Lebanon Selatan dan bersifat imparsial (tidak berpihak) dalam menjalankan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 (United Nations Security Council Resolution 1701- tanggal 11 Agustus 2006) yang merupakan mandat PBB kepada UNIFIL. Disamping itu dalam menjalankan tugasnya pasukan TNI berpegang teguh pada prosedur, hukum dan ketentuan yang berlaku yang ditetapkan oleh PBB, seperti SOP (Standard Operating Procedure), ROE (Role of Engagement) maupun STIR (Standardize Tactical Incident Reaction).

Dalam insiden baku tembak, Selasa (3/8) antara LAF dan IDF di perbatasan Lebanon Selatan - Israel, prajurit Konga yang sedang bertugas menjaga perdamaian di wilayah tersebut sudah melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan oleh PBB. Setelah melalui pelaporan ke Komando Atas dan melakukan negosiasi dengan pihak yang bertikai, prajurit Konga akhirnya melaksanakan pengunduran taktis dengan cara memanfaatkan lindung tembak yang ada, karena antara LAF dan IDF terjadi saling baku tembak. Sesuai STIR No. 17 tentang menghadapi insiden dalam hal ini antara LAF dan IDF, disebutkan bahwa : Tindakan yang harus dilakukan adalah : Pertama, memonitor situasi tanpa membahayakan pasukan sendiri. Kedua, jika terjadi kontak tembak, maka pasukan UNIFIL melaksanakan pengunduran taktis (pemutusan pertempuran) terhadap unit-unit yang terlibat di daerah insiden.

Mencermati aturan yang telah ditetapkan oleh PBB sebagaimana tertuang dalam STIR No. 17 tersebut, maka apa yang telah dilakukan oleh prajurit Konga dalam mengatasi insiden antara LAF dan IDF sudah sesuai prosedur. Jadi prajurit Konga tidak melarikan diri sebagaimana yang direlease sebuah media cetak Al Mannar : “2 prajurit RI tinggalkan medan tempur dengan taksi”, yang benar adalah melaksanakan pengunduran taktis sesuai prosedur yang berlaku atas perintah UNIFIL Force Commander Major General Alberto Asarta Cuevas untuk bergabung dengan induk pasukan di markas Batalyon Indobatt, diantar oleh salah satu warga masyarakat setempat menggunakan kendaraan sipil.

Sebagai tindak lanjut pasca insiden LAF dan IDF, Rabu (4/8), bertempat di lokasi kejadian dan sekitarnya, pihak Markas Besar UNIFIL beserta Sektor Timur UNIFIL dan Tim Investigasi UNIFIL melakukan pemeriksaan secara terperinci tentang segala upaya dan usaha serta prosedur yang telah ditempuh oleh prajurit Konga dalam menghadapi dan menangani insiden yang telah berlangsung pada tanggal 3 Agustus 2010. Pihak UNIFIL seluruhnya yang berada di lapangan memberikan apresiasi atas penanganan yg tepat dan baik kepada Batalyon Indonesia (Satgas Konga XXIII-D/UNIFIL) yang telah melaksanakan tugas secara profesional, proporsional, dan imparsial dalam menghadapi dan menangani insiden yang telah terjadi sesuai dengan seluruh aturan dan prosedur yang berlaku di jajaran UNIFIL.

Puspen TNI

Singapore and Indonesian Navies in Bilateral Exercise

(From top) The RSN's missile corvette RSS Vigour, the TNI AL's Diponegoro-class corvette KRI Sultan Hasanuddin and the RSN's Formidable-class frigate RSS Tenacious participating in the sea phase of Exercise Eagle 2010.

06 August 2010 -- The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Indonesian Navy (TNI AL) conducted a bilateral exercise codenamed Exercise Eagle, from 28 Jul to 5 Aug 2010. The exercise, the 21st in the series, consisted of both shore and sea phases, which were held in Singapore and Surabaya, Indonesia. RSN Fleet Commander Rear-Admiral Joseph Leong and TNI AL Eastern Fleet Commander Rear-Admiral Bambang Suwarto were present at the closing ceremony held in Surabaya yesterday.

Exercise Eagle 2010 involved four ships and two maritime patrol aircraft from the two navies. This was the first time an RSN Formidable-class frigate and a Diponegoro-class corvette from the TNI AL had participated in the exercise. As part of the sea phase, both navies conducted a series of exercises involving anti-surface warfare, maritime interdiction as well as search and rescue operations. RSN and TNI AL personnel also interacted in cultural and sporting events to strengthen the camaraderie between the two navies.

The RSN's participation in Exercise Eagle since 1974 highlights the excellent defence ties between the two navies. The RSN and the TNI AL share a long history of close and mutually beneficial cooperation and they interact regularly through exercises and professional exchanges.

MINDEF

Monday, August 9, 2010

Iran Luncurkan Empat Kapal Selam Mini

Empat kapal selam mini kelas Ghadir bersandar di pelabuhan di kota Bandar Abbas, saat diresmikan Minggu (8/9). (Foto: MEHR/Vahid-Reza Alaii)

09 Agustus 2010 – Iran meluncurkan empat kapal selam mini buatan dalam negeri di kota pelabuhan Bandar Abbas, Minggu (08/08). Kapal selam kelas Ghadir dibangun industri maritim Kementrian Pertahanan Iran bekerjasama dengan Angkatan Laut Iran.

Peresmian kapal selam dihadiri sebagian besar perwira tinggi militer Iran dan pejabat Iran, termasuk Menteri Pertahanan Iran Jenderal Ahmad Vahidi dan KASAL Iran Laksamana Madya Habibollah Sayyari.

Iran mengklaim Ghadir berkemampuan siluman, sulit dideteksi sonar dan ditujukan beroperasi di perairan dangkal, terutama di Teluk Persia dan Laut Oman.

Ghadir dirancang berdasarkan kapal selam kelas Yono buatan Korea Utara, mampu menembakan torpedo tetapi misi utamanya mengangkut pasukan komando, menebar ranjau serta misi pengamatan, menurut sejumlah pakar.





(Foto: MEHR/Vahid-Reza Alaii)

FNA/Berita HanKam

Wamenhan Kunjungi Cadangan Migas Pulau Selaru dan Perairan Laut Arafura


09 Agustus 2010, Saumlaki, Maluku Tenggara Barat -- Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin kembali mengadakan kunjungan kerja dalam rangka peninjauan secara langsung ke pulau kecil terluar yang memiliki potensi dangan Sumber Daya Alam Minyak dan Gas (SDA Migas). Pulau kecil terluar yang dikunjungi kali ini yaitu Pulau Selaru dan sekitar wilayah di laut Arafura.

Pulau Selaru terletak di Laut Timor dan berbatasan langsung dengan Australia. Pulau ini masuk kedalam wilayah administratif Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

Wamenhan dan rombongan tiba di Saumlaki Ibukota Maluku Tenggara Barat, Jum’at petang (6/8) disambut Bupati Maluku Tenggara Barat, Drs. Bitzael Z. Temar dan Danrem 151/Binaya Kol. Arm. Nazarudin, dilanjutkan dengan pertemuan dan dialog dengan Bupati dan Danrem serta jajaran Muspida.

Turut serta dalam kunjungan tersebut sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan dan Mabes TNI antara lain Asops Panglima TNI, Dirjen Pothan Kemhan, Dirjakstra Ditjen Strahan Kemhan, Dirwilhan Ditjen Strahan Kemhan dan Karo Humas Setjen Kemhan. Turut pula Deputy Perencanaan BP Migas Haposan Napitupulu.

Seusai melakukan kunjungan ke Batalion 734/Lor Labay dan Radar TNI AU, Sabtu (7/8) Wamenhan didampingi Bupati Natuna meninjau Pulau Selaru dan sekitar wilayah laut Arafura melalui pantauan udara dengan menggunakan pesawat Cassa TNI AL.

Wamenhan mengatakan, kunjungannya ke pulau terluar untuk kesekian kalinya tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari perhatian pemerintah melalui Kemhan terhadap pulau - pulau terluar terutama 12 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Menurut Wamenhan, melalui kinjungan secara langsung diharapkan dapat dilihat kondisi nyata dan permasalah yang ada yang nantinya sebagai bahan masukan dalam pengambilan dan penentuan kebijakan pemerintah khususnya kebijakan pertahanan.

Lebih lanjut Wamenhan mengatakan, Kemhan sebagai bagian dari pemerintah di bidang pertahanan telah menetapkan bahwa kebijakan pertahanan yang dianut adalah kebijakan pertahanan untuk mendukung pembangunan ekonomi.


Kemhan tingkatkan capasity building pertahanan di perbatasan untuk mendukung kebijakan pembangunan ekonomi

Secara spesifik untuk di wilayah perbatasan, Wamenhan menjelaskan bahwa bagaimana aspek pertahanan itu dalam mendukung jalannya pembangunan ekonomi di wilayah perbatasan terutama wilayah mempunyai sumber daya alam. Untuk itu, Kemhan akan berupaya meningkatkan capacity building (pembangunan kemampuan) pertahanan yaitu TNI di wilayah perbatasan.

Lebih lanjut Wamenhan menegaskan, bahwa peningkatan capacity building tersebut bukan untuk kepentingan offensive, namun untuk memastikan bahwa capacity building pertahanan itu untuk memastikan kemampuan dalam menjamin kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI serta mendukung pembangunan ekonomi nasional. “Secara spesifik lebih fokus kepada bagaimana mendukung ekonomi di wilayah perbatasan yang mempunyai potensi sumber daya alam”, tambah Wamenhan.

Oleh karena itu melalui kunjungan ini, Kemhan bersama dengan Mabes TNI dan BP Migas akan melakukan observasi dengan melihat secara langsung dari dekat sejauh mana komponen pertahanan dalam mendukung pembangunan ekonomi khususnya terkait pengelolaan sumber daya alam di wilayah perbatasan yang dilakukan oleh BP Migas.

Menurut Wamenhan, hal tersebut dalam rangka untuk meyakinkan bahwa kegiatan pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh BP Migas berada di dalam wilayah NKRI, dan TNI sebagai komponen pertahanan mempunyai kopetensi untuk mengamankan dan menjaga kegiatan tersebut.

Lebih lanjut Wamenhan mencontohkan peningkatan capasity building tersebut, antara lain dengan melihat kembali apakah satuan tugas perbatasan sudah terpenuhi atau masih memerlukan penguatan dan kekuatan.

Contoh lainnya adalah, belum lama ini sudah terbentuknya satu batalion di Saumlaki yang merupakan bagian dari pada rencana pengembangan kekuatan yang akan dilakukan TNI. Outputnya adalah untuk mendukung kebijakan pertahanan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi.

Bersamaan kunjungan ini, Panglima TNI diwakili oleh Asops Panglima TNI menyerahkan bantuan untuk prajurit TNI yang bertugas dalam rangka pengamanan perbatasan dan pulau - pulau terluar berupa satu set TV Plasma lengkap dengan antena parabola dan Decorder Indovision. Sementara itu, Wamenhan dalam kesempatan kunjungan ini menyerahkan paket bantuan berupa sembako kepada para prajurit TNI dan masyarakat di pulau tersebut.

DMC

Wamenhan Kunjungi Pulau Sekatung di Natuna


09 Agustus 2010, Natuna, Kepri -- Dalam rangka meninjau kondisi wilayah perbatasan dan pulau terluar, Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin didampingi sejumlah pejabat Kemhan dan Mabes TNI dan instansi terkait, Minggu (8/8) melakukan kunjungan kerja ke Pulau Sekatung, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Sehari sebelumnya Wamenhan dan rombongan telah melakukan kunjungan ke Pulau Selaru dan sekitar wilayah Laut Arafura.

Tujuan dari kunjungan ini tidak berbeda jauh dengan kunjungan-kunjungan ke pulau terluar sebelumnya terutama yang memiliki kandungan Sumber Daya Alam (SDA) yaitu untuk melaksanakan observasi konkrit melalui tinjauan secara langsung. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk berdiskusi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) terkait potensi-potensi yang ada di wilayah perbatasan yang perlu dikembangkan.

Pulau Sekatung merupakan salah satu pulau kecil terluar di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Vietnam dan berada di bagian utara Kepulauan Natuna yang termasuk wilayah Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Wamenhan dan rombongan tiba di Natuna dan disambut Bupati Natuna R. Amirullah dan Danrem 033/Wirapratama Kolonel Czi. Zaenal Arifin. Usai menerima paparan dari Bupati Natuna dan Dandim 0318/Natuna, Minggu (8/8) Wamenhan melakukan peninjauan ke Pulau Sekatung. Setibanya di Pulau Sekatung, Wamenhan didampingi Bupati Natuna disambut oleh para prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas pengamanan perbatasan dan masyarakat di Pulau Sekatung.

Turut serta dalam kunjungan tersebut sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan dan Mabes TNI antara lain Asops Panglima TNI, Dirjen Pothan Kemhan, Dirjakstra Ditjen Strahan Kemhan, Dirwilhan Ditjen Strahan Kemhan dan Karo Humas Setjen Kemhan. Hadir pula sejumlah pejabat perwakilan dari instansi terkait lainnya.
Bersamaan dengan kunjungan ini, Panglima TNI diwakili oleh Asops Panglima TNI menyerahkan bantuan untuk prajurit TNI yang bertugas dalam rangka pengamanan perbatasan dan pulau - pulau terluar berupa satu set TV Plasma lengkap dengan antena parabola dan Decorder Indovision. Sementara itu, Wamenhan dalam kesempatan kunjungan ini menyerahkan paket bantuan berupa sembako kepada para prajurit TNI dan masyarakat di pulau tersebut.

Sementara itu dalam acara pertemuan dengan Bupati Natuna, Wamenhan menyampaikan, dengan adanya variable geografi dan disvaritas esensi yang terkadung dalam sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia serta berbagai peran yang dimiliki masing – masing lintas sektoral, maka pengelolaan pertahanan negara harus dilakukan secara sinergi antar lintas sektor dan seluruh komponen bangsa. “Sistem pertahanan negara yang sinergis perlu bersama - sama kita bangun mulai dari rancang berpikir sampai kepada rancang pelaksanaannya”, jelas Wamenhan.

Lebih lanjut Wamenhan mengatakan, sesuai dengan sistem pertahanan negara, kebijakan pertahanan negara dikelola tidak secara sepihak, namun dikelola dengan menggunakan dua sisi yaitu pada sisi pertahanan militer yang dipenjurui oleh TNI dan nir militer yang dipenjurui oleh berbagai lintas sektoral.

Sinergi antar berbagai lintas sektoral dalam pengelolaan pertahanan negara tersebut, menurut Wamenhan menjadi salah satu dari empat pedoman pengelolaan pertahanan negara yang juga merupakan bagian dari kebijakan umum pertahanan negara.

Wamenhan menjelaskan, tiga pedoman lainnya dalam pengelolaan pertahanan negara antara lain dengan pertama pengelolaan pertahanan negara harus melihat kepada prespektif ancaman baik pada aspek tataran nasional, regional maupun internasional. Kedua, pertahanan negara harus dipersiapkan secara dini dan berkelanjutan untuk generasi ke generasi, baik dari pemahamannya maupun dari segi implementasi dari suatu pengelolaan pertahanan negara. Ketiga, pengelolaan pertahanan negara adalah menjadi tanggungjawab semua komponen bangsa.

Pemda berperan penting terhadap pertahanan nir militer

Terkait dengan peran Pemerintah Daerah (Pemda) di bidang pertahanan negara, Wamenhan mengatakan selain perhatian utama Pemda dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, juga melekat didalamnya tersirat peran di bidang pertahanan yaitu sebagai focal point di dalam pembinaan kewilayahan. “Dalam kaitan pembinaan kewilayahan, maka peran pemerintah daerah terhadap pertahanan nir militer ini merupakan hal yang penting dan sebagai focal point”, ungkap Wamenhan.

Menurut Wamenhan, tanpa adanya peran dari Pemda dan masyarakat dalam kaitan bela negara, maka akan terjadi kepincangan di dalam sistem pertahanan negara, karena sistem pertahanan negara harus sinkron antara pertahanan militer dan nir militer.

Lebih lanjut Wamenhan mengatakan, bahwa peranan dari Pemda tersebut diharapkan akan menjadi penguatan dan perkuatan untuk TNI. Penguatan dan perkuatan bukan berarti mewajibkan komponen bangsa lainnya untuk ditentarakan, namun makna yang terkandung didalam peran tersebut adalah peranan yang dilakukan sesuai dengan fungsi dan perannya masing - masing.

Bela negara tidak berarti militerisme, tetapi melalui peran aktif dari masing - masing komponen bangsa untuk diwujudkan soliditas guna menghadapi berbagai ancaman yang mengganggu kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. “Intinya Pemda dengan segenap komponen masyarakat mempunyai tanggungjawab untuk menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa”, tambah Wamenhan.

Terakhir Wamenhan menegaskan, bahwa pertahanan negara tidak dapat dikelola secara sendiri – sendiri atau sepihak, namun diperlukan integrasi diantara stake holder dan segenap komponen bangsa.

DMC