Saturday, June 5, 2010

Non-Combatant Evacuation Operation Exercise

An Army unimog is loaded onto HMAS Balikpapan.

04 June 2010 -- As part of the Minor War Vessel Concentration Period, two Royal Australian Navy ships, HMAS Balikpapan and HMAS Betano took part in a Non-Combatant Evacuation Operation exercise.

A Non-Combatant Evacuation Operation (NEO) is an amphibious operation conducted to relocate threatened non-combatants to a place of safety in a foreign country.

The simulated amphibious operation involved the Australian Army’s 2nd Cavalry Regiment loading an Australian Light Armoured Vehicle (ASLAV), a General Motor Vehicle and three Unimogs onto HMA Ships Balikpapan and Betano.

HMAS Betano lowers her bow door on approach to the boat ramp.

An Australian Light Armoured Vehicle (ASLAV) is loaded onto HMAS Betano.

Petty Officer Boatswain Sam Perez stands guard as HMAS Betano loads Army vehicles onboard.

Australian DoD

KSAD: Detasemen 81 Kopassus Masih Terbaik

Prajurit TNI AD dari Satuan Penanggulangan Teror (Gultor) Den-81 Kopassus mengevakuasi para sandera, pada Latihan Kartika Jaya I, di Lanumad Ahmad Yani, di Semarang, Jateng, Sabtu (5/6). Latihan yang disaksikan Kasad Jenderal TNI George Toisutta itu melibatkan Satuan TNI AD dari Kopassus, Ton Taipur (Kostrad), Penerbad, dan sejumlah satuan kewilayahan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan teknik dan taktik operasi penanggulangan teror, operasi komando perebutan cepat dan operasi raid. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/HP/10)

05 Juni 2010, Semarang -- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta menyatakan bahwa Satuan Penanggulangan Teror (Gultor) Detasemen 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) masih termasuk dalam kategori terbaik di tingkat dunia.

"Dalam penanggulangan aksi terorisme kita juga masih mempunyai Detasemen Intai Tempur Kostrad namun kemampuannya masih terbatas dan berada di bawah Detasemen 81," katanya usai menyaksikan latihan terpadu penanggulangan teror di Lanumad Ahmad Yani Semarang, Sabtu.

Dalam kesempatan tersebut, KSAD didampingi oleh Danjen Kopassus Mayor Jenderal TNI Lodewijk Freidrich Paulus, Panglima Daerah Militer IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Budiman, dan Komandan Pusat Penerbangan TNI AD Brigadir Jenderal Nabris Haska.

George mengatakan, Detasemen 81 Kopassus siap membantu Detasemen Khusus 88 Antiteror yang dimiliki Polri jika diminta dalam menanggulangi aksi terorisme di Indonesia.

"Kendati demikian kita berharap tidak pernah dimintai bantuan oleh Polri karena hal itu menunjukkan bahwa situasi aman terkendali," ujarnya.

Menurut dia, diminta atau tidak oleh Polri, pihaknya akan tetap melakukan latihan untuk menjaga kemampuan yang dimiliki.

"Pada intinya kita siap membantu Densus 88 Antiteror jika diminta," katanya.

Terkait latihan terpadu bersandi "Kartika Jaya I" tersebut, George menjelaskan bahwa latihan ini merupakan uji siap tempur (UST) personel yang akan mengikuti latihan puncak yang akan dilaksanakan di Bandara Gatot Subroto, Sumatra Selatan, dalam waktu dekat.

"Latihan tersebut dilakukan sebagai implementasi strategi penanggulangan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya serangan teroris yang dapat mengganggu stabilitas keamanan wilayah NKRI," ujarnya.

Ia mengatakan, latihan terpadu yang melibatkan sekitar 250 anggota yang terdiri dari personel Kopassus, Kostrad, Penerbad, Batalyon 400/Raider, Kodim 0733/BS ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknik dan taktik operasi penanggulangan teror.

Materi yang dikembangkan dalam latihan dengan skenario pembebasan sandera di bandara yang dikuasai teroris ini adalah teknik infiltrasi dengan menggunakan kendaraan rantis, teknik serbuan, teknik pembersihan, teknik evakuasi, dan teknik exfiltrasi.

Sebanyak empat unit helikopter jenis Helly MI-17, empat unit helikopter Bell 412 dan 205, tiga unit Helly Bolco 105 serta empat kendaraan rantis terlihat menunjukkan beberapa taktik manuver dalam penanggulangan teror.

Sejumlah helikopter milik Korps Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad), melakukan formasi terbang bersama. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/HP/10)


Sejumlah prajurit TNI AD dari Satuan Penanggulangan Teror (Gultor) Den-81 Kopassus melompat dari helikopter untuk melakukan pembebasan sandera. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/HP/10)

Sejumlah prajurit TNI AD dari Satuan Penanggulangan Teror (Gultor) Den-81 Kopassus berlari menuju sasaran untuk melakukan pembebasan sandera. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/HP/10

ANTARA News

Tim Patroli Wajib Siaga & Waspada

Pembukaan Apel Dantim Indobatt ini berlangsung di Soekarno-Base UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr. (Foto: Puspen TNI)

03 Juni 2010, Adishit Al Qusayr -– Komandan tim patroli memegang peranan penting dalam melaksanakan tugas operasi pemeliharaan perdamaian, antara lain pada saat pergerakan patroli menyusuri jalanan sepanjang Blue Line serta pengawasan dan pengamatan pada saat berada di Observation Post (OP).

Demikian dikatakan Komandan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL (Indonesian Battalion/Indobatt), Letkol Inf Andi Perdana Kahar, pada saat acara pembukaan Apel pejabat Dantim Indobatt, di Lapangan Upacara Soekarno-Base UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr. Kegiatan Apel Dantim Indobatt tersebut berlangsung dua hari hingga Kamis (3/6).

Lebih lanjut, Komandan Indobatt juga menyampaikan harapan bagi seluruh peserta apel untuk secara serius mengikuti rangkaian kegiatan yang akan digelar dalam Apel Dantim tersebut. Hal ini bertujuan agar setiap pejabat Dantim di jajaran Indobatt akan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas kemampuan serta keterampilannya, guna mendukung kelancaran dan keberhasilan tugas di daerah Lebanon Selatan ini. Kualitas kemampuan dan keterampilan yang dimaksud tersebut, tentunya, harus sesuai dan sejalan dengan Standard Operating Procedures (SOP) yang berlaku di jajaran UNIFIL.

Terkait dengan petunjuk dan arahan Komandan Indobatt tersebut, maka pada kesempatan awal kegiatan Apel Dantim, Kapten Kav Makhdum, selaku Koordinator Materi Patroli, mengingatkan kembali tentang tujuan serta beberapa hal penting terkait dengan SOP Patroli UNIFIL.


(Foto: Puspen TNI)

Menurut pejabat Wadan Kimek A tersebut, bahwa pelaksanaan kegiatan patroli dalam operasi pemeliharaan perdamaian harus selalu memperhatikan perubahan situasi yang setiap saat dapat terjadi, serta selalu mengedepankan dukungan terhadap kegiatan kemanusiaan bagi masyarakat setempat dimana kegiatan patroli tersebut berlangsung. Dengan penjabaran seperti itu, maka setiap pejabat Komandan Tim Patroli wajib meningkatkan kesiapsiagaan serta kewaspadaannya dalam memimpin kegiatan patroli, sehingga pengambilan keputusan di lapangan akan sesuai dengan SOP yang berlaku.

Sementara itu, menurut Koordinator Umum Kapten Inf Arfan Johan, kegiatan tersebut terbagi menjadi tiga macam kegiatan yaitu pembekalan teori, diskusi dan praktek langsung di lapangan. Lebih lanjut ditegaskan oleh pejabat Kasi Operasi Indobatt tersebut bahwa kegiatan apel pejabat Dantim tersebut akan diselenggarakan secara periodik dan bergantian bagi setiap pejabat Dantim oleh Indobatt sebagai latihan dalam satuan.

Hal ini sengaja dilakukan demikian mengingat padatnya waktu operasional operasi pemeliharaan perdamaian yang menuntut kehadiran setiap pejabat Dantim di tengah-tengah anak buahnya dalam melaksanakan tugas operasi. Tuntutan seperti ini bukan saja berlaku bagi Indobatt semata, namun juga berlaku bagi seluruh satuan yang berada dibawah komando UNIFIL. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan para pejabat Dantim di jajaran Indobatt harus selalu dipelihara dan ditingkatkan.

Puspen TNI

Dankomar Lepas Satgasmar Pam Puter IX


04 Juni 2010, Bandar Lampung -- Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin melepas keberangkatan prajurit Batalyon Infanteri–7 Marinir yang tergabung dalam Satuan Tugas Marinir pengamanan pulau terluar IX (Satgasmar Pam Puter IX) Dpp. Lettu Mar Teguh Rudianto dalam upacara resmi di Pelabuhan Pelindo Panjang Bandar Lampung pada hari Jumat tanggal 04 Juni 2010.

Satgas ini akan menempati pulau–pulau terluar di wilayah Indonesia bagian barat antara lain Pulau Rondo, Pulau Nipah dan Pulau Berhala. Sebelum berangkat ke daerah penugasan dilaksanakan latihan pra satgas selama 3 minggu di Pantai Caligi Batumenyan Padang Cermin serta pembekalan tentang perkembangan situasi dan kondisi daerah penugasan.

Indonesia adalah negara kepulauan yang berbatasan dengan negara– negara tetangga serta memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah. Hal ini berpotensi terjadi permasalahan diantaranya bidang pertahanan, hukum, ekonomi dan masalah yang menonjol akhir–akhir ini antara lain : sengketa batas wilayah, pencurian hasil alam, penyelundupan serta perompakan, yang kesemuanya memerlukan pengamanan secara serius. Dari latar belakang itulah TNI, TNI AL khususnya Korps Marinir menggelar kekuatan untuk mengamankan pulau – pulau strategis terluar yang rawan konflik demi keutuhan NKRI.

Selama berada di tempat penugasan, Satgasmar Pam Puter IX adalah mata dan telinga Korps Marinir yang berada di garda depan wilayah NKRI maka dari itu ditekankan pada seluruh anggota Satgasmar agar mengumpulkan dan meyusun data–data terbaru tentang daerah penugasan, melaksanakan prosedur hubungan Komando dan prosedur Taktis lapangan dengan baik. Selain itu agar tetap menjaga profesionalisme dan disiplin dalam melaksnakan aktivitas sehari–hari.

Dalam amanatnya Komandan Korps Marinir menekankan kepada seluruh anggota Satgasmar agar : 1. Meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME, 2. Penugasan merupakan kepercayaan, kehormatan dan kebanggan yang selalu didambakan oleh setiap prajurit korps Marinir, untuk itu laksanakan penugasan ini dengan hati yang mantap, ikhlas dan gembira, 3. Permasalahan keluarga jangan sampai membebani pikiran kalian dalam melaksanakan tugas , sampaikan selalu kabar gembira kepada keluarga yang ditinggalkan dirumah, 4. Tingkatkan kewaspadaan jangan sampai lengah sedikitpun dan ikuti semua prosedur yang berlaku di daerah penugasan, 5. Pelihara dan tingkatkan persatuan dan kesatuan yang solid antar anggota satgas sehingga tercipta kebersamaan dalam suasana kerja demi kebehasilan tugas.

Marinir

India dan Perancis Kembangkan Rudal Jarak Pendek

Rudal MBDA Mica. (Foto: wikipedia)

04 Juni 2010 -- India akan mengembangkan rudal jarak pendek permukaan ke udara bersama Perancis.

DRDO (Defence Research and Development Organisation) India dan MBDA (Matra BAE Dynamics Alenia) Perancis akan bekerjasama dalam proyek ini, diberitakan harian Indian Express.
Kesepakatan perjanjian akan ditandatangani pada bulan depan.

Jean-David Levitte seorang penasehat Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan tahun lalu, sistem rudal baru perpaduan teknologi rudal buatan India Trishul dan buatan MBDA MICA, kemungkinan akan diberinama Maitri.

Proyek kerjasama ini telah dimulai sejak 2007, memakan waktu lebih dari tiga tahun guna mencapai kesepakatan.

Rudal akan digunakan oleh angkatan darat, laut dan udara serta dapat dieksport. India telah bekerjasama dengan Rusia mengembangkan rudal BrahMos.

BNS/Berita HanKam

Komandan Akhir Tugas KRI Teluk Langsa Berpangkat Laksamana


04 Juni 2010, Jakarta -- Komando Lintas laut Militer mengoperasikan sedikitnya delapan kapal perang jenis landing ship tank (LST) dioperasikan TNI AL sejak tahun 60 an, diantaranya KRI Teluk Langsa-501 yang pada masa penugasan telah menghantarkan karier seorang perwira yang menjabat Komandan KRI berpangkat mayor Laut, yang pada perjalanan akhir tugasnya menyandang pangkat Laksamana dan pernah menduduki jabatan tertinggi di TNI AL yakni Laksamana TNI (Purn) Tanto Kuswanto.

Demikian pula dengan mantan Komandan KRI Teluk Langsa 501 pada pada tahun 1995 dalam perjalanan tugas selanjutnya pernah mencapai karier menjabat sebagai Panglima Komando Lintas laut Militer yang menyandang pangkat Laksamana Muda TNI pada tahun 2008-2009. Tentu saja masih banyak para perwira lainnya yang pernah bertugas di KRI Teluk Langsa-501 pada masa akhir tugasnya mencapai Pangkat Perwira Tinggi di TNI AL.

Perjalanan yang cukup panjang Kapal perang TNI AL yang mulai dioperasikan pada tanggal pada tanggal 16 Agustus 1960 dan kini telah genap berusia lima puluh tahun memperkuat jajaran kapal perang TNI AL.

Kapal perang jenis landing ship tank yang mampu mengangkut sedikitnya 17 tank ampifi ataupun 18 kendaraan Truk ranpur dan mampu mengangkut sekitar 800 personel pasukan pendarat dalam kegiatan operasi pendaratan Administrasi dan saat itu mampu berlayar maksimal dengan kecepatan 12 knot.

Dalam catatan perjalanan KRI yang diproduksi Amerika pada tahun 1945 dengan nama saat dioperasikan oleh angkatan laut Amerika USS Solano County (LST-1128) dan saat memperkuat TNI AL dengan Komandan yang pertama kali pada tahun 1960 dijabat oleh Mayor Laut (P) Mas Wibowo.

Selama penugasan telah mengukir prestasi dan memberikan catatan sejarah selama dalam perjalanan kegiatan operasi dalam rangka mempertahankan wilayah kedaulatan RI maupun dalam latihan puncak TNI AL Armada Jaya dan Latihan gabungan TNI. Demikian pula telah berpartisipasi dalam kegiatan mengangkut bantuan pemerintah pusat ke daerah-daerah maupun bantuan korban bencana alam .

Penugasan terakhir ke wilayah Indonesia bagian Timur, KRI Teluk Langsa-501 pada akhir tahun 2008 lalu melaksanakan operasi pergeseran pasukan (serpas) pasukan Yonif 320 /Badak Putih Kodam Siliwangi kekuatan 649 pasukan beserta perlengkapan tempur dibawah Komandan Batalyon Letkol Inf. Basuki selesai penugasan Pengamanan di wilayah perbatasan RI–PNG kembali ke pangkalan induk di Kodam Siliwangi.

Kedatangan pasukan Yonif 320/Badak Putih ini disambut oleh Pangdam III Siliwangi yang saat itu dijabat oleh Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary didampingi Danrem dan Danyon jajaran Kodam III Siliwangi dalam upacara penyambutan bertempat di dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta.

Sedangkan penugasan ke wilayah Barat Indonesia terakhir saat melaksanakan pergeseran pasukan yang tergabung dalam Satuan Tugas pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Jakarta menuju wilayah perbatasan dengan mengangkut 139 personel marinir dan pasukan katak TNI AL yang bertugas sebagai pasukan pengamanan daerah perbatasan di Pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan Negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Meskipun beberapa tahun sebelumnya tepatnya pada tahun 1997 kapal perang ini telah dilaksanakan repowering dalam rangka memperpanjang masa pakai dan dioperasikan sampai tahun 2008 lalu. Namun dengan pertimbangan Kondisi tehnis Kapal perang tersebut sejak akhir tahun lalu telah diusulkan dan direncanakan untuk dihapuskan dari TNI AL bersama-sama dengan beberapa KRI sejenis yang dioperasikan oleh Komando Lintas laut Militer diantaranya KRI Teluk Bayur 502, KRI Teluk Kau 504, KRI Teluk Tomini 508 .

Kapal perang KRI Teluk Langsa -501 dibawah pembinaan satuan Lintas laut kini sudah tidak dioperasikan untuk kegiatan operasi pergeseran pasukan maupun kegiatan latihan dan saat ini sandar di dermaga Kolinlamil tanjung Priok Jakarta. Untuk mempertahankan daya apung kapal perang tersebut, saat ini masih diawaki 58 personel dengan komandan Mayor Laut (P) Bambang Triyanto.

Sedangkan menjelang kegiatan hari liburan sekolah kali ini, KRI Teluk Langsa-501 tetap membuka kegiatan Open Ship bagi anak-anak sekolah sebagai tujuan Wisata sejarah di kapal perang TNI AL.

Dispenkolinlamil/Pos Kota

Canada Accepts First Of 17 Lockheed Martin C-130J Super Hercules


04 June 2010, MARIETTA, Ga., -- Canada formally accepted the first of 17 Lockheed Martin [NYSE: LMT] C-130J Super Hercules aircraft today at ceremonies here and at Canadian Forces Base Trenton.

Canada finalized its CC-130J contract with Lockheed Martin in December 2007, with a subsequent agreement from the U.S. Air Force to ensure an early delivery of the first two Canadian aircraft. The balance will be delivered by the end of 2012. The CC-130Js (the Canadian designation) are the "stretched" configuration of the C-130J and are of similar specification to those already operated by the U.S. and other worldwide air forces.

"This year is the 50th anniversary of the first CC-130 Hercules aircraft accepted by Canada," said the Honourable Peter MacKay, the Canadian Minister of National Defence. "I am proud to mark this milestone by welcoming the J-model Hercules into our fleet – on budget and on schedule – ensuring the Canadian Forces have the equipment it needs to be a modern, multi-role force able to take on the challenges of the 21st century."

"Lockheed Martin is proud to again support Canada and the Canadian Forces," said Tony Frese, Lockheed Martin C-130J program director. "The C-130J Super Hercules is an operationally proven platform and the ideal aircraft to replace Canada's existing C 130 fleet. The current C-130s have been Canada's indomitable workhorse for decades and this new aircraft will now meet the demanding tactical airlift needs of the Canadian Forces."

The C-130J generates greater operational efficiency than Canada's existing E and H models, by flying further, faster, with more payload and higher reliability. The aircraft's increased performance gives it an enhanced range with a payload capability of over 4,000 nautical miles. In addition, its short-field performance allows the aircraft to engage in direct support missions for frontline forces down to the last tactical mile.

C-130Js are currently deployed in several theatres and are operating at a high tempo efficiently and reliably. C-130Js are used daily for troop and equipment re-supply via ground delivery and airdrop, for air-to-air refueling, ground refueling, humanitarian relief and search and rescue.

Lockheed Martin recently announced the team of Canadian companies that will provide maintenance and support for Canada's new CC 130J fleet. The initial in-service support (ISS) contract period is for six-and-a-half years from contract award in December 2009 to June 30, 2016.

"Through a rigorous and competitive process, we assembled a team to support Canada's CC 130J fleet that rivals any such team in the world," Frese said."This team – as well as the expertise and capabilities in Canada to fulfill our industrial benefits obligation – stands as a testament to the quality of Canada's high-technology industrial base."

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Lockheed Martin

KSAU: TNI akan Beli Empat Pesawat Tanpa Awak

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufaat (kiri), menyalami Komandan Yon 465 Paskhas Lanud Supadio, Mayor Psk Rana Nugraha, usai melakukan peninjauan di Pangkalan Udara Supadio Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Jumat (4/6). Peninjauan langsung ke beberapa fasilitas yang dimiliki Lanud Supadio tersebut, terkait dengan adanya perencanaan peningkatan tipe Lanud Supadio dari tipe B menjadi tipe A atau setingkat Bintang satu. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ed/pd/10)

04 Juni 2010, Pontianak -- Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufa`at mengungkapkan bahwa Tentara Nasional Indonesia akan membeli empat unit pesawat tanpa awak untuk memperkuat kemampuan pemantauan kawasan perbatasan Indonesia.

"Empat pesawat tanpa awak itu, di antaranya akan ditempatkan di Lanud Suryadarma dan Lanud Supadio mulai tahun 2011," kata KSAU Imam Sufa`at dalam jumpa pers di Pontianak, Jumat.

Pesawat tanpa awak itu yang pertama di Indonesia, karena hingga kini Indonesia belum mempunyai pesawat jenis tersebut. Pesawat itu nantinya untuk memperkuat pemantauan kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga, kata Imam.

Menurut dia, pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis. "Di negara maju, pesawat ini dapat dioperasikan dari jarak jauh," katanya.

Selain itu, lanjut dia, dapat dipersenjatai serta dilengkapi dengan peralatan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari.

Pesawat tersebut bisa dimanfaatkan untuk pemantauan aktivitas ilegal, di antaranya pengawasan penebangan hutan secara liar, pencurian ikan, dan kawasan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

Misalnya di Papua membutuhkan pesawat tersebut, maka pesawat tanpa awak bisa diangkut menggunakan Hercules beserta peralatannya untuk dibawa kesana.

"Sangat bermanfaat sekali pesawat tanpa awak itu untuk menjaga NKRI," katanya.

Dalam kesempatan itu, KSAU juga mengatakan, pada tahun 2010 TNI AU juga akan membangun radar militer di Marauke yang diperkirakan mulai operasi Nopember, Saumlaki di Kepulauan Maluku dekat Ambon, Timika dan Kota Singkawang, tahun 2011 mendatang.

Kemudian juga akan ditempatkan radar militer, yakni di Kupang dan Bali, Morotai, kata Imam.

ANTARA News

Friday, June 4, 2010

Boeing Perluas Bisnis Pertahanan ke Asia

c-17 Globemaster.

06 Juni 2010, Singapura -- Boeing ingin memperluas bisnis pertahanannya di luar Amerika Serikat (AS). Langkah itu untuk mengimbangi pengurangan anggaran pertahanan Washington.

Presiden dan ketua eksekutif bagian Pertahanan, Luar Angkasa dan Keamanan Boeing, Dennis Muilenburg, Jumat (4/6) mengatakan, perusahaannya menargetkan untuk menjual pesawat tempur, pesawat pengangkut dan sistem penerbangan tanpa awak di Asia. Pasar internasional telah menyumbang 16 persen dari total pendapatan pertahanan per tahun dari 34 miliar dolar AS dan perusahaan tersebut berencana untuk ekspansi hingga 20-25 persen dalam lima tahun berikutnya, kata Muilenberg.

Asia-Pasifik sekarang menyumbangkan setengah dari pendapatan di luar Amerika, katanya kepada wartawan di Singapura saat mengikuti forum tentang keamanan. "Kami melihat menurunnya anggaran pertahanan AS dan itu berdampak pada kami di beberapa bagian, seperti pertahanan rudal," katanya.

Dengan permintaan produk utama yang tetap sehat, perusahaan tersebut memperluas pada beberapa bisnis lain seperti sistem penerbangan tanpa awak, sistem keamanan komputer dan pengamanan jaringan listrik. Mereka juga membuka bisnis baru diluar militer AS, dan sedang mencari kontrak lain di India, Singapura, Australia, Korea Selatan dan Jepang, kata Muilenberg.

"Segmen bisnis internasional kami merupakan pertumbuhan bidang yang kuat," jelasnya.

Keperluan pesawat untuk keperluan misi bantuan kemanusiaan dan pertolongan bencana alam menjadi permintaan penggerak untuk helikopter Chinook dan pesawat transpor militer C-17, katanya. India telah menandatangani perjanjian untuk membeli delapan pesawat anti-kapal selam P8i dari Boeing dan telah menyatakan minat membeli 10 pesawat transpor militer C-17.

Boeing juga merupakan satu dari beberapa perusahaan yang bersaing untuk menjual pesawat jet tempur modern ke Angkatan Udara India.

KOMPAS.com

Pindad Hentikan Sementara Produksi Detonator

Divisi Munisi PT Pindad yang terletak di Turen, Malang, Jawa Timur setiap tahunnya memproduksi 100 juta butir peluru dan bom berbagai ukuran dan kaliber. Selain untuk kebutuhan TNI/Polri, peluru-peluru ini juga di ekspor ke negara-negara tetangga. (Foto: detikFoto/Ramadhian Fadillah)

06 Juni 2010, Bandung -- PT Pindad untuk sementara waktu menghentikan produksi detonator di pabrik mereka di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, hingga pemeriksaan internal terkait ledakan di gedung produksi itu tuntas.

"Saat ini produksi detonator dihentikan sementara waktu. Tim Internal kami sedang melakukan pengecekan dan investigasi di sana," kata Direktur Utama PT Pindad, Adiek Aviantono, ketika dihubungi dari Bandung, Jumat.

Menurut dia, Tim Internal dari PT Pindad diturunkan ke gedung produksi detonator Turen. Namun tim tersebut bukan untuk melakukan pencarian penyebab kejadian itu namun difokuskan pada investigasi pemanfaatan teknologi produksi di sana.

Tim tersebut sudah diturunkan sejak H+1 kejadian, yang terdiri dari pakar dari PT Pindad. Namun tidak disebutkan sampai kapan tim internal BUMN strategis itu akan bekerja dan memberikan laporan hasil temuannya di lapangan.

Adiek menyebutkan, teknologi pembuatan detonator di gedung produksi PT Pindad di Turen sudah diterapkan sejak 2005. Teknologi itu diadopsi dari salah satu negara, namun Adiek enggan menyebutkan asal teknologi pembuatan alat pemicu bahan peledak itu.

"Tim internal melakukan investigasi teknologinya, kita tak tahu teknologi itu masih cocok nggak saat ini atau tidak khususnya dari sisi keamanannya. Namun di Indonesia teknologi yang digunakan di pabrik kita di sana memang yang terbaru. " katanya.

Bila hasil pengecekan sudah tidak aman dan berbahaya dalam proses produksinya, maka akan diganti dengan teknologi lain yang lebih aman, apakah itu teknologi dalam negeri maupun dari luar negeri.

Lebih lanjut, Dirut PT Pindad itu menyebutkan, selama ini produksi detonator oleh BUMN strategis itu rata-rata 1,5 juta unit atau butir per tahun. Jumlah tersebut masih kecil dan belum sebanding dengan kapasitas terpasang atau yang diperlukan.

Detonator buatan Pindad tersebut selama ini digunakan untuk sektor pertambangan di Kalimantan, Sulawesi dan di beberapa daerah lainnya. Sebagian besar yang menggunakan detonator adalah pertambangan baru bara dan produksi semen.

"Secara keseluruhan, PT Pindad baru memenuhi 10-15 persen kebutuhan detonator secara nasional. Sisanya dipasok pihak lain melalui impor," katanya.

Terkait potensi kerugian yang dialami PT Pindad terkait penghentian produksi detonator itu, Adiek menyatakan sedang dihitung, meski perusahaannya tengah fokus melakukan penanganan pasca ledakan yang menewaskan seorang karyawannya itu.

Kejadian ledakan di gedung produksi detonator itu terjadi pada Rabu (2/6) sekitar pukul 13.45 WIB. Seorang karyawan tews yakni Tri Nurhuda (27), sedangkan lima lainnya mengalami luka-luka.

ANTARA News

TNI AU Akan Bangun Radar di Singkawang


03 Juni 2010, Pontianak -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara akan membangun radar militer di Singkawang, Kalimantan Barat, dengan target pengadaan pada tahun 2011.

"Rencananya di tahun 2010 akan mendapat kredit ekspor untuk radar tersebut sehingga tahun 2011 akan dimulai proses pengadaannya di Kementerian Pertahanan," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufa`at di sela kunjungan ke Pontianak, Kamis.

Menurut dia, penempatan radar di daerah Singkawang tersebut mengingat hingga kini kawasan itu belum terawasi.

Ia menambahkan, TNI juga berencana menambah armada pesawat tempur serta pesawat angkut dan transportasi sekaligus mengganti pesawat yang sudah tua di tahun 2019. Namun, lanjut dia, dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik diharapkan ada percepatan sehingga bisa menghasilkan kekuatan yang dibutuhkan pemerintah.

Ia melanjutkan, di tahun 1960-an Angkatan Udara Indonesia merupakan yang terkuat di kawasan Asia. Masa itu adalah ketika Indonesia dalam proses pengambilan Irian Barat dari Belanda.

"Itu diakui," kata dia. Kemudian, seiring berjalannya waktu kekuatan Angkatan Udara Indonesia tidak dapat dipertahankan seperti di tahun 1960-an. "Mudah-mudahan bisa mencapai kejayaan di masa mendatang," kata Imam Sufa`at.

Imam Sufa`at mengatakan, Angkatan Udara adalah sistem pertahanan yang padat teknologi sehingga perlu pengawakan yang berkualitas.

Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya mengatakan, dalam kontek pertahanan keamanan, TNI AU menjadi matra pertahanan yang mempunyai peran penting strategis untuk menjaga Negara Kesatuan RI.

Christiandy Sanjaya berharap, berbagai rencana pembangunan pertahanan udara di Kalbar dapat terealisasi. Ia mencontohkan pengembangan Bandar Udara Putussibau di Kabupaten Kapuas Hulu untuk mendukung operasional TNI AU di wilayah perbatasan.

Imam Sufa`at dan rombongan dari TNI AU sekaligus melakukan kunjungan ke Brunei Darussalam.

ANTARA Sumbar

Diskusi Logistik Marinir Indonesia - Amerika Serikat


04 Juni 2010, Jakarta -- Asisten Logistik Komandan Korps Marinir Kolonel Marinir Bambang Suryo Aji sebagai ketua delegasi dari Korps Marinir menerima kunjungan staf logistik (G-4) Marines Forces Pacific (MARFORPAC) Col Baldwin guna melakukan diskusi logistik Marinir kedua Negara tersebut, di Markas Komando Korps Marinir, Jl. Prapatan No.40 Jakarta Pusat, yang berlangsung tanggal 1 – 2 Juni 2010.

Kegiatan ini merupakan diskusi logistic pertama dilakukan antara MARFORPAC dan staf logistik Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang didalamnya membahas mengenai penggunaan anggaran MARFORPAC untuk seluruh kegiatan latihan di Indonesia serta kemungkinan dijajakinya kerjasama bidang logistik antara MARFORPAC dengan staf logistik Korps Marinir.

Materi lainnya yang dibahas dalam pertemuan yang berlangsung dua hari dan dihadiri oleh Col Baldwin, Mr. Tim Rollin, Staf ODC Kedubes Amerika Serikat Commodore White, dan Staf ODC Ny. Dely itu antara lain: Developing Country Combine exercise Program (Latihan negara-negara yang sedang berkembang), Asian Regional Forum Voluntary Disaster Response (Kegiatan sukarelawan negara-negara Asia Tenggara untuk penanganan bencana alam), Exercise Logistic Support (Dukungan logistik dalam pelaksanaan latihan).

Latihan menembak Yonif-8 Marinir

Komandan Brigif-3 Marinir Kolonel Mar Edy Setiawan beserta Perwira Stafnya meninjau latihan menembak senjata bantuan Infanteri yang dilakukan para prajurit Yonif-8 Mar dan Yonmarhanlan I Belawan, di desa Bukit Mas, Kec. Besitang, Senin,(26/5).

Latihan tersebut digelar dengan tujuan memelihara dan meningkatkan ketrampilan prajurit agar terciptanya prajurit Marinir yang profesional dan handal dalam menjaga stabilitas keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam arahannya kepada seluruh pasukan yang tengah melaksanakan latihan itu, Komandan Brigif-3 Mar mengatakan, latihan itu juga memiliki manfaat untuk menyamakan persepsi teknis dan taktis karena merupakan satu kesatuan sistim sehingga akan didapat hasil yang maksimal dalam meningkatkan kemampuan.

Dalam latihan menembak SMR, SMS, GLM, MGL, Mortir 60 dan Mortir 81, diharapkan keterlibatan prajurit dalam latihan maksimal mengingat latihan merupakan salah satu kesejahteraan prajurit.

Marinir

Navy to Christen Guided-Missile Destroyer Spruance


03 June 2010, WASHINGTON (NNS) -- The Navy will christen the newest guided-missile destroyer, Spruance, June 5 during a 10 a.m. ceremony at Bath Iron Works in Bath, Maine.

The new destroyer honors Adm. Raymond Spruance, whose calm and decisive leadership at the Battle of Midway contributed to a pivotal American victory during World War II.

Sean Stackley, assistant secretary of the Navy for research, development and acquisition, will deliver the ceremony's principal address. Ellen Spruance Holscher, granddaughter of the ship's namesake, will serve as sponsor, and in accordance with Navy tradition, will break a bottle of champagne across the bow to formally christen the ship.

Born in Baltimore, July 3, 1886, Spruance graduated from the Naval Academy in 1906. His Navy career was extensive, including command of five destroyers and the battleship Mississippi. Spruance led Task Force 16, with two aircraft carriers, during the 1942 Battle of Midway, where his disposition of forces and management of aircraft was crucial to a victory that is regarded as the turning point in the Pacific war with Japan.

He later directed campaigns that captured the Gilberts, Marshalls, Marianas, Iwo Jima and Okinawa and defeated the Japanese fleet in the 1944 Battle of Philippine Sea. After commanding the Pacific Fleet in 1945-46, Spruance served as president of the Naval War College until retiring in 1948. In 1952-55, he was ambassador to the Philippines. Spruance died at Pebble Beach, Calif., Dec. 13, 1969.

Designated DDG 111, Spruance is the 61st ship of the Arleigh Burke class, a multi-mission guided-missile destroyer designed to operate in multi-threat air, surface and subsurface threat environments. The class provides outstanding combat capability and survivability characteristics while minimizing procurement and lifetime support costs.

The ship will be the second ship named for Spruance. The first USS Spruance (DD 963) was the lead ship of Spruance class destroyers serving from 1973 to 2005.

Cmdr. Tate Westbrook, a native of Murfreesboro, Tenn., is the prospective commanding officer and will lead a crew of 276 officers and enlisted personnel. The 9,200-ton Spruance is 509 feet in length, has a waterline beam of 59 feet, and a navigational draft of 31 feet. Four gas turbine engines will power the ship to speeds in excess of 30 knots.

NAVY.mil

Pindad Diduga Produksi Detonator Berlebihan

Pegawai Divisi Munisi PT Pindad sedang menyortir peluru-peluru secara manual. Divisi Munisi PT Pindad yang terletak di Turen, Malang, Jawa Timur setiap tahunnya memproduksi 100 juta butir peluru dan bom berbagai ukuran dan kaliber. Selain untuk kebutuhan TNI/Polri, peluru-peluru ini juga di ekspor ke negara-negara tetangga. (Foto: detikFoto/Ramadhian Fadillah)

04 Juni 2010, Malang -- Meledaknya sekitar 7.500 detonator yang sedang diproduksi PT Pindad Persero, di Desa Sedayu, Turen, Kabupaten Malang, menimbulkan kecurigaan. Insiden yang menelan korban jiwa tiga karyawan perusahaan pelat merah itu diduga terjadi lantaran PT Pindad hanya mengejar order, tanpa memikirkan risiko.

Akibatnya, menurut sumber Surya, Kamis (3/6), mesin perakit tak kuat dipakai memproduksi detonator yang overproduksi. Mesin menjadi panas akibat peningkatan gesekan dan tekanan, sehingga menyebabkan delay elemen terbakar.

Terbakarnya delay elemen itu menimbulkan percikan api, sehingga menyebabkan satu detonator meletus kemudian memicu detonator lain meledak secara beruntun tiga kali, menyebabkan kerusakan bangunan, sekaligus meminta korban jiwa. Hanya, sumber itu tak menyebut, berapa ribu produksi detonator yang dihasilkan Pindad setiap hari.

Namun, pihak Pindad membantah dugaan overproduksi itu. Menurut Dirut Pindad, Adik Avianto S, jumlah produksi detonator di perusahaannya wajar. Dia menjelaskan, kejadian ledakan itu berlangsung pada proses produksi atau perakitan. Sebagian detonator sudah ada yang selesai dirakit, sebagian lagi masih setengah jadi.

“Ah, nggak benar terjadi overproduksi. Perakitan detonator sebanyak itu dalam sehari normal saja, dan masih rata-rata,” tegasnya, Kamis (3/6).

Kebetulan, paparnya, saat muncul ledakan, para korban berada di gedung yang kena ledakan seraya mengerjakan tugas masing-masing. Ada yang mengepres detonator, dan ada yang mengepak detonator yang selesai diproduksi.

Seperti diberitakan, 7.500 detonator meledak di PT Pindad, Rabu (2/6) siang. Kecelakaan itu menyebabkan tiga karyawan tewas dan empat luka. Ledakan juga merusakkan gedung tempat memproduksi detonator. (Surya, 3/6).

Olah TKP

Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Surabaya, Kamis (3/6) siang, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dipimpin AKBP Kusnadi, waka Labfor, olah TKP berlangsung tertutup untuk wartawan.

“Olah TKP selesai. Beberapa peralatan dibawa tim untuk diteliti. Soal penyebab ledakan, masih menunggu hasil uji lab,” kata AKP Hartoyo SH SIk, kasat Reskrim Polres Malang.

Ditemui seusai mendampingi tim labfor, Hartoyo menambahkan, pihaknya sudah memeriksa dua orang saksi. Mereka, Ir Widiarso, manajer Perusahan Pindad dan seorang karyawan bernama Aditya.

“Aditya diperiksa karena satu regu dengan para korban, sedang Pak Widiarso sebagai penanggung jawab,” ungkapnya.

Mengomentari insiden tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)) yang juga analis militer, Dr Muhadjir Effendy, menyarankan agar pemerintah merelokasi perusahaan pembuat amunisi itu ke tempat yang lebih representatif, yang terpencil. Dia mencontohkan Pulau Sempu sebagai lokasi yang jauh dari warga.

“Lihat saja lokasi Pindad itu, di sekelilingnya pemurkiman penduduk. Harusnya pabrik senjata kan steril dan tertutup, sehingga kalau ada insiden tidak berdampak luas,” ujar Muhadjir.

Surya

RI – Jepang Bahas Peningkatan Kerjasama Program Pertukaran Personel

Pasukan Bela Diri Jepang. (Foto: Xinhua)

03 Juni 2010, Jakarta -- Menhan RI Purnomo yusgiantoro, Selasa Siang (2/6) menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Gabungan Pasukan Bela Diri Jepang, Jenderal Ryoichi Oriki, di Kantor Kemhan, Jakarta. Adapun maksud dari kunjungan Jenderal Ryoichi Oriki ini adalah guna membahas peningkatan kerjasama pertahanan, khususnya program pertukaran personel perwira siswa kedua negara.

Pada kesempatan pertemuan tersebut Menhan RI. mengucapkan terimakasih dan penghargaannya atas hubungan kerjasama pertahanan yang selama ini sudah terjalin dengan baik antara pemerintah Jepang dan Pemerintah RI, lebih khususnya pada program pertukaran personel perwira siswa dalam hal pelatihan dan pendidikan yang diselenggarakan kedua negara.

Ditambahkan Menhan, didalam program pelatihan dan pendidikan personel, selama ini Pemerintah Indonesia telah menerima banyak personel dari Jepang untuk bergabung di lembaga pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI.

Disamping itu Menhan saat itu juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki lembaga formal pendidikan personel pertahanan yang disebut Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN). Menhan mengharapkan adanya partisipasi dan kerjasama dari pemerintah Jepang untuk mendukung Unhan dalam bidang riset dan pengembangannya. “ Secara spesifiknya jika personel dari Jepang membuat tesis mengenai pertahanan di Indonesia, maka sebaliknya personel Indonesia bisa mendapatkan kesempatan membuat tesis di lembaga pendidikan Jepang,” Ungkap Menhan.

Disamping kerjasama program pertukaran personel, Menhan menyampaikan tawaran kepada pihak Jepang terkait peluang kerjasama dalam hal pembangunan dan pengembangan Peacekeeping Center yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia. Dijelaskan Menhan, Peacekeeping Center ini dijadikan sebagai fasilitas untuk membangun dan menyiapkan personel Standby Forces yang berfungsi sebagai Peacekeeping Operation dalam misi perdamaian dan misi penyelamatan kemanusiaan kalau terjadi bencana alam.

Turut menghadiri pada pertemuan tersebut, sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan dan Mabse TNI, antara lain Staf Ahli Menhan Bidang Keamanan, Mayjen TNI M. Nasrun, Staf Khusus Menhan Bidang Kerjasama Internasional, Sumadi D.M. Brotodiningrat, Kapuspen TNI, Mayjen TNI Aslizar Tanjung dan Karohumas Kemhan, Brigjen TNI. I Wayan Midhio.

Pangab Jepang Kunjungi Markas Kopassus


Panglima Angkatan Bersenjata Jepang, General Ryoichi Oriki, didampingi oleh Perwira Staf Angkatan Bersenjata Jepang serta Asintel Panglima TNI, Mayjen TNI Rasyid Qurnuen, mengadakan kunjungan persahabatan ke Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

Kunjungan Pangab Jepang dan rombongan diterima langsung oleh Danjen Kopassus, Mayjen TNI Lodewijk F. Paulus didampingi oleh para perwira stafnya, dengan suasana yang sangat hangat dan bersahabat.

Kunjungan persahabatan tersebut dilaksanakan sebagai sarana dalam meningkatkan hubungan yang harmonis antara Angkatan Bersenjata Jepang dengan Kopassus. Dan tentunya tidak terlupakan adalah sebagai media koordinasi untuk kelancaran pelaksanaan operasional tugas kedua belah di lapangan.

Rangkaian acara kunjungan ini dimulai dengan courtesy call di Ruang kerja Danjen Kopassus, dilanjutkan dengan tukar menukar cinderamata. Disamping itu, dijelaskan pula mengenai kegiatan operasional yang menjadi tugas pokok Kopassus. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film Profil Kopassus dan foto bersama di Sasana Kusuma Bangsa Makopassus.

Dalam sambutannya, Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Jepang, General Ryoichi Oriki mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan dan keramah tamahan dari tuan rumah serta mengharapkan agar kedua belah pihak dapat lebih meningkatkan lagi hubungan kerja sama dimasa depan.

DMC/Pen-kopassus/Dispenad

Puspenerbal Gelar Latihan Menembak


03 Juni 2010, Surabaya -- Kemampuan dan keterampilan menembak harus menjadi kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap prajurit TNI, Perwira Pelaksana Latihan Kolonel Laut (P) Sigit Setiyanta, memimpin latihan program menembak senjata ringan jenis pistol dan senapan bagi anggota Puspenerbal di lapangan tembak Jusman Puger Bhumi Marinir Karang Pilang Surabaya yang dilaksanakan hari Rabu/Kamis tanggal 26-27 Mei 2010.

Program latihan menembak perorangan Puspenerbal Triwulan II TA 2010 berdasarkan program latihan Puspenerbal untuk melatih prajurit dalam rangka mempertahankan & meningkatkan kemampuan serta ketrampilan menembak perorangan termasuk pengetahuan secara teknis dalam mengatasi kemacetan senjata, menembak dgn teknik benar (sesuai dgn prosedur penggunaan senjata) dan Menentukan nol benar pada senjata dan dapat menggunakan senjatanya sebagai senjata tempur organik.

Dalam program latihan menembak senjata ringan ini dilaksanakan dengan menggunakan 2 (dua) jenis senjata ringan yaitu pistol FN-45, Sig Sauer dan senapan laras panjang SS2-V2 Hasil dari program latihan menembak ini merupakan ukuran berhasil tidaknya program kemampuan menembak setiap prajurit.

Sebelum melaksanakan latihan menembak dengan menggunakan munisi tajam diadakan latihan secara teori dan praktek dengan tidak menggunakan munisi tajam serta bongkar pasang pistol FN-45, Sig Sauer dan senapan laras panjang SS2-V2 yang dilaksanakan di lapangan apel Puspenerbal pada hari Selasa tanggal 25 Mei 2010.

Hadir dalam latihan program menembak ini Wadan Puspenerbal Kolonel Laut (P) Untung Suropati serta seluruh anggota Puspenerbal. Pada pelaksanaan latihan menembak ini bagi para Perwira Puspenerbal menggunakan senjata pistol FN-45, Sig Sauer dengan jarak tembak 15-20 meter, sedangkan bagi para Bintara dan Tamtama Puspenerbal melaksanakan menembak menggunakan laras panjang SS2-V2 jarak tembak 100 meter dengan sikap tiarap, jongkok dan berdiri.

Dalam latihan menembak faktor keamanan harus betul-betul diperhatikan mengingat pada latihan menembak menggunakan peluru sebenarnya atau munisi tajam yang bila melakukan kesalahan sedikitpun akan berakibat fatal.






Puspenerbal

Mayor Pnb Vincentius Berhasil Terbang Solo Dengan Sukhoi


04 Juni 2010, Makassar -- Bertempat di Shelter Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Selasa (1/6) Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Agus Supriatna memimpin upacara tradisi kepada penerbang yang telah berhasil terbang solo yang ditandai dengan penyiraman air bunga dan pemecahan telur di kepala Mayor Pnb Vincentius Endy Hadi Putra yang telah berhasil terbang solo dengan pesawat tempur Sukhoi 27/30 .

Selain Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, turut menyiram air bunga diantaranya Komandan Wing 5 Kolonel Pnb Mudjiyanto, Kepala Dinas personel, Kepala Dinas Logistik dan Kepala Dinas Operasi serta Komandan Skadron Udara 11 Wing 5.

Penyiraman air bunga kepada Mayor Pnb Vincentius Alumni AAU tahun 1997 atas keberhasilan terbang solo dengan pesawat tempur Sukhoi yang merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena pada tanggal tersebut yaitu tanggal 1 Juni bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Skadron Udara 11 Wing 5 yang ke-53 yang merupakan home base pesawat tempur Sukhoi 27/30.

Mayor Pnb Vincentius mulai bertugas di Skadron Udara 11 Wing 5 tahun 2009 sebagai Komandan Flightlat tersebut telah mengantongi 2300 jam terbang, dan total Jam terbang Sukhoi 65 Jam terbang, sebelumnya bertugas sebagai Instruktur PNB Wingdik Terbang Lanud Adi Sucipto Yogyakarta.

Pentak Lanud Sultan Hasanuddin

Konsistensi Kebijakan Anggaran Dipertanyakan

Senapan serbu SS2-V2 dilengkapi peluncur granat produksi PT. PINDAD. (Foto: PINDAD)

04 Juni 2010, Jakarta -- Komisi I mempertanyakan konsistensi niat dan sikap pemerintah terkait kebijakan pertahanan, khususnya dalam hal pengadaan persenjataan dalam negeri, demi mengembangkan industri strategis pertahanan nasional.

Konsistensi tersebut dipertanyakan karena dianggap sama sekali tidak tampak atau tecermin dalam rencana alokasi anggaran belanja pertahanan tahun anggaran (TA) 2011.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI-P TB Hasanuddin, Kamis (3/6), seusai mengikuti rapat dengar pendapat dengan jajaran Kementerian Pertahanan yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kemhan Marsdya Eris Herryanto.

”Katanya pemerintah mau menaikkan anggaran dan berkomitmen beli senjata yang bisa diproduksi sendiri untuk majukan industri pertahanan dalam negeri. Tapi, kok, justru alokasi anggaran untuk beli senjata dalam negeri TA 2011 malah turun?” ujar Hasanuddin.

Menurut Hasanuddin, selama ini sudah terlalu banyak pernyataan komitmen dari pemerintah, mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga pejabat Kementerian Pertahanan beserta jajarannya.

Tidak konsisten

Akan tetapi, pada kenyataannya, menurut Hasanuddin, alokasi anggaran untuk pengadaan senjata turun dari TA 2010 sebesar Rp 850 miliar menjadi TA 2011 sebesar Rp 800 miliar. Sementara untuk pengadaan senjata dari luar negeri dalam bentuk alokasi kredit ekspor (KE) malah naik sekitar Rp 1 triliun dari Rp 5,5 triliun menjadi Rp 6,6 triliun.

”Lha, kok bisa begitu? Kenapa yang diomongkan tidak konsisten dengan yang dilakukan,” ujar Hasanuddin.

Sementara itu, saat dihubungi terpisah, Sekjen Kemenhan Eris Herryanto menyatakan, tidak ada persoalan dalam pengalokasian anggaran, khususnya untuk pengadaan senjata. Selain itu, pemerintah, menurut dia, juga tetap konsisten dengan rencana mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

KOMPAS

Thursday, June 3, 2010

Northrop Grumman's Viper Strike Being Added to KC-130J Arsenal

02 June 2010, HUNTSVILLE, Ala. -- The U.S. Marine Corps Harvest Hawk aircraft will soon be equipped with Northrop Grumman Corporation (NYSE:NOC) -built Viper Strike stand-off precision guided munition as part of an effort under way to bring greater utility to the Marines' KC-130J refueling and cargo aircraft.

Under the terms of the contract, Northrop Grumman will deliver 65 Viper Strike munitions beginning this year to the Joint Attack Munition Systems Project Office within the Program Executive Office Missiles and Space at Redstone Arsenal for eventual integration onto the KC-130J platform.

Viper Strike is a gliding munition capable of precision attack from extended stand-off ranges using GPS-aided navigation and a semi-active laser seeker. Its small size, precision and high agility provide a very low collateral damage weapon that can be used in the difficult operational environments where U.S. troops may be deployed.

"In today's irregular warfare environment, Viper Strike provides the right characteristics needed to support our warfighters in the current fight - high precision and agility to hit targets in complex terrain and with very low collateral damage," said Steve Considine, programs director, Aviation and Weapons for Northrop Grumman's Land and Self-Protection Systems Division. "The KC-103J represents the latest military airborne asset to be equipped with Viper Strike's formidable capabilities."

Viper Strike munitions are produced at the company's Huntsville, Ala., facility.

Northrop Grumman Corporation is a leading global security company whose 120,000 employees provide innovative systems, products, and solutions in aerospace, electronics, information systems, shipbuilding and technical services to government and commercial customers worldwide.

Northrop Grumman

RI-Malaysia Perketat Penjagaan Perbatasan

03 Juni 2010, Pontianak -- TNI Angkatan Darat (AD) dan tentara Malaysia akan meningkatkan frekuensi dan intensitas patroli bersama di sepanjang perbatasan kedua negara di Kalimantan Barat (Kalbar).

"Patroli gabungan yang semula rutin dilaksanakan setiap dua kali dalam setahun akan ditambah frekuensinya menjadi tiga kali setahun," kata Komandan Komando Resor Militer (Korem) 121/Alam Bhana Wanawai Pontianak Kolonel Toto Rinanto, Kamis (3/6).

Ia mengatakan, peningkatan frekuensi patroli bersama itu untuk meminimalisasi potensi gangguan keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara. Selain itu, juga untuk meningkatkan jalinan komunikasi dan saling pengertian antara sesama personel yang bertugas.

"Paling tidak, akan memperkuat ikatan emosional antara kedua pasukan (Indonesia dan Malaysia) yang sedang bertugas. Jadi, kalau ada hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran perbatasan, bisa langsung diselesasikan di lapangan. Kecuali, hal-hal prinsip, harus dilaporkan ke pimpinan masing-masing," jelas Danrem.

Kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar terbentang sepanjang kurang lebih 966 kilometer (km), yakni mulai dari Tanjung Datuk di Kabupaten Sambas hingga Gunung Cemeru di Kabupaten Kapuas Hulu. Panjang perbatasan tersebut mencakup sekitar 70,58% dari 1.200 km garis perbatasan kedua negara di Pulau Kalimantan.

Dari 966 km panjang perbatasan darat itu, masih terdapat sekitar 200 km yang tanpa penjagaan aparat keamanan Indonesia. Oleh karena itu, Markas Besar (Mabes) TNI merencanakan penambahan sejumlah pos pengamanan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar tersebut.

"Kami akan membangun pos gabma (gabungan bersama Indonesia-Malaysia) di Desa Sajingan Besar (Sambas) dan Nangabadau (Kapuas Hulu). Pembangunannya masih dalam tahap persiapan fisik dan penyediaan bahan material," ungkap Danrem.

MI.com

Aljazair Borong Senjata Buatan Rusia

Yak-130 lepas landas saat diuji coba. (Foto: Yak)

03 Juni 2010 -- Rusia akan mengirimkan jet tempur Sukhoi Su-30 Flanker dan jet latih/serang ringan Yak-130 Mitten ke Aljazair tahun depan ujar pejabat Rusia urusan kerjasama teknik militer Vyacheslav Dzirkalin, Rabu (03/06) pada RIA Novosti.

Dzirkalin tidak menyebutkan jumlah pesawat yang akan dikirimkan ke Aljazair.

Seorang pejabat Rusia Sergei Chemozov mengatakan pada Novaya Gazeta awal April lalu, nilai kontrak penjualan pesawat tempur ke Aljazair sebesar 1 milyar dolar.

Dzirkalin menambahkan Angkatan Laut Aljazair mengirimkan kapal selam diesel kelas 636 ke Rusia guna diperbaiki dan dimodernisasi. Pihak Aljazair tidak mengatakan akan membeli kapal selam baru.

Aljazair akan membeli juga sistem pertahanan udara jarak pendek Pantsir S1.

Sejumlah harian Rusia memberitakan Maret lalu, Aljazair berencana membeli 40 unit Pantsir S1 senilai 500 juta dolar.

Pantsir S1 merupakan sistem pertahanan jarak pendek-sedang kombinasi rudal permukaan-udara dan artileri anti pesawat 30mm, dibuat oleh Tula-based Instrument Making Design Bureau (KPB).

Uni Emirat Arab diberitakan membeli 50 unit Pantsir S1 senilai 734 juta dolar, diharapkan diterima UEA tahun ini.

Syria telah membeli Pantsir beberapa tahun lalu sedangkan Libya tertarik membeli.

Video Pantsir menghancurkan sasaran secara automatis



RIA Novosti/Berita HanKam

Anggota DPR RI Pertanyakan Penyebab Ledakan PT Pindad

Mobil bak terbuka membawa jenazah almarhum Sandi Wardhana (22) salah satu korban tewas ledakan di PT Pindad . (Foto: Muhammad Aminudin)

03 Juni 2010, Jakarta -- Peristiwa ledakan di gudang detonator milik PT Pindad (BUMN penghasil senjata) di Malang, Rabu siang (2/6) yang menyebabkan tiga orang tewas, menimbulkan pertanyaan anggota DPR RI.

"Perihal ledakan itu, memang kami belum mendapat informasi jelas. Tetapi, semestinya detonator kan hanya alat pemicu, bukan bahan peledaknya. Makanya aneh juga jika barang itu meledak. Ada apa ini," tanya anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, di Jakarta, Kamis malam.

Sebagai pemicu (peledak) yang besarnya hanya sekitar `dua jari tangan`, tentu perlu dipertanyakan, kenapa bisa meledak hebat.

"Pertanyaan berikutnya, kenapa di ruangan detonator yang khabarnya berisi 7.500 detonator lebih itu, ada bahan peledak. Dan (mestinya) kalau detonator tidak disambung ke peledak, kan tidak mungkin barang ini meledak," ungkap mantan anggota Komisi I DPR RI (bidang pertahanan keamanan) ini yang sejak pekan lalu beralih ke Komisi XI (bidang keuangan dan perbankan).

Melihat kinerja positif PT Pindad sejak dipimpin Direktur Utama (Dirut)-nya, Adik Avianto Sudarsono, menurutnya, selama ini BUMN strategis penghasil alat utama sistem persenjataan (Alutsista) Indonesia tersebut terkesan sangat bagus.

"Kinerja mereka positif, terutama dalam mengembangkan PT Pindad menuju ke swasembada Alutsista tertentu. Makanya kita semua perlu mewaspadai kemungkinan adanya motif-motif lain di belakang terjadinya hal ini (ledakan). Selama ini Komisi I DPR RI mendukung kinerja PT Pindad di bawah kepemimpinan saudara Adik tersebut," ujar Fayakhun Andriadi lagi.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Paskalis Kossay, sangat menyayangkan terjadinya ledakan yang mengakibatkan tiga orang tewas di gedung produksi detonator milik PT Pindad di Malang, Jawa Timur.

"Kami akan memanggil Menteri Pertahanan (Menhan), Panglima TNI dan Manajemen PT Pindad untuk meminta keterangan terkait dengan peristiwa tragis itu," katanya kepada ANTARA, Kamis.

Peristiwa ledakan di gedung PT Pindad (salah satu BUMN Strategis atau BUMNis di bawah Kemenhan) ini, menurutnya, benar-benar sangat mengecewakan, karena bisa mengesankan adanya ketidakdisiplinan serta ketidakprofesionalan manajemen.

"Mestinya kan perusahaan pembuat senjata dan beragam amunisi itu perlu SOP yang sangat ketat dalam pelaksanaan. Ini benar-benar patut disayangkan," katanya lagi.

Sementara itu, dari Malang wartawan ANTARA melaporkan, Rabu malam, korban tewas akibat ledakan di PT Pindad yang berlokasi di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu sekitar pukul 13.45 WIB bertambah menjadi tiga orang.

Sebelumnya korban yang meninggal akibat ledakan tersebut hanya satu orang, yakni Tri Nurhuda (27), warga Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Dua korban yang mengalami luka berat, yakni Muchlis Usman (22), warga Curungrejo, Kecamatan Kepanjen dan Sandi (22) menghembuskan nafas terakhir di RSSA Malang sekitar pukul 18.30 WIB.

Muchlis Usman dan Sandi masuk IRD RSSA Malang sekitar pukul 14.30 WIB setelah dirujuk dari RS Panti Nirmala dan RKZ. Namun karena kondisinya kritis, nyawa keduanya tidak tertolong.

Hingga Rabu petang, jenazah ketiga korban ledakan itu masih berada di kamar mayat RSSA Malang untuk diotopsi.

Ledakan tersebut juga mengakibatkan tiga orang lainnya mengalami luka ringan. Mereka sudah ditangani di Poli Kesehatan PT Pindad dan kondisinya tidak mengkhawatirkan.

Ledakan tersebut juga menghancurkan bangunan gedung produksi detonator itu.

ANTARA News

Labfor Belum Simpulkan Penyebab Ledakan di Pindad

Sandi Wardhana (22) salah satu korban tewas ledakan di PT Pindad segera dimakamkan. Jenazah almarhum tampak dibawa dari rumah duka di Desa Sedayu, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Kamis (3/6). (Foto: (Foto: Muhammad Aminudin)

03 Juni 2010, Malang -- Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri cabang Surabaya yang datang ke lokasi ledakan PT (Persero) Pindad di Desa Sedayu, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis, belum bisa menyimpulkan penyebab pasti ledakan yang terjadi pada Rabu (2/6) kemarin.

Kapolres Malang, AKBP Andi Hartoyo, mengatakan, hasil dari tim labfor diperkirakan bisa diketahui paling cepat sekitar satu minggu lagi.

"Tim labfor yang melakukan oleh TKP hari ini sudah mengambil beberapa komponen untuk diamankan dan diteliti lebih lanjut, namun hasilnya baru bisa diketahui setidaknya satu minggu lagi," katanya.

Tim labfor yang terdiri dari lima orang itu tiba di tempat kejadian perkara (TKP) pukul 10.00 WIB. Tim tersebut dipimpin oleh wakil kepala labfor Mabes Polri Cabang Surabaya, AKBP Kusnadi.

Selain melakukan olah TKP, beberapa komponen sisa ledakan yang ada di dalam gudang juga diamankan. Selain itu, sebuah mesin alat pengepresan fasilitas produksi detonator juga diamankan.

"Kami masih menduga, bahwa alat pengepresan ini turut andil dalam peristiwa ledakan tersebut. Tapi untuk kesimpulan akhir, polisi tetap menunggu hasil tim labfor," katanya.

Selain itu, polisi juga telah memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan. "Sedikitnya ada dua orang yang sudah dipanggil untuk dimintai keterangan," katanya.

Sementara, Direktur Utama PT Pindad Persero, Andik Alfianto mengatakan, pihaknya juga akan menurunkan tim sendiri.

Tim ini adalah tim dari PT Pindad yang akan bekerja setelah polisi melakukan olah TKP dan melepas garis polisi.

Dalam peristiwa kejadian ini, tiga orang meninggal. Mereka adalah Tri Nurhuda (27), Mukhlis Usman (22) dan Sandi Wardhana (22). Satu orang mengalami luka-luka serius atas nama David dan saat ini masih dirawat intensif di RS Panti Nirmala Kota Malang.

Selain korban meninggal dan luka berat, lima orang yang mengalami luka ringan dan dirawat di Poli Kesehatan PT Pindad sudah diberpolehkan pulang.

Kelima korban luka ringan gangguan pendengaran itu adalah Samsul Arifin (29), warga Gondanglegi, dan empat warga Kecamatan Turen, yakni Didik Mahmudi (26), Sri Indiarto (29), Achmad Syaiful Rizal (27), dan Retno Risma Wardani (25).

ANTARA News

First Locally Trained Air Force C-17A Pilots Graduate

The first two C-17A pilots to graduate in Australia from the C-17 Pilot Initial Qualification (PIQ) Course at RAAF Base Amberley. They are Flight Lieutenant David Whyte (middle) and Pilot Officer Stephen Maunder (left). With them is C-17A Qualified Flying Instructor, Flight Lieutenant Simon Grant.

03 June 2010 -- The Minister for Defence, Senator John Faulkner, today announced the graduation of the Royal Australian Air Force’s first locally trained pilots for the C-17A Globemaster.

Flight Lieutenant David Whyte and Pilot Officer Stephen Maunder are the first two Air Force pilots to undertake their conversion course at RAAF Base Amberley. Until now, all Australian C-17A pilots have been initially trained on the aircraft in the United States.

“This is another major step forward as Air Force’s C-17 capability matures,” Senator Faulkner said.

“It’s anticipated the use of the newly constructed training facilities at RAAF Base Amberley will produce significant financial and workforce savings compared to sending personnel overseas.

“The introduction of C-17 training in Australia has been delivered through a strong Defence and Industry partnership. I congratulate Air Force, Defence Materiel Organisation and Boeing for their continued support in delivering a capability which is both highly effective and within budget.”

The Aircrew Training System for the C-17A at RAAF Base Amberley includes Boeing instructors, a full-motion cockpit and separate loadmaster station simulator.

Pilots converting to the C-17A require 350 hours of training provided by Boeing instructors, which includes 120 simulated flight hours. The trainee pilots then complete the operational conversion by conducting a series of five flights in a real C-17A under the supervision of Air Force Qualified Flying Instructors.

Australia is the only country outside of the United States with its own local-based C-17A pilot training facilities. All other Globemaster-operating air forces conduct their C-17A pilot training through the United States Air Force.

Air Force’s four Globemasters were delivered to No. 36 Squadron between 2006 and 2008, and have greatly increased the air mobility available to the Australian Defence Force, in particular support to deployed forces.

Each aircraft can carry more than 70 tonnes of cargo, which can include a Chinook helicopter, or up to three Black Hawk helicopters, or up to five Australian Light Armoured Vehicles.

Australian DoD

KASAL Kunjungi Lanal Bengkulu

Mako Lanal Bengkulu. (Foto: Lanal Bengkulu)

03 Juni 2010, Bengkulu -- Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Agus Suhartono mengunjungi Pangkalan TNI-Al (Lanal) Bengkulu, melihat persiapan dan perkembangan keamanan laut di daerah ini.

Komandan Lanal Bengkulu Letkol Laut (P) Deri Suhendi melalui Pasi Intel W Sugijatno, Kamis mengatakan kunjungan kerja Kasal tersebut langsung meninjau kawasan pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

"Beliau akan melihat langsung kondisi peralatan di Lanal Bengkulu termasuk kendaraan operasional, karena wilayah Bengkulu berhadapan dengan laut Hindia," katanya.

Lanal Bengkulu sangat membutuhkan armada berkapasitas besar mengingat, wilayah ini merupakan perairan terluas dan perlu peningkatan keamanan termasuk antisipasi kapal-kapal dari luar.

Di sekitar perairan Enggano, setiap bulan diduga masih ada kapal ikan berbendera asing yang sering dipergoki nelayan lokal, namun untuk mengusir kapal tersebut armada Lanal Bengkulu belum mampu mengejarnya.

Armada operasional dimiliki Lanal Bengkulu sebagian besar berkapasitas kecil dan sudah tua, dengan demikian diharapkan kunjungan Kasal ke daerah ini bisa mengganti atau menambah armada yang ada di Lanal Bengkulu tersebut.

Kunjungan kasal tersebut, katanya juga berkaitan dengan keamanan rencana kunjungan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono untuk membuka Musyabakah Tilawati Quran nasional (MTQN) ke-23 di Provinsi Bengkulu akhir pekan ini.

Lanal Bengkulu dan Jajarannya

I. Patkamla (Patroli Keamanan Laut)
1. KAL Enggano II-2.2-01
2. KAL Ratu Samban II-2.2-02
3. Patkamla Pulau Mega II-2.2-03
4. Patkamla Pulau Dua II-2.2-04
5. Patkamla Pulau Baai II-2.2-05

II. Posal (Pos TNI AL Bengkulu)
1. Posal Mukomuko
2. Posal Pulau Enggano
3. Posal Linau
4. Posal Manna
5. Posal Pulau Baai
6. Posal Seblat

ANTARA News/Lanal Bengkulu.blogspot

Dua Jet Tempur Akan Disiagakan di Lanud Tarakan

(Foto: indoflyer)

Komando Operasi TNI AU (Koopsau II) Marsekal Pertama (Marsma) TNI Agus Munandar bersama istri beserta rombongan tiba di Bandara Juata Tarakan, Rabu (2/6/2010) pukul 09.00. Rombongan Koopsau II ini datang dengan menggunakan pesawat TNI AU Boeing 737.

Kedatangan Agus ini untuk melihat pembangunan Lanud Tarakan. Agus mengatakan, hingga saat ini pembangunan Lanud Tarakan Type C ini masih mencapai 60 persen, sehingga masih tersisa 40 persen lagi.

"Yah mudah-mudahan pembangunan Lanud Tarakan ini segera cepat selesai. Sebab dari tahun 2006 hingga 2010 ini belum juga selesai. Ini dikarenakan pembangunan menggunakan sistem multiyears," ucapnya.

Agus berharap pembangunan Lanud Tarakan, dapat segera dapat selesai, karena Lanud Tarakan ini sngat penting untuk melakukan pengamanan wilayah di daerah perbatasan Indonesia di Kalimantan Timur bagian Utara.

"Tentunnya pengamanan ini harus dilakukan untuk menghindari ancaman faktual dan potensial yang ada," ucapnya.

Sekadar informasi, Lanud Tarakan, memiliki luas sekitar 160 hektare. Di atas lahan ini akan dibangun 200 rumah untuk anggota prajurit TNI AU. Sedangkan personel yang disiapkan sebanyak 250 anggota.

Tak hanya itu nantinya Nanti di Lanud Tarakan disiagakan dua pesawat masing-masing jenis F-5 dan F-16.

Tribun Kaltim

Penyebab Ledakan Masih Diselidiki, Saat Meledak 7.500 Detonator Diproduksi

Proses produksi peluru di PINDAD. (Foto: detikFoto)

03 Juni 2010, Malang -- Penyebab ledakan di PT Pindad, Malang, Jawa Timur masih diselidiki. Yang jelas, ledakan itu terjadi di tempat pembuatan detonator. Akibat ledakan itu, 3 orang tewas dan satu lainnya menderita luka serius.

"Kami masih menunggu tim Labfor Polda untuk menyelidikinya. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan atau terjadi ledakan susulan, lokasi di dalam gedung pembuat detonator dibasahi ata disirim air,"jelas Danrem 083 Baladhika Jaya Udin S, di lokasi kejadian Rabu (2/6/2010).

Saat ledakan terjadi, PT Pindad tengah memproduksi 7.500 detonator. Udin mengaku tidak tahu berapa besar ukuran detonator yang diproduksi. Diduga kuatnya ledakan disebabkan oleh banyaknya detonator yang diproduksi.

Ledakan itu menghancurkan gedung yang panjangnya 30 meter dengan lebar 7 meter. Salah satu ruangan itu, atapnya sampai jebol dan temboknya ambruk.

Tribun Kaltim

Vietnam Beli 6 Kilo Senilai 3,2 Milyar Dolar

Galangan kapal Admiralty akan membangun satu unit kapal selam kelas Kilo setiap tahunnya untuk memenuhi pesanan Vietnam 6 unit. (Foto: RIA Novosti/Vitaliy Ankov)

03 Juni 2010 – Kontrak pembelian enam kapal selam kelas Kilo oleh Vietnam, senilai 3,2 milyar dolar tahun lalu, merupakan kontrak terbesar dalam penjualan alutsista angkatan laut dalam sejarah Rusia, diberitakan majalah Rusia Export of Arms yang terbit Juni 2010.
Kontrak pembelian ditandatangani Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung saat kunjungan kenegaraan ke Rusia Desember 2009.

Harga kapal selam senilai 2,1 milyar dolar, sedangkan pembangunan infrastruktur dan pengiriman persenjataan berikut peralatan lainnya senilai 1,2 milyar dolar.

Galangan kapal Admiralty di St. Petersburg akan membangun kapal selam setiap tahunnya satu unit.

Rosoboronexport mengumumkan Rusia telah menjual hingga 40 unit kapal selam diesel-elektrik generasi kelima ke negara asing hingga 2015.

Kapal selam kelas Kilo dijuluki “Black Holes” karena kemampuannya menghindari deteksi, karena kapal selam diesel-elektrik tersenyap di dunia.

Kilo dirancang untuk peperangan anti kapal selam, kapal permukaan, dan juga misi pengintaian dan patroli.

Kapal selam berbobot 2300 ton, maksimum menyelam 350 meter, jarak jelajah 6000 mil laut dengan diawaki 57 orang. Kilo dipersenjatai enam tabung torpedo 533 mm.

Sedikitnya 29 kapal selam kelas Kilo telah dijual ke Cina, India, Iran, Polandia, Rumania dan Aljazair.

RIA Novosti/Berita HanKam

DPR Setujui Pengesahan UU Perjanjian RI - Singapura Tentang Penetapan Garis Batas Laut


02 Juni 2010, Jakarta -- Rapat Paripurna DPR RI menyetujui pengesahan Undang-Undang Perjanjian antara Republik Indonesia dan Singapura tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah Kedua Negara di Bagian Barat Selat Singapura Tahun 2009. Seluruh fraksi - fraksi di DPR RI menyetujui dengan suara bulat setelah mendengarkan penjelasan dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI Agus Gumiwang Kartasasmita tentang laporan pembahasan Komisi I DPR RI terhadap RUU tersebut, Selasa (1/6) di Ruang Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta.

Rapat Paripurna yang dipimpin Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Wakil Menteri Luar Negeri Triyono Wibowo S.H, dan pejabat perwakilan dari Kementerian Hukum dan HAM. Sebelumnya, RUU tersebut telah dibahas pada pembicaraan tingkat I antara Komisi I DPR dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan dan Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam laporannya, Wakil Ketua Komisi I DPR menjelaskan, penetapan garis batas laut Indonesia-Singapura ini merupakan hasil dari diplomasi Indonesia dalam menentukan batas wilayah dengan Singapura, mengingat bahwa kejelasan batas wilayah tersebut akan semakin mempertegas hak dan kewajiban masing - masing pihak.

Menurutnya, batas wilayah merupakan salah satu syarat mutlak pengakuan atas eksistensi dan kedaulatan NKRI serta kepastian terhadap penegakan hukum, dengan jelasnya perbatasan wilayah maka pengawasan dan pengamanan terhadap wilayah NKRI akan terjamin sehingga mencegah terjadinya pelanggaran yang selama ini terjadi.

Dengan jelasnya perbatasan kedua negara maka akan jelas pula pengaturan jalur pelayaran dan lalu lintas laut, hal ini penting mengingat jalur pelayaran dan lalu lintas laut khususnya di Selat Singapura sangat strategis baik di bidang politik maupun ekonomi yang pada akhirnya dapat meningkatkan hubungan kedua negara.

Namun demikian, lanjutnya dengan disahkannya perjanjian batas laut antara RI dengan Singapura tersebut bukan berarti upaya pengamanan wilayah batas laut NKRI sudah selesai, mengingat masih banyaknya wilayah perbatasan laut Indonesia dengan negara tetangga yang belum diselesaikan dan hal tersebut akan tetap menjadi prioritas untuk diperhatikan.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR RI, upaya penjagaan wilayah laut bagi negara kepulauan seperti Indonesia merupakan tantangan yang kompleks sebagai deterrent factor (faktor penangkalan) suatu negara. Selama ini pun, lanjutnya, Indonesia dan Singapura memiliki persoalan terkait perbatasan kedua negara.

"Reklamasi atau perluasan wilayah pantai Singapura dikhawatirkan akan mengubah garis batas Singapura, sedangkan terkikisnya Pulau Nipa (di Batam) juga dapat mengubah garis batas perairan Indonesia," tuturnya. Namun melalui pengesahan ratifikasi ini, menegaskan bahwa kedua negara akan tetap menjadikan pasal UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) sebagai patokan pengukuran batas wilayah.

Dalam UNCLOS, disebutkan bahwa pengukuran batas negara ditentukan atas dasar garis batas alamiah yang ada. "Dengan demikian, reklamasi Singapura dan terkikisnya Pulau Nipa tidak akan berpengaruh dalam mengubah garis batas Indonesia-Singapura, karena kedua hal itu tidak termasuk kategori garis batas alamiah," tambahnya.

Senada dengan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, saat menyampaikan pendapat akhir pemerintah, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang mewakili Presiden RI mengatakan, penetapan batas wilayah RI di wilayah berhadapan atau berdampingan dengan negara – negara tetangga akan menciptakan kepastian hukum atas wilayah kedaulatan dan hak berdaulat NKRI.

“Kepastian hukum dimaksud sangat penting guna menjamin pelaksanaan pengawasan dan pengamanan serta penegakan hukum negara serta perlindungan wilayah NKRI oleh aparat pertahanan negara dan aparat penegak hukum nasional di wilayah dimaksud”, tambah Menhan.

Selain itu, penetapan garis batas tersebut juga mempermudah upaya Indonesia sebagai negara pantai untuk menjamin keselamatan jalur navigasi Selat Singapura yang merupakan salah satu urat nadi perekonomian regional dan global yang pada akhirnya akan meningkatkan hubungan bilateral diantara kedua negara.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, dengan berhasil diselesaikannya batas laut wilayah antara RI dengan Singapura di bagian barat Selat Singapura diharapkan dapat menjadi pendorong kuat bagi upaya penyelesaian penetapan batas maritim pada bagian lainnya.

Sementara itu, menanggapi permasalahan mengenai penamaan Selat Singapura pada perjanjian batas laut Indonesia dengan Singapura yang akan disahkan, Menhan menyampaikan bahwa berdasarkan ketentuan hukum internasional dan perundang - undangan nasional yang berlaku pada prinsipnya nama dari suatu wilayah tidak terkait dengan kepemilikian atas wilayah tersebut.

Oleh kerana itu menurut Menhan, penggunaaan nama Selat Singapura tidak serta merta menjadikan wilayah tersebut merupakan wilayah Singapura. Pada kenyataannya, sebagai konsekuensi dari lokasi geografis negara - negara yang berada di Selat Singapura maka perairan selat tersebut termasuk kedalam wilayah Indonesia, Singapura dan Malaysia.

“Penggunaan nama wilayah laut yang umumnya dikenal dengan topomini maritime, terdapat pula beberapa contoh relevan yang menunjukan bahwa nama suatu perairan tidak terkait dengan kepemilikannya”, tambah Menhan.

Menhan mencotohkan Laut Sulawesi misalnya, tidak serta merta berarti bahwa seluruh wilayah laut tersebut merupakan wilayah Indonesia saja, karena pada kenyataannya beberapa wilayah Laut Sulawesi berada dalam wilayah Malaysia dan Philipina. Demikian pula halnya dengan Selat Malaka yang beberapa perairaannya masuk kedalam wilayah Indonesia dan Malaysia.

Menhan mengatakan, penamaan atas wilayah laut bersifat netral dan mengikuti praktek - praktek internasional yang telah ada, penamaan tersebut dibahas dan ditetapkan oleh organisasi Internasional Hydrographic Organization (IHO) yang merupakan badan khusus PBB.

Oleh karena itu, menurut Menhan perlu kiranya digarisbawahi mengenai pentingnya pemahaman bahwa Indonesia sebagai negara hukum seyogyanya mentaati dan memahami ketentuan - ketentuan hukum dan perundang - undangan internasional.

DMC

KASAU: Lanud Pekanbaru Dapat Diandalkan


03 Juni 2010, Pekanbaru -- Pangkalan TNI Angkatan Udara Pekanbaru dapat diandalkan untuk melaksanakan dukungan operasi dan operasi udara, demikian disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufa’at S, Ip, pada saat diwawancarai beberapa wartawan disela-sela kunjungan kerja di Lanud Pekanbaru, (Rabu, 2/6)

Hal tersebut disampaikan Kasau setelah meninjau langsung kesiapan fasilitas dan sarana prasarana pendukung yang ada di Lanud Pekanbaru, untuk itu Kasau mengharapkan kondisi yang ada saat ini tetap dipertahankan, sedangkan untuk kedepan kesiapan operasi tersebut akan terus ditingkatkan. Guna mendukung hal tersebut Kasau akan memprioritaskan peningkatan kesiapan alutsista pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12. Hal yang paling diprioritaskan adalah kebutuhan spare part pesawat, sehingga jumlah pesawat yang operasional di Skadron Udara 12 bisa lebih banyak lagi, demikian disampaikan Kasau.

Adanya wacana peningkatan status Lanud Pekanbaru dari type B menjadi type A, Kasau menegaskan bahwa hal tersebut bukan hanya sekedar wacana, tetapi sudah ada Keputusan untuk peningkatan status Lanud Pekanbaru, namun internal TNI AU sendiri belum merealisasikannya, hal ini terkendala dengan persyaratan yang harus dipenuhi, dimana Lanud type A harus memiliki dua skadron pesawat, sementara untuk merealisasikan hal tersebut sangat tergantung dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Namun peningkatan status Lanud Pekanbaru tersebut dapat direalisasikan apabila tingginya frekwensi latihan bersama dengan negara lain yang dilaksanakan di Lanud Pekanbaru.

Kunjungan Kerja Kasau ke Lanud Pekanbaru yang berlangsung selama dua hari tersebut turut didampingi oleh para pejabat teras Mabesau, Pangkoopsau I, Dankodikau, serta Dankorpaskhasau.

Pentak Lanud Pekanbaru