Showing posts with label Timur Tengah. Show all posts
Showing posts with label Timur Tengah. Show all posts

Saturday, September 18, 2010

Ngeri Rudal Hizbullah, AL Israel Uji Sistem Pertahanan Rudal Baru

Kapal cepat kelas Super Dvora MK-III.

18 September 2010 -- Angkatan Laut Israel menguji coba sistem pertahanan rudal baru untuk kapal berukuran kecil yang ditugaskan memperkuat blokade laut di Jalur Gaza dan Lebanon, diberitakan harian Israel the Jerusalem Post, Senin (12/9).

Sistem pertahanan baru tersebut termasuk radar, dimana mampu mendeteksi dan melacak rudal datang, serta dilengkapi sistem peperangan elektronik untuk melakukan jamming. Sistem dikembangkan oleh MAFAT, Direktorat Litbang Kementrian Pertahanan Israel.

Kapal cepat kelas Super Dvora akan dipasang sistem ini, sedangkan kapal ukuran besar telah dilengkapi rudal pencegat Barak I serta CIWS Phalanx.

Keputusan mengembangkan sistem pertahanan anti rudal karena ketakutan peningkatan kemampuan rudal anti kapal yang dimiliki Hamas dan Hizbullah, dapat membahayakan kapal perang Israel yang berlayar didekat pantai.

Korvet INS Hanit rusak berat dihantam rudal anti kapal C-802 yang ditembakan Hizbullah pada Perang Lebanon ke-2 pada 2006.

AL Israel telah memilih pesawat tanpa awak mini Orbiter, dapat diluncurkan dengan katapel dari kapal perang dan menggunakan jaring untuk mendarat. Orbiter digunakan untuk meningkatkan kemampuan pengintaian dan pengumpulan data intelijen.

Orbiter dikembangkan oleh Yavnebased Aeronautics Defense Systems, mampu menjelajah sejauh 80 km, terbang selama empat jam pada ketinggian sekitar 18.000 kaki.

Pemerintah Israel berusaha menekan Moskow membatalkan penjualan rudal supersonik anti kapal Yakhont pada Syria. Tel Aviv khawatir rudal jatuh ke tangan Hamas dan Hizbullah. Moskow tetap melanjutkan penjualan rudal karena satu paket dengan perjanjian penggunaan pangkalan angkatan laut di Syria oleh kapal perang Rusia.

The Jerusalem Post
/Berita HanKam

Thursday, August 5, 2010

Oman Borong 18 F-16 Block 50/52

F-16D AU Kesultanan Oman. (Foto: Lockheed Martin)

05 Agustus 2010 -- Kesultanan Oman mengajukan pembelian 18 jet tempur F-16 Block 50/52 berikut perlengkapannya senilai 3,5 milyar dolar, termasuk upgrade 12 F-16 Block 50/52 yang dioperasikan AU Oman.

Oman akan membeli juga 20 mesin jet F100-PW-229 or F110-GE-129, 36 LAU- 129/A Common Rail Launchers, 24 set radar APG-68(V)9, 20 kanon M61 20mm Vulcan, 22 AN/ARC-238 Single Channel Ground and Airborne Radio Systems dengan HAVE QUICK I/II, 40 Joint Helmet Mounted Cueing Systems, 36 LAU-117 MAVERICK Launchers, 22 ALQ-211 Advanced Integrated Defensive Electronic Warfare Suites (AIDEWS) or Advanced Countermeasures Electronic Systems (ACES) (ACES includes the ALQ-187 Electronic Warfare System and AN/ALR-93 Radar Warning Receiver), Advanced Identification Friend or Foe (AIFF) Systems dengan Mode IV, 34 Global Positioning Systems (GPS) dan Embedded-GPS/Inertial Navigation Systems (INS), 18 AN/AAQ-33 SNIPER Targeting Pods atau sistem lain serupa kemampuannya, 4 DB-110 Reconnaissance Pods (RECCE), 22 AN/ALE-47 Countermeasures Dispensing Systems (CMDS), dan 35 ALE-50 Towed Decoys.

Pada Mei 2002, Oman menandatangani pembelian 12 F-16 Block 50/52, terdiri dari 8 F-16C kursi tunggal dan 4 F-16 kursi tandem dibawah program Peace A'sama A'safiya. Pesawat menggunakan mesin buatan General Electric F110-GE-129. Pesawat pertama diserahkan di Lockheed Martin, Fort Worth, Texas pada 5 Agustus 2005. Pesawat terakhir diterima 2006.

Pembelian ini menempatkan AU Oman sebagai pengguna F-16 ke-23 di dunia dan ke-5 di Arab.

DCSA/Berita HanKam

Saturday, July 24, 2010

Jerman Ogah Beri Diskon Harga Kapal Selam Pada Israel


24 Juli 2010 – Israel tidak sedang berusaha membeli enam kapal selam dari Jerman saat ini, ujar Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Jumat (22/7) kutip kantor berita AFP. Pernyataan ini dikeluarkan setelah sebuah artikel di harian Jerman Sueddeutsche Zeitung, Berlin menolak permintaan Tel Aviv memberikan subsidi pembelian enam kapal selam tambahan.

Menurut artikel tersebut, Kanselir Jerman Angela Merkel telah memberitahukan bahwa Berlin tidak dapat memotong harga enam kapal selam kelas Dolphin untuk Israel karena anggaran terbatas.

Juru bicara pemerintah Jerman Ulrich Wilhelm mengatakan “tidak ada negosiasi antara Israel dan Jerman mengenai enam kapal selam” dan ia tidak dapat berkomentar kemungkinan pembicaraan informal mengenai hal ini.

Ia menegaskan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Merkel berbicara melalui telephone minggu ini dalam pembicaraan tersebut berfokus mengenai masa dapan Timur-Tengah tetapi ia tidak dapat berkomentar bila masalah kapal selam disinggung.

Israel meminta diskon hingga sepertiga dari 1,6 milyar dolar paket pembelian senjata, termasuk dua korvet kelas Meko dan torpedo.

Ruang kontrol kapal selam kelas Dolphin. (Foto: globalsecurity.org)

Harga satu unit dalam keadaan lengkap kapal selam diesel kelas Dolphin sekitar 700 juta dolar.

Jerman menghibahkan dua kapal selam pertama kelas Dolphin INS Dolphin dan INS Leviathan sedangkan INS Tekumah dibeli Israel setengah harga pada tahun 1990-an. Bantuan ini merupakan kompensasi holocaust yang dilakukan NAZI Jerman.

Dua kapal selam kelas Dolphin Israel sedang dibangun di galangan kapal Kiel, Jerman dan diserahkan 2012, merupakan kompensasi terlibatnya perusahaan Jerman membantu Irak memproduksi senjata kimia. Pemerintah Jerman menanggung sepertiga dari nilai pembelian 1,27 milyar dolar.

Tel Aviv sulit membeli enam kapal selam dan dua korvet karena pemotongan anggaran belanja pertahanan lima persen pada 2011 dan 2012, tanpa mendapatkan diskon dari Berlin.

Kapal selam mampu beroperasi sejauh 4500 km, membawa 35 awak dan 10 penumpang, kecepatan maksimum 20 knot

Diberitakan Israel meluncurkan rudal jelajah Popeye Turbo yang diluncurkan dari tabung torpedo 650mm kapal selam kelas Dolphin 2002 di perairan dekat Sri Lanka. Rudal mengenai sasaran sejauh 1500 km. Rudal Popeye Turbo dapat memuat hulu ledak nuklir seberat 200 kg, mengandung 6 kg Plutonium.

AFP/Berita HanKam

Friday, July 16, 2010

ADSB Serahkan Landing Craft ke AL Bahrain

Kapal Landing Craft 42 meter. (Foto: ADSB)

16 Juli 2010 -- Galangan kapal Uni Emirat Arab Abu Dhabi Ship Building (ADSB) menyerahkan kapal jenis Landing Craft 42 meter pertama dari dua kapal yang dipesan Angkatan Laut Bahrain, Selasa (13/7), di Mussafah, Abu Dhabi.

ADSB mendapatkan kontrak pembuatan dua kapal Landing Craft 42 meter dan dua kapal Fast Landing Craft 16 meter akhir 2008, setelah menyingkirkan sejumlah galangan kapal internasional.

Kapal Landing Craft 42 meter dirancang mengangkut pasukan dan kendaraan, dan dapat digunakan sarana angkut kargo, serta mampu merapat di pantai perairan dangkal. ADSB telah membangun dua kapal sejenis untuk AL UEA.

Kapal kedua Landing Craft 42 meter direncanakan diluncurkan dan diserahkan akhir tahun ini.

Sedangkan dua kapal Fast Landing Craft 16 meter telah diserahkan akhir 2009, kapal mampu dipacu 35-40 knot.

Eye of Dubai/Berita HanKam

Sunday, July 4, 2010

Iran Diduga Kirim Radar Canggih ke Syria


04 Juli 2010 -- Iran telah mengirimkan sistem radar canggih ke Syria yang dapat mengancam kemampuan Israel melancarkan serangan mendadak ke fasilitas nuklir Iran, ujar pejabat Israel dan Amerika Serikat kutip harian ekonomi The Wall Street Journal, Rabu (30/06).

Radar tersebut dapat meningkatkan kemampuan pertahanan Syria dengan memberikan peringatan dini serangan udara Israel. Jika Syria membagi informasi radar dengan Hezbollah, dapat meningkatkan keakurasian rudal Hezbollah serta peningkatan pertahanan udaranya.

Pengiriman radar oleh Iran dilakukan pertengahan 2009 diungkapkan beberapa bulan lalu oleh dua pejabat Israel, dua pejabat AS dan seorang sumber intelijen Barat, dan telah dikonfirmasi oleh militer Israel Rabu (30/06).

Mereka tidak mengetahui nama sistem radar yang dikirimkan, ditambahkan para pejabat tersebut, ini bagian dari peningkatan secara dramatis pengiriman persenjataan dan koordinasi militer antara Iran, Syria dan Hezbollah.

Pengiriman radar berpotensi melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 2001 yang melanggar Iran menyediakan, menjual atau memindahkan “ semua senjata atau material terkait.”

Syria dan Iran membantah telah terjadi pengiriman radar tersebut.

Ahmed Salkini juru bicara Kedutaanbesar Syria di Washington D.C., laporan pengapalan radar “publikasi klasik Israel bertujuan membalikan perhatian dunia dari kekejaman mereka di Gaza dan wilayah pendudukan lainnya, dan kami tidak akan membuang waktu kami” mengomentari hal ini.

Iran menolak telah mengirimkan radar canggih ke Iran, melalui Mohamad Bak Sahraee juru bicara Iran untuk misi di PBB, “mutlak tidak benar”. Sedangkan para petinggi Hezbollah di Beirut menolak berkomentar.

Juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar mengenai isu ini.

F-16 Sufa. (Foto: Keith Robinson)

Syria telah berusaha sejak lama mengimbangi kekuatan superior militer Israel. Syria tertarik mengakuisisi radar canggih. Jet-jet tempur Israel menyusup dan melancarkan penyerangan ke sebuah bangunan di Syria 2007. Israel mengklaim bangunan tersebut konstruksi reaktor nuklir dalam tahap akhir pengerjaan. Syria membantah bangunan tersebut, hanya sebuah fasilitas militer tidak digunakan lagi.

Para analis militer berpendapat Israel dapat menyusup dan keluar dari wilayah udara Syria saat serangan udara karena radar tua Syria dijamming.

Saat perang dengan Hezbollah di Lebanon 2006, jet-jet tempur Israel dapat terbang bebas tanpa perlawanan dikatakan Kapten Ron seorang pilot F-16 AU Israel. “Pada perang Lebanon masa mendatang, kami mengetahui hal tersebut tidak akan seperti itu.”

Menurut seorang pejabat AS ahli dalam hal transfer persenjataan, Iran mempunyai dua tujuan. Pertama memperkuat Hezbollah dalam menghadapi Israel serta Iran ingin mengetahui apa saja yang datang ke negeri mereka dari Israel.

Israel berambisi menghancurkan fasilitas nuklir Iran, seperti saat menghancurkan milik Irak dan Syria. Tel Aviv dan Washington menekan Moskow membatalkan pengiriman sistem pertahanan udara S-300. Mereka menuduh sistem ini akan digunakan melindungi fasilitas nuklir. S-300 sepadan dengan sistem Patriot buatan AS. Sistem S-300 mampu melumat jet-jet tempur AU Israel, seperti F-16 Sufa maupun F-15 Ra’am.

Berita terakhir, Israel bekerjasama dengan satu negara di Timur-Tengah menggelar latihan simulasi penyerangan udara fasilitas nuklir Iran. Negara ini akan mengijinkan jet-jet tempur AU Israel menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran.

Arab Saudi yang dituding bekerjasama dengan Israel, membantah berita tersebut.

The Wall Street Journal/Berita HanKam

Saturday, July 3, 2010

Yaman Akan Borong Alutsista Rusia Lebih 1 Milyar Dolar

Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh bertemu Perdana Menteri Vladimir Putin. (Foto: presidentsaleh.gov.ye)

03 Juli 2010 -- Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh melakukan kunjungan singkat ke Rusia, tiba di Moskow Selasa (29/06), kembali ke tanah air Kamis (01/07).

Presiden Saleh bertemu dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Rabu (30/06). Kedua pemimpin pemerintahan membicarakan peningkatan kerjasama kedua negara di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, serta militer dan keamanan.

Setelah pertemuaan, PM Putin menemani Presiden Saleh berkunjung ke Modern Technology Exhibition 2010 di kota Zhukovsky dekat Moskow, menampilkan industri senjata dan teknik Rusia.

Angkatan Bersenjata Yaman hampir 90% alutsistanya buatan bekas Uni Sovyet. Pemerintah Yaman berencana memodernisasi alutsista AB Yaman dengan alutsista buatan Rusia.

Rusia dan Yaman dapat menandatangani kontrak pembelian alutsista lebih dari 1 milyar dolar, menurut seorang pakar persenjataan internasional Igor Korotchenko pada RIA Novosti, Kamis (01/07).

Yaman tertarik membeli jet tempur MiG-29 SMT lebih dari 30 unit, helikopter serang Mi-35 dan Ka-52 serta helikopter angkut Mi-17, menurut Korotchenko.

Tank T-72M1, rudal anti tank Kornet E, peluncur roket multi laras Smerch lebih dari 20 unit dan BMP-3 termasuk dalam daftar yang diminati oleh Yaman.

Yaman tertarik juga membangun sistem pertahanan udara dengan sistem rudal permukaan-udara S-300MPU dan S-300PMU1, ujar Korotchenko.

Ditambahkannya, Yaman akan memodernisasi alutsista yang dibeli dari bekas Uni Sovyet, termasuk kendaraan tempur BRDM-2, jumlahnya lebih dari 1000 unit.

Selain itu, Yaman menginginkan kapal perang, terutama kapal patroli cepat untuk memerangi perompak di Teluk Aden.

RIA Novosti/Berita HanKam

Saturday, July 11, 2009

Israel Beli 25 F-35 Untuk Lawan S-300 Iran

Lockheed Martin F-35 Lightning II. (Foto: jsf.mil)

11 Juli 2009 -- Harian Israel Jerusalem Post memberitakan Israel memesan sedikitnya 25 pesawat tempur siluman F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin, Jumat (10/7). Tel Aviv telah mengirimkan Letter of Request (LoR) ke Pentagon, tetapi pembicaraan harga pesawat diperkirakan diatas 100 juta dolar dan kesepakatan teknis secara detil masih berlanjut.

Israel meminta pembicaraan masalah teknis berfokus pada tiga isu - integrasi sistem peperangan elektronika buatan Israel kedalam pesawat, intergrasi sistem komunikasi buatan Israel kedalam pesawat dan kemampuan secara mandiri memperbaiki masalah teknis dan struktural pesawat.

LoR akan diikuti dengan penandatanganan kontrak awal 2010 dan pesawat pertama tiba di Israel pada 2014. Angkatan Udara Israel merencanakan membeli tambahan pesawat hingga 50 unit, sebagian akan dilengkapi dengan kemampuan mendarat dan lepas landas secara vertical.

Tel Aviv membeli pesawat F-35 untuk menangkal ancaman sistem pertahanan udara buatan Rusia S-300 yang dibeli Iran dan Syria. Tel Aviv membutuhkan pesawat F-35 karena pesawat F-15 dan F-16 yang dimiliki oleh AU Israel tidak berkutik melawan sistem pertahanan udara S-300. Berdasarkan sejumlah simulasi komputer didemonstrasikan secara jelas pesawat siluman F-35 mampu menaklukkan rudal Rusia.

Sistem pertahanan udara S-300 PMU2. (Foto: enemyforces.net)

Sementra itu, Israel secara intensif berusaha mencegah pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Iran dibawah kontrak tahun 2007. Israel dan Amerika Serikat bersikeras pengiriman sistem pertahanan udara ini akan merusak keseimbangan kekuatan militer di kawasan.

Hingga saat ini, Rusia masih menunda realisasi kesepakatan dengan Iran. Meskipun Iran belum menerima S-300, tetapi Moskow telah mengulangi pernyataan untuk berkomitmen memenuhi kontrak tersebut yang bernilai jutaan dolar.

Sistem pertahanan udara S-300 versi terakhir S-300PMU2 Favorit mempunyai jarak jangkau hingga 195 kilometer (120 mil) dan mampu menyergap pesawat tempur dan rudal balistik pada ketinggian dari 10 meter hingga 27 kilometer. Sistem ini dapat dibandingkan dengan sistem pertahan udara buatan Amerika Serikat MIM-104 Patriot.

JERUSALEM POST
/RIA Novosti/@beritahankam

Monday, June 29, 2009

Israel Cegah Penjualan S-300 ke Iran

S-300PMU2. (Foto: enemyforces.net)

29 Juni 2009 -- Israel berusaha keras mencegah pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Iran berdasarkan kontrak antara pemerintah Rusia dan Iran tahun 2007, diberitakan harian Haaretz, Minggu (28/6).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berbicara dengan timbalannya dari Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan kesepatan penjualan senjata tersebut. Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengulangi lagi permintaan tersebut saat bertemu dengan KASAD Rusia Jenderal Nikolai Makarov pada minggu lalu di arena pameran dirgantara Paris Airshow.

Israel dan Amerika Serikat menolak pengiriman sistem pertahanan udara S-300 ke Iran karena merusak perimbangan militer di kawasan Timur Tengah, dan hingga saat ini Rusia menuda implementasi perjanjian.

Menurut sebuah sumber di Rusia, meskipun Iran belum menerima sistem pertahan udara S-300 ke Iran di bulan Maret, para pemimpin di Moskow mengulangi komitmennya memenuhi kontrak tersebut yang bernilai jutaan dolar.

Haaretz mengatakan saat kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman ke Moskow beberapa minggu lalu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan kepada pejabat Israel sejumlah pembayaran dibawah kontrak tersebut telah dilakukan.

Pengiriman senjata ke Iran penting untuk Rusia karena Moskow telah kehilangan posisinya sebagai pemain utama penjual senjata di pasar Asia terutama di Cina dan India.

Versi terbaru S-300 adalah S-300PMU2 Favorit, menjangkau sasaran hingga 195 kilometer dan mampu menyergap pesawat dan rudal balistik pada ketinggian dari 10 meter hingga 27 kilometer. Kinerja S-300 sebanding sistem pertahanan udara buatan AS MIM-104 Patriot.

RIA Novosti
/@beritahankam

Mesir Ajukan Pembelian 24 F16 Block 52

F16 Block 52 milik AU Yunani. (Foto: military-photos)

29 Juni 2009 -- Mesir meminta Amerika Serikat mengirimkan 24 unit pesawat tempur Lockheed Martin F 16 Block 52 guna meningkatkan kemampuan angkatan udaranya.

Sebelumnya Mesir mengajukan pembelian pesawat tempur F16 Block 52 tetapi ditolak oleh pemerintahan Bush terkait catatan HAM dan demokrasi. Pemerintahan Obama menyetujui permohonan Mesir sesuai laporan Joseph Farah di G2 Bulletin.

Mesir meminta AS memasok 24 F16 Block 52 beserta amunisinya, berikut amunisi untuk helikopter tempur Apache Longbow, sistem pertahanan udara bergerak, dan Joint Direct Attack Munition (JDAM). Pabrik pesawat Lockheed Martin mengakui telah dikonfirmasi perihal permintaan Mesir ini sesuai pernyataan CEO Lockheed Martin Robert Stevens.

Saat ini, AU Mesir mengoperasikan 220 unit pesawat tempur F16 terdiri dari 42 F16 A/B Block 42, 40 F16 C/D Block 32, dan 138 F 16 C/D Block 40. Mesir mulai menerima F16 tahun 1980 hingga 2002 melalui program Foreign Military Sales (FMS), serta mengakuisisi F16 bekas pakai AU Belanda dan Turki. Pesawat tempur baru tersebut akan menggantikan sejumlah pesawat tempur lama.

DEFPRO/@beritahankam

Sunday, June 21, 2009

AL Iraq Menerima Kapal Patroli Pertama Fatah

Fatah. (Foto: Fincantieri)

21 Juni 2009 -- Iraq menerima kapal patroli pertama dari empat kapal patroli yang dipesan dari galangan kapal Fincantieri, Muggiano (La Spezia), Italia, Sabtu (20/6).

Angkatan Laut Iraq dibangun kembali setelah hancur pada Perang Teluk 1991 dan invansi Amerika Serikat 2003. Saat ini anggota AL Iraq berjumlah 2000 pelaut, dalam 2 – 3 tahun mendatang ditingkatkan hingga 6500 pelaut.

Keempat kapal senilai USD 110 juta, digolongkan kapal patroli kelas Saettia MK4 yang dirancang oleh Fincantieri berdasarkan kapal patroli Penjaga Kapal (Coast Guard) Italia kelas Diciotti. Penjaga Pantai Italia mengoperasikan lima kapal dan AL Malta satu kapal. Kapal diawaki 38 orang dimana seluruh awak dilatih di Italia selama 7 minggu termasuk satu minggu di Akademi Leghorn milik AL Italia. Kapal mempunyai panjang 53,40 meter , lebar 8 meter, berat 390 ton serta kecepatan 23 knot.

Awak kapal Fatah berpose bersama. (Foto: iraqup)

Fatah di galangan kapal Ficantieri, Italia. (Foto: iraqup)

(Foto: iraqup)


Kapal patroli milik AL Malta sekelas dengan Fatah. (Foto: Gunner Simon Muscat/irandefence.net)

Kapal pertama diberi nama Fatah akan segera digunakan mengawasi perairan ZEE Iraq, operasi pencarian dan penyelamatan, pengawasan lalu lintas laut termasuk pemeriksaan di atas kapal dan pemadam kebakaran. Tiga kapal sisanya akan dikirimkan dalam interval setiap tiga bulan.

Perjalanan Fatah ke Umm Qasr Iraq dikawal oleh kapal perang Itali, Amerika Serikat dan Inggris. Rute perjalanan melewati Laut Mediterania, Terusan Suez, Teluk Aden dan Selat Hormuz.

Seluruh pembangunan kapal disesuaikan dengan standar keselamatan dan lingkungan internasional dibawah pengawasan RINA (Italian Register of Ships).

Berbagai sumber @beritahankam

Tuesday, April 21, 2009

Israel Akan Borong Pencegat Roket dari AS


21 April 2009, Jerusalem -- Israel ingin membeli sistem pencegat roket dari Amerika Serikat untuk melindungi serangan para gerilyawan dari Jalur Gaza. Demikian diungkapkan Menteri Pertahanan Ehud Barak dalam wawancara yang diterbitkan, Selasa (21/4).

"Kanon-kanon Vulcan-Phalanx dan radar akan menjadi bagian dari pertahanan berlapis untuk mencegat roket-roket," kata Barak kepada surat kabar Haaretz. "Pertahanan semacam ini, sejauh yang saya ketahui adalah suatu tujuan strategis," ujarnya.

Sistem itu terdiri atas radar Phalanx untuk target roket-roket dan senjata Vulcan Gatling 20 milimeter untuk menembak jatuh mereka. Setiap komponen seharga 25 juta dollar. Komponen senjata ini telah digunakan oleh kapal-kapal Angkatan Laut AS dan Israel.

Permintaan sebelumnya dilakukan oleh Israel untuk membeli Vulcan-Phalanx yang telah dikesampingkan oleh pihak perusahaan pertahanan AS. Senjata jenis ini telah digunakan dengan sukses di Irak dan Afganistan.

Dalam rencananya berkunjung ke AS pada Juni depan, Barak akan meminta Menteri Pertahanan AS Robert Gates agar menempatkan Israel pada daftar teratas untuk sistem pertahanan tersebut. Dia berharap ada jaminan sedikitnya satu sistem pertahanan bisa dibuat untuknya pada musim dingin mendatang.

Para gerilyawan di Jalur Gaza, yang dikuasai oleh gerakan Hamas sejak Juni 2007, sering menembakkan roket-roket dan mortir-mortirnya ke wilayah Israel. Sebagian besar senjata buatan yang dinamakan ’Qassam’ itu kurang akurat, dan hanya berjarak tembak sampai 12 kilometer.
(KOMPAS)

Thursday, March 26, 2009

Prancis Jual 24 Helikopter Militer kepada Irak


26 Maret 2009, Paris -- Prancis hari Rabu menandatangani kontrak penjualan 24 helikopter militer kepada Irak, perjanjian senjata pertamanya dengan Baghdad sejak 1990.

Menteri Pertahanan Prancis Herve Morin menandatangani perjanjian senilai 360 juta euro (488 juta dolar AS) untuk Eurocopter EC 635 itu dalam pertemuan di Paris dengan timpalannya dari Irak Abdel Qader Obeidi.

Prancis setuju untuk memberikan pelatihan pilot dan memberikan pemeliharaan sebagai bagian dari kontak itu.

Perjanjian itu ditandatangani satu bulan setelah Presiden Nicolas Sarkozy melakukan kunjungan pertama yang bersejarah ke Baghdad. Saat itu ia menjanjikan Prancis akan membantu kebangkitan kembali ekonomi Irak, dan memilih pertahanan sebagai salah satu bidang kerjasama.

Seorang pejabat kementerian pertahanan mengatakan perjanjian itu adalah kontrak pertama yang ditandatangani antara Paris dan Baghdad sejak Perang Teluk 1990 dan serangan AS atas Irak pada 2003.

Morin juga mengumumkan bahwa Paris akan "membuka kembali misi militer ke Baghdad" di Kedutaan Besar Prancis di Baghdad "dari musim panas ini".

"Kami ingin kembali ke hubungan yang Prancis (dengan Irak) telah kembangkan hingga 1980-an," ia mengatakan.

"Ketika itu sebagian besar militer Irak dilatih di Prancis dan diperlengkapi dengan perlengkapan militer Prancis," ia menambahkan.

Obeidi mengatakan bahwa pembelian helikopter itu merupakan salah satu prioritas pemerintah Irak.

Ia mengatakan ia telah membicarakan sejumlah proyek lain dengan "perusahaan-perusahaan besar Prancis", tapi tidak memberi perincian.

Perjanjian itu, katanya, akan memperkuat "kebebasan" negaranya dan "memudahkan perjanjian dengan AS mengenai penarikan pasukan Amerika".

Ketika ditanya mengenai pengiriman instruktur Prancis ke Irak, Morin mengatakan Prancis "terbuka pada semua bentuk kerja sama" tapi (wewenang) itu berada pada "pemerintah Irak untuk menyampaikan keinginannya".

Kunjungan mengejutkan Sarkozy ke Irak bulan lalu adalah yang pertama terjadi ke negara itu oleh seorang kepala negara Prancis.

Prancis menentang keras serangan Amerika hampir enam tahun lalu, yang menjatuhkan Saddam Hussein, keputusan kebijakan yang menimbulkan perselisihan dengan pemerintah presiden AS ketika itu George W. Bush.

Sarkozy mengatakan Prancis akan bekerja dengan Irak ke manapun kerjasama itu dapat membantu memperbaiki infrastruktur negara tersebut yang telah dihantam berkali-kali, dalam bisnis dan juga masalah keamanan.

"Kami mengusahakan kerja sama di bidang ekonomi, keamanan, pembangunan kembali, dan untuk membantu pasukan polisi, keamanan dan militer Irak, dan juga memulihkan posisi internasional Irak," kata presiden Prancis itu. (Republika)

Sunday, March 22, 2009

Israel Kembangkan UAV Angkatan Laut

NRUAV (Naval Rotary Unmanned Vehicle) (Foto: IAI)

Israel Aerospace Industries (IAI) sedang mengembangkan wahana udara tak berawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang bisa ditempatkan di kapal – kapal kombatan sejenis korvet. Program yang diperkenalkan di pameran helikopter Eropa Eurosatory 2008 pada bulan Juni lalu dinamakan Naval Rotary Unmanned Air vehicle (NRUAV).

Seorang pejabat dari MALAT, salah satu divisi IAI mengatakan bahwa sosok wahana tersebut berdasarkan pada konversi sebuah helikopter komersial jenis Alouette III (Chetak dalam dinas AL India). Helikopter mini ini didesain untuk dapat dioperasikan dari kapal – kapal kombatan dengan tonase mulai 600 ton dan digunakan untuk mendukung operasi kapal atas air, melengkapi atau menggantikan tugas sarana udara angkatan laut lainnya (helikopter, pesawat patroli maritim, UAV).

Elemen – elemen shipboard dari NRUAV terdiri dari stasiun komando dan pengendalian yang diintegrasikan dengan pusat informasi tempur kapal perang, hangar dan perangkat pengamanan peralatan yang lain. Pesawat sayap putar tersebut dilengkapi sensor radar multi-mode yang mampu mendeteksi objek – objek permukaan dan udara yang kemungkinan besar dibuat oleh pabrikan Elta. Sensor tambahannya berupa optronics, Electronic Intelligent (Ellint) dan atau Signal Intelligent (Sigint) serta Communication Intelligent (Commint) sesuai permintaan penggunanya.

NRUAV mampu beroperasi maksimum 50 mil laut dari kapal perang yang mengoperasikannya. Dengan bahan bakar seberat 150 kg, wahana ini dapat terbang selama empat jam. Pihak IAI tidak menyebutkan harga satu unit peralatan ini dan negara – negara mana yang sudah berminat membelinya. (MajalahCakrawala/TNI AL)

Saturday, February 28, 2009

Yaman Akan Menambah MiG-29 Fulcrum


Presiden Yaman Ali Abdullah Salah mengatakan negaranya akan membeli tambahan sejumlah pesawat tempur MiG-29 Fulcrum serta sejumlah peralatan militer dari Rusia saat kunjungan ke Rusia (25/1).

Tidak menutup kemungkinan Yaman akan membeli MiG-35 selain helikopter dan kapal patroli.

Hampir 90% pesawat tempur serta peralatan militer yang digunakan Angkatan Udara Yaman buatan Uni Soviet. Saat ini, AU Yaman mengoperasikan 44 MiG-29SMT dan MiG-29UBT, diterima dari Rusia tahun 2006 – 2007.

Menurut data CIA, GDP (PDB) Yaman tahun 2008 diperkirakan USD60.48 Milyar dengan pendapatan per-kapita 2008 USD2600. Anggaran belanja militer sekitar 6.6% dari GDP di tahun 2006.

Sedangkan Indonesia GDP tahun 2008 diperkirakan USD932.1 Milyar dengan pendapatan per-kapita 2008 USD3900. Anggaran belanja militer dibawah 1%, bahkan di tahun 2009 hanya 0,6%, karena ada pemilu.

Tak heran, untuk melengkapi satu skadron pesawat tempur dibutuhkan bertahun-tahun.
(RIA Novosti/CIA/Antara/Beritahankam.blogspot)

Friday, February 27, 2009

UEA Borong Pesawat Militer dan Rudal

Uni Emirat Arab memborong pesawat angkut militer, pesawat latih tempur, rudal udara ke udara pada pameran pertahanan IDEX 2009 ke-9 di Pusat Ekshibisi Nasional Abu Dhabi, 22 – 26 Februari 2009.

Rangkaian borong alutsista Angkatan Udara UEA ini dimulai saat diumumkan pembelian sekitar 220 rudal udara ke udara Raytheon AIM-120 C7 merupakan versi terakhir, 22/2. Pembelian ini terjadi setelah pemerintah UEA mendapat persetujuan pemerintah Amerika Serikat menjadi negara pertama pengguna rudal ini kawasan Timur Tengah.

F-16 Block 60 atau F-16F

Rudal akan dipasang di pesawat tempur F-16 Block 60 AU UEA, saat ini menggunakan AIM-120 C5. Selain AU AS, Yunani,Taiwan, dan UEA. Filandia dan Korea Selatan masuk daftar tunggu pengguna versi C7.

Pembelian rudal pembelian terbesar pertama di IDEX 2009.

Pembelian Pesawat Angkut Militer
Konfirmasi pembelian pesawat angkut militer Boeing C-17 dan Lockheed Martin C-130J, ditandai pembukaan selubung model kedua pesawat tersebut oleh putra Mahkota Sheik Mohammed, 23 /2. Meskipun belum diumumkan secara resmi, hampir dipastikan UEA membeli 12 C-130J dan sejumlah C-17.

Keberhasilan kedua, duet Boeing dan Lockheed Martin memasarkan C-130J dan C-17 secara bersamaan di kawasan Tim-Teng. Setelah Qatar menandatangani persetujuan pembelian 4 C130 J dan sebuah C-17 tahun lalu.

Pembelian Pesawat Latih dan Serang Ringan

Alenia Aermacchi M-346 Master (Foto: Alenia Aermacchi)

Puncak borong alutsista ketika Menteri Pertahanan UEA Mayjen Obaid Al Ketbi mengumumkan pemenang kompetisi jet latih lanjut , 25/2. Alenia Aermacchi M-346 Master menyisihkan Korean Aerospace Industries T-50 Golden Eye dan BAE Systems Hawk 128.

Alenia akan mengirimkan 48 pesawat yang digunakan sebagai pesawat latih dan serang ringan. Pembagian jumlah pesawat jenis latih dan serang belum diumumkan segera, karena proses negosiasi masih berlanjut. Menurut seorang eksekutif Alenia ke Defence News, proposal terakhir yang diajukan tahun lalu komposisinya 20 latih dan 20 serang ringan.

Dimana pada awalnya proposal pembelian 33 pesawat dan 7 pesawat opsi. Kemudian naik menjadi 48 pesawat.

Alenia Aermacchi M-346 resmi dinobatkan dengan nama M-346 Master, setelah dilakukan sayembara pemberian nama. Mauro Petrolati dinyatakan sebagai pemenang yang mengajukan nama MASTER, menyisihkan 4000 masukan. (defensenews/beritahankam.blogspot.com)