Saturday, September 5, 2009

Malaysia dan Kapal Selam Barunya - Tajuk Rencana

Kapal selam pertama Malaysia buatan Perancis tiba di pangkalan AL di Port Klang, 3 September 2009. Kapal selam diesel elektrik kelas Scorpene pertama Malaysia diberi nama KD Tunku Abdul Rahman, merupakan Perdana Menteri pertama Malaysia. (Foto: daylife/Reuters)

5 September 2009 -- Hari Kamis (3/9) lalu di Bandar Port Klang di luar kota Kuala Lumpur berlangsung upacara yang termasuk istimewa untuk negeri jiran ini.

Raja Mizan Zainal Abidin dan Perdana Menteri Najib Razak beserta para pembesar negara hari itu menyambut kedatangan kapal selam pertama Malaysia yang diberi nama KD Tunku Abdul Rahman, PM pertama Malaysia.

Royal Malaysian Navy membeli dua kapal selam tipe Scorpene Juni 2002 dari galangan DCNS Perancis dan Navantia Spanyol. KD Tunku Abdul Rahman akan disusul oleh kapal kedua, KD Tunku Razak, akhir tahun ini.

Di lingkungan ASEAN, Malaysia menyusul Indonesia dan Singapura yang terlebih dulu mengoperasikan kapal selam. Vietnam dan Thailand akan segera membeli.

Mengapa kekuatan laut Asia sekarang ini tampak begitu menginginkan kapal selam? Alasannya tidak lain karena kapal selam memiliki kemampuan khas. Pertama ia merupakan mesin perang yang sulit dideteksi sehingga negaranegara yang dulu terlibat dalam Perang Dingin mengandalkannya sebagai kekuatan pemukul kedua. Kapal selam juga memiliki kekuatan pemaksaan.

Dengan kapal selam, Argentina dulu hampir mempermalukan Inggris karena berhasil menyerang kapal induk HMS Invincible dalam Perang Malvinas.

Kini Malaysia sudah memiliki kapal selam konvensional (non-nuklir) yang sangat canggih, dipersenjatai dengan torpedo berat Black Shark. Kapal selam berbobot 1.550 ton berawak 31 ini berkemampuan jelajah 45 hari. Desain dan konstruksinya diturunkan dari pengalaman Perancis membuat kapal selam nuklir, khususnya yang terkait dengan kehalusan akustik dan kemampuan sistem tempurnya.

Operator kapal selam punya kemampuan patroli yang lebih leluasa selain sistem penggentaran yang lebih kredibel. Oleh berbagai kemampuan tersebut, tidak heran apabila kapal selam menjadi pilihan AL berbagai negara.

Dalam perspektif inilah kita melihat bahwa kita juga perlu segera memutakhirkan dan meningkatkan armada kapal selam kita. Setelah dua kapal selam Tipe 209 yang kita beli dari Jerman di tahun 1980-an, kita baru sekarang ini punya program serius untuk menambah armada kita. Seperti kita dengar wacananya, tambahan kapal selam diproyeksikan tiba tahun 2011. Kemarin ini, pemasok dari Rusia dan Korea Selatan bersaing untuk mendapatkan order kita, yang hingga tahun 2024 disebut berjumlah 12.

Tentu saja anggaran menjadi pertimbangan karena untuk dua kapal selamnya, Malaysia harus membayar 900 juta dollar AS, yang berarti satu kapalnya berharga sekitar Rp 4.500.000.000.000 atau Rp 4,5 triliun.

Akan tetapi, dari argumen operator kapal selam, itulah harga yang harus dibayar untuk kemampuan pertahanan yang punya daya penggentaran signifikan. Tentu asal kita pintar merawat dan mengoperasikannya.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment