
11 Maret 2010, Jakarta -- Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia menggelar latihan gabungan penanggulangan teroris untuk mengantisipasi serangan teror seperti di Mumbai, India, pada 26-27 November 2008 lalu. Dalam serangan teror yang dilakukan di sebelas lokasi itu, sekitar 125 orang terbunuh dan lebih dari 300 orang terluka.
Alasan inilah yang mendorong TNI dan Kepolisian mengerahkan seluruh kekuatan dan latihan bersama penanggulangan teror setiap tahun. “Jadi, kalau ada serangan teroris dalam jumlah lokasi yang banyak, kami sudah siap menghadapinya,” kata Panglima TNI, seusai pembukaan latihan gabungan dengan kepolisian, di Lapangan Silang Monumen Nasional, Kamis (11/3).
Dalam penggerebakan teroris di Aceh dan Pamulang, tim Datasemen Khusus 88 Markas Besar Polri menemukan barang bukti sejumlah amunisi, bahan kimia, dan alat pengendali bom jarak jauh. Sedangkan barang bukti berupa bahan peledak belum ditemukan. Namun, kepolisian belum menyatakan adanya perubahan pola serangan teroris dari bom bunuh diri menjadi serangan langsung atau penyenderaan seperti di Mumbai, India.
Pada pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyatakan latihan itu untuk menyelaraskan serangkaian penanganan menghadapi teror. “Sehingga kapan saja, kami bisa menghadapi suatu situasi yang mendadak,” kata Bambang.





Dia membantah anggapan bahwa latihan ini dikhususkan sebagai persiapan menyambut kedatangan Presiden Barack Obama ke Indonesia. “Tidak hanya berkaitan dengan Obama saja,” ujarnya, "Ini pergelaran kegiatan TNI dan Polri."
Rencananya, latihan gabungan akan dilakukan pada Sabtu (13/3) mendatang di Hotel Borobudur, Bursa Efek Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, dan lokasi pengeboran minyak di Kepulauan Seribu.
TEMPO Interaktif
No comments:
Post a Comment