Tuesday, November 9, 2010

Pasukan Berjumlah Kecil, Mobilitas Tinggi


9 November 2010, Jakarta -- Sebuah helipad, landasan helikopter, kosong terlihat di sudut Pos Gabungan Bersama Republik Indonesia- Malaysia di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Tidak jauh dari helipad, satu regu pasukan Tentara Nasional Indonesia dan askar Rejimen Askar Melayu Diraja bersiap-siap menaiki sebuah truk Isuzu warna hijau dengan tulisan Yonif 641 Beruang.

Sersan Satu Damianus, putra Dayak asal Kalimantan Tengah, memimpin satu regu prajurit bergerak ke arah samping Pos Lintas Batas (PLB) Entikong. Bersama Damianus, terlihat beberapa askar ikut berpatroli membentuk barisan teratur menaiki bukit.

”Saya juga orang tempatan Sarawak. Saya dari hulu Bahagian Sri Aman (setingkat kabupaten),” ujar Prajurit Dua Farid, yang ikut menjaga Pos Aju TNI-Tentara Diraja Malaysia. Askar yang ikut berpatroli bersama Damianus juga berasal dari Sarawak. Hanya seorang Sarjan (sersan) yang mengaku berasal dari Semenanjung Malaya. ”Saya dari Ayer Keroh, Malaka,” ujar Sarjan seraya menggenggam senapan serbu AR-15 dengan tabung pelontar granat.

Damianus dan prajurit asli Kalimantan itu bergerak lincah di punggung bukit dan rimba. ”Anggota kami ada sekitar 20 persen yang putra asli Kalimantan,” ujar Komandan Batalyon 641 Beruang Letnan Kolonel (Inf) Trisaktiyono yang ditemui pada akhir Oktober lalu di Pos Gabungan Bersama Entikong.

Prioritas

Keberadaan prajurit asli Kalimantan di perbatasan memang vital bagi Malaysia dan Indonesia. Panglima Kodam XII/Tanjungpura (saat itu) Mayor Jenderal TNI Moeldoko, yang ditemui di Pontianak, mengatakan, ia memprioritaskan penerimaan anak-anak pedalaman untuk menjadi prajurit TNI. ”Kalau bicara standar akademis, tentu sulit menerima mereka. Tetapi, mengingat kemampuan adaptasi mereka dengan alam, kita beri dispensasi dalam penerimaan tamtama dan bintara putra asli, dengan mempertimbangkan kemampuan mereka beradaptasi dengan alam Kalimantan,” ujar Moeldoko, yang kini menjadi Panglima Kodam III/Siliwangi di Bandung.

Keputusan itu tidak salah. Sebelum Malaysia berdiri, tahun 1862, pemerintahan Rajah Sarawak, yakni satu-satunya wangsa kerajaan Eropa di Asia, membentuk Sarawak Rangers, yaitu pasukan yang berintikan warga asli Kalimantan. Pada era Perang Dunia II hingga Konfrontasi RI-Malaysia, Sarawak Rangers terlibat aktif dalam tugas tempur. Mereka berasal dari pedalaman dan mengenal hutan rimba yang menjadi medan tempur.

Kondisi itu berbeda dengan sukarelawan RI pada masa Konfrontasi yang kebanyakan berasal dari luar Pulau Kalimantan. Tentu sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan ganasnya rimba Kalimantan.

Sarawak Rangers kini menjadi bagian dari Royal Ranger Regiment dan ikut dalam parade hari nasional di Malaysia setiap 31 Agustus. ”Kalau ada prajurit yang terlihat unik dan berbeda dari satuan lain, itulah Ranger Sarawak,” ujar John Pang, eksekutif CIMB asal Kuala Lumpur, dalam satu kesempatan.

Mobilitas tinggi

Memberdayakan putra asli Kalimantan di perbatasan Kalimantan Barat-Kalimantan Timur dengan Sabah-Sarawak menjadi salah satu kebijakan tepat. Kebijakan lain yang digagas Moeldoko adalah mobilitas pasukan dengan jalan darat yang baik atau penggunaan kavaleri udara (air cavalry) berupa satuan helikopter untuk memudahkan pasukan bergerak dari satu lokasi ke wilayah lain di daerah yang terisolasi.

Selama ini, seperti di perbatasan Kalbar-Sarawak, pimpinan pasukan TNI lebih mudah mengunjungi pos terdepan dengan melewati wilayah Sarawak. ”Saya beberapa kali mengunjungi pasukan dengan melewati wilayah Malaysia karena jalan daratnya lebih baik,” ujar Trisaktiyono.

Memang ironis melihat kondisi infrastruktur di wilayah Indonesia. Di Pos TNI Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari PLB Entikong, harus ditempuh dengan enam jam menumpang perahu dan tujuh jam berjalan kaki. Sebaliknya, Desa Gun Sapit, Sarawak, di seberang Desa Suruh Tembawang, memiliki akses jalan mulus. Kondisi serupa terlihat di kampung-kampung pedalaman Sabah-Sarawak yang mudah dijangkau.

Kesejahteraan pasukan TNI pun masih minim. Hingga akhir Oktober 2010, tunjangan perbatasan bagi prajurit TNI ternyata belum juga turun.

Dalam kondisi memprihatinkan itu, angkutan udara menjadi alternatif bagi pergerakan pasukan. JP Cross dalam buku A Face Like A Chicken’s Backside mengisahkan betapa pasukan Persemakmuran Inggris yang berasal dari Britania Raya, Gurkha, Regiment Malay, Regiment Brunei, Border Scour, dan lain- lain bergerak cepat di rimba raya perbatasan Sabah-Sarawak dengan Kaltim-Kalbar karena didukung satuan helikopter.

Upaya gelar pasukan di perbatasan lewat udara pada periode Konfrontasi pernah dilakukan. Marsekal Muda (Purn) Djoko Poerwoko pernah mengisahkan betapa satuan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara mengedrop pasukan para di daerah perbatasan. ”Satuan helikopter juga dikerahkan waktu itu,” ujar Djoko yang pernah memegang kendali Komando Pertahanan Udara Nasional.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment