Tuesday, November 9, 2010

Hagglunds, Si Penembus Medan Bahaya

Kendaraan Hagglunds milik PMI melintasi jalan desa seusai melakukan evakuasi di Dusun Ngepringan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Minggu (7/11). Alat berat itu digunakan untuk membuka jalur yang terisolasi akibat material vulkanik Gunung Merapi. (Foto: KOMPAS/Totok Wijayanto)

9 November 2010 -- Dua truk kecil dengan bak terbuka tergandeng di bagian belakang, yang berwarna putih dilengkapi tanda silang merah, melintas di jalanan berdebu Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Di bak belakang terangkut sejumlah wartawan, relawan, dan personel TNI Angkatan Darat, pulang dari proses evakuasi jenazah korban Merapi, Minggu (7/11).

Kecil-kecil cabe rawit. Begitulah Hägglunds BV206, sejenis kendaraan semiamfibi buatan Swiss yang populer digunakan untuk mengangkut logistik. Kendaraan ini mampu berjalan di segala medan, termasuk jalanan yang masih membara, penuh endapan sisa-sisa awan panas Merapi. Kehadiran BV206 terasa sangat membantu relawan untuk proses evakuasi korban bencana alam.

Menurut Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman Sarijan, dua BV206 bantuan PMI Pusat sangat efektif mengevakuasi korban di tempat-tempat yang sulit dijangkau.

Selain tahan panas hingga lebih dari 100 derajat celsius, kendaraan ini mampu melewati medan terjal.

”Hägglunds BV206 juga mampu membersihkan penghalang di depannya, misalnya tumpukan pasir,” kata Sarijan di Yogyakarta, Senin.

Dua hari dioperasikan, BV206 telah mampu berperan serta menemukan tujuh jenazah korban erupsi Merapi di Kecamatan Cangkringan, yang sulit dilewati kendaraan biasa.

Pohon-pohon yang merintang, tumbang karena awan panas, bisa dilewati tanpa susah payah. Mobil ini pun membuka jalan bagi tim evakuasi yang akan menyisir satu per satu rumah penduduk di Dusun Ngancar, Desa Glagaharjo, Senin pagi.

Kaliyanda (52), sopir salah satu BV206, mengatakan, gampang-gampang susah mengendarai mobil ini. Secara teknis, mobil ini mirip mobil pada umumnya. Namun, dalam hal nonteknis, sopir butuh keberanian, kejelian, kecermatan, dan naluri yang baik.

”Jalan yang dilewati Hägglunds BV206 pasti bukan jalan bagus, seperti pinggir tebing. Itu butuh nyali sopirnya,” kata Kaliyanda yang sudah 10 tahun mengemudikan mobil milik PMI ini.

Bagian depan bisa menampung 6 penumpang, dan 11 orang di trailernya, dengan daya angkut 2,25 ton, dan trailer 2,5 ton. Dimensi kendaraan ini adalah panjang 6,9 meter, lebar 1,87 meter, dan tinggi 2,3 meter.

Kendaraan yang mampu berjalan dengan kecepatan 82 kilometer per jam di jalan datar ini juga bisa berjalan di dalam sungai dan rawa yang ketinggian muka airnya sampai 1,5 meter dengan kecepatan sekitar 4,7 kilometer per jam.

Bahkan, BV206 bisa menyeberangi sungai yang lebarnya sampai 2 meter, tanpa jembatan. Satu BV206, pada proses evakuasi, diisi 7 orang, terdiri dari anggota PMI dan Kopassus. Ada yang berperan sebagai penunjuk arah, komando, dan sopir.

Meski bukan kendaraan yang tahan panas, karena roda bergeriginya dilapisi karet tebal, keberadaan BV206 sangat menurunkan risiko bahaya yang harus dihadapi relawan. ”Setidaknya kalau ada luncuran awan panas secara mendadak, Hägglunds memberi kesempatan lebih untuk menghindar,” ujar Sarijan.

Rencananya, PMI Pusat akan kembali mengirimkan dua BV206 kepada PMI Kabupaten Sleman. Sementara itu, Hägglunds milik TNI juga sudah diturunkan, untuk melengkapi kendaraan evakuasi PMI. Sebab, medan yang harus ditempuh di sekitar lereng Merapi itu berbahaya.

Ketua PMI Jusuf Kalla di Jakarta menjelaskan, sejak awal pihaknya memperkirakan kemungkinan terjelek. Untuk jarak menengah dan jarak jauh, PMI menyiapkan helikopter. Namun, untuk daerah gunung harus ada kendaraan gunung, atau kendaraan semiamfibi untuk sungai.

”Kendaraan ini bisa dijalankan di all terrain (segala bentuk medan), all weather (segala cuaca). Bahkan salju atau rawa rawa pun dia bisa masuk. Itu sebabnya kami gunakan itu.”

BV206 sudah beberapa hari berada di lokasi bencana Merapi. Dua kendaraan itu dioperasikan oleh anggota Kopassus dengan pertimbangan keselamatan. ”Untuk daerah berbahaya, kami minta mereka mengoperasikan,” kata Kalla.

Kendaraan BV206 (atau Bandvagn 206) ini, tambah Jusuf Kalla, merupakan sumbangan perusahaan milik adiknya.

”BV206 itu didatangkan tiga tahun lalu. Semula untuk proyek pembangkit listrik di ujung gunung di Poso. Untuk naik ke lokasi harus memakai itu. Setelah selesai, 10 unit diserahkan ke PMI. Itu sudah kami sebarkan ke Sulawesi Selatan 2 unit, ke Sumatera Selatan 2 unit, dan 4 unit di PMI,” tuturnya.

Kendaraan semiamfibi ini pertama kali digunakan saat banjir di Situgintung, Tangerang, Maret 2009, untuk menyelamatkan warga. (ISW)

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment