Wednesday, January 6, 2010

Mencari Peran Komando Wanita TNI Angkatan Laut

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono menginspeksi peserta upacara HUT ke-47 Korps Wanita TNI AL di Mabes TNI AL, Cilangkap, Selasa (5/1). (Foto: Dispen TNI AL)

6 Januari 2010, Jakarta -- Ada berbagai pertanyaan menggelitik pada perayaan hari ulang tahun ke-47 Korps Wanita TNI Angkatan Laut pada 5 Januari 2010.

Apakah cukup Kowal tetap merupakan penjelmaan peran domestik dalam dunia militer yang maskulin? Ataukah, selama ini hanya sampai pada peran yang diistilahkan Marsekal Pertama TNI Chr Maria Rantetana, satu-satunya perempuan jenderal di TNI AL di antara 1.799 anggota Kowal, sebagai ”hanya dipajang-pajang saja” ? Atau, kapasitas anggota Kowal yang tidak jauh dari protokoler dan administrasi semata?

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono menegaskan, TNI AL memberikan peluang yang sama bagi semua personelnya. ”Prajurit Kowal mengemban peran ganda. Pada satu sisi sebagai sosok prajurit matra laut, pada sisi lain menjalankan tugasnya sebagai perempuan,” katanya.

Agus membenarkan, penempatan anggota Kowal pada kapal Republik Indonesia (KRI) hanya bersifat insidental. Pada era pertengahan 1996, pernah ada perempuan yang menjadi komandan kapal walau bukan kapal besar. Namun, hasil evaluasi menunjukkan, lebih baik perempuan ditugaskan di kapal dalam waktu relatif singkat atau beberapa hari saja. ”Seperti Kowal itu juga terlibat dalam operasi Surya Baskara Jaya,” kata KSAL.

Hingga kini, peran Kowal di bagian operasional lapangan memang bisa dikatakan minim, bahkan tidak ada sama sekali. Kowal lebih eksis di bidang kesehatan, keuangan, dan komputer alias tugas pendukung di kantor. ”Ke depan akan kita pertimbangkan juga untuk masuk ke jabatan struktural,” kata Agus.

Perwira Pembina Kowal, Letnan Kolonel (PM) Riana, mengakui, kultur timur menjadi salah satu kendala. Kondisi kapal, seperti kamarnya, membuat rasa tidak pantas jika anggota Kowal digabung dengan prajurit pria.

Hal lain berkaitan dengan lingkungan. Dunia maskulin akrab dengan candaan yang menyerempet hal yang bisa membuat merah muka perempuan. ”Kami tidak berani mengadu,” kata seorang anggota Kowal.

Ketika salah seorang anggota Kowal mencapai level jenderal sekalipun, belum tentu ada posisi yang diperuntukkan baginya dalam struktur di TNI AL. Kendala seperti siklus biologis perempuan menjadi salah satu alasan, baik dari pihak Kowal maupun dari pembuat kebijakan yang notabene adalah pria, sebagai salah satu kendala.

Peran serta perempuan dalam dunia yang maskulin itu di luar negeri pun masih menjadi proses yang terus berjalan. Salah satunya, seperti yang diungkapkan Maria Rantetana, adalah saat ia sekolah di Australia tahun 1995-1996. Saat ini ada perempuan AL yang dilatih untuk bertugas di kapal selam yang masa tugasnya berminggu- minggu atau berbulan-bulan.

”Kendala itu ada di kultur lingkungan pria,” ujar Maria. Ia menyoroti, ada pandangan, anggota Kowal hanya cocok untuk peran administrasi atau sekadar mengurus konsumsi dan protokol.

”Kalau protokol, jangan selalu harus Kowal dong. Kami bukan hanya untuk dipajang-pajang dong,” kata Maria.

Kultur ini di antaranya dimulai sejak pendidikan. Ketika tidak ada perekrutan taruna wanita di Akademi Angkatan Laut, pada saat itulah jenjang karier Kowal ditentukan untuk sangat sulit dan mustahil mencapai bintang alias jenderal. Hal ini terasa ketika mencapai tingkat perwira. Pada saat penugasan, perempuan menjadi tidak bisa berkontribusi yang sama dengan pria karena tak memenuhi syarat pendidikan.

Terobosan tentang hal ini bisa dilihat di Akademi Kepolisian yang belakangan telah menerima taruna wanita untuk memenuhi kebutuhan akan polisi wanita. ”Pernah ada perempuan lulusan Akpol bilang, saya enak sudah jadi jenderal. Saya balas, ’Kamu yang enak, masih bisa jadi Kepala Polri. Saya mana bisa’,” kata sarjana kesehatan masyarakat yang melanjutkan pendidikan di bidang Public Health di Tulane University, New Orleans, Amerika Serikat, itu.

Proses membutuhkan waktu. Paradigma juga membutuhkan proses sesuai dengan peran TNI dalam pertahanan negara.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jaleswari Pramodhawardani, malah melihat peluang untuk lebih memberdayakan perempuan dalam sektor operasional. Sifat perempuan yang pengasih bisa menjadi tameng TNI yang selama ini dianggap keras dan maskulin dalam menghadapi masyarakat. Perempuan militer bisa di garis depan, misalnya di daerah konflik dalam negeri. ”Perempuan lebih peka dan tanggap terhadap hak asasi manusia,” katanya.

Peran perempuan dalam militer, Kowal contohnya, harus dilihat dalam konteks pertahanan dan ketahanan bangsa. Di era yang menjunjung tinggi profesionalisme, ada banyak operasi militer bukan perang. Perempuan militer sesuai dengan kodratnya, dan sosok prajurit, bisa memberikan kontribusi lebih banyak kepada bangsa dan negara.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment