Tuesday, June 3, 2014

Empat Rudal Karamkan KRI Karang Banteng-983 Kedasar Samudera Hindia

(Foto: Dispenarmatim)

03 Juni 2014, Surabaya:Sebanyak empat misil peluru kendali (Rudal) senjata strategis TNI AL yang diluncurkan dari kapal perang berhasil menghantam mengenai sasaran eks KRI Karang Banteng-983 di perairan Samudera Hindia, Selasa (03/06). Dua misil rudal jenis Exocet MM-40 ditembakan dari KRI Sultan Hasanuddin-366 dan KRI Sultan Iskandar Muda-367. Sedangkan dua Rudal C-802 ditembakkan oleh KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Abdul Halim Perdana Kusuma-355.

Penembakan rudal strategis disaksikan langsung oleh Menhan RI Prof Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, MA, MSc, PhD, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Kasau Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, Wakasad Letjen TNI Muhamad Munir, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim, para anggota Komisi I DPR RI, yang onboard KRI Makassar-590.

Setelah berhasil mentraking sasaran, empal kapal perang tersebut dalam waktu yang relatif bersamaan menembakkan misil rudalnya masing-masing. Secara beruntun empat rudal tersebut menghantam lambung eks KRI Karang Banteng, menimbulkan efek ledakan hebat, dan menimbulkan nyala api yang membakar seluruh badan kapal. Akibatnya, eks Karang Banteng itu perlahan-lahan tenggelam ditelan ganasnya Samudera Hindia.

Dalam kegiatan ini juga diuji kemampuan dari hasil instalasi Sistem Kendali Senjata (SKS), perkenaan sasaran dan daya hancur yang ditimbulkan serta menguji kemampuan sistem kendali senjata unsur-unsur lain yang tergabung dalam Kogaslagab 2014.

Menhan Purnomo Yusgiantoro (kiri) berbincang dengan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio (kanan) saat memantau jalannya Latihan Gabungan TNI 2014 di perairan Laut Jawa utara Pulau Madura, Jawa Timur, Selasa (3/5). Latihan Gabungan TNI 2014 melibatkan 15.108 personel dan alutsista yang dikerahkan dari ketiga angkatan dan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme serta kesiapsiagaan satuan jajaran TNI dalam menghadapi ancaman dan gangguan di wilayah NKRI. (Foto: ANTARA FOTO/Suryanto/ss/pd/14)

Rudal C-802/ Yingji-82 (Yingji, arti harfiahnya adalah “Serangan Elang”) merupakan rudal antikapal permukaan yang diproduksi oleh China dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1989 oleh China Haiying Electro Mechanical Technology Academy (CHETA). Rudal ini memiliki kemampuan pantulan radar yang kecil, lintasan terbang yang rendah (sekitar 5 sampai 7 meter di atas permukaan laut) dan anti jamming yang tinggi, sehingga kapal sasaran mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi pula untuk menghambat Rudal C-802. Keakuratan perkenaan dari Rudal ini terhadap sasaran sekitar 98%.

Rudal C-802 dapat diluncurkan dari berbagai platform antara lain kendaraan darat bergerak/semi bergerak, kapal permukaan, kapal selam dan pesawat tempur. Sasaran utama Rudal C-802 adalah kapal tipe destroyer, frigat, landing ship tank atau sasaran permukaan laut lainnya. Selain itu, rudal C-802 dapat digunakan untuk menyerang sasaran di darat.

Rudal C-802 merupakan modifikasi versi C-801 (setara dengan rudal Exocet MM 38 buatan Perancis). Sedangkan Rudal C-802 memiliki kemampuan dan akurasi setara dengan rudal Harpoon buatan Amerika Serikat. Modifikasi mendasar pada rudal C-802 adalah penambahan sistem Turbo Jet untuk menghembuskan udara sehingga menambah jarak jangkaunya. Negara-negara pengguna rudal C-802 antara lain, Indonesia, Bangladesh, Iran, Thailand, Pakistan, Myanmar.

Sementara itu spesifikasi rudal versi terbaru dari rudal Exocet memiliki jangkauan tembak kurang lebih 180 kilometer. Rudal ini digerakkan oleh mesin jet turbofan yang dilengkapi air intake modern. Rudal Exocet Blok 3 juga dilengkapi GPS guidance waypoint, sehingga bisa menyerang kapal atau sasaran permukaan, dengan sudut serang yang rumit, agar susah diantisipasi. Sementara korvet Sigma Class, menggunakan Exocet versi lebih baru yakni MM-40 Block 2. Rudal tersebut dipasang di sejumlah kapal perang TNI AL, antara lain KRI Diponegoro-365, KRI Hasanuddin-366, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Frans Kaisiepo-368.

Aksi pertempuran laut secara besar-besaran ini, merupakan salah satu rangkaian Latihan Gabungan (Latgab) TNI tahun 2014. “Uji Coba Senjata Strategis tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI Angkatan Laut dan juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (deterrence effect) baik bagi negara maupun nonnegara (State Actor dan Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan NKRI”, kata Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmatim Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia, S.Sos., selaku Panglima Komando Tugas Laut Gabungan (Pangkogaslagab) Latgab TNI tahun 2014.

KRI Karang Banteng-983 Kapal Perang Hibah Dephub

KRI Karang Banteng-983. (Foto: Lensa Indonesia)

Bekas kapal perang RI buatan Jerman, yakni KRI Karang Banteng-983 sebelumnya berada di Satuan Kapal Bantu Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) dan kini sudah tidak bermesin lagi itu ditarik menggunakan kapal tandu dari Dermaga Koarmatim, Surabaya, Minggu menuju sasaran penembakan di perairan Laut Jawa.

KRI Karang Banteng telah mengakhiri pengabdiannya ditandai dengan penurunan ular-ular (bendera warna-warni kapal perang) di atas geladak kapal tersebut saat bersandar di Dermaga Koarmatim, Surabaya, Rabu (28/5) dengan inspektur upacara Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Aji.

Sebelum bergabung dengan TNI AL, kapal tersebut adalah kapal fery cepat KM Serayu yang dibuat di galangan kapal Laurzen Jerman pada tahun 1998 dan dioperasikan oleh PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP).

"Pada 15 September 2005, Departemen Perhubungan RI menghibahkan KM Serayu kepada TNI AL melalui Departemen Pertahanan RI, untuk selanjutnya tanggal 7 April 2006 diresmikan menjadi KRI Karang Banteng-983 dengan tugas mendukung pergerakan pasukan dan operasi bakti," kata Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Abdul Kadir.

Menurut dia, selama ini, keberadaaan KRI Karang Banteng-983 telah banyak memberikan andil terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas TNI AL. Namun berdasarkan pertimbangan strategis, teknis, dan ekonomis, KRI itu dirasakan sudah tidak layak lagi untuk mengemban tugas yang dibebankan terhadapnya.

Sumber: Dispenarmatim/Antara Jatim

No comments:

Post a Comment