Saturday, October 9, 2010

Burhanudin Amin dan Pengembangan Kostrad

Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo menyelesaikan ujian menembak guna mendapatkan brevet kehormatan Taipur Kostrad di Makodif-I Kostrad Cilodong, Bogor, Jabar, Rabu (6/10). Pangkostrad Letjen TNI Burhanudin Amin menyematkan brevet kehormatan Taipur Kostrad kepada sepuluh Pati TNI AD termasuk Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo yang akan menjadi Pangkostrad selanjutnya pada November 2010 sesuai Surat Keputusan Panglima TNI No:2Kep/642/IX/2010 tanggal 28 September 2010. (Foto: ANTARA/Andika Wahyu/ss/ama/10)

09 Oktober 2010 -- Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat atau Kostrad Letnan Jenderal Burhanudin Amin tak lama lagi akan digantikan oleh Mayor Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi. Pertengahan November 2010 serah terima jabatan akan dilangsungkan.

Burhanudin Amin juga telah menyematkan brevet Intai Tempur (Taipur) kepada Pramono Edhie Wibowo, Rabu (6/10). Penerimaan brevet adalah tanda warga kehormatan satuan Taipur Kostrad. Kostrad beranggotakan 33.342 prajurit, yang merupakan pasukan pemukul terbesar di TNI.

Tanggal 5 November mendatang Burhanudin akan genap berusia 58 tahun. Masa pensiunnya telah tiba. Ia justru memaknai masa pensiunnya ini sebagai kemerdekaan. Yang jelas, Burhanudin enggan masuk ke dunia politik, yang menurut dia, kerjanya tengkar semata. Disiplin juga tidak ada.

”Saya ini anak petani. Ibu saya buta huruf, ayah saya hanya sampai kelas II SD,” cerita Burhanudin kepada Kompas.

Pria yang lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, ini percaya, tekad orangtuanya dan pendidikan agama yang kuat yang menjadi dasar kekuatannya untuk maju. Saat SMP ia sudah harus khatam 30 juz Al Quran. ”Setelah itu, ayah yakin atas dasar agama anak-anaknya. Jadi saya SMA di Xaverius. Sebelumnya SD Nahdlatul Ulama, SMP-nya negeri,” ceritanya.

Ditanya apa yang membuatnya memutuskan untuk jadi tentara, Burhanudin menganggap, cita-cita itu datang begitu saja. Burhanudin, yang menjadi taruna Akademi ABRI—sekarang Akademi Militer—tahun 1976, bercerita, ia masuk Akabri dengan kemampuan sendiri dan tidak pakai saudara. Lulus Akabri, ia memulai karier di Poso.

Saat ditelepon Kepala Staf TNI AD Jenderal George Toisutta untuk menjadi Panglima Kostrad pun, ia tenang saja. Padahal, tidak sedikit jenderal yang saat itu berusaha menduduki posisi strategis itu. Ia sering mendapat telepon, mulai dari jenderal yang minta supaya anaknya jangan ditempatkan jauh-jauh supaya mudah kalau ada seleksi untuk Kontingen Garuda ke Lebanon. Ada juga yang mengirim SMS minta ditempatkan di wilayah yang ia inginkan. Ini belum termasuk beberapa perwira yang akan sekolah yang mengirim pesan ”minta petunjuk”. ”Saya, tugas 34 tahun, tidak pernah tugas di daerah saya sendiri,” tandasnya.

Kostrad yang terdiri dari dua divisi akan mengembangkan sebuah divisi baru tanpa pemindahan lokasi, yaitu Divisi Lintas Udara. Selain karena adanya perlengkapan tersendiri, penyatuan Linud tersebut dianggap akan mempermudah komando pengendalian. Kostrad juga tengah membentuk divisi ke-3 yang akan direalisasikan awal tahun 2011 dengan cakupan wilayah Indonesia timur. Tugas itu yang harus diemban oleh Pramono Edhie Wibowo.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment