Wednesday, September 29, 2010

Pemerintah Terus Lengkapi Sistem Senjata Sukhoi

(Foto: RIA Novosti/Mikhail Tsiganov)

29 September 2010, Jakarta -- Pemerintah terus berupaya melengkapi sistem persenjataan sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang telah dibeli dari Rusia, kata Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro.

Ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, Poernomo mengatakan pihaknya masih mendalami produsen senjata dan sumber dana yang akan digunakan untuk membeli senjata tersebut.

Poernomo mengatakan, produsen senjata tidak harus berasal dari Rusia. Pesawat tempur Sukhoi, katanya, bisa dipersenjatai dengan senjata yang diproduksi oleh produsen lain.

"Sebetulnya senjata itu bisa dibeli dan tidak harus buatan Rusia," katanya.

Namun demikian, Kementerian Pertahanan sudah memulai kerjasama dengan pihak Kedutaan Besar Rusia dan Rosoboronexport sebagai produsen untuk pengadaan sistem persenjataan Sukhoi.

Poernomo menegaskan, Indonesia bisa bekerjasama dengan produsen lain untuk melengkapi sistem persenjataan itu. Bahkan, katanya, pesawat Sukhoi bisa dilengkapi dengan sistem persenjataan buatan dalam negeri, seperti bom P100.

"Itu kita lihat untuk latihan bombingnya itu di Takalar, itu dengan buatan dalam negeri sudah bisa," katanya.

Terkait pendanaan, Poernomo mengatakan ada tiga pilihan sumber dana untuk membiayai pembelian sistem persenjataan Sukhoi, yaitu pinjaman dalam negeri melalui sindikasi perbankan nasional, pinjaman luar negeri, dan APBN.

Namun demikian, Poernomo belum bisa memastikan jumlah dana yang dibutuhkan untuk mempersenjatai Sukhoi yang nantinya akan ditingkatkan jumlahnya menjadi satu skadron atau 16 unit pesawat.

"Nilainya memang mahal, tapi untuk mempertahankan negara ini kan memang mahal," katanya.

Indonesia menegaskan akan menambah enam unit pesawat jet tempur Sukhoi guna menggenapkan sepuluh unit yang ada menjadi satu skuadron.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat kepada ANTARA menyatakan, rencana penambahan enam Sukhoi itu telah mendapat persetujuan presiden.

Ia mengatakan, keberadaan sepuluh pesawat Sukhoi yang bermarkas di Skadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, belum memadai untuk memberikan daya tangkal.

"Dibandingkan dengan wilayah udara nasional yang begitu luas, sepuluh unit Sukhoi yang ada belum memadai," tutur Imam.

Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki 18 Sukhoi meski luas wilayah udaranya lebih kecil. Sementara itu, berdasar catatan, Singapura memiliki 24 pesawat F15.

Sejak 2003 Indonesia telah memiliki sepuluh pesawat tempur Sukhoi yang dibeli dari Rusia. Pada 2003 Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007. Perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur kepada Indonesia tersebut bernilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009. Dan tiga unit Sukhoi SU-27SKM masing-masing tiba pada Jumat (10/9) dan Kamis (16/9).

TNI Angkatan Udara juga telah mengirimkan calon penerbang dan teknisi Sukhoi ke Rusia dan Cina untuk belajar.

ANTARA News

No comments:

Post a Comment

Post a Comment