Wednesday, February 18, 2009

Pemberangkatan KRI Diponegoro Tunggu PBB


17 Februari 2009,Surabaya -- Kepala Staf TNI AL (KSAL), Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdijatno mengemukakan bahwa keberangkatan KRI Diponegoro-365 beserta sekitar 100 prajurit TNI AL ke Lebanon masih menunggu kesepakatan dengan PBB.

"Keberangkatan KRI Diponegoro ditunda sekitar satu bulan karena menunggu MoU dengan PBB," katanya kepada wartawan seusai acara peresmian pengalihan pembinaan satuan-satuan di penerbangan TNI AL di Surabaya, Rabu.

Ia mengemukakan, hal yang harus dipersiapkan dalam pemberangkatan kapal canggih milik TNI AL itu adalah pembiayaan sesuai kesepakatan dengan PBB.

"Kalau jumlah personel yang akan diberangkatkan memang sudah sesuai dengan rencana," kata laksamana berbintang empat yang juga penerbang TNI AL itu.

Personel TNI AL yang tergabung dalam pasukan Garuda XXVIII-A itu sudah mendapatkan pembekalan selama satu bulan di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) dari berbagai sumber, termasuk Deplu dan sejumlah perwira TNI yang pernah bertugas di luar negeri.

Menurut Kadispen Koarmatim, Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful, KRI Diponegoro akan
bergabung dalam misi perdamaian PBB bersama dengan beberapa kapal perang dari negara-negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, Portugal, Belanda dan Italia.

"Saat ini semua personel yang akan bertugas sudah siap untuk menjalankan tugas misi perdamaian," katanya.

Meskipun markas kapal perang tersebut di Koarmatim, Surabaya, namun pemberangkatan KRI Diponegoro ke Lebanon direncanakan di Jakarta. (antarajatim.com)

KSAL: KRI Kupang Masih Layak Operasi

17 Februari 2009, Surabaya -- Kepala Staf TNI AL (KSAL), Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdijatno menegaskan bahwa KRI Kupang-582 yang nyaris tenggelam akibat hantaman ombak masih layak untuk dioperasikan kembali.

"Kapal itu masih bisa dioperasikan kembali setelah berhasil diangkat," katanya kepada wartawan seusai acara peresmian pengalihan pembinaan satuan-satuan di penerbangan TNI AL di Surabaya, Rabu.

KSAL mengemukakan, personel dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) kini masih terus berupaya mengangkat kapal yang dikandaskan di Desa Martadesa, Kecamatan Pasarean, Bangkalan, Madura itu.

"Proses pengangkatan itu memang membutuhkan waktu lama karena kapal tersebut beratnya ratusan ton. Kapal tersebut saat kejadian sedang menjalankan tugas mulia untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya tenggelam," kata laksamana berbintang empat itu.

Sebelumnya Koarmatim mengerahkan masing-masing satu tim pasukan penyelam dan Komando Pasukan Katak (Kopaska) untuk memompa ruang kosong dan memasukkan sejumlah drum ke dalam kapal agar terangkat. (edit @antarajatim.com)

Shukoi Baru untuk Lengkapi Satu Skuadron


18 Februari 2009, Jakarta -- Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Subandrio mengatakan, rencana TNI AU mengadakan tiga unit Sukhoi saat ini untuk melengkapi empat unit pesawat tempur Rusia tersebut yang sudah ada saat ini hingga menjadi satu skuadron.

"Program pengadaan pesawat tempur Sukhoi tersebut beserta dukungannya merupakan program alokasi tahun anggaran 2005-2009 secara multy years dengan commercial credit sebesar US$335 juta," ujar Subandrio saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR di Jakarta, Rabu (18/2).

Penjelasan Kasau itu menjawab pertanyaan anggota Dewan seputar anggaran untuk mendatangkan tiga unit Sukhoi yang sekarang ada di Makasar berikut harga pesawat, biaya operasional, dan pemeliharaannya.

Kasau mengatakan, dari pagu sebesar US$335 juta itu dialokasikan secara bertahap pada tahun anggaran 2005 sebesar US$55 juta, pada 2006 sejumlah US$71 juta dan pada 2008 tahap I senilai US$69 juta.

Sementara itu, kekurangan sebesar US$140 juta diprogramkan dengan KE TA 2008 tahap II sebesar US$71 juta dan KE TA 2009 sebesar US$69 juta.

Menurut KSAU, ketiga pesawat tempur Sukhoi itu telah diserahterimakan kepada TNI AU pada 2 Februari 2009.

Mengenai penetapan harga Sukhoi, Kasau menjelaskan, itu dilakukan oleh Dephan melalui negosiasi dengan pihak penjualnya, yakni Resoboront Export Rusia setelah adanya operational requirement pesawat yang diinginkan TNI AU untuk mendapatkan kesepakatan harga.

Soal biaya pemeliharaan, Kasau menjelaskan, untuk dua tahun pertama masih menjadi tanggungan pihak pemasok sementara biaya operasional didukung melalui anggaran TNI AU program tahun anggaran 2009. (mediaindonesia.com)

Alih Bina Jajaran Puspenerbal


KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhy P, menyerahkan tanda kehormatan yang baru kepada Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksma TNI Rudy Hendro Satmoko, saat upacara Alih Bina Satuan Penerbangan TNI AL di Lanudal Juanda, Rabu (18/2). Alih bina tersebut dimaksudkan untuk efektifitas, efisiensi dan pengoptimalan kinerja organisasi Penerbangan TNI AL. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/hp'/09)

17 Februari 2009, Surabaya -- Jajaran Penerbangan TNI AL mengalami Sejarah baru dengan adanya alih bina satuan Penerbangan kedalam Jajaran Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal), ini merupakan perubahan internal organisasi TNI AL secara keseluruhan guna pembinaan sesuai tugas dan fungsinya.

Satuan-satuan Penerbangan TNI AL selama ini berada dibawah pembinaan Koarmatim dan Koarmabar telah di apresiasikan kepada satuan penerbangan yang diharapkan melaksanakan tugasnya sebagai bagaian integral Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) secara efektif dan efisien guna mendukung tugas pokok TNI AL, melalui alih bina itu organisasi Penerbangan TNI AL ditata kembali agar memenuhi seterata kedudukan dengan merubah Wing Udara Koarmatim menjadi Wing Udara I, Satuan Udara Koarmabar menjadi Wing Udara II, Lanudal-lanudal dan pembentukan Fasharkan sebagai satuan-satuan Penerbangan di bawah jajaran Puspenerbal.


Dengan adanya Puspenerbal ini di harapkan mampu menajamkan pembinaan personil, materil serta pembenahan diri secara metode sistem, prosedur dan mekanisme hubungan secara internal di bawahnya maupun dengan kotama dan satuan lainnya. Secara internal pembenahan lebih di arahkan pada efektifitas dan efisiensi pola kerja dan peningkatan kualitas personil, materil dan kesiapan unsur agar dapat digunakan oleh satuan operasional.


Penggunaan unsur-unsur udara dan pangkalan TNI AL sebagai bagian SSAT tetap digunakan secara konsisten guna menyusun dan mengembangkan struktur kekuatan TNI AL.

Pengembangan penerbangan di masa datang di arahkan pada aspek kemampuan pesawat udara yang sesuai dengan kemampuan Naval Version serta peningkatan penguasaan teknologi bagi para pengawak serta pendukungnya, peningkatan itu dilaksanakan secara bertahap melalui kajian mendalam melalui aspek teknis, fungsi pesud menyesuaikan dukungan dan kebijaksanaan pemerintah.


Peningkatan secara bertahap ini juga harus diimbangi dengan peningkatan aspek pendidikan dan pelatihan bagi para pengawak dan pendukungnya melalui pendidikan didalam maupun di luar negeri. Dengan demikian kemampuan materil dan personil yang meningkat akan meminimalis resiko kecelakaan dalam rangka mensukseskan zero accident yang dicanangkan oleh Presiden RI.

Dengan berkembangnya taktik dan strategi pertempuran laut, Puspenerbal dituntut untuk mengembangkan diri dengan menyusun kajian strategi berkaitan dengan sistem dan teknologi penerbangan untuk menunjang kemampuan yang dimiliki sebagai bagian dari SSAT.


Untuk mencapai tugas pokok TNI AL dalam mengamankan dan mempertahankan keseluruhan perairan yuridiksi nasional dikaitkan dengan keterbatasan dukungan negara, penerbangan TNI AL melaksanakan tugas dengan skala prioritas pada daerah rawan secara selektif berdasarkan data-data intelijen.

Dengan demikian Penerbangan TNI AL dan satuan-satuan di bawahnya dapat memberikan pengabdian secara maksimal bagi Angkatan Laut, TNI, Bangsa dan Negara.

Demikian penjelasan Komandan Pusat Penerbangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Rudy Hendro Satmoko yang juga Pilot Heli TNI AL. Beliau adalah Perwira lulusan AAL Angkatan XXV. Dharma Jalakaca Putra. Jalesveva Jayamahe. (puspenerbal)

Kesiapan Udara TNI AL Hanya 65 Persen

8 Februari 2009, Surabaya -- Kepala Staf TNI AL (KSAL), Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdijatno mengemukakan, kekuatan udara TNI AL yang saat ini ada hanya sekitar 65 persen siap untuk dioperasikan.

TNI AL memiliki 71 pesawat berbagai jenis dan separuhnya ada yang berumur di atas 20 tahun," katanya kepada wartawan seusai peresmian pengalihan pembinaan satuan-satuan di penerbangan TNI AL di Surabaya, Rabu.


Ia mengemukakan, melihat luasnya wilayah perairan Indonesia yang harus diamankan,
sebetulnya idealnya penerbangan TNI AL memiliki 135 pesawat.

Untuk menambah kekuatan itu, katanya, TNI AL kini memesan tiga pesawat jenis CN325 dari PT Dirgantara Indonesia (DI).

"Ketiga pesawat itu akan selesai tahun depan, sedangkan untuk tahun ini tidak ada penambahan," kata perwira tinggi berbintang empat yang juga penerbang TNI AL itu.

Ia mengemukakan, pengalihan pembinaan satuan-satuan di penerbangan TNI AL itu dalam rangka efektivitas dan efisiensi sehingga penerbangan TNI AL memiliki kekuatan seperti Korps Marinir.

"Mengenai konsekuensi dari alih pembinaan ini, tidak otomatis bersamaan dengan penambahan alutsista, karena hal itu tetap disesuaikan dengan anggaran yang ada," katanya.

Sementara itu satuan-satuan penerbangan TNI AL yang selama ini berada di bawah Koarmartim dan Koarmabar dialihkan ke Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) yang berpusat di Surabaya.

Satuan-satuan itu adalah, Wing Udara Koarmatim menjadi Wing Udara I, Wing Udara Koarmabar menjadi Wing Udara II. Keduanya dibawah pembinaan Puspenerbal, termasuk sejumlah Pangkalan Udara TNI (Lanudal) yang selama ini berada di bawah Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal).

"Meskipun pembinaannya di bawah Puspenerbal, namun untuk tugas operasi tetap berada di bawah kendali Koarmatim dan Koarmabar. Semua ini ditata untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks," katanya. (antarajatim.com)

HUT Yonif 8 Marinir

17 Februari 2009, Pangkalan Berandan -- Damai dan penuh kesederhanaan itulah yang tercermin pada acara tasyakuran Potong Tumpeng dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun Batalyon Infanteri–8 Marinir yang ke–5 tahun 2009 di Home Base Ksatrian Marinir Tangkahan Lagan Pangkalan Berandan Kab. Langkat.

Tidak seperti tahun–tahun sebelumnya pada perayaan Hari Ulang Tahun Yonif-8 Mar menggelar Upacara Militer, tapi tahun ini sesuai dengan keinginan pimpinan cukup dilaksanakan dengan acara syukuran.

Komandan Batalyon Infanteri–8 Marinir Letkol Marinir Werijon dalam sambutannya yang dihadiri oleh Bupati Langkat Drs. A. Yunus Saragih, MM. dan beberapa kerabat dekat Yonif–8 Marinir menyampaikan, Ulang Tahun Batalyon-8 Mar kali ini seyogyanya cukup dilakukan dengan kesederhanaan namun tidak mengurangi hikmad dan arti dari pada event itu sendiri.

”Diharapkan dalam usianya yang masih muda, Yonif-8 akan mampu lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak demi kemajuan di masa yang akan datang”, tegas Komandan.

Yonif-8 Marinir juga banyak belajar dari kesalahan di masa lalu sehingga tuntutan sebagai satuan yang lebih professional akan mudah tercapai.

Hari jadi Yonif–8 Marinir yang jatuh pada tanggal 13 Februari 2009 bersamaan dengan hari jadinya satuan induknya (Brigade Infanteri–3 Marinir). Keberadaan markas Brigif-3 Mar di Bhumi Marinir Piabung Lampung berdasar kepada Keputusan Kasal Nomor : Kep / 03 / II / 2004 tanggal 13 Februari 2004 tentang pembentukan Pasmar 2, Brigif – 3 Mar dan Yonif – 8 Mar.

Dalam sambutannya, Bupati Langkat Drs. A. Yunus Saragih, MM. menyampaikan kepada seluruh hadirin yang hadir, bawasanya dengan hadirnya Yonif–8 Marinir ditengah–tengah masyarakat, Kabupaten Langkat akan memberikan kesejukan tersendiri khususnya di bidang keamanan.

Dulu Langkat yang merupakan jalur perdagangan ganja dari daerah NAD, ditambah lagi dengan maraknya perompakan di perairan Langkat, maka dengan hadirnya Marinir selama kurang lebih 17 bulan sudah begitu terasa perubahannya, yaitu dengan semakin kondusifnya daerah Langkat. ”Hal ini berkaitan dengan adanya koordinasi yang baik antara Marinir dengan satuan–satuan samping dan aparatur pemerintahan daerah sehingga bidang keamanan semakin membaik, diharapkan kedepan akan semakin aman dan tenteram”.

Pada acara syukuran ini, juga dilaksanakan acara tradisi penyematan bendera Kompi Tangkas yang diraih oleh Kompi Dragon, serta acara Pengukuhan Bendera Perang Batalyon yang baru, semula namanya Iguana Cakti kini berubah menjadi Harimau Putih.

Pada saat pemotongan tumpeng, potongan tumpeng diserahkan Danyonif–8 Marinir kepada Prajurit Teladan bernama Sersan Dua Marinir Andi Sutan dan Prada Marinir Agus Kaswinto. Selain potong tumpeng dilaksanakan pemberian santunan kepada anak yatim piatu dari Yayasan Darul Yatama Pelawi Pangkalan Berandan.(marinir.mil.id)

Tuesday, February 17, 2009

Kemampuan Siluman Dapat Membawa Bencana

HMS Vanguard

17 Februari 2009 -- Kemampuan siluman dari kapal selam nuklir Perancis Le Triomphant dan Inggris HMS Vanguard diduga penyebab insiden tabrakan kedua kapal selam tersebut di laut Atlantik saat melakukan patroli rutin di awal bulan ini ujar sumber di kementrian pertahanan Perancis (16/1). Dimana kedua kapal selam tersebut tidak pernah memberi peringatan akan bertubrukan antara keduanya.

Insiden tak terduga seperti ini dimungkin dapat terjadi pada kapal perang modern, dimana tak dapat dilacak dan mempunyai tingkat kebisingan lebih rendah dari seekor udang diungkapkan Menteri Pertahanan Perancis Herve Morin di televisi Canal Plus.

Le Triomphant

Morin mengatakan Perancis dan Inggris dapat berbicara dan berdiskusi mengenai daerah operasi masing-masing guna menghindari terulangnya insiden ini.

Le Triomphant kembali Brest setelah terjadi insiden sedangkan Vanguard melanjutkan patroli tetapi kemudian kembali ke Scotland untuk diperbaiki.

Kedua kapal selam ini mampu dilengkapi hingga 48 hulu ledak nuklir dengan 16 rudal balistik antar benua (ICBM). (KUNA/beritahankam.blogspot.com)

Anjing-Anjing Pintar di Pos Bewan Papua


Untuk membantu tugas Satgas Yonif 725/Waroagi , sekitar 17 ekor anjing pelacak dipelihara di Pos Bewan, Distrik Senggi. Ke-17 ekor anjing ini memiliki keunikan tersendiri dan lucunya lagi mereka layaknya anggota yang diberi pangkat dan jabatan. Seperti apa anjing-anjing ini dalam melaksanakan tugasnya?

Pos Bewan yang dipimpin Danpos Letda INF Saekoni dengan anggota 24 Orang merupakan salah satu Pos yang masuk dalam jajaran Sub Sektor” A “ yang merupakan tanggung jawab Yonif 725/Woroagi dimana Kondisi geografis yang ada tidak memungkinkan untuk dijangkau menggunakan sarana angkutan darat, sehingga harus menggunakan sarana transportasi udara yaitu Hely, Disamping itu di Pos Bewan mempunyai keunikan tersendiri dimana anjing-anjing yang ada mengerti apa yang harus dikerjakan dipos setiap harinya.

Dengan didampingi perwira staf , Danki “B”dan pengawal pada tanggal 4 Januari 2009 Dansatgas 725/Woroagi meninjau langsung ke Pos Bewan dengan berpatroli mulai dari Pos Koki “B” Yeti menuju Pos Bewan dengan menyeberangi 50 sungai dengan waktu 5 jam tiba di Bewan Dilanjutkan patroli Patok MM 2 dengan waktu 1 jam.

Di Pos Bewan saat ini terdapat 17 anjing yang merupakan peninggalan Pos satgas terdahulu yang secara turun temurun diserah terimakan disetiap akhir penugasan. Awal mula anjing tersebut darimana sampai saat ini tidak seorangpun yang dapat menjelaskan, tetapi yang diserahterimakan disetiap pergantian yaitu bagaimana merawat, memberi perintah, perlakuan dan keharusan serta larangan.

Anjing-anjing tersebut diberi nama, Jabatan mulai Komandan Regu, wadanru, Speed, penyerbu, pok tawanan, pok pengaman, provos, jaga kamar. Jabatan yang diberikan bukan hanya sembarang nama akan tetapi mereka mengerti apa yang harus dilaksanakan sesuai jabatan yang diberikan. Hal itu dibuktikan manakala akan mengadakan patroli, dengan kode mengokang senjata maka anjing-anjing tersebut serentak berkumpul, bila ada yang terlambat maka anjing yang diberi jabatan danru dan provos akan marah dengan cara menggonggong terhadap anjing yang terlambat sambil menggigitnya.

Setelah kumpul maka dibagi tugas dimana jaga kamar 3 anjing, 2speed , 5 penyerbu,2 pok tawanan,2 pok pengaman,1 provot maka segera berangkat secara otomatis yang ditunjuk jaga kamar tinggal ditempat, speed duluan didepan,pok tawanan dan penyerbu berada dikanan kiri yang patroli, pengaman dibelakang patroli sedang provos hanya mengantar sampai sungai pertama dengan tanpa disuruh dia kembali lagi ke pos.

Keunikan lain yaitu makannya hanya nasi bubur dan kecap dimana masing-masing tidak mau makan punya temannya, tidak mau masuk dalam pos, tidak ada bekas kotorannya sedikitpun disekitar pos, bila mulai masuk siaga senja atau magrib semua anjing tersebut masuk kedudukan sesuai sektornya mengelilingi pos dengan jarak kurang lebih 50 m dari pos menghadap keluar dengan posisi telungkup dan tidak akan pergi sampai waktu siaga fajar.

Keunikan ini memang sulit diterima akal namun bisa dibuktikan kebenarannya. Awalnya juga tidak percaya, setelah melihat langsung maka itu nyata, dimana masing-masing anjing diberi nama dan tugas masing-masing mulai mengadakan peninjauan kepos jajaran udara melalui jalan darat sekaligus untuk memastikan apakah jalur dorlog dan evakuasi melalui darat bisa dilaksanakan baik dari aspek medan maupun dari segi keamanan, karena perlu diketahui bahwa hutan di Papua terkenal lebat dan harus melalui sungai yang arusnya cukup deras. (korem172)

Koarmatim Tangkap Dua Kapal Filipina

KRI Layang 805

17 Februari 2009, Surabaya - Personel TNI AL yang bertugas di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Layang-805 berhasil menangkap dua kapal ikan berbendera Filipina, yakni Pump Boat Jael dan Pump Boat Mumcy Luz.

"Kedua kapal itu ditangkap di sekitar perairan utara Pulau Marore, masuk wilayah Laut Sulawesi karena melakukan penangkapan ikan secara ilegal," kata Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful di Surabaya, Selasa.

Ia menjelaskan, penangkapan yang dilakukan, 14 Februari lalu itu berawal dari kecurigaan anggota KRI Layang saat mengadakan patroli keamanan laut di sekitar perairan Laut Sulawesi. Kedua kapal ikan asing itu berusaha menghindari KRI Layang.

"Kecurigaan personel KRI dari Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim akhirnya terbukti setelah diadakan pemeriksaan terhadap kapal dan kelengkapannya. Diketahui bahwa Pump Boat Jael yang dinakhodai oleh Bebbot dan Pump Boat Mumcy Luz yang dinakhodai oleh Geraldo tidak dilengkapi dengan dokumen penangkapan ikan yang sah," katanya.

Karena itu, katanya, maka personel KRI Layang yang dikomandani Mayor Laut (P) Rudhi Aviantara membawa kedua kapal itu ke Pangkalan TNI AL (Lanal) Tahuna untuk diproses lebih lanjut.

"Bersamaan dengan itu, 24 ABK, masing-masing delapan orang dari Pump Boat Jael dan 16 ABK Pump Boat Mumcy Luz yang kesemuanya berkewarganegaraan Filipina ikut dibawa ke Lanal Tahuna," kata Kadispen.

Sementara muatan kedua kapal berupa ikan campuran seberat satu ton juga dibawa sebagai barang bukti dalam proses pemeriksaan maupun saat dibawa ke pengadilan. (antarajatim.com)

Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin Akan Miliki 10 Sukhoi Awal 2010

SU30 MK2

17 Februari 2009, Makassar -- Kepala Staf TNI AU (KASAU) Marsekal TNI Subandrio menegaskan, setelah tahap pertama diserahterimakan tiga unit pesawat Sukhoi-30 MK2 beserta suku cadang dan peralatan pendukungnya pada bulan lalu di Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, kembali Sukhoi-27 SKM direncanakan akan dikirim ke Indonesia pada akhir tahun 2009 sebanyak 2 pesawat serta pada awal tahun 2010 satu pesawat.

”Sejalan dengan situasi keuangan negara yang makin membaik serta upaya maksimal dari seluruh institusi terkait, saya merasa optimis bahwa tiga pesawat Sukhoi-27 SKM yang direncanakan tiba di Indonesia pada awal tahun 2010, akan tepat waktu pengirimannya ke Indonesia” kata Marsekal TNI Subandrio.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) dalam amanat tertulis upacara bendera 17-an di Markas Koopsau II, Makassar yang dibacakan Panglima Koopsau (Pangkoopsau) II, Marsekal Muda (Marsda) TNI Yusdhan Sayuti di Makoopsau II, Selasa (17/2). Upacara yang ditandai pengibaran bendera merah putih, pembacaan pembukaan UUD ”45, pengucapan Sapta Marga dan pembacaan Panca Prasetya Korpri itu, dihadiri seluruh warga Makoopsau II baik militer maupun PNS.


Kasau menambahkan, upaya peningkatan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara difokuskan pada tercapainya kemampuan yang optimal dari satuan-satuan TNI Angkatan Udara serta mantapnya lembaga pendidikan sebagai ujung tombak, karena kesiapan operasional dan tuntutan kualitas SDM TNI Angkatan Udara merupakan faktor menentukan dalam pelaksanaan tugas.

Menyinggung Pemilu 2009, Kasau mengharapkan TNI Angkatan Udara mampu menyiapkan transportasi angkutan udara untuk mendukung logistik Pemilu baik berupa pesawat angkut maupun helikopter. Berkaitan dengan hal tersebut, personel TNI Angkatan Udara senantiasa menghormati dan memegang teguh komitmen netralitas TNI, yang merupakan cermin konsekuennya TNI dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara, serta mempertahankan soliditas satuan dan membangun profesionalisme prajurit Angkatan Udara.


Sementara menyikapi keterbatasan dukungan anggaran, Angkatan Udara memilih strategi untuk mempertahankan satuan-satuan operasional dan meningkatkan sumber daya manusia pengawak organisasi, diharapkan akan timbul inovasi untuk meningkatkan kesiapan Alutsista yang ada, serta kesiapsiagaan satuan jajaran TNI Angkatan Udara. (tni.mil.id)

Indonesia Harus Kuasai Total Pulau Miangas

Pulau Miangas


16 Februari 2009, Jakarta -- Wakil Ketua Komisi I DPR, Yusron Ihza Mahendra, di Jakarta, Senin, menegaskan Indonesia harus tetap menguasai secara total Pulau Miangas di wilayah perairan Provinsi Sulawesi Utara, yakni di kawasan perbatasan RI-Filipina.

"Berita bahwa Filipina mengklaim Pulau Miangas (Las Palmas) di Sulawesi Utara (Sulut) sebagai wilayah mereka, menjadi perhatian serius Komisi I DPR sejak beberapa hari terakhir," ungkapnya kepada ANTARA.

Karena itu, dalam rapat dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) beberapa waktu lalu, ujarnya, dirinya secara langsung menanyakan itu.

"Dan kebetulan saya dapat penjelasan, bahwa dari Pak KSAD, bahwa secara de facto Indonesia tetap kuasai pulau itu secara total," tegasnya.

Kemudian, lanjutnya, dari kunjungan tim Komisi I DPR ke Pulau Miangas sebelumnya, memang betul Indonesia punya beberapa instansi di sana, termasuk Koramil.


Klaim Resmi

Yusron Ihza Mahendara juga menjelaskan hasil pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) saat berlangsung Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi I DPR hari ini (Senin).

"Berita tentang klaim Filipina tersebut mengherankan. Malah, setelah saya tanya kepada Pak Menlu dalam Raker dengan Komisi I DPR tadi, diperoleh kejelasan bahwa klaim resmi Filipina itu tidak ada," ujarnyaya lagi.

Kibarkan Sang Merah Putih di Miangas oleh Prajurit TNI AD dan SEKAR TELKOM

Dijelaskan juga, Filipina tidak ada langkah apa pun mengenai itu. "Mereka juga tidak mengirimkan surat ke Pemerintah RI tentang klaim tersebut, kata Yusron Ihza Mahendra mengutip Menlu.

Malahan, menurut Hasan Wirayudha, sebagaimana dikutipnya, pada tahun 1978, Menlu Mochtar Kusumaatmadja dan Menlu Filipina R Manglapus sudah menandatangani perjanjian.

"Isi perjanjian itu menyatakan, bahwa Miangas adalah pulau yang masuk wilayah NKRI. Dari situ saya jadi lega. Tetapi, sekaligus berinisiatif untuk mendesak Pemerintah serta aparat keamanan, agar meningkatkan penjagaan terhadap pulau-pulau terdepan, sebagaimana telah saya sampaikan dalam rapat bersama KSAD lalu. Kami juga minta KSAD mempercepat pembangunan hubungan udara di Miangas," tegas Yusron Ihza Mahendra. (antara.co.id)

Serah Terima Jabatan Danyonkav 5/Serbu


16 Februari 2009, Palembang -- Pangdam II/Swj Mayjen TNI Mochammad Sochib SE,MBA, Senin (16/ 2), bertempat di Makoyonkav 5/Serbu bertindak sebagai Irup pada upacara serah terima tugas dan tanggungjawab jabatan Danyonkav 5/Serbu.

Pangdam dalam amanatnya antara lain menyampaikan ucapan terima kasih kepada Letkol Kav Susanto, S.IP. beserta isteri yang telah memimpin dan membina prajurit serta satuan Yonkav 5/Serbu dengan baik selama ini. Semoga berbekal pengalaman dalam mengemban tugas sebagai Danyonkav 5/Serbu bermanfaat dalam melanjutkan tugas

Pengabdian ditempat tugas yang baru sebagai Dandim 0401/Muba Rem 044/Gapo. Selanjutnya kepada Letkol Kav Siswono saya ucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan untuk menjabat sebagai Danyonkav 5/Serbu diiringi harapan semoga dibawah kepemimpinan Komandan yang baru dapat meningkatkan kualitas pengabdian Yonkav 5/Serbu dimasa yang akan datang, prestasi dan hal-hal yang positif yang telah dicapai oleh pejabat terdahulu agar diteruskan serta ditingkatkan. Alih tugas dan tanggungjawab jabatan ini merupakan realisasi kebijaksanaan pimpinan TNI AD dalam rangka pembinaan satuan dan karier yang bersangkutan sesuai tuntutan perkembangan dan kebutuhan organisasi. Disisi lain pergantian pejabat juga dimaksudkan untuk melengkapi dan memperluas wawasan agar semakin dewasa dalam mengambil keputusan, ujar Pangdam.

Selain itu, Pangdam menekankan, agar seluruh prajurit Yonkav 5/Serbu dan seluruh prajurit Kodam II/Swj agar tetap berpegang teguh pada komitmen netralitas TNI, artinya setiap prajurit Kodam II/Swj harus bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis khususnya pada Pemilu 2009 sesuai dengan yang telah digariskan oleh Pimpinan TNI.

Pangdam juga menghimbau kepada seluruh prajurit, hendaknya memiliki kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk terus belajar dan berlatih pada setiap kesempatan yang ada, agar mampu mewujudkan semboyan satuan Kavaleri yaitu Tri Daya Cakti yang memiliki arti daya gerak, daya tembak dan daya kejut.

Hadir dalam upacara tersebut antara lain Bupati Muara Enim, Walikota Prabumulih, Para Pejabat kodam II/Swj, Ketua Persit KCK PD II/Swj beserta pengurus, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda serta undangan lainnya.(tniad.mil.id)

Monday, February 16, 2009

Ratusan Marinir Latihan Pratugas Ambalat


16 Februari 2009, Surabaya - Ratusan anggota Marinir mengikuti latihan pratugas untuk pengamanan wilayah Ambalat, Sorong dan pulau-pulau terluar yang dibuka oleh Komandan Brigade Infanteri (Brigif)-1, Kolonel Marinir Yuniar Ludfi di Surabaya, Senin.

Latihan yang dilaksanakan di daerah Surabaya, Sidoarjo dan Grati, Kabupaten Pasuruan mulai 16 Pebruari hingga 8 Maret 2009, diikuti oleh 130 personel Satgas Ambalat IX, 100 personel Satgas Sorong VIII dan 81 personel Satgas Pulau Terluar VII.

Mereka mengikuti latihan dengan materi, antara lain, mengenai kondisi geografi dan demograsi daerah penugasan, pengetahuan agama, adat istiadat dan bahasa daerah, pengetahuan hukum HAM dan humaniter, situasi keamanan terakhir di daerah penugasan serta kepemimpinan lapangan.

Materi lainnya adalah, intelijen tempur, membaca peta, kompas, P3K, teknik dan taktik navigasi, bertahan hidup di hutan dan laut, patroli, pemeriksaan kapal, prosedur komunikasi, menembak, amfibi, SAR laut dan renang laut.

Komandan Birigif-1 Marinir dalam sambutannya mengatakan, latihan pratugas ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel yang tergabung dalam satgas yang akan mengamankan perbatasan wilayah laut Indonesia .

"Kalian adalah prajurit terpilih untuk menjadi anggota satgas ini. Karena itu, gunakanlah kesempatan latihan ini sebaik-baiknya agar pada saat penugasan nanti dapat berhasil dengan baik demi keutuhan NKRI," katanya.

Ia juga berharap agar latihan ini berlangsung dengan baik atau sesuai rencana sehingga tidak ada kecelakaan.

"Optimalkan segala kemampuan, budayakan kerja keras dan berfikir cerdas agar mampu melaksanakan tugas dengan baik. Selain itu, jaga dan mantapkan rasa kebersamaan serta jaga kondisi kesehatan selama mengikuti latihan," katanya.

Pembukaan latihan itu dihadiri Komandan Yonif-1, Mayor Marinir Guslin, Komandan Yonif-3, Letkol Marinir Hadimo, Komandan Yonif-5, Letkol Marinir Firman Johan, Komandan Kompi Markas Brigif-1, Mayor Marinir Nandi Gunapria dan seluruh perwira di jajaran Brigif-1. (antarajatim.com)

Panglima TNI Tinjau Kesiapan Sukhoi

Panglima TNI, Jendral TNI Joko Santoso didampingi Pangkoopsau II, Komandan Lanud Hnd dan Komandan Skadron Udara 11 saat meninjau pesawat Sukhoi

16 Februari 2009, Makassar -- Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, didampingi beberapa pejabat dari Mabes TNI dan Mabes TNI Angkatan Udara, Sabtu (14/2) mengadakan kunjungan kerja di Koopsau II yang diterima oleh Pangkoopsau II Marsekal Muda TNI Yushan Sayuti di Gedung Galaktika Lanud Sultan Hasanuddin.

Di Lanud Sultan Hasanuddin, Panglima TNI yang tiba pukul 09.45 Wita tersebut disambut oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin di Apron Galaktika dan menerima pelaporan secara militer dari regu pasukan jajar kehormatan yang selanjutnya menuju Gedung Galaktika menerima laporan/paparan dari Pangkoopsau II.

Tampak hadir menyambut kedatangan Panglima TNI, Pangdam VII Wirabuana, Kapolda Suselbar, Sekwilda mewakili Gubernur Sulsel, Pangkosekhanudnas II, Kasdam VII Wirabuana, Pangkosekhanudnas II, Kas Koopsau II, serta Para Pejabat Muspida Sulawesi Selatan lainnya.

Selama di Lanud Sultan Hasanuddin, Panglima TNI selain menerima paparan oleh Pangkoopsau II, juga meninjau kesiapan pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK 2 yang baru tiba dari Rusia dan menambah kekuatan Skadron Udara 11 sebagai home base pesawat tempur Sukhoi.

Dalam laporannya kepada Panglima TNI , Pangkoopsau II melaporkan tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan di Koopsau II, meliputi pelaksanaan operasi tahun 2008, pelaksanaan Bakti TNI Terpadu tahun 2008 di Sulawesi Selatan.

Selain itu Pangkoopsau II juga melaporkan tentang penyelenggaraan pembinaan kemampuan dan kesiapsiagaan operasional satuan TNI Angkatan Udara dalam jajarannya dan melaksanakan operasi udara dalam rangka penegakan kedaulatan Negara di udara, mendukung penegakan kedaulatan di darat dan di laut di wilayahnya sesuai dengan kebijakan Panglima TNI.

Disamping itu pada kesempatan tersebut Pangkoopsau II juga melaporkan sekilas tentang perbedaan pesawat tempur Sukhoi yang lama, yang datang pada tahun 2003 dengan pesawat tempur Sukhoi yang baru, datang pada akhir-akhir ini. Selain juga dilaporkan pola gelar operasi dalam wilayah Koopsau II yang mempunyai satuan 19 Lanud (Pangkalan TNI AU) dalam jajaran Koopsau II.(tni-au.mil.id)

F16 IN Pecah Ban Saat Mendarat di Aero India 2009

F16 IN

16 Februari 2009 -- Salah satu peserta program MRCA (Multi Role Combat Aircraft) India, F16 IN buatan Lockheed Martin mengalami pecah ban bagian belakang kiri dan kanan saat melakukan pendaratan sesuai unjuk kebolehan diajang pameran dirgantara di pangkalan angkatan udara Yelahanka, Bangalore, India (15/1).

Pecahnya ban disebabkan akibat panas dan gesekan, ujar pilot uji Paul Randall kepada wartawan dilokasi kejadian. Ditambahkannya, pada panel kendali penerbangan mengindikasikan ban kanan akan meletus sebelum pendaratan dilakukan. Pada insiden ini tidak ada yang cedera.

MiG-21 Bison

Lockheed Martin salah satu peserta kompetisi program MRCA, mengajukan F16 IN yang khusus dirancang agar memenuhi bahkan melebihi syarat MRCA.

Selain itu, Russian Aircraft Corporation (RAC) MiG mengajukan MiG29 M OVT, Dassault Perancis dengan Rafale, Saab Swedia dengan Gripen, serta konsorsium Eropa dengan Typhoon.

Nilai kontrak MRCA hampir USD 12 Milyar untuk 126 pesawat, dimana akan mengantikan MiG 21 Bison, MiG 27 dan Jaguar AU India.

antara/@beritahankam



Sunday, February 15, 2009

Pulau Miangas Milik Republik Indonesia

Pulau Miangas

Pulau Miangas mempunyai luas 3,15 kilometer persegi atau 210 Ha dengan penduduk 705 jiwa atau 178 KK, terletak dikoordinat 05° 34' 02" U - 126° 34' 54" T/ 05° 33' 57" U - 126° 35' 29" T sesuai PP No. 38 Tahun 2002 Tentang Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia

Secara administratif terletak di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud. Kabupaten Kepulauan Talaud terbentuk setelah memisahkan diri dari kabupaten induk Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, sesuai UU No. 8 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud Di Provinsi Sulawesi Utara.

Pulau Miangas merupakan batas wilayah terluar Indonesia dengan Philipina, dimana terletak dua Titik Dasar (TD) dan Pilar Pendekat (PD); Titik Dasar No. TD.056, Pilar Pendekat No. TR.056, Antara TD.056-TD.056A, Garis Pangkal Biasa dan Titik Dasar No. TD.056A, Pilar Pendekat No. TR.056, Jarak TD.056A-TD.057A = 57.91 nm, Garis Pangkal Lurus Kepulauan. Titik Dasar 057A terletak di Pulau Marampit koordinat 04° 46' 18" U - 127° 08' 32" T.

Peta Kabupaten Kepulauan Talaud

Miangas dinamakan Mangiasa oleh penduduk setempat, yang berarti menangis atau kasihan karena letak pulaunya terpencil, serta jauh dari sarana angkutan laut. Adapula yang menamakan Pulau Tinonda berarti diseberangkan, merujuk upaya Raja Talaud menyebrangkan sejumlah anggota keluarganya dari Pulau Karakelang ke Pulau Miangas. Sedangkan bangsa Portugal menamakan Island of Palmas, dimana ribuan pohon kelapa tumbuh subur di pulau ini. Sampai sekarang ini perkebunan kelapa mendominasi luas pulau dengan luas 115 Ha sedangkan luas pemukiman hanya 9 Ha.

Jarak antara Miangas dan Bitung yang sejauh 276 mil ditempuh selama 22 jam dengan kecepatan kapal 13,5 knot. Sedangkan jarak Miangas ke Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, sejauh 117 mil, dengan lama pelayaran 10 jam. Sebaliknya, jarak dari Miangas ke Santa Agustine atau General Santos di Philipina hanya 60 mil dan bisa ditempuh selama 4 jam.

Kota Miangas

Meskipun jarak Miangas lebih dekat ke Philipina, tiada alasan bagi Philipina mengklaim Miangas sebagai bagian wilayahnya. Sengketa pembagian perbatasan dan daerah kekuasaan antara Amerika-Spanyol melawan Belanda. Dimana didasarkan Traktat Paris 1898, Amerika Serikat mengklaim bahwa Pulau Miangas masuk dalam posisi kotak dan berhak atas kepemilikan pulau tersebut. Sengketa ini diselesaikan di arbitrasi internasional DR. Max Huber memenangkan Belanda atas kepemilikan Pulau Miangas.

Diperkuat perundingan antara Amerika Serikat dan Hindia Belanda di atas kapal Greenphil tanggal 4 April 1928, memutuskan Pulau Miangas masuk ke wilayah kekuasaan Hindia Belanda karena persamaan budaya dengan masyarakat Talaud. Semakin dipertegas diresmikannya tugu perbatasan antara Indonesia dengan Philipina di tahun 1955, dimana Miangas berada di wilayah Indonesia.

Semakin dipertegas pernyataan Menlu Philipina Blas F. Ople, menyatakan Miangas (Las Palmas – Philipina menyebutnya) sah milik Indonesia di tahun 2002.

Tugu NKRI di Pulau Miangas

Yang harus kita lakukan menjaga setiap jengkal wilayah kedaulatan Republik Indonesia dengan aktif, bukan reaktif disaat pihak ketiga mencoba merebutnya. Dengan anggaran pertahanan dibawah 2% dari PDB (Produk Domestik Bruto), mustahil TNI mampu menjaga setiap titik terluar dengan maksimal. Wacana pembangunan lapangan terbang di Miangas oleh TNI AL belum terealisasi. Ditinjau dari anggaran tidak akan melebihi anggaran belanja pakaian dan perbaikan kendaraan pasangan gubernur dan wakil gubenur.

Anggota TNI-AD Yonif-712 Wiratama bersama anggota SEKAR Telkom melakukan Patroli Perbatasan Negara di Pulau Miangas

Meskipun terwujud lapangan terbang tersebut, diragukan TNI AL akan dapat menempatkan pesawat dan helikopter secara permanen karena jumlahnya tidak mumpuni. Bahkan ironisnya, ada skadron udara TNI AU tanpa pesawat. Dengan adanya pesawat atau helikopter di Miangas akan memudahkan TNI memantau perbatasan dan membantu penduduk Miangas dalam pasokan kebutuhan pokok disaat jalur laut tidak bersahabat.

Anggota TNI Penjaga Perbatasan di Pulau Miangas Sedang Membersihkan Senapan Serbu M16

Tiadanya dana pembelian alutsista hanya omong kosong belaka, yang ada tiada kemauan politik baik dari pihak eksekutif maupun legislatif. Lihat saja PDB Indonesia, lebih tinggi dari Singapura, Malaysia, Australia tetapi anggaran pertahanan mereka melebihi Indonesia.

Selagi paradigma tidak akan perang dalam jangka 10 – 15 tahun untuk membenarkan kecilnya anggaran pertahanan tidak singkirkan. Menggantinya dengan paradigma pertahanan yang besar, kuat, modern dan professional akan memperkokoh kedaulatan wilayah RI. Jangan berharap anggaran pertahanan akan memenuhi kebutuhan sesuai luas wilayah RI. (@beritahankam.blogspot.com)

Si Vis Pacem Para Bellum

Sumber:
tandef.net, sulutlink.com, inrr.org, surabayawebs.com, sulut.go.id, miangas.multiply.com
UU No. 8 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud Di Provinsi Sulawesi Utara
PP No. 38 Tahun 2002 Tentang Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia

HNoMS Thor Heyerdahl (F-314) di Luncurkan


Navantia Spanyol meluncurkan kapal frigate kelas Nansen jenis peperangan anti kapal selam milik Angkatan Laut Norwegia yang diberi nama HNoMS Thor Heyerdahl (F-314) di galangan kapal Fene-Ferrol (11/2).

Peletakan lunas kapal dilakukan akhir Maret 2008, diharapkan dikirimkan ke AL Norwegia September 2010.

Kapal frigate ini merupakan kapal kelima dan kapal terakhir dari kontrak pada Juni 2000. Setelah Navantia memenangkan kontrak internasional.

Empat kapal yang telah bertugas, HNoMS Fridtjof Nansen (F 310), Roald Amundsen (F 311), Otto Sverdrup (F 312), dan Helge Ingstad (F 313).


Kapal frigate kelas Nansen mempunyai panjang keseluruhan 123.25 m, lebar 16.80 m, berat penuh 5.130 Ton, awak 120 dan mampu menampung hingga 146 orang, kecepatan maksimum 27 knot, kecepatan maksimum jelajah 16 knot dengan jarak jelajah 4.500 nm, membawa satu helikopter NH90 serta dilengkapi meriam kaliber 76 mm.

Kapal pertama tiba di Oslo, Norwegia Juni 2006 dan mulai masuk jajaran AL Norwegia tahun 2007. Frigate kelas Nansen akan mengantikan kapal kelas Oslo, bertugas sejak tahun 1966.

Selain menyelesaikan HNoMS Thor Heyerdahl, Navantia mengerjakan sejumlah kapal pemukaan maupun selam diantaranya; 1 Frigate F-105 AL Spanyol, 2 kapal selam Scorpene AL Malaysia, 4 kapal selam S-80 AL Spanyol, alih teknologi 6 kapal selam Scorpene AL India, 9 kapal pendarat AL Spanyol, 8 kapal patroli AL Venezuela.

defpro/naval-technology/navantia/@beritahankam

Admin, kapan para penguasa negeri ini berhenti berwacana untuk membeli kapal selam. Lakukan aksi nyata, para tetangga telah jauh meninggalkan negeri ini. Mereka akan tambah leluasa merendahkan bangsa ini.

Saturday, February 14, 2009

Kopassus Bebaskan Sandera di Manado


12 Februari 2009, Manado -- Sat-81 Kopassus melaksanakan Latihan Penanggulangan Teror Tri Matra II TNI TA 2008 bersama-sama dengan satuan penanggulangan teror lainnya, Den Jaka (AL) dan Den Bravo (AU) di Menado. Latihan gabungan Tri Matra ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan masyarakat Sulawesi Utara, Pemda, Kepolisian serta seluruh jajaran satuan kewilayahan TNI baik AD, AL dan AU.

Latihan ini bertujuan untuk mempersiapkan pengamanan VVIP bagi para kepala negara asing yang akan hadir pada pertemuan WOC (World Ocean Confference) yang rencanannya akan dilaksanakan pada tanggal 11 s/d 15 Mei 2009 mendatang.

Latihan pembebasan sandera dilaksanakan oleh satu Tim Prajurit Sat-81 Kopassus di Hotel Peninsula didukung Satuan Penerbad TNI AD dan anjing pelacak Sat-81 Kopassus.

Pembebasan sandera di Kapal laut dilaksanakan oleh 1 Tim Den Jaka di Teluk Manado di dekat MCC (Manado Convention Center) didukung oleh KRI. Dr Soeharso, Kapal Selam dan Helly TNI AL.

Sedangkan pembebasan Sandera di Pesawat VVIp dilaksanakan oleh 1 Tim Den Bravo 90 didukung pesawat Herculles C-130, Helly TNI AU di Bandara Sam Ratulangi.

Satuan yang masing-masing dilengkapi dengan perlengkapan khusus ini, secara serentak melaksanakan serbuan di sasaran masing-masing dengan di awali infiltrasi lewat darat, laut dan udara pada 10 Februari 2009 pukul 06.00 WITA.(kopassus.mil.id)

Kondisi Pulau Nipah Saat Kini

Kondisi Pulau Nipah Sebelum Reklamasi

Pulau Nipah atau Pulau Nipa (Peta Dishidros TNI-AL) atau Pulau Angup (sebutan penduduk sekitar) secara administratif berada di wilayah Desa Pemping, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dengan luas wilayah 63 Ha (permukaan air laut terendah), 58 Ha (permukaan air laut rata-rata), dan 28 Ha (permukaan air laut tertinggi). Koordinat Pulau Nipah 103 39'04.68" - 103 39' 39.384" BT dan 1 8' 26.88" - 1 9' 12.204" LU.

Secara geologi Pulau Nipah diinterpretasikan kelanjutan gugusan pulau Batam-Rempang-Galang (BARELANG), khusunya Pulau Pemping, Pulau Kelapa Jerih, dan Pulau Bulan.

Secara geografis Pulau Nipah terletak antara Selat Philip dan selat utama, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Menjadikan Posisi Pulau Nipah merupakan pulau terluar terkait perbatasan antara Indonesia dan Singapura.

Sesuai perjanjian yang disepakati kedua negara tanggal 25 Mei 1973, di Pulau Nipah terdapat titik referensi dan titik dasar dalam penarikan batas wilayah Indonesia dan Singapura.

Proses Reklamasi Pulau Nipah

Pulau Nipah nyaris hilang dari peta Indonesia saat pasir laut di pulau tersebut disedot dan dikirim ke Singapura guna proyek reklamasi.

Melalui Menteri Kelautan dan Perikanan mulai 23 Februari 2003, ekspor pasir laut dilarang kemudian Menteri Perdagangan mengeluarkan Peraturan Nomor 02/MDAG/PER/1/2007 tentang larangan ekspor Pasir, Tanah, dan Top Soil mulai 1 Februari 2007.

Kedua Peraturan Menteri tersebut, ditindaklanjuti oleh TNI AL dengan menindak tegas setiap usaha penyelundupan pasir laut, pasir darat, tanah dan top soil. Tujuan penyelundupan terutama ke Singapura.

Gedung di Pulau Nipah Hasil Reklamasi

Di bulan Februari 2004, Presiden Megawati Sukarnoputri menerakan tapak kakinya di monumen dan menanam pohon Cemara Laut di Pulau Nipah yang hanya tersisa 0,62 Ha saat pasang. Dengan kucuran dana Rp 300 Milyar, reklamasi kembali Pulau Nipah dilakukan di bulan Oktober 2004.

Saat itu ada tiga alternatif luas reklamasi 30 hektar, 45 hektar, dan 65 hektar. Hasil pantuan pesawat Nomad TNI AL P-842, 5 Februari 2009, luas reklamasi telah mencapai 60 Ha.

Pulau Nipah Hasil Reklamasi Tampak Samping

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin cetak biru Pulau Nipah segera dibuat agar dapat segera memainkan posisi strategis di Selat Malaka, diungkapkan oleh Menhan Yuwono Sudarsono selesai rapat kabinet terbatas (3/2/2009).

Pembangunan Pulau Nipah akan diselaraskan dengan kawasan perdagangan bebas dengan Pulau Bintan, Pulau Batam dan Pulau Karimun, ujar jubir kepresidenan Andi Mallarangeng.

Pulau Nipah Hasil Reklamasi Tampak Keseluruhannya

Perbatasan laut RI-Singapura bagian barat, tepatnya di utara Pulau Nipah sudah disepakati pada akhir 2008 lalu, setelah perundingan selama 3 tahun, sejak Februari 2005. Perjanjian kesepakatan itu akan diteken dua negara pada bulan Februari 2009. (beritahankam.blogspot.com)

Sumber: detiknews.com, tisda.org, puspenerbal.mil.id, indonesiafile.com, tnial.mil.id
Foto: puspenerbal.mil.id, pu.go.id, tnial.mil.id

Detasemen Kavaleri Peringati HUT Ke 59

Peringatan Hari Kavaleri Ke-59 di Kodam VI/Tanjung Pura

13 Februari 2009, Kutai Kertanegara -- Korps satuan Detasemen Kavaleri TNI AD merayakan hari jadinya ke 59 dimarkas Denkav-1 Kodam VI/Tpr KM 28 Samboja Kutai Kertanegara, Kamis (12/02). Bertindak sebagai inspektur upacara Mayor Kav Kuswanto, saat upacara inspeksi pasukan dilakukan Mayor Kav Kuswanto dengan Panser intai berukuran kecil.

Upacara ini diikuti tiga Kompi atau sekitar 168 personel. Total pasukan Kavaleri dari Kodam VI/Tpr sekitar 300 personel. Dalam amanatnya, Kuswanto menyampaikan pesan-pesan Komandan pusat kesenjataan Kavaleri Brigjen TNI Suharsono. Salah satu amanat pimpinan tertinggi korps baret hitam ini adalah netralitas TNI dalam pemilu.

Namun demikian sebagai satuan yang memiliki persenjataan berat dengan mobilitas tinggi, kavaleri masih dihadapkan pada keterbatasan peralatan tempur. Peringatan hari jadi korps ini sebelumnya telah digelar di Parongpong Kabupaten Bandung, Sabtu (9/2) lalu. Namun dijajaran Kodam VI/Tpr baru dilaksanakan Kamis (12/2 ) dilapangan Denkav-1 Km 28.

” Perayaan ulang tahun ini merupakan momentum untuk menegakan netralitas prajurit TNI dalam pemilu, ini sesuai denagn tema perayaan ulang tahun DenKav kali ini, ” kata Mayor Kav Kuswanto. Sebelum perayaan HUT Denkav ke 59 diramaikan dengan berbagai macam perlombaan , mulai dari sepak bola untuk umum , peraturan baris-berbaris, latihan tempur, cross country dan halang rintang tempur.

Detasemen Kavaleri, karena personel ini dilengkapi dengan persenjataan Tank dan Panser, sampai saat ini DenKav-1 yang dilengkapi persenjataan tank dan panser memiliki satu Kompi Panser dengan dilengkapi 19 kendaraan panser, dan satu kompi tank dilengkapi 13 kendaraan tank. (tni.mil.id)
----000----


Peringatan Hari Kavaleri Ke-59 Satgas Konga XXIII

13 Februari 2009, Lebanon -- Majulah Kavaleriku, dibawah panji-panjimu…… Sepenggal bait lagu Mars Kavaleri tersebut mengingatkan bahwa tanggal 9 Februari 2009 merupakan hari jadi satuan Korps Kavaleri Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat ke 59, yang telah diperingati oleh seluruh korps yang memiliki keunggulan daya gerak, daya tembak dan daya kejut di seluruh tanah air.

Namun bagi prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII-C, peringatan hari jadi Kavaleri ke 59 kali ini memiliki suasana berbeda karena perayaan hari jadi Korps Baret Hitam tersebut dirayakan di daerah penugasan Lebanon secara sederhana namun khidmat di tengah dinginnya malam musim dingin Markas Konga XXIII-C/UNIFIL, UN POSN 7-1 Adshit al Qusayr - Lebanon Selatan.


Disela sela kesibukan tugas pokok yang harus dilaksanakan, para prajurit Kavaleri masih sempat meluangkan waktu untuk mengenang hari jadi Korps kebanggaannya dengan semangat yang tinggi. Diiringi lagu Mars Kavaleri mereka berharap agar penugasan yang sedang dilaksanakan di Lebanon dapat berjalan dengan lancar dan sukses, serta panjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar sepanjang pengabdian Korps Kavaleri selalu mendapatkan ridho dari-Nya.

Peringatan hari jadi tersebut dipimpin oleh perwira tertua Kavaleri di jajaran Satgas Konga XXIII-C yang sehari-harinya menjabat sebagai Perwira Khusus Kavaleri, Kapten Kav Yudi Suryatin, alumni Akmil 1999 dan dihadiri oleh Dansatgas Konga XXIII-C, Letkol Inf R. Haryono serta perwakilan beberapa perwira dan prajurit Satgas Konga XXIII C.

Dalam acara tersebut juga diadakan acara tradisi potong tumpeng yang selanjutnya diberikan kepada prajurit tertua. Kopka Martana sebagai salah satu tanda perhormatan terhadap pengabdiannya kepada Korps Baret Hitam selama 26 tahun, dan juga tanda salut prajurit lainnya untuk dapat setia mengabdi kepada negara dan bangsa dalam melaksanakan tugas sebagai prajurit TNI.

Dalam amanatnya Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri sebagai Pembina Fungsi Kecabangan mengatakan bahwa makna yang lebih mendalam dari peringatan hari jadi Kavaleri adalah untuk meningkatkan jiwa korsa, meningkatkan profesionalitas dan kebersamaan prajurit.

Tugas yang diemban setiap prajurit baret hitam dalam penugasan harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan harus dapat dipertanggungjawabkan, oleh karenanya laksanakan tugas dengan semangat yang tinggi dan kehati-hatian agar Merah Putih dapat berkibar tegak dan nama harum bangsa semerbak di daerah penugasan.

Pedomani juga motto Kavaleri “Jaya di medan perang dan berguna di masa damai” sebagai salah satu landasan pelaksanaan tugas.

So, no matter how you feel, get up, dress up and show up, tunjukkan kemampuanmu untuk dapat mengemban tugas yang sudah diberikan kegara dengan baik. (tni.mil.id)