Tuesday, September 15, 2009

Menhan: Kesiapan Kondisi Persenjataan TNI 35 Persen

Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga (kiri) berbincang dengan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono (2 kanan), Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (duduk) dan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin (3 kanan) sebelum rapat kerja dengan Komisi I DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/9). Rapat kerja antara Departemen Pertahanan dan TNI dengan Komisi I DPR merupakan rapat kerja terakhir di masa bakti DPR periode 2004-2009. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ss/mes/09)

14 September 2009, Jakarta -- Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengemukakan berdasar hasil audit bersama Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tentang persenjataan TNI, kesiapan rata-rata persenjataan TNI hanya 35 persen.

Hasil itu tampak dari kondisi alat utama sistem senjata TNI saat ini kendaraan tempur TNI Angkatan Darat 61,81 persen, Kapal Perang TNI Angkatan Laut 16,55 persen dan kesiapan pesawat tempur TNI Angkatan Udara sekitar 30,88 persen, katanya di Jakarta, Senin.

Berbicara pada rapat kerja dengan Komisi 1 DPR bersama Panglima TNI dan ketiga kepala staf angkatan ia mengatakan, audit bersama Departemen Pertahanan dan Mabes TNI memfokuskan diri pada manajemen dan teknis pemeliharaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi dan madya seperti pesawat terbang, kapal perang dan kendaraan tempur.

Secara umum, garis besar hasil audit yang dilakukan antara lain di bidang perencanaan anggaran pemeliharaan alat utama sistem senjata dilaksanakan sesuai ketentuan berlaku namun masih berorientasi pada ketersediaan anggaran yang berpengaruh terhadap pemeliharaan yang berujung kesiapan alat utama sistem senjata.

Selain itu, memprioritaskan pemeliharaan alat utama sistem senjata TNI berdasar skala prioritas tinggi hingga kesiapan persenjataan TNI tetap terjaga dalam mendukung operasi.

Tak hanya itu, lanjut Juwono, dari hasil audit juga tampak bahwa penurunan pemeliharaan alat utama sistem senjata TNI dikarenakan keterbatasan suku cadang, menurunnya kondisi `tools` dan fasilitas pendukung seperti hanggar `dacking`, bengkel yang kurang memenuhi syarat.

Dari hasil audit juga tergambar, keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan alat utama sistem senjata mengakibatkan TNI masih melakukan kanibalisme, memperpanjang usia pakai pada suku cadang tertentu, untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Juwono menambahkan, keterbatasan anggaran yang berujung pada kesiapan alat utama sistem senjata berpengaruh terhadap latihan dan pemberdayaan sumber daya manusia.

"Misalnya di lingkungan TNI Angkatan Udara jumlah penerbang Hercules saat ini ada 47 orang yang bisa terbang hanya delapan unit, untuk helikopter Puma ada 56 orang sedangkan pesawat yang siap terbang hanya sembilan unit, sedangkan untuk tempur dari 90 orang hanya disiapkan 21 unit pesawat tempur," tuturnya.

ANTARA News

No comments:

Post a Comment

Post a Comment