Tuesday, September 15, 2009

Alutsista TNI Memprihatinkan

EADS AS532 U2/A2 Cougar direncanakan akan memperkuat TNI AU. (Foto: airforce-technology)

15 September 2009, Jakarta -- Kondisi alat utama sistem persenjataan yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia (TNI) memprihatinkan. Hal ini tercermin dari hasil audit yang dilakukan Departemen Pertahanan (Dephan) dan TNI.

Dalam penjelasan tertulis Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono pada Komisi I (bidang pertahanan) di Jakarta, Senin (14/9), penurunan pemeliharaan senjata TNI dikarenakan keterbatasan suku cadang, menurunnya kondisi peralatan (tools) dan fasilitas pendukung seperti hanggar dan bengkel yang kurang memenuhi syarat.

Keterbatasan anggaran perbaikan mengakibatkan militer masih melakukan kanibalisme dan memperpanjang usia pakai pada suku cadang tertentu untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Minimnya kesiapan senjata berujung terhadap latihan dan pembinaan sumber daya manusia.

Semisal, penerbang Hercules yang berjumlah 47 orang hanya "dilayani" delapan pesawat laik terbang. Begitu pula pesawat tempur yang 90 penerbangnya hanya disiapkan 21 armada. "Senjata yang habis masa pakainya mesti diganti teknologi terkini," kata Juwono.

Tahun 2010, Dephan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp40,7 miliar atau naik Rp7,02 miliar dibanding 2009. Juwono menegaskan, kenaikan anggaran sebagian besar digunakan untuk pengadaan senjata baru. "Alokasinya sekitar Rp2,5 triliun," katanya.

Pemeliharaan mendapat porsi terbesar kedua dengan Rp791,9 miliar. "Agar usia pakai bertambah."

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menolak menyebutkan persentase kesiapan senjata yang dimiliki. "Tidak bisa diungkapkan," katanya.

Yang jelas, hasil audit sudah dilaporkan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden berpesan agar militer intensifkan manajemen pemeliharaan dan pengadaan senjata. "Kebocoran anggaran juga terus dikurangi," kata lulusan Akademi Militer tahun 1975 itu.

Direktur Jenderal Sarana Pertahanan, Dephan, Marsekal Muda Eris Herryanto mengatakan, dari Rp2,5 triliun dialokasikan Rp1 triliun untuk pengadaan dalam negeri.

Alasannya, meningkatkan industri dalam negeri lewat transfer tekonologi dapat mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.

Rencananya, akan diadakan pesawat CN-235 dan helikopter Cougar dari PT Dirgantara Indonesia untuk TNI AU dan Matra Laut. "Juga untuk senjata dan amunisi TNI AD," kata Eris.

JURNAL NASIONAL

No comments:

Post a Comment

Post a Comment