Monday, June 15, 2009

KRI Diponegoro-365 Sebagai Kapal MIO Commander

(Foto: dispenal)

15 Juni 2009 -- “Bangsa Indonesia harus berbangga karena mendapat kepercayaan ini. Momen ini adalah momen yang sangat langka. Momen dimana kita unsur yang NON NATO diberi kesempatan untuk bisa mengatur/mengendalikan unsur-unsur NATO dalam melaksanakan operasi Maritime Task Force. Hal ini tentu karena mereka memandang profesionalisme kita dalam melaksanakan setiap tugas yang dibebankan ke kita”, ujar komandan Satuan Tugas Maritime Task Force Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah sesaat setelah KRI Diponegoro-365 mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai MIO Commander menggantikan Kapal Perang Belgia BNS Leopold 1 yang telah usai melaksanakan tugasnya.

Ia menambahkan Salah satu persyaratan untuk menjadi MIO Commander harus memiliki command and control atau komando dan pengendalian dalam rangka membangun gambaran taktis. Persyaratan paling minim adalah komunikasinya dapat berjalan dengan baik dan fasilitas commbat sistem di kapal tersebut bisa membangun gambaran taktis itu secara up to date dan mudah di operasikan.

Sementara menurut Kepala Departemen Operasi Kapten Laut (P) Aminuddin Albek tugas MIO Commander merupakan satu tantangan buat KRI Diponegoro karena kita memiliki keterbatasan untuk membangun gambaran situasi taktis secara otomatis karena tidak memiliki link 11 yang merupakan standar yang digunakan oleh unsur-unsur NATO yang terlibat dalam operasi ini, misalnya dengan menggunakan link 11 ini ketika meng-input suatu data atau kontak ke dalam commbat sistem maka secara otomatis begitu di transmit maka seluruh unsur akan menerima gambaran yang sama di dalam commbat sistem masing-masing unsur.

Kapal Perang Belgia BNS Leopold 1. (Foto: navy.be)

“Sementara kita tidak punya’, ujarnya Sehingga dibutuhkan sedikit kerja keras untuk membangun gambaran situasi dengan memanfaatkan fasilitas komunikasi internet groove dan komunikasi voice/radio. “Sejauh ini itu bukanlah suatu kendala karena hal tersebut dapat ditutupi dengan komunikasi, koordinasi dan kerjasama yang baik dengan unsur-unsur yang lain dan mereka sangat banyak membantu disamping tentunya kerja keras dari personel KRI Diponegoro yang bekerja dengan serius, sungguh-sungguh dan bisa menunjukkan keprofesionalannya menghadapi hal-hal seperti ini’ ujarnya.

Tugas kapal yang dipercaya menjabat MIO Commander salah satunya adalah mengkoordinasikan seluruh pelaksanaan hailing. Hailing adalah meminta data dari setiap kapal yang melintas di daerah tersebut, mengkoordinasikan secara taktis unsur-unsur yang sedang melaksanakan operasi di area of maritime operations agar seluruh wilayah itu bisa tercover dengan baik.sehingga tidak ada yang lolos. Seluruh kapal yang lewat dapat teridentifikasi/terhailing secara penuh.

Dalam pelaksanaan tugas setiap unsur sudah dibekali dengan abakus list yang berisi tentang data-data kapal yang diperkirakan akan masuk dan keluar dari wilayah lebanon atau beroperasi di perairan teritorialnya lebanon. Dari data-data itu dapat diketahui kalau ada kapal yang mencurigakan misalnya dengan memberikan data-data yang tidak sesuai dengan data yang sudah ada di Abakus. Seperti contoh ketika suatu malam ada kapal yang bernama Fatimah 1 yang di hailing berkali-kali sampai memasuki perairan teritorial Lebanon tetapi tetap tidak menjawab meski sudah menggunakan berbagai cara baik dengan menggunakan radio komunikasi maupun isyarat lampu karena malam hari namun tidak ada respon yang akhirnya oleh CTF dilaporkan kepada LAF-Navy yang kemudian dilaksanakan pemeriksaan oleh LAF-Navy.

Sejauh ini antara Flagship dan Mio Commander dalam pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar. Untuk kegiatan pengendalian operasi secara keseluruhan adalah CTF yang on board di kapal markas (Flag Ship) sedangkan MIO Commander bersifat taktis mengendalikan unsur-unsur yang ada di AMO saja yang sedang melaksanakan operasi atau patroli. Sementara unsur-unsur yang sedang sandar dan kegiatan-kegiatan lain diluar operasi secara keseluruhan menjadi tanggung jawab CTF yang ada di flag ship.

KRI Diponegoro. (Foto: TNI AL)

Dalam menjalankan tugas sebagai Kapal Mio Commander di minggu pertama seorang LO perwira dari LAF-Navy First Leutenant Ziad Mansour on board di KRI Diponegoro untuk memberikan bantuan jika terjadi atau ada yang harus dikoordinasikan dengan otoritas lebanon sebagai pemilik teritorial. LO ini akan dijabat secara bergantian oleh perwira-perwira LAF-Navy lainnya.

Kepercayaan yang diberikan kepada KRI Diponegoro365 sebagai kapal MIO Commander tentu saja bisa kembali menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Bangsa Indonesia, yang NON-NATO ternyata bisa berkiprah, berprestasi, tidak dipandang sebelah mata dalam satgas Maritime Task Force (MTF) seperti prestasi-prestasi yang juga telah ditorehkan oleh satgas-satgas lainnya.

Sejak bergabung dalam melaksanakan tugas di AMO (19 April 2009) bersama negara-negara Eropa, kapal dengan 100 orang personel ini telah melaksanakan hailing terhadap 228 kapal baik yang masuk maupun keluar perairan teritorial Lebanon.

dispenal

No comments:

Post a Comment

Post a Comment