Monday, February 1, 2010

TNI Perketat Penjagaan di Perbatasan Timor Leste dan Australia

Perbatasan antara Indonesia-Timor Leste. (Foto: matanews.com)

1 Februari 2010, Kupang -- Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso meminta prajurit yang bertugas di perbatasan antara Indonesia-Timor Leste dan Australia untuk memperketat penjagaan di daerah perbatasan.

Panglima TNI tidak banyak menyoroti tentang situasi pertahanan dan keamanan di NTT. "Saya minta agar prajurit TNI menjaga perbatasan dengan baik," katanya saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI di Kupang, Minggu (31/1) petang.

Lokasi perbatasan antara Indonesia-Timor Leste dan Australia terdiri dari pulau-pulau yang membutuhkan sarana transportasi dan komunikasi yang memadai sehingga harus mendapat penjagaan yang ketat.

Selain itu, Panglima TNI juga meminta jajaran TNI mengawal transisi demokrasi yang saat ini sedang berlangsung demi menjaga stabilitas nasional.

Selama 11 tahun reformasi, menurut dia, demokrasi di Indonesia masih dalam masa transisi, maka jajaran TNI harus turut ambil bagian untuk menyukseskan masa transisi tersebut. "Masa transisi ini kalau berlangsung terlalu lama akan berdampak pada stabilitas nasional," katanya.

Modal utama dalam menyukseskan masa transisi ini, lanjutnya, jajaran TNI harus menjalin kerjasama dengan Polri dan pemerintah. "Saya tekankan perlu menjalin kerjasama dengan Polri dan pemerintah daerah untuk sama-sama mengawal masa transisi ini sehingga dapat dilalui dengan sukses," katanya.

Sesuai rencana, hari ini (Senin, 1/2) Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso akan bertolak ke Atambua, Belu untuk menyerahkan 1000 unit rumah ke Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al-Jufri.

Cuaca Buruk, Salim Segaf dan Djoko Santoso Batal Kunjungi Atambua

Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri dan Panglima TNI Jendral Djoko Santoso, Senin (1/2) batal berkunjung ke Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur , karena cuaca buruk.

Rencananya Panglima TNI akan menyerahkan 1.000 unit rumah kepada Menteri Sosial yang selanjutnya diserahkan kepada warga eks pengungsi Timor-Timur di Kabupaten Kupang dan Belu. Sebanyak 1.000 unit rumah yang telah selesai dibangun itu atas kerjasama Kementrian Sosial dengan Markas Besar TNI pada tahun anggaran 2009.

Sesuai jadwal, menteri dan Panglima TNI akan menggunakan heli milik TNI menuju Atambua. Namun rencana batal karena menghindari kabut tebal. "Disini (Atambua) kabut sangat tebal sehingga Mensos dan Panglima batal berkunjung ke sini," kata anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Rudi yang dihubungi dari Kupang.

Akibatnya, menurut dia, acara penyerahan 1.000 unit rumah dipindahkan dari Atambua ke Desa Oefafi, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. "Mensos dan Panglima dari Bandara El Tari Kupang langsung menuju ke lokasi itu," katanya.

1.000 unit rumah yang diserahkan berada di Kabupaten Belu sebanyak 320 unit dan Kabupaten Kupang sebanyak 680 unit. Rumah ini berukuran 5x6 meter yang terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar tamu dan satu ruang keluarga.

Dengan penyerahan ini, maka pemerintah telah membangun dan menyerahkan sebanyak sembilan ribu unit rumah bagi warga eks pengungsi Timtim di Timor Barat sejak 2007 lalu.

TEMPO Interaktif

No comments:

Post a Comment

Post a Comment