Sunday, November 29, 2009

Rusia Tetap Hormati Kontrak Pengiriman S-300 Ke Iran

S-300. (Foto: RIA Novosti)

29 November 2009 – Duta Besar Iran untuk Rusia Mahmoud Reza Sajjadi mengungkapkan para pejabat Rusia mengatakan padanya mereka masih menghormati kontrak pengiriman sistem rudal anti pesawat S-300 ke Iran, Jumat (27/11) saat mengunjungi Harian Argomenti di Moskow.

Sajjadi menambahkan para pejabat Rusia berkomitmen juga menuntaskan pembangunan pembangkit listrik Bushehr dan mereka berharap pembangkit tersebut dapat beroperasi dalam waktu dekat, dilaporkan Kantor Berita Republik Islam Iran.

Pengiriman sistem pertahanan udara S-300 oleh Rusia ke Iran terkatung-katung setelah Amerika Serikat dan Israel menekan Rusia untuk membatalkan kontrak yang ditandatangani Desember 2005.

Sejumlah pejabat Iran bahkan mengancam akan menuntut Rusia ke pengadilan internasional karena melakukan wanprestasi atas kontrak yang sudah ditandatangani oleh kedua negara tersebut.

Salah satu perwira tinggi Iran Jenderal Hassan Mansourian mengatakan pada para wartawan saat digelar latihan perang bertajuk ''Modafean-e Aseman-e-Velayat 2”, akan mengantikan sistem S-300 jika batal dikirimkan dan digantikan dengan produksi dalam negeri.

S-300. (Foto: RIA Novosti)

Sejumlah ahli militer Rusia meragukan kemampuan Iran membuat sistem pertahanan udara sebanding dengan S-300, meskipun mendapat bantuan dari Cina. Dimana Cina memiliki sistem pertahanan S-300.

Menurut para ahli militer barat, sistem pertahanan udara S-300 akan ditempatkan di fasilitas nuklir Iran untuk melindungi dari serangan udara Israel atau Amerika Serikat.

Saat ini Iran mengandalkan sistem pertahanan udara buatan Rusia TOR M-1 yang diberitakan telah ditingkatkan jarak jangkaunya dari 25,000 kaki menjadi 30,000 kaki, serta sistem pertahanan udara buatan Inggris Hawk.

S-300 sebanding dengan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat MIM-104 Patriot, kemampuan S-300 menjadikan jet-jet tempur yang dimiliki Angkatan Udara Israel saat ini menjadi peti mati terbang jika nekat melakukan serangan udara.

Sistem S-300 dapat melacak sasaran dan menembak sasaran berupa pesawat atau rudal pada jarak 120 kilometer, anti jamming dan mampu secara simultan melayani hingga 100 sasaran.

Selain menekan Rusia, Israel berusaha mendapatkan jet tempur buatan Amerika Serikat F-35 JSF secepatnya. Kemampuan F-35 JSF dapat mengatasi kehebatan sistem pertahanan udara S-300.

FARS/@beritahankam

No comments:

Post a Comment

Post a Comment