Friday, March 5, 2010

Anggaran Belanja Militer China Rp 722 Triliun buat 2010


5 Maret 2010, Beijing -- China mengumumkan kenaikan anggaran militer sebesar 7,5 persen dari belanja militer aktual tahun 2009, yaitu sebesar 532,1 miliar yuan atau Rp 722 triliun untuk tahun 2010. Kenaikan itu merupakan kenaikan anggaran militer terkecil dalam dua dekade terakhir.

Angka 7,5 persen itu memecah serangkaian kenaikan yang selalu dua digit, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Angka itu juga kurang dari separuh rata-rata kenaikan sepanjang tahun 1999-2008 sebesar 15,9 persen. Data dari kabinet China menunjukkan bahwa terakhir kali kenaikan satu digit dalam anggaran militer adalah pada 1980-an.

Tahun lalu China mengumumkan kenaikan anggaran militer sebesar 14,9 persen dari tahun 2008 menjadi 480,7 miliar yuan (Rp 652,3 triliun).

”China berkomitmen terhadap perdamaian. Satu-satunya tujuan kekuatan militer China adalah untuk melindungi kedaulatan dan integritas wilayah China,” kata Li Zhaoxing, juru bicara Kongres Rakyat Nasional (NPC), Kamis (4/3), menjelang pembukaan rapat tahunan parlemen.

Li mengatakan, jumlah itu masuk akal mengingat luasnya wilayah dan banyaknya penduduk China. China, kata Li, telah menjaga belanja militer dengan menyeimbangkan konstruksi pertahanan dengan pembangunan ekonomi.

Sebagian besar anggaran itu, kata Li, akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan 2,3 juta personel militer China dan untuk modernisasi militer. ”Ini akan membantu China menghadapi sejumlah ancaman militer dan meningkatkan kapabilitas untuk bermacam-macam tugas militer,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa kenaikan itu hanya sebesar 1,4 persen dari produk domestik bruto China dibandingkan dengan lebih dari 4 persen di AS serta 2 persen di Inggris, Perancis, dan Rusia.

Meredam kritik

Para pakar soal militer China mengatakan, perlambatan angka kenaikan anggaran militer tampaknya dimaksudkan untuk meredam kritik dari dalam negeri yang mungkin muncul karena militer menikmati anggaran besar di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Ni Lexiong, analis pertahanan pada Shanghai University, mengatakan, kecilnya kenaikan belanja militer sebagian karena terpukulnya perekonomian China, terutama dari sektor ekspor.

Para pemimpin China juga menyadari bahwa kenaikan yang terlalu besar akan memicu kekhawatiran dan kecurigaan di antara tetangga China. ”Penurunan itu menunjukkan bahwa China tidak ingin dilihat sebagai kekuatan militer agresif,” ujar Ni.

Cepatnya modernisasi serta tambahan pesawat tempur, kapal perang, dan kapal selam telah memicu kecurigaan di AS, Jepang, India, dan negara-negara lain di kawasan.

”Setidaknya dari sisi simbol, pesan yang ingin dikemukakan adalah pada saat perekonomian berat, militer pun harus mengencangkan ikat pinggang,” kata Tai Ming Cheung, peneliti pada Institute on Global Conflict and Cooperation, University of California.

Rencana kenaikan anggaran itu akan diajukan dalam sidang NPC yang dibuka pada Jumat ini untuk mendapat persetujuan.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment