Thursday, May 21, 2009

Konsekuensi Penggunaan Alutsista Tua

Sejumlah anggota TNI AU mengikuti prosesi kedatangan jenazah Praka Alfons Rumansara (30), salah satu penumpang pesawat TNI AU Hercules C 130, di Lanud Supadio Pontianak, Kalbar, Kamis (21/5). Praka Alfons Rumansara yang sebelumnya bertugas di Bagian Logistik Lanud Supadio Pontianak tersebut, adalah salah satu korban jatuhnya pesawat TNI AU Hercules C 130 di Desa Ngeplak, Magetan, Jatim. Korban meninggalkan istri, Immaculata Netty dan dua anak Jenny dan Justine. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/mes/09)

20 Mei 2009, Jakarta -- Anggota Komisi I (bidang pertahanan dan luar negeri) DPR RI Yuddy Chrisnandi menyatakan peristiwa jatuhnya pesawat Hercules TNI AU di Desa Geplak, Magetan, Jawa Timur Rabu (20/5) pagi merupakan konsekuensi penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang sudah tua.

"Kita prihatin. Jatuhnya pesawat hercules adalah musibah yang bila dirunut sebagai konsekuensi menggunakan Alutsista udara yang sudah berumur tua serta ketidakcukupan biaya perawatan," katanya.

Tiga hal yang menjadi faktor peristiwa jatuhnya Hercules C-103 menurut Yuddy, karena umur alutsista tua, minimnya anggaran perawatan dan adanya kemungkinan suku cadang pesawat yang dikanibal. Menurut Yuddy, minimnya anggaran pertahanan, menyebabkan TNI tidak bisa memiliki peralatan perang, termasuk pesawat angkut baru apalagi modern, yang dapat meminimalisir terjadinya resiko kecelakaan. "Bahkan,TNI juga tidak memiliki anggaran perawatan Alutsista yang memadai untuk menjaga kontinuitas keamanan pengoperasian alat-alat pertahanannya," katanya.

Yuddy mengatakan, anggaran pemerintah kepada TNI. Pemerintahan kedepan, seharusnya memproyeksikan anggaran pertahanan sekurangnya 75 persen dari kebutuhan minimalnya, untuk mengurangi resiko penggunaan alutsista dan meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI. Ia juga menjelaskan, sebenarnya anggaran pertahanan yang diperlukan untuk pertahanan sebesar Rp174 triliun, sementara itu minimum esential requirement budget yang pernah diajukan sebesar Rp76 triliun.

Tetapi, menurut dia, negara tidak memiliki anggaran bidang pertahanan sebesar itu dan hanya mampu menganggarkan Rp35 triliun. Menurut Yuddy, jumlah itu sangat minim. "Anggaran TNI yang hingga saat ini baru dapat dipenuhi negara sekitar 45 persen dari kebutuhan minimal adalah cermin ketidakberpihakan politik," kata Yuddy seraya mengimbau agar politik anggaran pemerintah seharusnya pro pertahanan, demi mencegah terulangnya kecelakaan seperti ini.

Pesawat Hercules C-130 bernomor A-1325 jatuh di persawahan dan menimpa dua rumah warga di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur,. Pesawat ini melakukan kontak terakhir pukul 06.25 WIB dari ketinggian 10.000 meter terus merendah mendekati landasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dimana saat itu cuaca satu kilometer menjelang landasan berkabut tipis.
(Media Indonesia)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment