Sunday, December 6, 2009

Kodam VII Wirabuana Latihan Perang Kota


6 Desember 2009, Makassar -- “Saya juga bingung, siapa yang memberi informasi mengenai rencana kedatangan Pak SBY ke Makassar. Saya saja sebagai penanggung jawab utama keamanan presiden di Sulsel, tidak mendapat kabar mengenai rencana kedatangan itu,” kata Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Djoko Susilo Utomo kepada Tribun via telepon selular,Sabtu (5/12).

Berdasarkan aturan keprotokeleran Presiden, jika hendak berkunjung ke salah satu daerah, setidaknya sepekan sebelumnya, sudah ada pemberitahuan dan persiapan di daerah yang akan dikunjungi.

Pasukan pengaman presiden (Paspampres) setidaknya sudah diturunkan ke daerah itu untuk melakukan sterilisasi untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap presiden, termasuk mengantisipasi terjadinya gangguan aksi unjuk rasa.

Pangdam menegaskan, ampai kemarin, dia belum mendapatkan laporan mengenai rencana kedatangan SBY tersebut. “Saya pastikan Pak SBY tidak ke Makassar tanggal 9 Desember nanti.” tegas mantan Pangdivif-2 Kostrad ini.

Meski SBY tidak jadi ke Makassar, Pangdam mengatakan selama beberapa hari ke depan, Kodam VII Wirabuana akan melakukan simulasi latihan perang kota di tengah Kota Makassar. Latihan perang kota itu akan melibatkan ratusan personel tentara dari Kodam VII Wirabuana.

Pangdam membantah jika simulasi itu adalah salah satu upaya untuk menakut-nakuti para demonstran yang akan urun memperingati Hari Antikorupsi Sedunia. “Latihan ini rutin kami lakukan, dan memang sudah dipersiapkan sejak lama,” kata Djoko.

TRIBUN TIMUR

279 Prajurit Yonif 600/Raider Pulang dari Misi Perdamaian di Libanon


6 Desember 2009, Balikpapan -- Suasana haru dan gembira menyelimuti wajah 279 prajurit Yonif 600/Raider yang tergabung dalam Kontingen Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII/C/Unifil Lebanon ketika para prajurit Raider tersebut menuruni anak tangga KRI Kambani dengan nomor lambung kapal 971 di pelabuhan Semayang Balikpapan yang mengangkut para prajurit sekembalinya dari menjalankan tugas misi perdamaian di Libanon. Penyambutan 279 prajurit 600/R sendiri berlangsung Halaman Makodam VI/Tpr Balikapan Sabtu (5/12) dengan Inspektur upacara Kasdam VI/Tpr Brigjen TNI Tan Aspan dalam sebuah tradisi militer .

Upacara penyambutan kepulangan 279 prajurit dari misi perdamaian di Libanon tersebut juga di hadiri Irdam VI/Tpr, para asisten, Kabalak, serta sejumlah prajurit dan PNS, Ibu-ibu Persit KCK serta sanak keluarga dari 279 prajurit tersebut. Usai pelaksanaan upacara Kasdam VI/Tpr Brigjen TNI Tan Aspan denagn diikuti para assiten dan Kabalak memberikan ucapan selamat datang kepada Dansatgas serta seluruh perwira Yonif 600/Raider yang tergabung dalam dalam Kontingen Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII/C/Unifil Lebanon.

279 prajurit tersebut sudah 13 bulan melaksanakan misi perdamaian di Libanon atas permintaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke pemerintah Indonesia yang ditindaklanjuti dengan pengiriman 1136 prajurit TNI dan 279 diantaranya dari Yonif 600/R asal Kodam VI/Tpr. Keberangkatan 279 prajurit Yonif 600/Raider ke Libanon dipimpin oleh Letkol Inf Haryono yang saat ini menjabat Pabandya Ops Staf Operasi Kodam VI/Tpr.

Sementara itu dalam Sambutan tertulisnya Pangdam VI/Tpr Mayjen TNI Tono Suratman yang dibacakan oleh Kasdam VI/Tpr mengatakan, setelah melaksanakan tugas selama kurang lebih satu tahun, para prajurit yang sekarang dengan gagah berdiri tegap di depan kita, telah melaksanakan tugas kehormatan yang diberikan oleh negara untuk turut serta melaksanakan misi perdamaian di Negara Lebanon di bawah naungan PBB, yang sarat dengan tantangan serta kompleksnya permasalahan di daerah penugasan.

Dari laporan periodik yang diterima oleh Komando dan hasil evaluasi pelaksanaan tugas Satgas 600/Raider, kalian telah ber-upaya secara optimal dan dapat menjaga martabat dan harga diri bangsa, sehingga kita sebagai prajurit yang berjiwa Sapta Marga benar-benar diakui dan disegani oleh prajurit dari negara lain.

Dari beberapa keberhasilan tersebut, secara umum saya menilai bahwa selama penugasan, kalian telah benar-benar me-laksanakan tugas dengan penuh dedikasi dan motivasi yang tinggi serta dilandasi semangat, kesungguhan serta sikap disiplin yang tinggi, yang merupakan sendi kehidup-an bagi setiap prajurit TNI dimanapun berada dan bertugas.

Dengan keberhasilan tersebut, kepada prajurit Satgas 600/Raider, saya ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pelaksanaan tugas serta dharma bhakti yang kalian berikan selama ini. Selain keberhasilan-keberhasilan di atas, apabila terdapat kekurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum Prajurit Satgas 600/Raider hendaknya dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan ke depan nantinya.

Pangdam juga berpesan kepada Dansatgas 600/Raider agar segera melakukan konsolidasi, senantiasa meningkatkan profesionalisme baik perorangan maupun Satuan dengan terus mengembangkan budaya belajar dan berlatih kepada seluruh prajurit di Satuan masing-masing. Kepada seluruh anggota Satgas, kalian akan mendapatkan cuti operasi yang diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pendam VI/Tanjungpura

Dua Kapal Selam Saja Tak Ideal

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono melakukan inspeksi pasukan saat upacara Hari Armada Republik Indonesia Ke-64 di Komando Armada Kawasan Timur, Dermaga Ujung, Surabaya, Sabtu (5/12). (Foto: Kompas/Maria Serenade Sinurat)

6 Desember 2009, Surabaya -- Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono menilai, penambahan dua kapal selam baru saja tidak ideal untuk mempersenjatai TNI AL. Namun, hal itu bisa dimaklumi karena terbatasnya alokasi anggaran pertahanan dari pemerintah.

”Kalau mau ideal tentu harus ada empat kapal selam, tapi kemampuan anggaran kita juga terbatas. Kita mampu beli dua, ” ujar Agus seusai upacara peringatan Hari Armada Republik Indonesia Ke-64 di Komando Armada Kawasan Timur, Dermaga Ujung, Surabaya, Sabtu (5/12).

Agus menambahkan, pengadaan kapal selam baru dapat terealisasi tahun 2014. Saat ini, tiga negara yang sudah menawarkan kapal selamnya, yaitu Belanda, Italia, dan Rusia.

”Kami masih mempelajari negara mana yang menawarkan kapal dengan sistem terbaik, bukan dengan harga termurah,” katanya.

Pembelian dua kapal selam baru, menurut Agus, akan cukup bila diikuti dengan pemeliharaan kapal selam yang sudah ada. Saat ini Indonesia memiliki KRI Cakra dan KRI Nanggala yang bertempat di Koarmatim.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur Letnan Kolonel Laut (Kh) Toni Syaiful menambahkan, KRI Cakra sudah diperbaiki sistem navigasi dan mesinnya di Korea Selatan pada tahun 2007. Adapun KRI Nanggala juga akan menjalani proses serupa bulan ini.

”Dengan turunnya anggaran dari pusat, KRI Nanggala akhirnya bisa direvitalisasi. Senin depan, rencananya ada serah terima berita acara dari Pangarmatim ke pihak pengangkut,” ujarnya.

TNI AL hingga kini, seperti dikutip Antara, masih dihadapkan pada dua masalah yang masih belum sepenuhnya tertangani, yakni terkait perbatasan dan alokasi anggaran.

Masalah di wilayah laut, selain soal perbatasan, juga soal gerakan separatis bersenjata dan ancaman aspek laut yang meliputi tindakan kekerasan, bahaya navigasi, dan pelanggaran hukum.

Hari Armada RI Ke-64, kemarin pagi, diikuti 2.730 prajurit TNI AL yang berbaris dengan latar belakang lima kapal perang RI, yakni KRI Rencong 622, KRI Sultan Iskandar Muda 367, KRI Teluk Mandar 514, KRI Diponegoro 365, dan KRI Keris 624.

Pada barisan tamu undangan tampak para mantan KSAL, yaitu Laksamana (Purn) Soedomo, Laksamana (Purn) Tanto Koeswanto, Laksamana (Purn) Indroko Sastrowiryono, Laksamana (Purn) Arief Koeshariadi, Laksamana (Purn) Widodo AS, Laksamana (Purn) Bernard Kent Sondakh, dan mantan KSAL Tedjo Edhy Purdijatno.

KOMPAS