
13 Mei 2009 -- “Saya tidak tahu ini masuk wilayah Malaysia. Kalau soal batas laut, itu urusan negara Indonesia,”
Pernyataan itu merupakan jawaban Bella, nelayan Desa Tanjung Aru, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, ketika beberapa bulan lalu bertemu petugas polisi perairan Malaysia. Mereka dating ke bagan miliknya saat petugas polisi air atau TNI Angkatan Laut tidak berpatroli di daerah itu.
“Setelah saya jawab, polisi Malaysia itu pergi,” kata Bella.
Nasrun, rekan Bella sesama nelayan, juga mengalami hal yang sama. Namun, polisi Malaysia tidak berani naik karena melihat bendera Merah Putih berkibar di atas bagan. “Mereka hanya memotret-motret bagan saya sebentar,” ujarnya.

Didatangi, dipaksa tidak mencari ikan di wilayah ambang batas laut (Ambalat) di perairan Sulawesi oleh aparat Malaysia tidak hanya satu kali dua kali. Peristiwa itu sudah berkali-kali sehingga menjadi rahasia umum kalangan nelayan Sebatik. Pengalaman yang sama juga terungkap dari beberapa nelayan di Tarakan dan Nunukan.
Bahkan sebelum kapal perang Indonesia (KRI) mengusir aksi maneuver kapal perang Malaysia beberapa pecan lalu, tiga kapal nelayan dari Tarakan dan Nunukan dicegat di perairan Ambalat pada 27 Mei. “Kami dipaksa tanda tangan dan cap jempol di surat pernyataan. Setelah itu disuruh kembali ke Tarakan,” kata Irham, salah seorang juragan kapal itu.
Sempat tidak berani
Kondisi ini pernah membuat sebagian nelayan di utara Kaltim tidak berani mencari ikan di perairan Ambalat. Untuk memastikan masih berada di perairan Indonesia, sekitar 200 bagan di antara perairan Sungai Tawain, Sebatik, dan perairan Ambalat pun dipasangi bendera Merah Putih.
Setelah enam kapal KRI terus berpatroli secara bergantian, dalam sepekan ini perairan Ambalat mulai aman untuk pelayaran. Kondisi itu terasa ketika berada di bagan ikan milik Nasrun, Minggu (7/6) malam.
Bagan Nasrun berada hanya beberapa mil dari rambu suar Karang Unarang di perairan Ambalat. Dari bagan berukuran 9,5 meter x 9,5 meter tersebut Cuma butuh waktu sekitar 30 menit berlayar mencapai suar Karang Unarang. Rambu suar itu dibangun 2005.
Berpatokan rambu suar itulah, beberapa tahun terakhir para nelayan Sebatik berani membuat bagan. Apalagi di rambu suar itu juga dipasangi bendera Merah Putih. Bendera tiga bulan sekali diganti karena robek-robek terkena angin laut.
Bagi kebanyakan orang, malam adalah waktu istirahat di rumah, namun buat Nasrun inilah waktu yang tepat untuk memulai usahanya di tengah laut. Tidak ada rasa takut atau khawatir bagan miliknya, yang ditopang 56 batang pohon nibung, kembali diganggu kapal tentara Malaysia karena kapal KRI terus berpatroli di perairan itu.
Saat ini, menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Sebatik Masjidil, yang mengkhawatirkan nelayan tradisional dan bagan adalah beroperasinya kapal pukat harimau (trawl) nelayan Malaysia.
(Harian Kompas, Sabtu 13 Juni 2009)
No comments:
Post a Comment