Wednesday, November 7, 2012

Wapres Budiono Belanja Militer Indonesia Rendah

Tank AMX-13 didatangkan dari Perancis dalam dua tahap, Proyek Beta I tahun 1978 dan Beta II tahun 1983.  65 unit AMX-13 direncanakan diretrofit. (Foto: Berita HanKam)

7 November 2012, Jakarta: Wakil Presiden Boediono mengungkapkan belanja militer nasional sangat rendah yaitu 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga Indonesia masih tertinggal dibanding dengan negara lain di dunia.

"Indonesia masih belum masuk radar, walau beberapa tahun ini meningkat pesat untuk memenuhi kebutuhan minimal pertahanan kita," kata Wapres di Jakarta, Rabu. Hal tersebut disampaikan Wapres saat membuka "Indo Defence, Indo Aerospace and Indo Marine 2012 Expo and Forum" ke-5, tanggal 7-10 November 2012 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran.

Hadir dalam acara itu antara lain Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro serta sejumlah atase pertahanan dari berbagai negara.

Dikatakan Wapres, angka tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan belanja Amerika Serikat yang mencapai 4,7 persen dari PDB-nya atau bahkan Arab Saudi yang mencapai 10 persen dari PDB-nya.

Industri pertahanan adalah industri berprofil tinggi mengingat perputaran uang di sekitarnya sangat besar, katanya.

Wapres mengutip data belanja militer (military expenditure) 2011 berdasarkan riset "Stockholm International Peace Research Institute" yang sebesar 1.738 miliar dolar AS.

"Ini bahkan 2,5 kali PDB kita, bahkan 10 kali jumlah APBN. Ini jumlah yang sangat besar untuk produk-produk yang jumlahnya sebetulnya tidak banyak," kata Wapres.

Wapres juga mengutip statistik impor alat pertahanan Indonesia yang mencapai peringkat 15 dari negara-negara lain di dunia.

"Ini artinya kita masih punya banyak peluang untuk menempatkan produk-produk dalam negeri dan memaksimalkan industri pertahanan kita," katanya.

Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Indo Defence 2012 ini akan menjadi ajang untuk mempromosikan produk-produk pertahanan dalam negeri, selain menjalin hubungan dagang dengan jaringan industri pertahanan global.

Sesuai dengan tema yang diusung tahun ini, "Empowering Indonesia`s Industry for Defence Modernization, tahun 2012 adalah kebangkitan industri pertahanan nasional seiring dengan terbitnya UU Industri Pertahanan Nasional.

Rencana Modernisasi Alutsista TNI

Tahap pertama modernisasi Alutsista dengan anggaran Rp 150 triliun:

1. Pembelian 16 pesawat COIN EMB-314 Super Tucano dari Embraer, Brasil,
2. Pembelian 54 tank amphibi BMP-3F (17 unit telah dioperasikan Korps Marinir) dari Rusia,
3. Hibah dan upgrade 24 F-16 Block 25 dari Amerika Serikat,
4. Pembelian 5 helikopter serang Mi-35 dari Rusia,
5. Pembelian 12 helikopter angkut Mi-17 dari Rusia,
6. Pembelian 16 pesawat latih/serang ringan T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan,
7. Pembelian 6 pesawat tempur Su-30MK2 dari Rusia,
8. Pembelian 1 skuadron pesawat nirawak kandidat Searcher II dari Israel,
9. Pembelian 3 kapal selam kelas U-209 dengan sistem persenjataan kelas U-214 dari DSME Korea Selatan dan PT. PAL,
10. Pembelian 9 pesawat angkut CN-295 dari Airbus Military dan PT DI,
11. Pembelian 3 pesawat intai maritim CN-235MPA dari PT DI,
12. Pembelian helikopter anti-kapal selam kandidat Sea Sprite yang bekas tolakan Australia,
13. Retrofit 65 tank ringan AMX-13,
14. Pembelian 100 unit panser Anoa,
15. Up-grade beberapa unit pesawat angkut C-130 Hercules,
16. Pembelian Main Battle Tank Leopard,
17. Pembelian 4 korvet Sigma dari Belanda,
18. Pembelian 4 LPD Kelas Makassar dari Korea Selatan dan PT PAL,
19. Pembelian Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 kelas Clurit dari PT Palindo Marine,
20. Pembelian Kapal Trimaran dari PT Lundin,
21. Alih teknologi rudal C-705 dari China,
22. Pembelian rudal-rudal untuk pesawat tempur Sukhoi,
23. Pembelian rudal-rudal untuk pesawat tempur F-16,
24. Pembelian MLRS, dipilih ASTROS dari AVIBRAS, Brasil,
25. Pembelian 8 helikopter serang Apache dari Amerika Serikat.

Tahap kedua modernisasi Alutsista:
1. Pergantian pesawat tempur F-5 E/F kandidat Su-35BM dari Rusia, Rafale dari Perancis atau Griffin dari Swedia,
2. Proyek Perusak Kawal Rudal (PKR),
3. Rudal Permukaan-ke-Permukaan,
4. Pesawat peringatan dini,
5. Pesawat anti-kapal selam dengan kandidat CN-295 ASW.

Tahap ketiga modernisasi Alutsista:
1. Pergantian pesawat tempur F-16 dengan KFX/IFX,
2. Pergantian pesawat tempur Su-27/30 dengan kandidat Sukhoi PAKFA.

Sumber: ANTARA News/Majalah Wira
@Berita HanKam

3 comments:

  1. gaji DPR ae d potong pak wapres....
    gak ada gunanya DPR gajinya banyak kalo kerjanya cuma molor n ongkang2 d senayan....
    kalo d survei rakyat lebih ikhlas duitnya buat beli TANK daripada buat Gaji Aggota DPR....

    ReplyDelete
  2. setuju bro,.klo belikan TNI lebih banyak helikopter,kapal transport / kapal perang,radar,or else..kesemua peralatan itu pasti bisa digunakan baik itu dalam kondisi perang maupun bencana alam otomatis juga buat rakyat indonesia.

    ReplyDelete
  3. wew, Su-27/30 bakal diganti SU-T50 PAK FA??? padahal jangan......

    ReplyDelete