Wednesday, September 8, 2010

Presiden Lula Putuskan Pemenang Tender Jet Tempur Sebelum Lengser

Jet tempur Rafale. (Foto: AP)

08 September 2010 -- Presiden Brasilia Luiz Inacio Lula da Silva akan memutuskan pemenang tender milyaran dolar untuk pembelian jet tempur, setelah pemilu bulan Oktober, tetapi sebelum beliau meninggalkan istana pada 1 Januari, diungkapkan Menteri Pertahanan Brasilia Nelson Jobim, Selasa (7/9), setelah menghadiri perayaan HUT Kemerdekaan Brasilia, kutip kantor berita Agencia Brasil.

Brasilia membuka tender membeli 36 jet tempur baru, peserta tender Dassault Perancis Rafale, Saab Swedia Gripen NG dan Boeing Amerika Serikat F/A-18 Super Hornet.

Kesepakatan pembelian diperkirakan antara empat dan tujuh milyar dolar, tergantung jenis persenjataan, perawatan dan keterlibatan industri pertahanan Brasilia. Brasilia dapat membeli hingga 100 jet tempur dalam jangka panjang.

Lula cenderung memilih jet tempur buatan Perancis Rafale.

Perancis berharap pembelian Rafale oleh Brasilia terwujud, hingga saat ini hanya Perancis pengguna Rafale.

AFP/Berita HanKam

Ganyang Malaysia?

Anggota Laskar Merah Putih memberi cap jempol darah sebagai simbol dukungan untuk NKRI saat aksi menentang Malaysia di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/9). Mereka menuntut kepada Pemerintah RI untuk tetap melindungi dan menjaga kedaulatan NKRI. (Foto: ANTARA/Fanny Octavianus/ama/10)

08 September 2010 -- Unjuk rasa menentang Malaysia mengenai masalah perbatasan masih terus saja bermunculan di banyak tempat. Para pengunjuk rasa umumnya terdiri dari generasi muda.

Pola unjuk rasa mereka umumnya membakar bendera Malaysia sembari menuntut agar Pemerintah Indonesia bersikap lebih ”tegas” karena menganggap bahwa harga diri dan kedaulatan bangsa telah diinjak oleh negeri jiran tersebut.

Cukup banyak yang bahkan menuntut agar kita kembali ”mengganyang” Malaysia seperti pada tahun 1960-an, malah kalau perlu berperang. Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang zaman konfrontasi itu?

Istilah ”konfrontasi” dipopulerkan Menteri Luar Negeri Soebandrio pada 20 Januari 1963. Sikap bermusuhan terhadap Malaysia kemudian dipertegas oleh Presiden Soekarno lewat diumumkannya perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1963.

Isinya, selain perintah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia, seluruh rakyat juga diperintahkan membantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia. Indonesia menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang didalangi Inggris sebagai upaya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) membentuk sebuah negara boneka.

Adapun istilah ”Ganyang Malaysia” dilahirkan Bung Karno. Presiden pertama RI itu sangat gusar ketika dalam demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963 para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek- robek foto Soekarno, dan membawa lambang Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Insiden itu membuat Bung Karno murka. Ia pun berpidato:

”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”

”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

”Yoo... ayooo... kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satoe- satoe!”

Rencana nekolim

Dibakar oleh pidato Bung Karno melalui radio itu (waktu itu radio merupakan media utama informasi), gerakan Ganyang Malaysia pun meledak ke seluruh negeri. Pendaftaran sukarelawan terjadi di mana-mana. Semangat bangsa saat itu memang sedang melambung setelah keberhasilan kita membebaskan Irian Barat pada tahun 1962.

Waktu itu, secara militer Indonesia merupakan negara terkuat di Asia Tenggara, terutama berkat persenjataan yang dibeli dari Uni Soviet. Semangat antinekolim juga sangat tinggi. Inggris pada tahun 1960-an itu masih merupakan kekuatan global.

Sebenarnya, Indonesia (dan Filipina) secara resmi setuju menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas rakyat di daerah yang akan dilakukan dekolonisasi menyetujui lewat referendum yang diorganisasi PBB. Namun, sebelum hasil referendum diumumkan, pembentukan Malaysia sudah diresmikan pada 16 September 1963, sesuatu yang dianggap Indonesia sebagai bukti rencana nekolim untuk terus mengangkangi Asia Tenggara.

Dari segi militer konfrontasi Indonesia-Malaysia, umum disebut sebagai undeclared war karena perang terjadi tanpa pernah didahului pernyataan perang. Inggris dan sekutunya (Malaysia, Australia, dan Selandia Baru) waktu itu memiliki sekitar 17.000 anggota pasukan di Kalimantan serta 10.000 anggota pasukan yang ada di Semenanjung Melayu.

Pertempuran kecil-kecilan (skirmishes) tentara Indonesia dengan Inggris terutama terjadi di perbatasan Kalimantan. Ada juga penyusupan tentara Indonesia di Semenanjung Malaysia.

Konfrontasi berakhir setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Presiden Soeharto. Jumlah korban tewas di kedua belah pihak lebih besar berada di pihak Indonesia (sekitar 590 orang dibandingkan dengan Inggris, Australia, Selandia Baru yang hanya 114 jiwa).

Dalam rangkaian konfrontasi ini, sebuah insiden pernah terjadi antara Indonesia dan Singapura tatkala Singapura tetap menggantung dua prajurit marinir Indonesia yang tertangkap waktu menyusup ke Singapura meski Presiden Soeharto sudah mengirim utusan khusus agar hukuman itu diperingan.

Insiden itu lama terekam dalam ingatan kolektif bangsa, antara lain lewat syair yang dinyanyikan dalam permainan kim (main tebak angka berhadiah ala Minang yang kemudian dilarang karena dianggap judi). Bunyinya ”Lee Kuan Yew sangat kejam, membunuh dua pahlawan, nama Harun dan Usman”.

Semua peserta tebak-tebakan pun langsung mafhum, angka yang keluar adalah 68, yakni tahun terjadinya penggantungan itu.

Kini kedua pemerintah, Indonesia dan Malaysia, sepakat menyelesaikan insiden perbatasan melalui jalur diplomasi (soft power). Pemakaian kekerasan atau hard power dianggap tidak akan dapat memecahkan masalah.

Namun, perlu diingat, dalam penyelesaian suatu sengketa perbatasan, hard power sering diperlukan sebagai back-up dari diplomasi. Sengketa Irian Barat (Papua) dengan Belanda juga bisa dimenangkan dengan perpaduan kedua hal itu.

Publik mestinya masih ingat, sewaktu penyelesaian kasus sengketa Sipadan-Ligitan dengan Malaysia pada 2002, melalui Mahkamah Internasional pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat bahwa kans kita menang fifty-fifty karena kita mempunyai bukti-bukti yang sahih tentang kepemilikan dua pulau tersebut.

Ternyata hasilnya jeblok. Kita kalah karena hanya satu hakim yang memenangkan dalih-dalih kita dan 16 lainnya menolak. (Susanto Pudjomartono, Wartawan Senior)

KOMPAS.com

Menhan : Untuk Menangani Konflik Atau Insiden di Perbatasan Solusinya Bisa Bermacam-Macam

(Foto: Dispenau)

06 September 2010, Jakarta -- Meski permasalahan perbatasan wilayah NKRI dengan beberapa Negara tetangga cukup kompleks dan kerap timbul adanya suatu Konflik, namun penanganan konflik ataupun insiden di perbatasan itu sendiri solusinya dapat bermacam-macam.

“Suatu saat jika ada insiden terjadi dengan Negara tetangga, pada dasarnya kita memiliki segmen-segmen beberapa peraturan yang dapat dilaksanakan. Apakah melalui jalan diplomasi, mengirimkan nota protes ataupun kita melakukan langkah-langkah lain. Untuk itu dalam penanganan dalam menyikapi pelanggaran kedaulatan di perbatasan, solusinya bisa bermacam-macam,” Ungkap Menhan RI

Demikian diungkapkan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro pada kesempatan acara Dialog Aktivis Muda Indonesia yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Gokar (AMPG), Minggu (5/9) di Jakarta.

Lebih lanjut Menhan menjelaskan, terkadang didalam proses pelanggaran kedaulatan di daerah perbatasan yang dilakukan pihak tetangga bisa dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja. Untuk itu harus dilihat dan diteliti kembali bagaimana kualitas dan kuantitas dari setiap bentuk peristiwa yang terjadi didaerah perbatasan.

“Kalau terjadi sesuatu diperbatasan kita juga harus melihat kadar dan eskalasinya seperti apa, dan seberapa besar komponen yang ingin menggangu dan melewati kedaulatan kita hingga memiliki dampak langsung terhadap negara dan bangsa,” jelas Menhan.

Menurut Menhan, dari sektor Pertahanan sudah memiliki aturan-aturan yang tersendiri, terlebih lagi personel yang ada dilapangan juga sudah mempunyai Rule Engagement dalam hal menjaga kedaulatan wilayah negara dan mengelola daerah perbatasan.

“Kalau kita berbicara TNI kita punya pengalaman banyak, contohnya kalau ada pelanggaran di wilayah udara kita, kita langsung intercept dengan pesawat tempur kita, atau kita juga peringatkan terlebih dahulu, “ tutur Menhan.

Pada kesempatan acara tersebut Menhan juga mengharapkan kepada generasi muda dari bangsa yang arif, dalam menyikapi perkembangan era global pada saat ini agar mengesampingkan kondisi emosi dan lebih memahami langkah-langkah yang harus diambil dalam menangani permasalahannya yang ada.

Acara dialog aktivis Muda Indonesia yang berlangsung selama 1 hari tersebut menghadirkan beberapa pembicara dari kalangan pemerintah serta beberapa kalangan pakar dan pengamat, seperti, Wakil Menteri Luar Negeri, Triono Wibowo dan pengamat politik Universitas Paramadina, Yudi Latife dan pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana. Beberapa peserta yang hadir dari beberapa lembaga kemasyarakatan kita mahasiswa dari beberapa universitas di Indonesia turut menyaksikan sesi diskusi tersebut yang dipandu oleh Tantowi Yahya.

DMC

Dua Kapal Perang Berjaga di Laut Anambas

Korvet kelas Parchim KRI Cut Nyak Dhien-375. (Foto: Dispenal)

08 September 2010, Anambas -- Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Tarempa, Letkol Laut (P) Azwan Yusuf mengatakan, saat ini ada dua kapal perang milik RI yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan perairan Anambas. Penempatan dua kapal perang ini menyusul krisis hubungan RI-Malaysia yang mencuat belakangan ini.

"Pusat mengirimkan dua kapal perang jenis Parchim Class, untuk berjaga di wilayah perairan kita (Anambas)," kata Letkol Laut (P) Azwan Yusuf, usai menghadiri sidang paripurna DPRD Anambas, Selasa (7/9).

Azwan menjelaskan, sejauh ini belum ada perintah khusus untuk jajaran TNI AL, terkait memanasnya hubungan Indonesia dan Malaysia. Yang jelas, kata dia, jajaran TNI AL akan selalu siap menjaga kedaulatan NKRI dari serangan bangsa manapun.

Lebih lanjut Azwan menegaskan, sejauh ini belum pernah terjadi konfrontasi antara TNI dan tentara Malaysia, khususnya di wilayah perbatasan Anambas. Para prajurit yang saat ini bertugas di dua kapal perang itu, kata Azwan, juga belum pernah menyaksikan adanya manuver-manuver dari jajaran tentara angkatan laut negeri jiran itu.

"Mungkin karena kita berdekatan dengan Ibukota Kuantan. Dan di kota itu kekuatan angkatan lautnya kecil," kata Azwan.

Selain untuk berjaga-jaga di wilayah perbatasan, kehadiran dua kapal perang ini merupakan bagian dari patroli rutin yang digelar oleh jajaran TNI AL, untuk mengamankan wilayah alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) dan kawasan perbatasan. Azwan belum memastikan, kapan kedua kapal perang ini akan ditarik dari perairan Anambas.

Dalam kesempatan tersebut, Azwan menghimbau supaya masyarakat Anambas tidak mudah terprovokasi, terkait isu memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia. Terutama misalnya dengan melakukan aksi-aksi yang cenderung destruktif dan menimbulkan suasana tidak aman.

JPNN

Northrop Grumman Distributed Aperture System (DAS) for F-35 Demonstrates Ballistic Missile Defense Capabilities


07 September 2010, BALTIMORE -- Northrop Grumman Corporation's (NYSE:NOC) AN/AAQ-37 Electro-Optical Distributed Aperture System (DAS) for the F-35 Lightning II Joint Strike Fighter successfully detected and tracked a two-stage rocket launch at a distance exceeding 800 miles during a routine flight test conducted aboard the company's BAC 1-11 test bed aircraft.

"The DAS could fill critical capability gaps in the area of ballistic missile defense (BMD)," said Dave Bouchard, program director for F-35 sensors at Northrop Grumman. "We have only scratched the surface on the number of functions the F-35's DAS is capable of providing. With DAS, we've combined instantaneous 360-degree spherical coverage, high frame refresh rates, high resolution, high sensitivity powerful processors and advanced algorithms into a single system. The number of possibilities is endless."

An operational DAS system is comprised of multiple DAS sensors whose images are fused together to create one seamless picture. DAS successfully detected and tracked the rocket during a nine minute, two-stage, flight period from horizon break until final burnout through multiple sensor fields of regard. Unlike other sensors, DAS picks up targets without assistance from an external cue. Because DAS is passive, an operator does not have to point the sensor in the direction of a target to gain a track.

"The DAS software architecture already includes missile detection and tracking algorithms that can be applied to the BMD mission," Bouchard added. "The results of the flight test were extraordinary. We found that the data gathered during this flight validated our performance predictions. In fact, we knew we could have seen the rocket at a longer distance."

The AN/AAQ-37 DAS is a high resolution omni-directional infrared sensor system that provides advanced spherical situational awareness capability, including missile and aircraft detection, track and warning capabilities for the F-35 Joint Strike Fighter. DAS also gives a pilot 360 degree spherical day/night vision, with the capability of seeing through the floor of the aircraft. Northrop Grumman is now exploring how the existing DAS technology could assist in several additional mission areas, including Ballistic Missile Defense and irregular warfare operations.

Northrop Grumman's Electronic Systems sector designed and produces the F-35 Joint Strike Fighter AN/AAQ-37 DAS. The DAS F-35 software that includes algorithms for all JSF functions was delivered to Lockheed Martin Corporation earlier this year. Northrop Grumman also designed and produced the AN/APG-81 AESA radar system, and designed and produces the F-35's Communications, Navigation and Identification (CNI) system.

Northrop Grumman Corporation is a leading global security company whose120,000 employees provide innovative systems, products, and solutions in aerospace, electronics, information systems, shipbuilding and technical services to government and commercial customers worldwide. Please visit www.northropgrumman.com for more information.

Northrop Grumman Corporation

TNI AU: Keterlambatan Sukhoi Karena Pesawat Pengangkut Rusak

Sukhoi Su-27MK. (Foto: Dispenau)

07 September 2010, Jakarta -- Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Bambang Samoedro telah memastikan, keterlambatan dua unit pesawat jet tempur Sukhoi yang dijadwalkan tiba di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (7/9) pagi adalah akibat masalah teknis pesawat pengangkutnya.

"Sukhoi pesanan kita tidak ada masalah. Barangnya sudah ada, sudah selesai dirakit," kata Bambang ketika dihubungi Tempo. Bambang mengaku sudah memastikan langsung ke pabrik Sukhoi di Rusia.

Pengiriman dua unit Sukhoi jenis SU 27 SKM tersebut diundur menjadi 9 September mendatang. Sedangkan satu unit Sukhoi lagi yang dijadwalkan tiba 15 September juga diundur menjadi 16 September.

Ketiga Sukhoi tersebut akan melengkapi tujuh unit yang sudah ada di Lanud Sultan Hasanuddin saat ini. Penyerahannya dari Menteri Pertahanan kepada Panglima TNI dan TNI AU direncanakan dilakukan di Makassar, 27 September mendatang.

Sejak tahun 2003, Indonesia memesan sepuluh unit pesawat jet tempur Sukhoi dari Rusia. Bambang mengaku tidak tahu persis anggaran pembelian kesepuluh Sukhoi tersebut, sebab menurutnya, hal itu merupakan wewenang Kementerian Pertahanan.

Sayangnya, Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen I Wayan Midho ketika dihubungi mengaku tidak ingat nominalnya. "Masuknya ke anggaran tahun 2008-2009," ujarnya.

TEMPO Interaktif

Trinidad & Tobago Ship Successfully Completes Sea Trials

Scarborough (CG51). (Photo: shipspotting.com)

07 September 2010 -- Glasgow, United Kingdom: Scarborough, the second of three Offshore Patrol Vessels built by BAE Systems for the Trinidad & Tobago Coast Guard, has successfully completed sea trials off the west coast of Scotland and is on track to be delivered in October.

Named after Tobago's capital, Scarborough embarked on an extensive programme of trials in July, with a combined BAE Systems and Trinidad & Tobago Coast Guard crew on board, ready to put the ship through her paces.

Scott Jamieson, International Programmes Director at BAE Systems' Surface Ships division, said: "Scarborough exceeded her contracted 25 knot speed during sea trials and outperformed manoeuvrability requirements set out by the Government of the Republic of Trinidad & Tobago. This outstanding capability will undoubtedly be a valuable asset to the Trinidad & Tobago Coast Guard, helping to support its ongoing battle to beat the drugs trade in the region."


During sea trials, the Scarborough achieved a speed of 25. 38 knots and completed turning circles in 3. 5 ship lengths and a stopping distance of 3. 7 ship lengths. In addition, the crew tested the ship's main platform systems, power and propulsion, and components of the combat system, including the guns and the main surveillance radar, which is vital in the fight against the drugs trade.

Scarborough is part of a contract to build three 90m Offshore Patrol Vessels for the Trinidad & Tobago Coast Guard which will be used for a range of Economic Exclusion Zone management tasks, from disaster relief operations to tackling drug runners. Under the agreement, the UK Ministry of Defence is providing technical advice, quality assurance and operational sea training for the 60 man crews.

BAE Systems will also provide maintenance and in-service support to the ships for the next five years. This follows the work the Company's engineers have been undertaking for the past three years to the support the two interim vessels that BAE Systems provided to the Trinidad & Tobago Coast Guard in 2007.

The design of these highly versatile offshore patrol vessels is based on the proven River Class ships in service with the Royal Navy. Their ability to accommodate a diversity of roles makes them an attractive option to Trinidad & Tobago Coast Guard as well as navies around the world. BAE Systems is already working with Bangkok Dock in Thailand, which is using the same core platform design to build a similar vessel for the Royal Thai Navy.

About BAE Systems

BAE Systems is a global defence, security and aerospace company with approximately 107,000 employees worldwide. The Company delivers a full range of products and services for air, land and naval forces, as well as advanced electronics, security, information technology solutions and customer support services. In 2009 BAE Systems reported sales of £22. 4 billion (US$ 36. 2 billion).

BAE Systems

S-70iTM BLACK HAWK Helicopter Debuts at MSPO Exhibition Program Continues on Schedule with Launch into Global Market

PZL Mielec plant workers stand beside the first Black Hawk S-70i helicopter ever produced outside the U.S. , in Mielec, March 11, 2010. PZL Mielec was acquired by Sikorsky Aircraft Corp, an arm of United Technologies, in 2007 and the first Black Hawk S-70i, an international variant of the Black Hawk helicopter, was officially presented on March 15, 2010. Picture taken March 11, 2010. (Foto: Reuters)

07 September 2010, KIELCE, Poland -- The S-70i™ BLACK HAWK helicopter, the international variant of the BLACK HAWK helicopter, is on public display for the first time. Built at PZL Mielec, Sikorsky Aircraft’s company in Poland, the aircraft will be on static display at the MSPO exhibition through Sept. 9. Sikorsky Aircraft is a subsidiary of United Technologies Corp. (NYSE:UTX).

The display aircraft is the second to be produced at PZL Mielec. The first S-70i BLACK HAWK helicopter built at PZL Mielec is nearing completion of flight testing in the U.S. A production flight hangar at PZL Mielec is expected to be ready for flight test operations by the end of 2010.

“This begins a new chapter for the S-70i BLACK HAWK helicopter being offered on the international market,” said Debra A. Zampano, S-70i Program Manager, International Military Programs. “From its inception, the
S-70i helicopter program has moved forward smoothly, consistently achieving all of its key milestones. This is a global product for a global marketplace, and we are pleased that the public is able to view this new S-70i BLACK HAWK helicopter at the MSPO.”

Production flight tests will be conducted at the flight hangar at PZL Mielec beginning with the second aircraft.

Since its initial flight at the Sikorsky Development Flight Center in West Palm Beach, Florida, USA, the first S-70i BLACK HAWK helicopter has flown approximately 38 hours in test flight. It is expected to complete production flight testing in the fourth quarter.

“In test flight, the S-70i helicopter is light and has been flying remarkably fast,” said Chief Test Pilot Rick Becker. “It has been performing very well. It’s just a joy to fly.”

Delivery of the first S-70i BLACK HAWK aircraft to the S-70i helicopter program launch customer is scheduled for early 2011.

“The S-70i BLACK HAWK helicopter will support the global demand for the advanced technology available in this aircraft,” said Janusz Zakrecki, President of PZL Mielec. “Built in Poland, this aircraft exemplifies Polish craftsmanship and American technology, but more importantly, it is ready for the missions to come.”

The S-70i BLACK HAWK helicopter is the first BLACK HAWK aircraft designed specifically for international customers, and utilizes a global supply chain. It is the first BLACK HAWK helicopter to be assembled in Europe as well as the first helicopter to be produced by PZL Mielec in Poland.

The S-70i BLACK HAWK helicopter incorporates the latest technology with advanced features such as a fully integrated digital cockpit with a dual digital automatic flight control system and coupled flight director. It also features an active vibration control system that will smooth the overall ride of the aircraft. The dual GPS/INS system with digital map provides accurate and redundant navigation for the most demanding of tactical environments. Customers around the world will benefit from the aircraft’s modern, robust aircraft configuration and ability to leverage existing interoperability with Sikorsky’s worldwide fleet of BLACK HAWK helicopters.

Plans call for at least 20 S-70i BLACK HAWK helicopters to be produced per year, beginning in 2012.

Sikorsky Aircraft Corp., based in Stratford, Conn., USA, is a world leader in helicopter design, manufacture and service. United Technologies Corp., based in Hartford, Conn., USA, provides a broad range of high technology products and support services to the aerospace and building systems industries.

This press release contains forward-looking statements concerning potential production and sale of helicopters. Actual results may differ materially from those projected as a result of certain risks and uncertainties, including but not limited to changes in government procurement priorities and practices, budget plans or availability of funding or in the number of aircraft to be built; challenges in the design, development, production and support of advanced technologies; as well as other risks and uncertainties, including but not limited to those detailed from time to time in United Technologies Corporation’s Securities and Exchange Commission filings.

Sikorsky Aircraft Corp

Batas Maritim Indonesia-Timor Leste Belum Dibicarakan

(Foto: clubsuzukikupang.blogspot)

07 September 2010, Kupang -- Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang, NTT Laksamana Pertama Amri Husaini mengatakanmasalah batas maritim antara Indonesia dengan Timor Leste belum dibicarakan oleh kedua negara karena masih menunggu penyelesain batas darat.

"Batas laut dengan Timtim sampai sekarang belum karena masih menunggu selesainya pembicaraan mengenai masalah batas darat," kata Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang, NTT Laksamana Pertama Amri Husaini di Kupang, Selasa.

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan masalah tapal batas laut antara Indonesia-Australia dan Timor Leste karena sampai sejauh ini pemerintah pusat belum mengembil sebuah sikap tegas untuk melakukan perundingan dengan dua negara yang berbatasan itu soal penetapan batas maritim secara permanen.

Menurut dia, walaupun belum ada penetapan batas maritim secara permanen tetapi sama sekali tidak menyulitkan atau menggangu TNI AL dalam menjaga keamanan di wilayah perairan yang berbatasan dengan dua negara itu.

Mengenai batas maritim dengan Australia, dia mengatakan konsekwensi dari lepasnya Timor Timur dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah batas-batas harus dibicarakan kembali.

"Kalau dengan Australia sementara ini tidak ada masalah kecuali dengan lepasnya Timtim karena konsekwensinya batas harus dibicarakan kembali.

Jadi kalau soal batas laut, kita masih tetap menunggu penyelesain batas darat," katanya.

Dia menambahkan untuk wilayah perbatasan maritim antara Indonesia- Australia tidak terlalu rawan karena hubungan baik antara Lantamal VII Kupang dengan angkatan laut Australia dalam menangani berbagai persoalan.

Hubungan baik itu selalu dibina dengan memberi kesempatan kepada kedua angkatan untuk melakukan latihan dan patroli bersama di wilayah perbatasan kedua negara, katanya.

"Bulan April lalu kami melakukan patroli bersama dengan angkatan laut Australia dan Mei kami melakukan latihan bersama. Ini untuk meningkatkan hubungan baik kedua negara," katanya.

Dia juga berharap agar gejolak perbatasan laut antara Indonesia-Malaysia tidak terjadi di daerah perbatasan dengan Australia maupun Timor Leste.

ANTARA News

RI Berhak Tegas

Anggota Laskar Merah Putih berunjuk rasa menentang Malaysia di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/9). Mereka menuntut kepada Pemerintah RI untuk tetap melindungi dan menjaga kedaulatan NKRI. (Foto: ANTARA/Fanny Octavianus/ama/10)

08 September 2010 -- Dalam sengketa perbatasan wilayah dengan Malaysia, Indonesia tidak selayaknya bersikap lembek. Karena kuncinya ada dalam Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS, yang justru merupakan hasil perjuangan para diplomat kawakan kita pada masa lalu.

Mengherankan bila dalam ingar-bingar masalah penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan dan sengketa perbatasan RI-Malaysia tidak cukup terdengar suara keras dari jajaran Pemerintah Indonesia mengenai konvensi yang dihasilkan para diplomat Indonesia dengan susah payah.

Salah satu pokok persoalan terkait sengketa perbatasan laut itu adalah keengganan Malaysia memperbaiki kembali peta wilayah tahun 1979-nya dengan ketentuan UNCLOS 1982. Padahal, Malaysia juga meratifikasi kesepakatan hukum laut internasional (UNCLOS) itu. Dengan demikian, dari sisi ini saja, Indonesia berada di ”atas angin” dan sudah seharusnya menekan Malaysia segera menyesuaikan diri dengan ketentuan hukum laut PBB itu.

Peta Malaysia bermasalah

Perlu diingat kembali, ketika Malaysia mengumumkan peta wilayahnya pada tahun 1979, negara-negara tetangga Malaysia, termasuk Indonesia, langsung memprotes peta wilayah itu yang seenaknya saja mencaplok wilayah negara-negara mereka.

Menurut kebiasaan hukum internasional, sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Perjanjian Internasional, Keamanan, dan Kewilayahan Kementerian Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno, jika klaim atas sebuah wilayah oleh sebuah negara tidak mendapatkan protes dari negara lain, setelah dua tahun klaim itu dinyatakan sah.

Dalam kasus peta Malaysia 1979, Indonesia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan beberapa negara lainnya langsung memprotes. Dengan demikian, peta Malaysia 1979 tidak punya kekuatan secara internasional.

Oleh karena itulah, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tunduk apalagi mengakui peta Malaysia yang bermasalah itu.

Sebaliknya, setelah berlakunya UNCLOS, Indonesia segera menyesuaikan peta wilayah sesuai ketentuan hukum laut internasional. Sebagaimana negara kepulauan, menurut UNCLOS, Indonesia mendapatkan sejumlah keistimewaan untuk menarik garis batas wilayahnya sehingga wilayah negara kepulauan berada dalam satu kesatuan.

Sebagai negara kepulauan, menurut UNCLOS, Indonesia berhak menarik garis di pulau-pulau terluar sebagai patokan untuk garis batas wilayah kedaulatannya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 47 UNCLOS. Hal yang sama tidak berlaku untuk Malaysia, yang tidak termasuk kategori negara kepulauan, tetapi berusaha menempatkan diri sebagai negara kepulauan sehingga bisa menggunakan keistimewaan sebagai negara kepulauan itu. (Rakaryan Sukarjaputra)

KOMPAS

Presiden Perkuat Maritim


07 September 2010, Jakarta -- Penunjukan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono dinilai upaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperkuat pertahanan di wilayah maritim.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lukman Hakim Saifuddin menilai langkah Presiden sesuai dengan kondisi saat ini, yaitu masih lemahnya pengawasan kawasan maritim. “Saya pikir ini bagus, setidaknya momentumnya pas kalau panglimanya dari Angkatan Laut,”kata Lukman di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Penunjukan Agus merupakan simbol Pemerintah SBY ingin mengangkat dan menunjukkan bahwa pemerintah memiliki perhatian serius untuk membenahi pertahanan dan keamanan. Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu setuju dengan pemilihan Agus sebagai panglima TNI.

“Semoga membawa harapan yang lebih baik,”katanya. Isu lemahnya pertahanan kawasan perairan mencuat menyusul menghangatnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia, terutama setelah insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Wakil Ketua DPR Pramono Anung memprediksi pengajuan KSAL Laksamana TNI Agus Suhartono bakal mulus menuju jabatan tertinggi sebagai panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso. ”Presiden pasti memilih yang terbaik yang saat ini dimiliki TNI AL.Karenaitu,kamiharapnanti tidak ada voting. Apalagi ini menyangkut lembaga yang ada embelembelnya Indonesia,”kata Pramono Anung di Jakarta kemarin.

Pramono juga mengapresiasi Presiden SBY yang hanya mengusulkan satu nama ke DPR.Dipilihnya Agus, yang merupakan KSAL, juga dilihat positif karena setidaknya terjadi rotasi dalam kepemimpinan TNI. Meski tidak diatur harus ada giliran berdasarkan matra, tetapi pola itu sudah berjalan sejak dipilihnya Widodo AS (AL) pada zaman pemerintahan Abdurrahman Wahid. “Ini hal baik di dalam tubuh TNI sendiri,ada giliran,”ujarnya. Partai oposisi lainnya, Partai Gerindra, pun tampaknya tidak akan menolak pencalonan Agus.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra yang juga anggota Komisi 1 DPR, Ahmad Muzani, mengatakan bahwa jabatan panglima TNI bukan arisan yang harus digilir oleh setiap angkatan.Tetapi Gerindra menghargai bahwa penunjukan Agus oleh Presiden SBY sudah melalui pertimbangan matang. “Presiden pasti punya pertimbangan dalam memilih calon panglima TNI. Nama yang diusulkan pasti memiliki kompetensi,terutama dalam mengatur kemampuan personel dan angkatan perang,” ungkapnya. Sikap Partai Hanura juga setali tiga uang dengan PDIP dan Gerindra.

Wakil Ketua Fraksi Partai Hanura Syarifuddin Sudding mengatakan bahwa diusulkannya nama Agus diharapkan bisa mengangkat martabat bangsa sebagai negara maritim. “Dengan pertimbangan itu, saya melihat pengajuan nama Agus bukanlah untuk giliran, tapi lebih pada upaya penguatan maritim,” ungkapnya. Wakil Ketua Komisi 1 DPR Tubagus Hasanuddin menjelaskan, panglima TNI memiliki pekerjaan rumah untuk membuat program dalam pembangunan Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum TNI . Melalui program ini,TNI diharapkan memiliki pasukan dan alat utama sistem persenjataan yang memiliki efek daya penggentar.

Periode kepemimpinan panglima TNI yang baru ini, lanjut Hasanuddin, sangat penting untuk menentukan perjalanan pembangunan MEF yang akan berjalan dimulai tahun 2010 sampai 2024. “Jalannya rencana strategis pembangunan MEF kuncinya berada pada tahun-tahun pertama implementasinya di bawah kendali panglima TNI yang baru,”ujarnya. Berikutnya pembenahan kedisiplinan prajurit TNI juga menjadi agenda penting yang dihadapi panglima TNI yang baru.

Dia melihat belakangan kembali marak tindakan indispiliner yang dilakukan prajurit TNI. Seperti terlibat pertikaian dengan anggota Polri.

SINDO

Tuesday, September 7, 2010

India Akan Buat Rudal Hipersonik

Model rudal BrahMos diluncurkan dari darat, dipamerkan oleh BrahMos saat Naval Defence 2010 di Surabaya. (Foto: Berita HanKam)

07 September 2010 -- India berencana mengembangkan rudal jelajah hipersonik berkecepatan maksimal 6000 km per-jam guna meningkatkan kemampuan serangan udara, diberitakan harian India the Times of India, Senin (6/9).

Rudal hipersonik akan dikembangkan berdasarkan rudal supersonik BrahMos, Rusia telah menawarkan bantuan teknis, diberitakan the Times of India, mengutip pernyataan pejabat Kementrian Pertahanan India.

Kesepakatan antara India dan Rusia akan diteken saat kunjungan Presiden Rusia Dmitry Medvedev ke India Desember, tambah pejabat tersebut.

Rudal jelajah supersonik BrahMos mampu mencapai kecepatan 3 March, setengah dari versi hipersonik. Rudal hipersonik akan lebih bertenaga saat penetrasi ke sasaran dibandingkan rudal supersonik.

Rudal supersonik dirancang mempunyai jarak jelajah sekitar 300 km, diharapkan siap dioperasikan 2016, akan dipasang di kapal perusak siluman buatan India.

Saat ini hanya sedikit negara di dunia yang mengembangkan rudal hipersonik, seperti Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat telah menguji coba rudal hipersonik yang ditembakan dari pembom B-52 di Samudera Pasifik pada 26 Mei 2010. Rudal mampu mencapai kecepatan 6 March tetapi hanya mampu terbang kurang dari 200 detik.

Xinhua/Berita HanKam

SAF Strengthens Combat Fitness Training

07 September 2010 -- The Singapore Armed Forces (SAF) rolled out changes to its combat fitness training system on 1 Sep to meet an increasingly complex and urbanised operational environment, announced Chief of Army Major-General (MG) Chan Chun Sing on 7 Sep at Seletar Camp.

He said: "To better prepare our soldiers to meet evolving operational demands, the SAF has strengthened its combat fitness training system, leveraging advances in fitness training science."

The changes come in the form of modifications to the existing exercise regime, as well as a redesign of its Standard Obstacle Course (SOC). All SOC grounds will be updated by June 2011.

The first prong of the new system - termed Vocation Related Exercises (VREs) - aims to strengthen specific muscle groups that in-service personnel will use to carry out combat tasks specific to their vocations.

Elaborating on the VRE, Assistant Chief of the General Staff (Training) Colonel (COL) Ng Wai Kit gave an example from the artillery vocation, where the soldiers need more upper body strength to carry 155mm shells. So one of their VREs is the Dead Lift which involves lifting a weight from standing position.

Also part of the new system: six old obstacles have been replaced with seven redesigned ones within the existing obstacle course. "The new obstacles have been designed to better emulate the operating environment and will better develop soldiers' strength, agility and endurance for basic combat movement and tasks," said COL Ng.

For example, the third obstacle - named Rubble - trains soldiers to move through damaged urban spaces made up of collapsed concrete structures. To negotiate this obstacle, soldiers are expected to vault and duck in quick succession, mimicking the action of moving through urban rubble.

Familiar obstacles such as the Low Wall and Jacob's Ladder (now renamed Apex Ladder) also features in the redesigned SOC. These train basic confidence in executing combat manoeuvres and have been retained because of their relevance to the evolving operational demands, said COL Ng.

Progressive training will begin with recruits familiarising themselves with the obstacles and learning how to overcome them during Basic Military Training.

Tying it all back to the new combat fitness system that emphasises vocation-specific combat fitness, the Vocational Obstacle Course (VOC), which places greater emphasis on team-based fitness and leadership by junior commanders, was also unveiled. In the VOC, soldiers have to clear the redesigned combat obstacles as a section or a detachment and perform vocation-specific combat tasks along the way.

Pass timings are determined by the individual vocations' requirements, taking into consideration combat load, required actions by the team members and total distance covered. For example, while both Infantry and Artillery soldiers have to run a distance of 300m after clearing the obstacles, the former simulates evacuating an injured team member on a stretcher. These requirements - determined by a soldier's vocation - account for the differences in pass timings.

"These differences reflect the SAF's efforts to ensure that our combat fitness training programmes are customised to the vocations," said COL Ng.

The VOC has been implemented for all Regulars and Full-time National Servicemen and when they progress to Operationally Ready National Service. This will not apply to current batches of Operationally Ready National Servicemen.

Fact Sheet: strengthening combat fitness training for the 3rd generation SAF

As the Singapore Armed Forces (SAF) develops into a full spectrum 3rd Generation force, it faces an increasingly complex and urbanised operational environment. To better prepare our soldiers to meet the evolving operational demands, the SAF has strengthened its combat fitness training system, leveraging on advances in fitness training science. The enhanced SAF combat fitness training system has two main components - the Vocation Related Exercises and the Obstacle Course. These revisions ensure that the SAF's combat fitness training is relevant, customised and progressive.

Vocation Related Exercises (VRE)

The VREs comprise a set of exercises customised to the different vocations in the SAF. The VREs are designed to strengthen specific muscle groups that a serviceman uses to carry out combat tasks in his vocation. These conditioning exercises can be performed indoor or outdoor with commonly available equipment.

Obstacle Course

The SAF has re-designed some of the obstacles in its existing obstacle course to better emulate the new operating environment. They will better develop the soldiers' strength, agility and endurance for basic combat movement and tasks.

The SAF has introduced a new Vocation Obstacle Course (VOC), while keeping the existing Standard Obstacle Course (SOC). Soldiers in the Basic Military Training, Specialist Cadet Course, and Officer Cadet Course will continue the current progressive training and individual qualification through the SOC with the re-designed obstacles. Soldiers in the units will embark on the new team-based VOC, which is customised to each vocation's combat skills and load, and places greater emphasis on team qualification led by section commanders.

Implementation

The VREs have already been incorporated as part of the serviceman's training to improve his combat fitness. The current obstacle course will be re-designed in the next 12 months. The new VOC will be implemented for all regulars and full-time National Servicemen during their active service and when they progress to Operationally Ready National Service (ORNS). The new VOC will not apply to the current batches of NSmen.

Mindef

2 Sukhoi TNI AU Akan Tiba 9 September

Sukhoi dan F-16 terbang dalam formasi saat memeriahkan HUT ke-64 TNI AU, 9 April 2010. (Foto: Getty Images)

07 September 2010 -- Rusia akan mengirimkan dua jet tempur Sukhoi TNI AU, Kamis (9/9), dua hari lebih lambat dibandingkan pengumuman sebelumnya, ungkap sebuah sumber.

Pesawat angkut Antonov AN-124 membawa dua jet tempur Sukhoi Su-27SKM ke pangkalan udara Sultan Hasannudin di Makassar.

Penyebab keterlambatan masalah teknis, sedangkan jet tempur terakhir tetap dikirimkan 16 September 2010.

Jakarta meneken kontrak pembelian 3 Su-30MK2 dan 3 Su-27SKM senilai 300 juta dolar pada 2007, seluruh pesawat diterima oleh TNI AU akhir 2010. Jakarta telah membeli 2 Su-27SK dan 2 Su-30MK pada 2003.

TNI AU direncanakan akan menampilkan seluruh jet tempur saat parade militer HUT TNI pada 5 Oktober.

Indonesia berencana membeli 6 Sukhoi lagi untuk melengkapi 16 skuadron Sukhoi.

RIA Novosti/Berita HanKam

49 Kadet AAL Ikuti Latek Peninggalan Cepat


7 September 2010, Surabaya -- Sebanyak 49 Kadet Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) mengikuti program Latihan dan Praktek (Latek) peninggalan cepat . Latihan peninggalan cepat yang diikuti oleh para Kadet tingkat III dan IV korps Marinir tahun 2010 ini, menggunakan lima unit Kendaraan Amfibi (Ranfib) BTR 50 PM, bertempat di Kolam Basin, Koarmatim Ujung, kemarin, Senin (6/9).

Dalam latek ini menekankan pentingnya mewaspadai terhadap bahaya yang mungkin akan dihadapi oleh para Kadet saat melaksanakan tugas sebagai Pasukan Pendarat (Pasrat). Segala kemungkinan bahaya itu bisa saja terjadi, baik yang disebabkan oleh unsur manusia maupun dari peralatan, serta kondisi lingkungan alam sekitarnya. Dengan diberikannya materi latihan dan praktek tentang prosedur dan ketetapan (Protap) semacam ini, dimaksudkan untuk mencegah dan mengurangi kerugian baik materiil maupun personel sebagai akibat kesalahan prosedur dan ketetapan yang ada. Dengan demikian Zero Accident sebagaimana yang telah dicanangkan oleh pimpinan TNI AL dalam setiap olah gerak dan latihan dapat tercapai.

Dispenaramatim

Antonov Rusak, Kiriman Dua Sukhoi dari Rusia Batal Tiba di Makassar


07 September 2010, Makassar -- Dua pesawat jet tempur jenis Sukhoi dari Rusia batal tiba di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, pagi ini. Pesawat Antonov AH 124 100 milik Rusia yang bakal mengangkut kedua Sukhoi jenis terbaru tersebut dikabarkan mengalami kerusakan.

Rencananya, pesawat Antonov yang mengangkut dua pesawat canggih buatan negeri eks Uni Soviet ini tiba di Makassar sekitar pukul 09.00 Wita. Namun persiapan penyambutan dibatalkan setelah Lanud Sultan Hasanuddin mendapat kabar penerbangan pesawat Antonov batal.

"Informasi yang kami terima, pesawat Antonov batal terbang dari Moscow karena mengalami trouble," kata Kepala Penerangan Lanud Sultan Hasanuddin, Mayor Muliadi.

Dia mengatakan, persiapan penyambutan pesawat Sukhoi telah dilakukan sejak dini. Hanya saja, pembatalan dilakukan tiba-tiba akibat kendala tersebut. "Kedatangan pesawat akan dijawadlkan Kamis," katanya. "Satu pesawat akan menyusul tanggal 15 September nanti."

Jenis Sukhoi yang akan tiba di Makassar itu adalah SU 27 SKM. Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan membeli tiga unit Sukhoi yang akan melengkapi tujuh koleksi yang sudah merapat di Skadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin.

Sejak 2003, Indonesia membeli dua Sukhoi jenis SU 30 MK dan dua SU 27 SK. Pada 2007 kembali membeli lagi tiga Sukhoi SU 30 MK2, dan tiga jenis SU 27 SKM. Terakhir, tiga Sukhoi jenis SU 30 MK2 tiba Desember 2008 dan Januari 2009.

TEMPO Interaktif

Boeing Vigilare Enters Service with RAAF After Successful Multinational Air Combat Exercise


07 September 2010, BRISBANE, Queensland -- Vigilare, the Boeing [NYSE: BA] Network Centric Command and Control System (NC3S) developed for the Commonwealth of Australia, has entered service with the Royal Australian Air Force (RAAF) after excelling in a major multinational air combat exercise.

On Sept. 2, the RAAF began using the Vigilare Northern Regional Operations Centre (NROC) at RAAF Base Tindal, Northern Territory, for surveillance and battlespace management operations across Australia.

“With the acceptance into operational service for NROC, the RAAF and Defence Materiel Organisation (DMO) have concluded that the enhanced capability provided by Vigilare provides a robust Air Defence Command and Control (C2) system for Australia,” said Tim Malone, DMO project director for Project Air 5333 - Vigilare. “NROC is now correlating a myriad of data feeds from sensors and information across Defence, civil and foreign sources providing directed air surveillance and air battle management capabilities for the RAAF. In my opinion, this capability, especially the sophisticated Tactical Data Link implementation, is arguably world-class.”

“We’re extremely pleased with the way Vigilare has transitioned into operational service at NROC,” said Steve Parker, vice president and general manager of Network and Space Systems for Boeing Defence Australia. “It’s indicative of the considerable engineering and project management rigor we’ve applied and the pragmatic relationship between Boeing, our supplier partners and our Australian Defence Materiel Organisation and RAAF customers. Vigilare has set the benchmark for future complex systems integration within the Australian Defence Force by bringing several disparate systems together to create a true systems-of-systems environment.”

Prior to service entry, Vigilare participated in “Pitch Black 2010” -- one of the RAAF’s largest and most complex air combat exercises, which also involved the air forces of Singapore, Thailand and New Zealand. During the exercise, held July 16-Aug. 6, NROC was used as the central C2 node, providing continuous surveillance and battlespace management for offensive counter-air and offensive air-support operations.

The system interacted with multiple assets, including RAAF F/A-18 Hornets, F-111s, Hawks, forward air control PC-9s, and AP-3C Orions; Republic of Singapore Air Force (RSAF) and Royal Thai Air Force F-16s; an RSAF E2-C Hawkeye Airborne Warning and Control aircraft, and other air mobility and air-to-air refueling assets.

“We proved at Pitch Black that Vigilare is able to provide a comprehensive picture of the skies above in a coalition environment,” said Parker. “This system is a game changer for the RAAF because of its fully integrated data link capabilities, multi-level communications, multisource correlator tracking, and advanced system management capabilities.”

Vigilare is on track for final system acceptance in mid-2011. The next major milestone leading up to this is completion of the Eastern Regional Operations Centre at RAAF Base Williamtown, New South Wales.

NC3S works by combining information in near real-time from a wide range of platforms, sensors, tactical data links and intelligence networks to deliver tactical and strategic surveillance operations and battlespace management in the air and joint domains. The live inputs from these sources present a unified operational picture to the operator at single or multiple control centers. NC3S is currently part of a broader offering from Boeing to other countries, including the United Arab Emirates.

Boeing Defence Australia, a wholly owned subsidiary of The Boeing Company and a business unit of Boeing Defense, Space & Security, is a leading Australian aerospace enterprise. With a world-class team of more than 1,500 employees at 14 locations throughout Australia and two international sites, Boeing Defence Australia supports some of the largest and most complex defense projects in Australia.

A unit of The Boeing Company, Boeing Defense, Space & Security is one of the world's largest defense, space and security businesses specializing in innovative and capabilities-driven customer solutions, and the world’s largest and most versatile manufacturer of military aircraft. Headquartered in St. Louis, Boeing Defense, Space & Security is a $34 billion business with 68,000 employees worldwide.


Boeing Company

Israel Aerospace Industries Completed Series of Successful Flight Tests of Colombian Air Force's Boeing 767 Air Refueling Aircraft


05 September 2010 -- Itzhak Nissan, President and CEO of Israel Aerospace Industries: "We are proud to be working with such a distinguished customer as the Colombian Air Force, and are pleased to have been chosen to take on such critical projects as supplying and upgrading Kfir aircraft and supplying aerial refueling aircraft. These projects reflect IAI's strength and its integrative capabilities."

A series of successful flight tests aimed at opening the flight envelope have been completed for the pre-owned B767-200ER (Extended Range) aircraft, converted by Bedek Aviation Group of Israel Aerospace Industries (IAI) to a Multi Mission Tanker Transport (MMTT) configuration for the Colombian government and the end user, the Colombian Air Force.

The converted aircraft is equipped with two Wing Air Refueling Pods (WARPs) of the ARP3 model, developed and manufactured by IAI.

During the first 3.5-hour flight test, the full envelope, including altitude, speed, and Mach number, was opened without any flutter or buffet problems. Additional in-flight refueling tests of a C10 Kfir fighter jet, also produced by IAI, were successfully completed.

The MMTT pilot reported an extremely smooth flight with no technical events.

The air refueling system functioned very well, and the first hook-ups and fuel transfers were the most exciting moments of the flight. IAI's test pilot team that flew the aircraft reported that the systems performed flawlessly. The pilot of the Kfir (the aircraft being refueled) appreciated the easy, stable hook-up in each of the two WARPs.

As previously reported, IAI was awarded a multi-year contract in 2007 worth more than $150 million to upgrade the Colombian Air Force's Kfir aircraft. In June of 2009, the first Kfir aircraft were redelivered to the Colombians, and have been in operational activity ever since.

The tanker conversion project, which lasted more than two years, was completed by IAI's technicians, flight test pilots, and engineers, all of whom contributed to the development and integration of the air refueling system into the B767. Their dedication and hard work culminated in the minutes during which the tanker and the Kfir met in the air and performed the hook-up, an "exciting and proud" moment for those involved in the project.

IAI's chief test pilot Ronen Shapira, who flew behind the B767-200ER in a G250 business jet aircraft, also confirmed the smooth flight: "The flights were successful, and the aircraft performed extremely well with the air refueling pods. The aircraft performance and overall stability of the aircraft and the drogues all displayed impressive results."

Eli Hattem, General Manager of IAI's Bedek Aviation Group, commented: "These successful flight tests are an important milestone in this conversion. We are pleased to report that everything is progressing smoothly and look forward to continuing to strengthen our ties with the Colombian government and its Air Force."

In the coming days, the B767-200MMTT will perform additional flights before its redelivery to the Colombian Air Force.

IAI

Malaysia Emoh Minta Maaf

(Foto: Getty Images)

07 September 2010, Kota Kinabalu -- Setelah membahas kasus penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Malaysia setuju memberikan perlakuan yang sopan dan pantas dalam penanganan kasus yang melibatkan aparat Pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Luar Negeri Malaysia Hanifah Aman bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa di Hotel Le Meridien, Kota Kinabalu, Sabah, Senin (6/9). Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Iwan Santosa, dari Kota Kinabalu semalam.

Seusai pertemuan, Hanifah mengatakan, Malaysia tak akan memborgol dan mengenakan baju tahanan kepada aparat Indonesia dalam kasus sengketa perbatasan yang kini belum tuntas. ”Penanganan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM) sudah sesuai standar prosedur operasi. Belajar dari peristiwa 13 Agustus lalu, diputuskan untuk memberikan pengecualian dalam menangani kasus yang melibatkan aparat Pemerintah Indonesia,” kata Hanifah.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, tidak ada aparat negara lain yang mendapatkan perlakuan seperti dijanjikan Malaysia kepada Indonesia.

Marty juga menegaskan, sengketa perbatasan dua negara yang menjadi ujung pangkal klaim pelanggaran batas dua negara tidak akan dibawa ke Mahkamah Internasional. ”Indonesia adalah payung yang menjadi panutan bagi negara ASEAN. Sengketa yang dibawa ke Mahkamah Internasional terjadi antara negara yang tidak mampu berdiplomasi dan berhubungan baik. Penyelesaian masalah oleh pihak Indonesia selalu diajukan melalui diplomasi dengan semangat kesetaraan,” ujar Marty.

Maaf yang tak jelas

Ketika ditanya adakah permintaan maaf dari Malaysia terkait perlakuan kasar terhadap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Marty tak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan, Malaysia berjanji belajar dari insiden 13 Agustus dan memberikan pengecualian bagi aparat pemerintah.

Menurut Marty, ada hal-hal penting yang dicapai oleh kedua pihak yang turut dibahas dalam pertemuan dua menteri. Namun, Menlu tidak memerinci apa yang dimaksud dengan hal-hal itu.

”Belajar dari kasus sengketa perbatasan laut dan penangkapan tiga petugas KKP, disepakati untuk melibatkan instansi terkait seperti KKP dalam Joint Border Committee (JBC) Indonesia-Malaysia yang selama ini hanya berintikan militer dan kepolisian. Selama ini instansi terkait seperti KKP tidak berkomunikasi langsung dengan pihak Malaysia seumpama PDRM,” kata Marty.

Di pihak Malaysia, Jawatan Penguat Kuasa Maritim atau Malaysian Maritime Enforcement Agency juga dilibatkan dalam JBC.

KOMPAS

Beda Persepsi, Perundingan Kinabalu Tak Maksimal

(Foto: Getty Images)

07 September 2010, Kinibalu -- Perundingan Indonesia-Malaysia ke-16 yang dilakukan kemarin tidak mencapai hasil konkret karena adanya perbedaan persepsi dalam masalah yang dirundingkan.

Seperti dilaporkan AP, pihak Indonesia menginginkan pembicaraan difokuskan pada masalah perbatasan dan penangkapan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sementara itu, pihak Malaysia menginginkan Indonesia menyelesaikan penghinaan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia terhadap atribut kenegaraan negara itu, di mana atribut itu dibakar dalam beberapa demonstrasi. Begitu juga pelemparan gedung Kedubes Malaysia dengan tinja yang dinilai sangat tidak etis dalam hubungan diplomatik kedua negara.

Kepala Bidang Penerangan KBRI Malaysia Widyarka Ryananta mengatakan, pertemuan kali ini yang diagendakan berlangsung sekitar tiga jam masih akan merupakan awal dari penyelesaian sejumlah sengketa perbatasan dua negara.

"Masalah perbatasan, apalagi ada klaim kedua pihak, tidak mudah. Negara lain pun sampai puluhan tahun menyelesaikannya," kata Widyarka.

Menurut dia, dalam agenda perundingan Indonesia menghendaki persoalan perbatasan menjadi bahasan utama. Tema lain yang diusulkan adalah insiden penangkapan tiga petugas KKP, 13 Agustus lalu.

Sementara itu, Malaysia menghendaki ada pembahasan terkait aksi demonstrasi yang disertai pelemparan tinja ke gedung kedutaannya di Jakarta. Malaysia menganggap hal itu sebagai penghinaan. "Sehari ini rasanya terlalu berlebihan kalau mengharapkan terlalu tinggi," kata Widyarka.

Pada perundingan yang dipercepat dari jadwal sebelumnya ini, kedua Menteri Luar Negeri akan memimpin langsung tim perunding dari dua negara.

Kedua pejabat tinggi melakukan pertemuan tertutup empat mata pada pukul 15.00 waktu setempat dan selanjutnya tim perunding akan membahas isu-isu yang telah disepakati.

Pada sore harinya, kedua pejabat dijadwalkan memberikan pernyataan pers, dan acara kemudian ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama. Perundingan perbatasan antara dua negara ini sudah berlangsung sejak 2005 dengan lokasi bergiliran.

Sedikitnya ada sepuluh titik perbatasan yang dianggap bermasalah, baik di darat maupun laut, antara Indonesia-Malaysia.

Di antara titik-titik bermasalah itu adalah Tanjung Datu di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak serta titik batas di Pulau Sebatik.

Sementara di laut persoalan terjadi antara lain di perbatasan perairan Ambalat yang pada tahun lalu juga sempat menyulut sentimen keras anti-Malaysia di Jakarta.

Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie berharap agar Malaysia punya kemauan kuat untuk menyelesaikan masalah perbatasan ini. "Malaysia harus punya kemauan yang kuat untuk menyelesaikan masalah (perbatasan) dengan Indonesia," kata Marzuki.

Marzuki tidak dapat memprediksi kira-kira apa kesimpulan yang akan dihasilkan dalam perundingan itu. Yang jelas, dia berharap ada penyelesaian terkait perbatasan kedua negara bertetangga ini. "Kita tunggu saja (hasilnya)," kata politisi senior Partai Demokrat ini.

Penyelesaian masalah perbatasan ini, lanjut Marzuki, sebaiknya biar berjalan dulu antara pemerintah kedua negara tersebut. Namun, jika nantinya sampai dibutuhkan tim investigasi untuk menyelidiki masalah ini, menurutnya, itu bergantung pada kesepakatan antara negara-negara yang tergabung ASEAN.

"Itu tergantung pada kesepakatan sebenarnya (perlu tidaknya tim investigasi), karena ini bisa dibicarakan oleh sesama negara ASEAN, misalnya di ASEAN Charter," katanya.

Pertemuan di Kinabalu ini merupakan pertemuan rutin tahunan. Namun, acara ini dipercepat dari jadwal bulan November menjadi hari ini menyusul insiden penangkapan di perairan Pulau Bintan pada 13 Agustus 2010 yang memanaskan hubungan kedua negara tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berharap agar Pemerintah Indonesia tidak ragu-ragu menggunakan tapal batas dalam menyelesaikan konflik perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

"Hendaknya pemerintah kita dalam hal ini tidak ragu. Kita sarankan pemerintah agar tidak ragu-ragu menggunakan tapal batas yang dahulunya pernah menjadi keputusan yang disepakati dari kacamata PBB," katanya di gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, keputusan tapal batas versi PBB tersebut dapat dijadikan tolok ukur kedua negara dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi itu.

Dia juga mengingatkan agar konflik yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia tetap dapat diselesaikan secara santun dan tegas.

"Kami garis bawahi untuk pemerintah, presiden, menteri, dan juru runding agar dapat menjadikan ini sebagai prioritas dan tak terlalu lama untuk diselesaikan," ujarnya.

Sedangkan Ketua DPR Marzuki Alie berharap agar Malaysia memunyai kemauan kuat untuk menyelesaikan masalah perbatasan dengan Indonesia.

Dia menilai, dalam proses penyelesaian masalah perbatasan itu sebaiknya biar berjalan dulu antara pemerintah kedua negara tersebut.

Namun, ujar dia, jika nantinya sampai dibutuhkan tim investigasi untuk menyelidiki masalah ini, maka hal itu bergantung pada kesepakatan antara negara-negara yang tergabung dalam ASEAN.

"Itu tergantung pada kesepakatan, sebenarnya apakah perlu atau tidaknya tim investigasi, karena ini bisa dibicarakan oleh sesama negara Asean, misalnya di ASEAN Charter," katanya.

Mengenai tiga WNI yang telah dijatuhi hukuman mati, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dalam siaran pers yang diterima Suara Karya mengungkapkan, pemerintah telah mengajukan keringanan hukuman.

Pemerintah Indonesia juga akan terus memberikan bantuan hukum dan advokasi bagi WNI lainnya yang tengah menghadapi proses hukum di negeri jiran tersebut. Hal ini dikhususkan pada mereka yang terancam hukuman mati. "Permintaan keringanan hukuman atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan hubungan baik kedua negara," demikian siaran pers Kemenlu itu.

Selain itu, pertemuan juga menggarisbawahi pentingnya pendirian dan pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi anak-anak WNI usia wajib sekolah di wilayah Malaysia (Sabah).

"Pendirian pusat belajar tersebut sangat penting untuk memfasilitasi banyaknya anak usia sekolah," demikian siaran pers tersebut.

Tiga WNI dijatuhi hukuman mati di Malaysia setelah Pengadilan Tinggi setempat menyatakan mereka bersalah dalam kasus penyelundupan narkoba. Penyelundupan ganja 1.858 gram di Sungai Petani itu terjadi lima tahun lalu.

Putusan itu dijatuhkan hakim Datuk Zamani A Rahim seperti dilansir The Star, Minggu (18/7/2010). Ketiga WNI itu adalah Amri Alamsyah, 41, Iskandar Ibrahim, 33, dan Muhammadiah Hasan, 31. Ketiga warga Aceh itu bersama-sama menyelundupkan narkoba pada 6 April 2005.

Suara Karya

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Presiden SBY menyampaikan pernyataan mengenai kasus ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia di Markas TNI, Cilangkap, Rabu (1/9/2010) malam. Dalam pidatonya, Presiden SBY memilih jalur diplomasi ketimbang perang. (Foto: Abror Rizki/Setpres)

06 September 2010 -- Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soe- harto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503- 1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini. (Adjie Suradji Anggota TNI AU)

Danlanud akui keberanian Kolonel Adjie

Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat kritik pedas dari bawahannya. Adalah Adjie Suradji, anggota TNI Angkatan Udara, yang berani melakukan kritik itu di Harian Kompas.

Secara terbuka, Adjie mengkritik Presiden SBY lewat tulisan artikelnya di kolom Opini terbitan Senin (6/9/2010). Adjie menyerang kepemimpinan Presiden lewat tulisan berjudul Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan.

Selain mengkritik kepemimpinan SBY dalam menggerakkan roda pemerintahan, Adjie juga mempertanyakan keberanian SBY sebagai panglima tertinggi TNI.

Adjie Suradji kini berpangkat sebagai kolonel dan tengah menjabat sebagai staf operasional di Mabes TNI AU.

Ayah dari Theo Natalie Barton ini pernah menjabat sebagai Komandan Lapangan Udara Syamsudin Noor di Banjarmasin pada 1997-1999. Jabatan yang diembannya waktu itu masih berpangkat Letnan Kolonel Penerbang.

Suami dari Meity Rotinsulu itu melawan adat militer yang melarang bawahan mengkritik atasan. Apalagi, sasaran kritiknya adalah panglima tertinggi TNI, yakni Presiden.

Saat dikroscek, petugas Lanud Syamsudin Noor membenarkan jika yang bersangkutan pernah menjabat sebagai Komandan Lanud. Sosoknya memang tidak banyak diketahui publik.

"Saya tidak tahu mengenai sosoknya, yang jelas dia senior saya. Tidak pernah bertemu dan tidak tahu mengenai pemikiran dan program kerja beliau, khususnya dengan keluarnya tulisan tersebut," ujar Letkol Pnb Singgih Hadi, Komandan Lanud Syamsudin Noor, Senin (6/9/2010).

Ia mengakui, memang dengan apa yang dilakukan Adjie merupakan suatu langkah yang sangat berani. Terlebih dengan tulisannya yang begitu terang-terangan dan terbuka.

"Itu pemikiran beliau, tiap orang punya hak untuk berpendapat. Salah satunya itu yang digoreskan dalam sebuah hasil karya berupa tulisan," tegasnya.

KOMPAS

Monday, September 6, 2010

Pertemuan Indonesia-Malaysia di Sabah, Hanya Bicarakan Insiden Bintan

Menlu Malaysia Anifah Aman memberikan penjelasan kepada para wartawan target pertemuan kedua Menlu RI-Malaysia di Kota Kinabalu, Malaysia, Senin (6/9), guna membahas insiden perairan Bintan, perbatasan dan TKI yang dapat memicu ketegangan hubungan kedua negara. (Foto:ANTARA/Adi Lazuardi/Koz/hp/10)

06 September 2010, Jakarta -- Menlu Malaysia Anifah Aman menegaskan bahwa pertemuan sehari Menlu Indonesia dan Malaysia di Kota Kinabalu, Sabah, Senin, tidak akan bisa menyelesaikan semua permasalahan yang diagendakan untuk dibahas.

"Ini pertemuan ke-16 antara kedua Menlu. Bisa saja persoalannya selesai pada pertemuan ke-17, 18 atau pertemuan berikutnya. Namun agenda pembicaraan sudah disepakati yakni membicarakan insiden di perairan Bintan," kata Menlu Malaysia Anifah Aman, di Kota Kinabalu.

Menlu RI Marty Natalegawa bertemu dengan mitranya dari Malaysia Anifah Aman untuk membahas berbagai masalah yang berkembang belakangan ini, terutama soal perbatasan dan insiden di perairan Bintan yang membuat ketegangan hubungan kedua negara bertetangga dan serumpun ini. "Agenda pimbicaraan di antaranya insiden perairan laut Bintan, masalah perbatasan, dan TKI," kata Anifah.

Dengan masuknya masalah TKI maka kedua Menlu telah sadar bahwa ketegangan hubungan kedua negara yang sering mencuat bukan hanya disebabkan oleh masalah perbatasan tapi juga perlakuan TKI di Malaysia.

"Kami akan membahas bagaimana prosedur pengamanan masalah perbatasan agar insiden Bintan tidak muncul lagi pada mendatang. Kami yakin masalah ini bisa diselesaikan oleh kedua negara dengan baik namun perlu waktu untuk menyelesaikannya. Dalam pertemuan kedua Menlu itu hadir Dubes RI untuk Malaysia dari perwakilan Dephan RI, Polri, dan Bakorsutanal.

Di sisi lain, sayap organisasi Partai Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) meminta pemerintah segera mengambil tindakan tegas dan konkret kepada Malaysia.

"Kita ini sering dikadali Malaysia, dan ini sudah sering terulang, dialog dan pendekatan diplomatik tidak membuat Malaysia benar-benar menghormati kita, bahkan terus mendikte pemerintah," kata Ketua Umum DPP AMPI, Dave Laksono, dalam siaran persnya, Senin.

Dave menilai, imbauan keras Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, semakin menunjukkan pemerintah Malaysia merasa sangat superior terhadap rakyat dan pemerintah Indonesia. "Mereka tahu persis titik lemah RI itu di diplomasi Kementerian Luar Negeri. Jadi, Malaysia tidak akan segan-segan menggertak kita," kata Dave.

Menurut dia, secara ekonomi, RI tidak terlalu tergantung kepada Malaysia, bahkan Malaysia yang sangat tergantung kepada RI. "Investasi Malaysia di perbankan kita sekitar Rp 50 triliun, Telekomunikasi puluhan triliun rupiah. Malaysia juga punya lahan sawit dua juta hektare, belum industri penerbangan. Ekspor kita juga enggak seberapa ke Malaysia. Jadi Malaysia yang sangat tergantung ke kita. Kalau kita tarik dua juta TKI, ekonominya ambruk. Takut apa lagi," kata dave.

AMPI mendesak pemerintah agar segera memberi peringatan keras ke PM Malaysia. AMPI memperkirakan, gertakan PM Malaysia hanya merupakan gertak sambal untuk mengetahui sejauh mana nyali pemerintah RI. AMPI mengingatkan Pemuda UMNO agar tidak bereaksi berlebihan kepada ormas Bendera. AMPI menilai, Pemuda UMNO tidak memahami iklim kebebasan berdemokrasi di Indonesia.

"Di Malaysia itu kan pemerintah semiotoriter dan tidak ada kebebasan berdemonstrasi seperti di RI. Jadi begitu ada demonstrasi seperti dilakukan Bendera, mereka terkaget-kaget. Padahal di Indonesia dan negara-negara seperti Amerika Serikat dan negara demokratis lainnya, demo seperti Bendera itu hal yang biasa. Mereka saja yang kaget-kaget," katanya.

Suara Karya

Singapore and Australian Navies in Bilateral Maritime Exercise

Colonel Soh Cheow Guan and Commodore Philip Spedding exchanging gifts during the opening ceremony of Exercise Singaroo 2010.

05 September 2010 -- The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Royal Australian Navy (RAN) are conducting a bilateral maritime exercise, codenamed Singaroo, from 5 to 10 Sep 2010. The Commanding Officer of the RSN's 188 Squadron, Colonel Soh Cheow Guan, and the Director-General Maritime Operations of the RAN, Commodore Philip Spedding, officiated at the opening ceremony held at Coonawarra Naval Base in Darwin, Australia, this morning.

Hosted by the RAN, this year's exercise will be held off the coast of Darwin where both navies will be conducting a series of naval manoeuvres, such as maritime surveillance, combined anti-submarine and air defence exercises, as well as live firings against towed-targets. The RSN is participating with frigate RSS Tenacious, missile corvette RSS Vigour and a Fokker-50 Maritime Patrol Aircraft. Joining them from the RAN are frigates HMAS Arunta and HMAS Toowoomba, submarine HMAS Dechaineux and several aircraft.

In its 14th year, Exercise Singaroo highlights the close and long-standing defence ties shared by both countries. The exercise provides an opportunity for the two navies to enhance interoperability and strengthen professional and personal ties.

Mindef

Scania to deliver 119 complete defence vehicles to Luxembourg and Sweden

The trucks to be delivered to Luxembourg are all four-axle all-wheel-drive Scania G 480 8x8. (Photo: Scania)

01 September 2010 -- Scania has signed an agreement with the NATO Maintenance and Supply Agency (NAMSA) on the supply to the Luxembourg army of 31 all-wheel-drive trucks, 13 of them with mine and ballistic protection. In parallel, the Swedish Defence Materiel Administration (FMV) has ordered 88 logistics trucks, of which four will be equipped for driver training.

The 31 NATO-specification trucks to Luxembourg are all four-axle all-wheel-drive Scania G 480 8x8. The deal involves the first delivery of a new upgraded ballistic protection system, STANAG level 3 on 13 trucks. The vehicles will to a large extent be used on peace-keeping missions, 28 fitted with hooklift bodywork and three with recovery body. Deliveries will take place during 2011

The order from the Swedish defence, part of a running frame agreement, includes 80 three-axle Scania G 400 6x2 logistics vehicles with hooklift bodywork. Four vehicles to be used for driver training are specified with four individual seats in the cab. FMV has also ordered eight four-axle Scania P 400 8x2 with crane and platform bodywork.

For the first time in a deal with FMV the vehicles are fitted with the Scania Communicator 200 on-board data collector for remote follow-up of vehicle and driver performance via a web portal. This is also the first time a repair and maintenance contract is signed with FMV, which includes access to the Scania sales and service network throughout Sweden. Deliveries are scheduled for the first quarter of 2011.

Scania has supplied defence vehicles according to NATO standards since 1998, the largest orders coming from the Netherlands and France, and trucks with mine and ballistic protection since 2001.

Scania

Agus Suhartono Calon Tunggal Panglima

Laksamana TNI Agus Suhartono (Foto: Kompas/Iwan Setiyawan)

06 September 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono menjadi calon tunggal Panglima TNI yang akan menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso.

Namanya diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (6/9/2010). Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, surat Presiden diterima pimpinan DPR siang ini.

"Kami mengadakan rapat pimpinan Dewan. Salah satu hal yang dibahas adalah kami baru terima surat dari Bapak Presiden. Presiden mengajukan satu nama calon Panglima TNI, yaitu Laksamana TNI Agus Suhartono yang sehari-hari sebagai KSAL," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta.

Menurut ketentuan, DPR harus memberikan persetujuan selambat-lambatnya 20 hari kerja. Namun, karena menjelang libur Lebaran, pembahasan mengenai calon Panglima TNI akan diumumkan pada rapat paripurna tanggal 21 September 2010.

"Dalam waktu segera akan diputuskan dalam rapat Bamus atau pengganti Bamus untuk menentukan komisi mana yang akan membahas," ujar Priyo.

Sikap DPR akan diputuskan melalui komisi yang bermitra dengan TNI, yaitu Komisi I. Priyo sendiri menilai Agus Suhartono merupakan figur yang cukup mumpuni. Ia berharap calon tunggal yang diajukan Presiden ini bisa disetujui melalui musyawarah mufakat.

KOMPAS.com

Malaysia Tuduh Petugas DKP Peras Nelayan

Sekitar 50 orang dari Laskar Merah Putih berunjuk rasa di depan Kedubes Malaysia, Jakarta, Senin (16/8/2010). Aksi ini terkait penangkapan 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) oleh Kepolisian Malaysia. (Foto: detikFoto/Didi Syafirdi)

05 September 2010, Jakarta -- Aparat Polis Diraja Malaysia (PDRM) kembali memprovokasi pemerintah Indonesia. Indikasinya adalah beredarnya dokumen berita acara pemeriksaan (BAP) tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri, yang disandera pada pertengahan Agustus lalu.

Dalam dokumen yang diterima Jawa Pos itu, aparat PDRM menyebutkan bahwa petugas DKP telah memeras nelayan Malaysia. Para PNS itu juga dituding menculik, termasuk mengajukan permintaan uang, untuk pembebasan tujuh nelayan Malaysia.

Dokumen setebal 10 halaman tersebut berkop Markas Pasukan Gerakan Marin Polis Diraja Malaysia Wilayah Johor. Tertanggal 15 Agustus 2010 dan ditandatangani Kalaichelvan Nadarajah, Timbalan Komander Pasukan Gerakan Marin Wilayah 2 Polis Diraja Malaysia 81200 Tampoi Johor. Dokumen itu menyebutkan bahwa pihak MPM menyerahkan penangkapan tiga petugas DKP kepada kepolisian Kota Tinggi.

PDRM Kota Tinggi menjerat tiga orang itu dengan pasal 360 KK hukum setempat. "Barang siapa membawa mana-mana orang keluar dari kawasan Malaysia dengan tiada kerelaan orang itu, atau kerelaan seseorang yang berkuasa di sisi undang-undang memberi kerelaan bagi pihak orang itu, adalah dikatakan menculik orang itu dari Malaysia," tulis laporan polisi Malaysia tersebut.

Pasal penculikan itu dituduhkan, atas dasar permintaan uang kepada salah satu keluarga nelayan Malaysia yang masuk melalui SMS. Uang yang diminta disebutkan sebesar RM 3.500, dan agar dikirimkan melalui Western Union kepada seseorang bernama Harun yang tinggal di Batam. Polisi Malaysia menuduh SMS itu dikirim oleh oknum petugas KKP.

"Ketiga-tiga saspek (3 petugas DKP) telah ditahan dilokap IPD Kota Tinggi, dan diluluskan reman selama 4 hari oleh pihak mahkamah," tulis laporan itu.

Terhadap perkembangan info ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad membantah keras bahwa petugas mereka terlibat dalam aksi pemerasan. Fadel menyatakan telah mendengar informasi tersebut. Informasi itu katanya, juga telah diklarifikasi kepada petugas KKP. Hasilnya, mereka tidak terbukti memeras ketujuh nelayan Malaysia di perairan Indonesia.

"Saya terima SMS juga. Tapi, itu fitnah-fitnah yang mereka bikin. Tidak begitu kok akhlak petugas kita. Jadi, itu tidak benar," ujar mantan Gubernur Gorontalo itu.

Fadel menegaskan, isu pemerasan tersebut merupakan fitnah yang dilemparkan orang-orang yang ingin mendiskreditkan Indonesia dan juga Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saat ditanya perkembangan informasi dari tim investigasi yang menyelidiki insiden Indonesia-Malaysia, Fadel mengatakan bahwa hasilnya sudah diberikan kepada pihaknya, saat melakukan RDPU dengan Komisi I DPR beberapa waktu lalu. "Hasil utamanya adalah insiden itu terjadi di perairan Indonesia," kata dia.

Sementara, Dirjen Pengawasan Perikanan dan Sumber Daya Perikanan KKP, Aji Sularso mengatakan, tudingan pemerasan dan penculikan kepada nelayan Malaysia itu merupakan aksi provokasi. "Itu propaganda dan provokasi Malaysia, karena anggota polisi mereka sedang diperiksa karena menganiaya petugas kita," ujar Aji.

Aji menuturkan, nelayan Malaysia memang kerap masuk ke wilayah laut Indonesia. Mereka sama sekali tidak memiliki izin untuk menangkap ikan. Para nelayan Malaysia juga kerap berusaha menyuap para petugas KKP. "Kapal mereka tiap hari masuk wilayah kita. Kita siap diaudit dan dipecat, kalau terbukti menerima suap. Kalau berani, mari kita konfrontir. Nelayan Malaysia saja saat diperiksa polisi Indonesia tanda tangan dan mengakui masuk wilayah Indonesia," ungkapnya.

JPNN