Saturday, September 11, 2010

Mengenal Medan Karst Mako Daerah Latihan Gabungan TNI di Kaliorang Sangatta


Oleh Kepala Topdam VI/Mlw Letnan Kolonel Ctp NRP 32561 Drs. Ibnu Fatah, M.Sc.

Latar Belakang

Baru-baru ini Panglima TNI Jenderal TNI Joko Santosa telah meresmikan Mako Daerah Latihan Gabungan (Rahlatgab) TNI di daerah Kaliorang Sangatta Kaltim (20/9). Daerah latihan tersebut terletak di pantai timur Pulau Kalimantan seluas 27.000 hektar yang sebagian besar merupakan daerah bentang alam karst atau batuan kapur, bagian dari Pegunungan Kapur Sangkulirang. Terkait dengan itu, maka dipandang perlu bagi para prajurit untuk mengenal sedikit tentang bentang alam karst sebagai bagian dari aspek penguasaan medan. Harapannya adalah agar para prajurit TNI, terutama unsur Komandan Satuan dapat mendayagunakan semaksimal mungkin ketika berlatih dan menggunakan daerah latihan tersebut.


Di lingkungan militer, pengenalan medan merupakan langkah penting dalam operasi militer, termasuk juga ketika melaksanakan latihan. Begitu pun dengan strategi dan taktik operasi militer di wilayah Indonesia, dipastikan memerlukan penguasaan medan yang memadai. Salah satu medan yang terdapat di wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentang alam karst (batuan kapur). Mengingat bentang alam karst tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia, pemahaman tentang bentang alam karst bagi seorang prajurit, TNI dan terutama unsur Komandan Satuan, sangat diperlukan.

Secara khusus bentang alam karst perlu dipahami mengingat bentang alam ini merupakan bentang alam yang unik yang berbeda dengan bentang alam lainya. Secara morfologi bentang alam karst dicirikan dengan keberadaan bukit-bukit dan gua kapur. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran karakteristik medan bentang alam karst seperti halnya di Daerah Latihan Gabungan TNI Kaliorang Sangatta Kaltim. Diharapkan informasi tersebut dapat digunakan untuk kepentingan selama melaksanakan latihan rutin ataupun ketika misalnya sedang melaksanakan operasi militer di daerah batuan kapur pada umumnya.

Bentang Alam Karst

Menurut Ford dan William (2007), karst merupakan istilah dalam ilmu kebumian yang diartikan sebagai medan dengan karakteristik bentuklahan dan hidrologi (system perairan) spesifik, yang berkembang di batuan mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang besar (daya meloloskan air). Batuan yang dapat berkembang menjadi bentang alam karst adalah batugampingan (batugamping, dolomit, marmer), batugaram, dan gipsum. Namun demikian, sebagian karst ditemukan di kawasan berbatuan karbonat (gampingan), karena singkapan batuan karbonat lebih luas dibandingkan dengan batuan mudah larut lainnya.

Ciri morfologi dari bentang alam karst adalah adalah terdapatnya cekungan-cekungan tertutup (doline, uvala), gua, lembah buta, lembah kering, dan bukit sisa yang berbentuk kerucut atau menara. Ciri-ciri spesifik dari kondisi hidrologi karst adalah terdapatnya jaringan sungai bawah tanah, telaga, langkanya atau tidak terdapatnya sungai permukaan, dan terdapatnya mataair yang besar (Sweeting, 1972; Trudgill, 1985; White, 1985; Ford dan Williams, 1989; Gielison, 1996).

Bentang alam karst dapat dijumpai di hampir semua kepulauan di wilayan NKRI. Sebaran kawasan karst terbesar terdapat di Papua dan kepulauan di sekitarnya. Namun demikian jika dilihat dari persentasenya, luasan bentang alam karst terbesar terdapat di kepulauan Maluku yang mencapai 11,89%, sedangkan Pulau Sumatera memiliki bentang alam karst terkecil. Di Kalimantan bentang alam karst tersebar di sebelah timur dan timur laut dari Pulau Kalimantan, membentang dari Kab. Bulungan hingga Kab. Tanah Laut. Mencakup luasan sekitar 155898.6 atau (3.11% wilayah Kalimantan). Sebaran kawasan karst di wilayah NKRI ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.

Kabupaten di wilayah Kodam VI/Mlw yang memiliki kandungan Bentang alam karst adalah Kab. Bulungan, Berau, Kutai Timur, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Tabalong, Pasir, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Kota Baru, dan Tanah Laut.

Tinjauan Aspek Militer

Dalam sejarah militer, dicatat bahwa bentang alam karst telah dipilih dan dimanfaatkan sebagai medan tempur yang strategis. Setidak-tidaknya pengalaman selama Perang Dunia Pertama, tentara Austro-Hungaria pada saat itu telah mengambil keuntungan dari keberadaan gua di bentang alam karst Soca River. Begitu juga dengan tentara Italia yang menggunakan lembah kering untuk akses serangan. Bagi Indonesia, kita masih ingat dengan perang gerilya Pangsar Jenderal Sudirman yang mengambil tempat di wilayah pegunungan kapur selatan Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan nama Gunung Seribu (Bahasa Jawa : Gunung Sewu).

Pasca Perang Dunia ketika kita melihat sejumlah peperangan kontemporer, sekali lagi menegaskan bahwa bentang alam karst masih menjadi salah satu pilihan untuk dijadikan medan tempur. Sulitnya tentara Amerika mengalahkan gerilyawan Al-Qaeda di Afganistan timur juga disebabkan karena gerilyawan Al-Qaeda memanfaatkan jaringan gua yang ada di bentang alam karst (Zecevic dan Jugwirth, 2007) untuk persembunyian sekaligus serangan. Peperangan di timur tengah pun tidak lepas dari strategi penguasaan sumberdaya air di bentang alam karst.

Kenampakan khas yang mencirikan bentang alam karst atau batuan kapur yang berpengaruh pada pertimbangan taktis dan teknis militer antara lain adanya gua-gua kapur sebagai tempat perlindungan, bukit-bukit kapur berbentuk menara atau kerucut, langkanya sumber air permukaan serta adanya lembah kering sebagai akses/jalan pendekat. Berikut ini penjelasan singkat tentang karakteristik tersebut.

Gua-gua Kapur

Keberadaan gua-gua kapur sebagai tempat perlindungan. Ciri morfologi bentang alam karst yang paling mudah dikenali adalah keberadaan gua. Gua merupakan hasil dari proses pelarutan batugamping sepanjang kekar (retakan batuan), bidang perlapisan batuan, dan mintakat (zone) dekat muka air tanah. Gua dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk lorong bervariasi dari mendatar, miring, hingga vertikal. Besar lorong pada umumnya sangat bervariasi. Mulut gua yang sempit tidak berarti mengindikasikan lorong gua yang sempit. Sangat sering dijumpai di lapangan, ruangan-ruangan gua yang besar (chamber) ditemukan pada gua yang mempunyai mulut yang sempit. Ruangan gua terluas yang sudah diketahui saat ini dijumpai di Sarawak (Lubang Nasib Bagus) yang mencapai luasan 28 ha atau kurang lebih 28 kali lapangan bola. Gua-gua kapur di daerah latihan gabungan TNI Kaliorang Sangatta Kaltim oleh penduduk setempat dikenal dengan nama liang, salah satunya yang terkenal adalah Liang Pe Malawan.

Gua merupakan persembunyian dan tempat perlindungan yang paling ideal dalam taktik gerilya. Keberadaan gua sering tidak dapat dikenali dari permukaan karena tertutup oleh vegetasi dan pepohonan yang lebat. Ruang gua sering berukuran sangat besar yang dapat menampung satu regu maupun satu kompi. Gua juga dapat saling berhubungan satu dengan yang lain, bahkan tembus dari satu mulut gua ke mulut gua yang lain. Di beberapa tempat, lorong gua juga memiliki sumber air dalam bentuk genangan (static pool) maupun aliran sungai bawah tanah. Static pool merupakan akumulasi air yang berasal perkolasi atau tetesan air dari atap gua. Contoh pemanfaatan gua untuk kepentingan perang ditunjukkan pada Gambar 3.

Bukit Kapur dan Medan Terbuka

Bukit-bukit kapur sebagai medan kritik. Ciri morfologi kedua yang sering dijumpai di bentang alam karst adalah bukit-bukit karst yang berbentuk kerucut atau menara. Bukit-bukit karst merupakan bagian batugamping yang belum terlarut (terkikis). Bukit-bukit di lapangan terlihat sambung-menyambung dan sangat rapat. Karena keterdapatan bukit yang rapat dan jumlah yang sangat banyak inilah, kawasan karst di beberapa daerah di Indonesia disebut dengan Gunung Seribu (Jawa : Gunung Sewu). Jika diamati dari foto udara, bukit-bukit karst pada umumnya berjajar atau melingkar mengelilingi lembah kering atau cekungan tertutup.

Medan yang terbuka relatif luas diperlukan dalam operasi militer untuk kepentingan Pos Komando Utama maupun penempatan Patobrig. Medan yang relarif luas di bentang alam karst pada umumnya berupa polje. Polje merupakan dataran di bentang alam karst yang salah satu atau kedua sisinya dibatasi oleh tebing terjal (Ford dan Williams, 2009). Di sisi-sisi tebing terjal di sisi polje pada umumnya juga terdapat pemunculan mataair atau tempat masuknya sungai permukaan ke dalam jarigan sungai bawah tanah. Polje pada umumnya mempunyai material dasar endapan aluvium, yaitu endapan hasil erosi tanah dari lereng-lereng perbukitan di sekitarnya. Air tanah di poje pada umumnya dangkal . Polje dapat dijumpai di pinggiran kawasan karst maupun di tengah-tengah kawasan karst.

Medan terbuka dengan ukuran yang lebih kecil di bentang alam karst adalah uvala. Uvala merupakan gabungan dari doline-doline. Diameter uvala dapat mencapai satu kilometer. Jika polje pada umumnya berbentuk dataran yang memanjang, uvala di daerah tropis pada umumnya berbentuk seperti bintang (tampak atas). Dasar uvala pada umumnya merupakan tempat akumulasi sedimen hasil erosi dari perbukitan di sekitarnya. Permukaan tanah relatif datar, ketebalan tanah dapat mencapai lebih dari dua meter.

Keterdapatan Sumber Air

Ciri ketiga adalah secara hidrologis bentang alam karst menampakkan langkanya sumber air permukaan. Sebagian besar air berada di bawah tanah sebagai sungai bawah tanah. Sungai permukaan jarang dijumpai di bentang alam karst. Langkanya air permukaan di bentang alam karst disebabkan oleh rongga-rongga hasil perlarutan membentuk porositas sekunder. Rongga-rongga hasil pelarutan dapat dikenali di lapangan dengan mudah melalui keberadaan singkapan batuan yang berlubang-lubang. Di dasar cekungan tertutup rongga-rongga pelarutan dapat berdiamater lebih dari satu meter membentuk gua vertikal. Rongga-rongga pelarutan tersebut merupakan tempat masuknya aliran permukaan ke dalam jaringan sungai bawah tanah. Persentase air hujan yang tertinggal sebagai aliran permukaan (koofisien runoff) di bentang alam karst hanya berkisar antara 5 hingga 28 persen (MacDonald, 1983; Setyahadi, 2003).


Mata air dijumpai sebagai pemunculan sungai bawah tanah ke permukaan. Pemunculan mataair di bentang alam karst sering berasosiasi dengan lembah kering (Haryono dkk, 2005; Kusumayuda dan Zen, 2000; Kresic, 1995; Parizek, 1976). Hal ini dikarenakan lembah kering di bentang alam karst terkontrol oleh struktur geologi yang berupa sesar atau kekar. Peluang terbesar ditemukan mataair pada umumnya di ujung-ujung lembah kering yang paling lebar dan panjang. Sumber air di bentang alam karst juga dapat dijumpai di mataair-mata air epikarst, yaitu mata air yang muncul di mintakat dekat permukaan dari bentang alam karst. Matair ini muncul di lereng-lereng atas perbukitan karst. Mataair ini bukan merupakan pemunculan sungai bawah tanah, tetapi hanya pemuculan pada bidang-bidang perlapisan, sehingga mataair ini pada umumnya mempunyai debit yang kecil dengan kualitas air yang baik. Mataair tipe ini sulit diidentifikasi dari citra penginderaan jauh.

Sumber air permukaan yang dapat dijumpai di bentang alam karst adalah telaga. Telaga terbentuk di dasar-dasar doline. Air telaga sebagian besar mempunyai kualitas air kelas III yang tidak dapat digunakan untuk bahan baku air minum. Air telaga pada umumnya sangat keruh, terutama pada saat musim penghujan. Namun demikian pada kondisi darurat air telaga dapat digunakan dengan terlebih dahulu mengendapkan material tersuspensi dengan cara mendiamkan lebih dari 24 jam.

Lembah Kering

Ciri morfologi terakhir bentang alam karst adalah adanya lembah-lembah kering sebagai jalan pendekat. Lembah dan cekungan tertutup dihasilkan oleh proses pelarutan yang lebih intensif dari daerah sekelilingnya. Lembah-lembah karst pada umumnya tidak berair. Lembah yang tidak pernah berair ini dikenal dengan sebutan lembah kering. Di beberapa tempat, lembah karst hanya dialiri air pada saat hujan. Aliran air kemudian masuk ke dalam gua dan menghilang ke sistem jaringan sungai bawah tanah. Sungai-sungai bawah tanah di kawasan karst terkadang muncul kembali di permukaan.

Mobilisasi perlatan tempur ataupun gerilya di bentang alam karst pada umumnya sangat berat. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya medan yang datar, sehingga melintas di bentang alam karst harus naik turun bukit yang sambung menyambung. Kondisi ini menyulitkan pergerakan peralatan perang angkatan darat. Medan yang paling mudah dilewati di bentang alam karst adalah lembah kering. Lembah kering dalam terminologi ilmu kebumian sering disebut dengan koridor, karena lembah kering dapat menghubungkan tempat satu dengan lainya. Dasar lembah kering pada umumnya datas atau landai. Pada kondisi terbuka (tidak berhutan), lembah kering dapat dilalui oleh semua kendaraan militer.

Penutup

Karakteristik medan untuk kepentingan operasi militer dalam tulisan ini hanya memberikan ciri umum yang pada umumnya dijumpai di bentang alam karst. Variasi karakteristik medan antara kawasan karst satu dengan yang lainnya dipatikan akan selalu dijumpai di lapangan. Karakteristik medan yang penting harus diperhitungkan dalam operasi militer di bentang alam karst terutama adalah langkanya air permukaan, keberadaan gua untuk kepentingan lindung, bukit-bukit kapur sebagai medan kritik dan keberadaan lembah kering untuk akses utama.

No comments:

Post a Comment