Tuesday, September 7, 2010

India Akan Buat Rudal Hipersonik

Model rudal BrahMos diluncurkan dari darat, dipamerkan oleh BrahMos saat Naval Defence 2010 di Surabaya. (Foto: Berita HanKam)

07 September 2010 -- India berencana mengembangkan rudal jelajah hipersonik berkecepatan maksimal 6000 km per-jam guna meningkatkan kemampuan serangan udara, diberitakan harian India the Times of India, Senin (6/9).

Rudal hipersonik akan dikembangkan berdasarkan rudal supersonik BrahMos, Rusia telah menawarkan bantuan teknis, diberitakan the Times of India, mengutip pernyataan pejabat Kementrian Pertahanan India.

Kesepakatan antara India dan Rusia akan diteken saat kunjungan Presiden Rusia Dmitry Medvedev ke India Desember, tambah pejabat tersebut.

Rudal jelajah supersonik BrahMos mampu mencapai kecepatan 3 March, setengah dari versi hipersonik. Rudal hipersonik akan lebih bertenaga saat penetrasi ke sasaran dibandingkan rudal supersonik.

Rudal supersonik dirancang mempunyai jarak jelajah sekitar 300 km, diharapkan siap dioperasikan 2016, akan dipasang di kapal perusak siluman buatan India.

Saat ini hanya sedikit negara di dunia yang mengembangkan rudal hipersonik, seperti Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat telah menguji coba rudal hipersonik yang ditembakan dari pembom B-52 di Samudera Pasifik pada 26 Mei 2010. Rudal mampu mencapai kecepatan 6 March tetapi hanya mampu terbang kurang dari 200 detik.

Xinhua/Berita HanKam

SAF Strengthens Combat Fitness Training

07 September 2010 -- The Singapore Armed Forces (SAF) rolled out changes to its combat fitness training system on 1 Sep to meet an increasingly complex and urbanised operational environment, announced Chief of Army Major-General (MG) Chan Chun Sing on 7 Sep at Seletar Camp.

He said: "To better prepare our soldiers to meet evolving operational demands, the SAF has strengthened its combat fitness training system, leveraging advances in fitness training science."

The changes come in the form of modifications to the existing exercise regime, as well as a redesign of its Standard Obstacle Course (SOC). All SOC grounds will be updated by June 2011.

The first prong of the new system - termed Vocation Related Exercises (VREs) - aims to strengthen specific muscle groups that in-service personnel will use to carry out combat tasks specific to their vocations.

Elaborating on the VRE, Assistant Chief of the General Staff (Training) Colonel (COL) Ng Wai Kit gave an example from the artillery vocation, where the soldiers need more upper body strength to carry 155mm shells. So one of their VREs is the Dead Lift which involves lifting a weight from standing position.

Also part of the new system: six old obstacles have been replaced with seven redesigned ones within the existing obstacle course. "The new obstacles have been designed to better emulate the operating environment and will better develop soldiers' strength, agility and endurance for basic combat movement and tasks," said COL Ng.

For example, the third obstacle - named Rubble - trains soldiers to move through damaged urban spaces made up of collapsed concrete structures. To negotiate this obstacle, soldiers are expected to vault and duck in quick succession, mimicking the action of moving through urban rubble.

Familiar obstacles such as the Low Wall and Jacob's Ladder (now renamed Apex Ladder) also features in the redesigned SOC. These train basic confidence in executing combat manoeuvres and have been retained because of their relevance to the evolving operational demands, said COL Ng.

Progressive training will begin with recruits familiarising themselves with the obstacles and learning how to overcome them during Basic Military Training.

Tying it all back to the new combat fitness system that emphasises vocation-specific combat fitness, the Vocational Obstacle Course (VOC), which places greater emphasis on team-based fitness and leadership by junior commanders, was also unveiled. In the VOC, soldiers have to clear the redesigned combat obstacles as a section or a detachment and perform vocation-specific combat tasks along the way.

Pass timings are determined by the individual vocations' requirements, taking into consideration combat load, required actions by the team members and total distance covered. For example, while both Infantry and Artillery soldiers have to run a distance of 300m after clearing the obstacles, the former simulates evacuating an injured team member on a stretcher. These requirements - determined by a soldier's vocation - account for the differences in pass timings.

"These differences reflect the SAF's efforts to ensure that our combat fitness training programmes are customised to the vocations," said COL Ng.

The VOC has been implemented for all Regulars and Full-time National Servicemen and when they progress to Operationally Ready National Service. This will not apply to current batches of Operationally Ready National Servicemen.

Fact Sheet: strengthening combat fitness training for the 3rd generation SAF

As the Singapore Armed Forces (SAF) develops into a full spectrum 3rd Generation force, it faces an increasingly complex and urbanised operational environment. To better prepare our soldiers to meet the evolving operational demands, the SAF has strengthened its combat fitness training system, leveraging on advances in fitness training science. The enhanced SAF combat fitness training system has two main components - the Vocation Related Exercises and the Obstacle Course. These revisions ensure that the SAF's combat fitness training is relevant, customised and progressive.

Vocation Related Exercises (VRE)

The VREs comprise a set of exercises customised to the different vocations in the SAF. The VREs are designed to strengthen specific muscle groups that a serviceman uses to carry out combat tasks in his vocation. These conditioning exercises can be performed indoor or outdoor with commonly available equipment.

Obstacle Course

The SAF has re-designed some of the obstacles in its existing obstacle course to better emulate the new operating environment. They will better develop the soldiers' strength, agility and endurance for basic combat movement and tasks.

The SAF has introduced a new Vocation Obstacle Course (VOC), while keeping the existing Standard Obstacle Course (SOC). Soldiers in the Basic Military Training, Specialist Cadet Course, and Officer Cadet Course will continue the current progressive training and individual qualification through the SOC with the re-designed obstacles. Soldiers in the units will embark on the new team-based VOC, which is customised to each vocation's combat skills and load, and places greater emphasis on team qualification led by section commanders.

Implementation

The VREs have already been incorporated as part of the serviceman's training to improve his combat fitness. The current obstacle course will be re-designed in the next 12 months. The new VOC will be implemented for all regulars and full-time National Servicemen during their active service and when they progress to Operationally Ready National Service (ORNS). The new VOC will not apply to the current batches of NSmen.

Mindef

2 Sukhoi TNI AU Akan Tiba 9 September

Sukhoi dan F-16 terbang dalam formasi saat memeriahkan HUT ke-64 TNI AU, 9 April 2010. (Foto: Getty Images)

07 September 2010 -- Rusia akan mengirimkan dua jet tempur Sukhoi TNI AU, Kamis (9/9), dua hari lebih lambat dibandingkan pengumuman sebelumnya, ungkap sebuah sumber.

Pesawat angkut Antonov AN-124 membawa dua jet tempur Sukhoi Su-27SKM ke pangkalan udara Sultan Hasannudin di Makassar.

Penyebab keterlambatan masalah teknis, sedangkan jet tempur terakhir tetap dikirimkan 16 September 2010.

Jakarta meneken kontrak pembelian 3 Su-30MK2 dan 3 Su-27SKM senilai 300 juta dolar pada 2007, seluruh pesawat diterima oleh TNI AU akhir 2010. Jakarta telah membeli 2 Su-27SK dan 2 Su-30MK pada 2003.

TNI AU direncanakan akan menampilkan seluruh jet tempur saat parade militer HUT TNI pada 5 Oktober.

Indonesia berencana membeli 6 Sukhoi lagi untuk melengkapi 16 skuadron Sukhoi.

RIA Novosti/Berita HanKam

49 Kadet AAL Ikuti Latek Peninggalan Cepat


7 September 2010, Surabaya -- Sebanyak 49 Kadet Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) mengikuti program Latihan dan Praktek (Latek) peninggalan cepat . Latihan peninggalan cepat yang diikuti oleh para Kadet tingkat III dan IV korps Marinir tahun 2010 ini, menggunakan lima unit Kendaraan Amfibi (Ranfib) BTR 50 PM, bertempat di Kolam Basin, Koarmatim Ujung, kemarin, Senin (6/9).

Dalam latek ini menekankan pentingnya mewaspadai terhadap bahaya yang mungkin akan dihadapi oleh para Kadet saat melaksanakan tugas sebagai Pasukan Pendarat (Pasrat). Segala kemungkinan bahaya itu bisa saja terjadi, baik yang disebabkan oleh unsur manusia maupun dari peralatan, serta kondisi lingkungan alam sekitarnya. Dengan diberikannya materi latihan dan praktek tentang prosedur dan ketetapan (Protap) semacam ini, dimaksudkan untuk mencegah dan mengurangi kerugian baik materiil maupun personel sebagai akibat kesalahan prosedur dan ketetapan yang ada. Dengan demikian Zero Accident sebagaimana yang telah dicanangkan oleh pimpinan TNI AL dalam setiap olah gerak dan latihan dapat tercapai.

Dispenaramatim

Antonov Rusak, Kiriman Dua Sukhoi dari Rusia Batal Tiba di Makassar


07 September 2010, Makassar -- Dua pesawat jet tempur jenis Sukhoi dari Rusia batal tiba di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, pagi ini. Pesawat Antonov AH 124 100 milik Rusia yang bakal mengangkut kedua Sukhoi jenis terbaru tersebut dikabarkan mengalami kerusakan.

Rencananya, pesawat Antonov yang mengangkut dua pesawat canggih buatan negeri eks Uni Soviet ini tiba di Makassar sekitar pukul 09.00 Wita. Namun persiapan penyambutan dibatalkan setelah Lanud Sultan Hasanuddin mendapat kabar penerbangan pesawat Antonov batal.

"Informasi yang kami terima, pesawat Antonov batal terbang dari Moscow karena mengalami trouble," kata Kepala Penerangan Lanud Sultan Hasanuddin, Mayor Muliadi.

Dia mengatakan, persiapan penyambutan pesawat Sukhoi telah dilakukan sejak dini. Hanya saja, pembatalan dilakukan tiba-tiba akibat kendala tersebut. "Kedatangan pesawat akan dijawadlkan Kamis," katanya. "Satu pesawat akan menyusul tanggal 15 September nanti."

Jenis Sukhoi yang akan tiba di Makassar itu adalah SU 27 SKM. Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan membeli tiga unit Sukhoi yang akan melengkapi tujuh koleksi yang sudah merapat di Skadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin.

Sejak 2003, Indonesia membeli dua Sukhoi jenis SU 30 MK dan dua SU 27 SK. Pada 2007 kembali membeli lagi tiga Sukhoi SU 30 MK2, dan tiga jenis SU 27 SKM. Terakhir, tiga Sukhoi jenis SU 30 MK2 tiba Desember 2008 dan Januari 2009.

TEMPO Interaktif

Boeing Vigilare Enters Service with RAAF After Successful Multinational Air Combat Exercise


07 September 2010, BRISBANE, Queensland -- Vigilare, the Boeing [NYSE: BA] Network Centric Command and Control System (NC3S) developed for the Commonwealth of Australia, has entered service with the Royal Australian Air Force (RAAF) after excelling in a major multinational air combat exercise.

On Sept. 2, the RAAF began using the Vigilare Northern Regional Operations Centre (NROC) at RAAF Base Tindal, Northern Territory, for surveillance and battlespace management operations across Australia.

“With the acceptance into operational service for NROC, the RAAF and Defence Materiel Organisation (DMO) have concluded that the enhanced capability provided by Vigilare provides a robust Air Defence Command and Control (C2) system for Australia,” said Tim Malone, DMO project director for Project Air 5333 - Vigilare. “NROC is now correlating a myriad of data feeds from sensors and information across Defence, civil and foreign sources providing directed air surveillance and air battle management capabilities for the RAAF. In my opinion, this capability, especially the sophisticated Tactical Data Link implementation, is arguably world-class.”

“We’re extremely pleased with the way Vigilare has transitioned into operational service at NROC,” said Steve Parker, vice president and general manager of Network and Space Systems for Boeing Defence Australia. “It’s indicative of the considerable engineering and project management rigor we’ve applied and the pragmatic relationship between Boeing, our supplier partners and our Australian Defence Materiel Organisation and RAAF customers. Vigilare has set the benchmark for future complex systems integration within the Australian Defence Force by bringing several disparate systems together to create a true systems-of-systems environment.”

Prior to service entry, Vigilare participated in “Pitch Black 2010” -- one of the RAAF’s largest and most complex air combat exercises, which also involved the air forces of Singapore, Thailand and New Zealand. During the exercise, held July 16-Aug. 6, NROC was used as the central C2 node, providing continuous surveillance and battlespace management for offensive counter-air and offensive air-support operations.

The system interacted with multiple assets, including RAAF F/A-18 Hornets, F-111s, Hawks, forward air control PC-9s, and AP-3C Orions; Republic of Singapore Air Force (RSAF) and Royal Thai Air Force F-16s; an RSAF E2-C Hawkeye Airborne Warning and Control aircraft, and other air mobility and air-to-air refueling assets.

“We proved at Pitch Black that Vigilare is able to provide a comprehensive picture of the skies above in a coalition environment,” said Parker. “This system is a game changer for the RAAF because of its fully integrated data link capabilities, multi-level communications, multisource correlator tracking, and advanced system management capabilities.”

Vigilare is on track for final system acceptance in mid-2011. The next major milestone leading up to this is completion of the Eastern Regional Operations Centre at RAAF Base Williamtown, New South Wales.

NC3S works by combining information in near real-time from a wide range of platforms, sensors, tactical data links and intelligence networks to deliver tactical and strategic surveillance operations and battlespace management in the air and joint domains. The live inputs from these sources present a unified operational picture to the operator at single or multiple control centers. NC3S is currently part of a broader offering from Boeing to other countries, including the United Arab Emirates.

Boeing Defence Australia, a wholly owned subsidiary of The Boeing Company and a business unit of Boeing Defense, Space & Security, is a leading Australian aerospace enterprise. With a world-class team of more than 1,500 employees at 14 locations throughout Australia and two international sites, Boeing Defence Australia supports some of the largest and most complex defense projects in Australia.

A unit of The Boeing Company, Boeing Defense, Space & Security is one of the world's largest defense, space and security businesses specializing in innovative and capabilities-driven customer solutions, and the world’s largest and most versatile manufacturer of military aircraft. Headquartered in St. Louis, Boeing Defense, Space & Security is a $34 billion business with 68,000 employees worldwide.


Boeing Company

Israel Aerospace Industries Completed Series of Successful Flight Tests of Colombian Air Force's Boeing 767 Air Refueling Aircraft


05 September 2010 -- Itzhak Nissan, President and CEO of Israel Aerospace Industries: "We are proud to be working with such a distinguished customer as the Colombian Air Force, and are pleased to have been chosen to take on such critical projects as supplying and upgrading Kfir aircraft and supplying aerial refueling aircraft. These projects reflect IAI's strength and its integrative capabilities."

A series of successful flight tests aimed at opening the flight envelope have been completed for the pre-owned B767-200ER (Extended Range) aircraft, converted by Bedek Aviation Group of Israel Aerospace Industries (IAI) to a Multi Mission Tanker Transport (MMTT) configuration for the Colombian government and the end user, the Colombian Air Force.

The converted aircraft is equipped with two Wing Air Refueling Pods (WARPs) of the ARP3 model, developed and manufactured by IAI.

During the first 3.5-hour flight test, the full envelope, including altitude, speed, and Mach number, was opened without any flutter or buffet problems. Additional in-flight refueling tests of a C10 Kfir fighter jet, also produced by IAI, were successfully completed.

The MMTT pilot reported an extremely smooth flight with no technical events.

The air refueling system functioned very well, and the first hook-ups and fuel transfers were the most exciting moments of the flight. IAI's test pilot team that flew the aircraft reported that the systems performed flawlessly. The pilot of the Kfir (the aircraft being refueled) appreciated the easy, stable hook-up in each of the two WARPs.

As previously reported, IAI was awarded a multi-year contract in 2007 worth more than $150 million to upgrade the Colombian Air Force's Kfir aircraft. In June of 2009, the first Kfir aircraft were redelivered to the Colombians, and have been in operational activity ever since.

The tanker conversion project, which lasted more than two years, was completed by IAI's technicians, flight test pilots, and engineers, all of whom contributed to the development and integration of the air refueling system into the B767. Their dedication and hard work culminated in the minutes during which the tanker and the Kfir met in the air and performed the hook-up, an "exciting and proud" moment for those involved in the project.

IAI's chief test pilot Ronen Shapira, who flew behind the B767-200ER in a G250 business jet aircraft, also confirmed the smooth flight: "The flights were successful, and the aircraft performed extremely well with the air refueling pods. The aircraft performance and overall stability of the aircraft and the drogues all displayed impressive results."

Eli Hattem, General Manager of IAI's Bedek Aviation Group, commented: "These successful flight tests are an important milestone in this conversion. We are pleased to report that everything is progressing smoothly and look forward to continuing to strengthen our ties with the Colombian government and its Air Force."

In the coming days, the B767-200MMTT will perform additional flights before its redelivery to the Colombian Air Force.

IAI

Malaysia Emoh Minta Maaf

(Foto: Getty Images)

07 September 2010, Kota Kinabalu -- Setelah membahas kasus penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Malaysia setuju memberikan perlakuan yang sopan dan pantas dalam penanganan kasus yang melibatkan aparat Pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Luar Negeri Malaysia Hanifah Aman bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa di Hotel Le Meridien, Kota Kinabalu, Sabah, Senin (6/9). Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Iwan Santosa, dari Kota Kinabalu semalam.

Seusai pertemuan, Hanifah mengatakan, Malaysia tak akan memborgol dan mengenakan baju tahanan kepada aparat Indonesia dalam kasus sengketa perbatasan yang kini belum tuntas. ”Penanganan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM) sudah sesuai standar prosedur operasi. Belajar dari peristiwa 13 Agustus lalu, diputuskan untuk memberikan pengecualian dalam menangani kasus yang melibatkan aparat Pemerintah Indonesia,” kata Hanifah.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, tidak ada aparat negara lain yang mendapatkan perlakuan seperti dijanjikan Malaysia kepada Indonesia.

Marty juga menegaskan, sengketa perbatasan dua negara yang menjadi ujung pangkal klaim pelanggaran batas dua negara tidak akan dibawa ke Mahkamah Internasional. ”Indonesia adalah payung yang menjadi panutan bagi negara ASEAN. Sengketa yang dibawa ke Mahkamah Internasional terjadi antara negara yang tidak mampu berdiplomasi dan berhubungan baik. Penyelesaian masalah oleh pihak Indonesia selalu diajukan melalui diplomasi dengan semangat kesetaraan,” ujar Marty.

Maaf yang tak jelas

Ketika ditanya adakah permintaan maaf dari Malaysia terkait perlakuan kasar terhadap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Marty tak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan, Malaysia berjanji belajar dari insiden 13 Agustus dan memberikan pengecualian bagi aparat pemerintah.

Menurut Marty, ada hal-hal penting yang dicapai oleh kedua pihak yang turut dibahas dalam pertemuan dua menteri. Namun, Menlu tidak memerinci apa yang dimaksud dengan hal-hal itu.

”Belajar dari kasus sengketa perbatasan laut dan penangkapan tiga petugas KKP, disepakati untuk melibatkan instansi terkait seperti KKP dalam Joint Border Committee (JBC) Indonesia-Malaysia yang selama ini hanya berintikan militer dan kepolisian. Selama ini instansi terkait seperti KKP tidak berkomunikasi langsung dengan pihak Malaysia seumpama PDRM,” kata Marty.

Di pihak Malaysia, Jawatan Penguat Kuasa Maritim atau Malaysian Maritime Enforcement Agency juga dilibatkan dalam JBC.

KOMPAS

Beda Persepsi, Perundingan Kinabalu Tak Maksimal

(Foto: Getty Images)

07 September 2010, Kinibalu -- Perundingan Indonesia-Malaysia ke-16 yang dilakukan kemarin tidak mencapai hasil konkret karena adanya perbedaan persepsi dalam masalah yang dirundingkan.

Seperti dilaporkan AP, pihak Indonesia menginginkan pembicaraan difokuskan pada masalah perbatasan dan penangkapan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sementara itu, pihak Malaysia menginginkan Indonesia menyelesaikan penghinaan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia terhadap atribut kenegaraan negara itu, di mana atribut itu dibakar dalam beberapa demonstrasi. Begitu juga pelemparan gedung Kedubes Malaysia dengan tinja yang dinilai sangat tidak etis dalam hubungan diplomatik kedua negara.

Kepala Bidang Penerangan KBRI Malaysia Widyarka Ryananta mengatakan, pertemuan kali ini yang diagendakan berlangsung sekitar tiga jam masih akan merupakan awal dari penyelesaian sejumlah sengketa perbatasan dua negara.

"Masalah perbatasan, apalagi ada klaim kedua pihak, tidak mudah. Negara lain pun sampai puluhan tahun menyelesaikannya," kata Widyarka.

Menurut dia, dalam agenda perundingan Indonesia menghendaki persoalan perbatasan menjadi bahasan utama. Tema lain yang diusulkan adalah insiden penangkapan tiga petugas KKP, 13 Agustus lalu.

Sementara itu, Malaysia menghendaki ada pembahasan terkait aksi demonstrasi yang disertai pelemparan tinja ke gedung kedutaannya di Jakarta. Malaysia menganggap hal itu sebagai penghinaan. "Sehari ini rasanya terlalu berlebihan kalau mengharapkan terlalu tinggi," kata Widyarka.

Pada perundingan yang dipercepat dari jadwal sebelumnya ini, kedua Menteri Luar Negeri akan memimpin langsung tim perunding dari dua negara.

Kedua pejabat tinggi melakukan pertemuan tertutup empat mata pada pukul 15.00 waktu setempat dan selanjutnya tim perunding akan membahas isu-isu yang telah disepakati.

Pada sore harinya, kedua pejabat dijadwalkan memberikan pernyataan pers, dan acara kemudian ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama. Perundingan perbatasan antara dua negara ini sudah berlangsung sejak 2005 dengan lokasi bergiliran.

Sedikitnya ada sepuluh titik perbatasan yang dianggap bermasalah, baik di darat maupun laut, antara Indonesia-Malaysia.

Di antara titik-titik bermasalah itu adalah Tanjung Datu di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak serta titik batas di Pulau Sebatik.

Sementara di laut persoalan terjadi antara lain di perbatasan perairan Ambalat yang pada tahun lalu juga sempat menyulut sentimen keras anti-Malaysia di Jakarta.

Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie berharap agar Malaysia punya kemauan kuat untuk menyelesaikan masalah perbatasan ini. "Malaysia harus punya kemauan yang kuat untuk menyelesaikan masalah (perbatasan) dengan Indonesia," kata Marzuki.

Marzuki tidak dapat memprediksi kira-kira apa kesimpulan yang akan dihasilkan dalam perundingan itu. Yang jelas, dia berharap ada penyelesaian terkait perbatasan kedua negara bertetangga ini. "Kita tunggu saja (hasilnya)," kata politisi senior Partai Demokrat ini.

Penyelesaian masalah perbatasan ini, lanjut Marzuki, sebaiknya biar berjalan dulu antara pemerintah kedua negara tersebut. Namun, jika nantinya sampai dibutuhkan tim investigasi untuk menyelidiki masalah ini, menurutnya, itu bergantung pada kesepakatan antara negara-negara yang tergabung ASEAN.

"Itu tergantung pada kesepakatan sebenarnya (perlu tidaknya tim investigasi), karena ini bisa dibicarakan oleh sesama negara ASEAN, misalnya di ASEAN Charter," katanya.

Pertemuan di Kinabalu ini merupakan pertemuan rutin tahunan. Namun, acara ini dipercepat dari jadwal bulan November menjadi hari ini menyusul insiden penangkapan di perairan Pulau Bintan pada 13 Agustus 2010 yang memanaskan hubungan kedua negara tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berharap agar Pemerintah Indonesia tidak ragu-ragu menggunakan tapal batas dalam menyelesaikan konflik perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

"Hendaknya pemerintah kita dalam hal ini tidak ragu. Kita sarankan pemerintah agar tidak ragu-ragu menggunakan tapal batas yang dahulunya pernah menjadi keputusan yang disepakati dari kacamata PBB," katanya di gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, keputusan tapal batas versi PBB tersebut dapat dijadikan tolok ukur kedua negara dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi itu.

Dia juga mengingatkan agar konflik yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia tetap dapat diselesaikan secara santun dan tegas.

"Kami garis bawahi untuk pemerintah, presiden, menteri, dan juru runding agar dapat menjadikan ini sebagai prioritas dan tak terlalu lama untuk diselesaikan," ujarnya.

Sedangkan Ketua DPR Marzuki Alie berharap agar Malaysia memunyai kemauan kuat untuk menyelesaikan masalah perbatasan dengan Indonesia.

Dia menilai, dalam proses penyelesaian masalah perbatasan itu sebaiknya biar berjalan dulu antara pemerintah kedua negara tersebut.

Namun, ujar dia, jika nantinya sampai dibutuhkan tim investigasi untuk menyelidiki masalah ini, maka hal itu bergantung pada kesepakatan antara negara-negara yang tergabung dalam ASEAN.

"Itu tergantung pada kesepakatan, sebenarnya apakah perlu atau tidaknya tim investigasi, karena ini bisa dibicarakan oleh sesama negara Asean, misalnya di ASEAN Charter," katanya.

Mengenai tiga WNI yang telah dijatuhi hukuman mati, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dalam siaran pers yang diterima Suara Karya mengungkapkan, pemerintah telah mengajukan keringanan hukuman.

Pemerintah Indonesia juga akan terus memberikan bantuan hukum dan advokasi bagi WNI lainnya yang tengah menghadapi proses hukum di negeri jiran tersebut. Hal ini dikhususkan pada mereka yang terancam hukuman mati. "Permintaan keringanan hukuman atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan hubungan baik kedua negara," demikian siaran pers Kemenlu itu.

Selain itu, pertemuan juga menggarisbawahi pentingnya pendirian dan pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi anak-anak WNI usia wajib sekolah di wilayah Malaysia (Sabah).

"Pendirian pusat belajar tersebut sangat penting untuk memfasilitasi banyaknya anak usia sekolah," demikian siaran pers tersebut.

Tiga WNI dijatuhi hukuman mati di Malaysia setelah Pengadilan Tinggi setempat menyatakan mereka bersalah dalam kasus penyelundupan narkoba. Penyelundupan ganja 1.858 gram di Sungai Petani itu terjadi lima tahun lalu.

Putusan itu dijatuhkan hakim Datuk Zamani A Rahim seperti dilansir The Star, Minggu (18/7/2010). Ketiga WNI itu adalah Amri Alamsyah, 41, Iskandar Ibrahim, 33, dan Muhammadiah Hasan, 31. Ketiga warga Aceh itu bersama-sama menyelundupkan narkoba pada 6 April 2005.

Suara Karya

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan

Presiden SBY menyampaikan pernyataan mengenai kasus ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia di Markas TNI, Cilangkap, Rabu (1/9/2010) malam. Dalam pidatonya, Presiden SBY memilih jalur diplomasi ketimbang perang. (Foto: Abror Rizki/Setpres)

06 September 2010 -- Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soe- harto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503- 1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini. (Adjie Suradji Anggota TNI AU)

Danlanud akui keberanian Kolonel Adjie

Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat kritik pedas dari bawahannya. Adalah Adjie Suradji, anggota TNI Angkatan Udara, yang berani melakukan kritik itu di Harian Kompas.

Secara terbuka, Adjie mengkritik Presiden SBY lewat tulisan artikelnya di kolom Opini terbitan Senin (6/9/2010). Adjie menyerang kepemimpinan Presiden lewat tulisan berjudul Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan.

Selain mengkritik kepemimpinan SBY dalam menggerakkan roda pemerintahan, Adjie juga mempertanyakan keberanian SBY sebagai panglima tertinggi TNI.

Adjie Suradji kini berpangkat sebagai kolonel dan tengah menjabat sebagai staf operasional di Mabes TNI AU.

Ayah dari Theo Natalie Barton ini pernah menjabat sebagai Komandan Lapangan Udara Syamsudin Noor di Banjarmasin pada 1997-1999. Jabatan yang diembannya waktu itu masih berpangkat Letnan Kolonel Penerbang.

Suami dari Meity Rotinsulu itu melawan adat militer yang melarang bawahan mengkritik atasan. Apalagi, sasaran kritiknya adalah panglima tertinggi TNI, yakni Presiden.

Saat dikroscek, petugas Lanud Syamsudin Noor membenarkan jika yang bersangkutan pernah menjabat sebagai Komandan Lanud. Sosoknya memang tidak banyak diketahui publik.

"Saya tidak tahu mengenai sosoknya, yang jelas dia senior saya. Tidak pernah bertemu dan tidak tahu mengenai pemikiran dan program kerja beliau, khususnya dengan keluarnya tulisan tersebut," ujar Letkol Pnb Singgih Hadi, Komandan Lanud Syamsudin Noor, Senin (6/9/2010).

Ia mengakui, memang dengan apa yang dilakukan Adjie merupakan suatu langkah yang sangat berani. Terlebih dengan tulisannya yang begitu terang-terangan dan terbuka.

"Itu pemikiran beliau, tiap orang punya hak untuk berpendapat. Salah satunya itu yang digoreskan dalam sebuah hasil karya berupa tulisan," tegasnya.

KOMPAS

Monday, September 6, 2010

Pertemuan Indonesia-Malaysia di Sabah, Hanya Bicarakan Insiden Bintan

Menlu Malaysia Anifah Aman memberikan penjelasan kepada para wartawan target pertemuan kedua Menlu RI-Malaysia di Kota Kinabalu, Malaysia, Senin (6/9), guna membahas insiden perairan Bintan, perbatasan dan TKI yang dapat memicu ketegangan hubungan kedua negara. (Foto:ANTARA/Adi Lazuardi/Koz/hp/10)

06 September 2010, Jakarta -- Menlu Malaysia Anifah Aman menegaskan bahwa pertemuan sehari Menlu Indonesia dan Malaysia di Kota Kinabalu, Sabah, Senin, tidak akan bisa menyelesaikan semua permasalahan yang diagendakan untuk dibahas.

"Ini pertemuan ke-16 antara kedua Menlu. Bisa saja persoalannya selesai pada pertemuan ke-17, 18 atau pertemuan berikutnya. Namun agenda pembicaraan sudah disepakati yakni membicarakan insiden di perairan Bintan," kata Menlu Malaysia Anifah Aman, di Kota Kinabalu.

Menlu RI Marty Natalegawa bertemu dengan mitranya dari Malaysia Anifah Aman untuk membahas berbagai masalah yang berkembang belakangan ini, terutama soal perbatasan dan insiden di perairan Bintan yang membuat ketegangan hubungan kedua negara bertetangga dan serumpun ini. "Agenda pimbicaraan di antaranya insiden perairan laut Bintan, masalah perbatasan, dan TKI," kata Anifah.

Dengan masuknya masalah TKI maka kedua Menlu telah sadar bahwa ketegangan hubungan kedua negara yang sering mencuat bukan hanya disebabkan oleh masalah perbatasan tapi juga perlakuan TKI di Malaysia.

"Kami akan membahas bagaimana prosedur pengamanan masalah perbatasan agar insiden Bintan tidak muncul lagi pada mendatang. Kami yakin masalah ini bisa diselesaikan oleh kedua negara dengan baik namun perlu waktu untuk menyelesaikannya. Dalam pertemuan kedua Menlu itu hadir Dubes RI untuk Malaysia dari perwakilan Dephan RI, Polri, dan Bakorsutanal.

Di sisi lain, sayap organisasi Partai Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) meminta pemerintah segera mengambil tindakan tegas dan konkret kepada Malaysia.

"Kita ini sering dikadali Malaysia, dan ini sudah sering terulang, dialog dan pendekatan diplomatik tidak membuat Malaysia benar-benar menghormati kita, bahkan terus mendikte pemerintah," kata Ketua Umum DPP AMPI, Dave Laksono, dalam siaran persnya, Senin.

Dave menilai, imbauan keras Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, semakin menunjukkan pemerintah Malaysia merasa sangat superior terhadap rakyat dan pemerintah Indonesia. "Mereka tahu persis titik lemah RI itu di diplomasi Kementerian Luar Negeri. Jadi, Malaysia tidak akan segan-segan menggertak kita," kata Dave.

Menurut dia, secara ekonomi, RI tidak terlalu tergantung kepada Malaysia, bahkan Malaysia yang sangat tergantung kepada RI. "Investasi Malaysia di perbankan kita sekitar Rp 50 triliun, Telekomunikasi puluhan triliun rupiah. Malaysia juga punya lahan sawit dua juta hektare, belum industri penerbangan. Ekspor kita juga enggak seberapa ke Malaysia. Jadi Malaysia yang sangat tergantung ke kita. Kalau kita tarik dua juta TKI, ekonominya ambruk. Takut apa lagi," kata dave.

AMPI mendesak pemerintah agar segera memberi peringatan keras ke PM Malaysia. AMPI memperkirakan, gertakan PM Malaysia hanya merupakan gertak sambal untuk mengetahui sejauh mana nyali pemerintah RI. AMPI mengingatkan Pemuda UMNO agar tidak bereaksi berlebihan kepada ormas Bendera. AMPI menilai, Pemuda UMNO tidak memahami iklim kebebasan berdemokrasi di Indonesia.

"Di Malaysia itu kan pemerintah semiotoriter dan tidak ada kebebasan berdemonstrasi seperti di RI. Jadi begitu ada demonstrasi seperti dilakukan Bendera, mereka terkaget-kaget. Padahal di Indonesia dan negara-negara seperti Amerika Serikat dan negara demokratis lainnya, demo seperti Bendera itu hal yang biasa. Mereka saja yang kaget-kaget," katanya.

Suara Karya

Singapore and Australian Navies in Bilateral Maritime Exercise

Colonel Soh Cheow Guan and Commodore Philip Spedding exchanging gifts during the opening ceremony of Exercise Singaroo 2010.

05 September 2010 -- The Republic of Singapore Navy (RSN) and the Royal Australian Navy (RAN) are conducting a bilateral maritime exercise, codenamed Singaroo, from 5 to 10 Sep 2010. The Commanding Officer of the RSN's 188 Squadron, Colonel Soh Cheow Guan, and the Director-General Maritime Operations of the RAN, Commodore Philip Spedding, officiated at the opening ceremony held at Coonawarra Naval Base in Darwin, Australia, this morning.

Hosted by the RAN, this year's exercise will be held off the coast of Darwin where both navies will be conducting a series of naval manoeuvres, such as maritime surveillance, combined anti-submarine and air defence exercises, as well as live firings against towed-targets. The RSN is participating with frigate RSS Tenacious, missile corvette RSS Vigour and a Fokker-50 Maritime Patrol Aircraft. Joining them from the RAN are frigates HMAS Arunta and HMAS Toowoomba, submarine HMAS Dechaineux and several aircraft.

In its 14th year, Exercise Singaroo highlights the close and long-standing defence ties shared by both countries. The exercise provides an opportunity for the two navies to enhance interoperability and strengthen professional and personal ties.

Mindef

Scania to deliver 119 complete defence vehicles to Luxembourg and Sweden

The trucks to be delivered to Luxembourg are all four-axle all-wheel-drive Scania G 480 8x8. (Photo: Scania)

01 September 2010 -- Scania has signed an agreement with the NATO Maintenance and Supply Agency (NAMSA) on the supply to the Luxembourg army of 31 all-wheel-drive trucks, 13 of them with mine and ballistic protection. In parallel, the Swedish Defence Materiel Administration (FMV) has ordered 88 logistics trucks, of which four will be equipped for driver training.

The 31 NATO-specification trucks to Luxembourg are all four-axle all-wheel-drive Scania G 480 8x8. The deal involves the first delivery of a new upgraded ballistic protection system, STANAG level 3 on 13 trucks. The vehicles will to a large extent be used on peace-keeping missions, 28 fitted with hooklift bodywork and three with recovery body. Deliveries will take place during 2011

The order from the Swedish defence, part of a running frame agreement, includes 80 three-axle Scania G 400 6x2 logistics vehicles with hooklift bodywork. Four vehicles to be used for driver training are specified with four individual seats in the cab. FMV has also ordered eight four-axle Scania P 400 8x2 with crane and platform bodywork.

For the first time in a deal with FMV the vehicles are fitted with the Scania Communicator 200 on-board data collector for remote follow-up of vehicle and driver performance via a web portal. This is also the first time a repair and maintenance contract is signed with FMV, which includes access to the Scania sales and service network throughout Sweden. Deliveries are scheduled for the first quarter of 2011.

Scania has supplied defence vehicles according to NATO standards since 1998, the largest orders coming from the Netherlands and France, and trucks with mine and ballistic protection since 2001.

Scania

Agus Suhartono Calon Tunggal Panglima

Laksamana TNI Agus Suhartono (Foto: Kompas/Iwan Setiyawan)

06 September 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono menjadi calon tunggal Panglima TNI yang akan menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso.

Namanya diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (6/9/2010). Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, surat Presiden diterima pimpinan DPR siang ini.

"Kami mengadakan rapat pimpinan Dewan. Salah satu hal yang dibahas adalah kami baru terima surat dari Bapak Presiden. Presiden mengajukan satu nama calon Panglima TNI, yaitu Laksamana TNI Agus Suhartono yang sehari-hari sebagai KSAL," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta.

Menurut ketentuan, DPR harus memberikan persetujuan selambat-lambatnya 20 hari kerja. Namun, karena menjelang libur Lebaran, pembahasan mengenai calon Panglima TNI akan diumumkan pada rapat paripurna tanggal 21 September 2010.

"Dalam waktu segera akan diputuskan dalam rapat Bamus atau pengganti Bamus untuk menentukan komisi mana yang akan membahas," ujar Priyo.

Sikap DPR akan diputuskan melalui komisi yang bermitra dengan TNI, yaitu Komisi I. Priyo sendiri menilai Agus Suhartono merupakan figur yang cukup mumpuni. Ia berharap calon tunggal yang diajukan Presiden ini bisa disetujui melalui musyawarah mufakat.

KOMPAS.com

Malaysia Tuduh Petugas DKP Peras Nelayan

Sekitar 50 orang dari Laskar Merah Putih berunjuk rasa di depan Kedubes Malaysia, Jakarta, Senin (16/8/2010). Aksi ini terkait penangkapan 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) oleh Kepolisian Malaysia. (Foto: detikFoto/Didi Syafirdi)

05 September 2010, Jakarta -- Aparat Polis Diraja Malaysia (PDRM) kembali memprovokasi pemerintah Indonesia. Indikasinya adalah beredarnya dokumen berita acara pemeriksaan (BAP) tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri, yang disandera pada pertengahan Agustus lalu.

Dalam dokumen yang diterima Jawa Pos itu, aparat PDRM menyebutkan bahwa petugas DKP telah memeras nelayan Malaysia. Para PNS itu juga dituding menculik, termasuk mengajukan permintaan uang, untuk pembebasan tujuh nelayan Malaysia.

Dokumen setebal 10 halaman tersebut berkop Markas Pasukan Gerakan Marin Polis Diraja Malaysia Wilayah Johor. Tertanggal 15 Agustus 2010 dan ditandatangani Kalaichelvan Nadarajah, Timbalan Komander Pasukan Gerakan Marin Wilayah 2 Polis Diraja Malaysia 81200 Tampoi Johor. Dokumen itu menyebutkan bahwa pihak MPM menyerahkan penangkapan tiga petugas DKP kepada kepolisian Kota Tinggi.

PDRM Kota Tinggi menjerat tiga orang itu dengan pasal 360 KK hukum setempat. "Barang siapa membawa mana-mana orang keluar dari kawasan Malaysia dengan tiada kerelaan orang itu, atau kerelaan seseorang yang berkuasa di sisi undang-undang memberi kerelaan bagi pihak orang itu, adalah dikatakan menculik orang itu dari Malaysia," tulis laporan polisi Malaysia tersebut.

Pasal penculikan itu dituduhkan, atas dasar permintaan uang kepada salah satu keluarga nelayan Malaysia yang masuk melalui SMS. Uang yang diminta disebutkan sebesar RM 3.500, dan agar dikirimkan melalui Western Union kepada seseorang bernama Harun yang tinggal di Batam. Polisi Malaysia menuduh SMS itu dikirim oleh oknum petugas KKP.

"Ketiga-tiga saspek (3 petugas DKP) telah ditahan dilokap IPD Kota Tinggi, dan diluluskan reman selama 4 hari oleh pihak mahkamah," tulis laporan itu.

Terhadap perkembangan info ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad membantah keras bahwa petugas mereka terlibat dalam aksi pemerasan. Fadel menyatakan telah mendengar informasi tersebut. Informasi itu katanya, juga telah diklarifikasi kepada petugas KKP. Hasilnya, mereka tidak terbukti memeras ketujuh nelayan Malaysia di perairan Indonesia.

"Saya terima SMS juga. Tapi, itu fitnah-fitnah yang mereka bikin. Tidak begitu kok akhlak petugas kita. Jadi, itu tidak benar," ujar mantan Gubernur Gorontalo itu.

Fadel menegaskan, isu pemerasan tersebut merupakan fitnah yang dilemparkan orang-orang yang ingin mendiskreditkan Indonesia dan juga Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saat ditanya perkembangan informasi dari tim investigasi yang menyelidiki insiden Indonesia-Malaysia, Fadel mengatakan bahwa hasilnya sudah diberikan kepada pihaknya, saat melakukan RDPU dengan Komisi I DPR beberapa waktu lalu. "Hasil utamanya adalah insiden itu terjadi di perairan Indonesia," kata dia.

Sementara, Dirjen Pengawasan Perikanan dan Sumber Daya Perikanan KKP, Aji Sularso mengatakan, tudingan pemerasan dan penculikan kepada nelayan Malaysia itu merupakan aksi provokasi. "Itu propaganda dan provokasi Malaysia, karena anggota polisi mereka sedang diperiksa karena menganiaya petugas kita," ujar Aji.

Aji menuturkan, nelayan Malaysia memang kerap masuk ke wilayah laut Indonesia. Mereka sama sekali tidak memiliki izin untuk menangkap ikan. Para nelayan Malaysia juga kerap berusaha menyuap para petugas KKP. "Kapal mereka tiap hari masuk wilayah kita. Kita siap diaudit dan dipecat, kalau terbukti menerima suap. Kalau berani, mari kita konfrontir. Nelayan Malaysia saja saat diperiksa polisi Indonesia tanda tangan dan mengakui masuk wilayah Indonesia," ungkapnya.

JPNN

Industri Alutsista Indonesia

Hovercraft milik TNI AL buatan industri pertahanan dalam negeri. (Foto: Dispenal)

06 September 2010 -- Baru-baru ini saya mendengar dari siaran radio, komentar seorang mantan menteri koordinator mengenai industri alat utama sistem senjata (alutsista) kita.

Komentar tersebut dikaitkan dengan memanasnya hubungan Indonesia–Malaysia sebagaimana yang beberapa kali terjadi beberapa tahun terakhir. Secara ringkas mantan menteri tersebut berkomentar mengenai payahnya industri alutsista Indonesia, termasuk PT IPTN yang berganti nama PT Dirgantara Indonesia, yang dikatakan sebagai perusahaan yang nyaris tidak berproduksi lagi.Saya sungguh sedih mendengar komentar itu.Komentar tersebut menunjukkan betapa sempitnya pengetahuan yang bersangkutan, yang notabene mantan pejabat tinggi Pemerintah Indonesia. Industri alutsista Indonesia dewasa ini mengalami masa renaisans kembali, terutama di tangan Menteri Pertahanan yang baru, Purnomo Yusgiantoro.

Industri tersebut bahkan memiliki potensi untuk dipacu lebih lanjut dengan kemampuan yang semakin besar yang dimiliki oleh keuangan negara. Ini berarti di tahun-tahun mendatang industri strategis tersebut justru akan mengalami perkembangan lebih cepat karena dukungan yang lebih besar dari Pemerintah Indonesia. Benar bahwa industri alutsista kita mungkin masih berada pada tahapan teknologi menengah, tetapi potensi yang ada memungkinkan industri tersebut berkembang cepat menuju tataran lebih tinggi. PT Dirgantara Indonesia, yang dikatakan nyaris tidak berproduksi lagi, saat ini justru mengalami kebangkitan kembali dengan berbagai pesanan baik dari dalam maupun luar negeri.

CN-235, yang sebelum krisis merupakan produk andalan perusahaan tersebut, dewasa ini mengalami permintaan baru dari Korea Selatan dalam versi militer, yaitu CN-235 MPA dengan menggunakan peralatan antara lain dari Prancis.Kesuksesan perusahaan dalam mengembangkan versi tersebut membuat TNI Angkatan Laut juga memesan beberapa pesawat dari perusahaan tersebut. Helikopter produksi PT Dirgantara Indonesia juga mengalami kenaikan permintaan. PT Dirgantara Indonesia ternyata memiliki daya tahan yang sangat tinggi untuk survive dan dewasa ini kembali berkembang dengan baik.Dewasa ini PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan industri pesawat di Korea telah menyiapkan diri untuk membuat pesawat tempur.

Di industri kedirgantaraan tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) juga menunjukkan prestasi lumayan dengan mengembangkan satelit sendiri setelah sebelumnya bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin. Sementara itu, pengembangan wahana peluncur satelit secara bertahap juga telah dilakukan, termasuk pengembangan roket yang dewasa ini berdaya jangkau lebih dari 105 km. Jika dikembangkan menjadi roket militer, dalam keadaan statis pun kemampuan roket semacam itu mampu menjadi penggentar. Kesemuanya ini dilakukan oleh Lapan dengan anggaran terbatas.

Jika anggaran itu dapat dilipatgandakan, kemampuan tersebut akan mampu dikembangkan secara cepat di tahun-tahun mendatang. Di matra laut,PT PAL semakin menunjukkan kemandirian yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan peralatan Angkatan Laut. Dua kapal perang landing platform dock (LPD)sudah dibangun di galangan mereka di Surabaya, bahkan dengan peningkatan teknologi dibandingkan desain awal yang dikembangkan oleh galangan kapal modern di Korea Selatan. LPD buatan PT PAL tersebut mampu didarati lima helikopter (dibandingkan dengan tiga buatan Korea) dan dengan mesin yang sama mampu melaju lebih cepat (15,4 knot dibandingkan dengan 15 knot dari produk aslinya).

PT PAL juga ditugasi melakukan overhaul kapal korvet kita yang dibuat di Belanda baru-baru ini serta memiliki kemampuan untuk melakukan overhaul kapal selam kita (KRI Nenggala dan KRI Cakra). Dengan kemampuan itu, PT PAL dewasa ini sedang berada pada tahap pengembangan kapal fregat kelas Lafayette (sebagaimana yang dimiliki Singapura), kapal perusak kawal rudal (PKR), dan bahkan dalam proses pengembangan kapal selam bekerja sama dengan galangan kapal di Jerman dan Korea. Mereka juga mampu untuk membuat kapal induk helikopter dengan menggunakan teknologi pengembangan kapal Star 50 dengan bobot mati 35.000 ton.

Industri kapal yang lain adalah Industri Kapal Lundin di Banyuwangi yang mampu membangun kapal-kapal sekoci maupun katamaran dengan kecepatan sangat tinggi. Industri kapal ini telah memenuhi kebutuhan kapal untuk angkatan laut Singapura dan Malaysia maupun angkatan laut kita. Industri yang dibangun oleh anak raja industri kapal Sewdia tersebut (North Sea Boats) mengembangkan teknologi komposit bagi kapal-kapalnya sehingga memiliki daya tahan untuk kecepatan tinggi dan medan ganas.Dalam keadaan perang, industri kapal ini tentu dapat memenuhi banyak kebutuhan angkatan laut kita. Untuk matra darat, Pindad telah memiliki teknologi pengembangan panser dengan teknologi Prancis.

Panser tersebut memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan yang dibuat Renault,Prancis, dan bahkan menggunakan mesin perusahaan Prancis tersebut. Dewasa ini panser tersebut juga mulai diekspor ke negara-negara ASEAN. Dengan kemampuan tersebut, Pindad dapat berkembang lebih tinggi dengan pengembangan tank-tank ringan yang sesuai dengan medan di Indonesia. Untuk jangka waktu yang lebih lama, Pindad memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata sendiri bagi tentara Indonesia seperti senapan serbu SS-2 yang memiliki kemampuan tidak kalah dengan senjata buatan luar negeri. Kemampuan tersebut dan dengan kerja sama dengan Lapan misalnya akan memungkinkan Pindad memproduksi roket-roket tempur yang tidak kalah dengan buatan luar negeri.

Perusahaan tersebut juga memiliki prospek pengembangan peluru kendali sebagaimana yang dewasa ini mulai secara serius dikembangkan oleh perusahaan itu. Sebuah perusahaan di Malang dewasa ini juga mampu memproduksi bom-bom bagi kebutuhan pesawat tempur Indonesia. Dengan permintaan yang lebih tinggi, perusahaan tersebut tentu akan mampu mengembangkan diri melalui penelitian dan pengembangan bagi kebutuhan yang lebih canggih. Pada akhirnya,kesemuanya ini terpulang pada penggunanya, yaitu Kementerian Pertahanan Indonesia.

Sebagaimana yang dapat kita saksikan beberapa waktu terakhir, Menteri Pertahanan yang baru tampak memiliki komitmen sangat tinggi bagi tumbuh berkembangnya industri tersebut. Semoga harga diri kita menjadi terangkat dengan berkembangnya industri strategis kita tersebut. (Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo)

SINDO

Sunday, September 5, 2010

Spanyol Gelar Ekshibisi Udara di Malaga

Jet tempur F-18 AU Spanyol terbang vertical di pantai La Malagueta di ajang Malaga International Air Festival di Malaga, Sabtu (5/9). (Foto: Reuters)

F-18 AU Spanyol. (Foto: Getty Images)

Jet tempur F-16 AU Belanda tampil di ajang ekshibisi udara di Malaga. (Foto: Getty Images)

Berita HanKam

India Sukses Uji Coba Rudal BrahMos

AD India menampilkan rudal BrahMos saat parade militer menyambut Republic Day. (Foto: AP)

05 September 2010 -- India sukses menguji coba rudal jelajah supersonik BrahMos di pantai Timur negara bagian Orissa, menurut sebuah sumber.

Uji coba dilakukan di Integrated Test Range (ITR), Chandipur oleh Angkatan Bersenjata India sekitar pukul 11:35 waktu setempat.

Rudal BrahMos dikembangkan hasil kerjasama India-Rusia, telah digunakan oleh AD dan AL India. Jet tempur Sukhoi Su-30 MKI AU India direncanakan akan mampu menembakan rudal BrahMos.

Satu Resimen BrahMos I terdiri dari 67 rudal, lima mobil pelucur 12x12 Tatra serta dua mobil komando, telah dioperasikan AD India. Sedangkan, AL India telah mempersenjatai kapal perang dengan BrahMos sejak 2005.

BrahMos mampu menyerang sasaran pada ketinggian 10 meter, jarak jelajah 290 km dengan kecepatan 2,8 March, mampu membawa hulu ledak seberat 200 kg sedangkan versi diluncurkan dari pesawat terbang hingga 300 kg.

Xinhua/Berita HanKam

Akbar Tanjung: Peralatan Perang Indonesia Harus Diperbarui


05 September 2010, Jakarta -- Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar Akbar Tanjung menyatakan peralatan perang yang dimiliki angkatan bersenjata Indonesia harus diperbarui sehingga dapat menjaga kedaulatan negara.

"Ke depannya alat pertahanan perang negara kita harus diperbaharui untuk memperkuat TNI mempertahanan kedaulatan negara dan wilayah perbatasan," kata Akbar setelah menghadiri pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, Ridwan Mukti- Hendra Gunawan di Lubuklinggau, Minggu.

Menurut dia, Jika ada gelagat pihak tertentu yang akan mengganggu kedaulatan negara Repbulik Indonesia yang diakui internasional supaya TNI tidak ragu mengambil tindakan harus meningkatkan peralatan perangnya.

Kedaulatan suatu bangsa atas Tanah Airnya yang diakui oleh internasional juga harus diakui semua negara di dunia ini.

Menyinggung pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu menjawab hubungan Indonesia dan Malaysia yang belakangan memanas kata dia, adalah kebikan yang matang dengan beerbagai perhitungan.

Selain ditinjau dari aspek ekonomis juga perhitungan keselamatan 2 juta lebih tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negara jiran tersebut.

Sedangkan jika berdasarkan keinginan masyarakat Indonesia perlu konfrontasi dengan Malaysia diharapkan jangan sampai terjadi, karena harus menghormati keputusan Presiden.

Pernyataan serupa juga diutarakan Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya (Golkar) Abu Rizal Bakrie, bahwa elemen masyarakat Indonesia agar menerima kebijakan pemerintah itu sebagai sebuah keputusan yang lahir dari pertimbangan matang.

ANTARA News

India Borong 24 Rudal Harpoon Block II

Jet tempur serang darat Jaguar AU India, akan difungsikan menjadi serang maritim dengan menggotong rudal Harpoon.

05 September 2010 -- India meneken kontrak kesepakatan pembelian rudal anti kapal dengan pemerintah Amerika Serikat guna meningkatkan kemampuan serangan udara maritim diberitakan harian Economic Times, Jumat (3/9).

Kesepakatan diperkirakan senilai 170 juta dolar diteken bulan lalu, Angkatan Udara India akan menerima 24 rudal udara-permukaan buatan AS Harpoon Block II.

Proses negosiasi berlangsung selama dua tahun, dan pemerintahan Bush menyetujui penjualan rudal Harpoon saat Menteri Pertahanan India A.K. Antony berkunjung ke Washington 2008.

Satuan udara AL India kurang memiliki rudal anti kapal yang berkemampuan mematikan. Rudal akan dipasang di jet tempur serang darat Jaguar AU India.

Rudal Harpoon Block II dikembangkan dari keluarga Harpoon ditujukan untuk melumat kapal permukaan, ditembakan dari kapal permukaan, kapal selam atau pesawat terbang.

Xinhua/Berita HanKam

KIARA: Malaysia Kembali Tangkap Lima Nelayan Indonesia

(Foto: KOMPAS)

05 September 2010, Jakarta -- Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Riza Damanik, mengatakan bahwa Malaysia kembali menangkap lima nelayan tradisional Indonesia dan menahannya di Kantor Polisi Kampung Jawi, Malaysia.

"Penangkapan dilakukan Jumat (3/9) pada pukul 10 pagi. Sekarang mereka dititip di tahanan kantor Polisi Kampung Jawi Malaysia. Pihak keluarga telah mengkonfirmasi ini, dan juga jaringan kita serta para nelayan yang lolos dari aksi penangkapan itu," katanya kepada ANTARA News, Minggu.

Ia mengatakan, kelima nelayan berasal dari Kelurahan Sei Bilah dan Kelurahan Sei Bilah Timur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kelima nelayan itu, Naser(34), Junaidi(30), Iswadi(32), Jolauni(31) dan Ali Akbar(22).

Ia menyakini penangkapan kelima nelayan tersebut oleh pihak Malayasia dilakukan di perairan Indonesia. Hal ini, menurut dia, bedasarkan para nelayan yang lolos dari penangkapan oleh aparat Malaysia tersebut.

"Mereka meyakini masih di perairan Indonesia," katanya.

Sementara, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, menurut dia, seperti yang sudah-sudah, belum memberitahukan penangakapan tersebut terhadap pihak keluarga.

"Saya berharap KBRI segera bertindak memberikan bantuan hukum. Saya tidak tahu, KBRI selalu terlambat, padahal harsunya setiap penangkapan, maka otoritas Malaysia harusnya memberitahukan kepada KBRI segera," katanya.

Sementara itu, terkait dengan enam nelayan tradisional dari Sei Bilah, Kabupaten Langkat, Sumutera Utara yang sebelumnya ditangkap pada 9 Juli lalu, menurut dia, kini telah mendapatkan kejelasan.

Ia mengatakan keenam nelayan itu, yang sebelumnya berada ditahanan Balai Polis Kuah Lengkawi kini telah berada di Penjara Pokok Sena, Malaysia.

Ia mengatakan, lima dari enam nelayan tersebut dipenjara hingga 29 Oktober 2010. Mereka adalah Ismail(27),Amat(24), Hamid(50),Syahrial(42) dan Mahmud (42), akan ditahan hingga 29 Oktober 2010. Sementara Zulham (40), menurut dia, harus mendekam hingga 9 Desember 2010.

"Mereka harus mendekam dalam penjara karena minimnya bantuan hukum yang diberikan, padahal mereka meyakini masih menangkap ikan di perairan Indonesia. Dimana pemerintah saat dibutuhkan?," katanya.

ANTARA News

Rintihan Seorang Mayor TNI AL di Indonesia Timur

Bumi Papua dikeruk oleh Freeport guna menambang emas membentuk kawah yang sangat dalam. (Foto: matanews.com)

05 September 2010 -- Melihat hubungan Indonesia dengan Malaysia yang memanas tidak begitu membuatnya risau karena yakin akan bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Kalaupun harus berperang maka TNI yakin menang dan sudah siap siaga karena dunia tahu kekuatan tentara Indonesia adalah terbaik ke-13 di dunia. Dan dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara cinta damai dan pemimpin ASEAN yang memayungi. Sehingga bisa dipastikan "tidak akan terjadi" perang.

Banyaknya aksi perampokan di darat serta berbagai isu terorisme tidak membuatnya sedih si Mayor TNI AL ini karena yakin hal-hal begitu bisa diselesaikan dengan baik dan tidak makan waktu lama.

Yang membuatnya sedih adalah kasus "perampokan" paling akbar oleh Amerika di bumi Papua Indonesia, pembalakan liar hutan hutan di Kalimantan dan Papua yang di-majikan-i orang Malaysia. Serta kasus penyelundupan besar-besaran dengan 'kongkalikong' antara pelaku dengan instansi yang berwenang. Serta perdagangan senjata di perbatasan Filipina, Malaysia dan Australia yang tentu saja ada "becking"nya orang besar di Indonesia.

Untuk keempat kasus tersebut si Mayor ini harus prihatin karena menahan gejolak idealisme sebagai TNI yang harus mengamankan NKRI, tapi di sisi lain "para pembesar" justru merusak negerinya sendiri. "Saya hanya seorang mayor bisa berbuat apa?" kata si Mayor kepada tribunnews.com, Sabtu (4/9/2010) malam.

Coba bayangkan kasus penambangan EMAS di PAPUA. Si Mayor pernah berhasil menyelinap masuk ke lokasi pertambangan itu dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Amerika mengeruk harta karun Indonesia secara besar-besaran dan "dilegalkan" oleh pemerintah dengan "kontrak" yang sangat merugikan rakyat Indonesia.

Dalam sehari saja, perusahaan Amerika itu bisa mengangkut sekitar 175.000 ton biji pasir emas dari bumi Papua melewati perairan Samudera Pasifik. Indonesia dapat apa?? tidak ada sama sekali uang masuk ke kas negara. Kalau 20 persen saja dari jumlah emas yang diangkut itu untuk kas negara maka sudah cukup untuk biaya pendidikan dan kesehatan GRATIS seluruh Indonesia selama-lamanya.

Penambangan emas di Timika, terbesar di dunia, memang sejak awal sangat merugikan rakyat Indonesia karena hanya 0% untuk kas negara.

Indonesia sewajarnya mendapat manfaat yang proposional dari tambang yang dimilki. Hal ini bisa dicapai jika kontrak kerja yang ditandatangani antara lain berisi ketentuan-ketentuan yang adil, transparan, dan memihak kepentingan negara dan rakyat. Ternyata pemerintah pada masa lalu, hingga kini tidak mampu mengambil manfaat optimal.

Hingga Tahun 1976 perusahaan itu gratis atau setor ke negara 0%, enak kan?
Tahun 1976-1983 pemerintah kenakan (PPh) sebesar 35% (bukan produk yang dikenai pajak tapi hanya penghasilan !)
Tahun 1984 pemerintah dapat royalti 1% atas penjualan emas dan perak.
Tahun 1994 pemerintah mengeluarkan PP No.20/1994 belum maksimal.

Seharusnya Presiden SBY bisa mengeluarkan PP untuk menghilangkan berbagai kerugian dengan menjadikan BUMN dan BUMD sebagai pemegang saham mayoritas di Freeport atau Timika

Perusahaan yang melakukan kontrak kerja dengan pemerintah untuk mengeruk emas terbesar di dunia itu, diduga ada penyelewengan, manipulasi, dugaan KKN, tekanan politik, dan jauh dari kaidah-kaidah bisnis dan negara yang terpuji dan beradab. Coba hitung lagi jika di bawah emas itu terdapat cadangan URANIUM terbesar di dunia. Berapa nilainya?? Harga URANIUN berapa kali lipat dari harga emas?? Indonesia itu SANGAT KAYA!

Selama 42 tahun periode tambang (1967-2009) bangsa Indonesia tidak mendapatkan hasil yang optimal dan sebanding dari potensi tambang Timika.

Dan jika Presiden tidak melakukan perubahan dengan PP maka harta karun di Papua itu akan terus dikeruk hingga tahun 2041. Menagislah rakyat Indonesia tanpa sadar kekayaannya diangkut ke Amerika.

Padahal kalau rakyat tahu, berbagai manipulasi data dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk mengelabuhi pajak kepada pemerintah. Katakanlah ada 100 kapal yang mengangkut emas dari Papua ke Amerika maka yang dilaporkan hanya 10 kapal saja agar pajak royalti 1% itu bisa diperkecil lagi nominalnya.

Tribun News

Matra Laut Harus Diperkuat


04 September 2010, Jakarta -- Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto,menyatakan Indonesia sebagai negara maritim harus memperkuat kekuatan pertahanan di laut.

Penguatan pertahanan laut harus menjadi prioritas untuk tahun-tahun mendatang. ”75% wilayah kita adalah laut. Jadi, kita harus mempertegas kembali kekuatan angkatan laut,” ujarnya dalam diskusi ”Indonesia Negara Kepulauan: Tantangan dan Potensinya”di Jakarta,kemarin. Dia mengakui, selama ini Indonesia cenderung melupakan pembangunan pertahanan lautnya. Ini diakibatkan tidak adanya kesadaran sebagai bangsa maritim.”Lama kita tidak menyadari posisi kita sebagai bangsa bahari,”katanya. Selain itu, perjanjian dengan landas batas dengan negara-negara tetangga harus segera dituntaskan.

Meskipun disadari tidak akan mudah karena semua negara akan bertahan dengan garis batas masing-masing.”Tidak akan mudah karena tiap negara akan mempertahankan habis-habisan.Tinggal berani atau tidak,”katanya. Sementara itu,mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sarwono Kusumaatmaja,mengatakan kesadaran publik dan pemerintah soal negara maritim belum berakar. ”Konsep negara maritim belum berakar. Kita masih bergelut dengan persepsi lama bahwa kita merupakan negara agraris,”ujarnya. Padahal Indonesia memiliki laut yang seharusnya dapat dimaksimalkan potensinya.

Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma yang radikal.Karena selama ini perekonomian sangat tergantung pada sektor agraris.Padahal wilayah darat sendiri lanjut Sarwono ke depannya akan sangat terbatas untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat. ”Harus ada perubahan paradigma yang radikal. Melihat laut sebagai potensi yang sangat kaya,”ujarnya.

SINDO

Saturday, September 4, 2010

Ketegasan Terhadap Malaysia Tidak Harus Dengan Perang

Pengunjuk rasa dari Front Merah Putih membakar boneka replika Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak saat menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Gladak, Solo, Jateng, Jum'at (3/9). Dalam aksi tersebut para pengunjuk rasa menuntut tindakan tegas dari pemerintah terkait konflik dengan Malaysia serta pemboikotan produk dan penarikan pelajar dan tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia. (Foto: ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/ss/pd/10)

04 September 2010, Jakarta -- Sikap tegas pemerintah terhadap Malaysia tidak harus dilakukan dengan cara perang tapi bisa dilakukan dengan melancarkan perang urat syaraf, seperti ancaman pemutusan hubungan diplomatik, kata mantan pimpinan Komisi I DPR Arief Mudatsir Mandan.

"Memang yang dibutuhkan ketegasan tidak harus dengan perang tapi bisa melalui perang urat syaraf seperti pemanggilan duta besar, ancaman pemutusan hubungan diplomatik serta penghentian pengiriman tenaga kerja," kata Arief Mudatsir Mandan, di Kantor PBNU Jakarta, Sabtu.

Hal tersebut dikemukakan usai dirinya menghadiri acara buka puasa bersama oleh jajaran PBNU yang dihadiri antara lain Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menteri PDT Ahmad Helmi Faisal Zaini serta sejumlah duta besar.

Menurut Arief Mudatsir , sikap tegas seperti itu yang seharusnya diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menyikapi sikap pemerintah Malaysia yang menangkap tiga warga Indonesia dan memperlakukannya secara tidak sepatutnya.

Dia juga sangat mendukung sikap pemerintah Indonesia yang tidak bersikap emosional dengan cara mengancam melakukan perang terhadap Malaysia.

Perang, katanya, memang harus mengerahkan seluruh sumber daya manusia termasuk tentara dan dana yang sangat besar.

"Perang memang merupakan pilihan paling akhir dan harus dilihat manfaat dan mudaratnya, sepanjang bisa diselesaikan secara diplomasi, maka saya kira jalur diplomasi lebih baik," tegas Arief Mandan.

Dia menambahkan ketegasan memang berbeda dengan perang dan ketegasan yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia juga bisa dengan cara memperingatkan secara keras terhadap Malaysia agar tidak mengulangi perbuatan serupa itu lagi.

Menanggapi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang oleh banyak pihak dianggap terlalu lemah, dia mengatakan bahwa dirinya bisa memahami karena pemerintah dianggap terlalu lunak.

"Pemerintah Indonesia menawarkan untuk segera melakukan perundingan batas kedua negara. Nah disitulah yang membuat rakyat merasa jengkel karena mereka menilai pemerintah tidak tegas," katanya.

Dirinya justru mengkhawatirkan, pemerintah Malaysia akan mengulur-ulur waktu perundingan batas kedua negara, sambil mencari dukungan dari badan atau organisasi internasional seperti PBB.

"Kalau memang Malaysia mengulur-ulur waktu maka bisa jadi negara itu memiliki kepercayaan makin tinggi karena merasa mendapat dukungan pihak internasional. Kita mesti ingat kasus Sipadan-Ligitan," katanya.

Arief Mudatsir Mandan juga mengingatkan jika diplomasi pemerintah Indonesia terhadap Malaysia masih menggunakan cara-cara lama, maka kecil kemungkinan upaya penyelesaian berbagai masalah kedua negara bisa selesai.

ANTARA News

Royal Navy To Use Merlin’s Magic To Fight Pirates


02 September 2010 -- A Royal Navy Helicopter Squadron is deploying to the Horn of Africa and the Gulf of Aden to carry out specialist anti-piracy operations over the coming months. Personnel from 820 Naval Air Squadron including Aircrew and Engineers and their Merlin helicopter, will be embarked on a Royal Fleet Auxiliary ship (RFA Fort Victoria) and will be equipped to counter the threat of piracy and maritime terrorism.

Piracy in the Gulf region and the Indian Ocean has grown more prevalent in recent years and the Royal Navy is committed to protecting the UK national interests and those of the Commonwealth and its allies overseas. The international anti-piracy efforts are co-ordinated by the Combined Maritime Force (CMF) based in Bahrain.

Using state-of-the-art sensors and communications equipment, the Merlin helicopter will provide surveillance of shipping routes and will detect and deter pirate activity as well as providing the capability to board and search vessels. The aircraft, in conjunction with Royal Naval ships in the region, will also have the ability to use force to neutralise any threat to commercial and leisure vessels in the area.


The primary role of the Merlin helicopter, the Royal Navy’s most modern aircraft, is Anti Submarine warfare, however due to its size, speed and proven technological capability, this versatile aircraft is also used in Maritime Security operations. The helicopter is large enough to carry Royal Marines for sniper operations and boarding via fast roping, both which are vital to counter the threat of pirates, and it is fitted with heavy duty machine guns and thermal imaging equipment.

“Deploying one of the most capable and versatile helicopters in the world to this region will enhance the Royal Navy’s ability to counter the constant threat that piracy poses to vessels of all nations,” said Lieutenant Commander Neil Brian, Deputy Force Commander of the Merlin Helicopter Force. “All Royal Navy Merlin helicopter crews are trained in Maritime Security Operations and having the opportunity to contribute to the ongoing work of the Combined Maritime Force demonstrates the Royal Navy’s ability to protect our interests overseas”.

One of Europe’s largest helicopter bases, RNAS Culdrose delivers highly capable Helicopter Squadrons specialising in Anti-Submarine Warfare, Anti-Surface Warfare and Airborne Surveillance and Control. Its frontline Squadrons are deployed to ships all over the world to support the Royal Navy in its global operations. These include tasking in Afghanistan, around the Horn of Africa and the Gulf regions, and the Indian Ocean. Deployments to the Far East, the Eastern Seaboard of the USA, the north and south Atlantic are also regular destinations for the frontline Squadrons.

Back at the Air Station, trainee Aircrew, Engineers, Air Traffic Controllers, Fire-fighters and Flight Deck crews undergo intensive training prior to joining Naval Air Squadrons for duties at sea. Additionally, the ‘Search and Rescue’ Squadron is on constant standby 365-days a year to react to emergencies throughout the Southwest region. Its red and grey helicopters can be seen braving all types of weather responding to calls for help on land and sea.

Royal Navy

Satu Batalion Tentara Dikirim ke Perbatasan Malaysia


04 September 2010, Jakarta -- Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabes AD) membenarkan ada pengiriman pasukan satu Batalion 641 Tanjungpura ke perbatasan Indonesia – Malaysia.

“Ini hanya pergantian pasukan rutin. Pengiriman pasukan untuk menghindarkan kejenuhan dari Batalion 642,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI S. Widjonarko kepada Pos Kota semalam.

Menurut dia, pergantian pasukan ini tidak perlu dibesar-besarkan karena kebijakan rutin untuk menjaga perbatasan. Kadispenad juga tidak menjelaskan secara pasti berapa jumlah pasukan yang dikirim.

“Pengiriman pasukan ini untuk menggantikan Batalion 642 Sintang yang sebelumnya sudah bertugas di sana dan sekarang digantikan dengan Batalion 641 Singkawang,” katanya lagi.

Sebagaimana ramai diberitakan, hubungan Indonesia-Malaysia kembali memanas menyusul ditangkapnya tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh polisi Diraja Malaysia. Penangkapan tersebut menimbulkan sikap anti-Malaysia di sejumlah daerah.

Sikap anti-Malaysia ini dilakukan oleh masyarakat Indonesia dengan menggelar sejumlah aksi mulai demosntrasi, pembakaran bendera Malaysia sampai pada aksi pelemparan kotoran ke Kebubes Malaysia.

Pos Kota

USS George Washington Kunjungi Filipina

04 September 2010 -- Sebuah helikopter SH-60F Seahawk terbang di atas kapal induk USS George Washington saat lego jangkar di Teluk Manila, Sabtu (4/9). USS George Washington berlabuh di Manila selama 4 hari, kunjungan ini untuk memperkokoh hubungan historis antara AS dan Filipina. (Foto: Reuters)

(Foto: AP)

Awak kapal USS George Washington berjalan di atas dek saat lego jangkar di perairan Teluk Manila, Sabtu (4/9). (Foto: Reuters)

(Foto: Reuters)

Berita HanKam

CN-235 ROKAF Beraksi


04 September 2010 -- CN-235 AU Korsel menyebarkan kembang api saat peringatan Pertempuran Sungai Nakdong saat, sekitar 290 km arah Tenggara ibu kota Seoul, Jumat (3/9). Korsel membeli CN-235 dari PT. DI. (Foto: Getty Images)

Berita HanKam

Latihan Pra-Tugas Kontingen Garuda ke Lebanon Usai

Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Dunia (Ka PMPP) TNI Brigjen TNI I Gede Sumertha memeriksa pasukan. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

03 September 2010, Surabaya -- Latihan penyiapan Satgas Batalyon Infanteri Mekanis TNI, Satgas "Military Police Unit TNI" dan Satgas "Force Protection Company TNI" sebagai Kontingen Garuda ke Lebanon telah usai pada 2 September lalu.

Informasi dari anggota Tim Penerangan Satgas Konga XXIII-E/Unifil Serda Mar Kuwadi kepada ANTARA di Surabaya, Jumat, melaporkan latihan pra-tugas Kontingen Garuda itu telah ditutup secara resmi.

Latihan itu ditutup oleh Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Dunia (PMPP) TNI Brigjen TNI I Gede Sumertha di Pusat Pendidikan Infanteri TNI AD Cipatat Bandung.

Brigjen TNI I Gede Sumertha menutup latihan pra-tugas Kontingen Garuda itu untuk mewakili Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Tono Suratman yang berhalangan hadir.

Dalam amanatnya yang dibacakan oleh Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Asops Panglima TNI mengatakan peserta telah mengikuti latihan selama kurang lebih empat minggu.

"Selama itu, kalian telah dibekali dengan materi yang berkaitan dengan tugas pokok sebagai 'peacekeeper' (penjaga perdamaian dunia)," katanya.

Oleh karena itu, ia berharap peserta mampu memahami tugas seorang "peacekeeper" sesuai ketentuan/aturan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan di daerah operasi.

Materi latihan yang diberikan merupakan materi berstandar PBB, sehingga pemahaman materi-materi, kesiapan mental dan fisik serta peralatan pendukung lainnya juga mutlak diperlukan, sehingga "peacekeeper" dapat tampil secara maksimal di daerah penugasan.

"Yang tidak kalah pentingnya adalah pendalaman terus menerus tentang karakteristik wilayah penugasan operasi di Lebanon yang sangat berbeda dengan negara kita, baik geografis, demografis, maupun sosial budaya," katanya.

Sebagai "peacekeeper" yang bekerja sesuai "Standart Operating Procedure" (SOP) dan "Rule Of Engagement" (ROE) PBB, kata Asops Panglima TNI itu, maka peserta harus mampu sebagai penengah antara pihak-pihak yang sedang bertikai secara impartial atau tidak memihak salah satu kelompok.

"Penugasan mulia itu telah menjadi momen sejarah bangsa Indonesia, karena tugas mulia ini telah dilaksanakan sejak tahun 1950-an, kita harus merasa bangga bahwa hasil yang dicapai Kontingen Garuda memperoleh pengakuan positif dari dunia internasional," katanya.

Bertindak sebagai Komandan Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-E/Unifil adalah Mayor INF Hendy Antariksa. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Dunia (Ka PMPP) TNI Brigjen TNI I Gede Sumertha melepas tanda peserta latihan. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Latihan ini diikuti Satgas Batalyon Infanteri Mekanis TNI, Satgas Military Police Unit TNI dan Satgas Force Protection Company TNI. (Foto:Serda Mar Kuwadi)

Asisten Operasi Komandan Korps Marinir Kolonel Marinir Kasirun Situmorang memberikan pengarahan kepada prajurit Korps Marinir yang tergabung dalam Satgas sesaat setelah upacara penutupan latihan. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

ANTARA Jatim

BAE Systems Awarded Contract to Enhance Capability of Finnish Air Force

F-18 Finnish Air Force. (Photo: militaryphotos.net)

03 Septmber 2010, Yeovil, United Kingdom -- BAE Systems has been awarded a contract to provide a Link 16 network management system to the Finnish Air Force. Supporting the operation of Finland's F-18 aircraft, the system will enable ground command and control operators to connect to, and maintain contact with, their fast jets across the entire country.

BAE Systems will work in partnership with Rockwell Collins, the prime contractor and team leader for the Ground Station programme.

Under the contract, BAE Systems will provide all the software to set up the infrastructure, configure and control the various remote sites and configure and manage the Link 16 network. BAE Systems will also provide a simulation environment which that will provide the Finnish Air Force with the ability to participate in high fidelity collaborative training exercises whilst still supporting live operations.

Built upon a set of proven systems the network management system provides a low risk, innovative solution to meet the complex operational requirements of the Finnish Air Force, along with the challenges of the terrain and environment in which the system will operate.

The Link 16 network management solution offered by BAE Systems allows the Finnish Air Force to dynamically monitor the connectivity between the various ground sites and the aircraft, and to continuously measure how the network is performing to maintain an uninterrupted service.

Paul Burke BAE Systems Business Director said: "We are delighted to be part of the team delivering this capability as we have unparalleled experience in the provision of complex data link network management and support systems. The solution for the Finnish Air Force is based on systems successfully delivered by us to the UK MOD that allow monitoring and management of the UK's Link 16 network, achieving greater than 99% reliability over the period since their introduction.

About BAE Systems

BAE Systems is a global defence, security and aerospace company with approximately 107,000 employees worldwide. The Company delivers a full range of products and services for air, land and naval forces, as well as advanced electronics, security, information technology solutions and customer support services. In 2009 BAE Systems reported sales of £22. 4 billion (US$ 36. 2 billion).


BAE Systems