Monday, August 23, 2010

TNI AD Serahkan kepada Kementerian Pertahanan


23 Agustus 2010, Banda Aceh -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menyerahkan urusan cetak biru komponen cadangan kepada Kementerian Pertahanan. Untuk saat ini, TNI AD tidak akan turut campur.

Hal itu dikatakan Kepala Staf TNI AD Jenderal George Toisutta di sela-sela kunjungan ke Resimen Induk Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (21/8).

Kementerian Pertahanan kembali menyuarakan agar Indonesia dapat secepat mungkin memiliki komponen cadangan. Oleh karena itu, Kementerian Pertahanan menaruh harapan, Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan dapat disahkan pada tahun ini. ”Kalau bisa disahkan pada 2010, tentu akan sangat bagus. Pada prinsipnya, makin cepat makin baik,” kata Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Budi Susilo Soepandji, 10 Agustus lalu.

Kementerian Pertahanan menyiapkan RUU Komponen Cadangan sejak bertahun-tahun silam. Namun, dalam perjalanannya, RUU ini mengundang cukup banyak kritik.

”Semuanya kami serahkan kepada Kementerian Pertahanan. Mereka yang menangani hal ini,” kata George Toisutta.

Untuk saat ini, kata dia, TNI AD tidak akan mencampuri masalah komponen cadangan. Bahkan, Markas Besar TNI belum menerima penjelasan apa pun dari Kementerian Pertahanan mengenai masalah tersebut.

Atasi kesulitan amunisi

Dalam kesempatan itu, George Toisutta juga menyatakan, untuk mengatasi kesulitan amunisi dalam setiap latihan yang diadakan di setiap komando daerah militer (kodam), pihaknya saat ini berupaya untuk melengkapi sarana pelatihan dengan menggunakan simulasi tempur tertutup.

”Hampir setiap kodam sudah ada alat simulasi tempur dalam ruangan ini. Tetapi, satuan yang paling penting untuk memiliki teknologi seperti ini adalah Kopassus (Komando Pasukan Khusus TNI AD) dan Kostrad (Komando Cadangan Strategis TNI AD),” katanya.

Dia mengakui, salah satu alasan untuk menggunakan simulator ini adalah mengurangi pemakaian amunisi, terutama peluru, untuk latihan tempur. Direncanakan setiap batalyon akan memiliki satu alat simulasi tempur.

”Untuk setiap kodam, simulatornya menggunakan bikinan luar negeri. Untuk batalyon, mungkin bikinan dalam negeri,” tuturnya.

KOMPAS

No comments:

Post a Comment

Post a Comment