Tuesday, March 10, 2009

Korvet ke Empat Bagi Indonesia

Sabtu lalu di Galangan Schelde Belanda tenggara, berlangsung upacara penyerahan kapal korvet dari pembuatnya yaitu galangan kapal SNS kepada pemerintah RI. Kapal yang diberi nama KRI Frans Kaisiepo ini adalah kapal ke empat yang dipesan Angkatan Laut Republik Indonesia dari Belanda. Walaupun namanya diambil dari pahlawan asal Papua, penempatannya belum tentu di Indonesia Timur. Seperti berikut disampaikan KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhi Purdjianto.

Tedjo Edhi Purdjianto [TEP]: Ini sementara sampai di Indonesia dulu ya, sedangkan kapal yang pertama sudah akan dapat tugas ke Libanon. Pertengahan Maret ini akan berangkat, jadi setelah enam bulan akan diganti kapala kedua, ketiga, yang keempat dia juga akan berangkat juga ke Libanon. Secara bergantian setiap enam bulan.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Kenapa ke Libanon pak?

TEP: Memang ada misi perdamaian PBB di sana. Kita diminta untuk partisipasi dan ini adalah pertama kali Angkatan Laut mendapat tugas di PBB, di Unifil pertamakali.

RNW: Misi perdamaian?

TEP: Ya, misi perdamaian.

RNW: Lalu uangnya dari mana itu pak?

TEP: Dari PBB, kita hanya menugaskan kapalnya dan personilnya, semua dari PBB

Korvet anggaran TNI

KRI Frans Kaisiepo Saat di Dok (Foto: nita.nito)

RNW: Sampai saat ini pak, tiga korvet sudah di Indonesia, sudah ditugaskan, semuanya lancar pak?

TEP: Lancar, lancar, mereka sudah beroperasi. Sudah ada Sapal yang ikut juga field review (penjelajahan) di Korea, sudah juga ke sana.

RNW: Dan persenjataannya, semuanya sudah siap?

TEP: Bertahap akan kami lengkapi untuk ini.

Demikian KSAL Laksamana Tedjo Edhi Purdjianto. Kapal buatan Belanda ini harganya 220 juta dolar sebuah. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, pembayarannya menggunakan anggaran TNI yang sudah terbatas dan selalu harus mengalah.

Juwono Sudarsono [JS]: Lebih dari lima tahun ini, TNI selalu mengalah pada program-program pembangunan ekonomi dan santunan sosial.

RNW: Sampai di mana pak, kesabaran mengalahnya?

JS: Mereka adalah tentara kejuangan, jadi sampai kapan pun kita bersedia untuk mendahulukan kepentingan rakyat, kepentingan nasional.

RNW: Tapi kepentingan nasional kan juga menjaga keamanan Indonesia pak?

JS: Betul, betul, tapi saya yakin sanggup semua Angkatan, Darat, Laut, Udara, sanggup dengan anggaran yang minimum melaksanakan tugas-tugas pokok.

RNW: Anggaran minimum itu berapa pak, yang paling dibutuhkan oleh Angkatan Bersenjata Indonesia pak?

JS: Sebetulnya 100 trilyun rupiah satu tahun, tapi yang kita terima hanya 36 trilyun rupiah.

Dua warga Papua

Proses Pengapungan KRI Frans Kaisiepo (Foto: nita.nito)

RNW: Lalu mau menaikkannya lagi bagaimana pak, bisnis TNI juga sudah hilang?

JS: Sambil menunggu sampai pemulihan ekonomi berlanjut, penerimaan negara meningkat. Anggaran Pertahanan, Insya Allah akan meningkat.

Demikian Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. Nama Frans Kaisiepo berasal dari pahlawan Indonesia asal Papua. Di antara hadirin ada pula dua warga asal Papua, Frans Albert Yoku dan Nicolas Simeon Meset. Keduanya merasa bangga sebagai warga Papua.

Frans Albert Yoku [FAY]: Saya cuma kecewa anaknya pak Frans Kaisiepo, yang notabena mantan menteri Republik Indonesia di zaman Megawati Soekarnoputri, Manuel Kaiseipo, tidak datang. Mengapa tidak datang? Saya pertanyakan. Apakah dia setia untuk NKRI atau tidak? Bapaknya setia.

RNW: Karena kalau menurut saya, keluarga Kaisiepo di sini, itu ada berbeda. Ada yang pro NKRI, ada yang tidak pro NKRI.

Nicolas Simeon Meset: Ya, itu juga setahu saya dulu begitu. Bama saya Nicolas Simeon Meset. Saya dari Jayapura, dari Sarmi.

RNW: Dan menurut bapak, bagaiamana ini. Apakah ini positif untuk rakyat Papua atau bagaimana?

NSM: Ini bukan buat rakyat Papua kapal perang ini. Kapal perang ini untuk Republik Indonesia.

Pahlawan Papua
RNW: Tapi ini kan kapal yang pertama, yang pakai nama Papua pak?

NSM: Harap di kemudian hari akan banyak juga kalau pahlawan-pahlawan yang macam Martin Indei, Korinus Krei yang tadi disebut, Silas Papare itu banyak pahlawan-pahlawan yang merebut Irian waktu itu ya.

FAY: Yang jelas, sebagai orang Papua kami rasa bangga, nama seorang pahlawan Papua sudah diberikan kepada kapal ini. Karena pengalaman-pengalaman di waktu-waktu lalu, kami juga berharap jangan kapal ini dipakai, untuk bertindak terhadap masyarakat Indonesia sendiri, termasuk kami di Papua, Maluku atau di Aceh, daerah-daerah lain juga.

Kami berharap malah dapat melindungi masyarakat Indonesia, termasuk kami di Papua dan daerah-daerah lain, yang tadi saya sebut itu. Nama saya Frans Albert Yoku, saya juga teman dari Pak Nicolas Simeon Meset. Kami dari Papua, dan kami rasa bangga kapal ini sudah diberi nama seorang pahlawan yang berasal dari daerah kami. (ranesi.nl)

Monday, March 9, 2009

Kolonel Marinir Siswoyo Komandan Kolatmar

SURABAYA, 9/3 - SERTIJAB. Dankormar, Mayor Jenderal TNI (Mar) Djunaidi Djahri (tengah) melakukan salam komando dengan Komandan Komando Latih Marinir (Kolatmar) yang lama Kolonel Marinir Harhar Sucharyana (kanan) dan penggantinya Kolonel Marinir Siswoyo H.S, di lapangan apel Bumi Marinir Gunungsari Surabaya, Senin (9/3). Kolonel Marinir Siswoyo HS sebelumnya menjabat sebagai Komandan Brigif-3 Marinir Lampung. (Foto: ANTARA/ Serda Mar Kuwadi/ss/ama/09)

9 Maret 2009, Surabaya -- Komandan Korps Marinir (Kormar), Mayjen TNI (Mar) Djunaidi Djahri melantik Kolonel Marinir Siswoyo H.S sebagai Komandan Komando Latih Korps Marinir (Kolatmar) menggantikan Kolonel Marinir Harhar Sucharyana di Surabaya, Senin.

Kolonel Marinir Siswoyo H.S sebelumnya menjabat sebagai Komandan Brigif-3 Marinir di Lampung, sedangkan Kolonel Marinir Harhar Sucharyana akan mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI di Bandung.

Komandan Kormar dalam sambutannya mengatakan, pergantian jabatan itu merupakan proses regenerasi organisasi dan kaderisasi jabatan komando di lingkungan Korps Marinir serta upaya penyegaran pemikiran untuk meningkatkan kinerja organisasi.

"Kolatmar merupakan komando pelaksana Korps Marinir yang pada hakekatnya mengemban sebagian peran, fungsi dan tugas pokok Korps Marinir, utamanya pada lingkup kepelatihan, kursus dan penataran serta penelitian, pengujian dan pengembangan taktik pasukan pendarat amfibi," katanya.

Ia mengatakan, kesiapan Kolatmar dalam menyiapkan satuan agar mampu menghadapi tugas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika perkembangan lingkungan strategis.

"Oleh karena itu Kolatmar harus mampu mengembangkan pola-pola kepelatihan yang inovatif dan kreatif," kata jenderal berbintang dua itu.

Ia berharap kepada seluruh jajaran Kolatmar agar di bawah pimpinan Kolonel Marinir Siswoyo H.S dapat lebih meningkatkan kapasitas dan kapabilitas satuan yang dilandasi moralitas, disiplin, profesional serta soliditas untuk mampu menjawab tantangan tugas di masa mendatang.

Serah terima jabatan itu dihadiri oleh Wakil Komandan Kobangdikal, Brigjen TNI (Mar) Arief Suherman, Komandan Pasmar-1, Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra, Komandan Satuan Brimob Polda Jatim, Kombes Pol Ilham serta para pejabat teras Korps Marinir lainnya di Surabaya. (antarajatim)

RAAF Akan Mempensiunkan DHC-4 Caribou Akhir Tahun 2009


9 Maret 2009, Canberra -- Angkatan Udara Australia (RAAF) akan mempensiunkan 13 pesawat angkut taktis ringan De Havilland DHC-4 Caribou akhir tahun 2009, setelah mengabdi di jajaran RAAF selama 45 tahun. Karena mahalnya biaya perawatan pesawat, terutama airframe pesawat yang dimakan usia.

Caribou dioperasikan oleh Skadron 38 yang bermarkas di pangkalan udara Townsville.

Caribou pertama diterima tahun 1964 oleh RAAF dari 29 yang dipesan. Dalam kiprahnya di RAAF, Caribou diterjunkan dalam perang Vietnam, bantuan kemanusian di Kashmir dan Papua New Guini tahun 1997, operasi kemanusian bencana Tsunami di Papua New Guini tahun 1999, operasi penjaga perdamaian di Timor Timur dan Kepulauan Salomon sejak tahun 1999.

Caribou dilengkapi GPS dan peralatan penglihatan malam, hingga mempunyai kemampuan beroperasi dalam segala cuaca, siang atau malam hari, menerjunkan tentara atau peralatan menggunakan parasut dengan keakuratan tinggi pada titik tujuan, serta mampu melakukan LAPES (Low Altitude Parachute System) hingga 2000 kg. Caribou tidak bertekanan dan tidak dilengkapi dengan auto pilot atau radar cuaca.

DHC-4 Caribou dibuat oleh De Havilland Kanada diawaki dua orang pilot dan satu orang flight engineer. Panjang airframe 22.5 m, tinggi 9,6 m sedangkan wingspan 29 m. Berat pesawat 15.400 kg serta ceiling 28.000 feet atau 13.000 feet dengan penumpang. Mampu dipacu dengan kecepatan jelajah 280 km/h, ditenagai dua mesin Pratt and Whitney masing-masing menghasilkan tenaga 2000 HP, dapat menembuh jarak hingga 2000 km, daya angkut mencapai 4 ton berupa 2 kendaraan beroda empat atau artileri ringan; 32 tentara bersenjata lengkap dalam posisi duduk; 23 pasien ditandu beserta tenaga medis.

Atas jasanya 2 Caribou akan disumbangkan ke Museum RAAF di Point Cook dan Australian War Memorial. Caribou A4-152 akan dipajang di museum awal tahun 2010. Pesawat ini pernah dikirim ke Vietnam di bulan Mei 1964, Kashmir, Papua New Guini, dan Timor Timur. Sedangkan Caribou A4-140 akan dipajang di Australian War Memorial, dengan riwayat penugasan sama dengan Caribou A4-152.

Tugas yang diemban oleh Caribou akan diambil alih sementara oleh B300 King Air dan C-130 Hercules, hingga diambil keputusan dalam Project Air 8000 fase 2 terkait kemampuan angkut taktis RAAF. (RAAF/mediacentre/beritahankam.blogspot,com)