Monday, June 6, 2011

TNI AU Gelar Static Show di Balikpapan


6 Juni 2011, Balikpapan (tribunkaltim.co.id): Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) menggelar kegiatan static show mulai hari ini, Senin (6/6/2011).

Komandan Pangkalan TNI AU Balikpapan Riva Yanto ST M.Sc menjelaskan static show yang akan berlangsung hingga, Sabtu (11/6/2011) itu dilaksanakan dalam rangkaian Manuver Lapangan (Manlap) Latihan Angkatan Udara (Lathanud) Kilat, Lathanud Cakra dan Opshanud Tameng Petir 2011.

Kegiatan itu berdasarkan Surat Telegram Pangkohanudnas No: ST/63/2011 tanggal 24 Mei 2011 tentang Manlap Lathanud Kilat, Cakra dan Opshanud Tameng Petir pada 4 Juni 2011 sampai 12 Juni 2011 di wilayah Kosekhanudnas II.

TNI AU Undang Muspida Balikpapan Lihat Pesawat Sukhoi

Pangkalan TNI AU Balikpapan mengundang forum Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) untuk melihat lebih dekat alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI AU termutakhir pesawat Sukhoi di Base Operation Lanud Balikpapan, Senin (6/6/2011).

"Kami mengundang Muspida hari ini," ujar Komandan Pangkalan TNI AU Balikpapan Letkol Pnb Riva Yanto ST M.Sc.

Tidak hanya menyaksikan dari dekat, Muspida mendapat kesempatan untuk berfoto dekat dengan pesawat senilai 35 Juta USD atau kurang lebih Rp 350 miliar per unit itu.

Sumber: Tribun Kaltim

Jaga Wilayah, Angkatan Laut Butuh 10 Kapal Selam

Diagram skema evolusi kapal selam kelas U-209, Jerman menawarkan jenis U-209 pada tender pengadaan kapal selam TNI AL. (Gambar: DID)

5 Juni 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Susilo mengatakan, TNI Angkatan Laut setidaknya membutuhkan 10 unit kapal selam untuk kebutuhan penjagaan dan pertahanan wilayah laut Indonesia. "Saat ini kita cuma punya dua. Itu pun yang satu sedang diperbaiki," kata Susilo ketika dihubungi Tempo, Minggu 5 Juni 2011.

Tiga kapal selam, menurut Susilo, harus selalu disiagakan masing-masing di kawasan timur, tengah dan barat perairan Indonesia. Tiga kapal selam lain untuk infrastruktur pelatihan. Sisanya, "Cadangan jika salah satu kapal selam sedang diperbaiki atau menjalani perawatan rutin," ujarnya

Jika kebutuhan 10 kapal selam itu terpenuhi, dipastikan setiap saat selalu ada kapal selam bersiaga di wilayah laut Indonesia. Karena saat ini TNI hanya memiliki dua kapal selam, otomatis hanya satu kapal selam yang beroperasi saat yang lain menjalani perawatan. Apalagi, kapal selam harus menjalani proses kalibrasi secara rutin.

TNI AL saat ini juga belum memiliki kapal selam khusus untuk keperluan latihan. Kebutuhan kapal selam dinilai menjadi salah satu kebutuhan strategis karena kondisi perairan Indonesia yang terdiri dari banyak layer (lapisan). Perairan Indonesia juga memiliki temperatur ideal untuk beroperasinya kapal selam. Layer-layer ini membuat kapal selam sulit dilacak oleh radar musuh dan sulit ditembus oleh gelombang elektromagnetik.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Soeparno mengatakan, TNI AL sekurang-kurangnya butuh enam buah kapal selam. Saat ini TNI AL baru memiliki dua kapal selam, yakni KRI Cakra dan KRI Nenggala yang dimiliki sejak tahun 1980-an. Itu pun, KRI Cakra masih dalam perbaikan dan baru rampung Januari tahun depan. Untuk memenuhi jumlah miminal itu, "TNI AL butuh empat buah kapal selam lagi," katanya.

Namun untuk dapat memenuhi jumlah ideal itu masih dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pasalnya, setelah dipesan, proses pembuatan kapal selam butuh waktu bertahun-tahun. "Minimal 3 tahun," ujar Soeparno.

Pemerintah berencana membeli dua unit kapal selam untuk melengkapi armada TNI AL pada tahun ini. "Tahun ini kami harapkan bisa eksekusi," kata Laksamana Muda Susilo. Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) Kementerian Pertahanan saat ini tengah menggodok rencana pembelian tersebut. Penggodokan sudah memasuki tahap memilih satu diantara tiga negara produsen yang telah mengajukan penawaran. Yakni Jerman, Perancis atau Korea.

Sumber: TEMPO Interaktif

Sunday, June 5, 2011

Kilo Batal Perkuat TNI AL

ROKS Chang Bogo (SSK 61), kapal selam kelas Chang Bogo kandidat kuat pemenang tender pengadaan kapal selam TNI AL disamping U-209 buatan Jerman. Kilo diberitakan sebelumnya dipastikan pemenang tender mengalahkan Chang Bogo. Negara besar tetangga Indonesia sangat khawatir pembelian Kilo, karena mampu menembakan rudal hingga ke halaman rumah mereka. (Photo: USN/Mate 1st Class David A. Levy)


5 Juni 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) Kementerian Pertahanan saat ini tengah menggodok rencana pembelian kapal selam untuk memperkuat armada TNI Angkatan Laut. Penggodokan sudah memasuki tahap memilih satu di antara tiga negara produsen yang telah mengajukan penawaran. "Tiga negara itu adalah Jerman, Prancis, dan Korea," kata Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno kepada Tempo, Minggu, 5 Juni 2011.

Sebelumnya, ada empat negara yang mengajukan penawaran kepada TNI. Namun, satu negara produsen, yakni Rusia, akhirnya mundur karena produk kapal selam yang ditawarkan tak sesuai dengan spesifikasi teknis yang dibutuhkan TNI AL. "Mereka menawarkan kapal selam besar," ujar Soeparno. Kapal selam yang dibutuhkan TNI AL, kata dia, tidak terlampau besar dan yang sesuai dengan kondisi perairan Indonesia.

Selain itu, pembelian kapal selam juga disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. "Kalau kapal selam besar, anggarannya tidak mencukupi," ujarnya. Sayangnya, Soeparno enggan menyebut berapa jumlah anggaran yang disiapkan untuk membeli kapal selam itu. Namun, menurut dia, rencana membeli kapal selam sudah dianggarkan sejak tahun 2005 lalu.

Sebelumnya, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Susilo mengatakan bahwa pada tahun ini pemerintah setidaknya akan membeli dua unit kapal selam. "Tahun ini kami harapkan bisa eksekusi," kata Susilo di kantornya, Jakarta, akhir Mei lalu.

Senada dengan Soeparno, Susilo mengatakan pembelian kapal selam disesuaikan dengan anggaran yang tersedia, mengingat mahalnya harga kapal selam. Ia mencontohkan kapal selam jenis Scorpen produk Prancis yang dibeli oleh negeri jiran, Malaysia, harganya mencapai 550 juta Euro atau lebih dari US$ 700 juta. Selain Prancis yang menawarkan Scorpen, Jerman menawarkan kapal selam jenis U-209 dan Korea Selatan menawarkan Chang Bogo.

Menurut Soeparno, TNI AL paling tidak membutuhkan sekurang-kurangnya enam buah kapal selam. Saat ini, TNI AL baru memiliki dua kapal selam, yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala yang dimiliki sejak tahun 1980-an. Itu pun, KRI Cakra masih dalam perbaikan dan baru rampung Januari tahun depan. Untuk memenuhi jumlah miminal itu, "TNI AL butuh empat buah kapal selam lagi," katanya.

Namun, untuk dapat memenuhi jumlah ideal itu masih dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pasalnya, setelah dipesan, proses pembuatan kapal selam butuh waktu bertahun-tahun. "Minimal tiga tahun," ujarnya.

Sumber: TEMPO Interaktif