Monday, April 18, 2011

Dua Kapal Perang AL Australia Kunjungi Surabaya

HMAS Parramatta-154.

18 April 2011, Surabaya (Lantamal V): Dua kapal perang Angkatan Laut Australia yaitu HMAS Parramatta dengan nomor lambung 154 dan HMAS Ballarat dengan nomor lambung 155 mengunjungi Kota Pahlawan Surabaya. Kedatangan dua kapal perang tersebut disambut secara resmi di Dermaga Jamrud Utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada hari Sabtu tanggal 16 April 2011. Hadir dalam penyambutan kapal Angkatan Laut Australia antara lain Asrena Danlantamal V Kolonel Laut (P) Sunarso, Asops Danlantamal V Kolonel Laut (P) Maman Firmansyah, serta para pejabat jajaran Mako Lantamal V lainnya.

Acara penyambutan diisi dengan menampilkan tarian tradisional Khas Ponorogo, Jawa Timur yaitu Tari Reog Ponorogo serta pengalungan bunga kepada masing-masing komandan kapal perang di dermaga.

HMAS Parramatta-154 dikomandani oleh Commander H.J. Robertson, sedangkan HMAS Ballarat–155 dikomandani oleh Commander Guy Black Burn. Kedua kapal tersebut memiliki ukuran serta jenis yang sama, yaitu : kapal perang jenis frigates kelas ANZAC, panjang 118 meter, lebar 14,8 meter, kecepatan 27 knots dan draft 6,2 meter serta memiliki berat 3.600 ton. HMAS Parramatta-154 diawaki oleh 27 perwira, 30 bintara, dan 120 tamtama. Sedangkan HMAS Ballarat-155 diawaki oleh 27 perwira, 22 bintara dan 114 tamtama.

Kunjungan kedua kapal frigates tersebut, sebagai bagian dari kegiatan muhibah ke Indonesia dan rencananya akan berada di Surabaya hingga tanggal 19 April 2011. Selama berada di Surabaya, kedua kapal tersebut mengadakan berbagai kegiatan diantaranya kunjungan kehormatan ke Pangkoarmatim Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto pada tanggal 17 April 2011, Cooktail Party di atas geladak HMS Ballarat-155 dengan dihadiri oleh para pejabat teras TNI AL, serta mengadakan pertandingan sepak bola persahabatan dengan PS Lantamal V tanggal 18 April 2011 di lapangan sepak bola, Pasiran, Ujung, Surabaya.

Sumber: Lantamal V

Lanal Pontianak Sambut Kedatangan KRI Salawaku-642 dan KRI Badau-643

Dua kapal perang TNI AL, KRI Badau-642 dan KRI Salawaku-643, bersandar di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Pontianak di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalbar, Senin (18/4). Dua kapal hibah dari Tentera Diraja Laut Brunei (TDLB) yaitu KRI Salawaku- 642 dan KRI Badau-643 tiba dari Brunei Darussalam, dan akan kembali berlayar menuju Pangkalan Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ama/11)

18 April 2011, Pontianak (Lantamal V): Pada tanggal 18 April 2011 Pukul 08.00 Wib, Lanal Pontianak telah menerima kedatangan KRI Salawaku-642 dan KRI Badau-643 yang telah melaksanakan perjalanan dari negara Brunei menuju Indonesia. Kedatangan tersebut dalam rangka melaksanakan bekal ulang di Pontianak (Kalbar). Rute perjalanan dari Bandar Sri Begawan menuju Jakarta, masuk wilayah perbatasan Indonesia. Kedua KRI hibah dari Brunei tersebut dikawal oleh KRI Kala Hitam-828 sampai dengan Jakarta.

Sejumlah pelajar mendengarkan penjelasan dari anggota TNI AL tentang peralatan tempur di atas KRI Badau-643 yang sandar di Dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Pontianak, Kalbar, Senin (18/4). Kegiatan dalam rangka Open Ship atau kunjungan ke KRI Badau-643 tersebut, bertujuan untuk menumbuhkan jiwa bela negara dan nasionalisme bagi masyarakat, terutama pada kalangan pelajar. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/pd/11)

Kedatangan di Lanal Pontianak disambut langsung oleh Danlanal Pontianak Kolonel Laut (P) Parno beserta seluruh anggota Lanal Pontianak, dilanjutkan dengan Open Ship di kedua Kapal tersebut.

Adapun partisipasi dalam penyambutan tersebut SUPM (Sekolah Usaha Perikanan Menengah), SDN 44, TK Hang Tuah, TK Kartika, dan TK Bina Pertiwi Pontianak.

Brunei Serah Terima 2 Kapal Hibah kepada Indonesia

Pemerintah Brunei secara resmi menyerahkan 2 unit kapal hibah kepada Indonesia, Jumat (15/04) pukul 09.00 waktu setempat. Kedua kapal Waspada Class tersebut semula bernama “KDB (Kapal perang Diraja Brunei) Waspada” dan “KDB Pejuang” merupakan kapal-kapal armada Tentara Laut Diraja Brunei (TLDB) diserahterimakan dalam suatu acara yang sederhana dan khidmat di Markas TLDB di kota pelabuhan Muara, sekitar 25 kilometer dari ibukota Bandar Seri Begawan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Marsekal Madya TNI Eris Herryanto, MA, mewakili Pemerintah RI, dan Permanent Secretary (setingkat Dirjen) Urusan Administrasi dan Keuangan Kementerian Pertahanan Brunei Darussalam, Hajah Suriyah binti Haji Umar, mewakili Pemerintah Brunei, menandatangani berita acara serah terima (deed) kedua kapal hibah tersebut.

Penandatanganan serah terima disaksikan oleh pihak Indonesia (Dubes RI untuk Brunei Darussalam, Bapak Handriyo Kusumo Priyo, Dirjen Kekuatan Pertahanan Kemhan RI, Laksamana Muda TNI Moch Jurianto, Asisten Logistik Panglima TNI, Mayor Jenderal TNI Hari Krisnomo, Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Didik Suhari, dan Direktur Material Kemhan RI, Brigjen TNI H. Bambang Margono) dan pihak Brunei Darussalam (Panglima TLDB, Kolonel (L) Haji Abd. Halim Haji Hanafiah, Wakil Panglima TLDB, Kolonel (L) Haji Aznan Haji Julaihi dan para perwira senior TLDB).

Di dermaga utama Pangkalan TLDB Muara, Sekjen Kemhan RI memimpin upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih dan pemberian nama bagi kedua kapal. Sesuai dengan Surat Keputusan Panglima TNI, kapal diberi nama “KRI Salawaku” dengan nomor lambung 642 kepada eks “KDB Waspada” dan “KRI Badau” dengan nomor lambung 643 kepada eks “KDB Pejuang”. Salawaku, dalam bahasa Maluku, berarti perisai yang merupakan alat pelindung yang digunakan oleh Pahlawan Nasional Pattimura dalam melawan penjajah Belanda beberapa abad yang lalu, sementara nama Badau diambil dari nama parang dari daerah Belitung yang biasa digunakan sebagai senjata khas orang Melayu di masa lampau sekitar abad ke-14.

Pada saat yang sama, Sekjen Kemhan RI melantik Mayor Laut (P) Alfred Daniel Matthews sebagai Komandan “KRI Salawaku – 642” dan Mayor Laut (P) Komaruddin sebagai Komandan “KRI Badau – 643”. Masing-masing kapal berawak kapal sejumlah 37 personel.

Sehari setelah serah terima, 16 April 2011, kedua kapal berangkat menuju Jakarta dan dilepas dalam acara singkat yang dipimpin oleh Dubes Handriyo Kusumo Priyo, disaksikan oleh para pejabat KBRI Bandar Seri Begawan dan para perwira senior TLDB. Kedua kapal direncanakan akan singgah di Pontianak sebelum tiba di Pangkalan TNI Angkatan Laut di Jakarta, untuk bergabung dalam Satuan Kapal Armada RI Kawasan Barat.

“KRI Salawaku – 642” dibuat tahun 1978 dan ”KRI Badau – 643” dibuat tahun 1979. Masing-masing kapal memiliki panjang badan kapal 36,88 meter dan bobot 20 ton serta kecepatan maksimal 30 knot.

Sumber: TNI/Kemlu

Pemilik Kapal-Perompak Sepakati Tebusan

(Foto: NATO)

18 April 2011, Bogor (KOMPAS.com): Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan, negosiasi antara pemilik kapal MV Sinar Kudus dan perompak di Somalia yang menawan 20 anak buah kapal asal Indonesia telah sampai pada proses jumlah uang tebusan. Terkait nominalnya, Djoko enggan mengungkapkannya.

"Begini, mengenai jumlahnya, kalau saya bilang jumlahnya "X", nanti dibilang terlalu besar. Ada yang bilang terlalu kecil. Ini pasti menimbulkan polemik. Nanti saja kalau masalah ini sudah selesai. Yang penting semua crew kapal selamat, bisa dibawa pulang. Manusia itu tidak bisa dinilai dengan uang. Prioritas utama kita adalah keselamatan awak, sesuai dengan direktif Presiden," kata Djoko di sela-sela rapat kerja mengenai Penyusunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (18/4/2011).

Djoko mengakui, proses negosiasi antara pemilik kapal dan perompak memang sangat memakan waktu. "Ini kan tidak mudah. Tidak (seperti) mengirim barang ke Jawa Timur. Ke Somalia itu, kita berhubungan dengan siapa, mekanismenya bagaimana, delivery-nya bagaimana," kata Djoko.

Menko Polhukam mengatakan, dirinya terakhir berkomunikasi dengan Kapten ABK pada Senin pagi ini. Semuanya, sambung Djoko, masih dalam keadaan baik. Soal adanya perasaan tertekan, hal tersebut memang tak terhindarkan mengingat mereka semua dalam keadaan disandera.

Adanya perkembangan terbaru bahwa perusahaan menyanggupi membayar tebusan terhadap para perompak kapal MV Sinar Kudus, membuat keluarga ABK harap-harap cemas. Di Kediri, Jawa Timur, keluarga Masbukhin, muallim 1 kapal, terus memantau realisasi pembayaran. Mereka mengisi penantian tersebut dengan memantau melalui media serta juga tidak henti berdoa untuk kelancarannya.

Yunita, Istri Masbukhin mengatakan bahwa dirinya mendapat kabar kesanggupan perusahaan membayar tebusan dari suaminya melalui jaringan telepon. Percakapan yang terjadi pada Jum'at (15/4/2011) malam tersebut, membuatnya merasa harap-harap cemas.

"Syukurlah akhirnya perusahaan mau membayar tebusan," ujar Yunita yang ditemui daerah Rembang, Ngadiluwih, Sabtu (16/4/2011).

Saat ini, yang dilakukannya adalah berdoa semoga drama pembajakan kapal pengangkut bijih nikel yang terjadi sejak satu bulan lalu itu segera berakhir tanpa ada korban. "Semoga semuanya dapat secepatnya kembali ke rumah," ujarnya.

Sementara terkait kondisi kapal, menurut suaminya saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Para kru kapal sudah merasa lega. "Mereka saat ini lebih tenang," ujar Yunita menirukan suaminya.

Adapun proses pembebasannya, suaminya mengatakan belum dapat memastikan sebab hal tersebut menjadi kewenangan para perompak. "Yang jelas saat ini kapal sudah mulai mendekat ke pantai Somalia," pungkas Yunita.

Sumber: KOMPAS.com