Monday, January 11, 2010

Indobatt Pantau Wilayah Operasi dari Udara


10 Januari 2010, Lebanon -- Meski kondisi cuaca di Lebanon Selatan saat ini tengah memasuki musim dingin, Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion /Indobatt) di bawah pimpinan Letkol Inf Andi Perdana Kahar selaku Komandan Satgas Minggu pagi (10/01) tetap melaksanakan patroli udara (Air Patroll) dengan menggunakan pesawat Helly jenis Super-Puma milik Spanair.

Menurut Dansatgas Konga XXIII-D/Unifil Letkol Inf Andi Perdana Kahar, patroli udara dilaksanakan guna memantau secara langsung kondisi keamanan di wilayah operasi Indobatt.

Dalam patroli itu, Letkol Inf Andi Perdana Kahar didampingi Pasi Udara Indobatt Lettu Lek Yudi Amrizal dan Letda Inf Yudi Susilo serta beberapa Perwira Indobatt,

Patroli ini rutin dilaksanakan setiap bulan, mengingat wilayah operasi Indobatt tersebar di beberapa wilayah setingkat Kecamatan di Lebanon Selatan. Penerbangan ini dilaksanakan selama satu jam pada ketinggian 500 m di atas permukaan air laut, dengan suhu rata-rata 16 derajat celcius.

Dikatakan Dansatgas, bahwa dari hasil pemantauan melalui udara, kondisi wilayah Lebanon Selatan saat ini cukup stabil. Namun demikian, Indobatt tetap melaksanakan berbagai upaya preventif untuk mencegah segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, salah satu contohnya jika seandainya terjadi peluncuran roket dari wilayah operasi Indobatt.

Selain itu, Air Patroll juga dimanfaatkan untuk mengamati secara langsung kegiatan para prajurit Indobatt yang sedang melaksanakan penjagaan di sepanjang Blue Line perbatasan Lebanon – Israel.

Indobatt-10Jan2Di samping itu, pada beberapa lokasi masih banyak perkiraan penyebaran UXO (Unexploded Ordnance) dan Land Mines yang belum ditemukan serta besar kemungkinannya UXO tersebut masih aktif. Dengan kondisi medan di Lebanon yang terdiri dari bukit dan lembah yang terjal seperti ini, patroli udara sangat efisien sehingga dapat memantau kondisi keamanan di seluruh wilayah tanggung jawab Indobatt, tambah Dansatgas.

POS KOTA

Memacu Industri Strategis

LPD rancangan PT. PAL Indonesia. (Foto: @beritahankam)

11 Januari 2010 -- Kesibukan kerja PT PAL sangat tinggi pada saat saya berkunjung ke perusahaan tersebut. Galangan kapal yang besar sedang mengerjakan dua kapal: satu kapal kargo berukuran 50.000 ton pesanan perusahaan pelayaran Jerman dan satu lagi kapal tanker bahan kimia pesanan perusahaan Italia yang berbobot mati 24.500 ton. Sebelumnya, beberapa kapal dengan ukuran besar itu sudah diselesaikan dan diserahkan kepada pemesan dari Jerman, Turki, dan Italia.

Di dok lainnya sedang dibuat landing platform dock yang kedua pesanan dari Kementerian Pertahanan. Pesanan itu sebetulnya terdiri atas empat kapal dan dilakukan oleh Dae Sun Shipyard, Korea, yang dibiayai fasilitas kredit ekspor dari lembaga keuangan di Korea. Dae Sun kemudian meminta PT PAL mengerjakan dua kapal, satu sudah diserahterimakan kepada Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan, pada awal Desember 2009.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga memesan tiga kapal patroli cepat dengan bahan aluminium yang pada saat kunjungan itu satu sudah diselesaikan dan dua sedang mengejar tenggat yang ditetapkan. Sementara itu, beberapa kapal perang juga sedang diperbaiki di galangan kapal mereka.

Bangkitnya PT PAL kebetulan sekali juga bersamaan dengan bangkitnya kembali PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang mengalami metamorfosis dari PT IPTN sebelumnya. Pemerintah Korea baru saja memesan pesawat CN 235-110 MPA, kapal patroli laut yang memang dibuat perusahaan tersebut. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Indonesia juga baru saja memesan tiga pesawat CN 2354-220 MPA untuk menggantikan pesawat Nomad. Pesanan ini menambah panjang daftar pesanan. Sebelumnya, PT DI menerima pesanan helikopter Bell 412 SP dari TNI dan Basarnas.

Dengan kebangkitan kembali industri dirgantara Indonesia tersebut, rencana yang dikembangkan sepuluh tahun yang lalu bukan tidak mungkin akan diangkat kembali. PT DI sudah membangun beberapa pesawat N-250 buatan Indonesia. Malah, penerbangan percobaan sudah pula dilakukan oleh perusahaan tersebut. Terakhir bahkan sudah pula dikembangkan pesawat jet N-2130 yang dulu menuai banyak perdebatan. Sayang, berbagai rencana itu terkubur oleh krisis moneter tahun 1998.

Yang menarik, PT Pindad juga unjuk gigi dengan kemampuannya mengembangkan kendaraan panser (armored personnel carrier) dengan kualitas yang tidak kalah dari Perancis.

Strategi memacu industri strategis

Kemampuan teknologi berbagai industri strategis itu sungguh tidak perlu dipertanyakan lagi. PT PAL bahkan mungkin merupakan galangan kapal terbesar di Asia Tenggara saat ini.

Dalam pemenuhan alat utama sistem persenjataan, PT PAL juga memiliki kemampuan membangun kapal kawal rudal dan korvet (kelas sigma). Dengan teknologi yang telah mereka kuasai dalam membangun kapal 50.000 ton (Star 50), mereka juga memiliki kemampuan membangun kapal induk helikopter yang mampu mengangkut 16 helikopter.

Sementara itu, kemampuan yang dimiliki PT DI sebetulnya juga langka untuk ukuran ASEAN. Ini menempatkan PT DI memiliki kemampuan seperti Embraer, perusahaan pesawat terbang dari Brasil yang produknya sangat banyak dipakai oleh perusahaan penerbangan Amerika Serikat. Sementara kemampuan baru yang dimiliki PT Pindad sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut untuk pembuatan tank misalnya sehingga kebutuhan akan alutsista TNI bisa sebagian dipenuhi dari dalam negeri.

Apa yang bisa kita lakukan untuk lebih mendorong industri strategis tersebut? Yang terpenting adalah berbagai perusahaan itu harus mampu hidup secara komersial sebagaimana perusahaan lainnya. Sebagaimana PT PAL yang mampu mengerjakan dua kapal LPD dengan harga yang sangat kompetitif, serta masuknya pesanan kapal lainnya dari Jerman, Italia, Turki, dan negara lain karena harga yang bersaing, persyaratan ini harus dikembangkan dan dimiliki industri strategis lainnya.

Pemerintah perlu memiliki keberpihakan untuk mendorong industri strategis tersebut. Secara finansial, keuangan pemerintah kita mampu mendorong industri tersebut. PT PAL, misalnya, dengan suntikan modal beberapa ratus miliar rupiah saja akan membuat perusahaan tersebut semakin bankable. Demikian juga dengan PT DI. Dengan kemampuan teknologi yang mereka miliki, restrukturisasi perusahaan tersebut akan memungkinkan PT DI menjadi lebih mampu secara komersial sehingga layak untuk didorong lebih lanjut.

Sementara itu, kepercayaan yang ditunjukkan Jerman, Italia, Korea Selatan, Turki, dan negara lain atas berbagai produk perusahaan itu mestinya membuat kita semakin yakin untuk memanfaatkan industri strategis kita untuk berbagai keperluan.

Pemerintah juga bisa mengembangkan program pembiayaan perbankan yang dijamin sepenuhnya oleh pemerintah sebagaimana fasilitas kredit ekspor dengan negara lain selama ini.

Berbagai hal tersebut akan memungkinkan industri strategis kita berkembang secara sehat dan mampu bersaing dalam percaturan global.

KOMPAS
/Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo (Pemerhati Ekonomi)

Sunday, January 10, 2010

AU India Akan Membeli Lagi 50 Su-30MKI

Su-30MKI AU India. (Foto: Indian Airforce)

10 Januari 2009 –- Komandan AU India tertarik menambah armada jet tempur Sukhoi Su-30MKI 50 pesawat lagi, hingga jumlah total 280 Su-30MKI.

Saat ini AU India telah memesan 230 SU-30MKI, termasuk 140 pesawat dirakit berdasarkan lisensi di Hindustan Aeronautics Ltd (HAL), India. HAL mulai membangun pesawat pada 2005 dan dijadwalkan seluruh pesawat selesai diserahkan ke AU India pada 2014.

Pabrik pesawat Irkut, Rusia membangun 50 Su-30MKI dan telah seluruhnya diserahkan ke AU India pada 2007. Saat ini Irkut membangun 40 Su-30MKI berdasarkan kontrak senilai 1,6 milyar dolar pada Oktober 2007.

Grafis Sukhoi Su-30MKI. (Grafis: RIA Novosti)

Sukhoi Su-30MKI. (Foto: IAF)

Selain Su-30MKI, AU India mengoperasikan dua jenis jet tempur buatan Perancis Mirage 2000 dan Jaguar, jet tempur era tahun 1960-an buatan Uni Sovyet MiG-21 BIS yang akan digantikan dengan 126 jet tempur dalam program MRCA, jet tempur buatan Rusia MiG-29.

India saat ini sedang mengembangkan jet tempur ringan buatan dalam negeri HAL Tejas, direncanakan AU India akan mengoperasikan 220 pesawat jenis ini. Serta bersama Rusia sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA). AU India merencanakan akan membeli 250 pesawat FGFA, diperkirakan harganya 100 juta dolar per-unit.

AU India mempensiunkan armada jet tempur MiG-23BN (Vijay) tahun lalu. Sebelumnya AU India pernah mengoperasikan hingga 70 MiG-23 tergabung dalam 4 skadron, hampir setenggahnya hilang dalam kecelakaan dan insiden lainnya.

Gallery jet tempur yang dioperasikan AU India

MiG-21 BIS. (Foto: IAF)

Jaguar. (Foto: IAF)

Mirage 2000. (Foto: IAF)

Gallery jet tempur yang akan dioperasikan AU India

HAL Tejas. (Foto: IAF)

FGFA atau PAKFA.

Defpro/@beritahankam