Wednesday, March 24, 2010

Tim Marinir ke Rusia Tinjau BMP-3F


24 Maret 2010, Jakarta -- Korps Marinir akan mengirimkan tim teknis ke Rusia untuk melihat langsung penyelesaian pengadaan tank amfibi BMP-3F yang kontrak pengadaannya disepakati pada Agustus 2008.

Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M.Alfan Baharudin ketika di konfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa mengatakan, semula tim berangkat pada Maret 2010, namun karena masih ada kegiatan latihan rutin, maka tim berangkat akhir April 2010.

"Tim akan meninjau persiapan akhir penyelesaian pengadaan tank amfibi BMP-3F secara langsung, dan kemungkinan tiba di Indonesia sekitar Agustus tahun ini," ungkapnya.

Alfan menambahkan, ke-17 unit tank amfibi BMP-3F itu akan dioperasikan di Brigade Infanteri 1/Surabaya sebanyak 10 unit dan Brigade Infanteri 2/Jakarta sebanyak tujuh unit.

Sebelumnya, Korps Marinir TNI Angkatan Laut memperoleh hibah sepuluh tank amfibi dengan jenis landing vehicle track-7A1 dari Korea Selatan yang merupakan tank buatan Amerika Serikat tahun 1983.

Landing vehicle track (LVT)-7A1 ini sama kelasnya dengan tank amfibi PT 76 dan tank amfibi BTR 60 yang sudah dimiliki Indonesia. Kerja sama ini berawal dari pembicaraan tahun 2007. Saat itu Korea Selatan telah menawarkan LVT-7A1 kepada Indonesia. Namun, karena menunggu izin dari AS, kesepakatan ini baru bisa diwujudkan.

Tank amfibi LVT-7A1 merupakan hasil modifikasi dari jenis LVT yang dijuluki Alligator. Tank yang hingga kini masih digunakan Marinir Korea Selatan sama dengan yang digunakan dalam serangan Inggris ke Falkland, Perang Teluk, dan Perang Irak.

Korea Selatan juga memberikan satu paket suku cadang. LVT-7A1 mempunyai berat 22,8 ton, panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter.

ANTARA News

KRI Barakuda Cegat Tongkang Berisi Kayu Ilegal


24 Maret 2010, Bangka -- Ribuan meter kubik kayu dari sebuah tongkang yang melintas di sekitar perairan Tanjung Ular Muntok, Senin (22/3), berhasil dicegat Kapal KRI Barakuda.

Dan Lanal Babel Gregorius Agung WD, Rabu pagi (24/3), mengatakan 2.864 meter kubik kayu yang tidak dilengkapi dokumen tersebut dicegat KRI Barakuda di atas Tongkang Santana 189 yang ditarik tug boad TB ERINA II di sekitar perairan Tanjung Ular Muntok, Bangka Barat, sekitar pukul 10.30 WIB.

“Patroli rutin di kawasan perairan armabar saat itu menjumpai sebuah tug boat menarik tongkang bermuatkan kayu. Merasa curiga lalu kami kejar. Setelah diperiksa, ternyata ribuan kubik kayu tersebut tidak memiliki dokumen. Ironisnya lagi, di atas tug boad dijumpai dua anggota Polair Palembang bersenjata,” ujarnya.

Karena tidak memiliki dokumen, Tongkang Santana 189 yang mengangkut ribuan kubik kayu campuran jenis log beserta 9 ABK dan 2 anggota Polair Palembang digiring ke Lanal Babel di Tanjung Gudang Belinyu Bangka dengan waktu tempuh 20 jam. “Selasa kemarin, 2.864 kubik kayu campuran sudah kami terima dari KRI Barakuda. Menurut pengakuan ABK kapal, semua kayu berasal dari Palembang dengan tujuan Pekanbaru Riau,” imbuhnya.

Semua kayu itu sudah ditahan di Mako TNI AL Babel. Dir Poair Polda Babel AKB Purwoko membantah keberadaan dua anggota Polair Palembang bersenjata di atas tug boad tersebut untuk membekingi.

Menurutnya, mereka hanya dalam rangka menjalankan tugas dan disertai dengan surat. “Mereka hanya mengamankan dari tindakan para perompak. Jadi, keberadaan mereka bukan membekingi,” ujarnya.

SURYA

TNI Ajukan Super Tucano


24 Maret 2010, Jakarta -- Markas Besar Tentara Nasional Indonesia telah mengajukan usulan pembelian pesawat Super Tucano sebagai pengganti pesawat tempur OV 10-Bronco yang habis masa pakainya.

Hal ini dikatakan Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen, Senin (22/3) di Jakarta. Setelah dikaji Dewan Penentu Kebijakan Mabes TNI, usulan itu diteruskan ke Kementerian Pertahanan untuk diproses lebih lanjut.

Super Tucano adalah opsi pertama. Di bawahnya ada dua opsi lain. ”Tinggal bagaimana nanti pemerintah, dalam hal ini eksekutif dan legislatif, memikirkan pendanaannya,” katanya.

Sagom menekankan, pesawat Super Tucano asal Brasil ini akan memiliki tugas yang sama dengan OV 10-Bronco, yaitu untuk kontra insurgensi. Spesifikasi untuk terbang rendah dengan kecepatan rendah yang dimiliki Super Tucano dianggap sesuai dengan kebutuhan akan pesawat tempur taktis. Kecepatan rendah itu berguna untuk menghadapi obyek yang berkecepatan rendah juga, misalnya kapal pencuri ikan dan perambahan hutan liar.

”Untuk patroli, kita sudah punya pesawat CN-235 dan pengintai sudah ada pesawat Boeing 737,” kata Sagom.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, sesuai dengan minimum essential force, TNI AU berharap, penambahan Super Tucano itu sebesar satu skuadron yang terdiri dari 12 pesawat. Kalau ada dua masalah di dua tempat terpisah di Indonesia, ada dua kelompok yang terdiri dari empat pesawat yang menghadapinya, satu kelompok dalam proses perawatan dan sekelompok lainnya untuk patroli.

KOMPAS