Thursday, July 2, 2009

Tiga Kapal Vietnam Ditangkap

Seorang nelayan asal Vietnam berada di atas salah satu dari tiga kapal yang tertangkap dan diamankan di dermaga Polair Polda Kalbar, Rabu (1/7). Satuan Polair Polda Kalbar menangkap tiga kapal motor dan 35 ABK asal Vietnam di Perairan Laut Natuna. Tiga kapal motor tersebut kedapatan mencuri koral hitam kelompok anthozoa yang dilindungi sebanyak 140 Kg. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

2 Juli 2009, Pontianak -- Tiga Kapal Vietnam ditangkap Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar, lantaran mencuri akar bahar antara perairan Kalbar dan Natuna, tepatnya di sekitar Pulau Pengikik. Dua ditangkap 10 Juni, satu lagi 27 Juni 2009. Bersamanya, polisi mengamankan 55 anak buah kapal beserta nakhoda.Ketiga kapal itu tertangkap tangan melakukan pencurian terumbu karang. Ketiga kapal tersebut akhirnya digiring ke dermaga Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Kalbar, Rabu (1/7). Selain kapal, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti hasil jarahan mereka seperti akar bahar sebanyak 140 kg, dan dokumen yang menyertai anak buah kapal.

Kapolda Kalbar, Brigjen Erwin TPL Tobing mengatakan, penangkapan dilakukan lantaran ketiga kapal tersebut memasuki perairan Indonesia dan melakukan aktivitas pencurian terumbu karang. “Posisi mereka sedang lego jangkar di perairan Pulau Pengikik,” katanya, kemarin. Dijelaskannya, dari hasil pemeriksaan ketiga nakhoda, mereka mengaku berasal dari Dinh An Tinh Tra Vinh Vietnam. Pada saat tertangkap, lanjutnya, kapal-kapal tersebut tidak memiliki dokumen resmi, baik dokumen kapal, perizinan penangkapan ikan, dan dokumen lainnya seperti keimigrasian. “Tidak ada satupun dokumen yang menyertai. Makanya kita tangkap, karena telah masuk wilyah Indonesia tanpa izin,” tegas Erwin.

Tiga kapal Vietnam digiring ke dermaga Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Kalbar, Rabu (1/7). (Foto: PONTIANAK POST/Hendy)

Kapal beserta nakhodanya, kata kapolda, akan kita proses secara hukum. Berdasarkan aturan yang ada, jelasnya, dilarang mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. “Sedangkan akar bahar ini masuk kategori tumbuhan yang dilindungi,” paparnya. Menurutnya, kekayaan alam di perairan Indonesia selalu menjadi sasaran empuk bagi para nelayan asing untuk berburu. Untuk itu, ia berjanji terus berupaya meningkatkan pengamanan di perairan Indonesia. “Kita akan kawal perairan kita dari ancaman pihak asing,” tegas Erwin.

Seorang anggota Polair Polda Kalbar memeriksa sejumlah nelayan asal Vietnam di atas salah satu dari tiga kapal yang tertangkap dan diamankan di dermaga Polair Polda Kalbar, Rabu (1/7). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

Dari tiga kapal yang tertangkap itu, hanya dua kapal yang memiliki nama, masing-masing TG 2306 TS dan Hong Phuoc 2 TG 91468 TS. Satu kapal lainnya, sama sekali tidak bernama dan tanpa pengawalan dokumen.Terkait pelanggaran yang dilakukan, mereka akan dijerat dengan pasal berlapis, di antaranya Undang-undang No 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian, Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Hayati dan Ekosistemnya, dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp30 juta.Berdasarkan catatan Pontianak Post, dalam kurun waktu dua bulan terakhir pencurian akar bahar kerap dilakukan kapal Vietnam. Terutama di perairan Pulau Pengikik.

Pulau ini berada sekitar 60 mil laut dari Tambelan. Sudah enam kapal Vietnam ditangkap. Tiga diamankan di Pos Angkatan Laut (Pos AL) Tambelan, Kepulauan Riau , pertengahan Mei 2009. Tiganya lagi diamankan di wilayah hukum Polda Kalbar, Akhir Juni 2009. Modusnya nyaris sama yakni mengambil akar bahar dari wilayah perairan Tambelan, Indonesia. Tambelan adalah sebuah gugus kepulauan yang memiliki sekitar 54 pulau kecil. Dari arah Pengikik, sekitar 12 mil laut. Kawasan ini memang dikenal sebagai daerah yang memiliki tumbuhan akar bahar. Akar bahar biasanya digunakan sebagai bahan baku utama pembuat aksesoris, mulai gelang, tongkat, sampai pipa rokok. Produk tersebut dikenal memiliki daya tahan istimewa.

PONTIANAK POST

Latihan Garuda Perkasa di Lanud Abdulrahman Saleh


AN2 Juli 2009, Malang -- Sebagai pangkalan operasi, Lanud Abd Saleh harus selalu berada pada tingkat kesiapan operasional yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar apabil;a setiap saat mendapatkan tugas operasi maka tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, aman dan lancar. Hal ini disampaikan Komandan Lanud Abd Saleh, Marsekal Pertama TNI Ida Bagus Anom M., S.E. dalam sambutannya pada upacara pembukaan Latihan Garuda Perkasa di Lanud Abd Saleh. (2/7).

Latihan dengan nama Garuda Perkasa 2009 yang dilaksanakan sampai tanggal 6 Juli 2009 ini merupakan program kerja latihan satuan yang dilaksanakan oleh Lanud Abd Saleh beserta jajarannya. Latihan ini dilaksanakan dalam rangka menciptakan kesatuan tindakan dan pengertian untuk merencanakan suatu kegiatan operasi udara.

Hal tersebut dikarenakan semua unsur satuan dan staf akan diuji kesiapan operasionalnya, diantaranya menganalisa dan menguji doktrin, mengaplikasikan prosedur, mengembangkan taktik dan teknik system operasi udara serta pertahanan pangkalan.

Komandan juga mengungkapkan bahwa secara terjadwal , dalam program kerja 2009 bidang operasi dan latihan, dilaksanakan latihan-latihan secara bertahap. Diantaranya latihan perorangan sampai latihan satuan bagi satuan-satuan yang berada dalam jajaran Lanud Abd Saleh. Mengungat pentingnya latihan Garuda Perkasa ini, maka harus dilaksanakan sesuai dengan siklus kerjanya.

Terakhir dalam sambutannya, beliau menghimbau agar safety dan lambangja tetap menjadi prioritas utama dan jangan sampai diabaikan. Selain itu diharapkan agar setiap tugas dilaksanakan sesuai peran agar latihan ini menadapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

PENTAK LANUD ABDULRAHMAN SALEH

Peserta Kursus Lemhanas Berguru Strategi di Rusia

Galangan kapal Admiralty. (Foto: wikipedia)

2 Juli 2009, London -- Sebanyak 28 peserta kursus singkat XVI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengadakan kunjungan kerja selama seminggu hingga 3 Juli di negeri Beruang Putih Rusia guna mencari masukan bagi kebijakan Pemerintah Indonesia di masa datang.

Koordinator fungsi politik Berlian Napitupulu dalam keterangannya kepada koresponden Antara London, Kamis mengatakan peserta Lemhanas langsung mendapat masukan dari Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaludin mengenai sistem politik, ekonomi dan sosial budaya Federasi Rusia serta hubungan bilateral RI-Rusia.

Dubes Hamid Awaludin mengatakan Federasi Rusia merupakan negara besar yang mempunyai peran strategis yang sangat penting dalam peta politik dan perekonomian dunia karena tiga hal.

Pertama, sebagai negara terluas dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, kedua, sebagai bangsa yang besar dan pemenang perang sejak jaman Tsar; dan ketiga, mempunyai iptek dan senjata yang handal termasuk senjata nuklir, ujarnya.

Menurut Dubes, Indonesia dan Federasi Rusia saat ini sedang meningkatkan kembali hubungan bilateral dalam segala bidang dan mengembalikan kemesraan hubungan bilateral kedua negara sebagaimana era 50-an dan 60-an.

Dalam pertemuan dengan Kementerian Kehakiman Federasi Rusia, peserta Lemhanas mendapat penjelasan mengenai peranan dan fungsi Kementerian khususnya mengenai proses penyusunan peraturan perundangan, sinkronisasi dan pengujian rancangan peraturan serta pengawasan pelaksanaan hukum agar tidak terjadi tumpang tindih.

Sedangkan Kementerian Luar Negeri membekali konsep politik luar negeri Rusia tentang tata dunia yang multipolar dengan menekankan pendekatan multilateral dan kerja sama yang saling menguntungkan, tanpa kondisionalitas dan penggunaan kekerasaan.

Selain mengunjungi kementerian peserta Lemhanas juga berkunjung ke Akademi Manajemen Administrasi Kepresidenan dan Federal Service For Military Technical Cooperation serta industri strategis peralatan militer Rusia Sukhoi Company dan Rosoboronexport di Moskow, serta ke "Zvezda Company" dan Admiralty Shipyard di Saint Petersburg.

"Rasanya tidak cukup lima hari untuk mempelajari semua hal yang tidak terungkap selama ini. Karenanya kita tidak mengeluh dengan padatnya acara selama kunjungan," kata ketua rombongan Laksda Yusuf Abdullah dengan mimik yang serius.

ANTARA News