Sunday, January 19, 2014

Pemotongan Baja Pertama Kapal Perusak Kawal Rudal 105 Meter

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) menerima gambar replika kapal dari CEO Damen Schelde Naval Ship Building (DSNS) Belanda, Hein Van Amaiden (kiri) dalam seremonial pemotongan baja pertama kapal perang jenis perusak kawal rudal (PKR) Fregat No.1 di pusat bengkel pabrikasi divisi kapal perang, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jatim, Rabu (15/1). Kapal PKR-105 m merupakan kapal pertama dari empat kapal pesanan TNI AL melalui kerja sama produksi dengan DSNS Belanda guna memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) di jajaran TNI AL. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ed/Spt/14)

15 Januari 2014, Surabaya: Dalam rangka ikut berperan aktif dalam memodernisasi dan memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista), PT PAL Indonesia (Persero) sebagai Lead Integrator Alutsista matra laut menggelar acara seremoni First Steel Cutting kapal jenis Perusak Kawal Rudal 105 Meter (PKR/Frigate ke-1), yang berlangsung pada hari Rabu, 15 Januari 2014, terpusat di Dermaga Kapal Perang.

Seremoni First Steel Cutting ini menjadi begitu penting mengingat Kapal perang pesanan TNI Angkatan Laut jenis PKR / Frigate ke-1 ini merupakan pengembangan Proyek Nasional dan menjadi salah satu andalan dalam mengawal keamanan wilayah laut perairan Indonesia.

Sehingga para petinggi Negara berkenan hadir untuk menyaksikan acara ini, antara lain Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staff TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio, Jajaran Kemenhn, Mabes AL, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Project officer, Muspida Jatim, serta Para Undangan. Sementara Manajemen PT PAL Indonesia yang turut hadir yakni jajaran Komisaris & Direksi, Kepala Divisi beserta jajaran dibawahnya.

Kapal PKR – 105 m ini merupakan kapal pertama dari 4 kapal yang pesanan TNI AL. Selain itu PT PAL Indonesia (Persero) juga telah memproduksi kapal perang jenis Fast Patrol Boat (FPB) dengan berbagai ukuran, KCR 60 m, dan LPD 125 m. Pemenuhan kebutuhan ini diharapkan akan terus mendorong dan mempercepat terwujudnya cita-cita kemandirian alutsita negara sebagai hal yang sangat esensial bagi Bangsa Indonesia dalam mempertahankan NKRI. Sehingga menempatkan bangsa Indonesia sebagai negara strategis yang dihormati dan disegani dalam kancah percaturan dunia.

Berikut Spesifikasi Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (Guided Missile Escort) “Frigate” No-1 :



GENERAL
Customer : Indonesian Navy (TNI-AL)
Primary functions: Anti Air Warfare, Anti Surface Warfare, Anti Submarine Warfarebr
Secondary : Maritime Security & Safety, Disaster Relief/Humanitarian Aid. Hull material : Steel grade A/AH36
Standards : Naval /Commercial, naval intact / damaged stability, noise reduced, moderate shockbr
Classification : Lloyd's Register of Shipping (supervision) 100 A1 SSC Mono Patrol, G6, LMC UMS

DIMENSIONS
Length o.a. : 105.11 m
Beam mld : 14.02 m
Depth no.1 deck : 8.75 m
Draught (dwl) : 3.70 m
Displacement (dwl) : 2365 tons

PERFORMANCE
Speed (Maximum power) : 28 knots
Speed on E-propulsion : 15 knots
Range at 14 knots : > 5000 NM
Endurance : > 20 days at sea

PROPULSION SYSTEM
Propulsion type : combined diesel or electric (CODOE)
Diesel engine : 2 x 10000 kW MCR diesel propulsion
Electric motors : 2 x 1300 kW MCR electric propulsion
Gearbox : 2 x double input input/single output
Propellers : 2 x CPP diameter 3.65 m
lntegrated platform management system

AUXILIARY SYSTEMS
Generator sets : 6 x 735 kWE (CAT C-32A)
Emergency gen. set : 1 x180kWE
Chilled water : 2 x units, redundant distrubution
Fire fighting : 4 x main pumps +Ix service pump
Freshwater making capacity : 2 x 14 m3/day (RO) + 2 x 7.5 m3/day (evaporators)

DECK EQUIPMENT
Helicopter deck : max. 10 tons helicopter
Heli operations : day/night with refuelling system
Helicopter hangar : suitable for approx 6 tons helicopter
RAS : on helicopter deck PS & SB, astern fuelling
Boats : 2 x RHlB

ACCOMMODATION
Fully air-conditioned accommodation for 122 persons
Commanding Officer: 1
VIP cabin (Flag officer standard): 1
Officers: 26
Chief Petty Officers: 10
Petty Officers: 28
Petty officer (female): 8
Junior Ratings: 29
Trainee Officers: 18
Canal Pilot cabin: 1
Provisions for NBC citadel/decontamination

WEAPON & SENSOR SUITE
3D-Surveillance & target indication radar & IFF
Radar / electro optical fire control
Hull Mounted Sonar
Combat management system
Medium calibre gun 76 mm
1 x Close In Weapon System
2 x 4 SSM launchers
12 cell SAM launcher
2 x triple Torpedo launching system
ESM & ECM
2 x Decoy launchers
lntegrated internal & external communication system

NAUTICAL EQUIPMENT
lnteqrated bridqe console, 2 x naviqation radar, ECDIS, GMDSS-A3 rencence gyro

Sumber: PT PAL

Wednesday, January 8, 2014

Indonesia dan Korsel Lanjutkan Proyek Pesawat Tempur KFX

(Grafis: fyjs.cn)

8 Januari 2014, Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat melanjutkan kembali proyek jet tempur Korean Fighter Xperiment (KFX)/Indonesian Fighter Xperiment (IFX). Sebelumnya pemerintah Korsel sempat menghentikan proyek ini secara sepihak.

"Ada berita gembira pengembangan pesawat KFX/IFX dilanjutkan. Beberapa waktu lalu berhenti, tetapi sekarang sudah disetujui parlemen Korea Selatan dan ditindaklanjuti," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Selasa (7/1).

Proyek bersama yang dimulai pada 2011 lalu telah berhasil menyelesaikan tahap pertama Technology Development Phase (TD Phase) pada Desember 2012. Indonesia telah mengirim 37 insinyur ke Korsel.

Menurut Menhan, tidak ada perubahan dalam kerja sama dengan Korsel, meski proyek bersama itu sempat tertunda lantaran ada pergantian pemerintahan baru dan parlemen baru.

"Mereka minta ke kita dan ternyata sudah diuji. Keputusannya sudah 'On'. Apa yang kami lakukan dulu kita lanjutkan ke tahap berikutnya, akhir rensra kedua kita sudah punya prototipe KFX dan IFX," tuturnya.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan, Kemhan menerima surat konfirmasi dari Korsel pada 3 Januari 2014 tentang kepastian dilanjutkannya proyek bersama itu.

Dalam surat konfirmasi itu disebutkan, budjet tahun 2015 sudah diputuskan parlemen Korea Selatan bahwa akan mengeluarkan anggaran untuk KFX 20 juta dolar AS dan Indonesia sebesar 5 juta dolar AS.

"Tahun 2015, kita masuki 'development manufacturing', sehingga pada 2014 ini kita akan segera siapkan personel engineering kita. Desain center Indonesia di Bandung akan kembali bekerja aktif 2015," paparnya.

Pesawat tempur KFX adalah pesawat tempur generasi 4,5 atau setingkat dengan pesawat F-18 milik Amerika Serikat. Artinya, pesawat ini lebih canggih dari pesawat tempur yang dimiliki Indonesia, termasuk pesawat F-16 dan Sukhoi.

Sumber: Merdeka

Tuesday, January 7, 2014

TNI Tambah Skuadron Sukhoi Incar Su-35

Su-35 saat uji terbang. (Foto: Sukhoi)

6 Januari 2013,Jakarta: Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku ingin menambah pesawat tempur untuk Angkatan Udara. Salah satu pesawat tempur yang diincar Moeldoko adalah Sukhoi SU-35.

"Tapi ini baru tahap diskusi, kalau maunya Panglima sih iya," kata dia sambil tersenyum kepada wartawan di Lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 6 Januari 2014.

Moeldoko mengaku sudah berdiskusi langsung dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, Menteri Purnomo pun setuju upaya menambah kekuatan tempur Angkatan Udara Indonesia.

Pesawat tempur Sukhoi SU-35 adalah pesawat kelas berat penghubung generasi keempat dan kelima. Saat ini Indonesia baru mempunyai satu skuadron atau 16 unit pesawat campuran Sukhoi SU-27 dan dan SU-30 yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain Sukhoi SU-35, Moeldoko juga membidik pesawat tempur buatan Amerika Serikat. Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu belum mau menyebut rinci pesawat tempur apa saja yang masuk incarannya.

"Apakah F-16 atau produk terbaru lainnya, Insya Allah kami bisa (membeli pesawat tempur lagi)."

Tahun ini, TNI Angkatan Udara bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis. "Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, sebelum bulan Oktober 2014 Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah yang diperbaiki lagi sistem avioniknya. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal "tinggal" di Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Angkatan Udara juga bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

Sumber: TEMPO