Monday, September 24, 2012

Hawk Latihan Menembak Maverick

Hawk Skadron Udara 12. (Foto: nicowijaya)

24 September 2012, Madiun: Fighter dari bumi khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak dan Black Phanter dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, tiba di Lanud Iswahjudi dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., di Shelter Skadron Udara 14, Senin (24/9).

Kehadiran para Fighter dari bumi khatulistiwa dan bumi lancang kuning tersebut, tak lain untuk mengasah kemampuan naluri Fighter sebagai penggempur dan penghacur sasaran baik udara maupun darat yang telah ditentukan dengan menggunakan roket maupun bom.

Dengan menggunakan pesawat tempur jenis Hawk 100/200, baik dari Skadron Udara 1 maupun Skadron Udara 12, latihan dimaksudkan untuk menguji kualitas ketepatan menembak bukan menghancurkan sasaran. Sementara latihan direncanakan berlangsung selama 4 hari dengan lokasi latihan di Air Weapon Range (AWR), Pulung Ponorogo.

Black Phanter dari skadron Udara 12, yang tiba lebih dulu di pimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb M. Yani, menyusul berikutnya, Elang Khatulistiwa dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Radar Suharsono, yang kedatanganya di sambut langsung pula oleh Danlanud Iwj Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos., dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi.

Sedikitnya 60 personel Skadron Udara 1 ikut terlibat dalam latihan ini dan dipimpin langsung Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Radar Suharsono. Adapun pesawat yang digunakan adalah TT 0225 diawaki Lettu Pnb Andres, TL 0112 diawaki Letkol Pnb Radar Suharsono dan Lettu Pnb Binggi Nobel, TT 0234 diawaki Kapten Pnb Yossi, TT 022 yang diawaki Kapten Pnb Syaifuddin, TT 0223 Lettu Pnb Ari Nugroho Widodo, TT 0221 diawaki Mayor Pnb Agung.

Sedangkan ground crew dan peralatan pendukung latihan diangkut oleh pesawat Hercules A-1314 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma yang dipiloti Letkol Pnb Arifin dan Copilot Mayor Pnb Beny.

Sumber: Dispenau

Yonif 900 Latihan Simulasi Penanggulangan Teroris

24 September 2012, Mataram: Batalyon Infanteri (Yonif) 900 Raider Kodam IX/Udayana menyergap sekelompok teroris yang beraksi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jalan Udayana, Kota Mataram, Senin.

Aksi penyergapan itu merupakan bagian dari simulasi penanggulangan terorisme yang dilakukan 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam IX/Udayana.

Kepala Staf Kodam (Kasdam) IX/Udayana Brigjen TNI Pratimun selaku penanggungjawab simulasi penanggulangan terorisme itu mengatakan, indikasi masuknya jaringan terorisme ke wilayah NTB bisa terjadi sewaktu-waktu.

"Maka itu pelatihan penanggulangan terorisme di wilayah NTB terutama di Kota Mataram perlu dilakukan. Latihan ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gerakan terorisme di wilayah NTB," ujarnya.

Menurut dia, ancaman terorisme di wilayah NTB tetap ada, meskipun tidak sebesar ancaman yang terjadi di wilayah lain.

Ancaman teroris tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan berbagai cara, mengingat perkembangan tehnologi informasi yang terus berkembang.

Karena itu, latihan penanganan terorisme patut dilakukan setiap tahun, agar prajurit Yonif 900 Raider selaku pasukan pemukul Kodam Udayana, semakin mengenal daerah yang berpeluang mencuat gerakan terorisme.

"Ini pertama kali digelar di NTB dan setelah ini akan digelar di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelumnya latihan serupa digelar di Denpasar, Bali," ujar Pratimun.

Dalam skenario penyergapan teroris di gedung DPRD NTB itu, sebanyak 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam Udayana bersenjata lengkap menyerbu ke dalam gedung DPRD NTB diJalan Udayana Kota Mataram.

Satu unit helikopter dikerahkan, enam orang prajurit bersenjata lengkap dengan sigap turun dari helikopter menggunakan tali. Wajah mereka tampak tertutup masker.

Suasana di gedung DPRD NTB mencekam, dari dalam gedung wakil rakyat itu terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Suara bentakan serta jeritan juga terdengar jelas.

Sekitar 20 pegawai yang bertugas di DPRD NTB disandera enam orang kawanan teroris yang diduga merupakan kelompok jaringan Bali-Nusa Tenggara.

Dari luar gedung DPRD itu, tiga prajurit berupaya memanjat dinding di bagian kanan gedung berlantai tiga itu. Tim negosiasi juga terus berupaya mengalihkan perhatian teroris yang sudah menguasai gedung.

"Segera bebaskan kawan-kawan kami yang ditahan tanpa syarat. Kalau tidak kami akan bunuh semua sandera," teriak seorang teroris dari dalam gedung.

Jelang beberapa menit kembali terdengar suara tembakan dari dalam gedung bercat putih itu. Situasi semakin mencekam, terlebih para teroris juga meminta satu unit bus dan berjanji akan membebaskan sandera. Petugas pun bersedia mengikuti tuntutan teroris sehingga sejumlah sandera dibebaskan.

Tidak lama berselang seluruh petugas yang terdiri atas tim cepat langsung masuk kedalam gedung. Tiga teroris yang ada dilantai dua berhasil dilumpuhkan. Sementara tiga orang lainnya mencoba melarikan diri dengan bus sambil membawa paksa seorang sandera.

Belum jauh bus berjalan, tiba-tiba dua unit kendaraan pertempuran jarak dekat dan empat unit kendaraan roda dua menghadang pergerakan bus itu. Prajurit Raider kemudian mengepung dan memecahkan kaca bus. Prajurit Raider lainnya beraksi menggunakan helikopter.

Akhir dari skenario penyergapan kelompok teroris itu itu, keenam teroris berhasil dilumpuhkan tanpa ada korban jiwa di kalangan sandera.

Sumber: ANTARA News

Sunday, September 23, 2012

TNI AD Masih Kaji Pembelian Apache

AH-64D Apache Block III saat terbang di padang pasir dekat fasilitas Boeing, Meza, Arizona dalam uji terbang perdana, Juli 2008.  (Foto: Boeing)

23 September 2012, Jakarta: Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menjelaskan TNI Angkatan Darat (AD) masih melakukan pengkajian terkait rencana pembelian delapan unit helikopter serbu, Apache dari Amerika Serikat. Pertimbangan lainnya TNI AD membeli Black Hawk.

"Saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya karena pembinanya Angkatan Darat, penggunanya memang Panglima TNI. Saya hanya melihat konteks dalam penggunaan ketiga matra apakah bisa kita satukan atau tidak. Kalau semuanya memungkinkan, kita akan lakukan bersama-bersama," papar Agus, Ahad (23/9).

Penggunaan helikopter serbu, seperti Apache ini cukup banyak, salah satunya bisa digunakan untuk lawan "insurgency".

"Jadi, memang kita masih memerlukan helikopter tersebut," ujarnya.

Pemerintah sendiri belum menyiapkan langkah apapun terkait rencana pengadaan helikopter serbu Apache dari AS ini. Bahkan, pemerintah belum pernah melakukan pengajuan resmi untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin sebelumnya mengatakan, selama ini memang sudah ada lobi-lobi antara kedua negara terkait kemungkinan pengadaan helikopter serbu Apache itu.

"Namun, sejauh ini Indonesia belum memersiapkan apa-apa. Kita tunggu surat penawaran resmi dari mereka. Bukan kita yang mengajukan, mereka yang menawarkan. Kita hanya berpesan kalau mau jual Apache, tolong kita diberi tahu," tutur Hartind.

Jika surat penawaran tersebut diterima, lanjut dia maka akan ada tim yang dikirim ke Amerika Serikat guna melakukan pengecekan berbagai hal, seperti spesifikasi teknis helikopter, dan perlengkapan persenjataan. Tim tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat, selaku calon pengguna Apache.

Selanjutnya, tim melakukan pemaparan kepada Mabes TNI untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertahanan dan dilakukan rapat anggaran. Tim teknis biasanya disiapkan dulu. Biasanya dari mereka ada surat penawaran resmi, ujarnya.

Sumber: Metrotvnews