Saturday, January 1, 2011

Produksi Alat Perang Diharapkan Serap Tenaga Kerja

(Foto: Berita HanKam)

01 Januari 2011, Jakarta -- (Republika): Kerjasama Pemerintah Indonesia dengan negara luar dalam bidang produksi alat-alat perang, diharapkan mampu menarik tenaga kerja. Sampai saat ini yang sudah tampak menyerap tenaga kerja adalah proyek pembuatan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal.

"Bisa menarik tenaga kerja 1.500 sampai 2.000 orang," ujar Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio, saat dihubungi Republika, Sabtu (01/01). Pada tahun 2010 kemarin, kontrak kerja pembuatan kapal tersebut sudah ditandatangani oleh PT PAL dan Damen Schelde Naval Shipbuilding dari Belanda.

Kapal perang tersebut sudah mulai diproduksi sejak Agustus 2010 lalu. Produksi kapal ini akan dilakukan secara bertahap selama empat tahun. Sehingga paling tidak ada sekitar 1.500 sampai 2.000 orang tetap mempunyai pekerjaan hingga tahun 2014. Rencananya ada empat buah kapal yang akan diproduksi.

Bentuk kerjasama lain yang diharapkan mampu menarik lapangan kerja adalah pembuatan kapal selam di dalam negeri. "Sudah dirancang dan diupayakan kita bisa produksi kapal selam," kata Midhio. Pada tahun 2010, pihak Korea Selatan sudah menawarkan diri untuk bekerja sama memproduksi kapal selam itu. Turki juga menunjukan ketertarikan untuk bekerja sama. Diharapkan pada tahun 2011 ini, sudah ada kepastian dengan negara mana pembuatan kapal selam ini dilakukan.

Saat ini Indonesia memiliki dua kapal selam. Dengan kerjasama tersebut, kebutuhan enam kapal selam bisa terpenuhi. "Jadi empat tambahannya. Kalau jadi (kerjasamanya), pembuatannya akan multiyears, tidak sekaligus," kata Midhio.

Sumber: Republika

2011, TNI Fokus Perbaiki Sistem Persenjataan

KRI Fatahilah dibangun di galangan kapal Belanda. (Foto: Ian Johnson)

31 Desember 2010, Jakarta -- (TEMPO Interaktif): Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, TNI pada tahun 2011 akan memusatkan perhatian pada perbaikan sistem persenjataan. Selama ini, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tempur (combat capability).

"Alutsista masih baik, tapi sistem persenjataannya ketinggalan dengan negara lain," kata Agus dalam keterangan pers refleksi akhir tahun TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Jum'at (31/12).

Agus mencontohkan kapal-kapal tempur yang didatangkan dari negeri kincir angin, Belanda. Kondisi rangka kapal-kapal tersebut umumnya dalam keadaan baik, namun lain halnya dengan kondisi persenjataannya.

"Tahun 2011 kita utamakan kepada kapal-kapal tersebut untuk mengganti sistem senjata, mulai dari combat management system dan senjatanya itu sendiri," kata dia.

TNI, yang berada di bawah naungan Kementerian Pertahanan, memperoleh jatah anggaran cukup besar. Tahun 2010, dari total anggaran sebesar Rp 42,5 triliun untuk Kemenhan, TNI mendapatkan Rp 19,77 triliun.

Tahun depan, Kemenhan mendapat alokasi anggaran terbesar ketiga setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pendidikan Nasional. Kemenhan rencananya akan memperoleh pos anggaran sebesar Rp 47 triliun.

Dengan adanya peningkatan anggaran Kemenhan, kata Agus, anggaran TNI juga dipastikan akan bertambah. Sebagian besar anggaran digunakan untuk peningkatan alutsista. "Belanja pegawai 50 persen, sisanya untuk pemeliharaan fasilitas dan pengadaan alutsista," ujarnya.

Sumber: TEMPO Interaktif

TNI Hati-hati Salurkan Dana Renumirasi


31 Desember 2010, Jakarta -- (ANTARA News): Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan bahwa pihaknya akan berhati-hati dalam menyalurkan dana renumirasi atau tunjangan kinerja kepada prajurit agar tepat sasaran.

"Seluruh proses administrasi sudah selesai. Peraturan Presiden dan Peraturan Menterinya juga sudah ada. Dananya pun sudah ada di Kementerian Pertahanan, tinggal dicairkan," katanya di Jakarta, Jumat.

Dalam jumpa pers akhir tahunnya, Agus mengemukakan, pemberian renumirasi merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan prajurit. Prajurit yang bertugas di perbatasan juga mendapat tunjangan khusus.

"Kita sedang menyusun untuk pencairannya, karena itu memerlukan kehati-hatian agar tepat sasaran," kata Panglima TNI.

Dijelaskannya, dana renumerasi yang diberikan itu merupakan tunjangan kinerja sejak Juli 2010. "Nah selama enam bulan itu kan sudah banyak pergerakan, ada yang pensiun dan pindah jabatan dan lainnya," tutur Agus.

"Itu kan harus hati-hati, jangan sampai sudah ada yang meninggal ahli warisnya tidak terima, kalau sudah pensiun dia tetap dapat haknya dan kalau pindah jabatan, dia tetap terima sesuai jabatannya enam bulan lalu," kata Panglima TNI.

Jadi, tambah dia, TNI akan mendata betul-betul jumlah personel yang ada beserta pergerakkannya. Dana renumirasi bagi TNI sebesar Rp3,3 triliun akan diberikan pada 466.773 orang pada Juli 2011.

TNI Selamatkan Kekayaan Negara Rp13,4 Triliun

Sepanjang 2010, TNI berhasil menyelamatkan potensi kekayaan negara sebesar Rp13,4 triliun melalui operasi penegakan kedaulatan dan hukum di laut.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Jakarta, Jumat, menambahkan, selain itu Mabes TNI mengaku telah menghalau tindakan pelanggaran wilayah negara tetangga sebanyak 37 kasus.

"Tak hanya itu, TNI juga mampu memberikan kontribusi kepada negara melalui pengadilan berupa denda atau perampasan barang bukti sitaan sebesar Rp37,6 miliar," katanya.

Agus menambahkan hal tersebut satu diantaranya dari hasil-hasil pelaksanaan Operasi, penegakan kedaulatan dan hukum pada 2010 yang dilakukan TNI.

Selain itu, lanjut Panglima TNI, hasil-hasil pelaksanaan Operasi TNI lainnya khususnya daerah rawan di Maluku dan Maluku Utara Tahun 2010 telah berhasil mengumpulkan senjata standar 32 pucuk, senjata api rakitan 266 pucuk dan rangkaian kas dan laras standar lima pucuk.

Agus menambahkan, dengan keberhasilan pelaksanaan operasi di wilayah NKRI itu, secara umum situasi keamanan wilayah perbatasan darat RI negara tetangga kondusif dan terkendali.

Ia menambahkan untuk kondisi umum keamanan di wilayah udara nasional sepanjang NKRI dalam keadaan aman dan terkendali.

"Selain itu radar-radar udara Kohanudnas (Komando Pertahananan Udara Nasional, red) dapat berhasil mendeteksi sasaran udara yang dikenal," kata Panglima TNI.

Sumber: ANTARA News