Monday, December 27, 2010

Taxi Way Pangkalan Udara Supadio Akan Diperlebar

Sebuah pesawat Trigana Air bersiap lepas landas (take off) di Bandara Supadio Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Minggu (26/12). Guna melayani penerbangan yang menggunakan pesawat berukuran besar jenis airbus, Bandara Supadio Pontianak sedang melakukan penambahan lebar landasan pacu dari 30 meter menjadi 45 meter. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/mes/10)

27 Desember 2010, Sungai Raya -- Komandan Lapangan Udara Supadio Kolonel (Pnb) Imran Baidirus mengatakan tahun 2011 pihaknya akan melakukan pelebaran terhadap taxi way lapangan udara tersebut karena menjadi bagian terpenting dari satuan tersebut.

"Tahun ini kita sudah mulai pengerjaannya, sehingga tahun depan taxiway tersebut akan kita maksimalkan keberadaannya," kata Imran di Sungai Raya, Minggu (26/12).

Menurutnya, saat ini taxi way atau penghubung antara landas pacu dengan pelataran pesawat, kandang pesawat, terminal, atau fasilitas lainnya yang ada di Lanud Supadio hanya memiliki lebar 15 meter.

Taxi way tersebut akan diperlebar menjadi 23 meter. Dengan demikian, tempat parkir untuk pesawat tempur yang ada di Lanud Supadio tentu akan bisa banyak menampung pesawat.

"Kalau sekarang taxi way yang ada masih sangat kecil, makanya akan kita perlebar," ucapnya.

Selain itu dia juga mengatakan dalam waktu dekat Lanud Supadio akan membuat radar pesawat yang rencananya akan ditempatkan di Bengkayang atau Sambas.

Dengan adanya radar tersebut akan mempermudah Lanud Supadio untuk memantau pergerakan pesawat dari luar, khususnya yang dapat mengancam pertahanan wilayah NKRI yang ada di Kalimantan Barat.

"Untuk pembuatannya kita masih belum tahu pasti kapan dilaksanakan, karena kita juga masih menunggu instruksi dari Markas Besar. Namun untuk proses studi kelayakan dan rencana pengadaan sudah dilakukan," ucapnya.

Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. (Foto: KOMPAS)

TNI Angkatan Udara akan menambah satu skadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio Pontianak untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufa`at di Pontianak, mengatakan, status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Salah satu syarat minimalnya mempunyai dua skadron.

Saat ini Lanud Supadio menjadi pangkalan Skadron Udara I Elang Khatulistiwa. Pesawat yang digunakan jenis Hawk.

"Kalau ada skadron pesawat tanpa awak, Supadio bisa menjadi pangkalan udara Kelas A," kata mantan Komandan Lanud Supadio tahun 2000 - 2002 itu.

Pengadaan pesawat tersebut diharapkan terwujud awal tahun depan. Ia melanjutkan, untuk Alutsista pengadaan dilakukan oleh Mabes TNI.

MI.com

Taiwan Terima 12 P-3C Bekas AL AS Tahun Depan

Northrop Grumman S-2T Turbo Tracker akan digantikan P-3C Orion. (Foto: taiwanairpower.org)

27 Desember 2010 -- Selusin pesawat anti kapal selam direncanakan dioperasikan Taiwan tahun depan, diberitakan harian Taiwan China Times dikutip kantor berita AFP, Minggu (26/12).

Washington menawarkan 12 pesawat patroli maritim dan anti kapal selam P-3C Orion bekas pakai AL AS senilai 1,96 milyar dolar pada 2001. Kekisruhan politik menyebabkan anggaran khusus untuk pembelian pesawat ini dihambat disahkan, hingga legislatif mensahkan pada Juni 2007.

Proposal pembelian termasuk mesin Rolls-Royce T56, peningkatan avionik dan sensor, jaringan data taktis dan terminal 16 jaringan, pusat komando operasional bergerak, integrasi jaringan dan perangkat latihan.

Pesawat P-3C akan gantikan Northrop Grumman S-2T Turbo Tracker Angkatan Laut Taiwan, dioperasikan Skuadron 133 dan 134 Satuan Udara Kesatu AL Taiwan.

Jarak pengawasan armada pesawat anti kapal selam Taiwan akan meningkatkan sepuluh kali setelah P-3C Orion dioperasikan Angkatan Laut, menurut seorang sumber militer.

AL Taiwan menolak menanggapi berita pembelian pesawat ini.

Pada Januari 2010, Washington mengumumkan paket penjualan senjata ke Taiwan, termasuk rudal Patriot, helikopter Back Hawk dan peralatan untuk armada F-16.

AFP/Berita HanKam

Wakil Rakyat Minta Pemerintah Waspadai Perbatasan

(Foto: matanews)

26 Desember 2010, Jakarta -- Nurhayati Ali Assegaf, anggota Komisi I DPR RI, meminta pemerintah untuk mewaspadai dan tidak menganggap remeh daerah perbatasan di Indonesia, termasuk perbatasan Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur.

"Saat ini, pihak asing masih banyak yang memiliki kepentingan di wilayah perbatasan, dan ini tentunya harus diwaspadai," kata Nurhayati di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan hal itu setelah ambil bagian dalam kunjungan kerja DPR selama tiga hari di Nusa Tenggara Timur.

"Dalam menjaga perbatasan wilayah kita, jangan dianggap remeh dan sepele. Pemerintah diminta waspada dengan hal sekecil apapun di perbatasan, sebab banyak kepentingan asing di sana (perbatasan Timor Leste-NTT)," kata Nurhayati.

Ia menambahkan, kewaspadaan tersebut sangat diperlukan untuk mengantisipasi timbulnya rongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Bila kita menganggap remeh dan sepele, NKRI kita akan terancam. Oleh karenanya, kewaspadaan harus ditingkatkan, jangan sampai lengah," kata Nurhayati.

Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen (BKSAP) itu menyebutkan, pihak asing di perbatasan Timor Leste-Nusa Tenggara Timur tak lagi mengurus pengungsi yang pro-integrasi, tapi lebih mengurus pengungsi Timor Leste.

"LSM-LSM asing tidak lagi mengurus pengungsi yang pro-integrasi dan ini dikhawatirkan ada kepentingan lain," kata dia.

Kepada TNI, ia menyarankan untuk segera dilakukan gelar pasukan di daerah perbatasan.

"Sekali-sekali TNI harus gelar pasukan di perbatasan, termasuk perbatasan Timor Leste-Nusa Tenggara Timur," katanya.

Ia mengingatkan, semua pihak tidak menganggap sepele dan kecil Timor Leste. "Ini bisa menganggu stabilitas politik dan keamanan kita karena ada pihak-pihak tertentu di belakang Timor Leste," kata dia.

Apa yang disampaikannya, tak lain untuk menyadarkan pemerintah karena berkaca pada kasus hilangnya Sipadan-Ligitan.

"Jangan setelah bagian negeri hilang, baru kita sadar dan teriak," ungkap Nurhayati.

ANTARA News