Tuesday, September 14, 2010

Polri Bantah Tim Densus 88 Siksa Tahanan Politik Separatis Maluku

(Foto: JPPN)

13 September 2010, Jakarta -- Mabes Polri membantah tuduhan pemerintah Australia yang menyebut jika Densus 88 Anti Teror Polri telah melakukan penyiksaan tahanan politik di Ambon Maluku. Menurut Polri Densus tak pernah berurusan dengan tahanan separatis politik Ambon.

"Untuk penangkapan RMS dan separatis, Densus 88 tidak dilibatkan. Yang menangkap dan mengurusi itu anggota Polda, seperti Brimob dan lainnya," kata Kabid Penum Polri, Kombes Pol Marwoto Soeto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (13/9/2010).

Namun demikian, Marwoto mengaku Polri akan mengecek kebenaran tuduhan dari pemerintah Australia itu. Densus dituduh pemerintah Australia telah melakukan penyiksaan terhadap tahanan politik yang terlibat aksi separatisme di Maluku.

Menurut data ada 12 anggota separatis di Maluku yang ditutup wajahnya dan dipukuli di wajah dan tubuhnya dengan pentungan. Salah satu tahanan mengatakan bahwa mereka dipaksa menelan cabe mentah, dan dua lainnya dipaksa untuk berciuman dan saling memeluk kalau menolak mereka dipukuli.

Australia, seperti diberitakan RNW, menyayangkan dan prihatin dengan kekejaman terhadap tahanan politik yang dilaporkan oleh Human Rights Watch dan Amnesty International itu. Mereka mengaku akan mengirim tim ke Indonesia menyelidiki penyiksaan yang dilakukan oleh anggota pasukan anti teror Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88) atas tahanan anggota separatis Maluku.

Apa maumu Australia

Pengiriman tim investigasi Australia guna menyelidiki penyiksaan, menempatkan Indonesia sebagai negara bawahan Australia. RMS tidak layak digolongkan tahanan politik, mereka kaum separatis. Jika pemerintah mengijinkan tim ini datang ke Indonesia, tindakan ini lebih buruk dibandingkan reaksi kemayu terhadap Malaysia dalam kasus penyanderaan tiga petugas DKP oleh Kepolisian Malaysia.

Tindakan pemerintah Australia ini, kemungkinan dilatarbelakangi bantuan ke POLRI. Mereka merasa berhak mencampuri suatu urusan, jika kepentingannya terancam.

Keberhasilan melepaskan Timor Timur dari Indonesia, menjadikan mereka merasa superior dan terus berusaha secara konsisten melepaskan provinsi-provinsi di Indonesia Timur dari NKRI secara sistematis.

Keberhasilan mereka akhirnya ditentukan oleh kualitas kepemimpinan pemerintah Republik Indonesia. Kami berharap Indonesia dianugerahi pemimpin berkarakter kuat dan tegas agar negara asing tidak menganggap Indonesia sebagai obyek kepentingan nasional mereka.

--00--

Indonesia backdown on state 'torturers'
Tom Allard
September 14, 2010

The Ambon-based unit of Detachment 88, accused of brutality and the torture of peaceful political protesters, will be disbanded, the head of the elite counter-terrorism force, Tito Karnavian, has said.

The decision to remove Detachment 88 entirely from the Malukas archipelago came as a Herald investigation exposed serious abuses of political prisoners in the province by its members last month.

Brigadier General Karnavian said it was clear the Malukan separatists were peaceful, and therefore there was no need for Detachment 88 to be involved in the province. ''Detachment 88 in Ambon will be dismissed very soon,'' he said.

The Herald yesterday revealed allegations by a group of men who were arrested last month and taken to Detachment 88's Ambon headquarters. They said they were beaten for up to a week; brought to the point of suffocation with plastic bags placed over their heads; pierced with nails while forced to hold stress positions; and ordered to eat raw chillies. Two men were hospitalised.

It was also revealed the Australian embassy in Jakarta had sent an official to investigate the abuses, and the US had blacklisted members of Detachment 88 based in Ambon, the Maluku capital, and had refused to train or equip them since 2008.

Brigadier General Karnavian denied there was a systemic problem of excessive force within Detachment 88, a criticism that has also surfaced because of the number of terrorist suspects - 17 in the past year - who have been shot dead rather than arrested.

He said the new allegations of abuses in Maluku could be investigated by local authorities or, possibly, internal affairs.

But Kontras, Indonesia's leading human rights group, said an independent review of Detachment 88 was the only way to have a serious investigation into its alleged abuses. (the Sdyney Morning Herald)

Tribun News/Berita HanKam

Rusia dan India Akan Gelar Latma Udara

KASAU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin. (Foto: RIA Novosti)

14 September 2010 -- Rusia dan India akan mengelar latihan udara bersama dalam beberapa tahun kedepan, ucap KASAU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin setelah kunjungan resmi 5 hari ke India

Latma direncanakan akan digelar 2011 atau 2012, jika proposal yang diajukan diterima oleh pemerintah kedua negara.

Pesawat AU India sebagian besar menggunakan buatan Rusia (Uni Sovyet). Rusia berharap India memilih MiG-35 dalam tender pembelian jet tempur terbesar dunia MRCA (Medium Multi-Role Combat Aircraft).

India telah mengelar latma udara Garuda dengan Perancis dan Singapura.

AU India mengoperasikan jet tempur buatan Perancis Mirage-2000.

India, bersama Venezuela, Aljazair dan Malaysia pembeli utama pesawat militer buatan Rusia. Total volume penjualan ke empat negara tersebut lebih dari 2 milyar dolar pada 2008.

RIA Novosti/Berita HanKam

3 Sukhoi Perkuat Pertahanan, 2 Teknisi Rusia Tewas, 1 Teknisi Sakit

Dua pesawat tempur tersebut diangkut menggunakan pesawat Antonov AN-124-100. (Foto: Dispenau)

14 September 2010, Makassar -- Dua pesawat tempur Sukhoi SU-27 SKM yang dipesan dari Rusia tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, Jumat (10/9), yang akan disusul satu unit lagi pada Rabu (15/9). Ketiganya menunggu kelengkapan persenjataan sebelum memperkuat pertahanan udara Indonesia.

Kedua pesawat Sukhoi SU-27 SKM telah tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara Sultan Hasanuddin pada Jumat lalu, diangkut oleh pesawat Antonov AN-124- 100 dari Rusia. Kedatangan pesawat ini didampingi 40 instruktur dan mekanik asal Rusia yang akan mengecek, merakit, serta melatih pilot dan mekanik Indonesia.

Kedua pesawat ini bersama satu pesawat Sukhoi sejenis yang akan tiba Rabu mendatang dibuat oleh Komsomolsk Amure Aircraft Production Association di Rusia.

Kepala Penerangan Pangkalan TNI AU Hasanuddin Mayor Mulyadi, Senin (13/9), mengatakan, ketiga pesawat tersebut akan memperkuat Skuadron Udara 11. Dengan tambahan itu, Skuadron Udara 11 nantinya akan terdiri atas sepuluh Sukhoi SU-27 SKM dan Sukhoi SU-30 MK2.

Pesawat tempur Sukhoi yang telah digunakan TNI AU sejak tahun 2004 ini menggantikan pesawat A-4 Sky Hawk yang tidak lagi digunakan (grounded ) sejak tahun 2005.

Akan tetapi, Kepala Penerangan Komando Operasi TNI AU II M ayor Sonaji Wibowo mengatakan, ketiga pesawat Sukhoi yang baru ini untuk sementara belum bisa beroperasi maksimal karena masih menunggu kelengkapan persenjataan.

”Berbeda dengan pengadaan p e sawat Sukhoi sebelumnya, pengadaan tiga pesawat Sukhoi ini tidak satu paket dengan persenjataannya. Persenjataan akan dibeli nanti, bertahap,” tuturnya . Sonaji mengaku belum tahu kapan seluruh persenjataan untuk tiga pesawat ini lengkap.

Jika ketiga pesawat Sukhoi ini sudah dilengkapi persenjataan, Sonaji mengatakan, pertahanan udara kawasan timur Indonesia atau wilayah yang berada dalam pengawasan Komando Operasi TNI AU II akan lebih baik.

”Adanya tambahan tiga pesawat tempur tentunya akan membuat pertahanan udara Indonesia, terutama di kawasan timur, lebih baik. Kawasan perbatasan di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua akan terjaga lebih baik,” katanya.

Kedatangan dua pesawat tempur Sukhoi ini tertutup untuk diliput media.

Meninggal

Para prajurit TNI AU menurunkan pesawat tempur Sukhoi SU-27 SKM tersebut dari badan pesawat Antonov AN-124-100, Jumat (10/9/2010) lalu. (Foto: Dispenau)

Sementara itu, dua warga negara Rusia yang sedang bertugas di Pangkalan TNI AU Sultan Hasa nuddin—untuk menggaransi baik atau tidaknya tiga pesawat Sukhoi SU-27 SKM baru dari Rusia—meninggal, Senin kemarin.

Kedua warga negara Rusia itu bernama Sergei Voronin dan Alexander. Selain keduanya, satu warga Rusia lainnya, Victor Sapanov, menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Stella Maris, Makassar.

Ketiga orang ini adalah bagian dari 11 warga Rusia yang masuk dalam tim yang disebut warranty team yang bertugas mengecek baik atau tidaknya tiga pesawat Sukhoi baru buatan Rusia di Pangkalan Sultan Hasanuddin.

Kehadiran SU-27 SKM di Lanud Sultan Hasanuddin didampingi tim dari Rusia, diantaranya tiga pilot , 11 orang warranty team, tim assembling 12 orang dan satu orang the specialist of air craft, satu orang the specialist of JPC Sukhoi, serta 9 orang the specialist enterprice sub contractor dan 3 orang the representative of state corporation rostechnologi.

Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama Agus Supriatna saat ditemui di Rumah Sakit Stella Maris, Senin, mengatakan, sekitar pukul 07.00 Wita, saat tim hendak berangkat mengecek dua pesawat Sukhoi baru di pangkalan, Alexander tidak terlihat.

”Saat dicek, Alexander terlihat sudah terkapar di lantai. Kami segera bawa ke rumah sakit, tetapi ternyata meninggal di rumah sakit,” katanya.

Sementara rekannya, Voronin, menurut Agus, meninggal saat berada di rumah sakit setelah mengetahui rekannya meninggal. ”Ada kemungkinan Voronin meninggal karena penyakit jantung. Dia kaget setelah melihat Alexander meninggal,” ujar Agus. Dia melanjutkan, sekarang TNI AU bersama polisi masih menyelidiki penyebab meninggalnya kedua warga negara Rusia itu.

Dua teknisi masih dioptosi

Penyebab kematian dua perakit jet Sukhoi SU 27 SKM asal Rusia, Alexander dan Voronim, sampai malam ini (13/9) belum diketahui penyebabnya. Namun saat ini kedua jenazah tersebut masih menjalani otopsi di RS Bhayangkara Polda Sulselbar.

Menurut ketua tim foodsecurity kedokteran polisi Polda Sulselbar, AKP Mauluddin Anwar proses otopsi itu kemungkinan prosesnya masih lama, dia menambahkan otopsi terhadap dua warga Rusia itu dilakukan sejak pukul 19.00 WITa.

Sementara itu saat ini satu orang berwarga negara Rusia lainnya Viktor Sapanov masih menjalani perawatan di kamar 201 B Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Alexander ditemukan sudah tidak bernyawa di bawah kolong tempat tidur, sedangkan Voronim meninggal diduga karena serangan jantung.

Namun begitu Komandan Lanud Sultan Hasanuddin TNI AU, Marsekal Pertama Agus Supriatna belum mau mengungkapkan penyebab kematian kedua perakit Sukhoi tersebut. Agus hanya mengatakan untuk menunggu hasil dari dokter.

Kedua warga Rusia yang meninggal itu tiba di Lanud Hasanuddin Makassar sejak Minggu (5/9). Keduanya masuk dalam tim "warranty" yang beranggotakan 12 orang, sedangkan tim lainnya yakni tim "assembly".

Meski ada dua orang teknisi pesawat tempur itu yang tewas serta satu lainnya dirawat di rumah sakit namun Agus mengungkapkan perakitan itu tetap terus berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya.

KOMPAS/Suara Merdeka/TEMPO Interaktif/Suara Karya/Berita HanKam