Sunday, February 14, 2010

Boeing 737 AEW&C Pertama Korsel Tiba

Boeing 737 Airborne Early Warning and Control (AEW&C) milik AU Australia. (Foto: Boeing)

14 Februari 2010 -- Pesawat Boeing 737 Airborne Early Warning and Control (AEW&C) pertama dari empat pesawat milik Korea Selatan tiba Selasa (9/2).

Korea Aerospace Industries (KAI) akan memasang radar Multi-Role Electronically Scanned Array (MESA) L-band buatan Northrop Grumman yang dilakukan di fasilitas milik KAI di Sacheon, Provinsi Gyeongsang. Pesawat akan diserahkan ke Angkatan Udara Korea Selatan tahun depan.

Pengerjaan ini merupakan bagian kesepakatan offset yang ditandatangani 2006. Boeing dan pemerintah Korea Selatan menandatangani kontrak pembelian 4 Boeing 737 AEW&C senilai 1,6 milyar dolar.

Boeing 737 AEW&C mampu terbang hingga ketinggian 41.000 kaki pada kecepatan maksimal 340 knot.

Korea Times/@beritahankam

Korsel Hibahkan 8 A-37 Ke Peru, Incar Kontrak Senjata

A-37 Dragonfly AU Korsel.

14 Februari 2010 -- Korea Selatan menghibahkan 8 pesawat serang darat ringan A-37 Dragonfly ke Peru. Pesawat akan digunakan operasi pengawasan perbatasan bekerjasama dengan Brazil dan misi anti obat bius ungkap Menteri Pertahanan Peru Rafael Rey di Lima, Peru, Kamis (4/2) saat penyerahan pesawat.

Pemerintah Korea Selatan menawarkan 8 A-37 Dragonfly kepada Peru tahun lalu, dalam usahanya meningkatkan hubungan bilateral dan kerjasama pertahanan. Kedua negara memulai hubungan diplomatik pada 1963.

Hibah ini sebagai fondasi bagi Korea Selatan menembus pasar senjata di Amerika Latin menurut sebuah sumber militer Korea Selatan.

Korea Selatan mengincar kontrak pembelian pesawat latih dasar, rudal portable permukaan - udara, dan perbaikan kapal selam. AL Peru sedang mengevaluasi modernisasi empat kapal selam kelas Angamos (Tipe 209/1200), sekelas dengan kapal selam kelas Chang Bogo.

AU Korea Selatan mempensiunkan A-37 Dragonfly 2007. Sebelumnya pesawat ini digunakan tim akrobatik udara “Black Eagles”.

Korea Selatan membeli 20 A-37 Dragonfly dari Amerika Serikat senilai 66 juta dolar tahun 1970-an dibawah program Foreign Military Sale. A-37 Dragonfly hasil modifikasi jet latih T-37 Tweet, digunakan selama Perang Vietnam sebagai pesawat serang darat.

Belum dapat dikonfirmasi apakah Presiden Peru Alan Garcia berminat “joy flight” dengan A-37 Dragonfly.

Korea Times/AFP/@beritahankam

India Beli Lagi 6 Super Hercules

C-130J Super Hercules. (Foto: Lockheed)

14 Februari 2010 -- Seperti sumur tak berdasar, pemerintah India kembali belanja alutsista. Roger Rose kepala Lockheed India mengatakan perusahaannya sedang menunggu “Letter of Request” dari pemerintah India kepada pemerintah Amerika Serikat terkait penambahan enam pesawat angkut militer Lockheed C-130-30J Super Hercules .

Pada 2007, India telah menandatangani kontrak pembelian enam C-130-30J, sehingga total pesawat 12 unit.

Super Hercules akan ditempatkan di Pangkalan Udara Hindon di Ghaziabad. C-130-30J AU India sama dengan yang dipakai AU Amerika Serikat. Pesawat pertama akan diterima AU India mulai 2011.

Rose menambahkan Lockheed berpeluang menjual sekitar 50 unit C-130J di India.

Pangkalan Udara Hindon sedang dimodernisasi dibawah program Modernisation of Air Field Infrastructure (MAFI), diharapkan selesai 2011. Program MAFI membuat Hindon dapat mengoperasikan semua tipe pesawat termasuk jet tempur dan angkut.

Hindon akan dilengkapi radar paling sensitif, yang mampu dioperasikan dalam berbagai cuaca.



Saat ini AU India mengoperasikan pesawat angkut berat buatan Rusia IL-76 dan angkut sedang An-32. C-130-30J akan digunakan untuk operasi khusus dengan membawa beban 15-20 ton.

C-130J Super Hercules digunakan oleh AU Amerika Serikat, Inggris, Australia, Denmark, Norwegia, Italia, dan Kanada.

Aviation Week/@beritahankam