Sunday, December 20, 2009

TNI AL-PT PAL Semakin Kompak

Salah satu produksi PT. PAL Indonesia KRI Barakuda-814 dari jenis kapal patroli cepat 57 meter NAV IV, mampu didarati helikopter sekelas NBO-105. TNI AL mengoperasikan 3 kapal dari jenis ini. (Foto: PAL Indonesia)

20 Desember 2009 -- TNI AL ingin melibatkan dan memaksimalkan keberadaan galangan dalam negeri,salah satunya PT PAL Indonesia.Tujuannya untuk menyiasati keterbatasan anggaran Dephan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap asing.

Terhitung mulai 2009,TNI Angkatan Laut (AL) mulai mengubah ‘tradisi’ pengadaan Alat Utama Sistem Pertahanan( Alutsista),terutamakapalperang. Jika sebelumnya pengadaan dilakukan dengan membeli kapal jadi dari luar negeri,itu sudah mulai ditinggalkan. TNI AL ingin melibatkan dan memaksimalkan keberadaan galangan dalam negeri,salah satunya PT PAL Indonesia.

Ini untuk menyiasati keterbatasan anggaran Departemen Pertahanan (Dephan) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap asing terkait perlengkapan militer. Program yang digulirkan adalah dengan melibatkan PT PAL Indonesia dalam pembuatan kapal perang.Terakhir,PT PAL Indonesia yang berada di Ujung,Surabaya,menyerahkan KRI Banjarmasin-592 berjenis Landing Platform Deck (LPD).

Ini merupakan kapal ketiga dari empat yang direncanakan. KRI Banjarmasin-592 lebih istimewa karena dirakit di galangan kapal PT PAL Indonesia,walaupun secara teknologi masih bekerjasama dengan Daewoo International Corporation Shipbuilding, Korea Selatan. Sedangkan dua pendahulunya, KRI Makassar-590 dan KRI Surabaya-591 sepenuhnya dikerjakan di Korea Selatan. Untuk pembuatan KRI Banjarmasin- 592, tenaga ahli dari Korea Selatan bertugas sebagai supervisi.

Keberhasilan merakit kapal perang di galangan kapal dalam negeri ini yang disebut-sebut sebagai keberhasilan melaksanakan Transfer of Technology terhadap industri strategis nasional. “Kita harus mulai percaya diri terhadap kemampuan sendiri,” jelas Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul SE. Pihaknya optimistis galangan dalam negeri mempunyai kemampuan untuk membuat kapal perang, walaupun untuk sementara masih butuh supervisi dari tenaga ahli luar negeri.

Transfer of Technology akan dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan galangan yang ada. Pihaknya mengakui tidak semua peralatan militer bisa dibuat di dalam negeri, misalnya rencana pengadaan dua kapal selam yang masih akan memesan ke luar negeri. KRI Banjarmasin-592 bisa disebut sebagai titik tolak galangan dalam negeri dalam produksi alutsista.

Melihat spesifikasinya, kapal tersebut tergolong luar biasa,memiliki berat 7300 ton dengan panjang 122 meter dan lebar 22 meter.KRI Banjarmasin juga mampu mengangkut 507 pers-onel, 13 unit tank dan dua unit Landing Craft Vehicles. Dengan kecepatan maksimal 15 knot, kapal dilengkapi senjata kaliber 57 mm dan dua unit kaliber 40 mm. Kapal yang juga dilengkapi dengan landasan heli super puma tersebut diawaki 100 orang ABK.

Berhasil memproduksi KRI Banjarmasin- 592,TNI AL akan rencananya memesan sejumlah kapal baru. Seperti yang pernah disebut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Agus Suhartono, TNI AL berencana membuat sebuah kapal berpeluru kendali.Sama dengan KRI Banjarmasin-592,rencananya kapal tersebut akan melibatkan galangan dalam negeri yang bekerjasama dengan asing.

Selain itu TNI AL juga akan membuat kapal dengan kemampuan landing craft vehicle dengan daya tampung lebih besar. Layaknya sebuah kapal induk, kapal tersebut direncakan bisa menampung lima atau lebih helikopter sekaligus. Ini merupakan kemajuan tersendiri karena TNI AL belum pernah memiliki kapal yang bisa menampung heli lebih dari satu.

Sebagai gambaran, kapal yang juga bertipe LPD ini dirancang secara khusus untuk mampu dibebani senjata 100mm dan dilengkapi dengan ruang untuk sistem kendali senjata (Fire Control System) yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan self defence. Sekaligus mampu melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan taktis dan tempur, serta untuk pendaratan helikopter.

Adapun spesifikasi kapal nantinya adalah untuk Landing Craft Carrier, yakni dilengkapi Class Landing Craft Unit untuk pendaratan pasukan sepanjang 23 meter. Juga mampu mengangkut kendaraan tempur seperti tank, dengan rincian combat vehicle 22 unit dan tactical vehicle13 unit. Total personel yang terangkut dalam kapal adalah 507 personil, termasuk pasukan dan kru kapal.

Model kapal jenis OPV-60 (Offshore Patrol Vessel) dirancang PT. PAL Indonesia, panjang 60 meter, berat 500 ton, diawaki 40 - 45 awak serta mampu berlayar selama 5 - 10 hari pada kecepatan 20 knot. (Foto: @beritahankam)

Kapal dengan total panjang 125 meter ini, selain mempunyai kemampuan tempur, sekaligus bisa digunakan untuk misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana karena bisa mengangkut helikopter sekitar lima unit. Dalam waktu dekat PT PAL Indonesia juga akan mengembangkan desain untuk kapal Korvet 1300 ton dan 1500 ton,termasuk desain Kapal Pemburu Ranjau 600 ton.Itu belum termasuk kapal berpeluru kendali yang akan dipesan TNI AL pada 2010 mendatang.

Dari sisi teknologi, untuk mendukung misi kapal perang, setiap kapal perang di lengkapi dengan komputer sistem navigasi, sistem komunikasi pengontrolan yang canggih dan standar alat perang dengan spesifikasi yang terpasang, tentunya tergantung permintaan. Sejarah pembuatan kapal untuk TNI AL dimulai dari KPC 57 Meter-NAV 1 buatan 1988. Kapal yang dibuat dua unit ini mempunyai panjang total 58,10 meter dan kecepatan maksimal 30 Knot.

Dengan daya angkut 454 Ton dan berpenumpang 42 orang, kapal ini mempunyai kekuatan 2x4130 Horse Power (HP). Generasi selanjutnya adalah KPC 57 meter-NAV II yang diluncurkan dua unit pada 1989. Spesifikasinya sama persis dengan NAV I, namun ada pembaruan dari sisi tampilan, di mana NAV II terlihat lebih modern dan ‘futuristik’ dibandingkan dengan pendahulunya. Masih dengan ukuran 57 Meter, PT PAL selanjutnya membuat pesanan KPC NAV III pada 1992 dan 1995 sebanyak tiga unit.

Sekali lagi, kemampuan dan spesifikasi kapal ini ibarat fotocopy dua kapal sebelumnya. Hanya penampilan saja yang diubah mengikuti perkembangan zaman. Itu ternyata masih berlaku di KPC NAV IV dan NAV V yang dirilis pada 2000, 2002 dan 2003. PT PAL masih memakai spesifikasi KPC sebelumnya.Hanya teknologi seperti radar, navigasi dan sistem persenjataan yang dibuat lebih komplit dan mengikuti perkembangan yang ada.

Bagaimana dengan kapal selam? Nampaknya Indonesia masih harus banyak belajar dan bersabar. Pasalnya sejauh ini galangan dalam negeri belum mampu membuat satu pun kapal selam. Bahkan TNI AL rencananya kembali memesan kapal selam dari negara lain. Seperti pernah diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono, TNI AL masih mempertimbangkan tiga negara yang dianggap memiliki teknologi kapal selam termutakhir, yaknia Belanda, Rusia dan Korea Selatan.

SEPUTAR INDONESIA

PPA Akan Cairkan Pinjaman PT PA

KRI Banjarmasin kapal jenis LPD pertama dibangun di PT. PAL Indonesia. (Foto: PAL Indonesia)

20 Desember 2009, Jakarta -- PT Perusahan Pengelola Asset (PPA) segera mencairkan pinjaman untuk membantu mengatasi kesulitan modal kerja PT (Persero) PAL, khususnya dalam penyelesaian pesanan kapal. Menteri Keuangan dan Menteri Negara BUMN menyetujui pencairan pinjaman 25,6 juta dolar AS dan Rp 193,37 milliar.

Sekretaris perusahaan PPA, Renny O. Rorong pada keterangan persnya di Jakarta, Minggu (20/12), mengatakan, pihaknya ditugasi pemerintah untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi BUMN pembuat kapal tersebut. Renny Rorong menilai PAL merupakan BUMN yang prospektif mengingat potensi yang dimilikinya, terutama sumber daya manusianya yang handal.

Hal ini, lanjut dia, tercermin dari besarnya pesanan yang diterima, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pesanan kapal kepada PAL juga meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan alutsista dari Dephan dan TNI yang dapat memberikan kelangsungan produksi PAL.

Oleh karena itulah, kata dia, pemerintah telah menugasi PPA, BUMN yang dibentuk Pemerintah untuk merevitalisasi dan merestrukturisasi BUMN, melakukan penyehatan kembali PAL yang memiliki nilai strategis di bidang pertahanan. Langkah penyehatan yang diambil PPA adalah dalam bentuk pemberian pinjaman dan pengawalan atas proses restrukturisasi dan revitalisasi seperti yang diamanatkan pemerintah kepada PPA.

Menurut Renny, pinjaman ini bersifat komersial yang berdasarkan kajian, bahwa PAL akan dapat melunasi utang pada 2018. Pinjaman itu terdiri atas 25,6 juta dolar AS untuk penyelesaian pembangunan 10 kapal dan Rp 194,37 miliar untuk pembiayaan restrukturisasi korporasi. Dengan pembiayaan itu, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, mengharapkan PAL dapat lebih fokus dan efisien dalam menjalankan operasionalnya sesuai potensi yang dimiliki untuk menyongsong masa depan sebagai salah satu industri strategis di bidang pertahanan.

Atas langkah penyehatan itu, pihaknya mengharapkan proyeksi EBITDA (earning before interest, tax, devaluation, amortization, atau pendapatan sebelum pengenaan bunga, pajak, dan amortisasi) positif PAL dapat tercapai pada tahun 2010 dan mulai membukukan laba pada 2011, serta arus kas membaik pada 2013, sehingga PAL akan mampu melakukan pembayaran kepada PPA dan kreditor lainnya.

Selain restrukturisasi dan revitalisasi PAL oleh pemerintah melalui PPA, sebelum tutup tahun 2009, PPA meyakini dapat menyelesaikan proses penyehatan PT Waskita Karya (Persero).
Saat ini, PPA telah ditugasi Pemerintah menangani penyehatan sekitar 14 BUMN yang mengalami masalah baik keuangan dan operasional.

SURYA Online

Gerakan Separatis Jadi Tantangan TNI-AL

KRI Singa-651 jenis kapal cepat torpedo buatan Lurssen, Jerman dan PT. PAL Indonesia. (Foto: TNI AL)

18 Desember 2009, Jakarta -- Dinamika perkembangan lingkungan strategis saat ini masih diwarnai dengan berbagai permasalahan yang perlu menjadi perhatian, yaitu masalah perbatasan dengan negara tetangga, keamanan laut, khususnya Selat Malaka dan perairan Kalimantan Timur (Ambalat).

Gerakan kelompok separatis, konflik sosial di beberapa daerah, pelanggaran hukum di laut dan bencana alam serta terbatasnya anggaran juga jadi penghalang.

Oleh karena itum dihadapkan kondisi tersebut, tugas TNI Angkatan Laut akan semakin kompleks dan membutuhkan pengawak organisasi yang mampu mengembangkan diri, sehingga dapat menyesuaikan dengan setiap perubahan yang terjadi.

Demikian dikatakan Kasal Laksdya TNI Agus Suhartono,SE dalam amanat tertulis yang dibacakan Kaskolinlamil Laksma TNI RM Harahap pada upacara bendera 17-an di Mako Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta, Kamis (17/12).

Dengan mencermati dinamika lingkungan tersebut, Kata Kasal lebih lanjut, ke depan pembinaan personel diarahkan untuk mewujudkan personel yang memiliki sikap moral dan akhlak yang lebih baik, memenuhi tuntutan profesionalitas yang dipersyaratkan dan memiliki semangat untuk mengembangkan kreativitas serta inovasi dalam rangka menghadapi keterbatasan anggaran.

POS KOTA