Thursday, September 3, 2009

TNI Siap Bantu Kepolisian Atasi Teroris

Latihan gabungan (Latgab) anti teror di Surabaya dilakuan TNI-Polri di Bandara Juanda dan 3 hotel berbintang 5, Minggu (21/12/08). Dalam latihan penyergapan teroris ini, sedikitnya 800 personel dikerahkan. (Foto: detikFoto/Zainal Effendi)

3 September 2009, Sungailiat, Bangka -- Tentara Nasional Indonesi (TNI) di Provinsi Bangka Belitung (Babel), siap membantu aparat kepolisian dalam mengatasi tindak kejahatan terorisme yang mengancam keamanan masyarakat.

"Pihak TNI selalu siap membantu pihak kepolisian dalam mengatasi aksi kejahatan yang dilakukan para teroris," kata Komandan Kodim, Provinsi Bangka Belitung, Letkol, ARM, Harjito, di Sungailiat, Rabu.

Ia mengatakan, ada undang - undang TNI yang mengatur kaitannya terhadap penanganan kasus tindak kejahatan terorisme.

"Hanya saja selama ini penanganan kasus teroris lebih banyak dilakukan oleh pihak kepolisian, namun demikian TNI akan selalu siap jika sewaktu - waktu dibutuhkan membantu kepolisian," jelasnya.

Menurutnya, pengamanan keamanan negara dari segala macam ancaman, TNI mempunyai kewajiban untuk melindungi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

"Selama ini pihak kami atau TNI tetap melakukan pengawasan atau pemantauan di beberapa tempat seperti di pintu masuk pelabuhan dan pintu masuk bandara," katanya.

Dia mengatakan, bahwa pihaknya juga memiliki tenaga intel yang selalu memberikan informasi dari lapangan yang sifatnya indikasi ataupun sudah terbukti.

"Hasil pemantauan dan pengawasan di lapangan tetap akan dikoordinasikan dengan pihak kepolisian setempat," katanya.

Ia mengatakan, personil Kodim Bangka Belitung berjumlah 270 orang termasuk dengan staf PNS atau sipilnya.

"Prinsipnya TNI akan selalu siap melakukan perintah dari atasan termasuk penanganan kasus tindak kenjahatan pelaku teroris yang saat sekarang tengah dikenjar kepolisian," demikian Harjito.

ANTARA News

Wednesday, September 2, 2009

Ramadan Tidak Halangi Tugas TNI Konga

2 September 2009, Lebanon -- Di bulan Ramadan ini, TNI Konga XXIII-C/UNIFIL yang sedang berpuasa tetap menjalankan tugasnya sebagaimana biasanya. Meski menahan lapar dan dahaga, mereka tetap bersemangat menjaga perbatasan Libanon-Israel.

Meski sedang menjalankan ibadah puasa, Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-C/UNIFIL atau Indobatt tetap menjalankan tugasnya dengan baik di perbatasan Libanon-Israel. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Mereka tidak menghiraukan panasnya terik matahari di musim panas Libanon Selatan. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Para prajurit Konga XXIII-C/UNIFIL menyapa pengendara yang melintas di perbatasan Libanon-Israel. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Tank-tank selalu menemani mereka menjaga perbatasan Libanon-Israel. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Para prajurit TNI Konga XXIII-C/UNIFIL berpatroli untuk mengamankan perbatasan Libanon-Israel yang menjadi salah satu tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian di Lebanon Selatan sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Pangdam Wirabuana: Sulawesi Potensial Jadi Persembunyian Teroris

Kendaraan pasukan anti teror TNI plus pasukannya. (Foto: detikFoto/Zainal Effendi)

02 September 2009 , Makassar -- Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen Djoko Susilo meminta agar seluruh masyarakat ikut berperan aktif dengan melaporkan hal-hal yang mencurigakan, karena wilayah Sulawesi sangat memungkinkan menjadi tempat persembunyian teroris.

Hal tersebut diungkapkan Djoko kepada wartawan usai Ceramah Anatomi Teroris Global dan Nasional oleh Asisten Pengamanan (Aspam) Kasad TNI Mayjen Hendardji Supandji, di Makodam VII Wirabuana, Rabu (2/9) sore. Selain Hendardji, pembicara dalam ceramah ini adalah Natsir Abbas, mantan Koordinator Jamaah Islamiah Mantiqi 3 yang meliputi wilayah Sulawesi, Kalimantan Timur dan Filipina.

"Sangat memungkinkan," kata Pangdam VII, saat ditanya oleh wartawan soal potensi Sulawesi menjadi tempat persembunyian teroris. Karena itulah dia meminta agar masyarakat senantiasa berperan aktif dengan melaporkan hal-hal yang mencurigakan. Khusus kondisi di Poso, Djoko mengatakan dua tahun terakhir ini sudah kondusif.

Menurut Djoko penanggulangan teroris oleh TNI bukan baru akan dimulai, tetapi sudah dilakukan sejak dulu. Hendardji mengatakan bahwa desk anti teror di TNI itu sudah ada sejak 2005. Tetapi peningkatan aktivitas ini tidak mengambil alih tugas kepolisian. Hanya mencatat dan mengantisipasi tentang teroris serta memberikan saran jika diminta oleh pimpinan.

Hendardji mengatakan terorisme ini merupakan ancaman faktual di dalamnya potensi dan jaringan ini perlu diwaspadai. "Jadi kita TNI ini memang sudah harus sudah siap baik ada ancaman atau tidak," katanya.

Hendardji menambahkan bahwa kegiatan ceramah anatomi teroris global dan nasional ini dilakukan kepada seluruh anggota TNI di Indonesia, yang dimulai 17 Juli lalu, yang dilakukan secara terus menerus. Sebelum di Makassar ini telah dilakukan di Jawa dan Sumatera, minggu depan dilanjutkan ke Kalimantan dan Ambon.

Ditanya soal keberadaan Natsir Abbas sebagai pembicaran, Hendardji mengatakan agar para aparat bisa mengantisipasi karena ia sangat menguasai masalah.

Kapendam VII Wirabuana, Mayor Rustam Effendi mengatakan peserta ceramah ini sebanyak 560 yang berasal dari Danrem se Sulawesi, Dandim, Danyon, kepala badan pelaksana, Detasemen Intel, Detasemen Zipur, dan Detasemen Perbekalan dan Angkutan.

TEMPO Interaktif