Sunday, August 2, 2009

Nelayan Malaysia Sering Curi Ikan

Kapal Patroli Cepat PC-40 KRI Tarihu-829 buatan Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI Angkatan Laut Mentigi. (Foto: dispenal)

2 Agustus 2009, Paloh -- Kapal-kapal nelayan Malaysia hampir setiap hari melanggar batas wilayah perairan Indonesia di Laut Natuna, tepatnya di sebelah barat pantai Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Mereka menangkap ikan menggunakan alat pukat harimau.

”Sedikitnya ada empat kapal nelayan berbendera Malaysia masuk sejauh 4 mil ke selatan dari batas di Gosong Niger. Mereka menggunakan dua kapal berdampingan dan menyapu menggunakan trawl (pukat harimau),” kata Komandan Satuan Perintis Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan Desa Temajuk, Brigadir Satu Sari Wahyono, Sabtu (1/8).

Asep (36), nelayan setempat, mengatakan, kapal nelayan Malaysia yang masuk ke perairan Indonesia rata-rata berbobot 12 grosston. Kapal biasanya dilengkapi radar yang bisa mendeteksi keberadaan kapal lain, termasuk kapal patroli. ”Kalau ada kapal patroli dari Indonesia maupun Malaysia, mereka tidak berani masuk ke wilayah kita,” katanya.

Kapal nelayan Malaysia itu dilengkapi sonar untuk mengetahui kedalaman dan keberadaan ikan. Mereka juga memiliki radio komunikasi sehingga bisa saling memperingatkan jika ada kapal patroli. Hal ini diketahui Asep dari nelayan Indonesia yang pernah bekerja di kapal Malaysia.

Komandan Batalyon Lintas Batas di Pos Temajuk Letnan Dua Infanteri Jaja Jamaldin dan anggota Keamanan Laut dari TNI AL di Pos Temajuk menyatakan, patroli belum pernah memergoki kapal Malaysia yang memasuki perbatasan dan mencuri ikan.

”Memang ada kapal nelayan berbendera Malaysia terpantau radar masuk sekitar 1 kilometer, tetapi mereka kembali ke wilayah Malaysia dan tidak menangkap ikan,” katanya.

Kekayaan sumber daya kelautan Indonesia di lokasi itu potensial karena masih banyak terumbu karang dalam kondisi baik. Ikan, udang, dan ubur-ubur cukup berlimpah.

Di sisi lain, armada patroli pengamanan sangat terbatas. Menurut Jaja, pihaknya hanya memiliki satu kapal cepat (speedboat). ”Patroli menggunakan speedboat tidak terlalu sering dan tidak bisa menjangkau lebih dari 7 mil dari pantai. Untuk menyiasati, kami sering berpatroli dengan menumpang kapal nelayan,” katanya.

Keterbatasan petugas membuat frekuensi patroli di perairan menggunakan speedboat hanya 1-2 kali dalam sebulan.

KOMPAS

UAV Dominator II Sukses Uji Terbang

Dominator II Medium Altitude Long Endurance (MALE). (Foto: militaryphotos.net)

2 Agustus 2009 -- Perusahaan dirgantara Israel Aeronautics Defense Systems (ADS) telah menyelesaikan uji penerbangan pertama prototipe pesawat nir awak (UAV) Dominator II minggu lalu.

Dominator II Medium Altitude Long Endurance (MALE), disebut juga dengan Oz, dikembangkan dari pesawat Diamond DA-42 Twin Star buatan pabrik pesawat Austria Diamond, pertama kali dikenalkan ke publik saat pameran dirgantara Berlin 2002.

Diamond DA-42 Twin Star. (Foto: airliners.net)

MALE dapat dilengkapi dengan berbagai jenis payload yang mampu membawa beban hingga 400 kg dengan ketinggian operasional 30.000 kaki, mampu beroperasi 28 jam dengan kecepatan mulai 75 hingga 190 knot.


UAV Dominator II Medium Altitude Long Endurance (MALE). (Foto: military-photos.net)

Setelah keberhasilan uji terbang pertama ini, sistem dan sensor tambahan akan diintegrasikan.

DEFPRO/@beritahankam

Rusia Buka Pangkalan Militer Kedua di Kyrgyzstan

Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden Kyrgyzstan sedang menandatangani memorandum. (Foto: media.eyeblast.org)

2 Agustus 2009 -- Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden Kyrgyzstan menandatangani memorandum mengenai kehadiran militer Rusia di Kyrgyzstan, Sabtu (1/8).

Rusia akan menempatkan satuan militer hingga seukuran satu batalyon dan pusat pelatihan untuk personil militer kedua negara. Perjanjian ini berlaku untuk 49 tahun dan dapat secara otomatis diperpanjang sampai periode 25 tahun.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada para jurnalis, Sabtu (1/8), pusat pelatihan, Kyrgyzstan sebagai tuan rumah, akan dibuka untuk seluruh negara anggota Collective Security Treaty Organization (CSTO). CSTO adalah blok keamanan pasca runtuhnya Uni Sovyet, terdiri dari Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Rusia, Uzbekistan dan Tajikistan.

Pangkalan udara di kota Kant.

CSTO mengadakan pertemuan di resor Issyk-Kul, Kyrgyzstan 1 - 2 Agustus. Belarusia diharapkan bergabung dengan pasukan reaksi cepat CSTO, perjanjiannya ditandatangani 14 Juni. Sebelumnya, Rusia menawarkan menempatkan satu batalyon sebagai bagian dari unit pasukan reaksi cepat CSTO di wilayah Batken bagian utara Kyrgyzstan.

Rusia telah menempatkan 400 personil dari satuan udara Angkatan Darat ke-5 di pangkalan udara di kota Kant, sekitar 20 kilometer di luat ibu kota Kyrgyzstan Bishkek dan empat fasilitas militer Rusia lainnya. Para personil Rusia mengoperasikan pesawat tempur serang Su-25 Frogfoot dan helikopter angkut militer Mi-8.

RIA Novosti/@beritahankam