Monday, May 18, 2009

Iran Memproduksi Jet Antonov An-148

An-148 saat beraksi di pameran udara Le Bourget 2007. (Foto: zap16)

18 Mei 2009 -- Kementrian Pertahanan Iran mengumumkan berencana membuat pesawat jet penumpang Antonov An-148 buatan Ukraina berdasarkan lisensi.

An-148 akan dibuat di Iran dengan bantuan Ukraina dan akan menyediakan 20.000 tempat duduk untuk transportasi udara Iran. An-148 pertama kali mengudara Desember 2004, melengkapi sertifikat penerbangan pertenggahan awal 2006.

An-148 (Foto: zap16)

Kementrian Pertahanan Iran tertarik versi khusus An-48 yang berfungsi sebagai pengangkut pasukan, patroli perbatasan, evakuasi medis dan tanker udara, seperti diberitakan Globalsecurity.org .

Harga pembuatan setiap pesawat USD 18 – 22, dimana dapat membawa 85 – 99 penumpang. An-148 didisain oleh perusahaan pesawat terbang Ukraina Antonov, saat ini diproduksi oleh Russian Voronezh Aircraft Production Association.

Iran bekerjasama dengan Ukraina dan Rusia memproduksi dan mengoperasikan Antonov-140, yang dapat membawa 52 penumpang.

Setelah membeli lisensi produksi An-140 dari Ukraina tahun 2000, Iran membuat pesawat An-140 pertama kali di tahun 2003.

Spesifikasi An-148


Jumlah Awak: 2
Maksimum penumpang: 80 orang dengan 30 inch (762 mm) jarak antar kursi
Maksimum muatan: 9000 kg
Jarak Jelajah:
An-148-100A 2200 km
An-148-100B 3600 km (75 penumpang)
An-148-100E 5100 km (75 penumpang)
Maksimum bahan bakar: 12100 kg
Kecepatan: 820 – 870 km/jam
Ketinggian Jelajah: 11000 – 12500 km
Panjang landasan pacu: 1750 – 2100 m
Konsumsi bahan bakar: 1470 kg/jam

Presstv/@beritahankam

Australia Bantu Kapal Patroli Bagi Polri

Kapal patroli katamaran 22 meter milik Kepolisian Queensland. (Foto: austal)

18 Mei 2009, Jakarta -- Pemerintah Australia akan memberikan bantuan kapal patroli kepada Polri dalam rangka mendukung pengamanan pintu-pintu masuk wilayah Indonesia dari imigran gelap. Bantuan tersebut didasarkan atas dasar kesetaraan antara kedua belah pihak. "Prinsipnya itu kita saling membutuhkan," kata Direktur V Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Boy Salamuddin, Minggu, (17/5).

Boy mengatakan, keinginan Autralia memberikan bantuan itu merupakan bentuk kepedulian sekaligus mereka berkepentingan dalam rangka mengantisipasi agar jumlah imigran gelap maupun perdagangan manusia yang masuk kenegaranya. Terkait jumlah kapal yang akan diberikan kepada Polri, Boy belum dapat memastikan. "Itu tergantung Australia," katanya.

Ia hanya menegaskan, Polri butuh kapal yang berkapasitas angkut diatas 50 orang. Dengan kapasitas sebesar itu, selain mampu mengangkut dalam jumlah yang relatif lebih banyak, diyakini kapal tersebut akan mampu menjelajah hingga laut lepas. Tidak seperti kemampuan yang dimiliki saat ini. Boy juga mengatakan kebutuhan pihaknya terhadap alat komunikasi yang dapat menunjang pelaksanaan pengamanan batas pantai oleh Polri.

Ia juga menjelaskan, dalam mengantisipasi arus imigran gelap maupun memberantas praktek perdagangan manusia, masing-masing negara di dunia tidak akan mampu mengatasinya sendiri-sendiri. Untuk itu dirasa perlu kerjasama antara negara-negara seperti yang dilakukan Australia dengan negara tetangganya seperti Indonesia.

Sedangkan persoalan yang mendasar dalam imigran gelap serta perdangangan manusia sendiri, kata Boy, sebenarnya berada di negara asal imigran itu sendiri. Ia mengatakan, selama masih ada konflik internal di beberapa kawan di dunia, praktek imigran gelap dan perdagangan manusia akan selalu ada.

Sementara itu, Australia menilai perlu untuk mengamankan negara-negara yang selama menjadi tempat persinggahan atau transit bagi imigran gelap seperti Indonesia, Malaysia serta Thailand. Sedangkan Singapura, menurut Boy, sangat kecil kemungkinannya digunakan sebagai tempat transit. Selain negara itu lebih kecil wilayahnya, pantai Singapura juga sangat terbatas jika dibanding ketiga negara tadi.

Dalam menjalankan aksinya, imigran gelap sering kali memasuki suatu wilayah negara menggunakan dukomen-dokumen yang dipalsukan. Pemalsuan dokumen-dokumen tersebut, kata Boy, dapat dilakukan di negara asal maupun negara tempat mereka transit seperti Thailand dan negara lain.

Sedangkan untuk di Indonesia, ia menegaskan perlunya kerjasama antar instansi di dalam negeri. Karena pihak yang berkompeten memastikan dokumen imigrasi asli atau palsu adalah pihak Imgirasi. "Mereka (Imigrasi) yang tahu persis dokumen itu asli atau palsu," ujarnya.

Perjanjian kerjasama dalam menghadapi masuknya imigran gelap dan perdangan manusia ini, kata Boy, telah dimulai sejak tahun 1995.
(Jurnal Nasional)

Sunday, May 17, 2009

Simulasi Pengamanan Pilpres Brimobda Sulawesi Tengah


16 Mei 2009, Palu -- Sejumlah personel Brimobda Sulawesi Tengah mengintai musuh, dalam simulasi pengamanan Pilpres di Bukit Jabal Nur, Palu, Sabtu (16/5). Simulasi itu dilaksanakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan aparat Brimob terhadap segala gangguan termasuk terorisme pada pelaksanaan Pilpres 2009. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki/Koz/ama/09)