Sunday, March 15, 2009

TNI AD Perkuat Pos Pengamanan di Papua

14 Maret 2009, Jakarta -- Mabes TNI Angkatan Darat (AD) menyatakan, akan memperkuat pos-pos pengamanan TNI di Papua, terutama di titik-titik rawan seperti di kawasan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Christian Zebua kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, mengatakan, perkuatan dilakukan dengan penambahan personel dari Kodam Trikora.

"Jadi, masih personel organik di Kodam setempat. Bukan personel yang di-BKO dari luar," katanya.

Perkuatan itu, lanjut Christian, dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penyerangan lagi oleh Kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM), terutama oleh kelompok Goliat.

Dijelaskannya, gangguan berupa tembakan oleh OPM terhadap pos-pos pengaman TNI di kawasan Tingginambut, telah terjadi beberapa kali terakhir pada Jumat (13/3) malam.

"Namun, kami berupaya untuk tidak melakukan tindakan balasan membabi buta. Sampai pada Sabtu (14/3) siang saat anggota TNI melakukan patroli rutin di kawasan itu dihadang hingga terjadi baku tembak dan menyebabkan satu anggota TNI AD meninggal dunia," tuturnya.

Christian mengakui, pelaku penyerangan tidak sempat terkejar oleh aparat TNI. Untuk itu, pihaknya akan bekerja sama dengan polisi untuk mencari pelaku sambil memperkuat personel di pos-pos pengamanan tidak saja di Puncak Jaya, tetapi di semua titik rawan di Papua.

Jenazah Praka Saiful Yusuf anggota 754 yang gugur ditembak TPN/OPM, Sabtu siang di kawasan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya berhasil dievakuasi ke Mulia.

Danrem 173 Biak Kol Inf Hery Ramlan mengemukakan, jenazah dievakuasi sekitar 18.30 WIT ke Ibukota Puncak Jaya, Mulia dan direncanakan disemayamkan di aula kantor bupati setempat.

Korban yang bertugas di pos Gurage kawasan Tingginambut itu terkena tembak di bagian kepala.

Ketika ditanya apakah akan dilakukan pengejaran terhadap pelaku, Dandrem 173 yang wilayahnya meliputi Biak, Paniai, Nabire, dan Puncak Jaya itu mengakui, kemungkinan itu ada saja namun pihaknya akan melihat kondisi di lapangan.

Organisasi terlarang TPN/OPM sejak Jumat (13/3) menyerang pos 754 yang berada di Gurage. Bahkan kelompok bersenjata itu membakar dan merusak jembatan yang ada di kawasan tersebut.(antara)

Sarang Pesawat Pengebom Rusia di Kuba dan Venezuela

Gambar Artis Tupolev TU-160 Blackjack


15 Maret 2009, Moskwa -- Rusia kemungkinan dapat menempatkan beberapa pesawat pengebom strategisnya di Kuba atau di sebuah pulau yang ditawarkan oleh Pemerintah Venezuela. Menurut pengamat militer independen AS, Alexander Golts, pernyataan militer Rusia tersebut merupakan gertakan balas dendam setelah kapal-kapal perang AS berpatroli di Laut Hitam yang dekat dengan Georgia.

Menurut Pejabat Angkatan Udara Rusia, Mayor Jenderal Anatoly Zhikharev, Presiden Venezuela Hugo Chavez telah menawarkan satu pulau lengkap dengan fasilitas yang dapat digunakan sebagai pangkalan sementara pesawat pengebom strategis. Zhikharev menjelaskan pemakaian pulau Venezuela untuk pangkalan pesawat pengebom Rusia itu akan berlaku apabila telah dicapai keputusan politik.

Pejabat kepresidenan dan Departemen Pertahanan Venezuela menolak untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Zhikharev itu. Pejabat Pemerintah Kuba juga belum memberikan tanggapannya mengenai hal ini.

"Kami tak memberikan komentar kepada hal yang sifatnya masih berupa pengandaian," kata Mike Hammer, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS. Sementara pejabat Kremlin, Alexei Pavlov, menerangkan, militer Rusia masih membicarakan kemungkinan teknis penempatan pesawat pengebom di Venezuela dan Rusia.

Pembom TU-160 Blackjack mampu membawa 12 rudal nuklir KH-55 atau rudal jelajah konvensional KH-555 atau 24 rudal nuklir jarak pendek KH-15 (Foto: milavia.net)

Venezuela dan Kuba, yang selama ini dikenal sebagai musuh AS, telah menjalin kedekatan hubungan di bidang energi dan politik bersama Rusia. Rusia melanjutkan patroli pesawat pengebom berjarak jauh pada 2007 setelah operasinya vakum selama 15 tahun.

Venezuela mengizinkan 2 pesawat pengebom Rusia Tu-160 yang berada dalam program pelatihan untuk singgah di wilayahnya, September tahun lalu. Hal itu berlanjut dengan misi pasukan Venezuela yang bergabung dengan kapal perang Rusia untuk mengikuti latihan perang di wilayah Karibia.

Kuba tidak pernah secara resmi digunakan sebagai pangkalan pesawat tempur Rusia walaupun pesawat pengebom berjarak pendek Soviet kerap kali singgah di kawasan negara itu selama Perang Dingin. Analis militer, Golts, menerangkan, penempatan pesawat pengebom Rusia di Venezuela atau Kuba sama sekali tidak menimbulkan ancaman militer.

"Pesawat pengebom tak memerlukan pangkalan apa pun," kata Golts. Golts menerangkan, pesawat pengebom strategis mampu mencapai wilayah serangan dari Rusia hingga AS tanpa perlu mengadakan persinggahan.(Kompas)

Rusia Tertarik Gunakan Lanud Milik Kuba

TU-160 Blackjack ditenagai empat mesin Trud/Samara NK-32 (Foto: milavia.net)

14 Maret 2009, Moskow -- Rusia menunjukkan ketertarikannya menggunakan lapangan terbang Kuba selama misi patroli yang dilakukan pengebom-pengebom strategisnya. Demikian dilaporkan agensi berita Rusia, Interfax.

"Ada empat atau lima lapangan terbang di Kuba dengan panjang 4.000 meter yang pas untuk kami," ujar Major Jenderal Anatoly Zhikharev kepada Intefax.

Zhikkharev, yang adalah Kepala Staf Angkatan Udara Rusia, mengatakan, "Jika dua kepala negara menunjukkan niat politik yang sama, kami siap terbang ke sana.

"Zhikharev juga menyatakan bahwa Presiden Venezuela, Hugo Chavez menawarkan sebuah landasarn terbang militer di Pulau La Orchila sebagai markas sementara untuk pengebom strategis Rusia.

"Jika keputusan politik yang relevan dibuat, ini sangat mungkin dibuat," ujarnya, seperti dikutip Interfax. Zhikharev mengatakan, pernah mengunjungi La Orchila di tahun 2008 dan menegaskan, dengan sedikit perbaikan, landasan terbang milik markas angkatan laut lokal dapat digunakan untuk pengebom strategis Rusia.

Kompas

POM TNI Konga XXV-A/Unifil Mengawal Kontingen India

14 Maret 2009, Beirut -- Pasukan POM TNI Konga XXV-A/Unifil melakukan melakukan pengawalan terhadap kontingen India yang telah berakhir melaksanakan tugasnya. Pengawalan atau escort dilakukan dari Home Base (UN Posn 4-2) sampai Bandara Internasional Rafiq Hariri-Beirut, Libanon.

Pasukan TNI mengecek perlengkapan kontingen India yang akan kembali ke tanah airnya. (Lettu Sus M. Soleh, S.IK/Pembaca/detikFoto)

Pengawalan dilakukan dari Home Base (UN Posn 4-2) sampai Bandara Internasional Rafiq Hariri-Beirut dan kembali lagi ke Home Base dengan membawa kontingen India pengganti. (Lettu Sus M. Soleh, S.IK/Pembaca/detikFoto)

Escort atau pengawalan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan Polisi Militer di daerah operasi penugasan pasukan perdamaian PBB-UNIFIL, yang dilaksanakan secara berkendaraan maupun berjalan kaki dalam rangka pergeseran atau pengawalan terhadap personel, baik (VIP, VVIP) maupun pasukan dan logistik atau material-material yang dipertanggungjawabkan kepada UNIFIL. (Lettu Sus M. Soleh, S.IK/Pembaca/detikFoto)

Pasukan India siap berangkat. (Lettu Sus M. Soleh, S.IK/Pembaca/detikFoto)