Sunday, February 22, 2009

Destroyer Perancis Kelas Georges Leygues


Primauget D644 Destroyer Kelas Georges Leygues

Destroyer kelas Georges Leygues mempunyai bobot 3830 ton dan membawa awak 218 orang, diluncurkan di galangan kapal Brest tahun 1978. Sebagai pengerak kapal digunakan dua mesin gas Rolls Royce Olympus TM3B kecepatan putaran 46200 bhp dan dua mesin diesel SEMT- Pielstick 16PA6 CV280 kecepatan putaran 10400 bhp, keempat mesin menghasilkan kecepatan maksimal 30 knot, bila mesin diesel saja 21 knot. Jarak jelajah 13600 km pada kecepatan 18 knot.

Georges Leygues D640 Destroyer Kelas Georges Leygues

Persenjataan yang diusung kapal jenis ini, empat misil anti kapal Aerospatiale MM 38 Exocet, misil anti pesawat terbang Crotale dengan 26 peluncur , satu meriam 100 mm/55 Mod 68 CADAM multi fungsi, dua meriam Oerlikon 20 mm, empat senapan mesin M2HB 12,7 mm, dua peluncur torpedo, 10 torpedo ECAN L5, 12 torpedo Honeywell Mk46 untuk dua helikopter anti kapal selam Lynx dan dapat juga digunakan oleh kapal.

Destroyer kelas Georges Leygues, AL Perancis mempunyai tujuh buah kapal yaitu Georges Leygues D640 mulai bertugas 10 Desember 1979 , Dupleix D641/16 Juni 1981, Montcalm D642/28 Mei 1982, Jean De Vienne /25 Mei 1984, Primauguet D644/5 November 1986, La Motte-Picquet D645/18 Februari 1988, dan Latouche-Treville D646/16 Juli 1990. (globalsecurity/beritahankam.blogspot.com)

Kapal Induk Prancis Tiba di Jakarta Untuk Misi Diplomasi


22 Februari 2008, Jakarta -- Kapal induk helikopter Prancis "Jeanne d`Arc" dan kapal perusak "Georges Leygues" yang bertolak dari Brest, Prancis, pada 9 Desember, tiba di Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu untuk melakukan misi diplomasi dan persahabatan hingga 26 Februari 2009.

"Selain membawa misi diplomasi, kami juga ingin memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari Angkatan Laut Indonesia yang bersama mitra-mitranya dari Malaysia dan Singapura telah berhasil menumpas perompakan di Selat Malaka," kata Kapten Herve Blejean yang disertai Komandan Thierry Catard sebagai pemimpin "Georges Leygues" kepada wartawan yang meliput kedatangan kapal-kapal tersebut.

Menurut dia, angka perompakan di Selat Malaka yang dilalui banyak kapal kargo dan tanker menurun drastis selama dua tahun terakhir.

Lebih jauh Blejean mengatakan sesuai rencana pelayarannya, Jakarta dipilih sebagai tempat persinggahan kapal-kapal itu karena Ibukota Indonesia itu termasuk kota yang dinamis dan hubungan antara Indonesia dan Prancis berlangsung baik selama ini.

"Seorang perwira muda dari Indonesia ikut serta dalam rombongan kami dan jumlah kadet dari Indonesia bisa bertambah pada tahun-tahun mendatang," ujarnya.

Kapal "Jeanne d`Arc" digunakan terutama untuk latihan dasar bagi para kadet Angkatan Laut Prancis. Lettu Bagus Jatmiko dari Indonesia termasuk seorang kadet tamu yang mengikuti pelayaran kapal-kapal tersebut hingga Mei nanti.

Bagus bersyukur dapat memperoleh kesempatan mengikuti pelayaran ini dan menimba banyak pengetahuan termasuk penguasaan bahasa Prancis.

Sebagai kapal induk, "Jeanne d`Arc" dan "Georges Leygues" pernah ikut serta dalam misi bantuan kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam menyusul bencana tsunami yang melanda provinsi itu dan beberapa negara lain di Asia Tenggara pada 26 Desember 2004. Keduanya meninggalkan misi awalnya selama hampir dua bulan pada awal tahun 2005.

Kapal "Jeanne d`Arc" yang berawak 600 orang telah mengirimkan bantuan ke wilayah-wilayah terisolasi terutama Meulaboh dan desa-desa di sekitarnya.

Sebuah delegasi dari kota Brest yang dipimpin Walikota Francois Cuillandre juga ikut dalam rombongan tersebut. Walikota Brest menjajaki kemungkinan kerjasama di berbagai bidang dengan pihak-pihak terkait di Jakarta.

antara

HMS Echo Makes Friends with Indonesian Pupils


The Devonport-based Hydrographic and Oceanographic Survey Vessel HMS Echo recently strengthened international ties and made new friends during a ship visit to Jakarta, Indonesia, one of a number of ports she has visited during her current deployment to the Far East.

Following a warm welcome from local authorities and a visit from the ship’s opposite numbers in the Indonesian Navy, 30 members of the Ship’s Company travelled to the Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Islamic College located on the outskirts of Jakarta to assist pupils planting trees around the school.


The school welcomed the naval contingent and British Ambassador Mr Martin Hatful with a display of flags and music before welcoming them inside the college’s mosque for speeches and a presentation of gifts. Following the festivities the crew members joined the school’s pupils in games of volleyball and football – the home side winning both matches.

Commander Gary Brooks, Commanding Officer of HMS Echo said: “A mutual friendship definitely developed between the children, their teachers and the sailors. All from HMS Echo experienced the mutual benefit of the Royal Navy mixing with the Indonesian community.”

Over the following days Echo repaid the school’s hospitality, inviting 18 pupils and staff onboard. Activities included a tour of the ship and an introduction to life on a Royal Navy Surveying vessel, which included dressing up a volunteer in full fire-fighting equipment.

HMS Echo, the 12th ship to bear the name, is a Multi-Role Hydrographic and Oceanographic survey vessel. The ship’s affiliated town is Taunton in Somerset. HMS Echo is equipped with the latest integrated survey systems as well as advanced navigation and communications. The ship operates a 'lean' manned 3-watch rotation system and the total Ship’s Company is 72, with 48 personnel onboard at any one time. Ship’s Company work a cycle of 75 days on, 30 days off and the ship has an endurance of 35 days.

royal navy