Friday, April 1, 2011

India Beli Lagi 4 Pesawat Intai Maritim P-8I

P-8I. (Foto: Boeing)

1 April 2011 -- (Berita HanKam): Pemerintah India telah menyetujui tambahan pembelian empat pesawat patroli maritim jarak jauh dan anti-kapal selam P-8I dari Boeing. India telah memesan 8 P-8I senilai 2,1 milyar dolar pada Januari 2009, dijadwalkan dikirimkan Januari 2013 dan Desember 2015 pada Angkatan Laut India.

Boeing berharap India meneken kesepakatan pembelian 10 pesawat angkut berat C-17 Globemaster III dalam beberapa bulan kedepan, ungkap Presiden Boeing Chris Chadwick pada Dow Jones Newswires.

Pada Oktober 2009, Boeing mengajukan penawaran pada AU India helikopter serang AH-64 Apache Longbow dan helikopter angkut berat CH-47F. India membutuhkan 22 helikopter serang dan 15 helikopter angkut berat.

Chadwick tidak mengungkapkan nilai kesepakatan pembelian 4 P-8I, tetapi persetujuan telah diperoleh dari India dan pesawat diserahkan setelah 2015.

Boeing mengikuti juga tender pembelian 126 pesawat tempur untuk AU India senilai 10 milyar dolar.

Sumber: WSJ
Berita HanKam

Alenia Serahkan C-27J Ketiga ke AU Bulgaria

C-27J Spartan AU Bulgaria. (Foto: Sofiaecho)

1 April 2011, Sofia -- (Berita HanKam): Alenia Aeronautica menyerahkan pesawat angkut C-27J Spartan terakhir yang dipesan Angkatan Udara Bulgaria pada 2006.

Upacara penyerahan pesawat dilaksanakan di pangkalan militer Vrazhdebna, Sofia, Kamis (31/3), dihadiri Perdana Menteri Bulgaria Anu Anguelov, Menteri Pertahanan Bulgaria Giuseppe Cossiga, Sekretaris Pertahanan Italia Stefano Benazzo, Dubes Italia untuk Bulgaria Gen. S.A. Maurizio Ludovisi, serta pejabat Alenia Giuseppe Giordo.



Upacara penyerahan C-27J Spartan di pangkalan militer Vrazhdebna, Sofia. (Foto: Alenia)
Pada awalnya, pemerintah Bulgaria memesan lima pesawat pada 2006, dua pesawat diserahkan Desember 2010 ketika pejabat Bulgaria mengumumkan pesanan pesawat dikurangi menjadi tiga unit.

C-27J AU Bulgaria dilengkapi sistem pertahanan diri yang meningkatkan secara signifikan kemampuan pesawat melakukan operasi dalam kondisi sulit.

Pesawat C-27J Spartan telah dipesan oleh AU Italia, Yunani, Lithuania, Rumania, Maroko dan Amerika Selatan. Alenia memperkenalkan C-27J pada TNI AU bulan lalu di Halim Perdanakusumah.

Sumber: Alenia
Berita HanKam

Kemhan Siap Beli Pesawat Tanpa Awak

Wulung UAV buatan dalam negeri.

1 April 2011, Jakarta -- (SINDO): Kementerian Pertahanan (Kemhan) menganggarkan sekitar USD16 juta untuk pembelian pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV).

Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Herryanto mengatakan, untuk 2011 direncanakan akan dilakukan pembelian sejumlah pesawat tanpa awak. Dana untuk pembelian tersebut diambil dari anggaran tambahan untuk memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) senilai Rp2 triliun pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011.

Namun, dia belum bisa memastikan pesawatpesawat tersebut akan didatangkan dari negara mana. “Untuk sejumlah pembelian alutsista, kita akan menggunakan anggaran tambahan Rp2 triliun,” ujarnya di Jakarta kemarin. Selain itu, lanjut Eris, tambahan anggaran tersebut juga akan dibelanjakan untuk persenjataan pesawat tempur Sukhoi dan sejumlah helikopter dari Rusia.

Seperti diketahui,TNI Angkatan Udara akan menambah satu skuadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, untuk memperkuat kemampuan pemantauan, termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat. Pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis dan dapat dioperasikan dari jarak jauh.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat pernah menyatakan, untuk menampung pesawat- pesawat tersebut, status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Helmi Fauzy mengatakan, prinsipnya Komisi I menyetujui sejumlah pembelian alutsista yang diusulkan Kemhan dan TNI.

“Untuk pembelian pesawat tanpa awak dan sejumlah persenjataan lain prinsipnya disetujui,” ujarnya.Namun, lanjut Helmi,Komisi I mempertanyakan pembelian dua pesawat Boeing 737-400 dari Garuda Indonesia. Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Fayakhun Andriadi menambahkan, pihaknya mempertanyakan serah terima pesawat tersebut.

Menurutnya, proses pembelian tersebut telah melanggar prosedur.“DPR belum memberikan persetujuan atas proses pembelian tersebut,” katanya. Seharusnya,dengan anggaran yang tersedia,TNI AU dapat membeli pesawat baru yang pemeliharaannya jauh lebih mudah dan murah ketimbang membeli pesawat bekas dari maskapai penerbangan.

”Sebaiknya beli baru.Apalagi untuk VVIP. Satu bisa sekelas 737, satunya lagi pesawat yang bisa mendarat di mana-mana,misalnya CN235 yang bisa (dibuat) di dalam negeri oleh PT Dirgantara Indonesia,”ujarnya.

Sumber: SINDO