Showing posts with label Thailand. Show all posts
Showing posts with label Thailand. Show all posts

Monday, June 6, 2011

Thailand Upgrade Dua Frigate Kelas Naresuan

HTMS Taksin-622 salah satu frigate kelas Naresuan.

6 Juni 2011, Jakarta (Berita HanKam): Saab mengumumkan memperoleh kontrak upgrade ”combat management” dan sistem kontrol penembakan dua frigate kelas Naresuan senilai MSEK 454.

Kontrak meliputi upgrade combat management generasi terakhir dan sistem kontrol penembakan 9LV Mk4 dan CEROS 200. Saab akan memasang juga perangkat data-link di kedua kapal perang agar dapat berkomunikasi antara frigate, jet tempur Gripen dan Saab 340 yang dilengkapi sistem radar udara ERIEYE.

Pemerintah Thailand membeli empat frigate kelas Jianghu dan dua Tipe IV. Frigate Tipe IV diberi nama HTMS Taksin-622 (diserahkan November 1995) dan HTMS Naresuan-621. Frigate dibeli dengan harga persahabatan 2000 juta baht per-unit, dibandingkan 8000 juta baht buatan Barat.

Sumber: Saab
Berita HanKam

Thursday, March 31, 2011

Pemerintah Thailand Setujui Pembelian Kapal Selam Jerman

Kapal selam tipe U-206A. (Foto: Ulrich Wrede)

31 Maret 2011, Bangkok -- (Berita HanKam): Pemerintah Thailand membenarkan rencana pembelian sedikitnya dua kapal selam diesel-elektrik tipe U-206A bekas pakai Angkatan Laut Jerman, sebagai respon dari modernisasi angkatan laut negara tetangga.

Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva telah menyetujui nilai pembelian kapal selam 253 juta dolar, setelah pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jenderal Prawit Wongsuwon dan KASAL Laksamana Kamthorn Pumhiran menurut sumber di Angkatan Laut.

Wakil PM Suthep Thaugsuban mengatakan pembelian kapal selam menjadi prioritas sehubungan perkembangan pembelian alutsista di regional. Vietnam diberitakan telah meneken kontrak pembelian 6 kapal selam kelas Kilo, Singapura mengakuisisi dua kapal selam bekas pakai AL Swedia, Malaysia membeli dua kapal selam kelas Scorpene dan Indonesia berencana menambah dua kapal selamnya.

Sejumlah analis pertahanan mempertanyakan keputusan pembelian kapal selam yang telah berusia lebih 30 tahun. Kapal selam dirancang pada era 1960-an saat Perang Dingin, ketika AB Jerman Barat bersiap mempertahankan gempuran AL Pakta Warsawa. Jerman mengoperasikan 18 unit U-206, 12 unit dimodernisasi menjadi U-206A pada awal 1990-an. Pada awal 2000, hanya 6 unit U-206A yang dioperasikan karena tua dan terlalu mahal biaya pemeliharaan.

Professor Surachart Bamrungsuk ahli politik Universitas Chulalongkorn mengatakan program mahal kapal selam sebagai jalan untuk Partai Demokrat Abhisit meraih simpatik dari pihak militer untuk dukungan politik dalam pemilu mendatang.

AL Thailand mengumumkan telah melakukan studi kelayakan rencana pembelian kapal selam dari Jerman selama dua tahun. Hasilnya disimpulkan U-206A sangat berguna di perairan territorial Thailand.

Pada 2007, Jakarta memutuskan menambah armada kapal selam dengan mengakuisisi 5 unit kelas U 206 bekas pakai AL Jerman buatan tahun 1969 – 1975, U-13, U-14, U-19, U-20, dan U-21. U-20 akan dijadikan suku cadang, sedangkan U-13 menjadi KRI Nagarangsang (403) dan U-14 menjadi KRI Nagabanda (404) dibayar lunas. Krisis keuangan yang melanda Indonesia tahun 1997, menjadikan proses pembelian ini tidak jelas.

Sumber: Jane’s
Berita HanKam

Saturday, March 26, 2011

Thailand Beli Dua Kapal selam Tipe 206A Bekas AL Jerman


26 Maret 2011, Medan -- (Berita HanKam): Pemerintah Thailand telah menyetujui pembelian dua kapal selam diesel bekas pakai tipe 206A dari Angkatan Laut Jerman, menurut seorang pejabat Thailand dikutip Jane’s.

Anggaran pembelian diperkirakan mencapai 200 juta dolar, diharapkan berasal dari anggaran pertahanan tahun fiskal 2012.

AL Jerman pensiunkan empat kapal selam tipe 206A pada pertengahan 2010. Usia kapal selam telah 35 tahun, seharusnya dipensiunkan antara 2011 dan 2015. Karena Berlin meninjau ulang anggaran pertahanan, kapal selam dipensiunkan dini untuk menghemat biaya operasi.

Perwira AL Jerman telah berkunjung ke Thailand akhir 2010 dan menawarkan kapal selam tersebut menurut perwira senior AL Thailand pada Jane’s pada 21 Maret. Beliau menambahkan kapal selam asal Jerman dipilih, menyingkirkan Korea Selatan Tipe 209 dan Cina Tipe 039. AL Thailand juga melakukan pembicaraan dengan pabrik kapal selam asal Swedia Kockums mengenai ketersediaan kelas Gotland.

Kapal selam diesel tipe 206 dikembangkan oleh Howaldtswerke-Deutsche-Werft AG (HDW), dirancang berdasarkan kesuksesan tipe 205. Kapal selam dibangun saat Perang Dingin dan ditujukan beroperasi di perairan dangkal di Laut Baltik dan menyerang kapal Pakta Warsawa jika terjadi perang.

AL Jerman Barat membangun 18 kapal selam, 12 telah dimodernisasi awal 1990-an dan diberina nama tipe 206A, sisanya dipensiunkan. AL Jerman mulai pensiunkan tipe 206A dan digantikan tipe 212.

Panjang keseluruhan tipe 206A 48,6 meter dan lebar 4,6 meter, berbobot 450 ton dipermukaan dan 498 ton saat menyelam. Kecepatan menyelam 17 knot sedangkan dipermukaan 10 knot. Kapal mempunyai jarak jelajah 8300 km pada kecepatan 5 knot di permukaan dan 420 km dengan kecepatan 4 knot saat menyelam. Kapal selam dipersenjatai 8 tabung torpedo 533 mm.

AL Thailand juga segera diperkuat satu kapal perang jenis LPD yang dibeli dari ST Marine, Singapura. Kapal diberi nama HTMS Angthong dan bernomer lambung 791, diluncurkan di Singapura oleh KASAL Thailand Admiral Khamthorn Pumhiran pada 20 Maret.

Sumber: Jane’s
Berita HanKam

Wednesday, March 23, 2011

HTMS Angthong LPD Pertama AL Thailand


23 Maret 2011, Jakarta -- (Berita HanKam): KASAL Thailand Admiral Khamthorn Pumhiran meluncurkan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) di galangan kapal Singapore Technologies Engineering Ltd (ST Engineering), Singapura, Minggu (20/3). Kapal diberi nama HTMS Angthong dan bernomer lambung 791.

ST Engineering mendapatkan kontrak senilai 200 juta dolar untuk merancang dan membangun satu LPD 141 meter dan bobot 7,600 ton, dua Landing Craft Mechanised (LCM) 23 meter, dua Landing Craft Vehicle and Personnel (LCVP) dari pemerintah Thailand pada 11 November 2008. Kapal mulai dibangun pada pertengahan 2009 dan direncanakan diserahkan akhir 2012.

Maket kapal pertama kali diperkenalkan ke publik oleh ST Engineering pada eksibisi Euronaval 2010 di Paris. Kapal dirancang berdasarkan Landing Ship Tank (LST) kelas Endurance milik Republic of Singapore Navy (RSN). ST Engineering mengklasifikasikan Endurance sebagai LST pada laman resminya, meskipun kapal tidak mampu melakukan beaching. Pintu di bagian haluan kapal dihilangkan, digantikan pintu di bagian samping guna memudahkan kendaraan dan personil masuk dan keluar kapal.


ST Engineering menggandeng Danish aerospace and electronics group Terma (Stand 1675) untuk menyuplai combat management system (CMS), terdiri dari C-Flex, C-Search dan C-Fire.

Kapal digerakan dua mesin diesel Caterpillar C280-12, masing-masing menghasilkan tenaga 4060 kW. Maksimum kecepatan kapal 17 knot. Tenaga listrik kapal dipasol dari empat genset Caterpillar 3512B 900 kW. Dipersenjatai meriam dan senapan mesin.

HTMS Angthong dapat mengangkut 19 AAV atau 15 truk, 2 LCVP dan 2-4 helikopter SH-60B/MH-60 atau 1 CH-47 Chinook serta 120 marinir.

AL Thailand negara ketiga yang mengoperasikan kapal perang jenis LPD, setelah Indonesia dan Singapura. Diberitakan Malaysia sedang mencari LPD dari sejumlah negara serta Filipina dikabarkan tertarik membeli LPD dari Indonesia.

Sumber: Jane's Navy International
© Berita HanKam

Saturday, February 26, 2011

Enam Gripen RTAF Tiba di Thailand

Tiga jet tempur Gripen RTAF terbang formasi. (Foto: Saab/Stefan Kalm)

26 Februari 2011 -- (Berita HanKam): Royal Thai Air Force (RTAF) menerima enam jet tempur Gripen C/D, batch pertama dari 12 Gripen yang dipesan pemerintah Thailand pada 2008.

RTAF memutuskan membeli 12 jet tempur Gripen pada 2007 dan mengajukan permohonan pembelian Gripen pada kabinet setahun kemudian, saat Samak Sundaravej menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.

Pesawat diterbangkan langsung dari Swedia 18 Februari dan tiba di pangkalan udara Don Muang 22 Februari. Pesawat akan berpangkalan di Wing 7 di Surat Thani. Batch kedua terdiri enam pesawat dijadwalkan tiba tahun depan.

12 jet tempur Gripen dibeli seharga hampir 40 milyar bath. Gripen akan menggantikan jet tempur tua F-5A/B. Seluruh F-5A/B direncanakan dipensiunkan akhir tahun ini. Menurut situs globalsecurity.org, RTAF mengoperasikan 13 jet tempur F-5A/B, 40 F-5E dan 3 RF-5A.

Para pilot dan awak darat RTAF dilatih di Swedia pada tahun lalu.

(Grafis: Bangkok Post)

KASAU Thailand Itthaporn Subhawong mengatakan akan memasang sistem jaringan Secos di Gripen agar dapat berhubungan dengan sistem jet tempur F-16 yang dimiliki RTAF.

Sumber RTAF mengatakan ijin didapatkan dari pemerintah Amerika Serikat setelah PM Abhisit Vejjajiva bertemu Presiden Barack Obama saat berkunjung ke AS akhir bulan lalu.

Gripen akan dihubungkan juga dengan kapal perang, frigate HTMS Naresuan kapal perang pertama dihubungkan dengan Gripen. Itthaporn mengatakan Saab 340 Erieye AEW yang dibeli dari pemerintah Swedia akan dihubungkan dengan seluruh jet tempur Gripen.

Beliau mengatakan sidang kabinet 15 Februari telah menyetujui anggaran sebesar 6,9 milyar bath untuk mengupgrade enam jet tempur F-16 yang akan ditempatkan di Wing 4, lanud Takhli di Provinsi Nakhon Sawan.

Sumber: Saab/Bangkok Post

Monday, February 14, 2011

Dua F-16 AU Thailand Jatuh

F-16 Falcons AU Thailad saat mengikuti latihan Pitch Black 2010 di Australia. (Foto: Australia DoD)

14 Februari 2011 -- (Berita HanKam): Dua jet tempur F-16 AU Thailand mengalami kecelakaan saat latihan Cobra Gold 2011, Senin pagi (14/2) di Provinsi Chaiyaphum, kedua pilot berhasil melakukan eject ujar juru bicara AU Thailand Monthon Satchukorn.

Kedua jet hilang dari radar pada pukul 10.20. Jet tempur ini bagian dari empat F-16 yang lepas landas dari Wing 1 Nakhon Ratchasima dalam bagian latihan Cobra Gold 2011.

Pesawat diberitakan jatuh di hutan dekat air terjun Tat Ton antara desa Lae Hu Kwang dan Wang Phon di distrik Muang, Provinsi Chaiyaphum.

KASAU Thailand Ithiporn Suphawong telah memerintahkan helikopter dan kendaraan ke area jatuhnya pesawat.

Sumber: Bangkok Post

Sunday, January 23, 2011

AL Thailand Akan Beli 2 Kapal Selam Bekas Pakai

Kapal selam AL Afsel tipe 209-1400 buatan galangan kapal Thyssen Nordseewerke,Emden bekerjasama dengan HDW.

23 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Angkatan Laut Thailand berencana membeli dua kapal selam bekas pakai senilai 6-7 milyar baht.

Menurut sebuah sumber, AL Thailand telah memutuskan menyerahkan rencana pembelian ke kabinet untuk disetujui.

Pihak AL telah membentuk sebuah komite guna melakukan studi kelayakan.
Spesifikasi kapal selam belum ditentukan tetapi AL berharap membeli kapal selam buatan barat, kemungkinan dari Jerman.

AL Thailand menekankan memiliki kapal selam karena para pelaut Thailand hanya sedikit mengetahui mengenai teknologi kapal selam, dimana secara konstan akan ditingkatkan.

"Sejumlah negara tetangga telah mempunyai kapal selam pada armadanya. Tetapi para pelaut Thai tidak pernah berhubungan langsung dengan kapal selam. Kami masih ketinggalan dalam istilah terminologi teknologi kapal selam," ucap sumber.

Keputusan pembelian kapal selam bekas karena pihak AL menyadari anggaran belanja negara banyak disedot untuk memperbaiki perekonomian yang buruk.

KASAL Thailand Laksamana Kamthorn Phumhiran mengatakan AL memerlukan juga membeli armada frigate baru untuk menggantikan frigate yang telah digunakan 15 sampai 30 tahun.

KASAD, KASAL dan KASAU telah menyiapkan rencana pembelian persenjataan bagi matranya untuk diajukan pada pemerintah guna disetujui. Menurut sumber, rencana pembelian diajukan oleh AB Thailand diperkirakan mencapai 400 milyar bath.

Sumber: Bangkok Post

Thursday, January 20, 2011

Dua Kapal Perang AL Thailand Tiba dari Teluk Aden



20 Januari 2010 -- (Berita HanKam): Dua kapal perang AL Thailand HTMS Similan dan HTMS Pattani tiba pangkalan angkatan laut Chuk Samet di distrik Sattahip, Chon Buri, Thailand, Kamis (20/1), setelah menunaikan tugas patroli selama 137 hari di perairan Teluk Aden, tergabung dalam satuan tugas internasional anti-perompak. (Foto: Bangkok Post/Jetjaras Na Ranong)

Sumber: Bangkok Post

KASAU Thailand Akan Uji Gripen Saat Tiba di Thailand

Gripen milik AU Thailand. (Foto: Saab)

19 Januari 2011 -- (Berita Hankam): KASAU Thailand Itthaporn Subbawong berencana melakukan uji terbang enam jet tempur Gripen setelah tiba di Thailand bulan depan.

KASAU Itthapon mengatakan Selasa (18/1), ia akan menguji jet tempur buatan Swedia Gripen, setelah diserahkan 23 Februari, dikutip harian Bangkok Post, Rabu (19/1). Pesawat akan ditempatkan di pangkalan udara Wing 7 di Provinsi Surat Thani.

“Sebagai pilot pesawat tempur, saya ingin melakukan uji terbang pada pesawat tempur setelah penyerahan pesawat disetujui,” ucap KASAU.

KASAU Itthaporn telah menguji Gripen di Swedia saat ia menjabat wakil KASAU. AU Thailand kemudian memutuskan membeli 12 jet tempur Gripen, senilai hampir 40 milyar bath.

Batch pertama Gripen diharapkan tiba di Thailand bulan depan. AU Thailand pengguna jet tempur Gripen pertama di kawasan Asia.

AD Thailand akan menerima 10 kendaraan tempur pengangkut pasukan buatan Ukrania, mengutip sumber AD Thailand. Ranpur direncanakan tiba di landasan terbang U-tapao di Provinsi Rayong pada 24 Januari.

Ranpur akan ditempatkan di Divisi Infantri Ke-2 (King’s Guard) di Provinsi Prachin Buri.

Sumber: Bangkok Post

Wednesday, January 5, 2011

AU Thailand Pesan Puna dari Israel

Aerostar. (Foto: Aeronautics Defense Systems)

5 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Angkatan Udara Thailand membeli pesawat udara nirawak (PUNA) Aerostar dari perusahaan Israel Aeronautics Defense Systems, diberitakan laman Flightglobal.com, Kamis (6/1).

AU Thailand telah mengevaluasi sejumlah PUNA sebelum memilih rancangan Israel.

Panjang keseluruhan Aerostar 4,5 meter, lebar wayap 7,5 meter, tinggi 1,2 meter dan maksimum berat kosong tinggal landas 210 kg. Pesawat mampu terbang selama lebih 12 jam, kecepatan operasi 60 knot dan kecepatan maksimal 110 knot.

Aerostar mampu mengemban berbagai misi, penindai sasaran, pencarian sasaran, kontrol medan pertempuran dan perbatasan, pengarahan penembakan artileri.

Sumber: Flightglobal.com

Thursday, November 25, 2010

AU Thailand Pesan Lagi 6 Gripen

Gripen AU Thailand batch pertama sedang uji penerbangan perdana. (Foto: gripen)

25 November 2010 -- Perusahaan pertahanan dan keamanan Swedia Saab mendapat pesanan pembuatan 6 pesawat tempur Gripen kursi tunggal versi C dari Swedish Defence Material Administration (FMV) senilai 2,2 milyar krone untuk dikirimkan ke Angkatan Udara Kerajaan Thailand.

Pemerintah Swedia diwakili FMV dan Thailand meneken perjanjian pembelian sistem pertahanan udara terintegrasi buatan Saab, termasuk jet tempur Gripen.

Thailand telah mengoperasikan enam Gripen dan pesawat Saab 340 yang dilengkapi sistem radar Saab Erieye.

AU Thailand memiliki juga 43 F-16A block 15OCU dan 11 F-16B block 15OCU dibeli dibawah program Naresuan, serta 3 F-16A block 15OCU dan 4 F-16B block 15OCU hibah pemerintah Singapura kompensasi diperkenankan menggunakan fasilitas latihan AU Thailand di Udon Thani, total 71 F-16 A/B block 15OCU.

Saab/Berita HanKam